Monday, 6 April 2026
Home Blog Page 643

Kopdes Merah Putih Gunakan Data Desa Presisi, Wamenkop: Lebih Terukur, Terarah, dan Tepat Sasaran

0

Bogordaily.net – Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Ferry Juliantono yang juga menjabat sebagai Koordinator Ketua Pelaksanaan Harian Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/ Kel) Merah Putih menekankan bahwa Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih diprioritaskan bergerak dalam bidang produksi, distribusi dan industri. Maka, berdasarkan gagasan tersebut, dibutuhkan data desa yang akurat, aktual, dan relevan sebagai basis data pemberdayaan dan penguatan Kopdes/Kel Merah Putih.

“Sehingga, kita menggunakan Data Desa Presisi (DDP) yang merupakan metode pendataan untuk memetakan kondisi, kebutuhan, dan potensi riil setiap desa. Metode tersebut merupakan temuan Institut Pertanian Bogor,” ungkap Wamenkop Ferry dalam keterangannya, Senin (02/06).

Saat melakukan Kick-Off Kopdes Merah Putih berbasia Data Presisi (DDP), di Desa Bongkasa Pertiwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, bagi Wamenkop, basis data desa yang akurat merupakan hal fundamental dalam penyusunan peta jalan dan penguatan Kopdes Merah Putih untuk mampu menjadi instrumen hadirnya kesejahteraan rakyat di desa.

“Gerakan Kopdes berbasis data desa presisi lebih terukur, terarah, dan tepat sasaran dalam mengatasi kemiskinan dan pengangguran di desa,” ucap Wamenkop.

Menurut Wamenkop, DDP menjadi jawaban pula bahwa Kopdes Merah Putih sangat membuka partisipasi rakyat desa, bersifat bottom up bahkan dari mulai pendataan yang digunakan untuk mengungkap potensi desa dan rencana usaha yang akan dikembangkan Kopdes/Kel Merah Putih.

“Data Desa Presisi menjadi jawaban pula atas kekhawatiran berbagai pihak yang menengarai Kopdes Merah Putih hanya bersifat top down,” kata Wamenkop.

Wamenkop berharap Desa Bongkasa Pertiwi yang dijadikan pilot project penerapan Data Desa Presisi untuk Kopdes Merah Putih, menjadi contoh bagi desa-desa lainnya di Indonesia bagaima membangun koperasi desa berbasis sains.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, penemu DDP dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Sofyan Sjaf menyatakan rasa terima kasih atas rekognisi Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Koperasi terhadap inovasi data desa presisi untuk penguatan Koperasi Desa Merah Putih.

“Data Desa Presisi adalah implementasi dari demokrasi data yang memetakan dan mengidentifikasi potensi ekonomi sekaligus potensi sumber daya manusia,” ujar Prof Sofyan. ***

10 Prodi IPB University Terfavorit dan Terketat di SNBT dan SNBP 2025

0

Bogordaily.net – Antusiasme calon mahasiswa terhadap IPB University terus meningkat. Selama tiga tahun terakhir, jumlah pelamar di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) mengalami peningkatan.

Wakil Rektor IPB University bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Prof Deni Noviana menjelaskan, pada tahun 2025, IPB University mencatat total 64.035 pelamar SNBT, naik dibandingkan tahun 2024 (57.619 pelamar) dan tahun 2023 (27.564 pelamar). Rerata tingkat keketatan program studi (prodi), yang dihitung dari jumlah peminat dibandingkan dengan daya tampungnya, juga meningkat dari 24,0 di 2024 menjadi 26,5 pada 2025.

Untuk SNBP, naik dari 2023 (23.475 pelamar) dan 2024 (28.446 pelamar), menjadi 35.745 pelamar pada 2025. Rerata tingkat keketatan program studi (prodi), yang dihitung dari jumlah peminat dibandingkan dengan daya tampungnya, juga meningkat dari 9,0 di 2024 menjadi 10,9 pada 2025.

Berikut 10 prodi favorit dan prodi dengan keketatan tertinggi pada jalur SNBT tahun 2025:

10 Prodi IPB Terfavorit di SNBT 2025

D4 Komunikasi Digital dan Media
D4 Akuntansi
D4 Manajemen Agribisnis
D4 Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi
D4 Teknik dan Manajemen Lingkungan
D4 Manajemen Industri
S1 Bisnis (Sarjana)
D4 Analisis Kimia
D4 Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak
S1 Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

10 Prodi IPB dengan Keketatan Tertinggi di SNBT 2025

D4 Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi
D4 Komunikasi Digital dan Media
D4 Teknik dan Manajemen Lingkungan
S1 Kedokteran
D4 Manajemen Industri
D4 Teknologi dan Manajemen Ternak
D4 Ekowisata
S1 Kecerdasan Buatan
S1 Smart Agriculture
D4 Analisis Kimia

Adapun 10 prodi favorit dan prodi dengan keketatan tertinggi pada jalur SNBP tahun 2025 sebagai berikut:

10 Prodi IPB Terfavorit di SNBP 2025

S1 Manajemen
D4 Komunikasi Digital dan Media
S1 Ilmu Komputer
S1 Teknologi Pangan
D4 Akuntansi
S1 Ilmu Gizi
S1 Bisnis
S1 Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
S1 Statistika dan Sains Data
S1 Agribisnis

10 Prodi IPB dengan Keketatan Tertinggi di SNBP 2025

S1 Kedokteran
S1 Ilmu Gizi
S1 Teknologi Pangan
S1 Manajemen
S1 Sains Biomedis
S1 Kecerdasan Buatan
S1 Statistika dan Sains Data
S1 Ilmu Komputer
S1 Teknik Sipil dan Lingkungan
S1 Aktuaria
Prof Deni juga berpesan kepada calon mahasiswa yang belum dinyatakan lolos SNBP dan SNBT, IPB University masih memberikan kesempatan melalui jalur mandiri salah satunya adalah Seleksi Mandiri Masuk (SM) IPB untuk Program S1 dan D4.

“Terdapat jalur mandiri lainnya, yaitu Jalur Ketua OSIS, Jalur Talenta, Jalur Kemitraan Beasiswa Utusan Daerah (BUD), serta Kelas Internasional,” tambahnya.

Pendaftaran SM IPB Program S1 akan ditutup tanggal 11 Juni 2025, sedangkan Program D4 akan ditutup pada 1 Juli 2024. Informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran SM IPB dapat diakses melalui tautan berikut: https://admisi.ipb.ac.id/. ***

Perdana Kabupaten Bogor Jadi Tuan Rumah Kontes Bonsai Nasional, Momen Istimewa HJB ke-543

Bogordaily.net – Mewakili Bupati Bogor Rudy Susmanto, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan atau Distanhorbun Kabupaten Bogor, Entis Sutisna secara resmi membuka kegiatan Kompetisi Bonsai Nasional yang untuk pertama kalinya digelar di Kabupaten Bogor, yang berlangsung di Lapangan Panahan Stadion Pakansari pada, Minggu (1/6/25).

Kepala Distanhorbun Kabupaten Bogor, Entis Sutisna menyampaikan bahwa bonsai bukan hanya sekadar hasil budidaya tanaman, namun merupakan bentuk seni yang sarat dengan filosofi kehidupan.

“Bonsai merupakan produk hasil kreasi manusia yang bukan hanya sekadar wujud seni dalam budidaya dan merawat tanaman semata. Pada wujud fisik bonsai terkandung makna dan filosofi yang dalam, yakni sebagai simbol keuletan, kesabaran, ketekunan, dan kasih sayang,” ujarnya.

Ia menambahkan, bahwa proses pembentukan bonsai membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan hingga hitungan windu atau dasawarsa. Hal ini mencerminkan bahwa keberhasilan tak lepas dari konsistensi dan dedikasi.

“Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Tanaman yang awalnya mungkin tidak begitu menarik, bisa menjadi tanaman yang indah dan bernilai ekonomi tinggi, bahkan mencapai milyaran rupiah, berkat ketekunan dan kasih sayang dalam merawatnya,” jelasnya.

Entis juga menyampaikan harapan agar budidaya bonsai dapat menjadi potensi ekonomi kreatif yang terus berkembang di Kabupaten Bogor, sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat secara umum.

“Kami menyambut baik kegiatan ini. Insya Allah, ini menjadi salah satu kado indah dalam rangka Hari Jadi Bogor ke-543, sehingga perayaannya menjadi lebih meriah dan bermakna,” ungkapnya.

Menurutnya, kompetisi ini menjadi momen istimewa karena merupakan event pameran dan kontes nasional bonsai pertama yang diselenggarakan di Kabupaten Bogor. Ia pun memberikan apresiasi kepada Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI), khususnya PPBI Kabupaten Bogor, atas terselenggaranya kegiatan ini.

Tak lupa, ucapan terima kasih juga disampaikan kepada panitia pelaksana serta seluruh peserta dari berbagai daerah yang telah ikut serta menyukseskan acara ini.

“Semoga filosofi bonsai yang mencerminkan ketekunan, kesabaran, dan kasih sayang, dapat kita implementasikan dalam mengelola Kabupaten Bogor yang penuh tantangan, demi kemajuan dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Umum PBBI Pak Alex R Tangkulung menyampaikan rasa bangganya atas keberhasilan PPBI Kabupaten Bogor dalam menyelenggarakan pameran tingkat nasional untuk pertama kalinya digelar dengan skala sebesar ini.

“Dari sini, kita dapat melihat kekuatan dan kekompakan luar biasa dari jajaran Ketua Panitia juga PPBI atas kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bogor. Saya sangat mengapresiasi kerja keras dan semangat kalian semua,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi atas keberhasilan jajaran panitia atas terselenggaranya kegiatan ini dengan sangat baik.

“Ini tidak mudah. Mengumpulkan pohon sebanyak ini, memastikan semuanya dalam kondisi terbaik, ini pencapaian yang luar biasa,” imbunya.

Hadir di kegiatan ini yakni, Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Danlanud ATS, Dandim 0621, para Kepala SKPD, dan lainnya. (*)

Dari Ngawi ke Dunia: Jejak Panjang Pengabdian Seorang Pendidik

0

Bogordaily.net – Sosok inspiratif yang telah mengabdikan diri sepenuh hati selama lebih dari dua puluh tahun, untuk kemajuan pendidikan vokasi peternakan di IPB University. Dr. Ir. Bagus Priyo Purwanto, M.Agr., seorang pendidik yang merupakan dosen di Sekolah Vokasi IPB, mengajar Teknologi dan Manajemen Ternak. Beliau terkenal karena kualitasnya yang luar biasa dan pendekatan pendidikannya yang humanis.

Lahir di Ngawi, Jawa Timur, pada 3 Mei 1960, Dr. Bagus telah menapaki perjalanan panjang dalam dunia akademik dan profesional. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Peternakan IPB pada tahun 1983, dan langsung terjun ke dunia kerja sebagai karyawan di PT Bina Mulia Ternak. Meski kariernya dimulai dari posisi paling dasar, semangat dan ketekunannya membawa ia melangkah lebih jauh.

Dorongan untuk terus belajar membawanya ke Negeri Sakura, Jepang, di mana ia menempuh pendidikan pascasarjana hingga meraih gelar magister dan doktoral di bidang peternakan dari Hiroshima University pada tahun 1993. Pengalaman menempuh studi di luar negeri membuka cakrawala baru dan memperkaya pemahamannya terhadap praktik-praktik peternakan modern.

Dr. Bagus bekerja di Malaysia hingga tahun 1998 setelah menyelesaikan kuliahnya di Jepang. Dia pulang ke Indonesia karena panggilan untuk kembali berkhidmat kepada tanah air dan mendidik generasi muda. Setelah sebelumnya menjadi asisten dosen di unit yang sama, ia resmi bergabung sebagai dosen tetap di Sekolah Vokasi IPB pada tahun 1999.

Dr. Bagus dalam kesehariannya, dikenal sebagai pribadi yang sederhana, bersahaja, dan tidak pernah berhenti belajar. Selain aktif mengajar, ia juga menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan dan lembaga pendidikan, menjadi konsultan, serta memberi kontribusi dalam pengembangan sektor peternakan dan pertanian secara lebih luas. Dia percaya bahwa pendidikan harus terus berkembang, memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan tidak hanya berhenti di kelas.

Sebagai pendidik, Dr. Bagus bersikap humanis terhadap siswanya. Ia memahami bahwa setiap mahasiswa datang dengan latar belakang, karakter, dan tantangan yang berbeda. Dia tidak memilih konfrontasi ketika berhadapan dengan siswa yang berperilaku tidak disiplin atau menunjukkan sikap membangkang. “Saya tidak ingin memperlakukan mereka sebagai musuh atau lawan,” katanya.

Sebaliknya, ia lebih suka merangkul mereka, memahami mereka, dan mengarahkan mereka secara bertahap tetapi konsisten. Ia percaya bahwa menggunakan pendekatan yang penuh empati akan membuat lebih mudah untuk membimbing siswa dan mengarahkan mereka ke jalan yang lebih baik.

Kesabaran dan kelapangan hatinya dalam membimbing mahasiswa lahir dari prinsip hidup yang ia pegang teguh: menghadapi masalah dengan tenang dan tidak terlalu membebani pikiran. Ia selalu berusaha menyikapi berbagai tantangan dengan kepala dingin, termasuk ketika menerima komentar atau penilaian dari orang lain. “Sepanjang saya menjalani apa yang saya yakini benar dan bermanfaat, saya tidak perlu ambil pusing dengan penilaian orang,” ujarnya.

Meskipun telah berkarier lama di dunia peternakan, Dr. Bagus tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya. Ia justru mendorong mereka untuk menemukan dan memilih jalan hidupnya sendiri. Dua anaknya kini menempuh pendidikan dan berkarier di bidang teknik sipil, dan Dr. Bagus menerima pilihan mereka dengan penuh dukungan. Baginya, setiap anak berhak menentukan arah hidupnya, dan tugas orang tua adalah membimbing, bukan mengatur.

Dr. Bagus sangat optimistis tentang perkembangan Sekolah Vokasi IPB sebagai anggota komunitas akademiknya. Ia mendorong peningkatan jumlah dan keberagaman siswa, terutama dari luar Pulau Jawa. “Pendidikan akan lebih kaya jika diisi oleh anak-anak muda dari berbagai penjuru Indonesia.” “Keragaman latar belakang dan pengalaman akan memperluas perspektif serta memperkaya proses belajar mengajar,” katanya dengan semangat.

Dr. Bagus Priyo Purwanto bukan hanya seorang akademisi; dia adalah pendidik sejati yang menanamkan nilai-nilai luhur dalam proses pembelajaran. Ia bukan hanya mengajar, tetapi juga membangun karakter, membimbing, dan menjadi teladan. Semangat juang untuk mencetak generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur dan empati tersimpan dalam sikapnya yang tenang dan tegas.

Ruth Aurelia Caroline
Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

EVOS Legends Tumbang di MPL ID S15: Ketika Komunikasi Jadi Titik Runtuh

0

Bogordaily.net – EVOS Legends, nama yang lekat dalam sejarah kompetitif Mobile Legends di Indonesia, kembali menuai sorotan—bukan karena kejayaan, melainkan keterpurukan. Musim ke-15 MPL ID mencatat salah satu fase terburuk dalam kiprah mereka, dengan hasil mengecewakan: gagal melaju ke babak playoff untuk keempat kalinya.

Kekecewaan ini terasa lebih dalam karena ekspektasi terhadap EVOS sangat tinggi di awal musim. Perekrutan dua pemain bintang, Hengky “Kyy” dari Bigetron Alpha dan Albert dari ONIC, membangun optimisme baru di kalangan penggemar. Keduanya dikenal luas dalam dunia MLBB, bukan hanya karena prestasi, tapi juga karena chemistry yang terbentuk sejak lama dalam persahabatan mereka bersama AE Pai—dikenal publik sebagai “Trio Prot Prot.”

Optimisme kian menguat karena sejarah juga berpihak. EVOS selama ini dikenal gacor saat tampil di musim ganjil. Kalimat “EVOS mode season ganjil” menjadi semacam mantra di kalangan fans, mengacu pada performa hebat mereka di Season 11 dan 13. Namun musim ini justru menjadi pengecualian menyakitkan—EVOS tercecer di papan bawah dan gagal mencicipi atmosfer playoff.

Padahal, leg pertama musim ini menunjukkan sinyal positif. EVOS mampu bersaing di papan atas, bahkan sempat menempati posisi ketiga klasemen. Namun, memasuki leg kedua, grafik performa menurun drastis. Puncaknya adalah absennya Depezet, salah satu pemain kunci yang dinonaktifkan karena dugaan kasus asusila dengan penggemar.

Insiden ini tak hanya mencoreng nama tim, tapi juga merusak stabilitas internal.
Dampaknya terlihat nyata. Dalam beberapa pertandingan penting, EVOS kerap kehilangan momentum. Saat melawan Bigetron Alpha, misalnya, mereka berada dalam posisi unggul, namun terlalu memaksakan penyelesaian permainan dan akhirnya harus menelan kekalahan. Hal serupa terjadi ketika melawan Liquid ID—blunder dari Kyy menjadi titik balik yang menghancurkan peluang kemenangan.

Perubahan line-up pun dilakukan. Branz dimasukkan untuk menggantikan Erlan di posisi Goldlane, dengan harapan bisa memperkuat sisi serangan. Namun, pergantian ini juga tak memberikan hasil yang diharapkan. Justru terlihat ketimpangan antar-role dan kurangnya koordinasi di lapangan. Hingga pekan kedelapan, EVOS masih punya satu peluang terakhir: mengalahkan ONIC. Tapi harapan itu kandas setelah tumbang 0-2 tanpa perlawanan berarti.

Kegagalan EVOS bukan hanya soal strategi atau eksekusi mekanikal. Ada satu hal mendasar yang tampak hilang—komunikasi. Dalam ranah esports profesional, komunikasi bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi menyatukan visi, menumbuhkan trust, dan membuat keputusan cepat di bawah tekanan.

Sepanjang musim, permainan EVOS kerap terlihat tidak sinkron. Eksekusi inisiasi yang tidak kompak, rotasi yang tumpang tindih, dan pengambilan keputusan yang tidak koheren menjadi indikasi lemahnya komunikasi tim. Ketika pemain inti harus diganti, seperti absennya Depezet dan penurunan performa Erlan, pola komunikasi pun terganggu. Dalam banyak momen, EVOS seperti tim yang bermain bersama secara teknis, tapi tidak terhubung secara emosional maupun taktis.

Reaksi dari komunitas pun beragam. EVOS Fams meluapkan kekecewaan di media sosial—mulai dari kritik keras terhadap manajemen, tuntutan evaluasi besar-besaran, hingga spekulasi soal masa depan tim. Namun di balik itu, tetap ada suara harapan agar EVOS bisa bangkit dengan wajah baru yang lebih solid, baik dari sisi strategi maupun chemistry internal.

Para analis dan caster juga menyoroti lemahnya teamwork sebagai akar persoalan. Chemistry yang diharapkan dari pemain-pemain top seperti Albert dan Kyy tak kunjung terbentuk. Bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena sistem yang belum menyatukan semua elemen tim secara menyeluruh.

Meski musim ini penuh luka, bukan berarti EVOS Legends tak bisa bangkit. Justru inilah momen penting untuk melakukan refleksi menyeluruh. Komunikasi internal harus menjadi prioritas dalam proses rebuilding—bukan hanya lewat rotasi pemain, tetapi juga lewat peran aktif pelatih, analis, hingga psikolog tim.

Esports hari ini tak cukup hanya mengandalkan mekanik. Mental, hubungan antar-pemain, dan sistem komunikasi yang kuat menjadi fondasi tim juara. EVOS Legends, dengan sejarah dan basis penggemar yang besar, masih punya ruang untuk kembali ke jalur kemenangan—asal mereka mau membenahi apa yang selama ini hilang: kepercayaan dan keterhubungan.

Musim ke-15 mungkin menjadi akhir dari sebuah bab, tapi bukan akhir dari cerita. Karena dalam dunia kompetitif, kegagalan bukan sekadar kekalahan—ia adalah panggilan untuk tumbuh lebih kuat, lebih padu, dan lebih berani.

Ruth Aurelia Caroline
Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Menembus Lelah, Menemukan Cahaya: Perjalanan Singkat ke Curug Walet

Bogordaily.net – Kadang, untuk bisa bernapas lebih dalam, kita tidak butuh tiket pesawat atau kamar hotel mewah. Kita hanya perlu menjauh sebentar, pergi ke tempat di mana suara air lebih nyaring daripada notifikasi ponsel. Tempat yang membuatmu merasa kecil, tapi justru karena itu kamu merasa hidup. Bagi saya, tempat itu bernama Curug Walet.

Saya Ruth Aurelia, seorang mahasiswi rantau yang tinggal di kota Bogor, yang dikenal sebagai kota hujan. Saya tahu sejak pertama kali saya datang ke kota ini bahwa saya akan kembali pulang dengan semua kenangan dan jejak yang saya buat di sini. Sebelum waktu itu tiba, saya ingin mengumpulkan sebanyak mungkin pengalaman, mengunjungi tempat yang belum saya kunjungi, dan mengeksplorasi setiap sudut yang mungkin saya tidak akan lewati lagi.

Suatu akhir pekan, setelah seminggu yang cukup padat oleh rutinitas kampus, saya memutuskan untuk kabur sejenak. Bukan ke mal, bukan ke kafe. Saya ingin sesuatu yang lebih… alami. Pilihan jatuh pada Curug Walet, sebuah air terjun yang katanya punya pantulan cahaya matahari yang unik—orang-orang menyebutnya “Cahaya Ilahi.”
Saya tak punya ekspektasi besar. Tidak sedang mencari pencerahan hidup, atau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan besar. Saya hanya ingin pergi. Menjauh. Mendengarkan alam, mungkin juga diri sendiri.

Saya berangkat dari Kota Bogor bersama seorang teman. Situs Curug Walet berada di Ciasihan, distrik Pamijahan, Kabupaten Bogor. Perjalanan diperkirakan memakan waktu sekitar satu setengah jam, menurut Google Maps. Kami malah tersesat karena terlalu percaya diri dan percaya bahwa kami lebih tahu jalan.

Alih-alih mengikuti peta digital, kami memilih bertanya kepada warga sekitar. Sialnya, orang yang kami tanya sepertinya juga tidak terlalu tahu arah pasti. Hasilnya? Kami justru memutar lebih jauh dari rute normal. Tersesat bukanlah hal yang menyenangkan saat perut mulai lapar dan bensin makin menipis. Tapi lucunya, di momen-momen seperti itu, saya sadar betapa kadang kesederhanaan—seperti tawa di tengah salah jalan—bisa menjadi highlight dari sebuah perjalanan.

Kami akhirnya tiba di area parkir setelah berputar cukup lama. Di sinilah petualangan yang sebenarnya dimulai. Untuk mencapai curug, kami harus melakukan tracking sekitar 30–40 menit. Jalurnya cukup menantang: tanah merah yang licin, tanjakan-tanjakan curam, dan akar pohon yang menyembul dari tanah. Bagi orang yang terbiasa mendaki, mungkin ini hal biasa. Tapi buat saya, ini nyaris mustahil.

Saya mengalami kecelakaan yang cukup fatal beberapa tahun sebelumnya. Kemampuan berjalan saya tidak pernah kembali seperti semula sejak itu. Tubuh saya mudah kehilangan keseimbangan, dan saya selalu takut jatuh. Stamina yang telah lama tidak dilatih juga. Kaki saya sudah sangat gemetar setelah beberapa menit mengikuti. Semangat mulai lemah saat nafas ngos-ngosan.

Tapi saya terus melangkah. Pelan, tapi pasti. Teman saya sesekali harus menarik saya saat tanjakan, atau menahan saya agar tidak terpeleset. Kami tertawa di tengah rasa lelah, dan saya mulai belajar bahwa keberanian bukan soal tidak takut—tapi tetap berjalan meskipun takut.

Sekitar 30 menit berlalu, dan akhirnya kami sampai di Curug Walet.
Airnya turun deras dari tebing tinggi, menciptakan suara gemuruh yang seolah menelan semua kebisingan dunia. Udaranya dingin, percikan air sampai membuat baju kami basah. Sayangnya, karena debit air yang cukup tinggi saat itu, kami tidak bisa mandi di bawah curug. Tapi keindahannya tetap luar biasa.

Meski “Cahaya Ilahi” yang menjadi ciri khas curug ini tidak kami temukan karena kami datang kesiangan, saya tidak merasa kecewa. Justru kelegaan luar biasa memenuhi dada. Saya berhasil sampai, saya mampu menyelesaikan perjalanan ini, meskipun di awal saya ragu akan bisa.

Kami tidak banyak beraktivitas di sana. Hanya duduk, mengambil beberapa foto, dan menikmati suasana. Untungnya saya dan teman saya tipe yang serupa—kami lebih menikmati proses daripada hasil. Jadi meskipun kami tidak lama di lokasi, itu sudah cukup.

Perjalanan pulang pun tak kalah dramatis. Kaki yang sudah lelah membuat saya terpeleset, tapi untungnya saya jatuh di jalur yang cukup aman. Padahal, kalau terpeleset di sisi lain, bisa jadi ceritanya jauh berbeda karena ada jurang yang mengintai.

Sampai di basecamp, kami istirahat sejenak sambil menyantap sate Padang yang dijual di sekitar situ. Makanan hangat di tengah udara dingin, setelah tracking panjang—rasanya seperti surga kecil.

Dalam perjalanan pulang, saya merenung. Mungkin saya tidak menemukan “cahaya” yang diceritakan orang-orang. Tapi saya menemukan cahaya lain—yang muncul dari dalam diri. Cahaya yang membuktikan bahwa saya masih bisa melawan ketakutan saya sendiri, masih bisa berdiri meski kaki ini tak sekuat dulu, dan masih bisa tertawa meski napas tersengal.

“Terkadang, kita pergi bukan untuk mencari sesuatu. Tapi untuk membuktikan bahwa kita masih hidup—dan layak merayakannya.”

Curug Walet bisa menjadi tempat pulang sejenak jika kamu merasa bosan atau penuh. Namun, itu datang tanpa diduga. Biarkan kejutan alam terjadi. Selain itu, jangan lupa untuk menggunakan Google Maps. Memiliki keyakinan yang lebih besar tidak berarti harus keras kepala.

Tips singkat untuk ke Curug Walet:
• Waktu terbaik: pagi hari (sekitar jam 8–10 pagi) jika ingin melihat pantulan Cahaya Ilahi.
• Bawa baju ganti dan jas hujan—cuaca di sana sering berubah.
• Pakail sepatu yang nyaman untuk tracking.
• Jangan datang sendirian jika kamu punya keterbatasan fisik atau belum terbiasa mendaki.
• Dan yang paling penting: nikmati perjalanannya, bukan hanya tujuannya.

Ruth Aurelia Caroline
Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Bigetron Esports dan Peluang yang Terlewatkan: Konsistensi dan Komunikasi Jadi PR Besar

0

Bogordaily.net – Musim ke-15 MPL Indonesia menjadi musim yang penuh harapan bagi Bigetron Esports. Dengan formasi baru yang menjanjikan, publik—terutama Bigetroopers—melihat potensi besar dari tim ini. Salah satu sorotan utama adalah hadirnya Light, mantan rekan Eman di RSG PH yang sempat menjuarai MSC. Duet ini menghadirkan ekspektasi tinggi, terlebih ketika Onic PH secara terbuka mengakui bahwa Bigetron adalah salah satu tim yang berhasil mengalahkan mereka dalam sesi scrim.

Di awal musim, performa Bigetron pun terbilang cukup dominan. Light dianggap memberikan kontribusi lebih signifikan dalam skema teamfight dibandingkan pendahulunya, Kyy. Eman dan Moreno juga tampil menggila, menjadikan Bigetron sebagai tim yang cukup ditakuti. Bahkan, mereka menjadi satu-satunya tim yang berhasil menumbangkan RRQ di leg pertama MPL ID S15. Namun, kisah manis itu tidak bertahan lama.

Performa yang Tak Stabil dan Komunikasi yang Goyah

Masuk ke leg kedua, performa Bigetron mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan. Meskipun mereka masih memiliki peluang, keputusan untuk merotasi pemain dengan memasukkan FIN dari tim MDL justru menambah tantangan. FIN dan Light bergantian mengisi role roamer, menciptakan ketidakpastian yang berdampak pada ritme permainan tim secara keseluruhan. Rotasi ini memaksa pemain lainnya untuk terus beradaptasi dengan gaya main berbeda-beda dalam waktu yang sempit.

Kekalahan-kekalahan krusial pun mulai berdatangan. Salah satu momen paling disorot adalah saat menghadapi Geek Fam di Week 9. Pada game ketiga, Bigetron memaksa mencuri Lord yang tengah diamankan oleh Geek. Namun ketika gagal, alih-alih mundur, mereka justru memaksakan teamfight dalam kondisi yang jelas-jelas merugikan.

Dari segi draft pick, mereka kalah jauh—tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menahan gempuran damage yang dilancarkan oleh tim Geek. Akibatnya, Eman dan Moreno sebagai core utama menjadi target empuk, dan seluruh pemain BTR tumbang satu per satu tanpa perlawanan berarti. Momen ini menjadi titik balik yang mengubur harapan mereka untuk mengamankan upper bracket.

Kekacauan serupa juga terlihat saat menghadapi Alter Ego di minggu yang sama. Di game pertama, Anavel melakukan blunder fatal yang langsung meruntuhkan ritme permainan tim. Luke dan FIN pun kerap kali keluar posisi, melakukan overcommitment yang membuka celah besar bagi lawan. Masalah komunikasi dan pengambilan keputusan menjadi semakin terlihat jelas.

Dalam dunia esports yang ditentukan oleh split-second decision, komunikasi adalah segalanya. Shotcall yang ragu-ragu, rotasi yang tidak sinkron, dan inisiasi yang tanpa backup adalah tanda-tanda bahwa komunikasi internal belum solid. Beberapa analis dan caster bahkan sempat menyebutkan bahwa Bigetron terlihat “bingung” dalam momen-momen tertentu—sebuah indikator bahwa decision-making dan koordinasi memang sedang bermasalah.

Tekanan mental pun tak bisa diabaikan. Musim ini adalah musim pertama Bigetron berada di bawah naungan Vitality, organisasi besar dari Eropa. Harapan tinggi untuk lolos ke EWC (Esports World Cup) membuat tekanan meningkat drastis. Di sisi lain, Anavel tampak berusaha terlalu keras untuk membuktikan dirinya sebagai pengganti Super Kenn. Namun upaya itu sering berbalik menjadi bumerang—bukan hanya gaya mainnya yang terlalu mirip, tetapi juga blunder-nya.

Chemistry antar pemain juga masih jauh dari kata matang. Inisiasi yang tidak direspons, backup yang terlambat, hingga koordinasi teamfight yang compang-camping memperlihatkan bahwa Bigetron belum memiliki koneksi in-game yang kuat. Dengan role roamer yang masih berganti-ganti dan rotasi yang belum stabil, sulit untuk membangun rasa percaya satu sama lain di dalam Land of Dawn.

Dari sisi komunitas Bigetron Esports, apresiasi tetap diberikan—terutama untuk Eman dan Moreno yang tampil jauh lebih disiplin dan tajam dibanding musim sebelumnya. Namun sayangnya, performa individu tidak cukup untuk menutupi masalah fundamental dalam tim. Ketika Bigetron kalah di early game, mereka tampak kesulitan untuk bangkit kembali—dan ini jadi bukti bahwa faktor mentalitas dan teamwork belum sepenuhnya kokoh.

Gagal mengamankan upper bracket jelas menjadi pukulan berat. Tapi bukan akhir dari segalanya. Masih ada babak playoff, dan masih ada waktu untuk evaluasi menyeluruh. Bagi Bigetron Esports, musim ini bisa menjadi pelajaran besar—bahwa chemistry, komunikasi, dan konsistensi adalah fondasi utama sebuah tim juara. Harapan para Bigetroopers tetap tinggi: mereka ingin melihat tim kesayangannya kembali menunjukkan semangat tempur sejati, dan mungkin, merebut satu tiket ke MSC sebagai bentuk penebusan.

Karena dalam esports, satu kekalahan bukan akhir dari segalanya—selama ada kemauan untuk berubah dan bangkit.

Oleh: Ruth Aurelia C, Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

Malam Ini Akun Saldo Dana Anda bakal Bertambah Rp778.000, Begini Caranya!

0

Bogordaily.net –  Ada saldo DANA gratis yang bisa ditransfer ke akun dompet digital (e-wallet) kamu senilai Rp778.000 malam hari ini Minggu, 1 Juni 2025. Bagaimana caranya? Yuk simak!

Cukup bermodalkan HP dan koneksi internet yang lancar, maka saldo gratis senilai ratusan ribu bisa segera didapatkan.

Bagi kamu yang tertarik mendapatkan saldo DANA gratis hingga ratusan ribu rupiah ke dompet digital, berikut langkah-langkahnya.

1. Mini Games

Mini Games merupakan fitur pertama yang tersedia di aplikasi DANA. Melalui fitur ini kamu berkesempatan mendapat saldo gratis ratusan ribu rupiah.

Untuk bermain Mini Games, pengguna hanya perlu mengikuti instruksi menyelesaikan misi dalam game.

Adapun games yang bisa dimainkan dalam fitur ini seperti DANA Shake, DANA Labyrinth, dan DANA Lucky Spin.

Kemudian kamu bisa bermain Mini Games dalam aplikasi DANA, hanya dengan bermain game kamu bisa mendapat saldo gratis ratusan ribu rupiah.

2. DANA Kaget

DANA kaget merupakan fitur yang mudah digunakan karena kamu hanya perlu melakukan satu cara mudah dengan klik link yang tersedia.

Link DANA Kaget biasanya dibagikan melalui platform media sosial seperti X, Facebook, hingga grup komunitas sebagai bentuk hadiah yang dibagikan secara massal oleh sesama pengguna aplikasi.

Untuk klaim saldo gratis ini, pastikan kamu menjadi orang pertama yang menemukan link DANA Kaget. Sebab, link tersebut hanya aktif 1×24 jam.

3. Ikuti Event Mingguan
Kamu bisa mengikuti event mingguan melalui media sosial Instagram resmi @dana.id.

DANA sering kali mengadakan event di hari-hari tertentu yang bisa diikuti oleh penggua aplikasi.

Event tersebut biasanya seperti misi menjawab tebak-tebakan atau kuis, jika berhasil menebak maka akan mendapat saldo gratis langsung ke e-wallet.

4. Kode Referral

Manfaatkan kode referral dengan mengundang teman. Kamu bisa mendapatkan bonus saldo gratis setiap berhasil mengajak teman atau keluarga menggunakan DANA lewat kode yang dibagikan. ***

DISCLAIMER: Artikel ini hanya sebagai panduan. Klaim saldo melalui DANA Kaget sepenuhnya tergantung dari pembuat dan penyebar link. Tidak semua link aktif atau berisi saldo.

 

Musdesus Kopdes/Kel Merah Putih Bali Capai 100 Persen, Pemerintah Akselerasi Pembentukan Badan Hukum dan Model Bisnis

0

Bogordaily.net – Pemerintah Kabupaten Badung, Provinsi Bali, resmi mencatat kemajuan positif dalam implementasi program nasional Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih.

Dalam acara Penyerahan Akta Notaris Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih se-Kabupaten Badung yang berlangsung hari ini, Sabtu (01/06), Wakil Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengapresiasi capaian 100 persen pelaksanaan Musyawarah Desa dan Kelurahan Khusus (Musdesus).

Acara yang berlangsung turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Anggota DPR RI Komisi VI Rieke Diah Pitaloka, Anggota DPR RI Komisi X I Nyoman Partha, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali Tri Arya Dhyna Kubontubuh, Sekretaris Daerah Kabupaten Badung Ida Bagus Surya Suamba, serta Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), Supomo.

“Saya merasa sungguh terhormat bisa menyaksikan langsung proses penyerahan akta notaris koperasi desa dan kelurahan merah putih di Kabupaten Badung. Ini menandakan semangat luar biasa dari Pemerintah Daerah dalam mengimplementasikan program Presiden Prabowo Subianto melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025,” ujar Ferry Juliantono dalam sambutannya.

Ferry menegaskan, program pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih merupakan gagasan strategis Presiden Prabowo yang tertuang dalam Inpres No. 9 Tahun 2025 dan didukung penuh oleh Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang Satgas Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Program ini melibatkan 18 kementerian/lembaga serta seluruh kepala daerah dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.

Ferry menjelaskan bahwa koperasi desa ini akan menjadi instrumen percepatan pemerataan ekonomi rakyat di desa. “Presiden ingin 80 ribu koperasi desa ini menjadi kekuatan ekonomi baru di desa-desa. Tidak hanya menambah jumlah koperasi, tetapi juga meningkatkan aset, volume usaha koperasi, dan memperluas partisipasi masyarakat, terutama anak muda yang selama ini mulai menjauh dari koperasi,” tegasnya.

Dalam waktu dekat, Pemerintah Pusat akan mematangkan model bisnis koperasi desa, skema pembiayaan, modul pelatihan, hingga pengembangan koperasi percontohan.

Pemerintah juga tengah mengidentifikasi berbagai aset negara yang tidak termanfaatkan di daerah seperti gedung eks Puskesmas, Puskesdes, hingga sekolah-sekolah yang tak lagi difungsikan untuk menjadi pusat aktivitas koperasi desa tanpa perlu membangun infrastruktur baru.

“Jadi dimana terdapat aset fisik yang bisa digunakan, dan itu pasti akan dipakai, tujuannya untuk meminimalisir investasi yang terlalu besar yang harus kita bangun untuk sarana fisik dari kegiatan koperasi desa kelurahan merah putih,” terangnya.

Sementara itu, untuk aspek pendanaan, Ferry menyampaikan bahwa setiap koperasi desa-kelurahan Merah Putih akan mendapat dukungan pembiayaan modal kerja antara Rp3 miliar hingga Rp5 miliar, disesuaikan dengan hasil studi kelayakan masing-masing koperasi.

Sementara itu, Wakil Bupati Badung, Bagus Ali Sucipta, dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen penuh mendukung agenda besar ini.

“Musyawarah desa dan kelurahan khusus telah tuntas 100 persen di Kabupaten Badung. Dan progres pembuatan akta notaris pembentukan koperasi telah mencapai 74 persen. Ini adalah bentuk nyata kesiapan kami,” ujar Bagus Ali.

Lebih lanjut, Wamenkop menambahkan bahwa koperasi-koperasi desa ini akan mulai dioperasionalkan secara nasional mulai Juli hingga Oktober 2025. Pengumuman resmi pembentukan 80 ribu koperasi desa direncanakan akan dilakukan oleh Presiden pada Hari Koperasi Nasional, 12 Juli 2025.

“Juli hingga Oktober adalah tahap penting operasionalisasi. Ini fase kerja keras berikutnya yang harus kita hadapi bersama. Kabupaten Badung bisa jadi contoh sukses nasional,” ujar Ferry. ***

Pengusaha Muda Kota Bogor Kembangkan Air Mineral Summit, Siap Bersaing di Pasar Nasional

0

Bogordaily.net – Dengan sumberdaya mata air yang melimpah, pengusaha muda asal Kota Bogor mengembangkan air mineral kemasan lokal bermerek Summit untuk bersaing dengan produk-produk di pasar nasional.

Kali ini Summit mencoba memperkuat pasar lokal Kota Bogor dengan melabeli produk 100 persen Bogor Pisan serta menyasar sektor perhotelan, restoran, rumah sakit dan lainnya.

Direktur Utama PT Nirwana Tirta, Aldrien Muheza, produk Summit asli dari Bogor, di lokasi dekat Bogor Nirwana Residence (BNR) Bogor Selatan, perbatasan antara Kota dan Kabupaten Bogor.

Perbedaan Summit dengan produk lain, airnya berasal dari mata air yang terlindung dari kaki Gunung Salak Bogor.

“Nanti konsumen bisa membedakan rasanya, air kami akan lebih terasa dingin ketika diminum. Kami memiliki standar parameter untuk air mineral yang lebih berstandarisasi SNI ya,” ungkap Aldrien, Minggu 1 Juni 2025

Aldrien melanjutkan, untuk targetnya, air minum kemasan Summit untuk pasar menengah ke bawah.

Terus yang kedua targetnya ke beberapa rumah sakit rumah sakit besar khususnya di Kota dan Kabupaten Bogor.

“Ada beberapa rumah sakit yang sudah menjadi pelanggan kami, diantaranya Rumah Sakit Azra, RS Mulia, RS Hermina dan lainnya. Hotel-hotel di Bogor juga sudah termasuk customer kami,” terangnya.

Aldrien menjelaskan, dengan langkah ini, produk Summit sudah diterima di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor.

Pihaknya melihat ke arah penguasaan pasar lokal Bogor, khusus daerah Puncak, segmentasi Summit cukup besar dan sudah masuk.

“Ya, sekarang Kami lagi memfokuskan untuk di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor. Kami sudah 17 tahun hadir, mulai berproduksi tahun 2008,” jelasnya.

Aldrien menambahkan, untuk memperkuat identitas produk Summit asli Bogor, saat ini dibuat kemasan baru dengan label Bogor Pisan pada stiker kemasan.

“Mudah-mudahan pasar lokal semakin berminat dengan kemasan kami berlabel 100 persen Bogor Pisan. Pada passr lokal maupun Indonesia, kami siap bersaing dengan air minum kemasan lainnya,” tutup Aldrien. ***

Muhammad Irfan Ramadan