HomeNasionalWeton yang Dilarang ke Gunung Kawi Menurut Primbon Jawa, Mitos atau Fakta?...

Weton yang Dilarang ke Gunung Kawi Menurut Primbon Jawa, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasan Lengkapnya

Bogordaily.net – Weton yang dilarang ke Gunung Kawi kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak orang penasaran apakah benar ada hari kelahiran tertentu yang dianggap membawa pantangan saat berziarah ke kawasan Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Cerita tentang weton yang dilarang ke Gunung Kawi telah lama hidup dalam tradisi lisan masyarakat Jawa. Kisah itu berkembang bersamaan dengan reputasi Gunung Kawi sebagai salah satu lokasi ziarah yang sarat nuansa spiritual.

Namun, benarkah ada larangan tersebut?

Jawabannya tidak sesederhana mitos yang beredar.

Perlu dipahami sejak awal, tidak ada aturan dari pemerintah, pengelola kawasan wisata religi Gunung Kawi, maupun ajaran agama yang melarang seseorang datang hanya karena wetonnya.

Hingga kini juga belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan hubungan antara weton seseorang dengan kejadian buruk setelah mengunjungi Gunung Kawi.

Karena itu, pembahasan mengenai weton yang dilarang ke Gunung Kawi berada dalam ranah budaya, tradisi Kejawen, dan penafsiran Primbon Jawa, bukan fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Dalam berbagai cerita turun-temurun, weton yang paling sering dikaitkan dengan pantangan adalah Wage.

Menurut sebagian praktisi Primbon Jawa, pemilik weton Wage dipercaya memiliki karakter energi yang kurang selaras dengan aura spiritual yang diyakini berada di kawasan Gunung Kawi.

Sebagian juga meyakini bahwa orang yang lahir pada pasaran Wage lebih sensitif terhadap tempat-tempat yang dianggap sakral.

Karena itulah muncul anjuran agar pemilik weton Wage lebih berhati-hati jika datang untuk melakukan laku tirakat atau ritual spiritual.

Meski demikian, keyakinan tersebut bukan aturan baku dan tidak berlaku universal.

Selain Wage, sejumlah cerita masyarakat juga menyebut beberapa weton lain seperti:

* Senin Pon
* Selasa Kliwon
* Jumat Legi

Namun tidak ditemukan kitab Primbon yang secara tegas menyatakan weton-weton tersebut dilarang mengunjungi Gunung Kawi.

Sebagian besar ahli budaya Jawa justru menjelaskan bahwa Primbon tidak hanya melihat weton semata.

Ada banyak unsur lain yang biasanya ikut diperhitungkan, seperti:

* nilai neptu seseorang;
* hari keberangkatan;
* tujuan perjalanan;
* kecocokan waktu menurut Primbon;
* perhitungan pribadi berdasarkan tradisi Kejawen.

Artinya, tidak ada daftar resmi mengenai weton yang dilarang ke Gunung Kawi yang diakui secara umum.

Kepercayaan tersebut umumnya berangkat dari beberapa konsep dalam Primbon Jawa.

1. Neptu

Neptu merupakan hasil penjumlahan nilai hari dan pasaran.

Dalam tradisi Jawa, neptu sering digunakan untuk menentukan waktu yang dianggap baik dalam berbagai kegiatan, mulai dari pernikahan, membangun rumah hingga perjalanan jauh.

2. Keselarasan Energi

Sebagian penganut Kejawen percaya setiap orang memiliki pancaran energi berbeda.

Begitu pula setiap tempat diyakini mempunyai karakter spiritual tersendiri sehingga diperlukan kecocokan antara keduanya.

3. Sengkala

Konsep sengkala merujuk pada pertanda kurang baik apabila seseorang melakukan aktivitas pada waktu yang dianggap tidak tepat menurut perhitungan Primbon.

Meski demikian, semua konsep tersebut merupakan bagian dari tradisi budaya dan tidak memiliki dasar ilmiah.

Dalam cerita masyarakat, seseorang yang datang ke Gunung Kawi tanpa memperhatikan weton atau neptu dipercaya dapat mengalami berbagai hal, seperti:

* badan terasa tidak nyaman;
* mudah jatuh sakit;
* usaha mengalami hambatan;
* rezeki terasa seret;
* sering mengalami kesialan;
* pikiran gelisah;
* mimpi buruk.

Semua anggapan tersebut merupakan bagian dari folklor dan belum pernah dibuktikan melalui penelitian ilmiah.

Di balik berbagai cerita mistis, Gunung Kawi sejatinya dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi dan budaya di Jawa Timur.

Kawasan ini menjadi tempat peristirahatan dua tokoh yang dihormati masyarakat, yakni Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono.

Setiap tahun, ribuan peziarah datang untuk berdoa, mengenang jasa kedua tokoh tersebut, sekaligus menikmati suasana yang tenang dan sarat nilai sejarah.

Karena itu, Gunung Kawi tidak semata identik dengan cerita pesugihan atau hal-hal mistis, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya Jawa yang masih lestari hingga kini.

Perbincangan mengenai weton yang dilarang ke Gunung Kawi masih berada dalam ranah kepercayaan masyarakat dan tradisi Kejawen. Tidak ada aturan resmi ataupun bukti ilmiah yang menyatakan seseorang tidak boleh berkunjung ke Gunung Kawi hanya karena wetonnya.

Masyarakat dapat memandangnya sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang menarik untuk dipelajari, sambil tetap mengedepankan sikap kritis dan menghormati beragam keyakinan yang berkembang di tengah masyarakat.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here