Bogordaily.net – Mas kawin pernikahan Jaden Bahtera dan Puteri Rania itu sederhana. Terlalu sederhana untuk ukuran dua nama yang sedang naik di jagat influencer lintas negara. Hanya 300 Ringgit Malaysia. Tunai.
Pernikahan itu berlangsung 1 Mei 2026. Tenang. Khidmat. Tanpa gemuruh berlebihan. Padahal yang menikah bukan orang biasa. Jaden Bahtera—petinju muda Indonesia yang dikenal lewat ajang Byon Combat. Puteri Rania—atlet Muay Thai asal Malaysia yang sudah akrab dengan ring sejak remaja.
Dua dunia. Dua negara. Satu pelaminan.
Hubungan mereka memang sejak awal menarik perhatian. Bukan karena sensasi. Tapi karena kesederhanaan yang justru terasa langka. Publik melihatnya sebagai pasangan yang “tidak dibuat-buat”. Apa adanya.
Saat akad berlangsung, suasana begitu hening. Jaden mengucap ijab dalam satu tarikan napas. Lancar. Tegas. Tanpa pengulangan. Itu momen yang kemudian banyak beredar di media sosial, termasuk dari unggahan akun TikTok.
Puteri Rania duduk di sisi lain. Wajahnya tertutup tudung pengantin. Menunggu. Diam. Seolah menyerahkan sepenuhnya momen itu pada satu kalimat sakral dari calon suaminya.
Namun yang paling ramai dibicarakan justru bukan prosesi akadnya. Bukan pula gaun atau dekorasi. Publik terpaku pada satu hal: mas kawin pernikahan Jaden Bahtera dan Puteri Rania.
“…dengan mas kawinnya 300 Ringgit, tunai.”
Kalimat itu sederhana. Tapi efeknya panjang.
Di tengah tren mahar fantastis yang kerap dipamerkan, angka RM300 terasa seperti “tamparan halus”. Bahwa pernikahan tidak harus dimulai dari angka besar. Bahwa nilai bukan selalu soal nominal.
Jika dikonversi, 1 Ringgit Malaysia setara sekitar Rp4.363,25. Artinya, 300 Ringgit hanya sekitar Rp1,3 juta.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Justru di situlah letak ceritanya. Kesederhanaan itu yang kemudian membuat publik kembali membicarakan makna pernikahan. Bukan sekadar seremoni. Bukan sekadar gengsi.
Fenomena ini membuat mas kawin pernikahan Jaden Bahtera dan Puteri Rania menjadi perbincangan luas. Dari media sosial hingga obrolan ringan di warung kopi.
Barangkali, ini bukan soal angka 300 Ringgit.
Ini soal pesan yang terselip di baliknya: bahwa yang mahal bukan mahar. Tapi komitmen.***
