Oleh : Suchjar Effendi, Direktur World University Service Indonesia. WUSKI
Tidak sesederhana itu akan terjadi perang di LCS. Terlalu banyak faktor yang harus diperhitungkan. Kecuali perang terbatas seperti perang di Irak, perang Teluk, yang merupakan perang terbatas. Dalam perang itupun AS dibantu 28 negara selama perang teluk, agar Sadam Hussein angkat kaki dari sana.
Dalam sejarah perang AS tidak melakukan serangan terlebih, tapi melakukan provokasi agar diserang lebih dulu. Seperti serangan Pearl Harbour oleh Jepang dan kasus Teluk Tonkin di Vietnam.
Jika memang akan perang melawan China, AS tidak akan mampu melakukannya sendiri. Ekonominya sudah payah. Akibat perang Vietnam, Perang Teluk, serangan ke Irak, Syria telah memyebabkan ekonomi AS hancur.
Negara2 anggota NATO sudah pasti tidak mau dilibatkan, karena mereka punya kepentingan ekonomi dengan China. Jepang, Korea, India, Aussie juga enggan terlibat perang.
Belum lagi faktor Rusia, yang hubungannya dengan China semakin baik.
Lemahnya, ekonomi AS juga menyebabkan tekanan terhadap anggota NATO untuk meningkatkan kontribusinya dalam iuran anggota, yakni 2% dari Produk Domestik Bruttonya.
AS selama ini juga menekan Eropa untuk menghentikan pembangunan pipa gas Nordstream 2 dari Rusia ke Jerman. AS memaksa Eropa untuk beli minyaknya yg lebih mahal dibandingkan dari Rusia.
Selain itu AS menekan Uni Eropa agar tidak menggunakan Huawei. Meningkatkan tarif bea masuk produk Eropa ke AS, seperti automotif, baja, aluminium dsb. Jadi perang dagang AS tidak hanya terhadap China, tapi dengan banyak di negara dunia, termasuk dengan Kanada, Turki, Rusia dll.
Perkiraan akan terjadi perang di LCS seperti mengkhayal. Tidak dimasukkan berbagai variabel yang dapat mendorong kemungkinan ke arah sana.
Yang bisa terjadi adalah, jika para pemimpin di kawasan tersebut terjebak akan adanya bahaya perang dan ancaman China, maka berlomba lombalah mereka beli senjata dari AS. Jangan sampai para pemimpin menjadi pandir atau memetik keuntungan dari bisnis senjata.
*Penulis adalah Peneliti Ekonomi Politik dan Penerjemah. Lulusan Berlin School of Economics.
