HomeOpiniKesan Pesan Damai Nangro Aceh Darussalam Dilangkah Perjalanan

Kesan Pesan Damai Nangro Aceh Darussalam Dilangkah Perjalanan

Oleh: Abdul Mubarok

DALAM satu kesempatan tugas pekerjaan yang cukup mendadak (20-08-2026), penulis diminta untuk menghadiri kegiatan di serambi Mekah Nangroe Aceh Darussalam kota diujung barat Indonesia dengan jumlah penduduk Provinsi Aceh mencapai 5.715.781 jiwa (Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri melalui Ditjen Dukcapil per 30 Juni 2026), yang belum pernah penulis pikirkan, terbayang baru saja menjelang perayaan HUT RI ke 81 ada doa bersama di masjid raya baiturahman banda aceh yang setelahnya terjadi insiden bendera, terbayang apakah aman, bisakah orang luar datang, bagaimana ketika tiba dibandara dan lain-lain muncul pertanyaan dibenak penulis.

Perjalan dimulai dari bandara soekarno-hatta dengan pesawat jurusan bandara internasional sultan Iskandar muda dengan waktu tempuh sekitar 3 jam, sampai dibandara karena belum ada yang dituju cari-cari informasi ke para petugas dan dapatlah taksi koperasi dengan pengemudi bapak udin asli banda aceh, ketika penulis sampaikan ke tempat yang akan dituju dan menyebutkan ini kali pertama datang ke aceh dengan spontan pak udin sampaikan selamat datang dibanda aceh bapak.

Kesan hangat didapat dari sambutan putra daerah kepada tamu yang datang dan disepanjang jalan kami berbicara ringan tapi cukup hangat sampai di tujuan pusat kota banda aceh dan pa udin menyampaikan bila perlu bantuan dapat menghubunginya selama dibanda aceh dan penulis meminta untuk dapat mengantar kembali saat pulang nanti kearah bandara saat kepulangan.

Dilokasi tujuan untuk kegiatan kerja berlangsung berjalan lancar sampai waktu maghrib dan ternyata perbedaan waktu maghrib Jakarta dengan banda aceh hampir satu jam kalau di Jakarta jam 18 kurang atau lebih sedikit, dibanda aceh jam 19 kurang sedikit, selesai sholat maghrib penulis berkesempatan cerita ringan dengan beberapa karyawan dan petugas keamanan dan penulis sampaikan ini kali pertama ke banda aceh, sambutannya sama mengucapkan selamat datang dibanda aceh semoga perjalanan bapak menyenangkan, dalam hati penulis bertanya bisa sama ya sambutannya dengan pa udin pengemudi taksi.

Menjelang malam penulis ketempat penginapan dan di penerimaan tamu menyampaikan bahwa ini kali pertama penulis ke banda aceh dan sambutannya selamat datang dibanda aceh dan lain-lain, dan pada kesempatan waktu shubuh sholat dan kajian jumat bada shubuh di Masjid Raya Baiturahman banda aceh berbicara dengan beberapa jamaah menyampaikan bahwa penulis pertama ke banda aceh jawabannya selamat datang dibanda aceh seolah terkesan seperti sudah terencana.

Pada kesempatan tugas pekerjaan berakhir dan kembali ke bandara internasional sultan Iskandar muda kembali menghubungi pa udin untuk bisa diantarkan ke bandara dan disepanjang perjalan banyak dijelaskan berbagai penggalan tsunami yang terjadi 26 Desember 2004, hilangnya seluruh keluarga pa udin, Tempat bersejarah utama terkait tsunami Aceh meliputi Museum Tsunami Aceh, Kapal PLTD Apung, Kapal di Atas Rumah Lampulo, Kuburan Massal Siron & Ulee Lheue, serta Masjid Baiturrahim yang menjadi saksi bisu dahsyatnya tsunami dan lain-lainya dan penulis diperkenalkan dengan masjid haji keuchik leumik di Lamseupeung, Kec. Lueng Bata, Kota Banda Aceh dengan interior marmer berdekorasi kaligrafi, tiang berlapis emas dan interiornya banyak berlapis emas, penulis berkesempatan berhenti sejenak untuk sholat Sunnah ditunggu pa udin sampai akhirnya tiba dibandara.

Ada istilah menarik dari penjelasan yang penulis dapatkan bahwa penduduk Aceh memiliki keragaman etnis dengan sekitar 13 suku asli. Suku utama yang paling dominan adalah Suku Aceh di wilayah pesisir, disusul oleh Suku Gayo, Suku Alas, Suku Tamiang, Suku Aneuk Jamee, Suku Kluet, Suku Singkil, serta beberapa suku di kepulauan dan pedalaman seperti Simeulue, Devayan, Sigulai, Lekon, Haloban, dan Julu, istilah lain Aceh adalah kepanjangan dari Arab Cina Eropa dan Hindia dimana begitu beragamnya penduduk di aceh.

Dari sepenggal perjalanan penulis mendapatkan pesan kesan bahwa Kedatangan saudara seibu pertiwi ke banda aceh adalah kebahagiaan bagi masyarakat aceh karena dikunjungi oleh saudara sebangsa dan setanah air, ucapan selamat datang dari dari beberapa orang yang ditemui penulis dengan ucapan selamat datang dibanda aceh adalah bentuk kebahagiaan dengan menunjukan inilah kami di Nagroe aceh Darussalam yang ramah dan terbuka untuk saudara sebangsa setanah air, silakan datang kembali ke tempat kami.

Kesan mendalam atmosfer religius yang kuat sebagai “Serambi Mekah”, keramahan masyarakatnya yang menjunjung tinggi adat, kekayaan kuliner berempah khas seperti kopi dan mie aceh, dan jejak sejarah kejayaan dan keindahan alamnya
Penulis berfikir inilah Indonesia yang satu dengan bentang yang luas dari ujung barat ke ujung timur dengan memiliki sekitar 17.508 pulau dan tercatat 718 bahasa daerah di luar Bahasa Indonesia penuh hamparan pulau-pulau dan budaya yang beragam dan saatnya mengingat kembali makna kemerdekaan dengan sebenarnya dan pentingnya Menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah kewajiban seluruh rakyat Indonesia, serta setiap warga negara.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here