Bogordaily.net – Kenapa Persib juara padahal poin sama? Pertanyaan itu terus berputar di kepala dan pencinta sepak bola nasional setelah Super League 2025/2026 resmi berakhir.
Di papan klasemen akhir, angkanya sama. Persib Bandung 79 poin. Borneo FC Samarinda juga 79 poin. Tidak ada selisih.
Tapi trofi itu tetap diangkat di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Biru memenuhi langit Bandung. Ribuan orang bersorak. Sebagian lain bertanya-tanya: kenapa bukan Borneo FC yang juara?
Jawabannya ternyata bukan soal selisih gol.
Indonesia musim ini memakai aturan yang berbeda. Regulasi Super League lebih dahulu menghitung head-to-head atau hasil pertemuan langsung antar tim yang poinnya sama. Jadi bukan produktivitas gol selama semusim yang menjadi hakim pertama.
Di situlah Persib unggul.
Pada pertemuan pertama, Persib menang 3-1 atas Borneo FC. Lalu laga kedua berakhir imbang 1-1. Dari dua pertandingan itu, Persib mengoleksi empat poin. Borneo FC hanya mendapatkan satu poin.
Itulah kunci utama kenapa Persib juara padahal poin sama.
Banyak yang merasa Borneo lebih pantas karena selisih gol mereka lebih baik. Dalam logika umum sepak bola Eropa, anggapan itu memang masuk akal. Liga Inggris misalnya memakai selisih gol sebagai penentu awal ketika poin identik.
Namun Super League Indonesia musim 2025/2026 memilih jalur lain. Operator kompetisi menempatkan duel langsung sebagai ukuran pertama. Artinya, siapa yang lebih unggul saat saling bertemu, dialah yang berhak berada di posisi lebih tinggi.
Aturan itu sebenarnya membuat setiap laga besar menjadi sangat mahal nilainya. Bukan sekadar tiga poin biasa. Satu kemenangan atas rival langsung bisa menjadi penentu gelar di akhir musim.
Persib memanfaatkan itu dengan sempurna.
Mereka tidak hanya konsisten sepanjang musim. Mereka juga berhasil “mengunci” Borneo FC dalam duel langsung. Ketika dua tim akhirnya finis dengan poin identik, Persib sudah lebih dulu menabung keunggulan.
Barulah jika head-to-head masih sama, regulasi bergerak ke tahap berikutnya: selisih gol dalam pertemuan langsung. Jika tetap imbang, dihitung jumlah gol tandang, lalu statistik keseluruhan musim seperti selisih gol total dan produktivitas gol.
Karena catatan Persib sudah unggul sejak tahap pertama, proses itu tidak perlu dilanjutkan lagi.
Itu sebabnya kenapa Persib juara padahal poin sama bukanlah sebuah kontroversi regulasi. Semua sudah tertulis dalam aturan kompetisi sejak awal musim.
Kasus serupa bahkan terjadi di papan bawah. PSM Makassar dan Persis Solo sempat memiliki poin identik, tetapi posisi PSM lebih tinggi karena unggul head-to-head. Artinya aturan ini berlaku untuk semua tim, bukan hanya perebutan gelar juara.
Musim ini akhirnya menjadi musim yang akan lama dikenang Persib. Bukan hanya karena mereka juara. Tetapi karena mereka membuktikan satu hal penting: dalam liga dengan sistem head-to-head, mengalahkan rival langsung bisa lebih berharga daripada pesta gol melawan tim papan bawah.***
