Bogordaily.net – Sebuah mikrofon. Seorang pengunjung. Lalu sebuah tantangan yang mungkin awalnya dianggap sebagai candaan.
Tetapi dari situlah kegaduhan bermula.
Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan tantangan melafalkan Surat Ad-Dhuha di depan booth minuman keras Newport dalam sebuah festival musik, Minggu (9/8/2026).
Hadiah yang ditawarkan bukan sembarang hadiah. Pengunjung yang mampu menghafalkan surat tersebut dijanjikan minuman beralkohol gratis.
Potongan video itu kemudian menyebar luas.
Reaksi publik pun bermunculan. Banyak yang menilai penggunaan hafalan Al-Qur’an dalam tantangan berhadiah minuman keras tidak pantas dan melukai sensitivitas keagamaan.
Pembawa acara dalam kegiatan tersebut, Ega, akhirnya memberikan penjelasan.
Ia juga meminta maaf.
Namun, menurut Ega, ada cerita sebelum video itu direkam.
Saat itu Ega sedang menjalankan tugasnya sebagai pembawa acara di area booth Newport.
Acara sedang memasuki jeda. Seperti biasa, MC berinteraksi dengan pengunjung untuk menjaga suasana tetap hidup.
Di tengah interaksi itulah seorang audiens yang mengenakan atasan putih tiba-tiba mengambil mikrofon yang sedang dipegang Ega.
Mikrofon itu kemudian dipakai untuk membuat sayembara.
Seorang pengunjung ditantang melafalkan salah satu surat Al-Qur’an. Hadiahnya ditawarkan oleh audiens tersebut.
Surat yang dipilih adalah Ad-Dhuha.
Masalahnya, hadiah yang dijanjikan adalah produk minuman beralkohol.
Situasi itu berlangsung begitu saja.
Ega mengakui dirinya tidak segera mengambil kembali mikrofon tersebut.
Di situlah ia merasa melakukan kelalaian.
Sebagai MC, ia memang bertanggung jawab menjaga agar jalannya acara tetap berada dalam konsep dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Di era media sosial, sebuah kejadian bisa berlangsung beberapa detik.
Dampaknya bisa berhari-hari. Begitu pula yang terjadi dalam kasus ini.
Potongan video tersebut keluar dari konteks kejadian di lapangan. Publik kemudian melihat apa yang tampak di dalam video: tantangan hafalan Al-Qur’an dengan hadiah minuman keras.
Kecaman pun datang.
Sejumlah pihak menilai aksi tersebut tidak etis karena membawa simbol atau ayat keagamaan ke dalam konteks pemberian minuman beralkohol.
Ega kemudian memilih memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan bahwa tantangan tersebut bukan bagian dari materi promosi resmi Newport.
Menurut dia, tantangan itu muncul secara spontan dari pengunjung yang mengambil mikrofon.
Ega tidak melemparkan seluruh persoalan kepada pengunjung.
Ia justru mengakui bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
Ega menyampaikan permohonan maaf karena tidak segera mengendalikan situasi ketika mikrofon berpindah tangan.
Ia juga menegaskan bahwa pihak brand Newport tidak terkait dengan aksi spontan tersebut.
“Melalui pesan ini pula, saya menegaskan bahwa pihak brand tidak memiliki sangkut paut atas kejadian tersebut,” tulis Ega dalam pernyataan yang disampaikannya melalui Threads.
Menurut Ega, insiden tersebut menjadi pelajaran penting dalam pekerjaannya sebagai pembawa acara.
Ada satu pelajaran sederhana dari kejadian ini.
Mikrofon bukan sekadar alat untuk berbicara.
Begitu berada di tangan MC, mikrofon juga menjadi kendali atas apa yang terjadi di panggung.
Karena itu, ketika kendali mikrofon berpindah tangan, kendali acara pun bisa ikut berpindah.
Dan sebuah kejadian yang awalnya hanya berlangsung beberapa saat bisa berubah menjadi persoalan besar ketika direkam, diunggah, lalu menyebar ke mana-mana.***
