Bogordaily.net – Menteri PPPA dari partai apa. Pertanyaan itu kini beredar di banyak ruang. Dari warung kopi sampai linimasa media sosial. Nama Arifatul Choiri Fauzi ikut terseret arus. Bukan hanya karena jabatannya sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Tetapi juga karena satu usulan yang memantik perdebatan.
Ia mengusulkan posisi gerbong khusus perempuan di kereta. Jangan di depan. Jangan di belakang. Di tengah saja. Alasannya keselamatan.
Usulan itu muncul setelah insiden tabrakan kereta di Bekasi. Peristiwa yang menyisakan duka. Banyak korban adalah perempuan. Mereka berada di gerbong khusus wanita.
Sejak saat itu, publik mulai mencari tahu. Siapa Arifatul Choiri Fauzi? Dari mana asalnya? Dan kembali ke pertanyaan awal: Menteri PPPA dari partai apa.
Arifatul lahir di Bangkalan, Madura. Tanggalnya 28 Juli 1969. Lingkungannya religius. Tetapi sekolahnya di Jakarta. Ia menempuh pendidikan di Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah As Syafiiyah, Jatiwaringin.
Jejak akademiknya tidak sembarangan. Ia kuliah di UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Dakwah. Lulus tahun 1994. Lalu melanjutkan ke Universitas Indonesia. Mengambil Magister Komunikasi. Selesai tahun 2002. Beasiswa Ford Foundation yang membawanya ke sana.
Pendidikan itu bukan sekadar gelar. Itu bekal. Bekal untuk masuk ke dunia organisasi. Dan kemudian ke panggung yang lebih luas.
Karier organisasinya dimulai sejak muda. Ia pernah menjadi Ketua Umum IPPNU DIY. Tahun 1989 sampai 1991. Lalu naik kelas. Menjadi Sekjen Fatayat NU. Kemudian Sekretaris Pimpinan Pusat Muslimat NU.
Sekarang, ia memimpin. Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat NU periode 2025–2030.
Di sinilah banyak orang mulai menemukan petunjuk. Bahwa Arifatul bukan kader partai dalam arti formal. Ia lebih dikenal sebagai tokoh organisasi keagamaan. Dekat dengan Nahdlatul Ulama.
Namun dalam politik praktis, ia tidak benar-benar jauh. Ia terlibat dalam tim kampanye nasional Pemilu 2024. Mendukung Prabowo Subianto. Bagian dari Koalisi Indonesia Maju.
Jadi, jika kembali ke pertanyaan Menteri PPPA dari partai apa, jawabannya tidak sesederhana satu nama partai. Ia bukan politisi partai tulen. Ia representasi kelompok masyarakat sipil. Yang kemudian masuk ke kabinet.
Penunjukannya sebagai Menteri PPPA terjadi pada Oktober 2024. Setelah pertemuan di Kertanegara. Ia datang bersama tokoh lain. Dipanggil. Diberi amanah.
Kabinet Merah Putih membutuhkan figur seperti dia. Aktivis. Perempuan. Berbasis massa. Punya jaringan sosial.
Namun jabatan selalu datang bersama risiko. Usulan gerbong perempuan di tengah rangkaian kereta menjadi contoh terbaru.
Sebagian mendukung. Menganggap itu bentuk perlindungan. Sebagian lagi mengkritik. Menganggapnya tidak adil. Bahkan memindahkan risiko ke penumpang lain.
Perdebatan itu liar. Tanpa rem.
Di luar kontroversi, kehidupan pribadinya relatif tenang. Ia menikah dengan Ngatawi Al-Zastrow. Tetap aktif di kegiatan sosial. Termasuk program desa bersama Muslimat NU.
Ia juga punya pengalaman profesional. Pernah menjadi direktur di beberapa perusahaan. Dan aktif dalam gerakan sosial, termasuk kampanye antikorupsi.
Pada akhirnya, publik mungkin tidak hanya mencari tahu Menteri PPPA dari partai apa. Tetapi juga mencoba memahami bagaimana seorang aktivis perempuan bisa sampai di kursi menteri.
Jawabannya ada pada perjalanan panjang. Dari Madura. Ke Jakarta. Ke kampus. Ke organisasi. Lalu ke pusat kekuasaan.
Dan di sana, setiap kata bisa menjadi berita. Setiap usulan bisa menjadi polemik.***
