Thursday, 9 April 2026
Home Blog Page 823

Hasil SPAN PTKIN 2025 Resmi Diumumkan Hari Ini, Cek Link Kelulusan dan Cara Daftar Ulang

0

Bogordaily.net – Hasil SPAN PTKIN 2025 resmi diumumkan hari ini, Kamis, 27 Maret 2025, pukul 10.00 WIB.

Para peserta yang telah mengikuti seleksi jalur prestasi akademik ini dapat mengecek status kelulusan mereka melalui laman resmi yang disediakan panitia.

Dengan pengumuman ini, calon mahasiswa yang lolos dapat segera mempersiapkan proses daftar ulang sesuai ketentuan masing-masing Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

Sebagai jalur seleksi tanpa ujian tertulis, hasil SPAN PTKIN ini menjadi momen yang dinantikan oleh ribuan peserta di seluruh Indonesia.

Program ini dirancang untuk memberikan kesempatan bagi siswa berprestasi dari SMA/SMK/MA/Pesantren dan lembaga pendidikan formal lainnya untuk masuk ke 59 PTKIN yang tersebar di berbagai daerah. Universitas seperti UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, IAIN Lhokseumawe, dan banyak lainnya turut serta dalam seleksi ini.

Cara Cek Hasil SPAN PTKIN 2025

Peserta dapat mengecek hasil SPAN PTKIN 2025 dengan langkah-langkah berikut:

  • Buka laman resmi: https://pengumuman-span.ptkin.ac.id/page
  • Masukkan nomor pendaftaran dan tanggal lahir di kolom yang tersedia.
  • Klik tombol “Cek Hasil” untuk mengetahui status kelulusan.
  • Jika dinyatakan lolos, segera catat PTKIN tujuan dan lakukan daftar ulang sesuai jadwal yang ditetapkan oleh kampus.

Bagi peserta yang mengalami kendala teknis, seperti website down akibat lonjakan pengunjung, disarankan untuk mencoba kembali beberapa saat kemudian atau menghubungi panitia melalui kontak resmi yang tersedia di laman pengumuman.

Langkah Setelah Dinyatakan Lolos

Setelah mengetahui hasil SPAN PTKIN 2025, peserta yang dinyatakan lolos harus segera melakukan registrasi ulang di PTKIN yang menerima mereka.

Prosedur daftar ulang bervariasi tergantung kebijakan masing-masing kampus, namun umumnya mencakup:

  • Pengisian formulir registrasi ulang.
  • Penentuan dan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT).
  • Pengumpulan dokumen seperti bukti kelulusan SPAN PTKIN, fotokopi ijazah, pas foto, dan dokumen tambahan seperti tes kesehatan jika diperlukan.
  • Peserta yang tidak menyelesaikan daftar ulang sesuai jadwal yang telah ditetapkan akan dianggap mengundurkan diri, sehingga penting untuk selalu memantau pengumuman dari kampus tujuan.

Dengan prinsip seleksi yang transparan, adil, dan bebas biaya, hasil SPAN PTKIN 2025 menjadi langkah awal bagi calon mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan di PTKIN unggulan di Indonesia. Semoga seluruh peserta yang lolos dapat menjalani proses perkuliahan dengan lancar dan sukses di masa depan.***

Jalan yang Tak Direncanakan, Takdir yang Menentukan: Perjalanan Akademik Bayu Suriaatmaja

0

Bogordaily.net – Bayu Suriaatmaja Suwanda, S.I.Kom., M.I.Kom., lahir di Jakarta pada 14 November 1982. Bayu menempuh pendidikan Sarjana di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (FIKOM UNPAD) dengan jurusan Hubungan Masyarakat pada tahun 2002. Selanjutnya, Bayu melanjutkan pendidikan Magister di bidang Ilmu Komunikasi di fakultas yang sama dan meraih gelar Magister Ilmu Komunikasi pada tahun 2014.

Saat ini, Bayu tengah menempuh studi Doktoral di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), dengan fokus di Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Fakultas Ekologi Manusia dan sedang dalam tahap penyelesaian disertasi.

Selama masa studinya, Bayu memiliki ketertarikannya pada bidang kehumasan dan komunikasi sehingga menjadikannya pribadi yang dinamis dan selalu ingin terus belajar. Namun, saat itu, ia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan terjun ke dunia akademik dan menjadi seorang dosen.

Ketika menempuh pendidikan tinggi, cita-citanya adalah menyelesaikan studi dan berkarier di bidang kehumasan di suatu perusahaan. Selain itu, kepribadiannya pun dirasa kurang sesuai untuk menjadi seorang akademisi, sehingga banyak orang terkejut ketika akhirnya beliau memilih jalur profesi ini.

Pada akhir tahun 2009, kesempatan yang tak terduga menghampirinya. Pamannya, yang saat itu menjabat sebagai pembimbing dari Ketua Program Studi Komunikasi Sekolah Vokasi IPB University (sebelum berganti nama menjadi Komunikasi Digital dan Media) saat itu—yang sedang menempuh studi S3 di FIKOM UNPAD—memberikan informasi mengenai posisi dosen yang sedang dicari.

Ketua Program Studi tersebut menanyakan kepada pamannya mengenai calon yang potensial, dan pamannya pun merekomendasikan Bayu. Setelah mempertimbangkan tawaran tersebut, Bayu akhirnya menerima dan mulai aktif mengajar di dunia akademik.

Memasuki dunia akademik bukanlah hal yang mudah bagi Bayu. Ia harus menyesuaikan diri dengan pola pikir dan tanggung jawab sebagai seorang pendidik. Namun, berkat dedikasi dan kerja kerasnya, ia mampu beradaptasi dengan cepat.

Bayu mulai menikmati perannya sebagai dosen, terutama ketika melihat mahasiswa-mahasiswanya berkembang dan memperoleh ilmu yang bermanfaat dari apa yang ia ajarkan.

Ketua Program Studi memberikan pesan penting kepadanya, bahwa ia tidak boleh berhenti di tengah jalan. Pesan itu terus ia pegang teguh, dan hingga saat ini, Bayu tetap konsisten dalam dunia pendidikan dan pengajaran.

Pengalaman mengajar dan berinteraksi dengan mahasiswa memberikan banyak pelajaran berharga bagi dirinya. Ia menyadari bahwa menjadi seorang dosen tidak hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga membimbing, menginspirasi, dan membantu mahasiswa dalam mengembangkan potensi mereka.

Salah satu sosok yang menjadi inspirasi terbesar dalam perjalanan akademik Bayu adalah ayahnya. Ayahnya pernah bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan BUMN besar di Indonesia sebelum akhirnya memutuskan untuk pensiun dini.

Setelah pensiun, beliau mendapatkan tawaran untuk bergabung di sebuah universitas sebagai dosen setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana. Keputusan tersebut mendorongnya untuk terus menempuh pendidikan hingga meraih gelar Doktor.

Meskipun telah berusia lanjut, semangatnya dalam berkarya dan mencetak prestasi di bidang pendidikan tetap membara.

Dorongan dan motivasi dari sang ayah inilah yang menjadi pendorong utama bagi Bayu untuk terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Bayu melihat ayahnya sebagai sosok yang luar biasa, seseorang yang tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga berkontribusi bagi kemajuan institusi tempatnya mengabdi.

Melihat perjalanan akademik sang ayah yang penuh dedikasi, Bayu Suriaatmaja semakin termotivasi untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi terbaiknya di dunia pendidikan.

Ayahnya selalu mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan harus terus dikembangkan dan dibagikan kepada orang lain. Prinsip inilah yang kemudian menjadi landasan bagi Bayu dalam menjalankan profesinya sebagai dosen.

Dari seorang mahasiswa yang bercita-cita menyelesaikan pendidikan di tingkat Sarjana dan merasa kurang sesuai untuk menjadi akademisi, Bayu akhirnya membuktikan bahwa ia mampu menapaki jenjang pendidikan tinggi dan menjadi seorang dosen.

Kini, beliau tidak hanya aktif mengajar di Sekolah Vokasi IPB University, tetapi juga mengemban tanggung jawab sebagai anggota Komisi Disiplin di institusi tersebut.

Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa takdir dapat membawa seseorang ke arah yang tidak terduga. Dengan tekad dan kerja keras, seseorang dapat meraih pencapaian yang lebih besar dari yang pernah dibayangkan.

Bayu Suriaatmaja adalah contoh bahwa dengan ketekunan, seseorang bisa melampaui batasan yang pernah mereka tetapkan untuk dirinya sendiri. Dari seseorang yang awalnya tidak berencana menjadi akademisi, kini ia telah menjadi salah satu sosok penting dalam dunia pendidikan di IPB University.

Dalam beberapa tahun ke depan, Bayu berharap dapat menyelesaikan studi doktoralnya dan terus memberikan kontribusi yang lebih besar dalam dunia pendidikan.

Ia ingin mencetak lebih banyak mahasiswa yang siap menghadapi tantangan industri digital dan komunikasi yang terus berkembang.

Bagi Bayu Suriaatmaja, menjadi dosen bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa dan menciptakan perubahan positif dalam dunia akademik maupun profesional.***

Saffana Khalista Nurisnina

Menjelajahi Wisata Alam Oasis Sukabumi: Petualangan Seru dengan Nuansa Eropa

0

Bogordaily.net – Ini adalah perjalananku mengunjungi wisata alam Oasis Sukabumi, sebuah destinasi wisata yang menawarkan spot foto bangunan khas dari belahan dunia seperti Eropa dan Amerika. Perjalanan ini menjadi salah satu pengalaman terbaik yang pernah aku alami, karena selain menikmati keindahan tempat, aku juga merasakan momen-momen berharga bersama teman-teman.

Pada 17 September 2024, aku dan teman-teman kuliah merencanakan perjalanan untuk liburan sejenak dari hiruk-pikuk perkuliahan. Selain itu, kami juga ingin melakukan survei lokasi untuk acara yang akan kami selenggarakan di akhir tahun. Kami memilih berangkat sore hari untuk menghindari panasnya matahari. Setelah kuliah selesai, kami pulang ke kos masing-masing untuk makan dan berganti pakaian.

Pada pukul 14.30, aku bersiap dan menuju titik kumpul di Warung Abi depan kampus. Sebelum berangkat, aku memastikan semua perlengkapan siap, termasuk memakai helm dan rompi. Sesampainya di titik kumpul, aku sudah disambut oleh Nabila dan Najma yang lebih dulu tiba.

Kami mengobrol santai sambil menunggu teman-teman yang lain datang. Satu per satu mereka tiba, mulai dari Widiana, Anggia, Prasasti, Angelina, Ana, dan Musa. Dua teman lainnya sudah pergi lebih dulu untuk mengecek apakah tempat wisata tersebut buka atau tutup. Setelah semua berkumpul tepat pukul 15.00, kami langsung berangkat dengan tiga motor.

Perjalanan Menuju Lokasi Wisata
Di perjalanan, kami sempat mengalami kemacetan akibat jam pulang sekolah di Cikole. Tak hanya itu, di dekat Toserba Slamet Sukabumi, perjalanan kami juga terhambat karena ada kecelakaan mobil yang menabrak separator jalan.

Kejadian itu menyebabkan arus lalu lintas sedikit tersendat, tetapi untungnya sudah ada polisi lalu lintas yang mengamankan area tersebut sehingga perjalanan kembali lancar. Setelah menempuh perjalanan sejauh 8,3 km dalam waktu sekitar 25 menit, kami akhirnya tiba di destinasi tujuan.

Sesampainya di Oasis Sukabumi, kami merasa takjub dengan keindahan tempat ini. Karena sudah sore, kami mendapat kesempatan masuk secara gratis melalui jalur Cottage. Saat melangkahkan kaki ke dalam, aku langsung terpesona dengan ornamen-ornamen unik dari berbagai belahan dunia, seperti rumah koboi khas Amerika, kotak telepon merah ala Inggris, serta patung prajurit Inggris yang berukuran manusia.

Semakin jauh kami masuk, semakin banyak hal menarik yang kami temui, mulai dari kolam renang yang luas, bangunan khas Santorini dengan dominasi warna putih dan biru, panggung utama yang sedang menampilkan pertunjukan musik, hingga mini zoo yang berisi berbagai macam reptil dan kelinci lucu.

Kegiatan Seru dan Momen Tak Terlupakan
Setelah puas berkeliling, kami bertemu dengan pemilik dan manajer tempat tersebut untuk membahas rencana acara kami. Mereka menyambut kami dengan hangat dan memberikan informasi lengkap tentang fasilitas serta kemungkinan penyelenggaraan acara di sana.

Setelah urusan selesai, kami kembali menjelajahi tempat ini, kali ini untuk menikmati suasana malamnya yang dihiasi lampu warna-warni yang indah. Pemandangan ini semakin mempercantik suasana, membuat kami betah berlama-lama di sana.

Ada satu kejadian lucu yang membuat perjalanan kami semakin berkesan. Saat kami berkeliling di sore hari, salah satu teman laki-laki kami tiba-tiba ikut berjoget bersama ibu-ibu wisatawan yang sedang menikmati pertunjukan musik.

Kami semua tertawa melihatnya, terutama ketika ibu-ibu tersebut dengan antusias menyambut teman kami. Mereka menari selama beberapa lagu, dan suasana semakin meriah. Setelah puas menikmati tempat ini, aku membeli crepes yang dijual di area wisata.

Rasanya luar biasa enak, dengan topping yang melimpah dan manis. Kami juga menyempatkan diri untuk berfoto di berbagai spot menarik. Salah satu momen paling menggelitik adalah ketika seorang teman kami ketiduran di area koboi saat magrib. Kami pun spontan membuat konten lucu dari situasi tersebut. Ketika dia terbangun dan melihat kami tertawa, dia pun ikut tertawa bersama kami.

Saat malam tiba, kami memutuskan untuk pulang. Jalanan sudah sepi, hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Perjalanan pulang terasa lebih cepat karena lalu lintas yang lengang. Aku tiba di kos sekitar pukul 20.00 dengan perasaan puas dan bahagia.

Informasi Lengkap tentang Oasis Sukabumi
Wisata Alam Oasis Sukabumi memang menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Jawa Barat. Kota Sukabumi sendiri memiliki banyak tempat menarik yang menawarkan keindahan alam serta udara segar yang cocok untuk melepas penat.

Meski kota ini relatif kecil, namun pesonanya tidak kalah dengan destinasi wisata lainnya.
Tempat wisata ini memiliki luas sekitar 20.000 meter persegi dan menawarkan berbagai aktivitas menarik.

Dengan bangunan ala Santorini yang unik serta area kolam yang dilengkapi wahana air, tempat ini menjadi pilihan sempurna untuk berlibur bersama keluarga. Pengunjung juga bisa mencoba naik perahu kayuh di danau buatan, yang memberikan pengalaman menyenangkan dan menenangkan.

Fasilitas yang tersedia di sini cukup lengkap, mulai dari area parkir yang luas, toilet, musala, hingga berbagai spot foto menarik. Untuk anak-anak, tersedia wahana bermain air dengan tiket seharga Rp 10.000, serta playground yang aman dan nyaman.

Selain itu, ada penyewaan kostum koboi atau Belanda dengan tarif Rp 50.000, yang membuat pengalaman wisata semakin seru. Harga tiket masuk ke tempat ini pun cukup terjangkau, hanya sekitar Rp 15.000 per orang.

Wisata Alam Oasis Sukabumi berlokasi di Jl. Mayor Mahmud, Sukajaya, Kec. Cikole, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tempat ini buka setiap hari pukul 09.00 hingga 22.30 WIB. Lokasinya sangat strategis, hanya berjarak 2,9 km dari Alun-Alun Kota Sukabumi dan 3,4 km dari Stasiun Sukabumi.

Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana yang lebih nyaman, disarankan datang pada sore hari ketika matahari tidak terlalu terik. Namun, perlu diingat bahwa pengunjung tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar, karena di dalam area wisata sudah tersedia berbagai kafe dan restoran.

Perjalanan ke Wisata Alam Oasis Sukabumi benar-benar memberikan pengalaman tak terlupakan. Keindahan tempat, kehangatan suasana, serta kebersamaan dengan teman-teman membuat perjalanan ini semakin berkesan. Bagi siapa saja yang mencari destinasi wisata unik dengan nuansa Eropa, tempat ini layak untuk masuk dalam daftar kunjungan selanjutnya!***

Rifa Althof Rizqullah

Bagaimana Dampak Media Sosial Terhadap Komunikasi Generasi Alpha?

0

Bogordaily.net – Era digital yang pada saat ini semakin meningkat dengan pesat telah menghadirkan gaya hidup dan sudut pandang baru dalam interaksi social. Media sosial, telah menjadi salah satu faktor utama pada transformasi pola komunikasi dan ekspresi diri, terutama di kalangan generasi muda seperti gen z dan gen alpha.

Dari banyaknya platform media sosial yang muncul di era digital ini, Tiktok hadir sebagai fenomena baru dan unik yang membawakan elemen visual, audio, dan juga tekstual dalam bentuk format video pendek yang sangat inovatif dan menarik.

Berdasarkan data pada Data Portal (July 2024), pengguna platform Tiktok di Indonesia telah mencapai lebih dari 157 juta pengguna aktif, yang mayoritas penggunanya merupakan Generasi Alpha yang lahir pasca 2010.

Generasi Alpha yang tumbuh dalam era digital yang cukup imersif, menjadikan Tiktok sebagai wadah pola hidup mereka sehari-hari mereka selain di kehidupan nyata.

Fenomena ini membuat gaya hidup baru dalam cara berkomunikasi dan menjadi jendela dunia, mengingat bahwa Tiktok sendiri tidak hanya berfungsi sebagai platform hiburan, tetapi juga menjadi arena dinamis bagi inovasi dan evolusi bahasa.

Generasi Alpha dan Media Sosial
Lahir dari tahun 2010 hingga 2024, Generasi Alpha tumbuh di dalam dunia yang sepenuhnya digital, dikelilingi dengan teknologi sejak usia yang sangat muda.

Ha; ini lah yang berdampak sangat besar pada perkembangan yang dialami mereka, karena Generasi Alpha dan juga Teknologi hamper tidak bisa dipisahkan.

Para Generasi Alpha lebih memahami dunia dan peralatan digital serta dapat beradaptasi dengan mudah dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

Anak-anak Generasi Alpha semakin terampil dalam menggunakan teknologi genggam pada usia yang lebih dini dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Sekitar 43% dari mereka sudah memiliki tablet sebelum mencapai usia 6 tahun, sementara 58% lainnya memiliki ponsel pintar sebelum menginjak usia 10 tahun.

Akibatnya, mereka mulai bersentuhan dengan media sosial sejak awal perkembangan mereka dan menunjukkan kecenderungan terhadap aplikasi dan platform tertentu.

Sebuah penelitian mengenai penggunaan media sosial oleh Generasi Alpha mengindikasikan bahwa mereka lebih menyukai platform yang menyajikan konten singkat dan menarik perhatian.

Tiktok menjadi platform video paling digemari oleh anak-anak Generasi Alpha di Indonesia setelah Youtube, yang menghabiskan rata-rata 84 menit setiap hari di platform ini untuk menikmati berbagai program hiburan dan pendidikan.

Selain itu, anak-anak Generasi Alpha juga menggunakan Tiktok untuk menjelajahi merek dan produk baru, berbeda dengan Generasi Z yang lebih banyak memanfaatkan media sosial tradisional untuk tujuan serupa.

Peran Orang Tua Pada Pertumbuhan Generasi Alpha
Generasi Alpha, yang mencakup individu yang lahir antara tahun 2010 hingga 2024, tumbuh di tengah kemajuan teknologi digital yang pesat. Mereka memiliki ciri khas yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya. Sebagai generasi yang paling akrab dengan gadget dan internet, potensi mereka untuk meraih kesuksesan dan berkembang sangatlah besar.

Beberapa karakteristik unik yang dimiliki oleh Generasi Alpha antara lain: kedekatan dengan teknologi digital dan internet, kemampuan belajar yang cepat, serta beberapa tantangan seperti kecenderungan untuk dominan, kesulitan berbagi, dan kurangnya minat mengikuti aturan. Di samping itu, kemampuan mereka dalam berkomunikasi secara langsung juga terbilang terbatas. Hal ini menempatkan orang tua, terutama para orang tua milenial, di posisi yang penting untuk memberikan bimbingan dan pendidikan bagi anak-anak Generasi Alpha.

Untuk itu, orang tua perlu senantiasa mengikuti perkembangan teknologi dan informasi agar dapat mendampingi anak-anak mereka berinteraksi dengan dunia maya secara cerdas dan sehat. Selain itu, mereka juga perlu mengajarkan nilai-nilai sosialisasi, melatih keterampilan fisik dan motorik, serta membekali anak-anak dengan prinsip-prinsip agama dan moral yang baik.

Mendidik anak-anak agar tidak terlalu bergantung pada teknologi dan berperan sebagai teman diskusi yang dapat dipercaya merupakan langkah-langkah penting yang dapat diambil. Dengan pendekatan ini, orang tua diharapkan dapat membantu Generasi Alpha tumbuh menjadi generasi yang sukses, berkembang dengan baik, dan siap menghadapi masa depan yang cerah.***

Bintang Maulana Yusuf Adiwinata

 

 

Kesalahan Agus Difabel? atau Kesalahan Kedua Pihak?

0

Bogordaily.net – I Wayan Agus Suartama (22), alias Agus Difabel, seorang pria difabel terdakwa pelecehan seksual di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), divonis 12 tahun penjaradan serta denda Rp300 Juta oleh Pengadilan Negeri Mataram, NTB. Jum’at, 24 Januari 2025.

Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang pria difabel IWAS (22) menjadi sebuah sorotan publik dikarenakan pada awalnya banyak dari warga masa yang tidak percaya mengenai aksi pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang difabel, dikarenakan difabel ini tidak memiliki kedua belah tengahnnya. Namun hal tersebut berubah ketika banyak dari korban kasus ini yang memberikan laporan.

Peristiwa ini mengungkap berbagai fakta mengejutkan, mulai dari pola tindakan pelecehan seksual yang IWAS lakukan, hingga meningkatnya jumlah korban yang membuat laporan. Pada awalnya (9/12/2024), Tersangkat ditetapkan melakukan pelecehan terhadap 15 orang, termasuk anak kecil.

Kasus dari IWAS ini juga sempat memicu berbagai spekulasi dan menimbulkan berbagai pertanyaan besar di kalangan masyarakat. Banyak dari masyarakat yang menanyakan bagaimana mungkin seorang penyandang disabilitas, yang seharusnya mendapatkan perlindungan serta perhatian lebih, justru menjadi tersangka kasus pelecehan seksual.

Kejadian ini juga menimbulkan banyak keraguan dan kekhawatiran terkait pemahaman masyarakat tentang disabilitas, dan juga kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas dalam melakukan tindak criminal.

Namun dari keterangan kepolosian, IWAS yang seorang disabilitas ini memanfaatkan manipulasi emosional dan ancaman psikologis untuk memaksa korban mengikuti keinginannya. Dan dari informasi tersebutlah masyarakat mulai terpicu amarah, apalagi ketika bukti rekaman video dan suara mulai terungkap.

Dari fakta fakta tersebut memang sangat cukup untuk menetapkan IWAS sebagai tersangka, namun tetap ada satu hal yang masih harus dipertanyakan.

Bukan kah kasus ini sendiri tidak akan pernah terjadi apabila para korban sendiri juga tidak memiliki kemauan untuk melakukan? Walau pun memang hal tersebut dikatakan terjadi karena IWAS memanipulasi dan juga mengancam kepada para korbannya, Dan dari banyaknya pertanyaan dan pendapat masyarakat, ada cukup banyak dari mereka yang juga mempertanyakan hal tersebut, karena tidak lah sulit untuk membela diri dari seorang disabilitas.

Selama Proses Hukum, IWAS ditempatkan pada sebuah penjara untuk disabilitas. Namun ada berbagai berita dan rekaman dimana IWAS ini mengalami kondisi gatal-gatal ketika dalam proses siding. Hal tersebut menjadi bahan olok-olok bagi beberapa masyarakat, namun juga membuat beberapa masyarakat merasa kasihan terhadap apa yang ia alami.

Dan ditemukan fakta bahwa lokasi penjara IWAS yang dikatakan jika penjara tersebut ramah untuk disabilitas, ternyata hanya terlihat seperti kamar kecil yang sempit, dan juga tidak ada pekerja yang membantu IWAS ketika membersihkan badan untuk mandi, maupun ketika selesai membuang kotoran, hal tersebut diduga menjadi penyebab utama mengapa IWAS mengalami kondisi gatal-gatal.

Setelah ditangkapnya IWAS, dan melalui berbagai proses hukum. IWAS atau I Wayan Agus Suartama ini divonis dipenjara selama 12 tahun dan denda sebesar Rp300 Juta. Hal itu kembali memicu rasa kasihan beberapa masyarakat, karena IWAS merupakan seorang disabilitas.***

Oleh : Bintang Maulana Yusuf Adiwinata

 

Toxic atau Supportive? Perilaku Komunikasi Digital Pada Komunitas Game PUBG

0

Bogordaily.net – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dan berkomunikasi. Dunia virtual kini menjadi ruang sosial baru, terutama melalui platform game online yang memungkinkan para pemain terhubung dalam skala global. Salah satu game yang populer di komunitas pemain game adalah Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG). Dalam game ini, komunikasi digital menjadi suatu hal penting yang menentukan strategi, koordinasi tim, dan pengalaman bermain secara keseluruhan.

Namun, di balik keragaman interaksi tersebut, terdapat perilaku komunikasi yang kompleks, termasuk munculnya fenomena perilaku “toxic”. Perilaku ini mencakup tindakan negatif seperti penghinaan verbal, trolling, pelecehan, cyber bullying, hingga penggunaan kata-kata kasar yang dapat merusak suasana bermain. Di sisi lain, perilaku “supportive” yang ditandai dengan dukungan, motivasi, dan kerjasama antar pemain juga banyak ditemukan, menciptakan lingkungan permainan yang lebih positif dan menyenangkan.

Artikel ini, akan menganalisis dua jenis perilaku komunikasi digital tersebut dalam komunitas PUBG. Analisis akan berfokus pada bagaimana perilaku “toxic” dan “supportive” muncul dalam interaksi pemain, serta dampaknya terhadap perilaku sosial dalam game. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan para pemain dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya komunikasi positif dalam menciptakan suasan bermain yang sehat dan mendukung perkembangan komunitas game yang lebih baik.

Perilaku “Toxic” dalam Komunikasi Digital di PUBG
Perilaku “toxic” biasa merujuk pada tindakan negatif yang dilakukan oleh pemain, seperti penggunaan bahasa kasar, penghinaan, cyber bullying dan perilaku agresif lainnya yang ditujukan kepada rekan tim atau lawan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nurmohamed (2018), perilaku “trash talking” dalam game dapat menimbulkan dampak negatif, seperti meningkatnya perilaku kompetitif yang tidak sehat dan menurunnya kinerja serta kreativitas pemain.

Perilaku “toxic” sering kali dipicu oleh tekanan bermain dalam permainan, terutama ketika pemain merasa frustasi akibat kekalahan atau ketidakseimbangan tim. Situasi tersebut mendorong beberapa individu untuk melampiaskan emosi negatif nya melalui komunikasi digital. Salah satu bentuk perilaku “toxic” yang sering ditemui di PUBG adalah flame war, yakni saling berbalas hinaan atau ejekan di kolom chat. Meski bagi sebagian pemain perilaku ini dianggap hiburan atau bentuk ekspresi bebas, nyatanya flame war dapat memicu konflik lebih besar dan memperburuk suasana bermain.

Faktor virtual dalam komunikasi digital juga menjadi alasan kuat munculnya perilaku “toxic”. Pemain merasa lebih bebas mengekspresikan perilaku negatif karena identitas mereka tidak diketahui secara langsung. Penelitian oleh Suler (2004) mengenai Online Disinhibition Effect menjelaskan bahwa anonimitas digital sering membuat individu bertindak lebih agresif

dibandingkan dalam interaksi langsung. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh pemain tertentu untuk melakukan cyberbullying terhadap pemain lain, yang dapat berujung pada stres, tekanan mental, bahkan keputusan beberapa pemain untuk berhenti bermain secara permanen.

Dalam konteks PUBG, perilaku “toxic” dapat muncul dalam bentuk trolling (bermain tidak serius atau mengganggu rekan tim), taunting (melakukan gerakan atau ucapan yang menghina lawan), trash talking (mengeluarkan kata kata kasar untuk menghina tim sendri ataupun lawan) dan penggunaan cheat (bermain curang dengan memanfaatkan program ilegal). Perilaku semacam ini tidak hanya merusak pengalaman bermain individu, tetapi juga dapat menciptakan lingkungan permainan yang tidak menyenangkan dan negatif bagi komunitas secara keseluruhan.

Perilaku “Supportive” dan Dampaknya pada Komunitas PUBG
Sebaliknya, perilaku “supportive” melibatkan tindakan positif yang mendukung kerjasama tim dan menciptakan suasana bermain yang kondusif. Komunikasi yang efektif melalui fitur voice chat atau chat box dalam PUBG memungkinkan pemain untuk berkoordinasi, memberikan instruksi, dan saling mendukung selama permainan berlangsung. Penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang baik antar pemain dapat meningkatkan kinerja tim dan memberikan pengalaman bermain yang lebih menyenangkan.

Selain menciptakan suasana bermain yang lebih positif, perilaku “supportive” juga berperan dalam meningkatkan rasa kebersamaan dan solidaritas antar pemain. Ketika pemain saling memberikan dukungan, baik melalui komunikasi verbal maupun tindakan seperti membantu rekan tim yang terjatuh atau berbagi perlengkapan, rasa kepercayaan dan solidaritas dalam tim pun meningkat. Hal ini tidak hanya berdampak pada keberhasilan dalam permainan, tetapi juga memperkuat hubungan sosial di luar game. Beberapa pemain bahkan membangun pertemanan yang berlanjut di dunia nyata berkat komunikasi yang positif selama bermain PUBG.

Tak hanya di dalam game, perilaku “supportive” juga terlihat dalam komunitas online yang terbentuk di berbagai platform media sosial, seperti grup Facebook, Discord, dan WhatsApp Group. Di tempat-tempat ini, para pemain sering berbagi pengalaman, memberi saran strategi, serta mendiskusikan berbagai hal terkait permainan. Diskusi yang sehat dan saling mendukung dalam komunitas daring ini dapat menjadi sarana edukasi bagi pemain pemula dan mendorong terciptanya budaya bermain yang lebih inklusif dan konstruktif. Dengan adanya ruang diskusi yang positif, komunitas PUBG mampu berkembang menjadi lingkungan yang ramah bagi semua kalangan pemain.

Faktor yang Mendorong Terjadinya Perilaku Toxic dan Supportive
Terdapat beberapa faktor yang mendorong munculnya perilaku toxic atau supportive dalam komunitas game seperti PUBG. Salah satunya adalah pengalaman dan latar belakang pemain. Pemain yang sudah berpengalaman cenderung lebih sabar dan memahami pentingnya kerjasama dalam permainan. Sebaliknya, pemain pemula sering kali merasa tertekan dan akhirnya melampiaskan emosi negatif, pada saat mengalami kekalahan, trolling oleh tim sendiri dan yang paling utama jika tidak mendapat support yang baik dari tim.

Faktor kedua adalah desain permainan itu sendiri. PUBG sebagai game berbasis tim sangat bergantung pada komunikasi antar pemain. Ketika permainan didesain dengan mekanisme yang mendorong kompetisi tinggi tanpa adanya fitur komunikasi yang memadai, seperti chatbox, dan fitur voice chat, peluang munculnya perilaku toxic menjadi lebih besar. Namun, fitur-fitur seperti

sistem laporan perilaku dan pemberian penghargaan bagi pemain yang berperilaku baik dapat membantu mengurangi tindakan negatif dan mendorong perilaku supportive.
Faktor lingkungan sosial juga memainkan peran penting. Pemain yang terlibat dalam komunitas positif di luar game, seperti grup media sosial yang mendukung komunikasi sehat, lebih cenderung menunjukkan perilaku supportive. Sebaliknya, lingkungan komunitas yang tidak terkontrol dapat memicu sikap agresif atau toxic di dalam game.

Strategi Mengatasi Perilaku Toxic dalam Komunitas Game
Mengatasi perilaku “toxic” dalam komunitas game PUBG memerlukan pendekatan yang baik, melibatkan pengembang, pemain, serta komunitas secara keseluruhan. Salah satu strategi yang dapat diterapkan oleh pengembang adalah dengan memperkuat sistem fitur komunikasi. Fitur seperti pelaporan atau sering disebut report perilaku buruk, filter kata-kata kasar, hingga pemberian sanksi tegas dapat membantu mengurangi perilaku negatif di dalam game. Penelitian oleh Chesney et al. 2009 menunjukkan bahwa moderasi yang efektif dapat secara signifikan menekan perilaku agresif di komunitas online.

Pendidikan digital juga memberikan peran penting dalam membangun kesadaran pemain mengenai etika berkomunikasi di dunia virtual. Mengedukasi pemain tentang dampak negatif perilaku “toxic” dan mendorong perilaku “supportive” dapat dilakukan melalui kampanye dalam game atau program komunitas. Menurut Kowert dan Oldmeadow 2015, “pendekatan edukatif berbasis komunitas mampu meningkatkan kesadaran sosial pemain, sekaligus memperkuat solidaritas antar anggota komunitas”.

Selain itu, Komunitas Game PUBG itu sendiri dapat berperan sebagai pengawas sosial yang membantu menciptakan suasana positif. Pemain yang memiliki pengaruh besar dalam komunitas, seperti streamer atau pro player, dapat memberikan contoh perilaku yang baik, sehingga mendorong anggota lain untuk mengikuti perilaku tersebut. Studi oleh Pratama 2022 menunjukkan bahwa pemain dengan status sosial tinggi di komunitas online sering berperan sebagai agen perubahan dalam membangun budaya komunikasi yang sehat.***

Arzan Malika Satriawan

 

 

 

Haruskah Usia Pengguna Media Sosial di Indonesia Dibatasi?

0

Bogordaily.netMEDIA sosial saat ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern, salah satunya di kalangan anak-anak dan remaja. Media sosial begitu mudah diakses sehingga rata-rata dari berbagai usia (anak-anak hingga orang dewasa) dapat mengaksesnya dengan mudah.

Banyak sekali masyarakat Indonesia yang kegiatan sehari-seharinya dihabiskan hanya untuk scrolling di media sosial dan akhirnya membuang-buang waktu tersebut. Bermain media sosial tentunya diperbolehkan, tetapi perlu batasan agar tidak menimbulkan dampak-dampak buruk pada penggunanya.

Banyak sekali anak-anak dan para remaja yang akhirnya menjadi candu dalam bermedia sosial. Rata-rata mereka yang kjecanduan merupakan anak di bawah umur yang bermain media sosial, tanpa pengawasan orang tua.

Anak-anak itu memiliki kondisi kesehatan mental yang buruk, bahkan sampai tidak bisa mengontrol emosinya ketika berinteraksi langsung dengan orang lain apalagi orang tua.

Hidupnya sudah merasa senang berada di dunia maya. Kondisi ini justru harus segera di atasi baik dari internal oleh keluarga dan juga eksternal oleh pemerintah karena sudah banyak sekali anak-anak di bawah umur yang mengalami dampak buruk karena terlalu sering menggunakan media sosial.

Maka dari itu, pemerintah Indonesia berencana untuk menerapkan aturan pembatasan usia bagi pengguna media sosial. Rencana ini bertujuan untuk melindungi anak-anak dari risiko penggunaan media sosial yang tidak terkontrol. Namun, apakah benar pembatasan ini akan efektif? Atau justru hanya menjadi aturan yang sulit diterapkan? Mari kita telaah lebih lanjut.

Dampak Negatif Penggunaan Media Sosial yang Berlebihan
Banyak sekali anak di bawah umur yang menggunakan media sosial tanpa batasan waktu yang ditentukan, hal ini akhirnya membuat pola hidup anak tidak terkontrol dengan baik, rata-rata para pengguna media sosial di bawah umur pola tidurnya terganggu, begadang setiap malam menjadi asupan banyak pengguna hanya untuk bermain media sosial.

Dapat terlihat bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengganggu pola tidur anak menjadi tidak sehat. Penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan perkembangan sosial anak-anak dan remaja. Hal ini dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan gangguan tidur.

Menggunakan media sosial tanpa batasan waktu yang ditentukan bisa membuat anak di bawah umur menjadi candu dalam bermedia sosial, sebab algoritma media sosial membuat penggunanya ketagihan dalam menggunakan aplikasi tersebut. Konten-konten menarik terus bermunculan membuat pengguna tidak bisa stop scrolling media sosial.

Belum lagi fenomena cyberbullying yang semakin marak di platform-platform media sosial, tentunya pengguna yang aktif di media sosial berisiko terkena bullying online, hal ini dapat menyebabkan anak-anak dan para remaja mengalami tekanan mental akibat komentar negatif atau perundungan daring.

Selain itu, proses belajar juga dapat terganggu. Banyak anak yang kesulitan fokus karena lebih tergoda untuk membuka media sosial dibanding mengerjakan tugas sekolah. Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menurunkan konsentrasi dan kemampuan berpikir kritis.

Anak-anak di bawah umur yang menggunakan media sosial tentunya tidak sepenuhnya memahami ketika mereka menerima sebuah berita atau informasi, mereka tidak tahu apakah itu benar atau palsu, apalagi ketika mereka menerima konten yang tidak sesuai dengan umur mereka, ini sangat berbahaya dan benar-benar bisa mengganggu perkembangan moral dan emosionalnya.

Kehidupan sosial anak di bawah umur juga dapat terganggu karena kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk berinteraksi melalui media sosial daripada bertemu langsung. Ini bisa menurunkan keterampilan komunikasi di dunia nyata.

Manfaat Jika Waktu Penggunaan Media Sosial Dibatasi
Jika aturan pembatasan waktu dan usia dalam penggunaan media sosial diterapkan dengan baik, ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh, yaitu anak-anak dan remaja dapat lebih fokus pada aktivitas lain yang lebih bermanfaat, seperti belajar, membaca, berolahraga atau ikut komunitas luar yang sering bersosialisasi dengan banyak orang di dunia nyata.

Dengan waktu penggunaan yang lebih terkendali, mereka juga bisa mengembangkan keterampilan sosial di dunia nyata, bukan hanya di dunia maya. Hal ini bertujuan untuk membangun kesadaran para pengguna yang sudah candu dalam bermedia sosial terutama para anak-anak yang masih di bawah umur agar mereka tidak terjebak dalam ketergantungan digital yang berlebihan.

Selain itu, pembatasan ini dapat membantu mengurangi risiko paparan konten negatif, seperti berita palsu, cyberbullying, atau konten yang tidak sesuai dengan usia mereka dan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kesehatan mental, serta mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik dan sehat.

Selain aspek kesehatan mental, manfaat lain yang dapat dirasakan adalah meningkatnya produktivitas dan kreativitas.

Dengan adanya pembatasan di media sosial, anak-anak dan remaja dapat lebih termotivasi untuk mengeksplorasi lebih dalam terkait hobi, mengembangkan keterampilan baru, atau bahkan terlibat dalam kegiatan yang mendukung perkembangan akademik dan emosional mereka.

Pembatasan ini bisa membantu mengurangi risiko kecanduan digital, anak-anak dapat memiliki keseimbangan yang lebih baik antara dunia maya dan dunia nyata.

Selain dampak negatif, manfaat dan penetapan aturan dalam menggunakan media sosial yang akan dilakukan oleh pemerintah, edukasi kepada masyarakat juga tidak kalah penting untuk dilakukan baik kepada orangtua, guru, dan sosialisasi kepada anak-anak di bawah umur untuk membangun kesadaran mereka terkait masalah tersebut.

Orang tua memiliki peran penting dalam mengatur dan mengawasi anak-anak secara langsung ketika mengakses media sosial. Selain itu, platform media sosial juga harus berperan aktif dalam menerapkan fitur parental kontrol dan batasan usia secara lebih ketat.

Membangun kesadaran kepada korban kecanduan media sosial yang banyak menyerang anak di bawah umur sangatlah penting, media sosial bukanlah satu-satunya tempat untuk bersosialisasi atau mencari hiburan. Aktivitas lain yang memiliki manfaat lebih besar dapat dilakukan dan memberikan keuntungan kepada diri sendiri, seperti membaca buku dan menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman di dunia nyata.

Pembatasan usia dalam menggunakan media sosial bukan berarti melarang pengguna sepenuhnya, menggunakan media sosial tentu boleh karena banyak juga manfaat yang didapat dari mengakses media sosial, seperti dari sisi akademisi, kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan baru dan jadi tahu perkembangan yang sedang dialami oleh negara kita.

Rencana pemerintah untuk membatasi usia pengguna media sosial merupakan langkah yang baik. Hal ini dilakukan demi masa depan generasi muda Indonesia. Walaupun ada aturan dari pemerintah, masyarakat juga harus memiliki kesadaran sendiri akan hal ini.

Bijaklah dalam menggunakan media sosial karena itu merupakan kunci agar terhindar dari dampak negatif bermain media sosial secara berlebihan serta sebaliknya kita dapat menerima lebih banyak manfaat dari mengakses media sosial secara teratur. Mulailah mengatur waktu dengan lebih baik lagi ketika ingin bermain media sosial agar hidup menjadi lebih sehat dan produktif!***

Muthiah Azalia Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Pengaruh Fitur Kolom Komentar di Media Sosial terhadap Gaya Komunikasi Remaja

0

Bogordaily.net – Media sosial dapat berpengaruh pada perubahan gaya komunikasi remaja. Media sosial adalah media yang paling sering digunakan oleh masyarakat khususnya para remaja. Salah satu pengaruh gaya komunikasi yang dialami oleh ramaja berasal dari fitur yang ada di media sosial, yaitu kolom komentar.

Kolom komentar juga sering dijadikan para remaja sebagai tempat untuk mengekspresikan diri dan berinteraksi. Selain itu, banyak remaja yang menjadikan fitur komentar sebagai tempat mencari hiburan dengan membaca respons orang lain terhadap suatu unggahan di media sosial. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh gaya komunikasi dalam kehidupan digital remaja.

Fitur Kolom Komentar di Media Sosial sebagai Sarana Ekspresi dan Interaksi

Fitur kolom komentar di media sosial dapat mengubah remaja dalam berkomunikasi. Interaksi di kolom komentar dapat menjangkau relasi yang lebih luas dibandingkan berinteraksi secara langsung. Para remaja dapat berinteraksi dengan banyak orang, seperti selebritas ataupun orang asing.

Selain menjadi tempat berinteraksi satu sama lain terhadap respons suatu unggahan, kolom komentar juga dapat menjadi ruang hiburan bagi remaja.

Mereka sering membuka kolom komentar untuk melihat interaksi para audiens dan mencari kelucuan, sarkasme, atau debat menarik yang terjadi di antara pengguna lain.

Bahkan, dalam beberapa kasus, komentar bisa lebih menghibur daripada konten utama yang diunggah.

Menurut Digital 2023 oleh We Are Social, rata-rata pengguna media sosial di Indonesia menghabiskan waktu 3 jam 11 menit per hari untuk menggunakan media sosial.

Meskipun laporan ini tidak secara spesifik menyebutkan persentase remaja yang membaca komentar sebagai hiburan ataupun hal lainnya, durasi penggunaan yang tinggi menunjukkan bahwa interaksi seperti membaca dan menulis komentar menjadi bagian penting dari aktivitas mereka di media sosial.

Selain itu, banyak remaja memanfaatkan kolom komentar untuk mengekspresikan diri ataupun perasaan mereka terhadap isu atau fenomena yang sedang viral.

Rata – rata para remaja merasa lebih nyaman dan percaya diri ketika dapat mengekspresikan dirinya melalui dunia digital karena dalam berkomentar.

Kita dapat berpikir terlebih dahulu sebelum merespons sesuatu daripada berkomunikasi secara langsung yang harus memberikan respons secara spontan.

Fitur kolom komentar selain dapat menjadi tempat menanggapi atau merespons juga dapat menjadi sarana dalam membentuk opini publik yang mempengaruhi persepsi orang lain.

Dampak Interaksi di Kolom Komentar terhadap Gaya Komunikasi Remaja

Interaksi yang terjadi di ruang publik digital dapat memberikan dampak dan menciptakan gaya komunikasi baru di kalangan remaja, mereka cenderung lebih ekspresif dan spontan.

Gaya bahasa mereka pun lebih singkat dan padat, tetapi memiliki makna yang jelas dan dapat diphami oleh para remaja itu sendiri.

Perubahan gaya bahasa dari adanya fitur kolom komentar di media sosial yaitu penggunaan singkatan, emoji, istilah viral atau singkatan bahasa gaul yang mencerminkan bagaimana remaja menciptakan tren komunikasi sendiri.

Misalnya, frasa seperti “bestie,” “slay,” atau “gws” menjadi bagian dari kosakata sehari-hari yang berawal dari interaksi di media sosial. Gaya bahasa ini mempercepat cara berkomunikasi, tetapi juga bisa membuat generasi yang lebih tua kesulitan memahami maksudnya.

Namun, tidak semua dampaknya bersifat positif. Kebebasan dalam berkomentar harus dibatasi dan digunakan dengan bijak. Berkomentar secara sarkastik dan kurang bijaksana, seperti berkomentar dengan menggunakan kata – kata gaul yang kasar dan berkomentar lain yang dapat menimbulkan risiko.

Hal ini berpotensi menimbulkan mispersepsi, perdebatan yang tidak sehat, hingga cyberbullying.

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, “Tingginya jumlah pengguna internet usia anak menghadirkan ancaman dan risiko yang besar, salah satunya, yaitu perundungan siber (cyberbullying) kepada anak.”

Salah satu dampak lainnya adalah terbentuknya “echo chamber” atau ruang gema digital. Menurut Unsulbar New, dilansir dari Gatra.com, Echo Chamber Effect adalah situasi dimana seseorang enggan mellihat atau mendengar gagasan, perspektif, atau alternatif lain yang berbeda dari perspektifnya sendiri.

Kemudian seseorang itu lebih suka mendengar gagasan dari orang-orang yang pemikirannya seragam dengan dirinya saja.

Dampak echo camber dapat timbul dari berinteraksi di media sosial, dengan munculnya berbagai pendapat dari berbagai pihak para remaja akhirnya cenderung mencari pendapat atau perspektif yang hanya diinginkan tanpa meamastikan benar salahnya hal tersebut.

Dikutip dari Unsulbar News “efek dari echo camber, yaitu mereka akan terus kekeh dengan pendapat masing-masing. Seakan tutup telinga dengan pendapat orang lain. Berakhir mereka akan kesulitan menemukan solusi dari suatu permasalahan atau peristiwa yang terjadi.”

Oleh karena itu, remaja harus selektif dan kritis dalam menerima informasi di kolom komentar karena tidak semua informasi yang beredar di media sosial dapat dipercaya.

Remaja perlu memiliki kesadaran dalam melihat berbagai perspektif ataupun argument seseorang, menerima informasi dari kolom komentar dan berkomentar secara bijak agar terhindar dari dampak negatifnya.

Fitur komentar di media sosial telah mengubah gaya komunikasi atau cara remaja berkomunikasi, komunikasi yang secara spontan dan singkat serta timbul berbagai macam bahasa gaul yang baru dan digunakan untuk berkomunikas sehari – hari di media sosial melalui fitur kolom komentar.

Adanya fitur ini tidak hanya digunakan sebagai sumber hiburan, tetapi juga sebagai wadah untuk mengekspresikan opini, mencari informasi baru dan membangun komunitas digital. Kebebasan dalam berkomentar juga membawa tantangan, terutama dalam hal etika dan dampaknya terhadap hubungan sosial.

Maka dari itu, penting bagi remaja untuk memahami konsekuensi dari setiap komentar yang mereka buat agar tidak menimbulkan konflik atau dampak negatif bagi orang lain.

Selain itu, remaja harus lebih selektif dalam menerima informasi di kolom komentar, memastikan bahwa informasi yang disampaikan benar dan terbuka serta menghargai dari setiap perbedaan perspektif yang ada agar para remaja dapat memanfaatkan media sosial secara positif, menjadikannya sebagai ruang interaksi yang baik, edukatif, dan menghibur.***

Muthiah Azalia Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Sakit Akibat Rokok Tidak Ditanggung BPJS: Solusi atau Diskriminasi?

0

Bogordaily.net – Merokok telah menjadi kebiasaan yang mengakar dalam budaya masyarakat Indonesia. Tidak hanya orang dewasa, bahkan anak di bawah umur pun sudah banyak yang merokok. Fenomena ini mencerminkan lemahnya pengawasan dan kurangnya edukasi terkait bahaya merokok.

Banyak remaja yang terjerumus dalam kebiasaan ini karena pengaruh lingkungan, pergaulan, serta mudahnya akses terhadap rokok.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan Kementerian Kesehatan, jumlah perokok aktif diperkirakan mencapai 70 juta orang.

Kelompok usia 15-19 tahun merupakan kelompok perokok terbanyak (56,5%), diikuti oleh usia 10-14 tahun (18,4%). Hal ini tentu menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Banyak faktor yang memicu seseorang untuk merokok, seperti pengaruh lingkungan, stres, kebiasaan sosial, hingga ketergantungan nikotin.

Sayangnya, kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada perokok itu sendiri, tetapi juga terhadap lingkungan sekitar melalui asap rokok yang mengandung zat berbahaya.

Perokok pasif, termasuk anak-anak dan ibu hamil, turut menjadi korban dari kebiasaan ini, meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan komplikasi kesehatan lainnya. Selain itu, lingkungan juga terdampak oleh limbah puntung rokok yang mencemari tanah dan air.

Menurut data Kementerian Kesehatan, rokok menjadi penyebab utama berbagai penyakit kronis, seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, stroke, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa lebih dari 200.000 orang di Indonesia meninggal setiap tahunnya akibat penyakit yang berkaitan dengan konsumsi tembakau.

Angka ini menunjukkan betapa besar dampak negatif rokok terhadap kesehatan masyarakat.

Dampak kesehatan ini tentu berujung pada beban finansial yang besar bagi negara, terutama dalam sistem jaminan kesehatan seperti BPJS Kesehatan.

Berdasarkan laporan BPJS, penyakit akibat rokok menghabiskan anggaran yang signifikan, yang seharusnya dapat dialokasikan untuk penyakit lain yang tidak disebabkan oleh gaya hidup buruk.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah negara harus terus menanggung biaya pengobatan bagi mereka yang secara sadar merusak kesehatannya sendiri?

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa banyak penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan, yang seharusnya termasuk dalam kategori masyarakat kurang mampu, tetap mengonsumsi rokok.

Studi menunjukkan bahwa sebagian besar perokok berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah, yang ironisnya masih mengalokasikan dana untuk membeli rokok meskipun memiliki keterbatasan ekonomi.

Ini memicu perdebatan tentang efektivitas subsidi kesehatan bagi kelompok ini jika mereka tetap mempertahankan kebiasaan merokok.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti, menilai banyak penerima bantuan iuran yang tidak mampu masih mengonsumsi rokok dan cenderung abai dengan kesehatannya.

“Saya contohkan tahun 2024 sampai akhir 2024 itu BPJS Kesehatan bayar berbagai penyakit yang berbiaya katastropik itu seperti jantung, kanker, gagal ginjal, dan lain-lain, ya itu sekitar Rp34 triliun atau sehari itu kurang lebih Rp1,7 juta kunjungan atau Rp615 juta per tahun,” kata Ali Ghufron Mukti dalam tayangan Metro Pagi Primetime, Metro TV, Sabtu, 4 Januari 2024.

Meski demikian, Ali menyampaikan bahwa saat ini belum ada ketentuan terkait penyakit akibat rokok yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Ia mengatakan apapun penyakitnya, asalkan sesuai indikasi medis, pasti dijamin BPJS Kesehatan.

Usulan agar BPJS tidak menanggung biaya pengobatan penyakit akibat rokok pun menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, kebijakan ini dinilai sebagai langkah tegas untuk mengurangi angka perokok dan mencegah pemborosan anggaran negara.

Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa kebijakan ini bersifat diskriminatif dan bertentangan dengan prinsip hak atas layanan kesehatan yang seharusnya berlaku bagi semua warga negara tanpa pengecualian.

Menurut pendapat saya, kebijakan ini bisa menjadi solusi untuk menekan angka perokok, tetapi harus diterapkan dengan strategi yang adil dan bijaksana.

Tidak serta-merta mencabut hak layanan kesehatan, tetapi lebih kepada pemberian konsekuensi bagi perokok aktif agar lebih sadar akan dampak dari kebiasaan buruk mereka.

Misalnya, bisa diterapkan mekanisme tambahan biaya bagi perokok yang ingin mendapatkan layanan BPJS untuk penyakit yang berhubungan dengan rokok.

Sistem ini serupa dengan yang diterapkan di beberapa negara lain, seperti Singapura, di mana perokok harus membayar premi asuransi yang lebih tinggi daripada non-perokok.

Sebagai alternatif solusi, pemerintah bisa menggalakkan program edukasi yang lebih masif tentang bahaya rokok, memperketat regulasi distribusi dan konsumsi tembakau, serta meningkatkan pajak rokok secara signifikan untuk mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk ini.

Selain itu, pendapatan dari pajak rokok dapat dialokasikan khusus untuk pembiayaan kesehatan masyarakat agar lebih berkeadilan.

Mengingat bahwa semakin banyak perokok di usia muda menjadi kekhawatiran bagi masa depan negara, hal ini berkaitan dengan kualitas kesehatan generasi mendatang.

Kita tidak ingin melihat generasi penerus bangsa ini rusak akibat rokok yang dikonsumsi sejak muda.

Meskipun kebijakan untuk tidak menanggung biaya pengobatan akibat rokok dalam BPJS memiliki dasar yang kuat, pendekatan yang lebih komprehensif tetap diperlukan.

Edukasi, regulasi ketat, serta kebijakan kesehatan yang berkeadilan harus menjadi prioritas utama dalam upaya mengurangi dampak buruk rokok di Indonesia.

Dengan demikian, tidak hanya anggaran negara yang bisa lebih efisien, tetapi juga kualitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan dapat meningkat.***

Najma Filljannah

 

 

 

Muhammad Rahadian Nur Dipa Kusumah: Dedikasi dalam Pendidikan dan Pengembangan Akuakultur

0

Bogordaily.net – Muhammad Rahadian Nur Dipa Kusumah merupakan lulusan Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, angkatan 57. Saat ini, ia berperan sebagai asisten dosen di Sekolah Vokasi (SV) IPB Kampus Sukabumi dan merupakan alumni SMAN 26 Bandung. Ketertarikannya menjadi asisten dosen bermula dari kerja sama antara Bandung dan SV IPB dalam menjalankan budidaya di Sukabumi.

Dalam beberapa mata kuliah, mahasiswa diharuskan memelihara ikan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ketika SV IPB membuka kesempatan bagi lulusan untuk menjadi asisten dosen, Rahadian merasa ada panggilan untuk memberikan timbal balik kepada program studinya serta berkontribusi dalam mendidik mahasiswa.

Sebagai asisten dosen, Rahadian mengampu beberapa mata kuliah, di antaranya Usaha Akuakultur, Komunikasi Perikanan Budidaya, dan Praktik Produksi Ikan. Tugas utamanya mencakup membantu dosen dalam menangani berbagai tugas akademik, mewakili dosen di kelas maupun di lapangan, serta menjadi penghubung antara mahasiswa dan dosen.

Menghadapi mahasiswa dengan berbagai latar belakang, karakter, dan tingkat pemahaman menjadi tantangan tersendiri. Ada mahasiswa yang unggul secara akademik, sementara ada pula yang membutuhkan pendekatan lebih intensif dalam memahami materi.

Pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga bagi Rahadian dalam menyampaikan materi agar dapat dipahami oleh semua mahasiswa. Melalui komunikasi yang baik di luar kelas, ia menemukan cara efektif untuk menjembatani kesenjangan pemahaman, sehingga mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari.

Momen ketika mahasiswa akhirnya memahami dan berhasil menerapkan apa yang telah diajarkan menjadi pencapaian yang sangat membanggakan bagi Rahadian.

Selain berperan sebagai asisten dosen, Rahadian juga aktif dalam dunia kompetisi akuakultur, khususnya di bidang ikan koi. Pada tahun 2022, ia meraih 8th All Indonesia Breeder Koi Show 2022 diselenggarakan di BBAT Sukabumi.

Saat menjadi asisten dosen ia terus membimbing mahasiswa tingkat bawah untuk mengikuti perlombaan, sehingga mereka dapat meraih prestasi. Saat ini, Rahadian tengah mengembangkan proyek lanjutan dari tugas akhirnya, yakni menulis buku mengenai ikan hias koi, yang diharapkan dapat diterbitkan dalam waktu dekat.

Kecintaannya terhadap akuakultur, khususnya ikan hias koi, membuatnya terus berupaya meningkatkan kualitas perikanan di Jawa Barat. Menurutnya, potensi ikan koi di Jawa Barat sangat besar, tetapi hanya beberapa daerah yang mampu mencapai produksi optimal.

Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya produksi ikan koi di Jawa Barat adalah sistem pembudidayaan yang masih bersifat turun-temurun tanpa dukungan akademik yang kuat.

Oleh karena itu, Rahadian dan rekan-rekan akademisi perikanan berupaya meningkatkan kualitas produksi ikan melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Muhammad Rahadian, berharap bahwa dengan terus belajar dan menerapkan dasar-dasar akuakultur secara lebih modern, mereka dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.

Menurutnya, setiap orang dapat menjadi panutan, karena setiap individu memiliki ilmu dan pengalaman yang berharga untuk dipelajari. Dalam dunia perikanan, ia menjadikan dosen dan para senior di program studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan sebagai inspirasinya.

Ia juga menekankan pentingnya fokus dalam dunia perkuliahan. Mahasiswa yang memiliki target akademik harus menjadikan fokus sebagai kunci utama menuju kesuksesan.

Setelah fokus utama tercapai, barulah mereka dapat mengikuti kegiatan lain yang bermanfaat bagi perkembangan pribadi dan profesional mereka di masa depan.

Ke depan, Rahadian berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister, terutama jika program magister terapan di bidangnya telah tersedia.

Saat ini, ia terus menjalani perannya sebagai asisten dosen dan berkontribusi dalam pengembangan program studi.

Muhammad Rahadian berharap kualitas pendidikan di kampus, baik dari segi fasilitas, tenaga pengajar, maupun asisten dosen, dapat terus meningkat.

Selain itu, ia juga menginginkan adanya dosen tetap yang ditempatkan di Kampus Sukabumi agar mahasiswa dapat memperoleh bimbingan akademik secara lebih optimal.

Bagi mahasiswa tingkat akhir yang tertarik menjadi asisten dosen, Muhammad Rahadian, menekankan bahwa motivasi utama dalam menjalankan peran ini seharusnya bukanlah faktor finansial, melainkan bentuk pengabdian kepada program studi dan dosen yang telah memberikan ilmu berharga.

Apapun yang dikerjakan, lakukanlah dengan ikhlas, karena dengan ketulusan dan dedikasi, setiap usaha akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi diri sendiri maupun orang lain.***

Najma Filljannah