Bogordaily.net – LRT Bogor kembali masuk meja kajian. Bukan sekadar wacana lama yang dihangatkan menjelang akhir pekan.
Kali ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan mulai membuka lagi peta besar transportasi Jabodetabek: menyambungkan lintasan LRT sampai Baranangsiang, Kota Bogor.
Bogor memang sudah terlalu sesak untuk ditunda-tunda.
Setiap pagi, jutaan langkah bergegas menuju Jakarta. Setengah dari denyut penumpang KRL Jabodetabek berasal dari jalur Bogor. Angkanya bukan kecil: sekitar 500 ribu orang per hari. Mereka berdesakan di gerbong yang sama, di jam yang sama, dengan harapan tiba tepat waktu di kantor.
Karena itu, pembahasan LRT Bogor bukan lagi sekadar proyek transportasi. Ia mulai terdengar seperti kebutuhan mendesak.
Direktur Portofolio Management dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, mengatakan bahwa rencana LRT menuju Bogor sebenarnya sudah lama masuk master plan. Bahkan, titik akhirnya disebut-sebut sampai kawasan Baranangsiang.
“Secara master plan, dulu memang sudah ada rencana sampai Bogor, kalau tidak salah sampai Baranangsiang,” ujar Gede saat peresmian Stasiun LRT Dukuh Atas Bank Syariah Indonesia di Jakarta Pusat, Jumat 22 Mei 2026.
Namun proyek besar selalu bertemu hitung-hitungan besar.
KAI bersama DJKA kini sedang menghitung ulang kelayakan bisnis, potensi transit oriented development (TOD), hingga seberapa besar lonjakan penumpang yang bisa didapat jika lintasan LRT benar-benar diperpanjang ke Bogor.
Biayanya tentu tidak kecil.
Apalagi, jalur Bogor saat ini masih menjadi “urat nadi” utama KRL Jabodetabek. Dari total 1,1 juta penumpang harian KAI Commuter, hampir separuhnya datang dari Bogor Line.
Gede mengakui, kebutuhan mengurangi kepadatan penumpang Bogor Line memang sangat valid. Tetapi pertanyaan berikutnya masih panjang: jalurnya lewat mana, bagaimana trase dibangun, dan apakah daya angkutnya benar-benar efektif.
Sebab di sisi lain, KAI juga sedang menyiapkan strategi berbeda.
Bukan hanya memikirkan LRT Bogor, tetapi juga memperkuat jalur KRL yang sudah ada. Salah satunya dengan penambahan emplasemen jalur 6, 7, dan 8 di Bogor yang kini tengah dibangun. Proyek itu disebut dapat meningkatkan kapasitas perjalanan harian secara signifikan.
KAI juga sedang mengkaji pengembangan KRL hingga Sukabumi.
Bahkan nantinya, rangkaian KRL dirancang bisa mencapai 12 gerbong. Jauh lebih panjang dibanding rangkaian LRT yang rata-rata hanya terdiri dari empat gerbong.
Di sinilah dilema transportasi Bogor muncul.
LRT menawarkan konektivitas baru dan modernisasi kota. Tetapi KRL masih dianggap jauh lebih kuat untuk mengangkut ledakan penumpang harian dari Bogor menuju Jakarta.
Karena itu, KAI tampaknya memilih dua jalur sekaligus: memperkuat KRL yang sudah penuh sesak sambil tetap membuka peluang ekstensi LRT Bogor ke masa depan.
Bogor mungkin memang tidak bisa lagi hanya mengandalkan rel lama.***
