Bogordaily.net – Setelah mengalami kemarau panjang, sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) akhirnya kembali diguyur hujan.
Turunnya hujan setelah periode panjang tanpa hujan semestinya menjadi kabar baik bagi masyarakat. Selain membantu membasahi kembali tanah yang kering, hujan juga diharapkan dapat mengurangi ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang meningkat selama musim kemarau.
Namun, hujan pertama yang turun justru membuat sebagian warga terkejut.
Pasalnya, air hujan yang tertampung dalam sebuah wadah terlihat berwarna hitam pekat. Fenomena tersebut kemudian ramai diperbincangkan setelah sebuah video yang memperlihatkan kondisi air hujan berwarna gelap beredar di media sosial.
Video tersebut diunggah oleh akun TikTok @ayurukmini1997.
Dalam video singkat itu, terlihat air yang tertampung memiliki warna gelap dan tampak seperti bercampur dengan debu atau partikel berwarna hitam.
Pemilik akun kemudian menggambarkan fenomena tersebut sebagai sesuatu yang terjadi ketika hujan pertama turun setelah kemarau panjang.
“POV hujan pertama setelah kemarau air hujan langsung hitam. Hujan pertama di Kalimantan turun hujan batubara,” tulis narasi dalam unggahan tersebut.
Unggahan itu kemudian menarik perhatian warganet. Sejumlah warganet mencoba mengaitkan warna gelap pada air hujan dengan kondisi lingkungan di wilayah tersebut selama musim kemarau.
Salah satu dugaan yang muncul adalah adanya akumulasi debu dan partikel di udara selama periode kering yang kemudian terbawa atau tercampur dengan air hujan ketika hujan turun.
Selain debu, warganet juga mengaitkan fenomena tersebut dengan asap dan partikel sisa pembakaran akibat karhutla serta aktivitas pertambangan batubara di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab air hujan terlihat berwarna hitam.
Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap sampel air maupun kondisi lingkungan di sekitar lokasi untuk mengetahui secara pasti material apa yang menyebabkan perubahan warna tersebut.
Fenomena tersebut muncul setelah sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan sebelumnya mengalami periode kering yang cukup panjang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sejumlah wilayah di Kalsel sempat mengalami Hari Tanpa Hujan atau HTH hingga kategori ekstrem.
Kondisi kering yang berlangsung dalam waktu lama turut meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Karhutla sendiri menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai selama musim kemarau karena lahan yang kering lebih mudah terbakar dan api dapat lebih cepat meluas ketika kondisi lingkungan mendukung.
Dalam kondisi atmosfer yang banyak mengandung debu, asap, atau partikel tertentu, hujan pertama juga dapat membawa sebagian material yang sebelumnya berada di udara turun ke permukaan.
Meski demikian, mekanisme tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa warna hitam pada air hujan dalam video tersebut disebabkan oleh debu tambang, karhutla, atau material tertentu lainnya.
Kondisi lokal di sekitar lokasi pengambilan video juga dapat memengaruhi tampilan air yang tertampung.
Karena itu, fenomena air hujan berwarna hitam tersebut masih perlu dilihat berdasarkan kondisi di lokasi dan, apabila diperlukan, pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Terlepas dari fenomena yang menjadi perhatian tersebut, turunnya hujan tetap menjadi kabar baik bagi wilayah Kalimantan Selatan yang sebelumnya menghadapi kondisi kering.
Informasi resmi dan pemeriksaan di lokasi tetap diperlukan untuk memastikan apa yang sebenarnya menyebabkan air hujan tampak berwarna hitam.***
