Bogor Daily – SEKILAS tak ada yang berbeda dengan bangunan SD Negeri Kertajaya 2 di Rumpin, Kabupaten Bogor. Gedung bercat hijau dan krem itu berdiri kokoh di Kampung Babakan, RT 02/06, Desa Kertajaya. Saat jam istirahat, para siswa terlihat hilir mudik di halaman sekolah. Namun, kondisi memprihatinkan baru terlihat saat masuk ruang kelas. Bayangkan, tak ada kursi ataupun meja layaknya ruang belajar. Justru yang terlihat aktivitas anak-anak yang ngampar di ubin sekolah sembari asyik mencatat pelajaran.
Murid kelas dua SDN Kertajaya 2, Larasati (9), sibuk memperhatikan ke arah papan tulis. Di ubin, ia bersama puluhan siswa lainnya duduk ngampar tanpa alas. Padahal lantai sekolah itu diselimuti debu tebal. Sebagian murid bahkan ada yang tiduran sembari mencatat pelajaran di papan tulis. “Tiap hari memang begini (ngampar di ubin, red),” kata Larasati.
Sedikitnya ada tiga ruang kelas yang kondisinya tanpa meja dan kursi. Belum lagi plafonnya yang sudah makin usang. Ruang tersebut diperuntukkan bagi siswa kelas dua, tiga dan empat. Bila tidak ditangani, mungkin bisa jatuh korban seperti saat kejadian di 2014 silam.
Salah seorang guru SDN Kertajaya 2, Ugum Gumelar, mengatakan bahwa sekolahnya memiliki sedikitnya delapan ruang kelas, satu dapur dan ruang kantor. Namun kondisi seluruhnya sudah memprihatinkan. Selain tak ada meja dan kursi, ruang kelas pun tak memiliki pintu. Bahkan plafonnya sudah mulai lapuk dimakan usia. “Sekolah ini terakhir direhab pada 2012. Hingga kini belum ada lagi bantuan. Semoga nggak sampai kayak dulu, siswa ketimpa plafon,” tutur Ugum.
Ia pun mengaku tetap membutuhkan bantuan untuk rehab keseluruhan. “Dulu pernah diajuin tapi hingga kini belum ada bantuan. Para guru berharap sekolah ini bisa direhab total dan ada pengadaan sarana dan prasarana seperti kursi dan meja,” harapnya.
Hal itu diamini guru kelas dua, Siti Rofiah. Ia mengaku terpaksa membiarkan peserta didiknya ngampar di lantai. Sebab, pihaknya tidak memiliki cukup kursi dan meja. “Kursi yang tersisa hanya untuk kelas lima dan enam. Itu pun sebagian ada yang nggak duduk,” kata Siti.
Sampai-sampai sekolahnya kena imbas dalam pendaftaran siswa baru. “Dulu siswanya sampai 600 orang. Tapi karena ketiadaan kursi dan meja, jadilah kami pulang,” ujarnya.
Padahal, dahulu SDN Kertajaya 2 merupakan peringkat ketiga di Rumpin dari jumlah murid. Kini karena kondisi tersebut, banyak warga yang mengeluh dan jumlah murid tersisa 38 orang. Pengajarnya pun ada 12 guru. Dua PNS, sedangkan yang lainnya tenaga honor.
“Akibat pintu rusak, banyak yang hilang seperti jam, meja dan kursi untuk kegiatan belajar. Yang ada bangkunya kelas lima dan enam. Namun kelas satu hanya ada sepuluh set. Sisanya dari kelas dua, tiga dan empat, mereka ada juga kegiatan belajar di lantai, ada juga yang pakai meja,’’ beber Siti Rofiah.
Ia menjelaskan, sudah empat tahun kondisi sekolah tersebut memprihatinkan. Sampai-sampai untuk MCK saja mereka harus rela menumpang ke rumah warga. ”MCK sudah hampir empat tahun tidak ada. Bukan hanya itu, beberapa sarana sekolah pun seperti meja dan kursi sudah mulai rusak. Bahkan murid harus belajar di lantai dan terus berkurang setiap tahunnya akibat keadaan sekolah yang sangat menyedihkan,” timpal Ugum.
Terpisah, Kepala Desa (Kades) Kertajaya Rudy Jaya mengakui soal aktivitas belajar sambil ngampar di ubin. “Sekolahan itu sudah lama rusak, saya juga kasihan lihatnya pada anak-anak. Banyak warga yang mengadu ke saya, tapi saya akan usahakan soal SDN Kertajaya 2 meski itu kewenangannya ada di Disdik,” kata Rudy.
Sementara Staf Perekonomian dan Pembangunan Kecamatan Rumpin Nurul Ahyar mengaku belum mengetahui soal SDN Kertajaya 2. Sebab, dari pihak sekolah belum ada laporan ke kecamatan. “Saya baru tahu ada sekolahan yang kegiatannya di lantai karena belum ada laporan. Tapi nanti saya akan cek ke lokasi,” ucap Nurul.

