Home Blog Page 1015

Gimana Ya Caranya Bertahan Kalau Hidup Lagi Gak Mulus?

0

Bogordaily.net – Rasanya kalau ditanya, hidup ini bakal selalu mulus aja ga ya? hidup ini gampang ga ya dijalaninnya? Jawabannya udah jelas, engga dong! Tapi ya gapapa, justru itulah seni kehidupan Dari situ kita akan meneukan jalan bagai mana caranya bertahan. Pada tulisan kali ini, aku mau sedikit ceritain gimana sih salah satu perjalanan yang menjadi fase spektakuler dari hidupku.

Waktu itu aku duduk di bangku SMA, lagi masa kelas 12 pas sibuk-sibuknya ngerjain banyak tugas dan projek tapi di satu sisi juga harus mikirin buat ke depannya mau gimana. Alhamdulillah pada saat menerima pengumuman kuota SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi) namaku masuk ke dalam salah satu kuota pesertanya.

Aku merasa senang sekali, karena ini adalah cara masuk perguruan tinggi yang paling banyak diinginkan oleh banyak orang, kenapa? jelas karena ga perlu ada proses pengerjaan sesuatu, tinggal daftar dan milih jurusan yang dituju apa, sehabis itu tunggu pengumannya deh.

Pemilihan jurusan serta kampus mana yang ingin dituju dalam SNBP bukan merupakan hal yang mudah. Aku harus memertimbangkan dari berbagai macam sisi, mulai dari bagaimana track record sekolah di kampus tersebut, apakah nilaiku rasional untuk masuk ke jurusan dan kampus tersebut, apakah aku ada prestasi penunjang yang dapat didaftarkan, dan bagaimana persaingan bahkan dengan teman satu sekolah lainnya.

Seringkali diriku bersama teman-teman konsultasi ke ruangan BK bertemu dengan guru BK untuk mencari tahu bagaimana baiknya untuk kami memilih jurusan dan universitas agar mendapatkan kesempatan besar untuk diterima.

Aku merasa dilema dalam memanfaatkan kesempatan ini, apakah aku harus optimis atau realistis? Kesempatan masuk perguruan tinggi lewat jalur SNBP bukan merupakan hal yang bisa didapatkan oleh semua orang, ini merupakan kesempatan emas bagiku untuk bisa melaju ke perguruan tinggi, pikirku waktu itu. Setelah berbagai konsultasi, akhirnya aku memantapkan diri untuk memilih pilihan yang realistis tapi juga sesuai dengan minat yang aku mau.

Waktu itu aku ingat sekali, kalau pengumuman jalur SNBP ini ada di bulan puasa, di minggu pertama bulan puasa. Meskipun jujur aku sangat berharap bisa masuk melewati jalur ini, aku tetap berusaha memersiapkan diriku untuk masuk melewati jalur lainnya, yakni jalur SNBT (Seleksi Nasional Berbasis Tes) UTBK. Perlahan-lahan aku belajar sedikit demi sedikit guna memersiapkan diriku terhadap kemungkinan terburuk yang bisa aku dapat.

Kalau boleh jujur, waktu itu sembari aku menunggu pengumuman SNBP, aku mempunyai firasat bahwa hal yang aku inginkan ini tidak akan mudah tercapai. Feelingku diperkuat dengan beberapa kali selama masa ini, aku mengalami kejadian yang tidak mengenakan, seperti aku yang tiba-tiba sering ada hambatan di jalan yang mengakibatkan aku terlambat masuk sekolah, ada musibah terkait kendaraan yang dipakai oleh ayahku, ada musibah yang menimpa keluargaku, dan lain-lain.

Semua peristiwa itu terjadi seperti sebuah rangkaian kereta, seolah-olah aku berada disebuah persimpangan kereta yang menunggu untuk bisa melewati persimpangan tersebut karena ada kereta yang sedang berjalan.

Sampai di suatu titik, aku merasa kalau aku akan mendapatkan satu tantangan yang paling berat sebelum akhirnya aku bisa berhasil.

Aku terus menunggu dan memersiapkan diriku sehingga sampailah pada hari pengumuman. Hasil dari seleksi tersebut diumumkan pada pukul 3 sore secara serentak.

Aku yang berdiskusi bersama teman-teman akhirnya mulai mendapatkan kabar dari mereka tentang bagaimana hasil dari pengumumannya. Aku sangat senang melihat ada teman kelasku dan teman baikku bisa lolos dalam seleksi ini.

Rasanya bangga sekali, tapi bagaimana dengan diriku? Apakah perasaan senang dan bangga ini juga bisa aku rasakan pada diriku sendiri? Ternyata tidak.

Setelah aku Shalat Ashar, aku membuka pengumuman tersebut di depan ibuku sambil meminta restu, ternyata hasilnya aku ditolak.

Aku tidak merasakan apa-apa pada saat itu, hanya memandangi layar dan berkata “Yaudah gapapa” pada diriku sendiri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perasaan kecewa mengaliri diriku, salah satu mimpiku pupus. Aku memutuskan untuk rehat selama satu hari untuk menjernihkan pikiranku. Lankah itu sebagai caranya bertahan dalam menjalani hidup.

Selama menjernihkan pikiran, aku berusaha untuk introspeksi diri apakah ada yang kurang dari yang aku lakukan, atau apakah ada yang salah dari yang aku usahakan.

Pada saat itu, aku kembali terfikirkan tentang perasaanku yang mengatakan kalau ada satu tantangan paling berat sebelum akhirnya aku bisa berhasil, awalnya aku pikir perasaanku salah karena tidak ada kejadian apapun yang terjadi sampai hari pengumuman.

Namun, aku tersadar kalau sebenarnya tantangan paling berat adalah justru ketidaklulusanku itu pada seleksi SNBP. Aku tersadar dan memang mungkin sudah rezeki dan jalanku untuk berusaha lebih terlebih dahulu sebelum mencapai apa yang aku impikan.

Aku mulai belajar dengan rutin untuk mendapatkan skor terbaik dari UTBK dan bisa lolos di jurusan dan universitas yang aku inginkan. Saat itu sedang bulan puasa, setelah sahur aku ibadah dan istirahat sejenak, lalu bangun dan mulai belajar pukul 9 pagi. Caranya bertahan untuk mencapai tujuan.

Aku belajar sampai pukul 12 siang dan setelahnya istirahat. Dilanjutkan kembali pada pukul 1 sampai Ashar. Setelah itu istirahat dan melakukan pengingatan pelajaran pada malam harinya.

Aku melakukan aktivitas rutin itu selama satu bulan lebih, sampai aku sendiri sudah lelah rasanya untuk belajar. Sembari belajar, aku juga memerkuat ibadahku sebagai salah satu jalan agar doa dan pilihanku diridhai dan bisa terwujud.

Rasanya semua caranya bertahan, tidak mudah, aku berulang kali belajar sesuatu yang sebenarnya aku sendiripun tidak paham bagaimana maksudnya. Namun, aku tidak bisa menyerah karena ada impian diriku dan orang tuaku yang aku perjuangkan. Setelah sekian purnama, akhirnya tiba pada saat hari pelaksanaan ujian.

Aku pergi ke salah satu universitas ditemani oleh kedua orang tuaku. Aku meminta restu dan kelancaran untuk mengerjakan agar bisa diberikan hasil yang terbaik. Aku mengerjakan sebaik yang diriku bisa dan akhirnya aku dinyatakan lulus berdasarkan hasil tes tersebut.

Perjalanan ini merupakan fase yang spektakuler dalam hidupku. Aku merasa bahwa memang segala sesuatu dalam hidup kita pasti tidak sesuai dengan keinginan kita.

Rasanya terkadang susah untuk menerima kenyataan tersebut dan merasa jika kenapa kita harus ada dalam keadaan seperti ini? Tapi justru itulah dinamikanya, seninya berkehidupan. Jika kita selalu hidup dalam kenyamanan, keamanan, tidak ada gejolak yang kita rasakan untuk mau lebih mengusahakan sesuatu kedepannya.

Sebab justru, semangat juang bisa jadi faktor utama penentu keberhasilan dari suatu usaha. Semakin tinggi semangat juang, maka semakin tinggi kegigihan kita dalam mengejar sesuatu. Orang yang berbakat akan kalah dengan orang yang giat untuk selalu berusaha, itulah kuncinya.

Setiap fase dalam perjalanan hidup kita pasti memiliki makna dan hikmahnya masing-masing. Selalu nikmati proses perjalanannya karena inilah yang menjadi cerita dan melukis bagaimana diri kita untuk kedepannya. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk semua orang yang membaca dan tengah berjuang dalam perjalanan hidupnya. Semangat ya semuanya!***

Balyan Firjatullah
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Pengaruh Influencer dan Media Sosial Terhadap Penyebaran Judi Online di Indonesia

0

Bogordaily.net – Judi online telah menjadi fenomena yang semakin mengkhawatirkan di Indonesia selama 4 tahun kebelakang. Terutama dengan pengaruh signifikan influencer dan media sosial dalam penyebarannya ditambah kondisi regulasi serta kemudahan mengakses situs – situs ilegal, menjadikan judi online tempat bertaruh hidup yang didominasi masyarakat menengah kebawah, tentu kondisi ini sangat menghawatirkan.

Judi online adalah aktivitas perjudian yang dilakukan melalui platform internet, memungkinkan individu untuk memasang taruhan pada berbagai permainan seperti poker, taruhan olahraga, slot, dan lainnya tanpa harus mengunjungi lokasi fisik.

Kemajuan teknologi dan akses internet yang semakin luas telah memudahkan masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas ini, ditambah kondisi regulasi dan peraturan yang berhubungan dengan hal ini tidak dikawal dengan ketat dan baik, celah tersebut dimanfaatkan langsung oleh para bandar judi online.

Penyebaran judi online di Indonesia dimulai pertama kali pada tahun 1994 dan mengelami perkembangan pesat pada masa Covid-19. Meningkatnya penetrasi internet dan penggunaan smartphone.

Platform judi online memanfaatkan celah regulasi dan kurangnya pengawasan untuk menawarkan layanan mereka kepada masyarakat Indonesia. Iklan-iklan yang menarik dan penawaran bonus menggiurkan menjadi strategi utama untuk menarik pengguna baru.

Media sosial telah menjadi alat pemasaran yang efektif bagi berbagai produk dan layanan, termasuk judi online. Banyak influencer dengan jumlah pengikut yang besar mempromosikan situs judi online, baik secara langsung maupun terselubung.

Penelitian menunjukkan bahwa endorsement oleh influencer memiliki dampak signifikan dalam mempengaruhi minat generasi milenial dan Z terhadap judi online.

Secara konkrit hal yang dilakukan oleh para bandar judi online dengan memberikan donasi pada influencer yang sedang melakukan live streaming di platrfom seperti tiktok ataupun youtube.

Fenomena pemberian donasi yang dilakukan oleh akun judi online sempat menjadi kontroversi karena pada awal nya banyak sekali para influncer yang menerima donasi tersebut dengan sukarela mempromisikan akun judi online tersebut secara berulang.
Kejadian ini tidak hanya kepada satu influencer namun banyak sekali sebab akun judi online sangat rela membakar uang nya hanya untuk promosi.

Kejadian yang lebih miris juga terjadi ketika seoarang influencer sebut saja panggilan nya “kodok” dengan bangga mempromosikan judi online bahkan menantang setiap orang yang kontra dengan nya.

Ditambah serbuan pada kolom komentar yang dilakukan akun judi online pada video youtube yang diunggah para influencer menggunakan bot.

Selain itu, algoritma media sosial cenderung menampilkan iklan video promosi judi online yang dibintangi oleh influencer tersebut, sehingga meningkatkan eksposur dan minat pengguna.

Hal ini menjadi masalah serius karena generasi muda yang merupakan pengguna aktif media sosial menjadi target utama promosi judi online.

Perkembangan Judi online membuat masyrakat resah membawa berbagai dampak negatif dan kerugian

● Kerugian Finansial: Individu yang terlibat dalam judi online berisiko mengalami kerugian finansial yang signifikan, yang dapat berujung pada utang, kehilangan tabungan, hingga harta benda.

● Masalah Kesehatan Mental: Kecanduan judi online dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi. Tekanan akibat kerugian finansial sering kali memicu tindakan tragis, seperti bunuh diri.

● Dampak pada Ekonomi Nasional: Uang yang dihabiskan untuk judi online sering kali tidak berputar kembali ke ekonomi lokal, terutama jika platform tersebut beroperasi di luar negeri. Hal ini menyebabkan potensi pendapatan negara berkurang.

Kondisi kerugian ini sempat dikemukakan oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto akibat judi online negara merugi sampai Rp900 Triliun per tahun yang sebagian besar masuk ke Negara Kamboja hal ini dapat terlihat pada Kota Sihanoukville yang berkembang pesat akibat aliran dana judi online yang masuk.

● Gangguan Sosial: Judi online dapat menyebabkan konflik dalam keluarga dan kerusakan hubungan interpersonal, serta mendorong isolasi sosial karena individu cenderung menarik diri dari lingkungan sekitarnya.

Untuk mengatasi penyebaran judi online, diperlukan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah melalui langkah-langkah berikut:

● Peningkatan Literasi Digital: Masyarakat perlu diberikan edukasi mengenai bahaya judi online dan cara menghindarinya. Program literasi digital dapat membantu individu mengenali dan menghindari konten berbahaya.

● Pengawasan dan Regulasi yang Ketat: Pemerintah harus bekerja sama dengan platform media sosial untuk memperkuat algoritma dalam mendeteksi dan memblokir konten promosi judi.
Selain itu, penegakan hukum terhadap individu atau entitas yang mempromosikan judi online perlu ditingkatkan.

● Kerjasama dengan Influencer: Mengajak influencer untuk menyadari dampak negatif dari promosi judi online dan mendorong mereka untuk menolak tawaran kerjasama dengan platform tersebut.

● Pelaporan oleh Masyarakat: Masyarakat dapat berperan aktif dengan melaporkan konten promosi judi online yang mereka temui di media sosial kepada pihak berwenang atau platform terkait.

● Pengembangan Program Rehabilitasi: Menyediakan layanan konseling dan rehabilitasi bagi individu yang kecanduan judi online untuk membantu mereka pulih dan kembali ke kehidupan normal.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan penyebaran judi online di Indonesia dapat diminimalisir, sehingga melindungi masyarakat dari dampak negatif yang ditimbulkannya.

Judi online sudah seharusnya dapat dibasmi secara merata, efek domino yang ada sangat amat merugikan banyak pihak.

Mulai dari masyarakat hingga negara, kondisi memilukan pun juga sering terjadi akibat judi online.

Pemerintah harus berani menyapu bersih seluruh elemen yang membuat judi online ini menjadi besar dan diperlukan nya gerakan besar guna menyampaikan informasi yang masih terkait larangan dan juga bahaya dari judi online baik melalui sosial media ataupun gerakan nyata secara langsung.***

Muhammad Zaki Ilham

 

Belajar dari Kasepuhan Gelar Alam

0

Bogordaily.net – Pada 7 September 2024, kami memulai perjalanan menuju Gelar Alam, sebuah desa adat yang kami ketahui dari sebuah video dokumenter di YouTube. Video tersebut menampilkan sosok Abah Ugi, seorang ketua adat dengan kepemimpinan inspiratif, meskipun hanya lulusan SMA.

Kata-katanya tentang kebermanfaatan bagi sesama dan kelestarian budaya membuat kami tertarik untuk mengunjungi tempat tersebut. Namun, tujuan kami ke sana masih samar. Ketika ditanya, kami hanya bisa menjawab, “Kami ingin belajar.” Tetapi, belajar tentang apa? Itu masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.

Kami, enam orang, berangkat dari Bogor pukul 10.30 pagi dengan tiga motor. Perjalanan ini sudah kami rencanakan seminggu sebelumnya dengan semangat penuh untuk menjelajahi dan menemukan sesuatu yang baru.

Rute perjalanan kami melewati Cigombong – Cikidang – Pelabuhan Ratu – Gunung Bongkok. Awalnya, perjalanan terasa biasa saja, tetapi begitu memasuki Gunung Bongkok sekitar pukul 14.30, tantangan sesungguhnya dimulai.

Jalur berbatu licin, tanjakan curam, serta naik-turun tanpa sinyal membuat perjalanan semakin sulit. Kami hanya perlu menempuh 24 km dari titik ini ke Gelar Alam, tetapi perjalanan tersebut memakan waktu 5 jam.

Sepanjang perjalanan, kami harus menghadapi berbagai rintangan: motor yang mulai kepanasan, beberapa kali jatuh akibat jalanan yang ekstrem, dan kegelapan malam yang mulai menyelimuti.

Tidak ada sinyal, hanya suara mesin motor yang terus menderu dan rasa lelah yang makin menguji mental kami. Tapi kami terus maju.

Setiap rintangan yang kami lalui terasa seperti gambaran kehidupan—terkadang berat, melelahkan, dan penuh tantangan, tetapi kita harus tetap maju dengan tekad yang kuat.

Selama perjalanan rasanya ingin sekali ingin balik arah namun rasanya tidak ada didalam pilihan namun jika dilanjut sangat berat rasa ingin sekali meneteskan air mata, namun kita tahan demi menjaga mental kami satu sama lain.

Akhirnya, sekitar pukul 21.00, kami tiba di Gelar Alam dengan perasaan lega dan penuh syukur. Di sana, kami disambut hangat oleh masyarakat dan dipersilakan bermalam di balai desa.

Tak hanya itu, kami juga disuguhkan makanan, sebuah bentuk keramahan yang sangat kami apresiasi setelah perjalanan panjang yang melelahkan.

Setelah beristirahat, kami mulai memahami banyak hal dari desa ini. Salah satu yang paling menarik adalah sistem Leuit—lumbung padi tradisional yang mampu menyimpan padi hingga ratusan tahun.

Setiap rumah di Gelar Alam rata-rata memiliki lima leuit yang penuh dengan padi, selain leuit bersama yang digunakan untuk kepentingan komunitas.

Mereka memiliki ketahanan pangan yang luar biasa, hasil dari menjaga warisan pertanian secara turun-temurun.

Di Gelar Alam, pertanian dilakukan dengan penuh penghormatan terhadap alam. Mereka tidak memaksa tanah untuk terus menghasilkan, melainkan memberikan waktu istirahat bagi lahan agar tetap subur.

Hal ini menghasilkan beras organik berkualitas tinggi. Salah satu kebijakan adat yang sangat menarik adalah larangan menjual beras—sebuah filosofi yang sangat dalam.

Menjual beras bagi mereka sama saja dengan menjual kehidupan. Ini mengajarkan kami arti ketahanan pangan sejati dan bagaimana menjaga keseimbangan dengan alam.

Kami juga berbincang dengan beberapa warga yang menjelaskan filosofi hidup mereka. Mereka percaya bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam dan saling menjaga satu sama lain.

Tidak ada persaingan berlebihan, semua saling membantu demi keberlangsungan komunitas. Kami menyadari betapa berbeda pola pikir mereka dengan kehidupan modern yang serba individualistis.

Selain itu, kami belajar banyak tentang kesederhanaan dan rasa syukur. Hal-hal yang sebelumnya kami anggap sepele, seperti jalanan yang bagus, ternyata bisa menjadi sumber kebahagiaan.

Di perjalanan ini, kami benar-benar memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari hal-hal besar, tetapi justru dari kesadaran untuk mensyukuri setiap kemudahan yang kita miliki.

Kami juga diberi kesempatan untuk mencicipi makanan khas mereka, yang semuanya berbahan alami tanpa bahan kimia. Rasanya lebih autentik dan lebih sehat.

Dari sini kami menyadari betapa pentingnya menjaga pola makan yang alami dan lebih menghargai makanan yang kita konsumsi sehari-hari.

Setelah dua hari belajar dan menyerap kebijaksanaan dari masyarakat Gelar Alam, kami bersiap untuk kembali ke Bogor.

Kali ini, kami memilih jalur pulang melalui Kesepuhan Sinar Resmi, yang meskipun masih menantang, tidak seberat jalur Gunung Bongkok.

Perjalanan pulang memakan waktu sekitar 7 jam. Saat menyusuri jalanan kembali ke kota, kami merasakan perubahan dalam diri kami.

Kami tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang dalam. Kami belajar tentang ketahanan, tentang bagaimana menghadapi tantangan dengan tekad yang kuat, dan tentang bagaimana alam bisa menjadi guru yang luar biasa.

Kami juga belajar untuk lebih menghargai sumber daya yang kita miliki dan betapa pentingnya hidup berdampingan dengan alam.

Setelah sampai di Bogor, kami kembali ke kehidupan sehari-hari dengan perspektif baru.

Kami menyadari bahwa ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan ini, tidak hanya tentang fisik yang harus kuat menghadapi perjalanan, tetapi juga tentang mental dan spiritual yang harus selalu siap menghadapi tantangan kehidupan.

Perjalanan ke Gelar Alam bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan spiritual dan mental.

Kami pergi dengan keingintahuan, dan pulang dengan pelajaran hidup yang akan kami kenang selamanya.

Dapat dikatakan bahwa perjalanan ke Kesepuhan Gelar Alam adalah salah satu perjalanan terbaik dalam hidup kami.***

Muhammad Zaki Ilham
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

Fikri Khair Naqli: Menjadi Cahaya di Jalur yang Tak Terduga

0

Bogordaily.net – Di tengah gemuruh dunia akademik yang dinamis, nama Fikri Khair Naqli hadir sebagai sosok muda yang memancarkan keteladanan. Ia bukan hanya seorang akademisi, namun juga seorang pengajar yang berusaha membumikan ilmu dengan penuh keikhlasan.

Sebagai asisten dosen di Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi IPB University, Fikri membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk memberikan kontribusi nyata dalam dunia pendidikan.

Namun perjalanan Fikri bukanlah jalan mulus tanpa tantangan. Kisahnya adalah tentang dedikasi, pilihan, dan keberanian untuk mengejar makna hidup melalui pengabdian di bidang akademik.

Dalam dirinya, ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan amanah yang harus disampaikan dengan adab dan tanggung jawab.
Fikri Khair Naqli lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang menanamkan pentingnya pendidikan sejak dini.

Sejak kecil, ia dikenal sebagai sosok yang tekun dan penuh rasa ingin tahu. Kecintaannya terhadap ilmu tumbuh bersama dengan kedisiplinan yang ditanamkan oleh orang tuanya.

Tak heran, ketika memasuki masa kuliah, Fikri memilih jalur pendidikan vokasi dengan keyakinan kuat bahwa ilmu terapan dapat menjadi bekal nyata untuk berkontribusi langsung dalam masyarakat.

Pilihan jatuh pada Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi IPB University. Di sanalah ia mulai menemukan arah yang lebih pasti dalam hidupnya.

Menjadi bagian dari angkatan 57, Fikri tak hanya menjadi mahasiswa biasa. Ia dipercaya untuk mengemban amanah sebagai ketua angkatan, posisi yang tidak ringan namun ia jalani dengan penuh tanggung jawab.

Peran ini memberinya ruang untuk mengasah kepemimpinan, empati, serta kemampuan komunikasi dalam berbagai dinamika organisasi mahasiswa.

Kepemimpinannya dikenal inklusif dan tegas. Ia mampu menyatukan berbagai latar belakang teman-temannya dalam semangat kolektif untuk tumbuh bersama.

Bagi Fikri, menjadi pemimpin bukan tentang menunjuk arah, tapi berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

Keaktifan Fikri di kampus tidak hanya terbatas dalam lingkup angkatan. Ia juga sering terlibat dalam kegiatan akademik dan non-akademik yang memperkaya pengalamannya.

Namun, minat utamanya tetap berada di dunia akademik. Ia menyadari bahwa panggilan hatinya adalah menjadi seorang pengajar, seseorang yang mampu membagikan ilmu dan membentuk karakter.

Setelah menyelesaikan studinya di Sekolah Vokasi IPB University, Fikri tidak lantas berpaling dari almamater tercintanya.

Ia kembali, bukan sebagai mahasiswa, tapi sebagai asisten dosen di program studi yang sama. Keputusan ini bukan sekadar pekerjaan, tapi wujud nyata dari kecintaannya terhadap dunia pendidikan.

Menjadi asisten dosen bukanlah tugas yang mudah. Di balik persiapan materi kuliah, bimbingan tugas mahasiswa, hingga evaluasi pembelajaran, ada komitmen besar untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Namun bagi Fikri, proses tersebut justru menjadi ruang untuk bertumbuh.

Dalam setiap kelas yang ia dampingi, Fikri berusaha menciptakan suasana belajar yang humanis dan dialogis.

Ia tidak ingin menjadi pengajar yang hanya menyampaikan materi, melainkan ingin menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu menggugah semangat berpikir kritis mahasiswa.

Kecintaannya pada dunia mengajar tidak hanya ia salurkan di ruang kelas kampus.

Di luar jam kerja sebagai asisten dosen, Fikri juga membuka les privat di rumahnya, sebuah inisiatif pribadi yang ia mulai dengan sederhana namun penuh makna.

Bagi Fikri, berbagi ilmu tidak harus selalu melalui jalur formal. Selama ada niat untuk membantu orang lain memahami dan berkembang, di situlah pendidikan sejati terjadi.

Di ruang tamu rumahnya yang sederhana, ia menyulap suasana menjadi ruang diskusi hangat antara guru dan murid.

Ia tak hanya mengajar mata pelajaran teknis, tetapi juga sering menyelipkan nilai-nilai kehidupan, etika, dan motivasi untuk terus belajar.

Jika ditanya apa makna hidup bagi Fikri Khair Naqli, jawabannya sederhana namun dalam: tujuan. Ia percaya bahwa setiap manusia perlu memiliki tujuan yang menjadi arah langkah hidupnya.

Namun, ia juga sadar bahwa jalan menuju tujuan itu seringkali tidak lurus, bahkan kadang menyimpang jauh dari rencana awal.

“Selama tujuannya untuk bermanfaat bagi orang lain, maka tidak masalah jika jalannya berliku,” ungkapnya dalam sebuah sesi wawancara.

Pernyataan itu mencerminkan filosofi hidup Fikri yang matang. Ia tidak terjebak dalam kerangka idealisme sempit, melainkan fleksibel namun tetap berprinsip.

Jalan akademik yang ia tempuh saat ini mungkin bukan rencana awal, namun ia menjalaninya dengan sepenuh hati karena ia melihat ada manfaat besar yang bisa ia berikan di sana.

Satu hal yang selalu Fikri tekankan dalam setiap kesempatan mengajar adalah prinsip “adab sebelum ilmu.” Bagi dirinya, kecerdasan akademik tidak akan bermakna tanpa landasan akhlak yang kuat.

Ilmu yang tinggi tanpa adab justru bisa menjadi bumerang bagi pemiliknya dan lingkungan sekitar.

Dalam interaksinya dengan mahasiswa, ia selalu menanamkan pentingnya sikap hormat, tanggung jawab, dan kesederhanaan. Ia percaya bahwa pengajar yang baik bukan hanya mentransfer ilmu, tapi juga menjadi teladan dalam bersikap.

Prinsip ini ia pegang teguh, bahkan dalam kehidupannya sehari-hari. Di dunia yang semakin pragmatis, Fikri tetap memegang teguh nilai-nilai moral sebagai fondasi setiap langkah.

Ia ingin menjadi sosok yang tidak hanya pintar, tapi juga benar—bukan hanya mengerti, tapi juga menghayati.

Meski telah mencapai berbagai hal di usia muda, Fikri tidak berhenti bermimpi. Ia ingin terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, bukan demi gelar semata, melainkan demi memperkaya kapasitasnya sebagai pengajar.

Ia bermimpi bisa menjadi dosen tetap di perguruan tinggi, menyusun kurikulum, menulis buku ajar, dan terlibat aktif dalam pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia.

Namun lebih dari itu, ia ingin tetap membumi. Ia ingin menjadi pengajar yang tetap bisa menyapa murid secara personal, mendengar keluh kesah mereka, dan hadir sebagai sahabat belajar.

Fikri Khair Naqli adalah cerminan dari generasi muda yang menjadikan ilmu sebagai ladang pengabdian. Ia membuktikan bahwa menjadi bermanfaat tidak harus selalu lewat jalur yang megah atau sesuai rencana.

Terkadang, jalan sunyi yang penuh liku justru membawa kita pada makna hidup yang lebih sejati.

Di tengah dunia yang cepat dan penuh distraksi, sosok seperti Fikri hadir sebagai pengingat bahwa adab, keikhlasan, dan tujuan hidup adalah kunci untuk menjadi manusia yang utuh.

Ia bukan hanya mengajar, tapi juga membentuk generasi—dan di sanalah letak kekuatan sejatinya.***

Muhammad Zaki Ilham

Tanggung Jawab Bisnis dan Kritik Publik: Perspektif dalam Kasus Shella Saukia dan Doktif

0

Bogordaily.net – Kasus yang melibatkan Shella Saukia, seorang selebgram dan pengusaha skincare, dengan Dokter Detektif (Doktif), seorang kreator konten di TikTok, menjadi perbincangan hangat di media sosial. Konflik ini dimulai pada 17 Januari 2025, ketika Doktif mengulas produk skincare milik Shella melalui akun TikTok-nya.

Dalam ulasannya, Doktif menemukan beberapa ketidaksesuaian pada produk tersebut, seperti tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa, komposisi, dan izin edar.

Ulasan negatif ini memicu perseteruan, dengan Shella mengklaim bahwa bisnisnya mengalami kerugian miliaran rupiah akibat ulasan tersebut.

Kejadian ini semakin memanas setelah Shella mendatangi Doktif di sebuah restoran, yang berujung pada konfrontasi fisik. Perseteruan ini semakin viral di media sosial dan menambah ketegangan di antara keduanya.

Shella melaporkan Doktif ke Polda Metro Jaya pada 19 Januari 2025 atas dugaan pelanggaran perlindungan data pribadi, sementara Doktif melaporkan Shella dengan tuduhan pemaksaan dan ancaman kekerasan.

Kasus ini pun membuka diskusi mengenai peran penting transparansi, kredibilitas, dan etika dalam berbisnis di era digital.

Kasus ini juga mencerminkan tantangan besar yang dihadapi oleh para influencer dan kreator konten dalam membagikan pendapat mereka di media sosial.

Baik Shella maupun Doktif memiliki pengaruh besar terhadap audiens mereka, sehingga ulasan atau kritik yang mereka sampaikan memiliki dampak yang sangat luas.

Ulasan negatif, khususnya mengenai produk kesehatan dan kecantikan, bisa memengaruhi reputasi dan finansial perusahaan.

Oleh karena itu, setiap ulasan harus didasarkan pada data yang akurat dan disampaikan dengan profesionalisme agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Salah satu aspek penting yang bisa dipelajari dari kasus ini adalah bagaimana etika dalam mengulas produk harus dijunjung tinggi.

Meskipun kebebasan berpendapat dijamin oleh hukum, terutama di media sosial, ulasan tentang produk—terutama yang terkait dengan kesehatan dan kecantikan—harus dilakukan dengan hati-hati dan disertai bukti yang valid.

Jika menemukan indikasi pelanggaran atau kekurangan pada produk, langkah yang lebih bijak adalah melaporkannya kepada otoritas yang berwenang, seperti BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), bukan langsung mempublikasikannya di media sosial tanpa verifikasi yang memadai.

Kritik yang disampaikan tanpa dasar yang kuat dapat berpotensi merusak reputasi bisnis dan merugikan pihak terkait, bahkan jika produk tersebut sebenarnya telah memenuhi standar yang berlaku.

Itulah mengapa, penting untuk menjaga transparansi dan kejujuran dalam menyampaikan informasi produk kepada konsumen.

Menyembunyikan informasi atau tidak mencantumkan label yang diperlukan pada produk dapat merusak kepercayaan konsumen dan berdampak buruk pada citra merek.

Dalam dunia bisnis, terutama di industri kecantikan, kritik merupakan bagian yang tak terhindarkan.

Namun, respons terbaik terhadap kritik bukanlah dengan serangan balik atau tindakan hukum yang melibatkan emosi, tetapi dengan memberikan klarifikasi yang jelas dan berbasis data yang valid.

Alih-alih mengambil langkah hukum yang dapat memperburuk situasi, dalam kasus Shella Saukia,  sebaiknya menunjukkan kualitas produk skincare-nya dengan melakukan uji ulang oleh lembaga independen yang kredibel.

Dengan cara ini, ia dapat membangun kembali kepercayaan konsumen dan memberikan bukti bahwa produk yang dijualnya memang memenuhi klaim yang diberikan.

Dari sudut pandang komunikasi, kasus ini memberikan gambaran tentang pentingnya komunikasi yang baik, transparansi, dan profesionalisme dalam dunia digital.

Diera media sosial yang semakin berkembang, sebuah bisnis atau individu harus bisa mengelola citra diri mereka dengan bijak.

Komunikasi yang dilakukan secara terbuka, jujur, dan berbasis fakta akan lebih efektif dalam menjaga reputasi dibandingkan dengan respon yang dilakukan berdasarkan emosi semata.

Selain itu, kasus Shella Saukia juga memperlihatkan bagaimana komunikasi dalam dunia digital harus melibatkan pertanggungjawaban.

Semua pihak yang terlibat, baik itu influencer, pengusaha, maupun kreator konten, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap informasi yang disebarkan di media sosial dapat dipertanggungjawabkan.

Kritik yang disampaikan tanpa dasar yang jelas dapat menimbulkan dampak yang luas, baik dari sisi finansial maupun reputasi.

Oleh karena itu, kasus Shella Saukiam penting bagi setiap pihak untuk berkomunikasi secara bertanggung jawab, menjaga integritas, dan menghindari tindakan yang bisa merugikan semua pihak.

Kesimpulannya, jika klaim Doktif mengenai produk Shella terbukti benar dan didasarkan pada data yang valid, maka kritik tersebut bisa dianggap sebagai bentuk edukasi untuk masyarakat mengenai produk kecantikan yang aman dan sesuai standar.

Namun, jika ternyata ada kesalahan dalam analisisnya, maka Doktif harus bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan.

Sebaliknya, jika Shella telah memperbaiki produknya dan memiliki izin yang sah dari BPOM, maka ia sebaiknya mengungkapkan hal tersebut secara terbuka dan berbasis data, bukan dengan mengambil langkah konfrontatif yang hanya akan memperburuk citranya.

Kasus ini mengajarkan kita pentingnya transparansi, komunikasi yang jujur, dan tindakan yang profesional dalam dunia bisnis dan di era digital, untuk memastikan bahwa komunikasi yang terjadi tidak merugikan semua pihak.***

Sella Syahfillah Aishwasam
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

Kota Bogor Diguncang Gempa, Sejumlah Kantor Dinas Rusak

0

Bogordaily.net – Warga Kota Bogor dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 4,1 Magnitudo, pada Kamis 10 April 2025, tepatnya pukul 22:16:13 WIB.

Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi tersebut terletak pada koordinat 6.62 LS dan 106.8 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 2 km tenggara Kota Bogor, Jawa Barat, pada kedalaman 5 km.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Ia juga menyampaikan bahwa telah menerima laporan terkait beberapa kantor dinas yang mengalami kerusakan.

“Kepada seluruh warga, saya mengimbau untuk mengantisipasi apabila terjadi gempa susulan. Sejauh ini, saya telah menerima laporan mengenai kerusakan ringan di beberapa kantor dinas. Harapannya, tentu tidak terjadi kerusakan yang sedang maupun berat di sekitar Kota Bogor,” ucapnya.

Dedie Rachim berharap agar masyarakat tetap berada dalam kondisi aman, pasca diguncang gempa.

Selain itu, ia juga telah mengerahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor, supaya terus melakukan monitoring terhadap potensi bencana.

“Kita berdoa agar tidak terjadi lagi gempa susulan. Untuk itu, saya juga meminta kepada pihak BPBD, agar terus mewaspadai dan mengantisipasi kemungkinan hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujarnya.***

Ibnu Galansa

YONO: Gaya Hidup Baru di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

0

Bogordaily.net – Pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus angka Rp16.000. Ini bukan sekadar kabar ekonomi yang melintas di linimasa. Ini adalah peringatan. Tanda bahwa kondisi ekonomi global sedang rapuh.

Di Amerika, Donald Trump kembali mencuat dengan wacana proteksionisme yang dulu sempat mengguncang pasar dunia. Sementara di dalam negeri, dampaknya mulai terasa: harga-harga naik, biaya hidup pun ikut melonjak.

Dari mahasiswa hingga pelaku UMKM, semua merasakan imbasnya. Namun yang membuat menggelengkan kepala, gaya hidup kita tetap sama: YOLO—You Only Live Once—seolah hidup ini hanya tentang menikmati saat ini tanpa mempertimbangkan masa depan.

Saatnya Meninggalkan YOLO
YOLO sempat menjadi semacam “pedoman hidup” generasi muda. Bepergian ke luar negeri tanpa perencanaan matang, membeli barang bermerek demi unggahan media sosial, berkumpul setiap malam demi eksistensi. Semua dianggap wajar karena katanya, “hidup hanya sekali.”

Namun, kenyataan kini semakin keras. Tagihan bertambah panjang, dompet makin tipis, dan kepala makin penuh. Prinsip YOLO perlahan terasa tidak relevan.

Kita kelelahan secara finansial, hampa secara emosional. Di tengah keresahan itu, lahir satu sudut pandang baru: YONO—You Only Need One.

YONO: Hidup Tak Perlu Banyak, Cukup yang Esensial
YONO bukan sekadar akronim. Ia merupakan cara pandang. Bahwa untuk merasa cukup, kita tidak memerlukan segalanya, kita hanya membutuhkan yang benar-benar penting.

Sepasang sepatu yang tahan lama lebih berharga daripada lima pasang yang hanya demi konten. Satu hubungan yang sehat lebih bermakna daripada menjalin banyak relasi demi pengakuan sosial.

YONO mengajak kita untuk hidup lebih tenang. Memilih mutu, bukan jumlah. Mengurangi dorongan berbelanja hanya karena potongan harga.

Dan mulai memahami bahwa “cukup” bukanlah kekurangan, melainkan bentuk kekayaan yang sering diabaikan.

Hidup Cermat di Tengah Dunia yang Tidak Menentu
Kita mungkin tidak bisa mengendalikan nilai tukar atau kebijakan luar negeri negara adikuasa.

Namun, kita masih dapat mengendalikan satu hal: gaya hidup kita sendiri.

YONO bukan sekadar ajakan menabung atau berinvestasi. Ini adalah soal pola pikir.

Bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari kemewahan, dan hidup sederhana tidak berarti hidup seadanya.

Bukan Soal Pelit, Tapi Soal Prioritas
YONO tidak mendorong kita untuk menjadi pelit, tetapi untuk menjadi bijak.

Ia mengajak kita sadar bahwa gengsi bukanlah investasi. Bahwa mengikuti tren tanpa arah justru membuat kita kehilangan jati diri.

Dan bahwa mereka yang bertahan bukanlah yang paling kaya, melainkan yang paling siap menghadapi krisis dalam ekonomi global.

Di tengah arus digital yang menjunjung tinggi pencapaian dan kemewahan, YONO hadir sebagai penyeimbang.

Ia memberikan ruang untuk jeda, untuk berpikir kembali: apakah semua yang kita kejar benar-benar kita perlukan?

Memang, kita hanya hidup sekali. Namun itu bukan alasan untuk menghabiskannya secara serampangan. Dunia sedang tidak baik-baik saja, dan ini saatnya kita berhenti hidup seolah semuanya akan terus berjalan mulus.

YONO adalah ajakan untuk hidup lebih tenang, lebih sadar, dan lebih siap menghadapi masa depan. Karena pada akhirnya, yang bertahan bukanlah yang paling mencolok, tetapi yang paling tahu arah dan tahu cukup.***

Muhammad Robi Athallah
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB University

Kebakaran Glodok Plaza: Solidaritas hingga Sorotan Kritis, Apa yang Harus Dipelajari?

0

Bogordaily.net – Pada Rabu, 15 Januari 2025, sekitar pukul 21.30 WIB, pusat perbelanjaan Glodok Plaza, kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, telah dilanda kebakaran hebat. Kebakaran ini menelan banyak korban dan menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga korban serta masyarakat. Menurut data terkini, terdapat 12 korban tewas dalam insiden kebakaran di Glodok Plaza.

Kebakaran ini bermula di lantai atas Glodok Plaza, tepatnya di area ruang karaoke, lalu api dengan cepat menyebar ke seluruh gedung. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Namun, analisis awal ahli bencana dari Universitas Indonesia menyebutkan kemungkinan korsleting listrik atau kelalaian manusia sebagai pemicu kebakaran.

Di tengah tragedi ini, media sosial dengan cepat menjadi ajang diskusi masyarakat. Respons terhadap tragedi sangat beragam, ada yang mengungkapkan rasa empati dan kepedulian kepada korban, namun tak sedikit juga yang melontarkan kritik, bahkan menyalahkan korban atau pihak pengelola gedung.

Kalimat ini terlalu panjang dan perlu diperbaiki strukturnya. Bisa dipecah menjadi dua kalimat agar lebih jelas. Karena bencana ini terjadi di klub malam yang sering dikaitkan dengan kelompok sosial tertentu, banyak masyarakat yang memberikan penilaian subjektif.

Beberapa komentar bernada menyalahkan menganggap bahwa para korban ‘pantas’ mendapatkan akibat dari pilihan mereka yang berada di tempat berisiko. Padahal, setiap orang berhak atas keselamatan, terlepas dari tempat atau aktivitas yang mereka pilih. Persepsi ini seringkali mengaburkan pemahaman bahwa setiap orang berhak atas keselamatan, terlepas dari tempat atau aktivitas yang mereka pilih.

Belum lama ini, seorang reporter meliput di tempat kejadian sambil menangis dan menunjukkan empati terhadap tragedi serta para korban. Video ini beredar di media sosial dan memicu banyak empati bahkan hujatan dari masyarakat seperti “Berduka gara2 tempat nya kebakar ga bisa parti” tulis salah satu pengguna TikTok.

Selain itu, kritik terhadap pengelola gedung juga mengemuka. Banyak yang mempertanyakan mengapa sistem keamanan dan pencegahan kebakaran di gedung tersebut tidak lebih baik. Dengan volume pengunjung yang tinggi, pihak pengelola seharusnya memastikan standar keselamatan diterapkan dan dipantau dengan serius.

Namun, tak sedikit juga yang berusaha berempati atas tragedi yang sudah terjadi. “Cukup jadi manusia dlu, empati liat keadaan dlu kalau mau ketik apa2 ya, bahkan kamu melakukan tugas sebagai manusia yang mana memanusiakan manusia aja kamu belum :)” tulis salah satu pengguna TikTok.

Ada juga yang mengomentari “Pdhl kita gatau cara kita meninggal nanti kaya gimana, kita tidak berhak menghakimi siapa pun atas kepergian nya”. Mereka mengomentari karena jengkel pada komentar-komentar masyarakat yang telah mengkritik korban jiwa maupun menilai negatif terkait tragedi yang terjadi.

Berdasarkan hasil analisis terhadap tragedi ini, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mencegah terulangnya bencana yang serupa dan juga belajar untuk memperbaiki respons terhadap tragedi apapun, yaitu:

1. Pertama, masyarakat harus diberi pemahaman tentang bagaimana menggunakan media sosial secara bijak, menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi, dan lebih mengutamakan empati saat berkomentar tentang bencana.

2. Kedua, pengelola gedung dan pihak berwenang perlu melakukan evaluasi menyeluruh terkait sistem keselamatan. Hal ini meliputi peningkatan standar pencegahan kebakaran, penyediaan alat pemadam yang lebih efektif, dan pelatihan evakuasi yang lebih intensif bagi pengunjung dan karyawan.

3. Ketiga, masyarakat perlu diberi pemahaman yang lebih dalam mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap keselamatan pribadi di tempat umum. Program edukasi tentang keselamatan kebakaran harus diperkenalkan lebih luas, baik di tingkat sekolah, tempat kerja, maupun komunitas-komunitas masyarakat.

Kebakaran Glodok Plaza 2025 mengingatkan kita bahwa tragedi dapat terjadi kapan saja, dimana saja, bahkan di tempat yang tidak kita dugaz. Tragedi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya penerapan standar keamanan yang ketat di gedung-gedung publik.

Pemerintah diharapkan melakukan inspeksi rutin dan memastikan setiap fasilitas umum memiliki sistem keselamatan yang memadai, termasuk jalur evakuasi yang jelas dan peralatan pemadam kebakaran yang berfungsi dengan baik.

Namun, lebih dari sekadar mengingatkan kita akan pentingnya keselamatan, peristiwa ini juga mengajarkan nilai empati dan tanggung jawab sosial dalam menyikapi tragedi.

Media sosial harus dimanfaatkan dengan bijak, terutama dalam memberikan dukungan dan menghindari penyebaran informasi yang merugikan. Melalui kerja sama antara masyarakat, pengelola gedung, dan pemerintah, kita dapat mengurangi risiko terjadinya tragedi yang serupa dan memastikan bahwa bencana ini tidak hanya menjadi luka bagi korban, tetapi juga menjadi momentum untuk perbaikan bagi seluruh masyarakat.***

 

Mahliqa Aridha Fatimah
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Penggunaan Image Restoration Theory dalam Menghadapi Krisis Organisasi

0

Bogordaily.net – Reputasi bagi sebuah organisasi merupakan hal yang sangat penting dan harus selalu dijaga dengan baik. Reputasi bagaikan sebuah nyawa dari organisasi. Semakin baik reputasi dari organisasi tersebut, maka publik akan memandang organisasi secara baik. Menjaga reputasi bisa dilakukan dengan melakukan berbagai tindakan positif, contohnya seperti melakukan kegiatan-kegiatan amal, menjaga hubungan antara berbagai stakeholder maupun menangani krisis dalam organisai atau konflik yang terjadi secara baik.

Sebagai sebuah organisasi, wajib hukumnya untuk menyusun langkah-langkah sebagai cara untuk mencegah terjadinya krisis. Namun, sebaik apapun langkah yang dipersiapkan, kemungkinan terjadinya krisis pasti tetap ada. Krisis bersifat abstrak, yang mana dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa aba-aba.

Ketika krisis sudah terjadi, maka diperlukan langkah-langkah pula untuk menghadapinya. Berbagai cara bisa dilakukan, akan tetapi ada salah satu teori yang membahas tentang penanganan krisis, yaitu Image Restoration Theory yang dikemukakan oleh William Benoit.

William L. Benoit merupakan salah satu Profesor di Ohio University. Beliau mencetuskan salah satu teori yang dapat digunakan untuk menghadapi suatu krisis yang berhubungan dengan citra, baik itu citra seseorang maupun citra organisasi.

Image Restoration Theory atau Teori Pemulihan Citra merupakan teori yang memberikan penjelasan tentang cara-cara untuk mengembalikan suatu citra. Dari yang awalnya terkena gempuran krisis sehingga menurunkan citra tersebut, menjadi kembali baik dipandang.

Berdasarkan buku “Accounts, Excuses, and Apologies: A Theory of Image Restoration Strategies.” yang dikarang oleh Benoit, menjelaskan bahwa alasan sebuah citra menjadi buruk dapat disebabkan oleh dua hal.

Bisa disebabkan karena hal yang sengaja yaitu dilakukan sendiri ataupun pesaing. Lalu, secara tidak sengaja, yaitu terjadi karena adanya kesalahan perkataan atau perbuatan.

Mengutip dari artikel “Image repair discourse and crisis communication” karangan William Benoti dijelaskan terdapat lima strategi utama dalam Image Restoration Theory ini.

Denial (Penolakan)
Terdapat dua varian dari strategi Denial. Pertama, dengan menyatakan penolakan sepenuhnya terhadap krisis yang terjadi. Dengan memberikan pernyataan bahwa segala sesuatu yang menjadi tuduhan kepada pihaknya itu bukanlah kebenaran dan hanya kesalahan semata.

(Simple Denial) Kedua, bisa dilakukan dengan mengalihkan kesalahan kepada pihak lainnya. Dengan menyebutkan bahwa pihak lainlah yang bertanggung jawab terhadap kesalahan tersebut. (Shifting the Blame).

Evasion of Responsibility (Menghindari Tanggung Jawab)
Dalam strategi ini terdapat beberapa varian langkah yang bisa ditempuh. Pertama, sebuah pihak dapat memberikan penjelasan bahwa segala tindakan yang dilakukannya merupakan reaksi dari adanya tindakan provokasi dari pihak lain. Pihak tersebut menyebutkan bahwa mereka melakukannya karena terpancing oleh pihak lainnya.

Kedua, Defeasibility. Melakukan pernyataan bahwa segala sesuatu yang terjadi dikarenakan adanya kekurangan informasi atau kekuatan yang cukup dalam situasi tersebut.

Ketiga, Accident. Pengakuan karena hal tersebut terjadi karena hal yang tidak disengaja. Keempat, Good Intention. Pengakuan bahwa hal tersebut awalnya ditujukan untuk niat yang baik, tidak ada tujuan akan akhirnya menjadi hal buruk seperti yang sedang terjadi.

Reducing Offensiveness (Mengurangi Dampak Negatif)
Strategi ini berusaha mengurangi dampak-dampak negatif yang ditimbulkan dari krisis tersebut. Strategi ini memiliki 6 versi yang dapat dilakukan.

Pertama, Bolstering. Dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan positif yang pernah dilakukan pada masa lampau dan terbukti efektif.

Kedua, Minimize. Bertujuan untuk memberikan persepsi kepada publik bahwa konflik atau krisis yang terjadi tidaklah seburuk yang diberitakan, artinya berusaha untuk mengurangi perasaan negatif dari publik terhadap konflik tersebut.

Ketiga, Differentiation. Melakukan perbedaan tindakan yang dilakukan dari yang dilakukan oleh pihak lain yang terkena masalah yang sama atau mirip.

Keempat, Transcendence. Bertujuan untuk memberikan konteks bahwa penanganan tersebut juga dilakukan pada hal yang sama dalam kasus berbeda. Artinya berusaha memberikan kesan bahwa tindakan tersebut juga dilakukan dalam kasus lain dan hasilnya menguntungkan.

Kelima, Attack Acuser. Dilakukan dengan menyerang balik penuduh, mempertanyakan kredibilitas tuduhan yang diajukannya.

Keenam, Compensation. Dilakukan dengan memberi kompensasi kepada pihak yang merasa dirugikan, jika dapat diterima oleh korban, maka citra perusahaan akan kembali membaik.

Corrective Action (Tindakan Korektif)
Strategi ini dilakukan dengan memberikan perjanjian-perjanjian bahwa akan melakukan koreksi atau pembenaran dari konflik-konflik yang tengah terjadi. Perjanjian tersebut dilakukan sebelum adanya tindakan ofensif, sehingga diharapkan dapat mengembalikan citra positif.

Mortification (Permintaan Maaf)
Strategi final dari teori ini adalah permintaan maaf dan memohon untuk diberikan pengampunan atas kesalahan-kesalahannya.

Penerapan dari teori terbukti sudah dilakukan dalam dunia nyata. Salah satunya adalah kasus krisis logistik yang terjadi pada KFC di Inggris tahun 2018. Pada saat itu, KFC terpaksa menutup lebih dari 600 restorannya di Inggris karena kehabisan ayam.

Hal ini terjadi karena adanya masalah dalam jalur distribusi pihak KFC. Pihaknya menggunakan beberapa strategi dari Image Restoration Theory untuk menghadapi krisis yang membuat banyak pelanggannya marah dan merasa kecewa.

Pada awalnya KFC denial menghadapi krisis ini, mereka menyebutkan bahwa krisis ini bukanlah sepenuhnya salah mereka, melainkan dari pihak distribusi yang baru. Diketahui bahwa saat itu, KFC memilih mitra baru untuk distribusinya.

Selanjutnya KFC, melakukan tindakan Reducing Offensiveness dengan strategi compensation. KFC meminta maaf kepada semua pihak dan berjanji untuk segera kembali secepatnya.

Hal tersebut juga membuat KFC menggunakan strategi Corrective Action dengan memberi perjanjian serta langsung mengganti kembali mitra yang baru.

Strategi yang dilakukan KFC berhasil karena citra dan kepercayaan publik terhadap mereknya kembali hadir dan tetap terjaga sampai saat ini.

Penanganan dalam krisis organisasi secara benar, menjadi bukti bahwa teori ini memiliki keberhasilan dalam mengembalikan citra yang menurun di mata publik.

Keberhasilan strategi yang diberikan teori ini bisa berasal dari seberapa cepat organisasi tanggap dalam menghadapi kasus dan kesesuaian strategi yang dipilih untuk dilakukan.

Berdasarkan kelima strategi utama yang menjadi dasar teori yang dikembangkan oleh William Benoit ini, Image Restoration Theory bisa menjadi pilihan langkah-langkah yang dapat digunakan dalam menghadapi krisis.

Penerapan tersebut harus dilakukan secara maksimal dan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki oleh organisasi. Sebaiknya, rencana pencegahan krisis tetap harus dimiliki oleh setiap organisasi agar krisis bukan hanya dapat diatasi, akan tetapi dapat dicegah dari sebelumnya terjadi.***

 

Balyan Firjatullah
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Membangun Kepercayaan Publik Melalui Komunikasi Krisis yang Efektif

0

Bogordaily.net – Komunikasi krisis adalah proses penyampaian informasi yang bertujuan untuk mengelola situasi krisis yang dapat merusak reputasi suatu organisasi atau instansi. Menurut Coombs (2019), komunikasi krisis merupakan strategi penting dalam mengendalikan narasi publik agar dampak negatif dapat diminimalkan. Kepercayaan publik menjadi faktor utama yang menentukan bagaimana suatu organisasi atau instansi dapat bertahan dalam situasi krisis.

Dampak komunikasi krisis dapat bersifat positif maupun negatif. Jika ditangani dengan cepat dan tepat, organisasi atau instansi dapat mempertahankan serta meningkatkan kepercayaan publik. Sebaliknya, respons yang lambat dan tidak konsisten dapat memicu ketidakpercayaan serta merusak reputasi dalam jangka panjang (Jin, Pang, & Cameron, 2012). Oleh karena itu, strategi komunikasi krisis yang efektif sangat diperlukan dalam menghadapi situasi krisis.

Artikel ini akan membahas strategi komunikasi krisis yang dapat membantu organisasi atau instansi mempertahankan kepercayaan publik. Selain itu, artikel ini juga akan mengulas contoh kasus keberhasilan dan kegagalan organisasi atau instansi dalam menghadapi krisis.

Strategi Efektif dalam Komunikasi Krisis
Dalam menangani krisis, terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan agar organisasi atau instansi dapat mengelola situasi dengan baik, yaitu:

1. Kejujuran. Kejujuran adalah faktor utama dalam komunikasi krisis. Mengakui kesalahan dan memberikan solusi akan membantu membangun kembali kepercayaan publik.
2. Kecepatan Respons. Kecepatan dalam memberikan respons sangat penting untuk mengendalikan situasi krisis. Di era digital ini, publik membutuhkan klarifikasi yang cepat melalui berbagai platform komunikasi, seperti media sosial dan situs web.
3. Konsistensi dalam Penyampaian Pesan. Pesan yang disampaikan harus konsisten agar tidak menimbulkan kebingungan di tengah publik. Oleh karena itu, organisasi atau instansi harus memastikan bahwa setiap pernyataan yang dikeluarkan tetap sejalan di berbagai media.
4. Empati dan Kepedulian. Menunjukkan kepedulian terhadap publik dapat membantu organisasi atau instansi membangun hubungan yang lebih baik dengan masyarakat, sehingga meningkatkan kepercayaan mereka.

Contoh Kasus Keberhasilan dan Kegagalan Komunikasi Krisis
1. Kasus Berhasil: Johnson & Johnson dalam Krisis Tylenol (1982). Pada tahun 1982, Johnson & Johnson menghadapi krisis besar ketika beberapa kemasan produk Tylenol ditemukan mengandung sianida, yang menyebabkan kematian konsumen. Sebagai tanggapan, perusahaan segera menarik seluruh produk dari pasaran, bekerja sama dengan otoritas, serta mengedukasi publik mengenai bahaya yang ada. Tindakan cepat dan transparan ini berhasil membangun kembali kepercayaan publik serta menjadi standar dalam manajemen krisis (Benoit, 1995).

2. Kasus Gagal: Boeing dengan Krisis 737 Max (2018–2019)

Sebaliknya, Boeing menghadapi krisis serius setelah dua kecelakaan pesawat 737 Max yang menewaskan ratusan orang. Alih-alih segera mengakui adanya kesalahan, perusahaan awalnya menyangkal masalah pada sistem pesawat dan lambat dalam memberikan klarifikasi. Akibatnya, kepercayaan terhadap perusahaan menurun drastis, yang berujung pada larangan terbang global serta kerugian finansial yang besar (Gustin, 2019).

Pelajaran dari Kasus-Kasus Ini
Dari kedua kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa transparansi, kecepatan respons, serta empati terhadap publik sangat berperan dalam komunikasi krisis yang efektif. Johnson & Johnson berhasil mempertahankan reputasinya karena bertindak cepat dan transparan, sementara Boeing mengalami kegagalan akibat respons yang lambat dan kurang terbuka terhadap publik.

Agar organisasi atau instansi dapat menghindari situasi serupa atau menangani krisis dengan lebih baik, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan, antara lain:
1. Mempersiapkan rencana komunikasi krisis sebelum krisis terjadi.
2. Mengutamakan transparansi dalam memberikan informasi kepada publik.
3. Bertindak cepat dan memastikan bahwa pesan yang disampaikan selalu konsisten.
4. Menunjukkan empati dan kepedulian terhadap pihak yang terdampak krisis.

Kesimpulan
Komunikasi krisis yang efektif berperan penting dalam menjaga dan membangun kembali kepercayaan publik terhadap suatu organisasi atau instansi. Kejujuran, kecepatan respons, konsistensi pesan, serta empati menjadi faktor utama dalam strategi komunikasi krisis yang berhasil.

Melalui studi kasus Johnson & Johnson dan Boeing, terlihat bahwa transparansi dan tindakan cepat dapat menyelamatkan reputasi organisasi, sementara komunikasi yang lambat dan tidak terbuka justru memperburuk situasi. Oleh karena itu, organisasi harus mempersiapkan rencana komunikasi krisis sebelum krisis terjadi, selalu mengutamakan transparansi, serta menunjukkan kepedulian terhadap publik.

Dengan menerapkan strategi yang tepat, organisasi dapat mengelola krisis dengan lebih baik, meminimalkan dampak negatif, dan mempertahankan kepercayaan publik dalam jangka panjang.***

Mahliqa Aridha Fatimah
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB