Penulis: Anggita Gendis Novadianti, Mahasiswi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, FISEMA, IPB
Belajar langsung dari masyarakat selalu membuka mata kita pada realitas yang jauh lebih luas daripada teori di ruang kelas. Kali ini, perjalanan kami tertuju pada Desa Sukatani, sebuah kawasan pertanian di Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Melalui program The 12th Connection, Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-Ilmu Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (HIMASIERA), kami hadir membawa tema “The Living Witness: Deciphering Justice For The Planet” untuk melihat dari dekat bagaimana warga setempat beradaptasi dan merawat lingkungan hidup mereka.
Berada di ketinggian 1.200 sampai 1.500 mdpl dengan luas wilayah sekitar 367 hektare, Desa Sukatani didominasi oleh aktivitas agraris di mana sebagian besar warganya bermata pencaharian sebagai petani. Selain itu, letak geografis desa yang berada di kaki gunung turut menempatkan hubungan yang erat dengan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Mulai dari kawasan di bagian bawah seperti Barukupa dan Kayu Manis, wilayah ini cenderung dimanfaatkan sebagai lahan garapan mandiri oleh warga. Seiring undakan kontur yang bergerak naik menuju Pasir Kampung hingga dataran tertinggi di Putri, lanskap desa berangsur-angsur menyatu dan berbatasan langsung dengan kawasan konservasi.
Dari kondisi tersebut, sebagian masyarakat turut mengandalkan sektor pariwisata gunung dan pengelolaan basecamp pendakian sebagai sumber penghidupan tambahan.
Tanah vulkanik yang subur menjadikan desa ini sebagai salah satu sentra penghasil sayur-mayur di Jawa Barat, di mana hasil panennya tidak hanya mencukupi kebutuhan lokal tetapi juga disalurkan untuk memasok pasar-pasar besar di perkotaan.
Selain komoditas hortikultura, potensi lain yang menonjol di Desa Sukatani adalah pengelolaan sumber air bersih dari Gunung Gede oleh Kelompok Penyedia Air Minum (KAPESPANG), yang kini terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan warga secara merata. Di balik potensi alamnya yang melimpah, daya tarik Sukatani juga terpancar dari kehangatan warganya.
Meski alam Sukatani tampak subur dan menjanjikan, kehidupan petani tak luput dari ujian siklus musim. Kemarau panjang yang membuat sebagian lahan mengering serta kualitas sayur-mayur tidak sesegar biasanya menuntut mereka untuk terus beradaptasi.
“Untuk lahan yang diurus tetap mandiri saja karena lahan sendiri,” tutur Pak Amin, petani pakcoy setempat.
Menurutnya, meskipun harga jual kerap naik turun dan menjadi ujian tersendiri dalam keseharian mereka, para petani sudah terbiasa mengandalkan kekuatan swadaya tanpa perlu bergantung pada bantuan instan.
Di sisi lain, cuaca di sini juga kerap sulit ditebak, bahkan di tengah musim kemarau, hujan bisa sewaktu-waktu turun karena letak geografis desa yang berada di kaki gunung, yang tak jarang turut memengaruhi hasil akhir panen mereka.
Di luar persoalan cuaca, warga juga dihadapkan pada kerumitan alur produksi dan distribusi, seperti rantai pasok pangan yang panjang dan fluktuasi harga jual di tingkat petani saat panen kurang maksimal. Keluhan serupa juga dirasakan oleh para pelaku usaha kecil di desa.
“Bahan baku sekarang naik, paling mahal seperti daging, beras, hampir semua mahal,” tutur Ibu Sri, warga sekaligus pelaku usaha warung setempat.
Namun, di balik melimpahnya komoditas pertanian di desa ini, ada satu pemandangan lain yang langsung menarik perhatian kami selama di lapangan, yaitu tumpukan sampah sisa sayur-mayur yang jumlahnya cukup banyak. Sisa hasil panen yang tidak lolos sortir kerap menjadi beban ekologis tersendiri jika tidak dikelola dengan baik, kondisi yang juga diakui oleh Kepala Desa sebagai salah satu tantangan mendesak di wilayah setempat, meskipun sebagian warga di beberapa RT dan dusun sebenarnya telah berinisiatif membentuk bank sampah serta pengolahan mandiri.
Melihat realitas tersebut, kehadiran kami melalui program The 12th Connection diwujudkan dalam bentuk aksi nyata yang berfokus langsung pada penanganan masalah di lapangan.
Perhatian utama kami tertuju pada gunungan limbah sayur tersebut. Bersama ibu-ibu di Desa Sukatani, kami mengadakan pelatihan pembuatan eco-enzyme. Melalui cairan fermentasi serbaguna ini, limbah organik rumah tangga dan sisa sayuran dapat disulap menjadi produk yang bermanfaat, seperti cairan pembersih alami hingga pupuk alternatif.
Kesadaran lingkungan ini tentu tidak boleh berhenti hanya pada generasi dewasa. Melihat betapa antusiasnya anak-anak di Desa Sukatani, kami merasa penting untuk menanamkan kepedulian ekologis sejak dini. Langkah ini kami wujudkan di ruang kelas SDN Pasir Kampung bersama siswa-siswi kelas 5.
Di sana, kami memberikan edukasi interaktif mengenai cara memilah sampah. Tak hanya melalui teori, mereka juga diajak berkarya membuat gantungan kunci boneka dari kain perca yang diisi dengan potongan sampah plastik. Sebuah cara menyenangkan untuk mengenalkan mereka pada pengelolaan sampah di sekitar mereka.
Dari kesadaran yang ditanamkan pada anak-anak, ikhtiar kami berlanjut pada perlindungan ruang hidup mereka secara fisik. Mengingat sempat beberapa kali terjadi longsor di area pertanian warga, kami turut menginisiasi aksi penanaman pohon di titik-titik yang rawan.
Langkah preventif ini diharapkan dapat memperkuat struktur tanah perbukitan, sekaligus menjadi wujud nyata kolaborasi kami dalam menjaga kelestarian lereng Gunung Gede agar tetap aman dan produktif bagi kehidupan warga di masa depan.
Rangkaian aksi nyata tersebut tentu menjadi bagian kecil dari upaya merawat desa yang terus berproses. Ke depan, masyarakat berharap berbagai tantangan yang dihadapi dapat diatasi melalui dukungan serta perhatian yang lebih nyata. Terkait hal ini, Pak Amin menyuarakan perlunya kebijakan harga yang berpihak kepada petani dengan menuturkan, “Kalau bisa, harga pupuk dan obat-obatan pertanian dimurahkan.”
Harapan senada juga disampaikan oleh Ibu Sri serta Kang Dedi selaku pengelola basecamp Damara. Mereka menginginkan agar Desa Sukatani dapat terus berkembang secara merata, sektor pertanian beserta lingkungannya tetap terjaga, serta terjalin kerja sama yang inklusif antara warga dan pihak pengelola kawasan.
Melalui kolaborasi tersebut, masyarakat berharap pembangunan desa dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan demi kesejahteraan bersama.
Perjalanan di Desa Sukatani memperlihatkan bahwa resiliensi sebuah wilayah agraris terbentuk dari kapasitas adaptasi warganya terhadap dinamika musim dan tekanan ekonomi harian.
Melalui program The 12th Connection, kegiatan eksplorasi ini mempertemukan kami dengan realitas sosial, mulai dari pengelolaan limbah organik, mitigasi lingkungan, hingga ketergantungan ruang hidup yang berdampingan langsung dengan kawasan konservasi.
Upaya menjaga keseimbangan ekologis pada akhirnya tidak cukup hanya bertumpu pada inisiatif mandiri warga, melainkan menuntut konsistensi kolaborasi lintas sektor antara mahasiswa, masyarakat, dan pihak-pihak berwenang agar keberlanjutan lingkungan serta kesejahteraan di kaki Gunung Gede Pangrango dapat terjaga jangka panjang.***



