Tak Bisa Penuhi Listrik Dalam Negeri, Indonesia Impor dari Malaysia

  • Whatsapp

BOGOR DAILY- Indonesia tak sepenuhnya memenuhi kebutuhan listriknya dari dalam negeri. Sebagian listrik Indonesia dipenuhi dari impor Malaysia. Listrik yang diimpor dari negara tetangga tersebut sekitar 100 hingga 120 megawatt (MW). Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana menjelaskan rasio impor listrik Indonesia 0,54%. Rasio ini menujukan tingkat kemandirian energi, khususnya listrik.

“Ini perlu kami jelaskan ini adalah salah satu indikator yang sesuai kesepakatan kami Pak Sekjen, Pak Ego melalui Biro Perencanaan, ini untuk mengukur tingkat kemandirian kita terhadap energi dalam hal ini listrik. Adakah sebagian yang listrik yang dikonsumsi dalam negeri itu di antaranya datang dari luar negeri, nyatanya ada,” paparnya dalam teleconference, Rabu (13/3/2021).

Read More

Listrik tersebut merupakan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Malaysia. Listrik tersebut untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar).

“Kita kerja sama bilateral dengan Malaysia, tepatnya Serawak sana, lebih khusus lagi Kalimantan Barat yang secara bilateral G to G, tentu pelaksananya adalah korporasi BUMN kelistrikan PLN dan di Malaysia Sesco yang kerja sama untuk jual beli listrik atau ekspor impor listrik,” terangnya.

“Untuk tahap sekarang karena kerja sama tersebut dibagi beberapa tahap, untuk tahap awal sekarang kita sebagian impor dan impornya kalau dibandingkan dengan total yang kita konsumsi itu kurang lebih 0,54%,” sambungnya.

Dalam megawatt (MW), Rida mengatakan, angka 0,54% itu sekitar 100-120 MW. “Itu kalau diperkirakan di megawattnya itu berkisar 100-120 MW,” terang Rida.

Ia berharap, pembangkit listrik di sekitar Kalimantan Barat segera rampung, sehingga situasinya bisa berubah di mana Indonesia bisa mengekspor listrik.
“Mudah-mudahan nanti dalam waktu tidak begitu lama kalau sekiranya pembangkit di sekitar Kalimantan Barat itu sudah selesai maka pada saatnya kita akan mengembalikan situasi yaitu mengekspor listrik dari Indonesia ke Malaysia dengan jalur yang sama,” terangnya.

Dalam catatan detikcom 2016 lalu, pemerintah Indonesia melalui PT PLN (Persero) dan Malaysia melalui perusahaan listrik negaranya Sesco melakukan kerjasama untuk saling memasok kebutuhan listrik. Kerjasama ini diwujudkan melalui tersambungnya interkoneksi jaringan listrik Kalimantan Barat-Serawak.
Interkoneksi listrik dua negara ini terjadi pada 20 Januari 2016 melalui Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET) 275 kilo Volt (kV) sirkit 1 antara Gardu Induk Tegangan Extra Tinggi (GITET) Bengkayang dan GITET Mambong (Sesco Malaysia) setelah melalui beberapa rangkaian pengujian.

Interkoneksi ini merujuk kepada perjanjian di dalam Power Exchange Agreement (PEA) di mana PLN Indonesia dan Sesco Malaysia sepakat untuk melakukan jual beli (ekspor-impor) tenaga listrik selama 25 tahun.

Untuk 5 tahun pertama, Indonesia akan membeli listrik dari Malaysia sebesar 50 MW saat Lewat Waktu Beban Puncak (LWBP) dan 230 MW saat Waktu Beban Puncak (WBP). Sedangkan untuk 5 tahun berikutnya, PLN memungkinkan untuk menjual listrik ke Malaysia.

Pada tahap awal interkoneksi, Sesco Malaysia akan menyalurkan daya listrik sebesar 10 MW dan secara bertahap akan dinaikkan menjadi 50 MW sampai periode akhir Maret 2016. Untuk selanjutnya, Malaysia akan menyuplai 50 MW saat LWBP dan 230 MW saat WBP.

Selain itu, di dalam perjanjian PEA ini, PLN membangun SUTET 275 kV, serta 2 sirkit sepanjang 82 km dari GITET Bengkayang ke perbatasan di daerah serikin sehingga total panjang SUTET adalah 127 km.

Saat itu, sistem Kalbar mengalami defisit listrik sebesar 30 MW, dengan daya mampu sebesar 240 MW.”Dengan masuknya listrik Malaysia sebesar 50 MW ini akan menutupi defisit listrik di Kalbar,” ujar Manajer Senior Publik Relation PLN Agung Murdifi dalam keterangan resminya, 21 Januari 2016.

Agung menambahkan, impor listrik dari Malaysia ini merupakan bagian usaha PLN Kalbar dalam rangka mengatasi pemadaman yang sudah lama terjadi di wilayah Kalbar khususnya di sistem khatulistiwa dalam 2 tahun terakhir.

Selain itu, PLN Kalbar juga tengah menunggu masuknya PLTU Kalbar 1 (2x50MW), PLTU Kalbar 2 (2×27,5MW) dan PLTU Kalbar 3 (2x55MW) yang kala itu dalam proses pembangunan.

Diharapkan, jika semua PLTU dengan kapasitas 265 MW telah beroperasi, tidak menutup kemungkinan Kalbar bisa ekspor listrik juga ke Serawak Malaysia melalui jaringan SUTET yang sama.

sumber: detik.com

Loading...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *