Home Blog Page 1104

Peringati Nuzulul Quran, Ribuan Jamaah Ikuti “Bogor Ngaos Qur’an” di Masjid UIKA 

0

Bogordaily.net – Ribuan jamaah yang didominasi kaum wanita dari berbagai majelis taklim mengikuti kegiatan “Bogor Ngaos Qur’an ke-V” dan Tabligh Akbar di Masjid Ibn Khaldun Bogor, Jalan KH Sholeh Iskandar, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Minggu 16 Maret 2025.

Acara yang digagas oleh Majelis Ukhuwah Bogor Raya ini bertemakan “Terangi Indonesia, Bebaskan Palestina” dan dilaksanakan bertepatan dengan 16 Ramadhan 1446 Hijriah dalam memperingati Nuzulul Qur’an.

Kegiatan ini merupakan upaya untuk memakmurkan bulan Ramadan dengan membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an secara bersama-sama. Setiap majelis taklim membaca satu juz Al-Qur’an dan semua majelis digabungkan bisa membaca secara keseluruhan 30 juz Al-Qur’an.

Usai pembacaan 30 juz Al-Qur’an, ribuan jamaah membaca doa Khatam Qur’an yang dipimpin oleh para ulama dan asatidz. Usai membacakan doa, mereka menyerukan kampanye “Selamatkan Indonesia dengan Al-Qur’an”.

Ketua Panitia Bogor Ngaos Qur’an Ustaz Abdul Qodir Nurhasan mengatakan Majelis Ukhuwah Bogor Raya dibentuk dengan tujuan menyatukan seluruh komponen umat Islam di Bogor khususnya sehingga menguatkan persaudaraan umat Islam.

Ia mengatakan, Bogor Ngaos Qur’an sudah dilakukan lima kali, dengan semangat untuk mensyiarkan Al-Quran sebagai petunjuk dan solusi kehidupan.

“Bogor Ngaos Qur’an digelar karena rasa prihatin akibat umat Islam jauh dari Al-Qur’an. Oleh karena itu dengan semangat Al-Qur’an maka kita berharap tidak ada hari tanpa membaca Al-Qur’an, tidak hari tanpa mempelajari, menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an,” ujar Ustaz Abdul Qodir.

Pihaknya berharap, di momen Nuzulul Qur’an kali ini disaat kondisi bangsa sedang memperihatinkan, Allah bukakan pintu rahmat dan keberkahan untuk keselamatan Indonesia.

“Mudah-mudahan dengan mukzizat Al-Qur’an, Allah SWT memberikan curahan rahmat dan pertolongannya. Sesuai tema acara kali ini yaitu ‘Terangi Indonesia’ karena sekarang banyak yang pesimis karena jargon ‘Indonesia gelap’ maka kita harus optimis dan yakin bahwa Indonesia akan terang dengan Al-Quran, Indonesia akan selamat dengan Al-Qur’an, maka kita kembali kepada aturan Allah SWT yaitu Al-Qur’an,” jelas Ustaz Abdul Qodir.

Selain itu, Majelis Ukhuwah juga tetap menyuarakan solidaritas untuk Palestina. “Saat ini sejak awal Ramadhan perbatasan Gaza ditutup sehingga bantuan sulit masuk, bahkan sejak gencatan senjata banyak warga Gaza yang menjadi korban karena kebiadaban penjajah Yahudi, bangsa yang suka melanggar perjanjian,” tambahnya.

Pembina Majelis Ukhuwah Bogor Raya Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin MS menyampaikan pentingnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup yang dapat membawa keselamatan dunia dan akhirat. Ditekankan bahwa Al-Qur’an adalah kitab mulia yang diturunkan pada bulan yang paling mulia, yaitu Ramadan.

Lebih lanjut, Kiai Didin juga mengajak umat Islam untuk kembali membangun peradaban dengan Al-Qur’an sebagai landasan kehidupan. “Banyak permasalahan yang terjadi, baik di Indonesia maupun dunia, disebabkan oleh jauhnya umat dari Al-Qur’an. Oleh karena itu, masyarakat harus menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan, serta menjadikan momentum Ramadan ini untuk membangun kecintaan terhadap Al-Qur’an,” pesannya.

Selain Kiai Didin, acara ini dihadiri banyak ulama dan tokoh Islam, mereka adalah KH Shabri Lubis (Pimpinan Pecinta Al-Aqsha), Prof Dr Sudarnoto Abdul Hakim (Ketua MUI Pusat), Habib Ahmad al Munawar (Pimpinan Majelis Syifa lil Mukminin), Ustaz Hisyam Mukhlas Arruyani (Majelis Al-Ihya), Ustaz Abdul Halim (Ketua DDII Kota Bogor), Ustaz Iyus Khaerunnas (GNPF Bogor) dan lainnya.

Selain itu, Bogor Ngaos Qur’an kelima ini juga dihadiri oleh Wali Kota Bogor Dedie A Rachim MA, Ketua DRPD Kota Bogor Dr. Adityawarman Adil dan Rektor Universtias Ibn Khaldun (UIKA) Bogor Prof. Dr. H. Endin Mujahidin, M.Si. Acara dipandu oleh dai kondang asal Bogor yaitu Ustaz Dadang Holiyulloh. ***

Albin Pandita

Perjalanan Libur Semester

0

Bogordaily.net – Sudah direncanakan setiap libur semester untuk berlibur Bersama teman lama ku. Libur semester tahun ini kami putuskan untuk pergi ke Bandung, dan kebetulan kota itu adalah kota asal orang tua aku. Cukup Panjang perjalanan ini yang menarik kami selalu membuat PPT yang isinya destinasi yang akan dikunjungi, kendaraan yang akan naiki, makan apa yang akan kita mkana, Dimana kita akan tinggal, hingga butuh berapa uang yang kami butuhkan dan siapkan untuk perjalanan Bersama kali ini. Dan perjalanan ini di tempuk oleh 7 orang 3 laki- laki dan 4 perempuan, kami berteman dari smp hingga sampai saat ini walaupun kuliah di tempat yang berbeda tapi rumah kami berdekatan sehingga saat libur semester kami selalu merencakan liburan Bersama.

Perjalanan awal dari Cilegon

Perjalanan ini di awali dari 3 laki-laki teman kami yang Bernama Tama, Aqil, dan Radif mereka sudah Bersama dari subuh hari, lalu menjemput perempuan menggunakan mobil 4 perempuan yang Bernama Diva, Asti, Nanda, dan aku sendiri Syahla kita di rumah masing. Rumah kami hanya beda komplek tapi masih satu daerah saat sudah Bersama kami memulai berjalanan dari Cilegon hingga tujuan pertama kami adalah berhenti di rest area di siang hari untuk istirahat, makan siang dan ganti baju, untuk makan siang di rest ini saya sudah masak untuk kami semua dengan menu ayam teriyaki. Sudah istirahat akahirnya kami menuju destinasi pertama kami.

Dago Dream park

Sedikit cerita sebenarnya destinasi kami ini berganti saat kami sudah sampai di destinasi awal yaitu ke jatinangor park, tapi apesnya pada hari itu mereka sedang mengadakan diskon besar-besaran sehingga sangat ramai dan macet menuju kesana. Beruntungnya kami sudah menyiapkan plan lain jika jatinangor park tidak bisa dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Dago Dream Park. Ternyata plan b ini adalah plan yang terbaik kami tiba saat orang-orang sudah selesai turun dan bermain jadi tempatnya tidak terlalu rame sehingga kami bisa memainkan semua mainan yang ada disana.

Dago Dream Park ini adalah tempat untuk berswafoto extream hingga banyak wahana yang atraktif dengan pemandangan alam yang indah. Kami tiba disana pukul 2 siang dan di awali dengan foto2 yang extream seperti di atas sajadah terbang, sepeda terbang, dan dilanjuti dengan main wahana extream seperti flying fox, ATV, war climbing dan masih banyak lagi. Dengan harga 130 ribu sudah dengan tiket masuk dengan wahana 30an menurut kami tempat ini sangat worth it untuk di datangai.

Punclut makan dengan City Light

Setelah bermain di Dago Dream Park kami memutuskan unntuk mencari makan malam di daerah punclut dan akhirnya kami datangi salah satu tempat makan di sana yait saung teh ita. Makan lesehan yg beralaskan tikar, Areanya terbuka, bentuknya saung saung dan bisa liat pemandangan sembari menikmati makanan.

Semua lauk yang tersedih sudah dipajang di lemari etalase. Begitu datang, kita bisa langsung menghampiri lemari etalase tersebut, ambil piring dan capitan kemudian ambil sendiri lauk yang kita mau. Lauknya cukup banyak, mulai dari ikan, ayam, babat, kulit, usus, tahu, tempe, jengkol sampai ikan asin. Begitu selesai pilih-pilih lauk, piringnya serahin ke mbak/masnya kemudian lauknya akan digoreng dan disajikan (diantar ke lesehan tempat duduk kita) selagi panas. Nasi akan disajikan dalam bakul dalam keadaan masih panas juga. Bukan cuma nasi putih, tapi ada juga nasi merah.

Setelah kenyang kami memutuskan untuk pulang karena sudah malam juga, kami pulang kerumah saya yang ada di kabupaten bandung dan beristirahat hingga subuh untuk pergi ke destinasi berikutnya.

Sunan Ibu Sunrise Point

Destinasi selanjutnya adalah wisata alam yang ada di daerah kabupaten bandung tidak jauh dari tempat pengistirahatan kami. Diawali dengan kami yang berniat untuk berangkat sebelum subuh agar mendapatkan sunrise disana tapi karena kami semua kelelahan subuh baru bangun dan akhirnya kami sholat lalu siap-siap untuk naik keatas dengan matahri yang sudah naik akhirnya kami hanya merasakan sunrise di jalan. Walaupun kami tidak jadi lihat sunrise di sunan ibu tapi pemandangan disana tidak kalah indah.

Wisata Sunan Ibu Sunrise Point berlokasi di Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung Selatan, Provinsi Jawa Barat. Jaraknya sekitar 50 km dari pusat Kota Bandung atau sekitar 2 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Untuk menuju ke tempat ini, kami mengikuti rute dari Soreang, setelat itu ambil arah menuju Ciwidey kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kawah Putih.

Setelah kami sampai di pintu masuk Kawah Putih, karena kami menaiki kendaraan pribadi roda empat kami bisa langsung ke parkir atas tanpa menaiki ontang-anting. Dari sana, jalan kaki sekitar 15 menit menuju pintu masuk Sunan Ibu Sunrise Point. Setelah sampai atas kami foto-foto dengan pemandangan kawah putih yang indah dan suasana yang dingin.

Jalan-jalan di Braga Kota Bandung

Masih di hari yang sama kami turun dari dari sunan ibu menuju rumah lagi untuk

makan siang dan Bersiap untuk ke braga sekaligus pulang lagi ke kota Cilegon. Braga adalah destinasi terakhir kami. Kenapa kami memilih untuk ke ke braga karena Jalan Braga

merupakan salah satu landmark atau ikon Kota Bandung yang terkenal. Dulu, Jalan Braga ini dikenal dengan nama “Paris Van Java”.

Salah satu daya tarik dari jalan ini, yaitu kami bisa menemukan deretan bangunan- bangunan jaman dulu yang masih terawat dengan baik di sepanjang Jalan Braga. Tapi kini Gedung lama itu sudah di modernisasika oleh café estetik, restoran, dan yang paling utama alasan kami kesana adalah untu foto di phobox yang estetik di sana. Kami mengunjungi

photbox yang viral yaitu di “ snapline “ photobox dengan tema kita seperti di dalam eskalatot membuat tampak menarik dan unik. Di daerah braga juga banyak pusat oleh-oleh yang viral, kami juga mengunjunginya untuk di bawa ke rumah masing-masing.

Panjang sudah perjalanan yang kami lalui dan kota braga bandung menjadi destinasi terakhir kami, waktu sudah menunjukan pukul 11 malam kami akhirnya memutuskan untuk pulang kecilegon dan sampai Cilegon pada subuh hari.***

Syahla Fitriyanti Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University

 

 

Kapan Lagi Buka Bareng BRI Festival 2025 Digelar, Beragam Aktivitas Seru Hadir di GBK!

0

Bogordaily.net – Gelaran “Kapan Lagi Buka Bareng (KLBB) BRI Festival 2025” resmi diselenggarakan dengan antusiasme yang tinggi.

Digelar di Plaza Parkir Timur GBK Jakarta acara yang berlangsung pada 15 hingga 16 Maret 2025 ini menghadirkan berbagai aktivitas menarik serta penampilan spesial dari musisi Tanah Air.

Pada hari pertama penyelenggaraan, tercatat lebih dari 20 ribu penonton memadati area acara untuk menikmati suasana berbuka puasa bersama dan menyaksikan penampilan idola mereka. Adapun, di tahun ini KLBB BRI Festival 2025 menargetkan 40 ribu pengunjung selama dua hari pelaksanaan.

Sebagaimana diketahui, KLBB BRI Festival 2025 menjadi ajang bagi masyarakat untuk merayakan Ramadan dengan suasana yang lebih meriah. Selain dihibur oleh musisi ternama seperti Reality Club, Juicy Luicy, Tulus, dan Bernadya, pengunjung juga dapat mengeksplor berbagai tenant UMKM pilihan yang turut meramaikan festival ini.

Terkait hal tersebut, Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menegaskan bahwa dukungan BRI terhadap acara ini bertujuan untuk mempererat kebersamaan di bulan suci Ramadan sekaligus memperkenalkan berbagai layanan serta program unggulan dari BRI kepada masyarakat luas.

“Setiap pengunjung tidak hanya dapat menikmati suasana yang meriah, tetapi juga mendapatkan manfaat dari berbagai program yang kami hadirkan, baik dari sisi hiburan, transaksi digital yang mudah, maupun edukasi finansial dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Hendy.

Untuk memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi pengunjung, BRI pun menghadirkan berbagai inisiatif yang dapat dinikmati selama gelaran festival ini. Misalnya, pengunjung dapat dengan mudah membuka rekening atau mengakses produk finansial lainnya secara langsung di lokasi acara melalui booth layanan BRI.

Lebih lanjut, untuk mendukung transaksi digital yang lebih praktis dan menguntungkan, BRI menghadirkan program cashback bagi pengunjung yang bertransaksi di tenant-tenant UMKM food and beverage (F&B) pilihan, didukung dengan kehadiran Electronic Data Capture (EDC) dan QRIS BRI membuat pengunjung bertransaksi secara cashless, cepat, dan aman.

Tak hanya itu, BRI turut menunjukkan komitmennya terhadap kepedulian dengan mengajak pengunjung berpartisipasi mengumpulkan botol plastik bekas melalui program CSR Yok Kita GAS (Gerakan Kelola Sampah) di KLBB BRI Festival 2025. Program ini menghadirkan Reverse Vending Machine (RVM) sebagai sarana daur ulang botol plastik.

Pengunjung yang menyetor botol plastik ke dalam mesin RVM ini tidak hanya berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendapatkan reward yang dapat ditukarkan dengan saldo LinkAja senilai Rp1.446 per botol.

Inisiatif ini menjadi wujud nyata BRI dalam mendukung festival yang ramah lingkungan sekaligus event yang berkelanjutan (sustainable event).

“Kami berharap setiap pengunjung tidak hanya menikmati suasana Ramadan yang meriah, tetapi juga bisa berperan aktif dalam inisiatif positif yang kami hadirkan, termasuk menjaga lingkungan dengan cara yang sederhana namun berdampak besar,” pungkas Hendy. ***

Pria Dianiaya Hingga Bersimbah Darah Usai Bangunkan Sahur di Citeureup Bogor

Bogordaily.net – Seorang pria E (17) menjadi korban penganiayaan hingga bersimbah darah usai membangunkan sahur di Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.

Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu 16 Maret 2025 pukul 03.00 WIB dan sempat viral di media sosial.

Diketahui, korban dipukul di bagian kepala menggunakan air soft gun oleh seorang warga berinisial H (40) saat melintas di depan rumah pelaku.

Kapolsek Citeureup, AKP Ari Nugroho, menjelaskan bahwa pelaku merasa terganggu dan emosi, sehingga terjadi cekcok yang berujung pada pemukulan.

“Pelaku ini merasa terganggu atau gimana, dia emosi kemudian dia keluar rumah negur ada cekcok di situ akhirnya dikeplak lah make air soft gun,” kata AKP Ari, Senin 17 Maret 2025.

Menurut Polisi, akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami luka robek di kepala dan masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Kemudian, saat ini polisi telah mengamankan pelaku dan akan memeriksa kepemilikan air soft gun yang digunakan.

“Digetok pake air soft gun luka robek di kepala. Untuk korban sendiri masih dirawat di rumah sakit,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa, kepemilikan air soft gun tidak bebas dan ada aturannya, serta tidak boleh digunakan untuk menakut-nakuti. Pihaknya akan memeriksa lebih lanjut terkait kepemilikan senjata tersebut.

“Tidak boleh, tidak bebas, harus ada aturannya. Tidak boleh digunakan untuk kepentingan-kepentingan apalagi untuk menakut-nakuti. Akan diperiksa terkait kepemilikannya,” ujar AKP Ari.

Lebih lanjut, Ia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam bertindak dan saling menghargai agar kejadian serupa tidak terulang.

“Mungkin lebih bijak silahkan disampaikan dengan baik-baik kalau ada yang enggak pas, pasti yang bangunin juga orang lingkungan, bukan orang luar daerah, silahkan kalau enggak pas tolong disampaikan, sama sama menghargai,” ungkapnya.***

Albin Pandita

Mitigasi Banjir Tidak Optimal: Mengapa Masalah Ini Terus Berulang?

0

Oleh: Anatasya Disha
Mahasiswa Komunkasi Digital dan Media

Awal Maret 2025, wilayah Jabodetabek kembali dilanda banjir besar dan Bekasi menjadi daerah yang terdampak paling parah. Banjir kali ini dinilai lebih buruk dibandingkan peristiwa serupa yang pernah terjadi sebelumnya, termasuk banjir besar pada tahun 2020. Dari berita yang beredar, 10 dari 12 kecamatan di Kota Bekasi terendam air, bahkan di beberapa titik, banjir dilaporkan mencapai ketinggian 4 meter. Peristiwa ini tentunya tidak hanya merusak ribuan rumah, tapi juga mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, dan transportasi, serta memaksa ribuan warga mengungsi.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: Mengapa banjir terus terjadi dengan skala yang semakin besar meskipun fenomena ini sudah diprediksi sebelumnya? Pemerintah sering mengkategorikan banjir besar sebagai “banjir lima tahunan,” seolah-olah ini adalah siklus alamiah yang tidak bisa dihindari. Namun fakta menunjukkan bahwa tidak ada upaya signifikan yang dilakukan untuk meminimalkan dampaknya. Padahal, banyak faktor yang mendorong semakin parahnya banjir, terutama buruknya mitigasi dan tata kelola lingkungan di kawasan Jabodetabek.

Sungai-sungai yang Kian Menyempit dan Sistem Drainase yang Buruk

Bekasi memiliki peran strategis dalam sistem Daerah Aliran Sungai (DAS), terutama dengan keberadaan Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas yang bermuara di Kali Bekasi dan mengalir ke Laut Jawa. Sungai ini seharusnya mampu menampung dan mengalirkan air dengan baik dari wilayah hulu di Bogor ke daerah hilir di Bekasi dan Jakarta, namun nampaknya dalam beberapa tahun terakhir, sistem DAS ini menghadapi berbagai permasalahan seperti penyempitan aliran sungai akibat pembangunan permukiman hingga alih fungsi lahan yang mengurangi daya serap air.

Kondisi juga diperburuk dengan pembangunan yang tidak terkendali di bantaran sungai. Banyak kawasan yang seharusnya menjadi daerah sempadan sungai sekarang dipenuhi dengan permukiman dan infrastruktur lain. Hal hal tersebut pastinya mengurangi kapasitas sungai dalam menampung air saat curah hujan tinggi dan meningkatkan resiko banjir. Sayangnya, izin pembangunan di kawasan ini tetap dikeluarkan oleh pemerintah daerah meskipun mereka paham tentang resiko apa yang akan timbul.

Sistem drainase di Bekasi juga tidak mampu mengalirkan air secara optimal. Banyak saluran yang tersumbat oleh sampah atau sedimentasi, sehingga ketika hujan deras terjadi, air tidak dapat mengalir dengan lancar dan akhirnya menggenang di pemukiman warga. Ini menunjukkan bahwa upaya perbaikan infrastruktur drainase masih belum menjadi prioritas utama dalam kebijakan tata kota.

Alih Fungsi Lahan Berlebih = Bencana Buatan Manusia

Salah satu penyebab utama banjir di Bekasi bukan hanya curah hujan tinggi di wilayah tersebut, tetapi juga aliran air dari kawasan hulu, terutama dari Bogor. Kawasan Puncak, yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air, kini telah banyak dialihfungsikan menjadi kawasan wisata dan pemukiman. Padahal, daerah ini memiliki peran penting dalam menyerap air hujan sebelum mengalirkannya ke sungai-sungai di hilir.

Alih fungsi lahan ini menyebabkan air hujan yang seharusnya terserap ke tanah malah langsung mengalir ke sungai yang meningkatkan debit air secara drastis dalam waktu singkat. Akibatnya, sungai tidak mampu menampung volume air yang melonjak, sehingga banjir di daerah hilir, termasuk Bekasi, menjadi tidak terhindarkan. Jika kawasan resapan air di hulu terus berkurang, kedepannya kejadian banjir besar seperti ini akan semakin sering terjadi.

Ironisnya, meskipun masalah ini sudah diketahui sejak lama, kebijakan yang ada belum menunjukkan keberpihakan pada lingkungan. Pemerintah daerah dan developer terus mengabaikan pentingnya menjaga ekosistem hulu demi kepentingan ekonomi jangka pendek. Itu membuktikan bahwa perencanaan tata ruang yang ada saat ini tidak memperhitungkan dampak lingkungan dalam jangka panjang.

Pemerintah Lamban dalam Mitigasi, Padahal Banjir Sudah Menjadi Pola yang Berulang

Banjir di Bekasi sering kali disebut sebagai “banjir lima tahunan,” yang berarti bencana ini sudah memiliki pola yang bisa diprediksi. Namun meskipun pola ini sudah diketahui, upaya mitigasi yang dilakukan tetap minim dan tidak menunjukkan adanya perbaikan signifikan. Salah satu contohnya adalah kurangnya upaya pengerukan sungai secara rutin untuk mengatasi sedimentasi. Sungai yang mengalami pendangkalan otomatis akan kehilangan kapasitasnya untuk menampung air dalam jumlah besar. Selain itu, proyek normalisasi sungai yang telah lama direncanakan tidak pernah benar-benar berjalan dengan efektif.

Pembangunan yang terus berlangsung tanpa mempertimbangkan dampaknya pada lingkungan juga dapat membuat kondisi semakin parah. Banyak lahan yang seharusnya dijadikan daerah resapan air malah dijadikan kawasan permukiman atau industri. Dinas PUPR seharusnya lebih ketat dalam memberikan izin pembangunan, terutama di daerah yang secara geografis rentan terhadap banjir. Namun kenyataannya? Perizinan sering kali lebih didasarkan pada kepentingan ekonomi dibandingkan pertimbangan lingkungan.

Selain itu, tidak ada sistem peringatan dini yang efektif untuk memberitahu warga tentang potensi banjir yang akan datang. Banyak warga yang baru menyadari ancaman banjir ketika air sudah mulai masuk ke rumah mereka. Jika sistem mitigasi yang baik diterapkan, warga seharusnya bisa mendapatkan informasi lebih awal sehingga bisa melakukan langkah-langkah antisipasi.

Mitigasi Banjir Harus Menjadi Prioritas

Banjir di Bekasi bukan sekadar bencana alam yang tidak bisa dihindari, melainkan juga akibat dari kebijakan tata ruang yang tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Penyempitan sungai, sistem drainase yang buruk, hingga alih fungsi lahan adalah faktor utama yang menyebabkan banjir semakin parah dari tahun ke tahun.

Pemerintah seharusnya tidak lagi melihat banjir sebagai kejadian tahunan yang hanya perlu ditangani saat terjadi, tetapi sebagai masalah yang membutuhkan solusi jangka panjang. Perbaikan sistem drainase, penghentian pembangunan di kawasan sempadan sungai, serta restorasi daerah resapan air di hulu harus menjadi prioritas utama dalam perencanaan kota.

Jika tidak ada perubahan signifikan dalam kebijakan mitigasi banjir, maka bencana serupa akan terus terjadi, bahkan dengan dampak yang lebih besar. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan komitmen bersama, baik dari pemerintah, developer, maupun masyarakat, untuk membangun sistem pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Hanya dengan langkah tersebutlah kita bisa menghentikan siklus banjir yang terus berulang dan memastikan kota-kota kita menjadi tempat yang lebih aman untuk dihuni.***

 

Regulasi Baru LPG 3 Kg Antara Efisiensi Distribusi dan Tantangan Implementasi

0

Bogordaily.net – Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi baru terkait distribusi LPG 3 kg yang mulai berlaku pada 1 Februari 2025. Kebijakan ini menghapus peran pengecer tradisional, sehingga pembelian hanya dapat dilakukan melalui agen resmi atau pangkalan terdaftar.

Langkah ini bertujuan untuk memperpendek rantai distribusi, memastikan harga sesuai dengan patokan pemerintah, serta mencegah praktik penimbunan dan mark-up harga oleh pihak tertentu.

Namun, di balik niat baik tersebut, kebijakan ini juga menghadirkan berbagai tantangan, khususnya bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada pengecer untuk mendapatkan LPG 3 kg dengan mudah.

Regulasi ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan harga yang selama ini tidak terkendali akibat ulah pengecer yang menaikkan harga secara tidak wajar.

Dengan menghapus perantara dan mengarahkan distribusi melalui agen resmi, pemerintah ingin memastikan subsidi LPG 3 kg tepat sasaran.

Selain itu, melalui sistem pendataan dan kontrol yang lebih ketat, kebijakan ini juga bertujuan untuk mencegah penimbunan serta kelangkaan LPG di pasaran.

Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan transparansi distribusi dan efisiensi dalam penyaluran LPG bersubsidi.

Namun, implementasi kebijakan ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan akses terhadap agen resmi, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil yang selama ini mengandalkan pengecer sebagai penyedia utama LPG.

Banyak warga yang harus menempuh jarak lebih jauh hanya untuk mendapatkan LPG, yang tentunya dapat menyulitkan mereka, terutama bagi yang tidak memiliki kendaraan atau tinggal di wilayah yang minim fasilitas distribusi.

Selain itu, sebagian masyarakat masih awam terhadap sistem digital yang digunakan dalam pendataan pembelian LPG bersubsidi, sehingga diperlukan edukasi yang lebih luas agar mereka tidak mengalami kesulitan dalam proses transisi ini.

Dampak lain dari kebijakan ini juga dirasakan oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Banyak UMKM, terutama yang bergerak di bidang kuliner, sangat bergantung pada LPG 3 kg sebagai sumber energi utama dalam operasional mereka.

Jika distribusi tidak berjalan lancar atau stok di agen resmi terbatas, maka pasokan LPG dapat terganggu, yang berpotensi meningkatkan biaya produksi mereka.

Jika biaya produksi meningkat, harga jual produk pun cenderung naik, yang pada akhirnya dapat menurunkan daya beli konsumen dan mempengaruhi kelangsungan usaha mereka.

Dengan demikian, regulasi ini berisiko memberikan efek domino yang dapat menghambat pertumbuhan sektor UMKM yang merupakan tulang punggung ekonomi rakyat.

Selain persoalan aksesibilitas dan dampak terhadap UMKM, kebijakan ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kesiapan infrastruktur distribusi LPG di tingkat agen resmi.

Beberapa wilayah sudah mengalami kelangkaan LPG 3 kg bahkan sebelum regulasi ini diberlakukan sepenuhnya.

Jika pemerintah tidak mengantisipasi potensi kendala dalam penyediaan stok, kebijakan ini justru dapat memperburuk situasi dan memicu kepanikan di masyarakat.

Oleh karena itu, pengawasan ketat dan koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, serta Pertamina sebagai penyedia LPG menjadi faktor krusial dalam keberhasilan implementasi kebijakan ini.

Pemerintah perlu memastikan bahwa mekanisme distribusi yang baru ini tidak menimbulkan kelangkaan atau kesulitan akses bagi masyarakat yang membutuhkan.

Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah memperbanyak agen resmi di berbagai wilayah, terutama di daerah-daerah yang sebelumnya sangat bergantung pada pengecer.

Selain itu, perlu adanya sistem transisi yang lebih fleksibel agar masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan kebijakan baru ini.

Edukasi mengenai prosedur pembelian melalui agen resmi serta manfaat dari kebijakan ini juga perlu disosialisasikan secara masif agar masyarakat lebih memahami tujuan dan manfaat jangka panjang dari perubahan regulasi ini.

Sebagai langkah preventif, pemerintah juga harus memperkuat pengawasan di tingkat distribusi untuk mencegah praktik penimbunan dan memastikan bahwa pasokan LPG 3 kg tetap stabil di pasaran.

Koordinasi yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta Pertamina sangat diperlukan agar distribusi LPG berjalan lancar dan tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.

Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memastikan ketersediaan LPG di setiap wilayah dan memberikan solusi cepat jika terjadi kendala dalam distribusi.

Meskipun kebijakan ini memiliki niat baik, tanpa strategi implementasi yang tepat, justru dapat menjadi beban baru bagi masyarakat kecil yang bergantung pada LPG bersubsidi.

Oleh karena itu, pengawasan ketat, koordinasi dengan pemerintah daerah, serta mekanisme distribusi yang lebih fleksibel harus menjadi prioritas agar tujuan utama kebijakan ini benar-benar tercapai.

Pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan ini tidak hanya berfokus pada efisiensi distribusi, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat dan pelaku usaha kecil.

Dengan perencanaan dan eksekusi yang matang, regulasi ini dapat membawa perubahan positif dalam distribusi LPG 3 kg di Indonesia tanpa mengorbankan aksesibilitas dan kesejahteraan masyarakat. ***

Bintang Nugraha Gumilang
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Jadwal Jaga Dokter Koas, Berujung Tragis

0

Oleh Meutia Zahra Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media SV IPB University

Kali ini, kasus penganiayaan datang dari dunia kedokteran. Kejadian ini menimpa seorang dokter koas, Muhammad Luthfi Hadhyan oleh supir pribadi keluarga Lady rekan dokter koas. Mulanya kejadian ini dipicu oleh ketidaksukaan Lady, atas jadwal piket yang ia dapat pada libur Panjang Natal dan tahun baru sehingga berujung protes kepada Luthfi, Ketua Tim Dokter Koas di RS Siti Fatimah Palembang. Masalah ini sampai ke telinga ibu Lady, Sri Meilina yang kemudian mengundang Luthfi untuk bertemu di sebuah kafe di Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, pada 13 Desember 2024.

KODEKI

Setiap dokter harus menjunjung tinggi dan mengamalkan sumpah dokternya saat dokter dilantik. Pengambilan sumpah dokter saat ini sangatlah penting karena ketika ia berikrar dalam mengamalkan profesinya, maka ia akan selalu mendasarinya dengan kesanggupan yang telah diucapkan sebagai sumpah.  Sumpah dokter telah di akui oleh Indonesia dalam PP No. 26 Tahun 1960. Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) merupakan kesepakatan dokter Indonesia bagi pedoman pelaksanaan profesi dokter. Kode Etik Kedokteran Indonesia didasarkan pada asas-asas hidup bermasyarakat, yaitu Pancasila yang telah diakui Bangsa Indonesia sebagai falsafah hidup bangsa.

Setiap dokter memiliki kewajiban terhadap teman sejawatnya dengan memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. Hal tersebut tertulis jelas dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia. Etik kedokteran mewajibkan setiap dokter menjaga hubungan baik dengan rekan sejawatnya sesuai dengan salah satu makna dari lafal sumpah dokter. Sebagaimana tertera dalam Etik Kedokteran, hubungan antara rekan sejawat dapat memburuk bukan karena perbedaan pendapat mengenai cara penanganan pasien, perselisihan, mengenai rekan sejawat yang cuti, sakit, dan sebagainya. Persoalan tersebut hendaknya diselesaikan melalui musyawarah antar rekan sejawat.

PERSETERUAN KORBAN DENGAN TERSANGKA

Kasus tersebut berawal dari Luthfi yang Menyusun jadwal jaga, kemudian mendapat protes dari Lady yang menganggap tidak adil. Setelah itu Luthfi telah mengurangi jadwal jaganya, Lady pun masih tidak terima. Luthfi mengatakan kepada Lady “yaudah atur sendirn aja, tuker-tukeran sama temennya, biar sesuai”. Kenyataannya dalam pengaturan jadwal jaga selama praktik, berdasarkan hasil musyawarah mahasiswa profesi dokter yang telah disetujui dan ditandatangani oleh chief dan diserahkan kepada koordinator pendidikan mahasiswa profesi dokter. Namun, setelah mendapatkan balasan seperti itu, lady tidak terima dan bercerita kepada sang ibu.

Ibunya pun mengundang Luthfi untuk bertemu di salah satu kafe di Palembang. Ibu Lady datang bersama supir tersangka dan bertujuan berkomunikasi dengan korban untuk mengatur ulang jadwal di malam tahun baru. Luthfi tidak menanggapi permintaan tersebut, sehingga tersangka dibuat geram dan terjadi tindak kekerasan. Akibat insiden tersebut, korban mengalami luka memar di bagian wajah, sebelah matanya memerah. Setelah insiden tersebut korban dirawat di RS Bhayangkara Palembang.  Tindakan kekerasan tersebut tidak hanya merugikan korban secara fisik dan mental, tetapi juga menciptakan susasana kerja yang tidak aman dan nyaman bagi semuua tenaga medis.

EPRESENTASI KODEKI DALAM LINGKUNGAN KERJA

Dalam kasus tindakan kekerasan melibatkan Luthfi oleh DK supir keluarga Lady, tersangka kasus tersebut merupakan salah satu tindak pelanggaran KODEKI yang menekankan memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan dengan saling menghormati, empati sesame rekan sejawat. Secara konsep pendidikan kedokteran, dokter koas sudah seharusnya menjadi teladan bagi rekan lainnya dan pasien. Namun, dengan adanya insiden tersebut menunjukkan bahwa ada ketidakpuasaan antar sesame rekan terkait sistem penjadwalan tugas yang mungkin tidak adil.

Pihak Fakultas Kedokteran Universitas Sriiwijaya prihatin terhadap insiden yang menimpa salah satu peserta didiknya dan langsung melakukan rapat koordinasi dengan pihak kampus. Intitusi pendidikan seharusnya memberikan pendidikan etika yang mendalam kepada mahasiswa kedokteran demi menciptakan lingkungan yang mendukung komunikasi terbuka antara mahasiswa dengan pengajar. Kasus ini menekankan pentingnya membangun lingkungan kerja yang sehat di rumah sakit serta institusi pendidikan kedokteran. Tindakan kekerasan tidak dapat dianggap sebagai solusi untuk konflik. Semua pihak harus menyelesaikan konflik secara professional dan tidak ada keikutsertaan pihak eksternal dalam proses penyelesaian konflik.

KESIMPULAN

Insiden tersebut menjadi peringatan etika dalam dunia medis yang tidak serta merta tentang mengikuti aturan, tetapi juga tentang membangun hubungan yang saling menghormati dan menghargai antar sesama rekan medis. Hal ini menunjukan bahwa perlunya perbaikan sistem pendidikan kedokteran dan budaya kerja di rumah sakit. Masyarakat juga ikut andil dalam upaya mendukung hal tersebut dengan memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan tenaga medis.***

 

 

 

Perpustakaan atau Co-Working Space? Jusuf Kalla Library Punya Keduanya!

0

Bogordaily.net – Pada 17 Februari 2025, saya memutuskan untuk mengunjungi Jusuf Kalla Library, perpustakaan yang katanya nyaman dan modern. Sebagai seseorang yang suka mencari tempat kondusif untuk belajar, saya penasaran untuk mencoba langsung suasananya.

Begitu sampai, gedung megah berlantai delapan dengan desain futuristik menyambut saya. Dari luar, dinding kaca besar memberikan kesan terbuka dan terang. Bangunan ini tampak modern, mencerminkan suasana akademik yang profesional dan inovatif. Saat masuk, saya disambut oleh pendingin udara yang menyegarkan dan suasana tenang yang langsung menciptakan rasa nyaman. Petugas front office dengan ramah menjelaskan berbagai fasilitas yang tersedia, mulai dari ruang baca, working space, hingga akses ke koleksi digital.

Jusuf Kalla Library menawarkan pengalaman berbeda dari perpustakaan biasa. Tidak hanya sekadar deretan rak buku, perpustakaan ini menghadirkan konsep ruang belajar yang fleksibel. Ada ruang baca dengan bean bag untuk bersantai, ruang semi-private bagi yang butuh ketenangan ekstra, dan komputer dengan akses literatur digital. Suasana ini membuat pengunjung merasa lebih bebas dalam memilih cara belajar yang paling nyaman bagi mereka.

Saya awalnya mengira perpustakaan ini milik pribadi Jusuf Kalla. Ternyata, perpustakaan ini adalah bagian dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Nama Jusuf Kalla diabadikan sebagai penghormatan atas jasanya dalam mendirikan kampus ini bersama Presiden Joko Widodo. Perpustakaan ini bukan hanya tempat menyimpan koleksi buku, tetapi juga menjadi pusat kegiatan akademik yang mendukung mahasiswa dan peneliti.

Dari luar, perpustakaan ini tampak sepi, tapi begitu masuk, saya melihat banyak orang yang sibuk belajar. Beberapa duduk nyaman di bean bag, ada yang serius mengerjakan tugas di ruang semi-private, dan sebagian lagi menggunakan komputer untuk mengakses jurnal akademik. Meskipun pengunjungnya banyak, suasana tetap tenang dan kondusif.

Salah satu bagian yang menarik perhatian saya adalah Jusuf Kalla Collection, rak khusus berisi buku-buku pilihan dari Jusuf Kalla. Koleksi ini menampilkan buku-buku yang mencerminkan ketertarikan dan pemikirannya terhadap berbagai isu global dan nasional. Mulai dari ekonomi, politik, hingga kepemimpinan, semua terangkum dalam koleksi ini. Ini memberikan perspektif yang unik bagi siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang pandangan beliau.

Saya sempat ngobrol dengan salah satu mahasiswa yang belajar di sana. “Di sini suasananya enak, nggak berisik, dan fasilitasnya lengkap. Cocok banget buat fokus belajar,” katanya. Komentarnya menggambarkan bagaimana perpustakaan ini tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang yang benar-benar mendukung produktivitas.

Selain kenyamanan, perpustakaan ini juga punya teknologi yang canggih. Proses registrasi bisa dilakukan sendiri lewat komputer, jadi lebih cepat dan praktis. Wi-Fi gratis dengan kecepatan tinggi juga jadi nilai tambah, terutama buat yang butuh akses internet stabil untuk riset atau kuliah online. Saya juga melihat beberapa mahasiswa yang menggunakan fasilitas komputer perpustakaan untuk mengerjakan tugas dan mencari referensi akademik.

Fasilitas lain yang tak kalah menarik adalah adanya ruang diskusi yang bisa digunakan untuk belajar kelompok. Ini memungkinkan mahasiswa untuk berdiskusi tanpa mengganggu pengunjung lain. Ruangan ini cukup tertutup dengan peredam suara sehingga tetap menjaga ketenangan perpustakaan.

Menariknya, Jusuf Kalla Library tidak hanya terbatas untuk mahasiswa UIII, tetapi juga terbuka untuk umum. Siapa pun yang ingin menikmati fasilitas perpustakaan ini dapat berkunjung dengan membayar biaya masuk sebesar Rp10.000 per orang. Dengan harga yang cukup terjangkau, pengunjung dapat mengakses berbagai fasilitas modern yang tersedia dan menikmati suasana belajar yang nyaman.

Setelah beberapa jam di Jusuf Kalla Library, saya merasa puas dengan pengalaman yang didapat. Perpustakaan ini bukan hanya sekadar tempat membaca, tetapi menjadi pusat aktivitas intelektual yang mendukung berbagai kebutuhan akademik dan riset. Dengan fasilitas yang modern, suasana yang nyaman, serta akses literatur yang luas, tempat ini benar-benar memenuhi kebutuhan para pelajar dan peneliti.

Awalnya saya mengira minat terhadap perpustakaan mulai berkurang di era digital ini, namun ternyata tempat ini tetap ramai oleh mereka yang ingin belajar. Keberadaan perpustakaan seperti ini membuktikan bahwa ruang baca fisik masih sangat dibutuhkan, terutama ketika dilengkapi dengan teknologi canggih yang mempermudah pengunjung dalam mencari informasi.

Saya jadi teringat kutipan dari Jusuf Kalla, “Tidak ada suatu negara maju tanpa pendidikan yang keras.” Perpustakaan ini adalah bukti bahwa investasi dalam pendidikan sangat penting. Saya pasti akan kembali lagi untuk menikmati suasana belajar yang luar biasa di sini. Jika kamu mencari tempat yang nyaman dan kondusif untuk belajar, Jusuf Kalla Library adalah pilihan yang tepat.***

 

Muhammad Alfath, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Fenomena Livestreaming: Antara Kebebasan Berekspresi dan Tantangan Etika di Era Digital

0

Bogordaily.net – Dalam era digital yang terus berkembang, teknologi informasi dan komunikasi telah mangubah cara manusia berinteraksi. Salah satu inovasi yang mencolok adalah livestreaming, yang kini menjadi media komunikasi baru dengan pengaruh yang luas di berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya sekadar alat hiburan, livestreaming juga memainkan peran penting dalam pendidikan, pemasaran, hingga membentuk opini publik. Namun, di balik kebebasan berekspresi yang ditawarkan, muncul tantangan baru terkait etika penyiaran dan dampak sosial yang ditimbulkan.

Fenomena livestreaming mengubah pola penyiaran konvensional yang selama ini dikontrol ketat oleh regulasi dan kode etik. Platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram Live memberikan kebebasan hampir tanpa batas bagi penggunanya untuk menyampaikan ide, hiburan, hingga promosi produk. Siapa pun kini dapat menjadi “penyiar” dan membangun audiens mereka sendiri tanpa harus melalui proses seleksi atau sensor yang ketat.

Namun, kebebasan ini membawa konsekuensi signifikan. Livestreaming sering kali mengutamakan interaksi dan keterlibatan audiens tanpa memperhatikan kontrol kualitas konten. Hal ini membuka peluang munculnya konten sensasional, misinformasi, dan konten yang tidak pantas, yang bisa berdampak negatif pada audiens, terutama generasi muda.

Kebebasan Berekspresi vs Tantangan Etika

Livestreaming memberikan kebebasan hampir tanpa batas kepada siapa saja untuk menjadi penyiar dalam ruang digital. Berbeda dengan penyiaran konvensional seperti televisi dan radio yang diatur ketat oleh regulasi dan kode etik, livestreaming memungkinkan individu mengekspresikan ide, opini, dan kreativitas mereka secara bebas tanpa melalui proses sensor atau kontrol yang ketat.

Namun, kebebasan yang ditawarkan oleh livestreaming tidak datang tanpa konsekuensi. Kurangnya regulasi ketat dalam livestreaming membuka peluang bagi penyebaran konten yang tidak pantas, misinformasi, dan ujaran kebencian. Fenomena ini menimbulkan tantangan serius dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial atau etika dalam bermedia sosial.

Dalam penyiaran konvensional, seperti televisi dan radio, terdapat kode etik yang mengatur konten yang boleh dan tidak boleh disiarkan. Kode etik ini bertujuan melindungi audiens dari konten yang merusak norma sosial, seperti kekerasan, diskriminasi, atau ujaran kebencian. Sebaliknya, di dunia livestreaming, pembuat konten sering kali tidak terikat oleh aturan serupa, sehingga tanggung jawab etika sepenuhnya berada di tangan individu.

Beberapa platform seperti YouTube dan Instagram memang memiliki kebijakan komunitas untuk mengatur perilaku pengguna. Namun, penerapan kebijakan ini sering kali membawa pengaruh negatif, bergantung pada pelaporan pengguna atau algoritma untuk mendeteksi pelanggaran. Hal ini membuat banyak konten yang melanggar etika tetap bisa beredar sebelum akhirnya dihapus.

Dampak Sosial Livestreaming

Fenomena livestreaming mencerminkan perubahan besar dalam dunia komunikasi digital. Dengan memberikan kebebasan berekspresi yang lebih luas, livestreaming memungkinkan individu untuk berbagi ide, hiburan, dan bahkan mempromosikan produk secara langsung. Namun, kebebasan ini juga membawa tantangan etika yang tidak bisa diabaikan.

Dalam lanskap media saat ini, media sosial telah menjadi sangat berperan sebagai saluran utama arus informasi. Media sosial mempengaruhi hampir setiap aspek interaksi manusia, dimana setiap orang terhubung dan berkomunikasi, serta mendapatkan berita (Dewi et al., 2022). Dengan cepatnya arus informasi ini, risiko penyebaran konten negatif juga meningkat.

Platform livestreaming hanyalah teknologi web yang muncul pada tahun 2010, dan pada tahun 2015, telah berkembang menjadi bentuk siaran “live” yang memiliki kedekatan dan interaktif yang tinggi (Wang & Lu, 2019). Sifat interaktif ini membuat livestreaming menjadi alat komunikasi yang sangat efektif, tetapi juga rentan terhadap penyalahgunaan.

Dampak sosial dari livestreaming tidak hanya terbatas pada penyebaran informasi yang cepat, tetapi juga memengaruhi perilaku pengguna. Pengguna cenderung lebih terbuka dalam berbagi kehidupan pribadi mereka, yang menciptakan batas baru bahkan tanpa adanya batas antara kehidupan pribadi dan ranah publik digital. Fenomena ini dapat memperkuat identitas sosial seseorang di dunia maya, tetapi juga meningkatkan risiko pelanggaran privasi dan munculnya komentar negatif atau cyberbullying.

Selain itu, normalisasi konten sensasional dan ujaran kebencian dapat memengaruhi norma sosial masyarakat, terutama di kalangan generasi muda yang masih dalam tahap pembentukan identitas. Paparan terhadap konten semacam ini dapat memengaruhi cara pandang mereka terhadap isu-isu sosial dan membentuk perilaku yang kurang sehat.

Menjaga keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab sosial menjadi kunci dalam mengelola dampak livestreaming di era digital. Dengan memahami tantangan etika yang ada, baik pengguna, platform, maupun masyarakat secara keseluruhan dapat berperan dalam menciptakan lingkungan digital yang sehat. Livestreaming memiliki potensi besar untuk menjadi alat komunikasi yang efektif dan berdampak positif bagi masyarakat, asalkan digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab.***

Nabila Fasya Agustin, Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Nekat lewat Jalur Ilegal, Gunung Marapi Kini Ditutup Permanen!

0

Oleh: Novita Efliani, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB                                                                                        

Mendaki gunung merupakan suatu aktivitas yang banyak diminati oleh banyak kalangan, selain dapat menikmati keindahan alam tetapi juga dapat memberikan pengalaman baru yang menantang bagi para pendaki. Tapi sebelum melakukan pendakian banyak aturan aturan yang harus kita patuhi demi keselamatan dan kelestarian alam. Seperti yang sudah banyak dilansir di berbagai media mainstream diketahui bersama bahwa pada Minggu, 3 Desember 2023 telah terjadi erupsi Gunung Marapi di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), yang menyebabkan sebanyak 75 orang pendaki terjebak di atas gunung, diantaranya 52 orang selamat dan 23 orang meninggal dunia. Semenjak saat itu jalur pendakian Gunung Marapi ditutup sementara sampai dengan batas waktu yang belum bisa ditentukan. Namun meskipun telah ada larangan resmi, beberapa individu masih nekat melakukan pendakian secara ilegal.

Pada 19 Januari 2025, BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) mendapati tujuh pendaki liar dibantu dua masyarakat lokal menaiki Gunung Marapi lewat jalur ilegal yang saat ini gunung tersebut masih berstatus waspada atau level dua. Pada Minggu, 26 Januari 2025, BKSDA Sumbar mencatat sebanyak 9 orang pendaki melakukan pendakian berbahaya ke puncak Gunung Marapi.

Sehingga BKSDA Sumbar bersama Pemerintah Kabupaten Agam dan Tanah Datar sepakat menutup secara permanen pendakian Gunung Marapi. Kebijakan ini diambil usai viralnya kegiatan ilegal oleh para pendaki Gunung Marapi di Sumbar karena mereka memposting kecerobohannya di media sosial.

Hingga pihak BKSDA Sumbar meminta para pendaki untuk melakukan klarifikasi dalam waktu 3×24 jam sebelum dimasukan kedalam blacklist yang membuat para oknum tidak bisa menaiki gunung manapun. Kejadian ini menjadi peringatan bagi para pendaki dan semua pihak terkait mengenai pentingnya kepatuhan terhadap aturan yang telah dibuat.

Penutupan permanen jalur pendakian Gunung Marapi ini tentunya mendapat berbagai respon dari masyarakat, terutama dari kalangan pendaki dan pecinta alam. Beberapa kalangan menyayangkan keputusan tersebut karena mereka menilai bahwa pendakian gunung merupakan bagian dari hobi dan adanya experience tersendiri yang seharusnya tetap bisa diakses dengan pengawasan yang lebih ketat. Tapi di sisi lain, keputusan ini harus bisa dipahami untuk melindungi nyawa manusia serta keseimbangan ekosistem di sekitar gunung.

Keberanian para pendaki ilegal ini juga menunjukkan kurangnya kesadaran akan risiko dan kebijakan yang telah ditetapkan. Pemerintah menutup jalur pendakian ini juga bukan tanpa alasan.

Dengan status waspada atau level dua, gunung ini masih memiliki potensi untuk mengalami erupsi maupun aktivitas vulkanik yang membahayakan.

Oleh karena itu, keputusan untuk menutup jalur pendakian ini bukan hanya hukuman bagi para pelanggar, tetapi juga antisipasi untuk mencegah korban jiwa yang lebih banyak lagi.

Sikap yang tidak bertanggung jawab dari para pendaki ilegal ini juga mencerminkan kurangnya edukasi serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Selain tentang mencapai puncak, etika melakukan pendakian juga perlu diperhatikan seperti harus menghormati alam, mematuhi aturan, serta memastikan keselamatan diri dan orang lain.

Dengan adanya kejadian ini dapat menjadi pembelajaran bagi seluruh pendaki agar memahami peraturan yang dibuat demi kepentingan bersama tanpa hanya mengikuti ego tersendiri.

Berdasarkan hal itu perlu adanya kolaborasi peran pemerintah serta organisasi pecinta alam memberikan edukasi kepada calon pendaki. Program pelatihan, seminar, pembekalan serta kampanye kesadaran tentang bahaya pendakian ilegal harus lebih ditingkatkan.

Dengan adanya program penyuluhan ini diharapkan para pendaki semakin sadar akan pentingnya menaati aturan yang ditetapkan Kedepannya, diharapkan adanya langkah-langkah konkrit dalam pengawasan dan penegakan aturan terkait pendakian gunung, tidak hanya di Gunung Marapi tetapi juga di gunung-gunung lainnya.

Selain itu, sosialisasi mengenai bahaya pendakian ilegal serta pentingnya konservasi alam perlu ditingkatkan. Kesadaran bersama dari para pendaki, pemerintah, serta masyarakat sekitar menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keselamatan manusia.

Keputusan untuk menutup Gunung Marapi secara permanen memang terasa berat bagi sebagian pihak terutama para pendaki dan pecinta alam, tetapi ini adalah langkah yang perlu diambil demi keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.

Semua pihak harus belajar dari kejadian ini dan mengambil sikap yang lebih bijak dalam menghargai serta melestarikan alam agar tragedi serupa tidak kembali terulang. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa aktivitas pendakian kedepannya dapat berlangsung dengan lebih aman dan bertanggung jawab.***