HomeKabupaten BogorSinergi Aksi Dospulkam IPB di Sleman: Dari Solusi Bau Kandang, Pengawalan Cempe,...

Sinergi Aksi Dospulkam IPB di Sleman: Dari Solusi Bau Kandang, Pengawalan Cempe, hingga Trik Induk Prolifik

Bogordaily.net – Kegiatan pengabdian masyarakat Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University di Kandang Bhumi Ngaglik Farm, Dusun Ngaglik, Desa Argomulyo, Kabupaten Sleman, tidak hanya menghadirkan penyuluhan teori di dalam ruangan, melainkan menjadi wadah aksi diskusi interaktif dan praktik pembuatan pakan fungsional secara langsung. Melalui sesi tanya jawab yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme, para pakar IPB membedah berbagai persoalan riil peternak lokal, mulai dari adaptasi pakan reproduksi, pengawalan kesehatan anak domba (cempe), hingga solusi tata kelola kandang yang bebas bau.

1. Solusi Ransum Flushing dan Pemanfaatan Pakan Lokal
Dalam sesi diskusi nutrisi reproduksi, Dr. Ir. Lilis Khotijah, M.Si. mengingatkan pentingnya proses adaptasi saat memberikan ransum flushing berenergi tinggi. Pemberian konsentrat tinggi secara mendadak tanpa adaptasi dapat memicu penyakit asidosis yang berisiko mematikan ternak dalam kurun kurang dari 24 jam.

Menanggapi pertanyaan Pak Ambardi Sulistio, peternak tradisional Dusun Ngaglik yang memelihara 9 ekor domba Garut, mengenai penggunaan pakan lokal seperti kulit kedelai basah, pollard, dan silase tebon jagung, Bu Lilis menegaskan bahwa kombinasi bahan lokal tersebut sudah sangat baik. Peternak hanya perlu menyelaraskan formulasi protein dan energinya sesuai standar nutrisi.

Penerapan ransum flushing terbukti meningkatkan bobot lahir cempe, daya tahan tubuh, dan penampilan fisik ternak, sehingga nilai jualnya tetap lebih tinggi meskipun peternak masih menggunakan sistem penjualan borongan (jogrok). Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS menambahkan bahwa ransum flushing menjamin kepastian siklus birahi (16–18 hari) guna mencapai target reproduksi ideal 2 tahun 3 kali beranak (5 bulan kebuntingan, 2 bulan penyapihan, dan bulan ke-8 dikawinkan kembali).

Saat menghadapi musim kemarau, penggunaan bahan lokal seperti cacahan bonggol atau pohon pisang yang dicampur bekatul dapat menjadi alternatif pakan serat yang baik. Selain itu, penambahan minyak atau lemak pakan sangat disarankan karena memiliki panas metabolisme yang rendah sehingga dapat mencegah timbulnya stres panas (heat stress) pada ternak, dengan catatan ketersediaan air minum bersih wajib selalu disediakan secara ad-libitum.

“Flushing menjamin kepastian siklus birahi 16–18 hari. Sekali birahi lewat atau gagal hamil, peternak rugi pakan dan waktu 2–3 minggu. Dengan pakan terukur, target 2 tahun beranak 3 kali dapat terwujud.” Ketua Tim Dospulkam IPB, Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS.

2. Pengawalan Cempe Pra-Sapih dan Pemberian Kolostrum
Menjawab pertanyaan Pak Sumarjo dari Desa Puluhan mengenai penanganan anak domba (cempe) yang ditolak oleh induknya, Prof. Dr. Ir. Asep Sudarman, M.Rur.Sc. dan Prof. Dr. Ir. Komang G. Wiryawan menjelaskan bahwa cempe wajib mendapatkan kolostrum (susu pertama induk berwarna kekuningan dan kental) pada 1–3 atau 1–4 hari pertama kehidupan karena mengandung antibodi penting bagi sistem kekebalan tubuh.

Jika induk menolak menyusui, kolostrum harus diperah dan diminumkan ke cempe menggunakan botol. Setelah masa kolostrum lewat, cempe dapat diberikan susu pengganti (milk replacer), serta pakan konsentrat creep feed wajib disediakan secara terus-menerus (ad-libitum) di dalam area sekat khusus (creep pen) tanpa dibatasi jam makan manusia.

3. Efisiensi Kandang, Solusi Bau Amonia, dan Manajemen Usaha
Terkait persiapan awal beternak yang ditanyakan Pak Dasuki, Prof. Dewi dan Pak Didid Diapari menyarankan agar peternak pemula membeli calon induk yang sudah terbukti bunting atau siap kawin guna menghindari risiko kemandulan. Induk yang gagal bunting setelah 3 kali periode kawin/birahi sebaiknya dialihkan ke program penggemukan atau diafkir.

Konstruksi kandang harus memiliki sirkulasi udara yang lancar, terhindar dari pempias hujan, menggunakan air sumur bersih, dan memanfaatkan tandon air berbentuk meruncing di bagian bawah guna mencegah penumpukan endapan penyakit. Untuk induk bunting tua yang kapasitas perutnya menyusut akibat tertekan janin, frekuensi pemberian pakan perlu ditingkatkan lebih sering (misalnya 4 kali sehari) dalam porsi bertahap.

Menanggapi pertanyaan Pak Sigit Fatah mengenai bau amonia dan suara bising kandang, Prof. Dewi dan Bu Lilis menjelaskan bahwa bau amonia timbul akibat ketidakseimbangan protein dan energi pakan yang menyebabkan nitrogen terbuang di kotoran dan urin.

Penyusunan ransum yang seimbang serta penggunaan probiotik terbukti mampu mengatasi masalah bau tersebut. Sementara itu, suara bising umumnya terjadi karena ternak lapar, dan ternak yang kenyang gizi akan tenang beristirahat.

Dalam pengelolaan usaha, Pak Asep mendorong peternak agar menjadikan peternakan sebagai sumber pendapatan aktif yang berorientasi keuntungan dengan rutin melakukan pencatatan (recording) pertambahan bobot harian dan silsilah. Prof. Komang menambahkan pentingnya memberikan kasih sayang kepada ternak karena ternak memberikan respons pertumbuhan yang jauh lebih baik jika diperlakukan secara ramah.

Menjawab pemuda pelopor Mas Wira mengenai seleksi induk beranak kembar, Bu Lilis dan Prof. Dewi menegaskan pentingnya melihat rekam silsilah (recording) dan mengawal pakan berkualitas saat kebuntingan guna mencegah penyerapan kembali (reabsorpsi) embrio di dalam rahim.

Testimoni Peserta
Aksi pendampingan IPB University ini membuahkan hasil nyata bagi penguatan kelembagaan peternak desa. Pak Ulu berharap setelah pelatihan adanya pembentukan wadah paguyuban peternak se-Argomulyo yang menaungi 14 padukuhan sebagai tempat berkumpul dan belajar bersama para pakar IPB.

“Di Argomulyo ada 14 padukuhan dan tadinya peternak berjalan sendiri-sendiri. Terima kasih IPB University, dengan kegiatan ini terbentuk paguyuban peternak se-Argomulyo sebagai wadah belajar langsung dari para pakar.” ujar seorang peternak Desa Argomulyo benama Ulu.

Pak Rahmat Setiawan selaku pemilik Kandang Bhumi Ngaglik Farm menyampaikan bahwa peternak di desanya sangat antusias dan tergerak untuk bertransformasi dari konsep tradisional ‘asal ngarit’ menuju peternakan modern yang terukur berbasis nutrisi flushing dan creep feeding.

Hal senada diungkapkan oleh Mas Wira, peternak muda lokal, yang merasa terbantu mengatasi kendala formulasi nutrisi dan berharap pendampingan serta hubungan kerja sama dengan IPB University dapat terus berlanjut secara berkesinambungan.***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here