Wednesday, 6 May 2026
HomeViralSiapa Mama Ghufron? Sosok Pendakwah Viral yang Klaim Bisa Bicara Bahasa Jin...

Siapa Mama Ghufron? Sosok Pendakwah Viral yang Klaim Bisa Bicara Bahasa Jin dan Semut, Ini Fakta Lengkapnya

Bogordaily.net – Nama Ghufron Al Bantani atau yang lebih dikenal publik sebagai Mama Ghufron mendadak menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram.

Fenomena viral ini tidak terjadi karena popularitas dakwahnya semata, melainkan dipicu oleh sejumlah pernyataan unik dan kontroversial yang ia sampaikan dalam potongan video ceramahnya yang tersebar luas di internet.

Alih-alih mendapatkan respons positif, pernyataan-pernyataan tersebut justru memancing perdebatan sengit di kalangan netizen hingga tokoh agama. Banyak yang mempertanyakan validitas klaimnya, sementara sebagian lainnya menjadikannya sebagai bahan candaan dan konten hiburan.

Mama Ghufron Siapa?

Mama Ghufron memiliki nama asli Ghufron Al Bantani. Ia lahir pada 25 Desember 1963 dan dikenal sebagai pendiri sekaligus pengasuh sebuah lembaga pendidikan keagamaan bernama Pesantren UNIQ Nusantara yang berada di wilayah Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Sebagai seorang pengasuh pesantren, sosoknya sempat dikenal di lingkungan sekitar sebagai tokoh agama. Namun, seiring beredarnya berbagai video ceramahnya di media sosial, citra tersebut berubah menjadi kontroversial.

Hal ini tidak lepas dari gaya ceramahnya yang dianggap tidak lazim, termasuk penggunaan istilah-istilah yang tidak dikenal dalam kajian bahasa maupun keilmuan agama secara umum.

Salah satu hal yang membuat Mama Ghufron viral adalah penggunaan kata “syududu” dalam ceramahnya.

Istilah ini kemudian menyebar luas dan menjadi tren di media sosial. Banyak kreator konten memanfaatkannya sebagai bahan humor, parodi, hingga meme yang menghibur.

Namun, di balik viralnya kata tersebut, muncul fakta menarik bahwa “syududu” tidak ditemukan dalam kamus bahasa Indonesia, bahasa daerah, maupun bahasa asing yang dikenal secara akademik.

Ketiadaan makna ini justru memperkuat kontroversi yang melekat pada sosok Mama Ghufron.

Klaim Bisa Berkomunikasi dengan Makhluk Gaib

Kontroversi semakin meluas setelah Mama Ghufron mengklaim memiliki kemampuan berbicara dengan berbagai makhluk selain manusia, seperti hewan, jin, hingga malaikat.

Ia menyebut bahwa komunikasi tersebut menggunakan Bahasa Suryani, yang menurutnya merupakan bahasa yang digunakan para nabi dan wali.

Dalam salah satu video yang viral, ia bahkan memperagakan apa yang disebutnya sebagai “bahasa semut”:

“Makanya ditanya semut, ini bahasa semut. Bismillahirrahmanirrahim ashkoli inakali yama kali inaka Ghufron artihi inaya inaka kaliya kali fima Allah.
Apakah saya didoakan nggak Ghufron, ya jelas lah!”

Tak hanya itu, ia juga memperlihatkan contoh “bahasa jin” dalam video lain:

“Bahasa Jin. Bismillahirrohmanirrohim Az-zadah gudiyah ajid goda ayaiu yim ma hud hada da yabs. Tuh bahasa jin,”

Ia bahkan menyebut mampu memahami bahasa malaikat, monyet, hingga cacing dengan pola ucapan yang serupa.

Tuai Kritik dari Berbagai Kalangan

Pernyataan-pernyataan tersebut langsung menuai kritik tajam, terutama dari kalangan ulama dan pemerhati linguistik.

Banyak pihak menilai bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah maupun rujukan dalam literatur keislaman yang kredibel.

Bahasa Suryani sendiri merupakan bahasa kuno yang memiliki struktur dan sejarah yang jelas. Namun, apa yang disampaikan oleh Mama Ghufron dinilai tidak sesuai dengan kaidah bahasa tersebut.

Akibatnya, publik terbelah antara yang menganggapnya sebagai fenomena hiburan semata dan yang melihatnya sebagai persoalan serius dalam penyebaran informasi keagamaan.

Terlepas dari kontroversinya, fenomena Mama Ghufron menunjukkan bagaimana media sosial dapat dengan cepat mengangkat sosok tertentu menjadi viral, baik karena prestasi maupun kontroversi.

Kasus ini juga menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih kritis dalam menyaring informasi, terutama yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan.

Di tengah derasnya arus konten digital, literasi menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh klaim yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun teologis.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here