Bogordaily.net – Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz kini benar-benar berada dalam bayang-bayang konflik. Jalur laut yang selama ini sibuk itu mendadak mencekam. Bukan karena badai. Tapi karena rudal.
Ketegangan antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat membuat Selat Hormuz seperti ruang tunggu yang penuh kecemasan. Kapal-kapal tanker memilih menahan diri. Mereka tidak lagi berani melintas seperti biasa. Risiko terlalu besar.
Di tengah situasi itu, dua kapal milik Pertamina ikut tertahan. Belum bisa bergerak. Menunggu kepastian yang tak kunjung pasti.
Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran, komunikasi terus dibangun. Diplomasi dijalankan—pelan, tapi intens.
“Kedubes Iran telah sampaikan pertimbangan positif Pemerintah Iran atas keamanan perlintasan kapal milik Pertamina Group di Selat Hormuz,” ujar Yvonne Mawengkang, Ahad (28/3).
Ada secercah harapan. Tapi belum cukup.
Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz masih harus menunggu. Masih ada detail teknis yang diminta pihak Iran. Data kapal. Spesifikasi. Informasi yang tampak sepele, tapi menentukan.
KBRI di Teheran terus menjembatani. Komunikasi disebut berjalan positif. Namun, diplomasi saja tidak cukup. Ada faktor lain yang tak kalah penting: kesiapan dari Pertamina sendiri.
Asuransi harus jelas. Perlindungan harus kuat. Awak kapal harus siap. Tidak bisa setengah-setengah. Dalam situasi seperti ini, satu kelalaian bisa berakibat fatal.
“Diperlukan kesiapan teknis oleh pihak Pertamina, termasuk perlindungan asuransi dan kesiapan kru kapal,” tegas Yvonne.
Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz kini bukan sekadar soal logistik energi. Ini soal keselamatan. Soal strategi. Soal bagaimana sebuah negara melindungi asetnya di tengah pusaran konflik global.
Koordinasi lintas pihak terus dilakukan. Semua bergerak dalam satu irama: hati-hati.
Karena di Selat Hormuz, kesalahan kecil bisa menjadi berita besar.***
