Bogordaily.net — Uang itu dikumpulkan sedikit demi sedikit. Bukan untuk liburan. Bukan pula untuk membeli barang mewah. Melainkan untuk sekolah anak di masa depan.
Namun tabungan yang disimpan seorang nasabah di kantor cabang BCA wilayah Cimanggu, Kota Bogor, justru diduga raib. Nilainya tidak kecil. Ada yang mengaku kehilangan hingga ratusan juta rupiah.
Kasus dugaan penggelapan dana nasabah ini mulai ramai dibicarakan setelah seorang nasabah bernama Maulidda menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya bersama sang suami.
Mereka membuka rekening “Tabunganku” untuk anaknya pada 26 November 2024. Rekening itu sengaja dibuat sebagai simpanan pendidikan. Setiap bulan diisi rutin. Tidak pernah disentuh.
Karena merasa aman menyimpan uang di bank besar, Maulidda mengaku jarang mengecek saldo rekening tersebut.
Masalah baru muncul pada 17 April 2026.
Saat hendak mengecek saldo melalui ATM, kartu mereka tiba-tiba tidak bisa digunakan. Di layar mesin muncul tulisan: “Maaf kartu Anda tidak bisa digunakan.”
Awalnya mereka mengira hanya gangguan biasa.
Kesibukan pekerjaan membuat pasangan ini baru mendatangi kantor cabang BCA Cimanggu pada 7 Mei 2026. Di situlah keganjilan mulai terasa.
Menurut pengakuan Maulidda, customer service bank menyebut kartu tersebut tidak memiliki kepemilikan dalam sistem. Bahkan sempat muncul dugaan kartu pernah diganti.
Padahal, kata Maulidda, sejak rekening dibuka tidak pernah ada pergantian kartu maupun perubahan data apa pun.
“Rekening itu memang khusus tabungan sekolah anak. Kami tidak pernah ubah apa-apa,” ujarnya.
Pihak bank lalu meminta waktu 3 sampai 5 hari kerja untuk melakukan pengecekan lebih lanjut. Keluarga Maulidda masih mencoba berpikir positif. Mereka berharap hanya terjadi kesalahan sistem.
Tetapi harapan itu berubah menjadi kepanikan.
Pada 13 Mei 2026, suami Maulidda kembali datang ke kantor cabang tersebut. Di sana ternyata sudah ada sejumlah nasabah lain yang mengalami masalah serupa.
Total ada enam korban yang saat itu dikumpulkan dalam satu ruangan bersama pihak bank.
Situasinya disebut tidak biasa. Para nasabah diminta tidak membawa telepon genggam ke dalam ruangan. Ponsel mereka sementara diminta untuk disimpan di luar.
Dari situlah dugaan kasus besar mulai terkuak.
Menurut informasi yang diterima keluarga Maulidda, ada empat orang yang telah diamankan aparat kepolisian terkait dugaan penggelapan dana nasabah. Salah satunya disebut merupakan kepala cabang.
Kerugian sementara diperkirakan mencapai lebih dari Rp600 juta.
Jumlah itu diyakini masih bisa bertambah seiring kemungkinan munculnya korban baru.
Suasana pertemuan antara pihak bank dan para korban pun sempat memanas. Banyak nasabah terpukul karena uang yang mereka simpan bertahun-tahun mendadak hilang.
“Salah satu korban kehilangan sampai Rp300 juta. Dia menangis histeris di lokasi,” kata Maulidda.
Pihak bank disebut telah menyampaikan komitmen untuk mengembalikan dana korban secara bertahap. Meski demikian, hingga kini para nasabah masih menunggu kepastian proses hukum dan pengembalian penuh uang mereka.
Di sisi lain, upaya konfirmasi kepada pihak bank juga berlangsung alot.
Saat wartawan mencoba menghubungi pihak bagian penerimaan aduan KCP BCA Raya Baru Bogor terkait informasi hilangnya tabungan nasabah tersebut.
Namun tidak mendapatkan jawaban tegas, melalui sambungan telepon justru diwarnai pertanyaan balik mengenai kapasitas wartawan.
“Jadi bapak menjelaskan bertanya ini keperluannya sebagai apa pak,” ujar penerima telepon, Rabu 13 Mei 2026.
Padahal sebelumnya sudah dijelaskan bahwa tujuan menghubungi adalah untuk melakukan konfirmasi terkait dugaan hilangnya tabungan nasabah.
Namun pihak penerima telepon tetap kembali mempertanyakan identitas dan kapasitas wartawan yang melakukan konfirmasi.
Belum sempat penjelasan dilanjutkan, sambungan telepon mendadak terputus.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak bank terkait dugaan hilangnya dana nasabah tersebut.***
Irfan Ramadan
