Bogordaily.net – Viral media sosial tengah diramaikan oleh sebuah video yang memperlihatkan keluhan seorang nenek sesak napas terhadap pelayanan di sebuah klinik.
Dalam rekaman tersebut, keluarga pasien mengungkapkan kekecewaan mendalam karena penanganan medis terhadap sang nenek yang mengalami sesak napas dinilai lambat dan tidak sigap.
Peristiwa bermula ketika seorang wanita membawa neneknya ke klinik dalam kondisi gangguan pernapasan serius.
Alih-alih langsung mendapatkan tindakan darurat, pihak keluarga mengaku justru diminta menyelesaikan prosedur administrasi terlebih dahulu sebelum penanganan medis dilakukan.
Situasi semakin memicu emosi ketika keluarga melihat salah satu petugas di lokasi yang tampak santai bermain game di ponsel, sementara pasien dalam kondisi kritis masih menunggu bantuan.
“Kondisi nenek saya sudah serius, tapi penanganan terasa sangat lambat. Bahkan ada petugas yang malah asyik main game,” ungkap wanita dalam video tersebut.
Tak hanya itu, ketegangan juga terjadi saat keluarga mendapat informasi bahwa alat uap atau nebulizer yang dibutuhkan untuk membantu pernapasan pasien tidak tersedia.
Namun setelah dilakukan pengecekan ulang dan sempat terjadi perdebatan, alat tersebut akhirnya ditemukan dan digunakan.
Kondisi ini menambah kepanikan keluarga, yang berharap pasien bisa segera mendapatkan pertolongan maksimal.
Setelah mendapatkan penanganan darurat, sang nenek akhirnya diperbolehkan pulang dengan membawa obat-obatan.
Namun, situasi belum sepenuhnya membaik. Tak lama setelah tiba di rumah, kondisi pasien dikabarkan kembali memburuk dengan sesak napas yang kambuh.
Keluarga pun memutuskan untuk membawa sang nenek ke fasilitas kesehatan lain demi mendapatkan penanganan yang lebih intensif.
Video tersebut langsung menuai beragam reaksi dari warganet. Banyak yang menyoroti pentingnya penanganan cepat dalam kondisi darurat, terutama untuk kasus gangguan pernapasan yang berisiko tinggi.
Sejumlah hal pun menjadi sorotan publik, mulai dari prioritas penanganan pasien yang dinilai seharusnya tidak terhambat administrasi, etika kerja tenaga medis saat bertugas, hingga kesiapan fasilitas dan alat kesehatan di klinik.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak klinik terkait kejadian yang viral tersebut.***
