Wednesday, 8 April 2026
HomeBeritaTiap Hari Ngampar di Ubin Sekolah

Tiap Hari Ngampar di Ubin Sekolah

Bogor Daily – SEKILAS tak ada yang berbeda dengan bangunan SD Negeri Kertajaya 2 di Rumpin, Kabupaten Bogor. Gedung bercat hijau dan krem itu berdiri kokoh di Kampung Babakan, RT 02/06, Desa Kertajaya. Saat jam istirahat, para siswa terlihat hilir mudik di halaman sekolah. Namun, kondisi memprihatinkan baru terlihat saat masuk ruang kelas. Bayangkan, tak ada kursi ataupun meja layaknya ruang belajar. Justru yang terlihat aktivitas anak-anak yang ngampar di ubin sekolah sembari asyik mencatat pelajaran.

Murid kelas dua SDN Kertajaya 2, Larasati (9), sibuk memper­hatikan ke arah papan tulis. Di ubin, ia bersama puluhan siswa lainnya duduk ngampar tanpa alas. Padahal lantai sekolah itu diselimuti debu tebal. Sebagian murid bahkan ada yang tiduran sembari mencatat pelajaran di papan tulis. “Tiap hari memang begini (ngampar di ubin, red),” kata Larasati.

Sedikitnya ada tiga ruang kelas yang kondisinya tanpa meja dan kursi. Belum lagi plafonnya yang sudah makin usang. Ruang ter­sebut diperuntukkan bagi siswa kelas dua, tiga dan empat. Bila tidak ditangani, mungkin bisa jatuh korban seperti saat keja­dian di 2014 silam.

Salah seorang guru SDN Ker­tajaya 2, Ugum Gumelar, men­gatakan bahwa sekolahnya me­miliki sedikitnya delapan ruang kelas, satu dapur dan ruang kantor. Namun kondisi seluruh­nya sudah memprihatinkan. Selain tak ada meja dan kursi, ruang kelas pun tak memiliki pintu. Bahkan plafonnya sudah mulai lapuk dimakan usia. “Se­kolah ini terakhir direhab pada 2012. Hingga kini belum ada lagi bantuan. Semoga nggak sampai kayak dulu, siswa ke­timpa plafon,” tutur Ugum.

Ia pun mengaku tetap mem­butuhkan bantuan untuk rehab keseluruhan. “Dulu pernah dia­juin tapi hingga kini belum ada bantuan. Para guru berharap sekolah ini bisa direhab total dan ada pengadaan sarana dan pra­sarana seperti kursi dan meja,” harapnya.

Hal itu diamini guru kelas dua, Siti Rofiah. Ia mengaku terpaksa membiarkan peserta didiknya ngampar di lantai. Sebab, pi­haknya tidak memiliki cukup kursi dan meja. “Kursi yang ter­sisa hanya untuk kelas lima dan enam. Itu pun sebagian ada yang nggak duduk,” kata Siti.

Sampai-sampai sekolahnya kena imbas dalam pendaftaran siswa baru. “Dulu siswanya sam­pai 600 orang. Tapi karena ke­tiadaan kursi dan meja, jadilah kami pulang,” ujarnya.

Padahal, dahulu SDN Kertajaya 2 merupakan peringkat ketiga di Rumpin dari jumlah murid. Kini karena kondisi tersebut, banyak warga yang mengeluh dan jumlah murid tersisa 38 orang. Pengajarnya pun ada 12 guru. Dua PNS, sedangkan yang lain­nya tenaga honor.

“Akibat pintu rusak, banyak yang hilang seperti jam, meja dan kursi untuk kegiatan belajar. Yang ada bangkunya kelas lima dan enam. Namun kelas satu hanya ada sepuluh set. Sisanya dari kelas dua, tiga dan empat, me­reka ada juga kegiatan belajar di lantai, ada juga yang pakai meja,’’ beber Siti Rofiah.

Ia menjelaskan, sudah empat tahun kondisi sekolah tersebut memprihatinkan. Sampai-sam­pai untuk MCK saja mereka ha­rus rela menumpang ke rumah warga. ”MCK sudah hampir empat tahun tidak ada. Bukan hanya itu, beberapa sarana se­kolah pun seperti meja dan kursi sudah mulai rusak. Bahkan murid harus belajar di lantai dan terus berkurang setiap tahunnya akibat keadaan sekolah yang sangat menyedihkan,” timpal Ugum.

Terpisah, Kepala Desa (Kades) Kertajaya Rudy Jaya mengakui soal aktivitas belajar sambil ngam­par di ubin. “Sekolahan itu sudah lama rusak, saya juga kasihan lihatnya pada anak-anak. Ba­nyak warga yang mengadu ke saya, tapi saya akan usahakan soal SDN Kertajaya 2 meski itu kewenangannya ada di Disdik,” kata Rudy.

Sementara Staf Perekono­mian dan Pembangunan Ke­camatan Rumpin Nurul Ahyar mengaku belum mengetahui soal SDN Kertajaya 2. Sebab, dari pihak sekolah belum ada laporan ke kecamatan. “Saya baru tahu ada sekolahan yang kegiatannya di lantai karena belum ada laporan. Tapi nanti saya akan cek ke lokasi,” ucap Nurul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here