Bogordaily.net – Dewan Pendidikan Kota Bogor memaparkan rencana kerjanya satu tahun ke depan di ruang redaksi.
Rabu pagi, 1 April 2026, suasana di kantor Bogordaily.net di Ruko Kemang Valley Residence No R3, Jalan Raya Kemang, Bogor, terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan sekadar silaturahmi, melainkan juga forum kecil penuh gagasan.
Rombongan yang hadir dipimpin Ketua Dewan Pendidikan Kota Bogor, Rudi Sutiyarso. Ia datang bersama Sekretaris Dudih Syiaruddin, Komisi Bidang Mutu Pendidikan Sumedi, serta Bendahara Verra Seftania. Tidak ada sekat formal. Diskusi mengalir santai, namun sarat isi.
Di meja redaksi itulah, Dewan Pendidikan Kota Bogor memaparkan sejumlah rencana kerja satu tahun ke depan. Isu yang diangkat tidak ringan—menyentuh langsung persoalan mendasar pendidikan di Kota Hujan.
Salah satu fokus utama adalah kondisi SDN Perwira. Sekolah ini memiliki karakteristik khusus: mayoritas siswanya merupakan anak-anak inklusi tapi para gurunya gur SDN. Tantangannya jelas—ketersediaan guru profesional yang masih terbatas.
Rudi tidak menutup mata.
Ia menyadari, kebutuhan tenaga pendidik dengan kompetensi khusus tidak bisa ditunda. Karena itu, Dewan Pendidikan mencoba mencari jalan alternatif. Salah satunya dengan menggandeng perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau CSR.
“Kalau hanya mengandalkan anggaran yang ada, tentu tidak cukup. Kami mencoba membuka pintu kolaborasi dengan dunia usaha,” ujarnya.
Langkah berikutnya menyasar transparansi dan partisipasi publik. Dewan Pendidikan Kota Bogor akan membuka kanal pengaduan resmi berbasis digital melalui situs WandikkotaBogor.or.id. Harapannya sederhana, namun penting: masyarakat tidak lagi kesulitan menyampaikan keluhan terkait pendidikan.
Mulai dari persoalan fasilitas sekolah, kualitas pengajaran, hingga praktik-praktik yang dianggap tidak sesuai, semuanya bisa dilaporkan secara terbuka.
“Semua warga harus punya akses untuk menyampaikan suara. Dari situ kami bisa membaca masalah yang sebenarnya terjadi di lapangan,” kata Sumedi menambahkan.
Tak berhenti di situ, gagasan lain yang cukup menarik adalah pembentukan paguyuban komite sekolah tingkat kota. Ini bukan sekadar forum komunikasi, tetapi diharapkan menjadi wadah gotong royong antar sekolah.
Konsepnya adalah subsidi silang. Sekolah yang lebih mapan bisa membantu sekolah yang masih kekurangan. Sebuah pendekatan khas Indonesia—kebersamaan sebagai solusi.
Rudi menyebut, pendidikan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
“Harus ada rasa memiliki bersama. Kalau satu sekolah tertinggal, itu juga menjadi tanggung jawab kita semua,” ujarnya.
Pertemuan di ruang redaksi itu mungkin terlihat sederhana. Namun dari sana, tergambar arah baru yang ingin ditempuh. Dewan Pendidikan Kota Bogor tidak ingin hanya menjadi lembaga formal. Mereka ingin hadir sebagai penghubung—antara masyarakat, sekolah, dan pemangku kebijakan.
“Kami akan berusaha menjadi jembatan bagi masyarakat Kota Bogor agar pendidikan di Kota Bogor terus membaik,” tegas Rudi.
Kalimat itu diucapkan tanpa nada tinggi. Justru tenang. Tapi di situlah letak kekuatannya. Sebuah janji yang kini menunggu pembuktian.***
