Saturday, 21 March 2026
HomeKota BogorMomentum Idulfitri di Kebun Raya Bogor, Ribuan Warga Rayakan Kebersamaan

Momentum Idulfitri di Kebun Raya Bogor, Ribuan Warga Rayakan Kebersamaan

Bogordaily.net – Pagi itu, rumput masih basah. Embun belum sepenuhnya hilang dari dedaunan tua di Kebun Raya Bogor. Tapi manusia sudah datang lebih dulu. Ribuan. Mengalir. Diam-diam. Lalu memenuhi setiap sudut yang biasanya hanya ditemani angin dan burung.

Salat Idulfitri kali ini tidak sekadar ibadah. Ia seperti pertemuan panjang yang tertunda setahun. Warga Kota Bogor datang dengan satu rasa: pulang—meski mereka tidak ke mana-mana.

Di antara saf-saf yang rapi itu, tampak Dedie A. Rachim. Ia tidak berdiri sebagai pejabat. Ia seperti tuan rumah yang sedang memastikan tamunya merasa nyaman.

Ia bicara singkat. Tapi pesannya dalam.

Kebun Raya, katanya, bukan hanya taman. Ia adalah cermin. Tentang bagaimana kota ini dibangun—bukan oleh beton, tapi oleh kebersamaan.

“Kota ini rumah kita,” kira-kira begitu maksudnya. Rumah yang tidak boleh retak hanya karena perbedaan.

Di barisan lain, hadir juga Bima Arya Sugiarto. Dulu wali kota. Kini kembali sebagai bagian dari warga. Tidak ada sekat jabatan di pagi itu. Semua setara. Semua menghadap arah yang sama.

Yang menarik justru di mimbar.

Khatibnya bukan tokoh agama semata. Arif Satria—seorang akademisi. Seorang ilmuwan. Ia berdiri menyampaikan khutbah. Seolah ingin mengatakan: ilmu dan iman tidak pernah benar-benar berjarak.

Sementara imamnya, TB. Muhidin, memimpin dengan tenang. Suaranya mengalir, menyatukan ribuan kepala yang tertunduk dalam satu irama.

Tidak ada yang istimewa—dan justru di situlah letak keistimewaannya.

Tidak ada teriakan. Tidak ada hiruk-pikuk. Hanya sunyi yang penuh makna.

Bogor pagi itu bukan sekadar kota. Ia menjadi ruang pertemuan. Antara masa lalu dan hari ini. Antara pejabat dan rakyat. Antara ilmu dan iman.

Dan mungkin, inilah Idulfitri yang paling sederhana—tapi juga paling jujur.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here