Akrab, Surat Menyurat Dua Tokoh Muda NU-Muhammadiyah

Menu

Mode Gelap
Wakapolda Jatim : Bripda RB Hamili Novia dan Minta Aborsi Polisi Periksa Polisi Berinisal R Atas Kematian Novia Widyasari Novia Ambil Jurusan Pendidikan Demi Bantu Anak Kurang Mampu JK Apresiasi Sumbangsih Rizal Ramli Bagi Perekonomian Negara Polisi Mabuk Berlagak Koboi, Anak 7 Tahun Kena Peluru Nyasar

Tokoh · 7 Okt 2021 14:53 WIB

Akrab, Surat Menyurat Dua Tokoh Muda NU-Muhammadiyah


 Surat-menyurat Dua Tokoh Muda NU-Muhammadiyah.(umma/Bogordaily.net) Perbesar

Surat-menyurat Dua Tokoh Muda NU-Muhammadiyah.(umma/Bogordaily.net)

Bogordaily.net – Berbeda organisasi dan juga pemahaman merupakan suatu hal biasa bagi tokoh-tokoh umat Islam pada masa lalu.

Berbeda organisasi dan juga pemahaman merupakan suatu hal biasa bagi tokoh-tokoh umat Islam pada masa lalu.

Berdebat terbuka atau polemik di surat kabar mereka lakukan tanpa mengurangi kehangatan saat bertemu di satu kesempatan. Ada yang lebih tinggi dari organisasi yaitu ukhuwah islamiyah.

Ada kisah saling menghormati antara tokoh NU dan Muhammadiyah, yaitu antara KH Idham Chalid (pernah Ketum PBNU) dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang dikenal Buya Hamka.

Konon kedua tokoh itu pernah berjemaah shalat Subuh. Kiai Idham menjadi imam. Meskipun ia orang NU, memilih tidak membaca kunut karena jamaah di belakangnya ada Buya Hamka.

Sebaliknya ketika Buya Hamka menjadi imam shalat Subuh, ia justru membaca kunut.

Jauh sebelumnya, di tahun 1940, saat menjadi pengarang Pedoman Islam di Medan, Buya Hamka mengapresiasi pandangan Ketua Umum Hoopdbestuur Nahdlatoel Oelama KH Mahfudz Shiddiq tentang ijtihad dan taqlid.

Apresiasi itu disampaikannya dalam bentuk surat. Berikut surat Buya Hamka untuk kyai asal Jember tersebut.

Yang dimuat Berita Nahdlatoel Oelama No 17 tahun 9 edisi 4 Juli 1940 dengan ejaan yang disesuaikan:

YTH K. Mahfudz Shiddiq

Assalamau’alaikum wr.wb. Karangan kiai yang akhir, ijtihad dan taqlid sudah saya terima dan saya baca isinya dengan teliti. Setelah saya baca dan banding, dalam garis besarnya, boleh dikatakan bersamaan paham kita dalam hal ini.

Karena menyatakan paham sebagai paham kiai inilah, maka saya mendapatkan pukulan dari kiri dan kanan sehingga dituduh tidak “kaum muda” lagi.

Moga-moga karangan kiai ini tersiarlah sebanyak-banyaknya dalam kalangan umat kita sehingga tidak terdapat lagi ifrath demikian juga tafrith di dalam memahamkan agama.

Kalau tidak ada halangan insya Allah akan saya bicarakan (resensi) di dalam Pedoman Islam. Sambutlah salam saya.

Wassalam H. Abdulmalik K.A. Pengarang Pedoman Islam di Medan

Sebagai catatan, pada masa-masa itu, umat Islam diramaiakan dengan perdebatan furu’iyah berikut ijtihaddan taqlid.

Hal itu merupakan gelombang yang terjadi di Timur Tengah kemudian di-copy paste di Hindia Belanda.

Mereka kemudian mengarahkan sasarannya kepada tradisi umat Islam Nusantara yang telah berkembang berabad-abad.

Istilah bidah, kolot, tradisional, tua pun mulai dilekatkan untuk membedakan dengan mereka yang mengklaim murni, baru, modern, dan muda.

Jargon mereka, kembali ke Alquran dan hadis.Sasaran itu tiada lain diarahkan kepada NU sebab dengan tegas di AD/ART NU menyebutkan sebagai kalangan yang bermazhab bepegang kepada salah satu dari empat mazhab.

Tentu saja ulama-ulama NU mempraktikkan bermazhab itu bukan tanpa dalil dari Alquran dan hadis juga.

Diserang oleh kalangan lain, para kyai NU mengemukakan argumentasi-argumentasinya.

Salah satunya dalam majalah Berita Nahdlatoel Oelama KH. Mahfudz Shiddiq, yang pada masa mudanya pernah nyantri dari Mekkah dan Tebu ireng tampil sebagai pembela bermazhab dengan mengupas ijtihad dan taqild di majalah itu.***

Artikel ini telah dibaca 28 kali

Baca Lainnya

JK Apresiasi Sumbangsih Rizal Ramli Bagi Perekonomian Negara

4 Desember 2021 - 10:31 WIB

Rizal Ramli

Ridwan Kamil: Program JFLS Dorong Indonesia Jadi Negara Adidaya 2045

3 Desember 2021 - 16:00 WIB

JFLS

Puan Ajak Parlemen Dunia Hadiri IPU ke-144 di Bali

2 Desember 2021 - 10:43 WIB

Parlemen

Sikapi Statement Ketua KADIN Jabar, Tresna Wijaya Tempuh Jalur Hukum

30 November 2021 - 22:51 WIB

Tresna wijaya

Komisi I DPRD Fajari Aria Kunjungi GOW dan BKAD Kota Bogor

29 November 2021 - 15:15 WIB

Komisi I DPRD

Terpilih Lewat Aklamasi, M Abdul Mukhtar Pimpin Koordinator Pusat BEM RI

28 November 2021 - 07:30 WIB

Pusat Bem
Trending di Tokoh