HomeNasionalKonten Disabilitas Jadi Bahan Lelucon Disorot, Dokter Ingatkan Bahaya Ableism bagi Kesehatan...

Konten Disabilitas Jadi Bahan Lelucon Disorot, Dokter Ingatkan Bahaya Ableism bagi Kesehatan Mental

Bogordaily.net – Perdebatan mengenai batas antara hiburan dan etika di media sosial kembali menjadi perhatian publik. Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai konten video yang menjadikan keterbatasan fisik maupun mental disabilitas sebagai bahan candaan ramai diperbincangkan dan menuai kritik dari banyak pihak.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar tentang tanggung jawab para kreator konten dalam menciptakan hiburan yang tidak merugikan kelompok tertentu.

Di tengah derasnya arus konten digital, sebagian warganet menilai masih banyak materi hiburan yang mengandung unsur diskriminasi namun dianggap wajar karena dikemas dalam bentuk komedi.

Sorotan tajam terhadap praktik tersebut datang dari praktisi kesehatan, dr. Adam Prabata. Melalui unggahannya di media sosial Threads, ia menilai bahwa menjadikan kondisi penyandang disabilitas sebagai objek lelucon bukanlah bentuk humor yang dapat dibenarkan.

Menurutnya, tindakan semacam itu termasuk dalam kategori ableism, yakni sikap atau perilaku yang merendahkan penyandang disabilitas melalui prasangka, stereotipe, maupun perlakuan diskriminatif yang berlangsung secara sistemik.

Ableism sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan pandangan bahwa individu tanpa disabilitas dianggap lebih unggul dibandingkan mereka yang hidup dengan berbagai keterbatasan fisik, sensorik, intelektual, maupun mental.

Akibatnya, penyandang disabilitas kerap menjadi sasaran candaan, pengucilan, hingga perlakuan tidak setara dalam kehidupan sehari-hari.

“Video kaya begini termasuk ke dalam ableism yang merupakan bentuk prasangka dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Hitungannya sudah MERENDAHKAN mereka! Hal-hal kaya begini yang dinormalisasi, apalagi dijadikan konten hiburan, hitungannya GAK LUCU!” tulis dr. Adam Prabata dalam unggahan kritisnya.

Pernyataan tersebut kemudian memicu diskusi luas di kalangan pengguna media sosial. Banyak yang sepakat bahwa konten hiburan seharusnya tidak dibangun di atas penghinaan atau eksploitasi terhadap kelompok yang rentan mengalami diskriminasi.

Dampak Ableism Tidak Sekadar Menyakiti Perasaan

Para ahli menilai bahwa dampak ableism jauh lebih serius daripada sekadar menimbulkan ketidaknyamanan. Paparan berulang terhadap candaan yang merendahkan dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan lingkungannya.

Ketika konten diskriminatif terus beredar dan dianggap normal, penyandang disabilitas berisiko mengalami tekanan psikologis yang berkepanjangan.

Mereka dapat merasa tidak diterima, dipandang rendah, atau bahkan menganggap stigma negatif yang dilekatkan masyarakat sebagai sesuatu yang benar.

Kondisi inilah yang dikenal sebagai internalised ableism, yaitu ketika seseorang mulai menyerap dan mempercayai stereotipe negatif yang ditujukan kepada dirinya.

Normalisasi komedi bernuansa ableism di ruang digital membawa dampak nyata yang merusak.

Sejumlah penelitian ilmiah membuktikan bahwa penyandang disabilitas yang terus-menerus menyaksikan perilaku diskriminatif berkedok humor ini berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan mental.

Pola paparan media yang toksik ini memicu munculnya rasa malu yang mendalam akibat internalisasi pandangan negatif tersebut (internalised ableism).

Ketika perasaan bersalah dan malu tersebut terakumulasi, korban rentan mengalami gejala klinis depresi serta kecemasan (anxiety) yang parah.

Selain berdampak pada kesehatan psikologis, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.

Individu yang terus-menerus merasa diremehkan cenderung mengalami penurunan kepercayaan diri, kesulitan berinteraksi sosial, hingga kehilangan motivasi untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas publik.

Lingkungan media sosial yang tidak ramah terhadap penyandang disabilitas juga berpotensi menciptakan siklus perundungan yang sulit dihentikan.

Dengan menciptakan konten yang lebih inklusif dan menghormati keberagaman, media sosial dapat menjadi ruang yang lebih aman, nyaman, dan mendukung kesehatan mental seluruh penggunanya, termasuk penyandang disabilitas yang selama ini masih kerap menghadapi berbagai bentuk stigma dan diskriminasi.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here