Home Blog Page 1105

Diangkat ke Puncak, Dijatuhkan Sekejap: Cancel Culture dalam Dunia Entertainment

0

Oleh: Anatasya Disha Mahasiswa Prodi Komunikasi Digital dan Media

Fenomena cancel culture atau budaya boikot semakin menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir, terutama dengan berkembangnya media sosial sebagai platform utama komunikasi publik. Cancel culture merujuk pada tindakan kolektif masyarakat untuk memboikot atau mengabaikan individu, biasanya figur publik, yang dianggap melakukan kesalahan atau perilaku yang tidak pantas. Fenomena ini tidak hanya terbatas pada dunia internasional, tetapi juga telah mengakar kuat di Indonesia.

Belakangan ini, cancel culture kembali ramai diperbincangkan di Indonesia setelah kontroversi yang melibatkan CodeBlu yang merupakan seorang food reviewer yang dinilai terlalu kritis hingga sampai di titik dimana review-nya tersebut dinilai merugikan banyak usaha kuliner. Di awal tahun, hal serupa juga terjadi pada Abidzar, pemeran utama dalam film remake “A Business Proposal.” Film ini mendapatkan kritik keras dari publik dan mengalami penurunan jumlah penonton serta rating rendah. Dilansir dari beberapa media online, kontroversi bermula ketika Abidzar dianggap tidak profesional karena tidak sepenuhnya membaca webtoon atau menonton drama Korea asli yang di-remake. Ia mengaku hanya mendalami perannya berdasarkan skrip yang ada dan dengan percaya diri menyatakan ingin membangun karakternya sendiri. Pernyataan Abidzar yang menganggap penggemar drama Korea di Indonesia sebagai fanatik, serta sikapnya yang arogan dalam menanggapi kritik warganet, memperburuk situasi dan memicu gelombang cancel culture terhadap dirinya.

Penjelasan tentang cancel culture

Secara umum, cancel culture adalah fenomena di mana individu atau kelompok secara kolektif menarik dukungan dari seseorang yang dianggap melakukan kesalahan atau melanggar norma sosial. Altamira dan Movementi (2023) menyatakan bahwa pelabelan cancel culture sering disematkan pada figur publik yang mengecewakan atau dianggap tidak berperilaku baik. Akibatnya, mereka kehilangan kepercayaan publik dan seringkali mengalami konsekuensi serius dalam karier dan kehidupan pribadi mereka.

Fenomena cancel culture mulai berkembang secara signifikan pada tahun 2016-2017 dengan tujuan utama untuk mengecam selebritas atau artis yang bermasalah (Jaafar & Herna, 2023). Di Indonesia, budaya boikot ini mulai mengakar pada tahun 2019 dan sebagian besar terjadi di media sosial seperti Twitter, Instagram, TikTok, dan YouTube. Menurut Kurniawan et al. (2022), “Cancel culture semakin umum terjadi terutama setelah internet berhasil menguasai aktivitas sosial manusia.” Ini menunjukkan bagaimana teknologi digital mempercepat dan memperluas dampak dari fenomena ini.

Putri et al. (2023) menambahkan bahwa, “Cancel culture dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kepemilikan media, wacana publik dan politik, serta diskusi seputar batas-batas kebebasan berbicara di era digital.” Ini menunjukkan bahwa cancel culture tidak hanya sekadar reaksi spontan dari masyarakat, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika yang lebih luas dalam struktur sosial dan politik.

Dampak positif dan negatif cancel culture

Fenomena cancel culture membawa dampak yang beragam, baik positif maupun negatif, terhadap komunikasi online dan kehidupan sosial secara umum.

  1. Dampak Positif

Meningkatkan kesadaran sosial: Cancel culture dapat menjadi alat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu penting seperti diskriminasi, pelecehan, atau perilaku tidak etis lainnya.

Akuntabilitas publik: Fenomena ini mendorong figur publik untuk lebih berhati-hati dalam bertindak dan berbicara karena mereka sadar bahwa tindakan mereka diawasi oleh publik.

Pemberdayaan suara masyarakat: Melalui media sosial, masyarakat memiliki platform untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap perilaku figur publik atau institusi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut.

  1. Dampak Negatif

Resiko cyberbullying: Cancel culture sering kali berubah menjadi serangan pribadi yang berlebihan, di mana kritik yang seharusnya konstruktif berubah menjadi cyberbullying.

Penghakiman tanpa fakta lengkap: Banyak kasus di mana individu atau organisasi dihukum oleh opini publik sebelum ada klarifikasi atau bukti yang cukup. Ini bisa menyebabkan ketidakadilan.

Dampak psikologis: Individu yang menjadi sasaran cancel culture dapat mengalami tekanan psikologis yang berat, kehilangan pekerjaan, dan kerusakan reputasi yang signifikan (Putri et al., 2023).

Bagaimana seharusnya masyarakat menanggapi fenomena ini?

Fenomena cancel culture menuai pro dan kontra di masyarakat. Di satu sisi, masyarakat memiliki hak untuk mengkritik dan menuntut akuntabilitas dari figur publik. Namun, penting juga untuk tetap bijak dalam menanggapi fenomena ini. Kritik yang disampaikan seharusnya bersifat membangun dan tidak berubah menjadi serangan pribadi atau cyberbullying yang berlebihan.

Masyarakat perlu memahami batasan antara memberikan kritik yang konstruktif dan melakukan penghakiman yang tidak adil. Dalam era digital ini, di mana informasi dapat dengan cepat menyebar, kita harus memverifikasi kebenaran suatu informasi sebelum ikut serta dalam arus cancel culture. Selain itu, memberikan kesempatan bagi individu untuk memperbaiki kesalahan mereka juga merupakan langkah yang lebih bijaksana.

Akhir kata, cancel culture adalah fenomena yang mencerminkan kekuatan masyarakat dalam mempengaruhi perilaku figur publik. Namun, kekuatan ini harus digunakan dengan penuh tanggung jawab agar tidak berubah menjadi alat penghancur yang merugikan semua pihak.

 

 

Ayumi Fitriani Gunawan, S.E., M.Si. Akademisi Wanita Muda dengan Semangat Inovasi dan Pendidikan

0

Bogordaily.net – Lahir di Kyoto, Jepang, Ayumi Fitriani Gunawan, S.E., M.Si., tumbuh dalam lingkungan keluarga akademisi yang sangat kental. Ayahnya merupakan dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang meraih gelar magister dan doktor sekaligus di Kyoto University, sementara ibunya adalah seorang guru. Perjalanan akademiknya pun seolah telah digariskan sejak dini. Tumbuh dalam keluarga yang mengabdikan diri di dunia pendidikan, Ayumi mulai melihat bahwa mengajar bukan sekedar profesi, melainkan panggilan jiwa.

Sejak kecil, Ayumi memiliki rasa ingin tahu yang besar dan selalu tertarik dengan dunia akademik. Semangat belajarnya terlihat dari prestasinya yang cemerlang selama menempuh pendidikan. Ayumi menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 dalam bidang Manajemen Agribisnis melalui program fast track, yang memungkinkannya meraih dua gelar dalam waktu lima tahun.

Keunggulan akademiknya mengantarkan Ayumi menjadi dosen di Sekolah Vokasi IPB pada usia 23 tahun, menjadikannya salah satu akademisi muda yang berkiprah di dunia pendidikan tinggi. Ia memulai kariernya sebagai pengajar di Program Studi Komunikasi Digital dan Media, mengampu mata kuliah yang berkaitan dengan agribisnis, seperti Komunikasi Bisnis, Kewirausahaan, dan Agroindustri. Namun, ketertarikannya yang mendalam terhadap bidang komunikasi, khususnya radio, podcast, dan public speaking, mendorongnya untuk lebih fokus mengembangkan diri di program studi tersebut, hingga akhirnya menjadi dosen tetap di program studi Komunikasi Digital dan Media di IPB University.

Dedikasi Ayumi dalam dunia pendidikan tidak hanya terbatas di kampus, tetapi Ayumi juga berkontribusi secara langsung kepada masyarakat. Saat masih berkuliah, ia sudah aktif mengajar dengan bergabung dalam sebuah lembaga bimbingan belajar. Berbekal pengalaman tersebut, ia kemudian mendirikan Pascal Private, sebuah lembaga les privat yang memberikan bimbingan bagi siswa SD, SMP, dan SMA.

Pascal Private bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga wadah bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan kemampuan mengajar. Ayumi meyakini bahwa pendidikan adalah alat yang kuat untuk mengubah hidup seseorang, sehingga ia terus berupaya meningkatkan kualitas pengajaran di Pascal Private dengan metode yang lebih kreatif dan menyenangkan.

Lebih dari sekadar pengajar, Ayumi juga membuka peluang kerja bagi teman-temannya yang memiliki passion serupa. Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika seorang rekannya yang bergabung di Pascal Private berhasil menopang keluarganya berkat pekerjaan tersebut, membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya memberdayakan murid, tetapi juga para pengajarnya.

Sebagai seorang pendidik, Ayumi memiliki pendekatan mengajar yang unik. Ia percaya bahwa mahasiswa harus diberi ruang untuk berkembang tanpa tekanan yang berlebihan. “Saya lebih memilih bersikap santai tapi tetap disiplin. Saya tidak suka marah-marah karena itu hanya membuat mahasiswa semakin defensif.

Saya lebih memilih memberi contoh nyata agar mereka semakin semangat,” ujarnya. Pendekatan ini terbukti efektif, terlihat dari bagaimana banyak alumninya mengungkapkan rasa terima kasih karena ilmu yang diajarkannya sangat berguna di dunia kerja. Bahkan, beberapa mahasiswa mengabarkan bahwa mereka diterima di berbagai perusahaan berkat keterampilan yang diajarkannya, seperti cara berpakaian profesional, membuat CV yang menarik, dan membangun portofolio yang kuat.

Dalam perjalanan akademiknya, Ayumi juga menunjukkan konsistensi luar biasa dalam menjaga kualitas pengajaran. Di IPB, performa akademik dosen dinilai berdasarkan performa akademik mereka, dan Ayumi berhasil mempertahankan nilai evaluasi dosen di atas 3,7 sebuah pencapaian yang setara dengan predikat cumlaude bagi mahasiswa. Keberhasilan ini mencerminkan dedikasinya dalam memberikan pengajaran berkualitas serta komitmennya untuk terus meningkatkan pengalaman belajar bagi para mahasiswanya.

Di luar kesibukan akademik, Ayumi menjalani peran sebagai ibu dan istri dengan penuh cinta. Ia selalu berusaha menyeimbangkan kehidupan profesional dan keluarganya. Anak pertamanya menunjukkan minat besar dalam dunia akademik sejak kecil, terutama dalam bidang matematika dan ilmu pengetahuan.

Sebagai seorang ibu yang peduli dengan perkembangan anak, Ayumi menerapkan berbagai metode stimulasi, seperti membacakan ensiklopedia, memberikan sensory play, serta menerapkan metode food preparation untuk memastikan keseimbangan dalam pola asuh dan kesibukan sehari-hari.

Meskipun kesibukannya cukup padat, Ayumi tetap berusaha untuk meluangkan waktu bagi keluarganya. Baginya, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi adalah kunci utama untuk menjalani hidup yang harmonis dan produktif.

Sebagai seorang akademisi, Ayumi memiliki harapan besar terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Ia ingin melihat sistem pendidikan yang lebih inklusif dan merata, terutama di luar Pulau Jawa.

“Ketimpangan pendidikan masih menjadi masalah besar. Saya berharap suatu hari nanti pendidikan berkualitas bisa diakses oleh semua orang, tanpa terkecuali,” katanya.

Untuk mahasiswa dan generasi muda, Ayumi selalu menekankan tiga hal penting dalam hidup yaitu, berani keluar dari zona nyaman, menjaga attitude, dan tidak mencari jalan pintas menuju kesuksesan. Baginya, kesuksesan sejati hanya bisa diraih melalui usaha dan proses yang jujur.

“Percayalah bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Jangan pernah takut bermimpi, karena dengan usaha yang tepat, semua bisa terwujud,” pesannya bagi mereka yang ingin meraih mimpi di dunia akademik maupun profesional.

Dengan dedikasi dan semangatnya dalam dunia pendidikan, Ayumi Fitri Gunawan adalah bukti nyata bahwa menjadi pendidik bukan sekadar mengajar, tetapi juga membentuk karakter dan masa depan generasi muda.***

Novita Efliani
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Kesehatan dan Pendidikan di Era Prabowo: Hanya Program Pendukung?

0

 Oleh: Balqis Nabilah Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Dalam era kepemimpinan Presiden Prabowo, perbincangan mengenai prioritas anggaran selalu menjadi topik hangat di ranah publik. Baru-baru ini, isu bahwa sektor pendidikan dan kesehatan hanya dianggap sebagai “program pendukung” muncul setelah tersebarnya foto paparan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengenai arah kebijakan BPP Tahun Anggaran 2026. Foto tersebut, yang menampilkan tiga kategori prioritas anggaran, memicu spekulasi dan interpretasi yang berbeda di kalangan masyarakat, terutama di media sosial.

Pendidikan dan kesehatan merupakan pondasi untuk masa depan

Isu yang bermula dari kesan bahwa kebijakan anggaran mendatang mengesampingkan pendidikan dan kesehatan harus dipandang lebih luas. Perlu diketahui bahwa dalam setiap perencanaan pembangunan nasional, pemerintah mengelompokkan program-program strategis berdasarkan peran dan kepentingannya. Pengelompokan ini bertujuan untuk seluruh program bersinergi antara sektor utama dan pendukung berjalan secara optimal. Dengan demikian, istilah “pendukung” dalam konteks tersebut tidak berarti bahwa pendidikan dan kesehatan diabaikan, melainkan menunjukkan bahwa sektor-sektor tersebut terintegrasi dalam kerangka pembangunan yang lebih besar.

Pendidikan dan kesehatan selama ini telah menjadi pondasi kemajuan bangsa. Investasi pada pendidikan tidak hanya menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, tetapi juga mendorong inovasi, produktivitas, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, sektor kesehatan merupakan jaminan bagi keberlanjutan pembangunan dengan menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif. Kedua sektor ini memiliki dampak jangka panjang yang tak terukur, dimana kualitas pendidikan akan menentukan daya saing bangsa di era globalisasi, dan kualitas kesehatan mempengaruhi stabilitas sosial serta kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dalam menghadapi berbagai tantangan.

Dalam konteks kebijakan anggaran, penyusunan program prioritas tidak semestinya menimbulkan kesan adanya hierarki yang menurunkan peran pendidikan dan kesehatan. Penjelasan dari Kemenkeu melalui Deni Surjantoro menegaskan bahwa semua program, termasuk inisiatif seperti program makan bergizi gratis (MBG), memiliki peran strategis yang saling melengkapi.

Tantangan dalam Komunikasi Kebijakan

Namun, di tengah penjelasan tersebut, muncul pertanyaan dari kalangan pengamat dan masyarakat mengenai mekanisme komunikasi kebijakan. Foto dan slide yang tersebar di platform X memberikan ruang bagi interpretasi yang beragam. Di era digital, penyampaian pesan kebijakan harus dilakukan dengan sangat cermat, mengingat informasi yang tidak lengkap atau terpotong-potong bisa menimbulkan persepsi yang merugikan kepercayaan publik. Media sosial, dengan sifatnya yang cepat menyebarkan informasi, sering kali menjadi pertempuran opini dan konteks pesan bisa hilang. Oleh karena itu, klarifikasi resmi seperti yang disampaikan oleh Kemenkeu menjadi penting untuk meredam potensi kekeliruan.

Peran Dialog Terbuka

Perdebatan mengenai prioritas pembangunan adalah hal yang wajar dan bahkan sehat di masa demokrasi. Kritik serta diskusi yang dapat mendorong pemerintah untuk terus memperbaiki mekanisme penyampaian kebijakan serta memastikan bahwa seluruh sektor yang penting mendapatkan perhatian. Dari sudut pandang kebijakan publik, strategi pembangunan yang baik harus mampu menyeimbangkan berbagai aspek, mulai dari kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan, hingga program-program yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial.

Dalam tataran praktis, pembenahan sistem pendidikan dan kesehatan harus dilakukan secara menyeluruh. Kebijakan yang mengintegrasikan peningkatan mutu pendidikan dengan pelayanan kesehatan yang merata akan menciptakan masyarakat yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat secara fisik dan mental. Oleh karena itu, penekanan pada pembiayaan kedua sektor ini merupakan investasi jangka panjang yang akan membawa dampak signifikan bagi kemajuan bangsa. Pemerintah harus terus memastikan bahwa alokasi anggaran tidak hanya memenuhi angka-angka target, tetapi juga menghasilkan output yang maksimal dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Selain itu, komunikasi kebijakan yang transparan menjadi kunci dalam membangun kepercayaan publik. Klarifikasi dari Kemenkeu harus dijadikan momentum untuk mendorong dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat sehingga publik dapat memperoleh gambaran utuh mengenai strategi pembangunan yang sedang dijalankan, sehingga kritik dan masukan yang memabangun dapat diterima sebagai bagian dari proses perbaikan yang berkelanjutan.

Meneliti Hingga Jadi Dosen Penggerak Agribisnis

0

Bogordaily.net – Wien Kuntari lahir di Bandung pada tanggal 28 Desember. Ia lahir dan tumbuh dari keluarga akademisi atau pengajar. Kedua orang tuanya merupakan dosen. Ayahnya mengajar di UPI yang sebelumnya dikenal sebagai IKIP, sedangkan ibunya mengajar di UNPAD. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan lingkungan akademik yang mempengaruhi perjalanan hidupnya. Masa kecilnya ia habiskan di Bandung hinga menyelesaikan tingkat pendidikan SMA. Setelah tamat SMA, ia melanjutkan pendidikan tingginya di Bogor, tepatnya di Institut Pertanian Bogor. Ia menimba ilmu di IPB dari jenjang pendidikan S1, S2, hingga S3.

Perjalanan Pendidikan

Melanjutkan studi di IPB bukanlah keinginan yang ia impikan sebelumnya. Sejak kecil, ia bermimpi untuk menjadi seorang psikolog terinspirasi dari sang paman. Ia merasa tertarik mendengarkan orang, kemudian memberikan solusi dan tidak menjustifikasi tetapi mengajak orang itu jalan-jalan, serta makan. Namun takdir jalan hidupnya membawanya ke dunia akademik sosial ekonomi dan komunikasi pembangunan. Pada jenjang S1 ia mengambil jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian, dilanjut dengan studi S2-S3 dengan jurusan Komunikasi Pembangunan Fakultas Ekologi Manusia.

Menjadi anak petama dari tiga bersaudara, ia dengan kedua adiknya memiliki jalur yang berbeda dari kedua adiknya. Adik perempuannya memilih jalan sebagai ibu rumah tangga, sementara adik laki-lakinya memilih jalan untuk bekerja di swasta dan memiliki usaha sendiri. Meskipun kedua adiknya tidak meneruskan kedua orang tuanya menjadi akademisi, ia merasa bangga menjadi bagian dari keluarga yang memiliki semnagat mengajar dan mendidik.

Ketika kuliah S1, ia mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian dengan mendapatkan beasiswa dari pusat studi Pembangunan. Melalui penelitian tersebut, ia mendapat tawaran untuk bergabung dengan pusat studi Pembangunan tersebut. Setelah berkecimpung selama kurang lebih 10 tahun, pengalamannya menjadi seorang peneliti mengubah pandangannya terhadap dunia penelitian. Ia merasa bahwa menjadi seorang penilti merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan karena dapat bepergian, bertemu dengan orang baru, belajar dan terus mendapat pengetahuan baru. Meskipun demikian, hidupnya terus berlanjut, ia mulai berumah tangga dan dikaruniai anak membuatnya semakin tertarik untuk menekuni dunia akademik.

Dalam pusat studi tersebut banyak dosen-dosen yang bergabung, sehingga sedang menjalani studi S2, ia mendapat ajakan untuk menjadi asisten dosen di beberapa mata kuliah. Ia mulai menjadi asisten dosen ketika ia kuliah. Saat itu ia diminta oleh koordinator asisten untuk menjadi asisten dosen. Pengalamannya menjadi asisten dosen mengubah pandangannya terhadap dunia mengajar.  Ia memutuskan untuk melanjutkan karirnya menjadi pengajar mulai dari Sekolah Vokasi IPB berdiri pada tahun 2005 hingga saat ini.

 

Membangun Sektor Agribisnis yang Inovatif

Karier akademiknya tidak berhenti sebagai pengajar, ia juga mengembangkan bidang keahliannya dalam riset dan penelitian. Bidang penelitian yang ia tekuni, yaitu bidang manajemen agribisnis. Ia memiliki home-base di bidang manajemen agribisnis karena ia bekerja di PSP yang dikepalai oleh Prof. Bungaran Saragi, pencetus petama kali komsep agribisnis di Indonesia. Kini penelitian yang sedang ia jalani adalah pemasaran atau digital marketing pada sektor agribisnis. Pengalamannya bekerja dengan berbagai dosen dan mentor ternama telah memberikan dampak besar dalam perkembangan dirinya sebagai akademisi.

Dalam perjalanan karirnya, ia juga mengalami tantangan dalam membangkitkan minat mahasiswa terhadap penelitian. Baginya, tantangan terbesar dalam dunia pendidikan adalah bagaimana membuat mahasiswa tertarik untuk melakukan penelitian yang tidak bersifat instan. Terlebih, dalam dunia manajemen agribisnis, produk yang dihasilkan dari penelitian seringkali tidak berbentuk fisik, melainkan berupa kebijakan. Oleh karena itu, ia terus berusaha untuk memperkenalkan mahasiswa pada hal-hal yang praktis dan relevan dengan dunia nyata.

Filosofi hidupnya sebagai seorang akademisi sangat sederhana namun mendalam: “Mengalir seperti air.” Ia percaya bahwa sebagai pengajar, ia harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, terutama dengan perubahan zaman yang semakin cepat, perubahan generasi, seperti generasi Z yang memiliki cara pandang yang berbeda, membuatnya lebih mengedepankan pendekatan yang lebih fleksibel dalam mengajar. Ia juga menekankan bahwa pendidikan harus berkembang secara bertahap dan tidak terburu-buru dalam mengikuti perubahan sistem yang terlalu cepat, seperti yang sering terjadi dalam kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini.

Harapannya untuk dunia pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan harus dibangun mengikuti keadaan secara bertahap, namun tidak berubah terlalu cepat sehingga mahasiswa kesulitan beradaptasi. Ia juga percaya bahwa pendidikan harus mengajarkan nilai-nilai yang lebih dalam tentang kehidupan, bukan hanya tentang pencapaian materi atau cuan semata. Baginya, teknologi harus digunakan sebagai alat untuk mempermudah proses belajar, bukan untuk membuat generasi muda terlena.

Bagi generasi muda yang ingin menjadi akademisi, ia memberikan pesan yang tegas: “Belajarlah dengan sungguh-sungguh, jangan mengharapkan hasil yang instan.” Pendidikan yang baik memerlukan proses panjang yang harus ditempuh dengan ketekunan dan kerja keras. Dalam dunia yang serba cepat ini, tantangan terbesar adalah menahan diri untuk tidak tergoda oleh hal-hal yang instan, karena hasil yang baik selalu membutuhkan waktu.

Dalam lima tahun ke depan, ia berharap sektor agribisnis di Indonesia akan semakin berkembang dengan fokus pada pemasaran yang adil dan distribusi yang efisien. Ia berharap agar industri agribisnis Indonesia dapat mengurangi barang/produk impor yang sebetulnya barang tersebut dapat dihasilkan sendiri oleh Indonesia dengan penerapan konsep smart farming, serta berharap agar mahasiswa dapat lebih terlibat dalam penelitian yang lebih aplikatif dan bermanfaat bagi masyarakat. Sebagai seorang akademisi, ia ingin memberikan kontribusi yang lebih besar dalam perkembangan sektor agribisnis. Dengan dedikasi dan semangat yang tinggi, ia terus mengabdi dalam dunia pendidikan dan berharap dapat meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi penerus, baik dalam ilmu pengetahuan maupun dalam kehidupan mereka.***

Meutia Zahra Purmanto Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB

 

Indonesia Semakin Gelap Pasca-Pemilu? Warganet Merasa Kehilangan Harapan

0

Bogordaily.net – Pemilu yang seharusnya menjadi momentum perubahan justru meninggalkan perasaan pesimis bagi banyak warganet. Bukannya merasakan optimisme akan masa depan yang lebih baik, justru muncul narasi bahwa Indonesia semakin gelap. Di media sosial, banyak yang mengeluhkan kondisi yang semakin tidak menentu, mulai dari kebebasan berpendapat yang semakin terbatas, ketidakpastian ekonomi, hingga ketakutan akan masa depan negara ini.

Ungkapan kekecewaan ini tidak datang tanpa alasan. Banyak orang merasa bahwa setelah pemilu, kondisi politik dan sosial justru semakin tidak berpihak kepada rakyat. Rasa aman dalam mengutarakan pendapat berkurang, harga kebutuhan pokok terus meningkat, dan berbagai kebijakan yang diambil pemerintah justru dinilai semakin memperburuk keadaan.

Sejumlah warganet bahkan mulai bertanya-tanya, apakah Indonesia benar-benar sedang menuju ke arah yang lebih baik, atau justru semakin jatuh ke dalam ketidakpastian? Apakah negara ini masih memiliki harapan untuk masa depan yang lebih cerah, atau justru sedang bergerak ke arah yang semakin gelap?

Ketidakpastian yang Semakin Menyesakkan

Setelah pemilu, banyak orang berharap situasi akan lebih stabil. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Warganet merasakan ketidakpastian yang semakin menyesakkan, terutama dalam aspek kebebasan berpendapat, ekonomi, dan kesejahteraan sosial.

Di media sosial, mulai muncul kekhawatiran tentang sulitnya menyampaikan pendapat secara bebas. Kritik terhadap pemerintah semakin dianggap sebagai ancaman, bukan masukan untuk perbaikan. Banyak yang merasa takut berbicara karena khawatir akan berurusan dengan hukum. Ruang diskusi yang dulunya terbuka, kini terasa semakin menyempit.

Selain itu, kondisi ekonomi juga menambah beban pikiran masyarakat. Harga kebutuhan pokok terus naik, sementara pendapatan tidak mengalami peningkatan yang sepadan. Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, situasi ini semakin menyulitkan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak warganet mengeluhkan bahwa hidup terasa semakin berat, dan tidak ada kebijakan konkret yang benar-benar bisa meringankan beban rakyat.

Kaum muda pun tidak luput dari rasa pesimis ini. Mereka yang baru lulus kuliah kesulitan mendapatkan pekerjaan, sementara yang sudah bekerja menghadapi ketidakpastian di dunia kerja. Biaya hidup semakin mahal, tetapi kesempatan untuk berkembang justru semakin terbatas. Tidak sedikit yang mulai berpikir untuk mencari kehidupan di luar negeri, karena merasa masa depan di Indonesia tidak menentu.

Harapan yang Mulai Memudar

Di tengah semua kekhawatiran ini, muncul pertanyaan besar: apakah Indonesia benar-benar semakin gelap, atau ini hanya perasaan sesaat?

Bagi sebagian orang, pesimisme ini wajar karena situasi yang mereka hadapi memang sulit. Namun, di sisi lain, perubahan tidak akan terjadi jika masyarakat hanya diam dan pasrah. Sejarah menunjukkan bahwa ketika rakyat bersatu dan berani menyuarakan keadilan, selalu ada peluang untuk perubahan.

Namun, jika suara kritis terus dibungkam dan masyarakat semakin apatis, maka bayangan Indonesia yang semakin gelap bisa menjadi kenyataan. Kini, pilihan ada di tangan rakyat: tetap berjuang dan berharap, atau membiarkan keadaan semakin memburuk tanpa perlawanan.***

Nabila Fasya Agustin Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

24 Jam di Jalan: Perjalanan Bali-Jakarta dengan Bus, Worth It atau Tidak?

0

Bogordaily.net – Beberapa bulan lalu, saya dan dua teman saya berangkat ke Bali untuk menghadiri sebuah acara. Kami memilih perjalanan udara untuk pergi ke sana dengan tiket pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta yang harganya sekitar Rp1.400.000 per orang. Bagi saya yang masih mahasiswa dan berasal dari keluarga sederhana, angka tersebut bukanlah jumlah yang kecil. Karena itu, ketika tiba waktunya untuk pulang ke Jakarta, kami memutuskan untuk menggunakan bus demi menghemat biaya.

Ada banyak pilihan bus dengan rute Bali-Jakarta, tetapi setelah mempertimbangkan harga dan fasilitas yang ditawarkan, kami akhirnya memilih bus Debe Trans. Salah satu alasan utama adalah harga tiketnya yang cukup terjangkau, yakni Rp550.000 per orang, sudah termasuk makan selama perjalanan. Umumnya, penumpang naik dari Terminal Mengwi, namun kami memilih naik langsung dari garasi mereka di Kuta karena lokasinya lebih dekat dengan penginapan kami.

Perjalanan Dimulai

Kami berangkat dari garasi bus di Kuta sekitar pukul 12 siang. Sepanjang perjalanan, bus beberapa kali berhenti di beberapa titik penjemputan untuk mengangkut penumpang lain. Jadi, bagi yang ingin mencoba bus ini, tidak perlu naik dari garasinya langsung, bisa memilih pickup point terdekat dari lokasi menginap.

Saat pertama kali naik, first impression saya terhadap bus ini cukup baik. Seat-nya nyaman dan dilengkapi leg rest yang membuat perjalanan panjang lebih bersahabat. Setiap penumpang juga mendapatkan bantal dan selimut untuk menambah kenyamanan. Namun, ada satu kekurangan yang cukup terasa, yaitu sandaran kursinya tidak bisa direbahkan terlalu jauh. Hal ini membuat duduk terlalu lama terasa sedikit pegal, terutama karena bus ini bukan sleeper bus.

Menyebrang di Pelabuhan Gilimanuk

Sekitar pukul 5 sore, bus tiba di Pelabuhan Gilimanuk untuk menyeberang ke Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi. Ini bukan pengalaman pertama saya naik kapal di jalur ini. Tahun sebelumnya, saya sudah pernah menyeberang dengan kapal yang sama. Lama penyebrangan ini sekitar 45 menit hingga 1 jam, tergantung kondisi arus laut dan antrian kapal.

Bagi yang baru pertama kali naik kapal di jalur ini, saya sarankan untuk membawa antimo atau obat anti-mabuk laut jika rentan terhadap mabuk perjalanan. Meskipun perjalanan lautnya cukup singkat, angin ataupun ombak yang sedikit besar bisa membuat beberapa orang merasa pusing atau tidak nyaman.

Melanjutkan Perjalanan di Pulau Jawa

Begitu tiba di Pelabuhan Ketapang, kami kembali menaiki bus dan melanjutkan perjalanan darat. Sekitar satu jam setelah meninggalkan pelabuhan, bus berhenti di sebuah rumah makan di Banyuwangi untuk istirahat dan makan malam. Sistem pengambilan makanannya adalah prasmanan, sehingga penumpang bisa mengambil makanan sesuai dengan porsi masing-masing. Karena sudah termasuk dalam harga tiket, tidak ada biaya tambahan yang perlu dibayar.

Setelah makan malam dan beristirahat sekitar satu jam, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini, bus melaju tanpa henti sepanjang malam. Selama perjalanan malam ini, banyak penumpang memilih untuk tidur, meskipun kondisi kursi yang tidak bisa direbahkan sepenuhnya membuat istirahat kurang maksimal.

Pukul 06.00 pagi, bus kembali berhenti di sebuah rumah makan untuk sarapan. Ini menjadi pemberhentian terakhir sebelum akhirnya bus melanjutkan perjalanan tanpa henti menuju Jakarta.

Tiba di Jakarta dan Kesimpulan

Sekitar pukul 10.00 pagi, bus memasuki wilayah Jakarta. Penumpang mulai turun satu per satu di berbagai drop point yang telah ditentukan. Saya dan kedua teman saya memilih turun di Terminal Bayangan Pasar Rebo, karena lokasinya paling strategis bagi kami.

Total waktu perjalanan dari Bali ke Jakarta adalah sekitar 24 jam atau 2 hari 1 malam. Apakah perjalanan ini worth it? Menurut saya, dengan harga tiket Rp550.000 dan fasilitas yang disediakan, ini adalah opsi yang cukup ekonomis bagi yang ingin menghemat biaya perjalanan. Namun, sebelum mencoba perjalanan panjang seperti ini, pastikan kondisi tubuh dalam keadaan fit agar tidak mudah lelah atau sakit selama perjalanan.

Perjalanan Bali-Jakarta dengan bus selama 24 jam memang bukan untuk semua orang. Bagi yang terbiasa dengan perjalanan cepat dan nyaman menggunakan pesawat, tentu ini akan terasa melelahkan. Tapi, bagi saya yang seorang mahasiswa dengan budget terbatas, perjalanan ini menjadi pilihan yang paling masuk akal. Kalau anda suka pengalaman baru dan ingin sesuatu yang berbeda, naik bus dari Bali ke Jakarta bisa jadi opsi menarik untuk dicoba setidaknya sekali dalam hidup.***

 

Anatasya Disha, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media

Jembatan antara Akademik dan Industri yang Seharusnya Dipertahankan

0

Muhammad Alfath                                                                                                    Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan salah satu program unggulan dari Menteri Pendidikan Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim. Salah satu program dari MBKM adalah Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB). MSIB telah menjadi salah satu inovasi terbaik dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk merasakan pengalaman magang di perusahaan ternama tanpa harus memiliki koneksi orang dalam. Namun, belakangan ini muncul isu mengenai penghapusan program MSIB. Jika hal ini benar-benar terjadi, maka akan menjadi sebuah kemunduran bagi dunia pendidikan dan karier mahasiswa di Indonesia.

Kesempatan Setara bagi Semua Mahasiswa

Salah satu keunggulan utama MSIB adalah kemampuannya dalam memberikan akses yang adil bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang. Sebelum adanya MSIB, banyak mahasiswa kesulitan mendapatkan magang di perusahaan besar karena faktor koneksi atau biaya yang tinggi. MSIB menghapus hambatan tersebut dengan membuka peluang magang berdasarkan kompetensi, bukan siapa yang mereka kenal. Jika program ini dihapus, mahasiswa dari universitas non-unggulan atau mereka yang tidak memiliki koneksi kuat akan kehilangan kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas diri.

Program MSIB tidak hanya memberikan pengalaman kerja nyata, tetapi juga membekali mahasiswa dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia industri. Banyak peserta yang setelah mengikuti MSIB langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan tempat mereka magang. Ini membuktikan bahwa MSIB menjadi jembatan antara dunia akademik dan industri, sesuatu yang selama ini menjadi tantangan besar dalam sistem pendidikan Indonesia. Jika program ini dihentikan, mahasiswa akan kembali menghadapi kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan dunia kerja, yang pada akhirnya memperburuk masalah pengangguran lulusan baru.

Kontribusi MSIB terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia

Selain memberikan pengalaman kerja, MSIB juga berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Dengan sistem pembelajaran berbasis praktik langsung, mahasiswa mendapatkan ilmu yang tidak hanya teoretis, tetapi juga aplikatif sesuai dengan kebutuhan industri. Program ini juga membantu mahasiswa dalam mengembangkan soft skills seperti komunikasi, kerja tim, dan problem solving. Keterampilan yang sangat diperlukan dalam dunia kerja modern. Jika MSIB dihapus, mahasiswa akan kehilangan salah satu sarana terbaik untuk meningkatkan kompetensi mereka sebelum benar-benar terjun ke dunia profesional.

Mengapa MSIB Harus Dipertahankan?

Pemerintah seharusnya melihat keberhasilan MSIB sebagai investasi jangka panjang bagi generasi muda. Jika ada kendala dalam implementasi program ini, solusi terbaik bukanlah menghapusnya, melainkan melakukan evaluasi dan perbaikan. Dengan mempertahankan dan mengembangkan MSIB, Indonesia dapat terus mencetak lulusan yang lebih siap menghadapi dunia kerja dan bersaing di tingkat global.

Selain itu, MSIB harus memastikan bahwa kesempatan magang dapat diakses oleh mahasiswa dari berbagai daerah dan berbagai kampus, baik negeri maupun swasta. Masih terdapat kesenjangan dalam akses program ini, sehingga perlu ada upaya pemerataan, misalnya dengan penyediaan kuota yang lebih adil atau program pendampingan bagi mahasiswa dari universitas non-unggulan agar mereka bisa lebih siap bersaing. Pemerintah juga bisa mendorong lebih banyak perusahaan dan sektor industri untuk bergabung dalam program ini. Saat ini, mayoritas mitra MSIB berasal dari sektor teknologi dan startup, padahal masih banyak bidang lain yang membutuhkan tenaga kerja berkualitas, seperti manufaktur, kesehatan, agribisnis, dan energi. Jika cakupan ini diperluas, lebih banyak mahasiswa dari berbagai latar belakang akademik yang bisa merasakan manfaat program ini.

Menghapus MSIB bukanlah solusi yang tepat. Program ini telah terbukti memberikan manfaat besar bagi mahasiswa, baik dari segi pengalaman kerja maupun peluang karier. Jika pemerintah ingin meningkatkan kualitas pendidikan dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia industri, MSIB justru harus diperkuat, bukan dihapus. Semua pihak, baik mahasiswa, akademisi, maupun industri, seharusnya bersuara dan mendorong agar program ini tetap berjalan demi masa depan pendidikan yang lebih baik.

Perjalanan Seorang Akademisi dalam Dedikasi Inovasi

0

Bogordaily.net – Di balik dunia akademik yang kerap dianggap penuh dengan teori dan penelitian yang kompleks, ada individu-individu yang menjadikannya sebagai jalan pengabdian. Salah satunya adalah Yudit Vega Paramitadevi, yang akrab disapa Vega. Sebagai seorang dosen tetap dengan jabatan akademik Asisten Ahli, Vega tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai peneliti dan penggerak sosial. Dedikasinya terhadap ilmu teknik lingkungan dan pengabdian masyarakat telah membawanya ke berbagai ranah akademik dan profesional yang memperkuat keahliannya.

Vega adalah seorang akademisi yang menempuh pendidikan formalnya dengan penuh dedikasi. Ia mengawali pendidikannya di SD St. Antonius 1 Semarang, kemudian melanjutkan ke SMP Domini Goosyavio Semarang, dan menyelesaikan jenjang sekolah menengah atas di SMA Kolese Loyola Semarang.

Sejak kecil, Vega sudah menunjukkan ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang lingkungan dan teknologi. Ketertarikannya pada ilmu teknik lingkungan membawanya untuk menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang S3, meskipun tantangan yang dihadapinya tidaklah ringan.

Dalam perjalanan akademiknya, Vega menemukan bahwa teknik lingkungan bukan hanya soal perhitungan dan struktur, tetapi juga tentang bagaimana lingkungan memberikan dampak terhadap kesehatan manusia. Baginya, ilmu ini bukan hanya teori, melainkan sebuah upaya untuk memahami dan mengatasi dampak antropogenik terhadap kehidupan manusia.

Ia meyakini bahwa perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia memiliki konsekuensi besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, dan oleh karena itu, ia terus berusaha mengembangkan penelitian dan program-program yang dapat memberikan solusi nyata.

Awalnya, Vega tidak langsung memilih jalur akademik sebagai kariernya. Ia sempat bekerja di sektor swasta dan bergabung dalam sebuah NGO (Non-Governmental Organization). Namun, pengalaman tersebut membawanya pada kesadaran bahwa dunia akademik  adalah  panggilannya.  Selain karena latar belakang keluarganya yang juga

berkecimpung di dunia pendidikan, ia menyadari bahwa menjadi dosen adalah cara terbaik baginya untuk berbagi ilmu dan terus melakukan penelitian yang bermanfaat.

Salah satu penelitian yang paling berkesan bagi Vega adalah ketika ia melakukan kajian tentang dampak gas buang terhadap para petugas tol. Studi yang dilakukannya memberikan rekomendasi penting bagi BPJS dan PT Jasa Marga dalam meningkatkan perlindungan terhadap kesehatan para pekerja yang sehari-hari terpapar polutan di lingkungan tol.

Dengan adanya penelitian ini, terjadi perubahan kebijakan, termasuk otomatisasi gerbang tol yang mengurangi risiko paparan langsung terhadap petugas. Selain itu, Vega juga terlibat dalam berbagai proyek penelitian yang berfokus pada pengelolaan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Ia pernah melakukan studi mengenai kualitas air di daerah-daerah rawan pencemaran dan bagaimana teknologi sederhana dapat membantu meningkatkan kualitas air bagi masyarakat yang kurang memiliki akses terhadap sumber air bersih.

Penelitiannya juga melibatkan kerja sama dengan berbagai lembaga, baik di tingkat nasional maupun internasional, guna menghasilkan kebijakan berbasis sains yang dapat diterapkan di lapangan.

Selain mengajar dan meneliti, Vega juga aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah menjadi pembina Posyandu untuk meningkatkan kesadaran ibu-ibu terhadap risiko bencana alam. Kini, ia lebih banyak terlibat dalam organisasi internasional seperti International Water Association yang berfokus pada instrumental health.

Selain itu, ia juga turut serta dalam program pengabdian masyarakat di ITB. Di dalam organisasi ini, Vega kerap berbagi pengalaman dan hasil penelitiannya dengan akademisi lain dari berbagai belahan dunia, memperkaya perspektifnya dalam memahami isu-isu lingkungan global.

Menjadi dosen bukanlah tugas yang mudah. Bagi Vega, tantangan terbesar adalah keterbatasan dana riset. Namun, ia mengatasi kendala ini dengan menjalin kolaborasi dan mencari mentor yang lebih berpengalaman.

Ia percaya bahwa kerja sama dengan kolega yang lebih senior dapat membantu dalam menghadapi hambatan dan meningkatkan kualitas penelitian. Selain itu, ia juga aktif dalam mencari pendanaan alternatif melalui hibah penelitian baik dari pemerintah maupun organisasi internasional.

Selain tantangan dalam bidang riset, Vega juga menghadapi tantangan dalam dunia pendidikan itu sendiri. Perkembangan teknologi yang pesat membuat metode pengajaran harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini.

Ia berusaha mengembangkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis teknologi digital untuk meningkatkan minat

mahasiswa dalam bidang teknik lingkungan. Vega percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang menghafal teori, tetapi juga bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Vega memiliki visi besar sebagai seorang akademisi. Ia tidak hanya ingin mengembangkan ilmu teknik lingkungan, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan sistem edukasi yang lebih menarik dan efektif.

Baginya, pendidikan bukan hanya sekedar menyampaikan teori, tetapi bagaimana cara menginspirasi generasi muda agar mencintai ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga bercita-cita untuk memperluas jangkauan penelitiannya agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat global.

Ketika ditanya siapa sosok yang paling menginspirasinya, Vega menyebut nama ayahnya, Prof. Arvinsen Arianto Ruiom.

Meskipun tidak secara langsung mendorongnya menjadi dosen, sang ayah adalah figur yang menunjukkan bagaimana kecerdasan dan integritas dapat menjadi modal utama dalam dunia akademik.

Ayahnya mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan harus digunakan untuk kebaikan bersama dan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk berbagi pengetahuan demi kemajuan masyarakat.

Moto hidup Vega adalah bahwa tidak ada kesuksesan yang instan. Ia ingin menanamkan pemahaman kepada para mahasiswa bahwa keberhasilan hanya bisa diraih dengan kerja keras dan ketekunan.

Baik di dunia akademik maupun di berbagai profesi lainnya, dedikasi dan kerja keras adalah kunci utama untuk mencapai impian. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dan keterbukaan dalam menerima ilmu dan pengalaman baru, karena dengan demikian, seseorang dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat.

Dengan segala pencapaiannya, Yudit Vega Paramitadevi adalah bukti bahwa pendidikan bukan hanya soal mengajar, tetapi juga menginspirasi dan berkontribusi bagi masyarakat luas.

Dalam perjalanannya sebagai akademisi, ia terus berusaha menjadi jembatan antara ilmu dan realitas sosial, memastikan bahwa pengetahuan yang dimilikinya dapat memberikan manfaat yang nyata bagi banyak orang.

Dedikasinya dalam dunia akademik dan pengabdian masyarakat menjadikannya contoh nyata bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi alat yang kuat untuk membawa perubahan positif di dunia.

Syahla Fitriyanti 

Mengangkat Desa Tematik: Perjalanan Akademik Marsya Fidyana Hidayat

0

Bogordaily.net – Marsya Fidyana Hidayat, lahir di Kota Sukabumi pada 9 Maret 2000. Ia memulai perjalanannya di jurusan ekowisata sebagai mahasiswa di Sekolah Vokasi IPB University. Marsya tidak pernah menyangka bahwa keputusannya memilih jurusan ini akan membawanya ke dunia akademik. Awalnya, keluarganya ragu dengan prospek kerja di bidang ini, tetapi dorongan untuk terus belajar dan mengeksplorasi dunia pendidikan membuka banyak pintu kesempatan. Salah satunya adalah bimbingan dari dosennya, Bapak Insan Kurnia, yang tidak hanya mengajarkannya teori tetapi juga membekalinya dengan pengalaman praktis dalam penelitian dan pengembangan pariwisata. Dengan semangat, Marsya pun memutuskan melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 di Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, dengan tujuan menjadi dosen di masa depan.

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan studinya adalah penyelesaian tugas akhir saat pandemi COVID-19. Keterbatasan akses dalam pengambilan data menjadi tantangan besar. Mengajukan judul tugas akhir pun tidak mudah, karena banyak penolakan dari dosen terkait kelayakan realisasi penelitian di tengah pandemi. Marsya menjelaskan mengenai pelaksanaan judul yang akan direalisasikan serta berbagi berkonsultasi dengan para ahli di bidang tersebut. Selain itu, Marsya harus mencari destinasi yang belum dipilih oleh mahasiswa lain, sehingga semakin mempersempit pilihannya.

Namun, dari tantangan tersebut, lahirlah sebuah ide yang kini terus berkembang: Program Pemanduan Wisata Tematik. Desa tematik adalah sebuah desa yang didesain dan dikembangkan dengan tema tertentu, seperti desa budaya, desa peternakan, atau desa pariwisata. Marsya mengembangkan konsep ini sebagai bagian dari tugas akhirnya dan ternyata program tersebut masih digunakan hingga sekarang. Ia melihat bahwa potensi wisata tematik bukanlah sekadar destinasi yang dibuat dengan tema tertentu, melainkan desa yang telah memiliki karakter dan potensi unik yang bisa diangkat sebagai daya tarik wisata.

Dalam penelitiannya, Marsya memetakan berbagai desa yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai wisata tematik. Program yang ia kembangkan terdiri dari tiga aspek utama:

  1. Sejarah dan Arsitektur : wisata ini berfokus pada pemanduan yang menjelaskan latar belakang sejarah suatu tempat, keunikan arsitektur yang dimiliki, serta daya tarik khas yang membuatnya istimewa.
  1. Kerajinan dan Budaya : dalam konsep ini, wisatawan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan mencoba berbagai kegiatan budaya dan kerajinan khas daerah.
  2. Makanan Khas – : Wisata ini memberikan pengalaman bagi wisatawan untuk tidak hanya mencicipi kuliner tradisional, tetapi juga bisa melihat dalam proses pembuatannya, sehingga mereka dapat memahami lebih dalam tentang warisan kuliner setempat.

Dukungan dari pemerintah semakin memperkuat langkah Marsya dalam mengembangkan desa tematik. Beberapa program yang ia rancang bahkan mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah yang mulai memasukkan konsep ini dalam rencana pengembangan pariwisata setempat. Baginya, ini adalah sebuah pencapaian, bahwa ide yang awalnya hanya bagian dari tugas akhir kini benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan sektor pariwisata di daerahnya.

Salah satu keberhasilan programnya adalah pengembangan potensi wisata di kawasan Odeon, Sukabumi. Kawasan ini dikenal sebagai pemukiman masyarakat Tionghoa dengan kekayaan sejarah dan budaya yang unik. Pada awalnya, aksesibilitas di Odeon sudah cukup memadai, namun fasilitas wisatanya masih minim. Seiring berjalannya waktu, berkat peran serta berbagai pihak, pemerintah Kota Sukabumi mulai aktif mengembangkan kawasan ini. Kini, Odeon sering menjadi tuan rumah berbagai acara, seperti Festival Imlek, pembukaan UMKM, hingga peresmian museum Tionghoa. Hal ini menunjukkan bahwa konsep desa tematik yang diusulkan Marsya benar-benar memiliki dampak bagi pengembangan wisata.

Selain Odeon, Marsya juga terus mengembangkan aspek lain dalam wisata tematik, khususnya dalam bidang kerajinan dan budaya. Ia percaya bahwa wisata bukan hanya soal melihat dan mengagumi, tetapi juga tentang pengalaman langsung. Oleh karena itu, wisatawan yang datang ke desa tematik tidak hanya sekedar mengunjungi, tetapi juga berpartisipasi dalam aktivitas lokal, seperti mencoba pembuatan kerajinan khas atau mencicipi kuliner tradisional.

Menurut pengamatan Marsya, perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan potensi wisata tematik tampaknya masih kurang mendapat prioritas. Sebaliknya, pemerintah lebih banyak memberikan perhatian dan dukungan pada sektor wisata kuliner, yang dinilai memiliki daya tarik ekonomi tinggi dan lebih cepat berkembang. Akibatnya, potensi wisata tematik yang kaya akan nilai budaya, sejarah, dan kearifan lokal kurang mendapatkan perhatian yang optimal. Padahal, jika dikembangkan dengan baik, wisata tematik dapat menjadi aset berharga dalam mendukung pariwisata berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Sebagai seseorang yang aktif di dunia akademik, Marsya mulai menjadi asisten dosen sejak 2023. Ia juga sempat menjalani praktek kerja lapangan (PKL) di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Sukabumi serta menjadi PPPK di UPTD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukabumi. Pengalaman-pengalaman ini semakin memperkuat pemahamannya tentang pentingnya perencanaan dan pengelolaan pariwisata.

Ke depan, Marsya berencana untuk kembali mengangkat Program Desa Tematik sebagai bahan skripsi S1-nya. Ia ingin menyoroti bagaimana desa yang memiliki karakter unik dapat dioptimalkan menjadi destinasi wisata berkelanjutan. Dengan begitu, konsep ini tidak hanya menjadi gagasan akademik semata, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Bagi mahasiswa yang tengah berjuang menyelesaikan studinya, Marsya berpesan agar tetap sabar dan memiliki manajemen waktu yang baik. “Tidak apa-apa merasa terlambat dalam kuliah, karena setiap orang punya prosesnya masing-masing. Yang penting, tetap yakin bahwa perjalanan ini adalah yang terbaik untuk kita,” ujarnya.

Melalui dedikasi dan semangatnya, Marsya Fidyana Hidayat tidak hanya membangun masa depannya sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan wisata yang lebih luas. Dengan visi besar untuk menjadi dosen, ia terus berkontribusi dalam dunia akademik sekaligus menghidupkan potensi wisata tematik di daerahnya.***

 

Balqis Nabilah

Menjelajahi Keindahan Yogyakarta: Perjalanan Penuh Kenangan

0

Bogordaily.net – Yogyakarta, kota pelajar dengan sejuta pesona budaya dan sejarah, selalu menjadi destinasi favorit bagi para pelancong. Keunikan kota ini terletak pada kombinasi antara warisan budaya, kuliner yang lezat, dan suasana yang selalu hangat menyambut para wisatawan. Dalam perjalanan kali ini, saya mengunjungi tiga tempat yang wajib dikunjungi di Yogyakarta: Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Malioboro.

Candi Prambanan
Perjalanan saya ke Yogyakarta kali ini terasa istimewa karena akhirnya saya bisa mengunjungi salah satu keajaiban dunia, Candi Prambanan, candi Hindu terbesar di Indonesia. Terletak di Sleman, sekitar 17 km dari pusat kota Yogyakarta, candi ini merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang menakjubkan dengan arsitektur yang menjulang tinggi dan detail relief yang memikat.

Begitu tiba di Candi Prambanan, saya langsung disambut oleh candi – candi utama yang berdiri megah. Keindahannya semakin jelas ketika saya mendekat dan mengamati relief yang terukir di dindingnya. Setiap ukiran menceritakan kisah Roro Jonggrang dengan detail luar biasa, seolah membawa saya ke dalam dunia lain yang penuh dengan petualangan dan nilai moral.

Saya berjalan mengitari candi, meresapi suasana sakral yang masih terasa begitu kuat. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, Candi Prambanan tetap berdiri gagah, menjadi saksi bisu kejayaan peradaban masa lalu.

Saat sore menjelang, langit mulai berubah warna, dari biru cerah menjadi jingga keemasan. Matahari yang perlahan tenggelam di balik candi menciptakan siluet yang begitu indah. Cahaya senja yang menyapu relief dan arsitektur candi membuat suasana semakin luar biasa, seolah-olah membawa saya ke masa lalu.

Tak heran jika banyak wisatawan dan fotografer berkumpul di sini untuk mengabadikan momen ini. Saya pun tak mau melewatkan kesempatan untuk duduk sejenak, menikmati keindahan Prambanan dalam suasana yang begitu menenangkan.

Perjalanan ke Candi Prambanan tidak hanya memberi saya pengalaman melihat keajaiban arsitektur kuno, tetapi juga membawa saya lebih dekat dengan kekayaan budaya dan sejarah Indonesia.

Candi Borobudur
Setelah dari Candi Prambanan, saya melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur. Terletak di Magelang, Jawa Tengah, candi Buddha terbesar di dunia ini menyimpan sejarah panjang yang begitu mengagumkan.

Begitu tiba di Candi Borobudur, saya langsung terpukau oleh kemegahan arsitekturnya. Struktur candi yang menjulang tinggi dengan relief yang terukir di setiap dindingnya membuat saya semakin penasaran akan kisah yang terkandung di dalamnya. Saya pun memulai perjalanan menaiki undakan demi undakan untuk menuju puncak candi.

Sepanjang perjalanan, saya melihat banyak wisatawan yang berhenti untuk mengamati relief yang menceritakan ajaran Buddha dan kehidupan masyarakat zaman dahulu. Saat tiba di puncak, saya dikejutkan oleh pemandangan yang luar biasa.

Dari atas Candi Borobudur, saya bisa melihat hamparan hijau perbukitan yang mengelilinginya. Angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin syahdu, seolah membawa ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Perjalanan ke Candi Borobudur benar-benar memberikan pengalaman yang berharga. Tidak hanya keindahan arsitekturnya yang memukau, tetapi juga nilai sejarah dan spiritual yang begitu mendalam. Saya pun berjanji dalam hati, suatu saat nanti saya akan kembali ke sini untuk menikmati keagungan Borobudur sekali lagi.

Malioboro: Jantung Keramaian Yogyakarta
Tak lengkap rasanya perjalanan ke Yogyakarta tanpa mengunjungi Jalan Malioboro. Kawasan ini menjadi ikon wisata yang selalu ramai oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Begitu tiba, saya langsung disambut dengan deretan pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai suvenir khas, mulai dari batik, blangkon, gantungan kunci, hingga pernak-pernik unik yang bisa dijadikan oleh-oleh. Aroma khas jajanan tradisional bercampur dengan angin malam, menambah kesan hangat dan akrab di tempat ini.

Sambil berjalan santai di trotoar yang kini lebih tertata rapi, saya menikmati pertunjukan seniman jalanan yang memainkan alat musik tradisional seperti angklung dan gamelan. Beberapa di antaranya juga menampilkan atraksi wayang kulit mini yang menarik perhatian para wisatawan.

Malioboro memang bukan sekadar tempat berbelanja, tetapi juga pusat seni dan budaya yang hidup, di mana setiap sudutnya menawarkan pengalaman yang berkesan.

Setelah puas berkeliling, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu rumah makan yang menyediakan makanan khas Yogya, yakni Gudeg.

Saat menyuapkan satu suapan nasi dengan gudeg rasanya sangat nikmat ditemani dengan es teh panas yang langsung menghangatkan tubuh, sangat cocok untuk melengkapi perjalanan kali ini.

Selain gudeg, Malioboro juga terkenal dengan berbagai kuliner khas seperti wedang ronde, dan angkringan yang menawarkan pengalaman makan lesehan dengan suasana yang lebih santai.

Duduk di pinggir jalan, menikmati hidangan khas sambil melihat hiruk-pikuk Malioboro di malam hari, memberikan sensasi tersendiri yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tak ingin pulang dengan tangan kosong, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu toko batik di Malioboro.

Di sini, saya menemukan berbagai pilihan kain dan pakaian batik dengan motif yang beragam, dari yang klasik hingga modern.

Batik Yogya memang memiliki ciri khas tersendiri, dengan pola yang elegan dan warna yang khas, membuatnya cocok dijadikan buah tangan atau bahkan dikenakan sendiri sebagai kenang-kenangan dari perjalanan ini.

Selain batik, banyak juga toko yang menjual pernak-pernik khas seperti miniatur Candi Borobudur dan makanan khas seperti bakpia yang bisa dijadikan oleh-oleh untuk keluarga dan teman di rumah.

Menutup perjalanan di Yogyakarta, saya merasa begitu puas dengan pengalaman yang telah saya dapatkan. Kota ini tidak hanya menawarkan keindahan sejarah dan budaya, tetapi juga kehangatan dan keramahan yang membuat setiap pengunjung merasa seperti di rumah sendiri.***

Nabila Fasya Agustin – Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi