HomeOpiniEksplorasi The 12th Connection: Menjaga yang Tersisa, Merawat yang Berharga

Eksplorasi The 12th Connection: Menjaga yang Tersisa, Merawat yang Berharga

Penulis: Asni Kayla Azzahra, KPM, FISEMA, IPB University

Divisi Eksplorasi berkesempatan melakukan eksplorasi lapangan dalam rangka The 12th Connection, sebuah program kerja di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-Ilmu Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (HIMASIERA).

Mengusung tema “Harmony for the Changing Climate: In Tune with Justice, Redefining the Crisis”, kegiatan ini bertujuan untuk menggali berbagai praktik adaptasi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus memahami keterkaitan antara lingkungan, budaya, dan kehidupan sosial.

Hasil eksplorasi nantinya akan dituangkan dalam berbagai luaran, seperti artikel, majalah, video dokumenter, jurnal internasional, dan policy brief yang dapat menjadi media edukasi sekaligus rekomendasi bagi berbagai pihak.

Sebelum pelaksanaan eksplorasi utama, Divisi Eksplorasi terlebih dahulu menyelenggarakan kegiatan pra-eksplorasi sebagai tahap persiapan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran awal mengenai kondisi lokasi, serta potensi isu yang dapat diangkat. Lokasi yang menjadi fokus kegiatan pra-eksplorasi adalah Desa Wisata Malasari, sebuah desa yang terletak di kawasan penyangga.

Desa ini merupakan kawasan ekowisata yang terbentang seluas 6.858,78 hektare di kaki Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Berlokasi di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Malasari dikenal sebagai destinasi wisata yang menawarkan panorama pegunungan, hutan tropis yang masih terjaga, serta kehidupan masyarakat yang erat dengan budaya dan alam. Tim Eksplorasi The 12th Connection berkesempatan untuk menjelajahi langsung keindahan alam Desa Malasari.

Sepanjang perjalanan menuju desa, kami disambut oleh panorama alam yang memanjakan mata. Deretan pepohonan yang menjulang tinggi, perbukitan hijau yang berdiri kokoh, serta hamparan sawah terasering yang membentang mengikuti kontur lahan menjadi pemandangan yang setia menemani perjalanan. Udara yang sejuk dan suasana yang masih asri semakin mempertegas pesona Malasari sebagai kawasan yang menyimpan kekayaan alam luar biasa.

Desa Malasari mulai dikembangkan sebagai desa wisata pada tahun 2015 atas inisiatif masyarakat yang ingin memperkenalkan keindahan alam dan potensi lokal kepada khalayak yang lebih luas. Berangkat dari kesadaran bahwa lingkungan yang terjaga merupakan aset berharga, masyarakat secara swadaya mengembangkan berbagai kegiatan wisata berbasis alam dan budaya. Upaya tersebut kemudian memperoleh legalitas resmi dari pemerintah desa pada tahun 2016.

Semangat pelestarian lingkungan yang menjadi dasar pengembangan desa wisata juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hamparan sawah terasering yang membentang hijau menjadi gambaran kedekatan warga dengan alam sekaligus sumber penghidupan utama mereka. Bagi masyarakat Malasari, bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi dan terus dijaga melalui berbagai kearifan lokal yang masih lestari hingga kini.

Perkembangan pariwisata yang semakin pesat tidak serta-merta mengubah karakter desa. Masyarakat tetap menjaga tradisi dan nilai-nilai budaya yang menjadi ciri khas Malasari. Selain dikenal sebagai kawasan pertanian, desa ini juga memiliki komoditas unggulan berupa kopi arabika dan robusta yang tumbuh di lingkungan pegunungan yang sejuk.

Keindahan alam dan kekayaan budaya tersebut menjadikan Malasari sebagai destinasi wisata yang menarik. Beragam objek wisata dapat ditemukan di desa ini, mulai dari hamparan perkebunan teh, jembatan kanopi, camping ground, air terjun atau curug, hingga wisata budaya dan sejarah yang menyimpan cerita panjang kehidupan masyarakat setempat.

Seluruh potensi tersebut berpadu dengan lanskap persawahan terasering yang menjadi ikon Desa Malasari, menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memperkenalkan harmoni antara manusia, budaya, dan alam.

Namun, di balik keindahan alam dan keberhasilan masyarakat dalam menjaga tradisi pertanian, Desa Malasari juga tidak luput dari berbagai tantangan lingkungan yang semakin nyata.

Perubahan iklim yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir mulai dirasakan oleh masyarakat, terutama para petani yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan air.

Pergeseran pola musim, perubahan intensitas curah hujan, serta kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi menuntut masyarakat untuk terus beradaptasi dalam mengelola lahan pertanian mereka.

“Dulu air di sini sangat melimpah,” ujar Pak Asep, anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Desa Malasari. Menurutnya, meskipun hingga saat ini Malasari belum pernah mengalami kekeringan seperti yang terjadi di beberapa wilayah lain, masyarakat mulai merasakan adanya penurunan debit air dibandingkan puluhan tahun lalu. Perubahan kondisi iklim juga terlihat dari meningkatnya suhu udara yang dirasakan warga dalam kehidupan sehari-hari. Kini cuaca panas lebih sering dirasakan masyarakat.

“Kalau suhu, sekarang sudah beda dari dulu. Sekarang lebih panas. Bahkan tahun 2025 kemarin banyak warga yang mulai beli kipas angin,” tutur Pak Unang, Pengelola Desa Wisata.

Masyarakat juga mengingat pernah terjadi musim kemarau panjang yang berlangsung hingga tujuh bulan. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Malasari mengalami krisis air sebagaimana yang dialami sejumlah desa lain.

Desa Malasari tetap mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat. Kondisi ini tidak lepas dari hutan yang masih terjaga, sumber mata air yang terlindungi, serta kesadaran warga dalam merawat lingkungan.

Kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun juga menjadi kunci, salah satunya melalui prinsip “Lamping awian, lebak sawahan”, yakni menanami lereng dengan bambu dan memanfaatkan lembah sebagai area persawahan. Bagi masyarakat Malasari, bambu bukan sekadar tanaman, melainkan penjaga keseimbangan alam yang membantu menyerap dan menyimpan air.

Kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan inilah yang turut memengaruhi arah pembangunan desa. Demi mempertahankan keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian alam, masyarakat Malasari bersikap selektif terhadap masuknya investor.

Setiap bentuk investasi harus selaras dengan nilai-nilai konservasi yang dijunjung masyarakat, sehingga potensi ekonomi dapat berkembang tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga.

Hubungan yang erat antara masyarakat dan alam tersebut menjadi pondasi penting dalam menghadapi perubahan iklim. Warga meyakini bahwa menjaga hutan, melindungi sumber air, dan menerapkan praktik pertanian yang ramah lingkungan merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga ketahanan desa di masa depan. Karena itu, pelestarian alam dipandang bukan hanya sebagai warisan leluhur, tetapi juga kebutuhan yang menentukan keberlangsungan hidup mereka.

Meski demikian, masyarakat berharap upaya yang telah dilakukan dapat didukung oleh berbagai pihak. Pak Asep dan Pak Unang menginginkan perhatian yang lebih besar dari pemerintah melalui peningkatan promosi dan aksesibilitas wisata, sehingga semakin banyak orang mengenal Malasari.

Selain itu, pendampingan dari program CSR juga diharapkan dapat membantu mengoptimalkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki desa. Melalui kolaborasi tersebut, masyarakat berharap pembangunan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan demi kesejahteraan bersama.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here