HomeKabupaten BogorDari Lahan Sunyi, Rancabungur Menyambut Harapan Baru

Dari Lahan Sunyi, Rancabungur Menyambut Harapan Baru

Bogordaily.net – Suasana Kampung Wates Kaum dan Kampung Kebon Kelapa, Desa Rancabungur, Kecamatan Rancabungur, Bogor, terasa berbeda pada Minggu (23/8/2026) pagi itu. Ratusan bibit tanaman berjejer siap dibagikan, disambut antusias oleh RT, RW, hingga pemuda setempat yang ikut turun tangan membantu proses serah terima.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program ketahanan pangan yang digagas Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Renjana Bungur Amerta dari IUQI Bogor.

KKM ini sendiri merupakan bentuk pengabdian mahasiswa IUQI Bogor kepada masyarakat, dengan tujuan memberdayakan desa lewat tiga aspek: pendidikan, ketahanan pangan, dan penguatan nilai-nilai Ahlussunah wal Jamaah.

Ketua kelompok, M. Firsan Nur Hafidz, mengaku program ini tidak muncul begitu saja. Ada tiga persoalan yang melatarbelakanginya.

Yang pertama itu isu lingkungan,” katanya membuka cerita. “Di Rancabungur ini masih banyak lahan kosong, atau lahan yang kurang produktif. Padahal desa ini juga butuh penghijauan, untuk mencegah banjir, erosi, sama polusi udara.” katanya.

Bukan cuma soal lingkungan, kata Firsan, harga pangan yang terus merangkak naik juga jadi pertimbangan timnya.

“Warga sebenarnya butuh sumber pangan sendiri. Makanya bibit yang kami kasih itu buah-buahan sama kayu, harapannya warga bisa hemat pengeluaran, bahkan berpeluang menambah penghasilan ke depannya.”

Ada satu hal lagi yang menurutnya tak kalah penting: budaya menanam yang mulai luntur, terutama di kalangan anak muda desa. “Program ini juga buat mengedukasi warga, bahwa lahan sempit sekalipun sebenarnya bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Program ini pun tidak digarap asal-asalan, Sebelum bibit sampai ke tangan warga, tim KKM lebih dulu turun ke lapangan mengecek kondisi tanah dan lokasi. “Kami koordinasi juga sama perangkat desa, mulai RT, RW, sampai kepala desa,” ujar Firsan.

Dari Lahan Sunyi, Rancabungur Menyambut Harapan Baru

Ia dan timnya sengaja mengobrol panjang dengan warga soal jenis bibit yang cocok—apakah buah-buahan, kayu-kayuan, atau tanaman obat—supaya sesuai dengan kondisi iklim dan tanah Rancabungur.

Soal pengadaan bibit, Firsan menjelaskan bahwa timnya bekerja sama dengan Dinas Pertanian serta pihak perkebunan dari Rumpin. Pemilihan jenisnya pun tidak sembarangan.

“Kami sengaja pilih yang gampang dirawat dan cepat panen, biar warga semangat,” katanya sambil tersenyum.

Total bibit yang dibagikan mencapai 600 batang: balsa, alpukat, nangka, dan durian masing-masing 100 batang, ditambah kelor, petai, dan jengkol dengan jumlah bervariasi antara 50 hingga 100 batang.

Semuanya disalurkan ke warga Kampung Wates Kaum (RW 02) dan Kampung Kebon Kelapa (RW 03) sesuai jadwal yang sudah disusun.

Namun bagi Firsan, seremoni pembagian hari itu baru langkah awal. “Harapan kami, program ini enggak berhenti begitu tim KKM pulang,” katanya.

Ia berharap ada kader atau kelompok tani lokal yang mau meneruskan, mengawasi pertumbuhan bibit, sekaligus jadi tempat bertanya bagi warga lain.

Lebih jauh, ia membayangkan warga bisa mandiri memperbanyak bibit sendiri dari hasil panen yang disemai ulang.

“Kami juga berharap ada dukungan dari perangkat desa, misalnya dengan memasukkan edukasi menanam ini ke kegiatan rutin seperti Posyandu atau PKK, supaya informasinya bisa terus tersampaikan ke warga,” ujarnya.

“Intinya, tujuan kami bukan cuma bagi-bagi bibit, tapi menumbuhkan budaya menanam yang jalan terus, bahkan setelah kami sudah tidak lagi di Rancabungur,” katanya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here