Saturday, 22 June 2024
HomeNasionalWow! Honor 1 jam Menteri Bicara Dibayar Rp 5 juta

Wow! Honor 1 jam Menteri Bicara Dibayar Rp 5 juta

BOGOR DAILY-   Pengakuan mengejutkan diungkapkan mantan Dalam Negeri (Mendagri) RI Gamawan Fauzi. Di balik kisruh proyek E-KTP, dalam persidangan Kamis (16/3), Gamawan buka-bukaan soal yang diterima saat masih menduduki orang nomor satu di Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri).

Selain disebut menerima USD 4,5 juta, mantan Dalam Negeri Gamawan Fauzi disebut mendapat Rp 50 juta terkait proyek e-KTP. Uang Rp 50 juta yang ia terima, menurut Gamawan, merupakan honornya sebagai pembicara saat masih menjabat Mendagri.

“Saya baca disebut-sebut terima Rp 50 juta untuk lima daerah. Saya perlu clear-kan, Yang Mulia, karena banyak yang bertanya kepada saya. Uang itu saya pembicara, Yang Mulia, di lima provinsi,” kata Gamawan saat bersaksi di Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (16/3).

Gamawan lalu menjelaskan, saat menjadi , dia mendapatkan Rp 5 juta per jam. Menurut Gamawan, hal itu sesuai dengan aturan.

“Karena menurut aturan, 1 jam bicara itu Rp 5 juta. Kalau saya bicara 2 jam, Rp 10 juta. Saya menerima komisi, jadi itu resmi, saya tanda tangani. Bukan uang dikasih, uang operasional saya, Yang Mulia,” ujar Gamawan.

Gamawan menjabat Mendagri pada periode 2009-2014. Entah aturan mana yang dimaksud Gamawan. Proyek e-KTP sendiri merupakan proyek multiyears dari 2010-2012.

Mengacu pada Permenkeu Nomor 36 Tahun 2012, yang merupakan perubahan atas Permenkeu Nomor 84 Tahun 2011 tentang standar biaya tahun anggaran 2012, sebagai pembicara adalah Rp 1,5 juta. Dalam aturan tersebut tak dijelaskan apakah Rp 1,5 juta tersebut untuk satu jam atau sekali menjadi pembicara.

Dalam surat dakwaan KPK, mantan Dirjen Dukcapil Irman, yang kini telah duduk sebagai terdakwa, menerima aliran uang Rp 876.250.000, USD 73.700, dan SGD 6.000. Uang itu disebut digunakan untuk membiayai kepentingan pribadi dan diberikan kepada beberapa orang, termasuk Gamawan. Gamawan disebut menerima uang Rp 50 juta dari Irman itu pada saat kunjungan kerja di Balikpapan, Batam, Kendari, Papua, dan Sulawesi Selatan (de/bd)