Saturday, 7 March 2026
HomeKota BogorDiskusi Komunitas Sora Tegaskan Gerakan Mahasiswa Masih Jadi Motor Perubahan Indonesia

Diskusi Komunitas Sora Tegaskan Gerakan Mahasiswa Masih Jadi Motor Perubahan Indonesia

Bogordaily.net — Komunitas pergerakan bernama Sora resmi diperkenalkan kepada publik melalui sebuah diskusi yang mengangkat tema “Gerakan Mahasiswa dalam Perubahan di Indonesia”. Diskusi tersebut digelar di Kota Bogor pada Jumat (6/3/2026) dan menghadirkan sejumlah aktivis lintas generasi.

Penggagas Komunitas Sora, Teddy Wibisana, mengatakan kegiatan ini sekaligus menjadi momentum peluncuran resmi komunitas yang bertujuan membangun kader gerakan sosial di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa.

“Diskusi ini juga menjadi pembukaan resmi Komunitas Sora. Kami ingin membangun kader gerakan yang terlibat dalam perubahan,” ujar Teddy dalam kegiatan tersebut.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni aktivis 1980-an Standar Kia, aktivis 1990-an Teddy Wibisana, serta Presiden Mahasiswa Universitas Pakuan periode 2026–2027 Galuh.

Dalam pemaparannya, Teddy menilai gerakan mahasiswa memiliki posisi strategis dalam sejarah perubahan di Indonesia. Ia mencontohkan peran mahasiswa pada era 1990-an yang menjadi aktor utama dalam mengkritisi pemerintahan Presiden Soeharto.

Menurutnya, tekanan dan mobilisasi mahasiswa kala itu menjadi salah satu faktor yang mengantarkan Indonesia pada peristiwa Reformasi 1998.

“Momentum tersebut menandai perubahan besar dalam sistem politik Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Standar Kia menjelaskan bahwa setelah memasuki era reformasi, gerakan mahasiswa tetap hadir dalam berbagai isu strategis, mulai dari revisi undang-undang, pemberantasan korupsi, pelanggaran hak asasi manusia hingga konflik agraria.

Ia menilai reformasi tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan bangsa.

“Ketidakadilan dan ketimpangan sosial masih terjadi. Karena itu regenerasi dalam gerakan mahasiswa harus terus berlangsung,” ujar Kia.

Di sisi lain, Presiden Mahasiswa Universitas Pakuan Galuh menyoroti dinamika gerakan mahasiswa di era digital. Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuka ruang baru dalam menyampaikan aspirasi, namun juga menghadirkan tantangan tersendiri.

“Demokrasi digital bukan berarti demokrasi yang sepenuhnya bebas. Orang memang bisa memposting apa pun, tetapi risiko hukum setelah unggahan juga tetap ada,” kata Galuh.

Dari diskusi tersebut, para peserta sepakat bahwa gerakan mahasiswa masih memiliki peran penting dalam mendorong perubahan di Indonesia. Namun, gerakan tersebut dinilai perlu beradaptasi dengan dinamika zaman, termasuk memanfaatkan teknologi dalam menyuarakan gagasan dan kritik sosial.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here