Thursday, 7 May 2026
HomeViralJoki UTBK Fakultas Kedokteran di Surabaya Viral, Ternyata Siswa Berprestasi Sejak SD

Joki UTBK Fakultas Kedokteran di Surabaya Viral, Ternyata Siswa Berprestasi Sejak SD

Bogordaily.net – Joki UTBK Fakultas Kedokteran di Surabaya ternyata bukan cerita biasa. Ia bukan sekadar duduk menggantikan peserta lain. Ia lolos sampai enam kali. Enam kali. Dan itu membuat Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan ikut tercengang.

Kasus ini seperti membuka ruang gelap yang selama ini hanya dibisikkan di lorong-lorong bimbingan belajar. Tentang mereka yang pintar. Sangat pintar. Tetapi memilih jalan memutar.

Pelaku akhirnya diamankan polisi. Lalu mulailah percakapan itu. Santai, tetapi mengandung banyak tanda tanya. Sang kapolrestabes ingin tahu satu hal penting: bagaimana mungkin seseorang bisa berkali-kali lolos seleksi ketat Fakultas Kedokteran?

Jawabannya ternyata tidak sefantastis dugaan banyak orang.

Tidak ada bocoran soal.

“Tidak pernah dapat bocoran soal, Pak,” ujar pelaku saat ditanya langsung oleh Luthfie Sulistiawan.

Di situlah fakta pertama dari kasus Joki UTBK Fakultas Kedokteran di Surabaya mulai terungkap. Pelaku mengaku hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Ia bahkan menyebut soal-soal UTBK relatif mudah baginya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru di situlah letak problemnya. Ketika orang yang sangat mampu akademik memilih menjual kepintarannya demi menggantikan orang lain.

Polisi kemudian terus menggali.

Bagaimana caranya ia bisa begitu siap menghadapi soal-soal UTBK?

Pelaku mengaku sudah lama mempelajari materi dari buku-buku khusus persiapan UTBK. Ia belajar sendiri. Tekun. Terarah.

“Cari materinya di buku-buku persiapan UTBK,” katanya.

Fakta kedua muncul. Bahwa praktik joki ini bukan kerja dadakan. Ada latihan. Ada persiapan. Ada kemampuan akademik yang memang sudah terasah.

Ironisnya, kemampuan itu justru dipakai untuk menipu sistem.

Lalu muncul pengakuan lain yang membuat cerita ini makin menarik.

Pelaku ternyata bukan siswa biasa sejak kecil. Ia mengaku pernah menjadi juara dua paralel saat duduk di bangku sekolah dasar.

“Saya peringkat dua paralel,” ujarnya.

Fakta ketiga dari kasus Joki UTBK Fakultas Kedokteran di Surabaya ini membuka sisi lain yang lebih dalam. Bahwa pelaku bukan orang bodoh yang mencoba curang karena tidak mampu. Ia justru orang pintar yang memilih jalan salah.

Di titik itu, kasus ini tidak lagi sekadar perkara kriminal biasa.

Ini soal tekanan sosial. Soal obsesi masuk Fakultas Kedokteran. Soal mahalnya harga sebuah kursi kuliah bergengsi.

Dan mungkin juga soal bagaimana kecerdasan, tanpa karakter yang kuat, bisa berubah arah menjadi alat kejahatan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here