Bogordaily.net – Siapa Ebemartono? Pertanyaan itu menjadi salah satu pencarian yang ramai di internet setelah nama content creator tersebut viral akibat konten yang dibuatnya di ajang GIIAS 2026.
Video yang menampilkan interaksinya dengan seorang usher atau Sales Promotion Girl (SPG) memicu perdebatan karena disebut direkam tanpa persetujuan dari pihak yang bersangkutan.
Konten tersebut kemudian menuai kritik dari banyak warganet. Sejumlah pihak menilai pembuatan video di ruang publik tetap harus memperhatikan aspek privasi dan persetujuan dari orang yang direkam.
Sorotan publik semakin besar setelah perempuan yang tampil dalam video tersebut memberikan klarifikasi melalui akun media sosialnya.
Ia menyatakan bahwa dirinya hanya menjalankan tugas sebagai usher yang menjelaskan produk kepada pengunjung dan tidak mengetahui percakapan tersebut direkam untuk dijadikan konten.
Situasi itu membuat nama Ebemartono menjadi trending dan memunculkan rasa penasaran publik mengenai sosok di balik akun media sosial tersebut.
Ebemartono merupakan nama yang digunakan Emanuel Bryan di berbagai platform media sosial, terutama TikTok dan Instagram. Ia dikenal sebagai content creator yang kerap membuat konten interaksi langsung dengan orang-orang yang ditemuinya di ruang publik.
Kontennya umumnya berisi tantangan atau eksperimen sosial mengenai cara berkenalan dengan orang baru, meminta akun media sosial, hingga membangun rasa percaya diri saat berkomunikasi.
Beberapa video yang pernah diunggah mengangkat tema seperti cara berkenalan dengan perempuan di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), berinteraksi dengan wisatawan asing, hingga berbagai eksperimen sosial lainnya yang dikemas dalam format hiburan.
Selain aktif sebagai kreator konten, Emanuel Bryan diketahui pernah menempuh pendidikan di Universitas Tarumanagara. Ia juga mendirikan Emerge.University, sebuah program mentorship yang berfokus pada pengembangan kemampuan bisnis, keuangan, dan kesehatan.
Kontroversi yang terjadi membuat Emanuel Bryan akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial.
Dalam pernyataannya, ia mengaku menyesal apabila kontennya telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi pihak lain. Ia mengatakan tujuan awal pembuatan konten adalah untuk memberikan edukasi mengenai keberanian membangun komunikasi dan meningkatkan rasa percaya diri.
Meski demikian, Bryan mengakui bahwa setiap konten harus dibuat dengan tetap memperhatikan etika, kesopanan, serta dampaknya terhadap orang lain.
Ia juga menegaskan tidak pernah memiliki niat untuk merendahkan atau menyinggung siapa pun. Menurutnya, kritik yang diterima menjadi pelajaran penting agar lebih berhati-hati dalam membuat konten pada masa mendatang.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perkembangan industri konten digital menuntut para kreator untuk tidak hanya menghadirkan ide yang menarik, tetapi juga menghormati hak privasi dan memastikan adanya persetujuan ketika melibatkan orang lain dalam sebuah karya yang dipublikasikan kepada masyarakat luas.***
