Tuesday, 21 April 2026
Home Blog Page 252

Magis Messi Bawa Inter Miami Juara MLS Cup 2025, Beckham: Mimpi Itu Terwujud

0

Bogordaily.net – MLS Cup 2025: Messi bawa Inter Miami juara. Kalimat itu akan terus diulang di Miami pagi ini. Bukan hanya karena Lionel Messi mencetak sejarah baru, tapi karena klub muda itu—yang dulu dianggap proyek mimpi David Beckham—akhirnya menemukan kenyataannya.

Pertandingan final di Chase Stadium, Fort Lauderdale, Minggu pagi WIB, dimulai seperti sebuah drama yang ingin cepat-cepat selesai. Baru delapan menit, sebuah umpan silang Tadeo Allende membentur bek Vancouver, Edier Ocampo. Masuk. Gol. Seperti hadiah pembuka untuk penonton tuan rumah.

Tapi pertandingan besar selalu menyimpan plot twist. Vancouver menyamakan kedudukan melalui Ali Ahmed di menit ke-60. Suasana stadion mendadak seperti kota yang listriknya padam sesaat: hening, khawatir, lalu gelisah.

Lalu Messi muncul. Tidak dengan gol spektakuler seperti masa mudanya, tapi dengan sesuatu yang lebih matang: dua asis yang menuntaskan pekerjaan. Satu untuk Rodrigo De Paul di menit ke-71. Satu lagi untuk Allende di masa injury time. Dua sentuhan, dua keputusan, dua momen yang mengubah Inter Miami dari klub kaya mimpi menjadi klub kaya prestasi.

Skor akhir 3-1. Inter Miami menutup malam paling bersejarah dalam usia mudanya. Ini gelar MLS Cup pertama mereka. Gelar yang pernah hanya ada di papan visi para pemilik klub—terutama satu nama: David Beckham.

“Semua emosi tumpah di menit-menit akhir pertandingan,” kata Beckham, yang malam itu tampak lebih seperti ayah bangga daripada seorang legenda sepakbola.

Ia mengakui banyak malam tanpa tidur, tapi tetap percaya Miami akan sampai ke titik ini. “Kaos kami menunjukkan lambang kebebasan bermimpi, dan kami berjanji kepada para penggemar bahwa kami akan mewujudkannya.”

Dan malam itu, janji itu akhirnya ditepati.

Tahun depan babak baru akan dimulai. Tapi untuk satu malam, Inter Miami boleh merayakan mimpi yang menjadi nyata—dengan Messi sebagai penulis bab terpentingnya.***

Pendidikan Spiritual Sufistik sebagai Solusi Holistik untuk Kesehatan Mental Remaja di Indonesia

0

Fenomena meningkatnya masalah kesehatan mental pada remaja Indonesia menegaskan urgensi isu yang selama ini kerap berada di bawah permukaan perhatian publik. .

Datata Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa 34,9% setara dengan sekitar 15,5 juta remaja berusia 10–17 tahun, mengalami sedikitnya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.

Gangguan yang paling banyak dilaporkan meliputi depresi, kecemasan, stres pascatrauma, masalah perilaku, serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD).

Dari keseluruhan temuan tersebut, 5,5% setara 2,45 juta remaja Indonesia memenuhi kriteria gangguan mental yang diakui secara klinis, dengan gangguan kecemasan sebagai diagnosis yang paling dominan.

Meskipun prevalensinya tidak menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan jenis kelamin secara umum, pola variasi tetap terlihat, seperti tingkat kecemasan yang lebih tinggi pada remaja perempuan dan tingkat hiperaktivitas yang lebih tinggi pada remaja laki-laki.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah rendahnya tingkat pemanfaatan layanan kesehatan mental oleh remaja. Hanya 2,6% remaja yang melaporkan pernah mengakses layanan dukungan atau konseling dalam satu tahun terakhir.

Mayoritas memilih menangani permasalahan secara mandiri atau melalui dukungan informal dari teman dan keluarga, sebuah kecenderungan yang mencerminkan kuatnya stigma sosial dan rendahnya literasi kesehatan mental dalam masyarakat. Sebagian besar pengasuh utama memilih untuk menangani masalah tersebut secara mandiri, sementara hambatan stigma, minimnya literasi kesehatan mental, serta akses yang terbatas menjadikan remaja sulit mendapatkan intervensi yang tepat.

Situasi krisis kesehatan mental remaja saat ini merupakan ancaman serius terhadap masa depan bangsa, karena kualitas sumber daya manusia sangat bergantung pada kondisi mental generasi muda.

Dalam konteks Indonesia, peluang besar terbuka untuk menggunakan pendekatan yang inklusif, kontekstual, dan mudah diakses, mengingat mayoritas penduduk Indonesia, sekitar 86–87% atau sekitar 244–247 juta jiwa tahun 2025, menganut agama Islam.

Hal ini menandakan bahwa pendekatan kesehatan mental yang mengintegrasikan nilai dan budaya Islam, khususnya pendidikan spiritual sufistik, memiliki potensi besar untuk diterapkan secara luas.

Pendidikan Spiritual Sufistik
Pendidikan spritual tampaknya sudah banyak dibahas secara luas oleh berbagai ahli. Salah satunya Ahmad Suhailah, dia mengemukakan pendidikan spiritual adalah penanaman cinta Allah di dalam hati peserta didik yang menjadikannya mengharapkan ridha Allah SWT di setiap ucapan, perbuatan, sikap, dan tingkah laku, kemudian menjauhi hal-hal yang menyebabkan murka-Nya (Aziz, 2017).

Abu Bakar Aceh mendefinisikan pendidikan spiritual sebagai upaya mencari hubungan dengan Allah yang dilakukan melalui proses pendidikan dan latihan sehingga seseorang dapat menemui (liqa) dan mempersatukan diri dengan Tuhan-Nya (Supriaji, 2019).

Adapun Mudlofir mendefinisikan pendidikan spiritual dalam Islam merupakan upaya pembersihan jiwa menuju Allah SWT. Dari jiwa yang kotor menuju jiwa yang bersih, dari akal yang belum tunduk kepada syariat menuju akal yang sesuai dengan syariat, dari hati keras dan berpenyakit menuju hati yang tenang dan sehat, dari roh yang menjauh dari pintu Allah SWT. lalai dalam beribadah dan tidak sungguh-sungguh melakukannya, menuju roh yang mengenal (arif) kepada Allah SWT, senantiasa melaksanakan hak-hak untuk beribadah kepada-Nya, dari fisik yang tidak mentaati aturan syariat menuju fisik yang senantiasa memegang aturan-aturan syariat Allah SWT (Mudlofir, 2011).

Pendidikan spiritual berbasis sufistik dapat pahami sebagai sebuah upaya sadar dan terencana dalam menanamkan rasa cinta kepada Allah SWT. melalui upaya memperkenalkan asma dan keagungan-Nya sebagai Tuhan yang harus disembah, ditaati serta dilaksanakan segala aturan, ketentuan dan petunjuk-Nya, baik secara lahiriah maupun ruhaniah melalui latihan pembersihan jiwa sehingga terlahir jiwa yang suci, akal yang bercahaya, akhlak yang mulia serta badan yang bersih dan sehat.

Perihal tersebut disebabkan adanya hubungan yang kokoh antara diri seseorang dengan Allah SWT senantiasa ridha dan pasrah sekaligus yakin akan pertolongan, hidayah dan taufik-Nya (Rohman, 2017).

Strategi pendidikan spiritual dipahami sebagai cara bagaimana mengajarkan pendidikan spiritual kepada anak sehingga diharapkan mereka mengalami pertumbuhan dan perkembangan spiritual secara optimal.

Strategi pendidikan spiritual berbasis sufistik menurut Nazar dapat dilakukan melalui beberapa langkah yaitu, (Suhendi, 2017): Pertama, manzilat al-taubat yakni seseorang berupaya meninggalkan berbagai hal yang haram serta melakukan sesuatu yang sudah menjadi kewajibannya sekaligus senantiasa mengutamakan berbagai kebaikan dalam kehidupannya.

Kedua, manzilat alzuhd yakni seseorang mulai melepaskan urusan dunia serta perhiasaan dunia dari dirinya secara proporsional serta menjauhi berbagai ke-subhat-an yang ada disekeliling kehidupannya.

Ketiga, permusuhan dengan dirinya, artinya ia tidak pernah mendengar dan menuruti isyarat-isyarat kehendak nafsunya secara berlebih-lebihan namun ia senantiasa menjaga, mengoreksi, mengawasi jiwanya untuk tunduk kepada perintah Allah SWT. serta terus berjalan menempuh jalur yang menghubungkan kepada-Nya.

Keempat, manzilat al-mahabbah (cinta) dan qurbah (kedekatan). Manzilah ini berbeda dengan tiga manzilah sebelumnya. Dalam tiga manzilah sebelumnya seorang hamba berjalan terus menuju Allah SWT. atau pada tujuan akhir yang ditempuhnya yaitu hikmah dan makrifat dengan mujahadah, meninggalkan, berpaling, menghadang dan mengaitkan hatinya kepada lokus tertinggi (Allah).

Akan tetapi dalam manzilah ini hatinya ditujukan kepada Allah SWT bukan kepada kekuasaan. Sebab kekuasaan itu sesungguhnya hanyalah milik Allah SWT.

Kelima, manzilah memerangi hawa nafsu. Adapun cara seorang hamba dalam menempuh manzilah yang kelima ini dengan khudu (ketundukan), tadarruj (langkah secara bertahap), dan khashah (ketakutan). Keenam, manzilah ketersingkapan hijab Ketuhanan.

Artinya Allah SWT senantiasa melihat hamba ketika ia tiada henti-hentinya melakukan tadarru (ibadah) kepada-Nya, keterhubungan dengan-Nya dan kekhusyukan terhadap-Nya.

Ketujuh, manzilah penampakan keagungan Ilahi. Ini terjadi ketika seorang hamba mengalami ketersingkapan pada hijab ke-Tuhanan, sehingga ia mengalami keheranan dan kebingungan tiada tara di samudera makrifat.

Kemudian ia diterpa kecemasan dan ketercekaman. Ia tidak tahu sama sekali tentang keberadaannya. Allah SWT. memandang si hamba dengan penampakan (tajalli). Allah SWT menghendaki untuk memberi petunjuk kepadanya sehingga tersingkaplah hijab yang menampakan keagungan ketuhanan.

Maka si hamba mendapat petunjuk untuk menuju kepada Tuhannya, mengenali-Nya, akrab bersama-Nya, dan hidup bersama-Nya. Ia telah menjadi kekasih yang maha pengasih. Ia berada dalam genggaman-Nya. Ia diperlakukan semuanya oleh Allah SWT. Dan ia pun menjadi salah satu diantara tiang-tiang bumi (autad al-ard), sedang bumi tidak dapat berdiri tanpanya.

Selain strategi pendidikan spiritual berbasis sufistik di atas, al-Husaini menjelaskan implementasi pendidikan spiritual berbasis sufistik dapat dilakukan melalui beberapa langkah sebagai berikut, (Rahayu, 2021): a) Menggantungkan hati kepada Allah SWT. dan membina hubungan yang erat dengan-Nya. b) Berzikir kepada Allah SWT. secara kontinyu. c) Memperbanyak ibadah baik ibadah shalat, infak, sedekah, membaca al-Qur‟an dan menghidupkan malam (qiyam al-lail) yang dapat menghidupkan hati, membersihkan jiwa, dan membangun relasi dengan Allah SWT. d) Merasakan pengawasan Allah SWT. baik dalam keadaan sendiri ataupun ramai. e) Merenungi dan memikirkan mahluk ciptaan Allah SWT. f) Mencintai Allah SWT. dan mengharapkan ridha-Nya. g) mencintai Rasulullah dan keluarganya. h) mencintai sahabat dan kaum muslimin. i) mengingat mati dan mempersiapkan akhiratnya.
Implikasi Praktis Pendidikan Sufistik: Studi Kasus di Yala Thailand
Thamavittaya Mulniti School berada di wilayah komunitas Muslim Melayu Patani yang cukup kuat di Yala, Thailand Selatan. Sekolah ini menerima siswa pada jenjang menengah pertama dan menengah atas dengan latar sosial ekonomi yang beragam, meskipun mayoritas berasal dari keluarga Muslim pedesaan dan perkotaan menengah ke bawah.

Secara umum, para remaja menunjukkan semangat belajar yang tinggi serta keterikatan kuat terhadap nilai-nilai agama dan keluarga. Namun, hasil observasi dan wawancara dengan guru dan siswa menunjukkan bahwa tantangan kesehatan mental tetap signifikan, terutama akibat pengaruh lingkungan sosial, tekanan akademik, serta posisi mereka sebagai minoritas di negara dengan mayoritas non-Muslim.

Meskipun tumbuh dalam lingkungan sekolah yang religius, para remaja menghadapi kompleksitas identitas ganda sebagai warga negara Thailand sekaligus bagian dari komunitas Muslim Melayu. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan konflik identitas, terutama ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan luar yang lebih sekuler.

Selain itu, beberapa wilayah di Yala masih memiliki dinamika keamanan yang belum sepenuhnya stabil, sehingga sebagian remaja menyimpan kecemasan laten terkait situasi sosial dan politik setempat.

Berbagai faktor tersebut memperkuat kebutuhan akan dukungan emosional dan terciptanya lingkungan sekolah yang aman secara psikologis bagi perkembangan mereka.

Pengabdian masyarakat di Thamavittaya Mulniti School memperlihatkan keberhasilan pendekatan pendidikan spiritual berbasis sufistik. Penelitian ini melibatkan guru, konselor sekolah, ustadz pembimbing, serta perwakilan remaja dengan mengintegrasikan program utama pesantren.

Hasil pengamatan menunjukkan beberapa dinamika yang menarik dan penting untuk dijadikan dasar perumusan program pendidikan spiritual sufistik.
Lebih lanjut, nilai-nilai seperti muhasabah (introspeksi diri), dzikrullah (mengingat Allah), dan mujahadah (kesungguhan dalam melawan hawa nafsu) memberikan fondasi kepada para siswa/i untuk mengembangkan ketenangan batin dan kontrol emosi. Praktik-praktik ini membantu mereka membangun daya tahan menghadapi tekanan psikologis dan sosial, terutama dalam konteks minoritas.

Aktivitas spiritual ini secara praktis menumbuhkan keseimbangan emosional remaja melalui rutinitas refleksi dan dzikir yang terstruktur, menurunkan rasa stres, kecemasan, serta memperkuat identitas batin yang resilien dalam keadaan sulit.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini secara signifikan meningkatkan stabilitas emosional remaja, yang terukur dengan skor rata-rata 95,2%.

Secara teoretis, pengabdian ini memperkuat basis pendidikan sufistik dengan mengadopsi gagasan Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, yang menekankan bahwa pendidikan spiritual tidak hanya ritual, tapi juga pembentukan kepribadian insan kamil, pribadi yang matang dan seimbang secara spiritual, intelektual, dan sosial. Pemikir modern seperti Haedar Nashir (2013) mengembangkan konsep ini lebih jauh sebagai model pendidikan karakter relevan menghadapi krisis spiritual dan sosial kontemporer.

Model pendidikan sufistik yang diterapkan di Thamavittaya Mulniti mengimplementasikan pendidikan karakter yang holistik melalui pembinaan kesabaran, keikhlasan, dan kepercayaan diri sebagai modal utama dalam menjaga mental dan keseimbangan jiwa. Hal ini menjadi alternatif efektif dalam konteks sekolah Islam minoritas yang menghadapi tekanan ekstrim akibat politik mayoritas dan diskriminasi kebijakan.

Di ranah sosiokultural, nilai sufistik menjadi jembatan penting bagi remaja muslim minoritas dalam navigasi tantangan multikultural. Praktik sufistik yang mengedepankan empati, toleransi, dan refleksi rutin memungkinkan remaja memahami dan mengelola konflik batin.

Interaksi sosial mereka tidak hanya terbentuk atas dasar identitas agama, tapi juga sikap saling menghargai keberagaman yang membawa pada kohesi sosial dan mitigasi stres sosial.
Partisipasi remaja dalam kelompok dzikir dan refleksi spiritual menjadikan mereka aktif membangun ketahanan sosial psikologis, mengurangi rasa terasing, serta membentuk solidaritas dalam masyarakat yang beragam. Eksistensi nilai sufistik menjadi kenyataan nyata bagaimana pendidikan keagamaan dapat berperan strategis dalam memperkuat keberlangsungan sosial dan budaya komunitas minoritas Muslim.

Integrasi Pendekatan Spiritual Sufistik dalam Sistem Pendidikan Indonesia
Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS, 2022) menunjukkan bahwa layanan kesehatan mental formal bagi remaja masih sangat terbatas, baik dari segi ketersediaan tenaga profesional maupun sistem rujukan.

Dalam situasi ini, staf sekolah, termasuk guru, pembina, dan konselor informal sering kali menjadi aktor pertama yang dihubungi ketika remaja mengalami tekanan psikologis. Namun, kemampuan mereka dalam melakukan intervensi masih bersifat sporadis, tidak terstandar, dan bergantung pada pengalaman personal. Hal ini memperlihatkan adanya treatment gap yang signifikan, sehingga dibutuhkan pendekatan alternatif yang dapat melengkapi sistem layanan formal yang belum memadai. Integrasi pendidikan dengan pendekatan spiritual, khususnya sufistik, menjadi salah satu strategi potensial untuk mengisi kekosongan tersebut.

Pendekatan spiritual sufistik memiliki karakter khas yang berpusat pada pembinaan jiwa, penguatan kesadaran diri, dan penanaman ketenangan batin melalui praktik-praktik seperti dzikir, tafakkur, cinta kasih (mahabbah), dan introspeksi diri (muhasabah). Modul pendidikan spiritual yang mengintegrasikan nilai-nilai ini dapat dikembangkan dan diadaptasi ke dalam kurikulum formal pendidikan umum maupun sistem pesantren. Melalui pelatihan guru sebagai pembimbing ruhani (murabbi), pembentukan kelompok sebaya berbasis dzikir dan diskusi spiritual, serta penciptaan ruang aman untuk refleksi emosional, remaja memiliki kesempatan untuk membangun regulasi emosi, ketangguhan psikologis, dan kecerdasan spiritual secara berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif, karena memampukan remaja menghadapi stres sosial, tekanan akademik, serta tantangan perkembangan diri secara lebih holistik.
Strategi ini sekaligus sejalan dengan rekomendasi nasional untuk memperluas cakupan layanan kesehatan mental primer melalui pendekatan multisektor yang menghubungkan pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial (I-NAMHS, 2022). Integrasi spiritual sufistik dapat berfungsi sebagai bridging mechanism, yakni jembatan penghubung antara kebutuhan kesehatan mental remaja dan kapasitas layanan yang tersedia. Dengan demikian, pendekatan ini dapat berkontribusi signifikan dalam meningkatkan literasi kesehatan mental, menurunkan stigma, serta memperluas akses pendampingan emosional bagi remaja di berbagai konteks pendidikan.

Pengalaman pengabdian masyarakat di Yala, Thailand Selatan, menunjukkan bahwa pendekatan sufistik yang terstruktur mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman secara psikologis, sekaligus membantu remaja minoritas menemukan kejelasan identitas dan ketenangan spiritual. Temuan ini, jika dikontekstualisasikan dengan data I-NAMHS, memberikan dasar argumentatif yang kuat bagi para pembuat kebijakan untuk mendorong integrasi pendidikan spiritual sufistik ke dalam pembangunan kesehatan mental remaja di Indonesia, baik melalui RPJMN, standar layanan kesehatan mental sekolah, maupun kurikulum akademik pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dan pesantren.

Ke depan, kolaborasi antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, lembaga riset, dan institusi keagamaan menjadi kunci untuk mereplikasi program-program berbasis sufistik secara lebih luas. Upaya ini tidak hanya berfungsi sebagai intervensi preventif, tetapi juga sebagai penguatan mental dan spiritual remaja di tengah perubahan sosial yang cepat, penetrasi digital, dan meningkatnya risiko masalah psikologis. Investasi pada bidang ini berpotensi mengurangi risiko gangguan mental kronis di masa dewasa, menekan beban sosial-ekonomi negara, serta menumbuhkan generasi muda yang tangguh secara psikologis, matang secara spiritual, dan selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, yakni lahirnya generasi yang sehat fisik, mental, dan rohani.

Kesimpulan

Pendidikan spiritual sufistik menawarkan solusi holistik dan kontekstual yang relevan dengan kebutuhan kesehatan mental remaja di Indonesia.

Implementasi dan pengembangan lebih lanjut melalui sistem pendidikan dan layanan sosial dapat menutup akses yang selama ini terbatas, mengurangi stigma, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia utuh secara fisik, mental, dan spiritual.

Rekomendasi ini bukan sekadar aspirasi, melainkan panggilan untuk aksi nyata berbasis bukti ilmiah dan pengalaman lapangan yang mendalam. Masa depan bangsa terletak pada kesehatan mental generasi muda, dan sufisme adalah kunci untuk menguatkan jiwa mereka dalam mengarungi era penuh tantangan.***

GTA 6 Kapan Rilis? Ini Jadwal Resmi, Fitur Baru, dan Detail Lengkap dari Rockstar Games

0

Bogordaily.net – GTA 6 kapan rilis. Pertanyaan itulah yang paling sering muncul sejak Rockstar Games mulai menggoda publik dengan kehadiran Grand Theft Auto VI.

Lebih dari satu dekade setelah GTA 5 lahir, nama GTA 6 kembali menguasai percakapan dunia—seperti magnet yang tidak pernah kehilangan daya tariknya.

Para gamer seolah menahan napas, menunggu apa lagi yang akan meledak dari dapur Rockstar.

GTA 6 kapan rilis sebenarnya sudah beberapa kali diisyaratkan. Setelah kesuksesan besar GTA 5, Rockstar seperti ingin memastikan bahwa langkah berikutnya tidak sekadar besar, tapi monumental.

Dunia fiksi Leonida, dengan Vice City sebagai pusatnya, dipersiapkan menjadi panggung baru yang jauh lebih hidup. Dunia yang memungkinkan pemain bukan hanya menjalankan misi, tetapi juga merasakan denyut kehidupan kota—seindah pantainya, sekeras kriminalitasnya.

Rockstar ingin memberi pengalaman yang lebih dari sekadar open world: mereka ingin dunia yang “bernapas”. Tapi ulang pertanyaan itu muncul lagi: GTA 6 kapan rilis?.

Melansir laman resmi Rockstar Games, jawabannya akhirnya jelas: 26 Mei 2026. Itulah tanggal resmi GTA 6 mendarat di PlayStation 5 dan Xbox Series X/S.

Tanggal baru. Revisi dari rencana sebelumnya yang menyebut tahun 2025. Setiap penundaan—apalagi untuk game sebesar ini—sudah pasti mengundang komentar keras. Tapi Rockstar menulis permintaan maaf secara terbuka, lengkap dengan penjelasan kenapa mereka perlu waktu tambahan.

Mereka ingin melampaui ekspektasi. Itu saja alasan mereka. Tidak kurang, tidak lebih.

Setiap detail tampaknya ingin ditata sehalus mungkin. Dunia terasa “hidup”. AI lebih cerdas. Perubahan besar terjadi pada sistem wanted level—kini polisi tidak lagi terlalu naïf, tapi jauh lebih strategis. Semua itu membutuhkan jam kerja yang lama. Bisa panjang. Bisa menyakitkan. Tapi begitulah seni: sempurna dulu, baru rilis.

Vice City kembali hadir—bukan dalam nostalgia 2002, melainkan dalam wajah modern yang lebih autentik. Jalanan, pantai, klub malam, rawa-rawa Florida yang panas. Semua dibuat ulang dengan detail yang nyaris obsesif. Di luar kota itu masih ada Leonida Keys, Grasserivers, dan wilayah fiksi lain yang membuat map GTA V terlihat kecil.

Karakter? Rockstar kali ini lebih berani. Jason Duval, mantan tentara yang berbelok arah. Lucia Caminos, tokoh protagonis wanita pertama sepanjang sejarah GTA. Bukan sekadar tambahan, tapi tulang punggung cerita. Ada pula Cal Hampton, Bookie Ike, Dre’Quan, Bae-Luxe, Roxy, Raul Bautista, hingga Brian Heder—masing-masing membawa warna kriminalnya sendiri.

Di sinilah ambisi Rockstar terlihat paling jelas. Mereka tidak hanya membuat game, mereka sedang membangun dunia. Dunia yang akan menjadi standar baru industri: grafik next-gen, gameplay realistis, dinamika sosial yang lebih canggih, dan AI yang bisa membuat pemain lupa bahwa mereka sedang bermain game.

Dan kini, pertanyaan itu akhirnya punya jawaban pasti, tertera tegas pada kalender: 26 Mei 2026 hari lahirnya GTA 6.***

Bencana Ekologis Sumatera: Ketika Alam Meminta Pertanggungjawaban Manusia

0

Oleh: Subhan Murtadla
Direktur Eksekutif Indonesian Green Community

Pulau Sumatera kembali berduka. Dalam beberapa hari terakhir, tiga provinsi — Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh — dilanda rangkaian bencana banjir dan longsor yang meluluhlantakkan pemukiman, infrastruktur, dan merenggut banyak nyawa.

Air bah datang tanpa ampun, membawa material lumpur, batu, hingga ribuan kubik kayu gelondongan yang hanyut seperti pasukan liar dari hulu sungai.

Kayu-kayu besar itu menghantam jembatan, menutup aliran sungai, menimbun rumah, dan memperparah daya rusak banjir bandang.

Pemandangan ini bukan sekadar musibah. Ini adalah peringatan keras tentang kerusakan ekologis yang sudah lama kita abaikan.

Fakta Lapangan: Banjir Bukan Lagi Sekadar “Bencana Alam”

Curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu langsung. Namun akar persoalan jauh lebih dalam: rusaknya daerah aliran sungai (DAS), hilangnya tutupan hutan, dan lemahnya pengelolaan lingkungan di kawasan hulu.

Beberapa temuan di lapangan serta laporan lembaga lingkungan menunjukkan:

1. Banyaknya kayu gelondongan yang terbawa arus tidak mungkin berasal hanya dari pohon tumbang alami.
Ini indikasi kuat adanya kawasan hutan yang melemah atau diganggu aktivitas manusia.

2. Deforestasi massif dalam satu dekade terakhir terjadi di ketiga provinsi tersebut.
Ketika hutan hilang, tanah kehilangan akar penahan, air kehilangan ruang resapan, dan sungai kehilangan penyangga alami.

3. Longsor beruntun menunjukkan tidak stabilnya struktur tanah di lereng-lereng perbukitan yang sebelumnya berhutan lebat.

4. Kerusakan hulu yang tidak tertangani menyebabkan banjir di hilir menjadi berlipat ganda, jauh lebih merusak dibanding sekadar banjir akibat hujan deras.

Bencana ini adalah gabungan dari bencana hidrometeorologi dan bencana ekologis, sebuah “kombinasi maut” akibat intervensi manusia yang berlebihan.

Tanda Serius dari Alam: Kita Sudah Melewati Batas

Kayu-kayu besar yang hanyut bukan hanya material banjir.
Ia adalah pesan visual, tanda dari hulu yang sedang menangis.
Hutan adalah sistem penyerap air. Ia meredam banjir. Ia menstabilkan tanah. Ia menjaga sungai agar tetap berfungsi.

Ketika pohon-pohon itu hilang atau ditebang tanpa kontrol, maka:
√air hujan tidak diserap,
√tanah kehilangan kekuatan,
√sungai kehilangan keseimbangannya,
√dan bencana menjadi tidak terhindarkan.

Bencana di Sumatera adalah bukti bahwa alam sedang menagih utang atas kelalaian manusia.

Kegagalan Kebijakan Pengelolaan Lingkungan

Tragedi ini menunjukkan adanya:
1. Kelemahan pengawasan perizinan hutan dan tambang
Aktivitas legal maupun ilegal di kawasan hulu seringkali tidak diawasi ketat.
Ketika fungsi hutan terganggu, masyarakat di hilir menjadi korban.

2. Tata ruang yang tidak disiplin
Banyak kawasan rawan banjir, longsor, dan bantaran sungai yang berubah menjadi permukiman, bahkan industri.

3. Minimnya rehabilitasi DAS
Rehabilitasi hulu tidak sebanding dengan laju kerusakan.
Pemulihan hutan berjalan lambat, sementara eksploitasi berjalan cepat.

4. Lemahnya penegakan hukum lingkungan
Tanpa sanksi tegas, kerusakan hanya akan berulang.
Bencana seperti ini hanyalah “episode terbaru” dari siklus kerusakan yang tidak pernah benar-benar dihentikan.

Dampaknya: Bukan Hanya Kerugian Fisik, Tetapi Kehidupan.

Musibah di tiga provinsi tersebut telah:

√menghanyutkan rumah dan kendaraan,
√merusak infrastruktur vital,
√mengisolasi ribuan warga,
√memutus transportasi dan ekonomi,
√serta menyebabkan korban jiwa yang terus bertambah.

Ini bukan kerugian sesaat.
Ini adalah kerugian generasi — dari anak-anak yang kehilangan keluarga hingga masyarakat yang kehilangan masa depan ekonominya.

Seruan Moral dan Spiritual: Alam Adalah Amanah, Bukan Komoditas

Sebagai bangsa yang religius, kita sering lupa bahwa merusak alam berarti merusak amanah.

Kerusakan yang terjadi bukan hanya fenomena ekologis tetapi juga krisis moral.

Kita harus kembali pada prinsip bahwa manusia adalah khalifah, di bumi.
Tugas kita bukan menghabiskan sumber daya, tetapi menjaga keseimbangan kehidupan.

Rekomendasi Mendesak: Jangan Biarkan Bencana Ini Menjadi Rutinitas

Tragedi ini harus menjadi titik balik.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa harus melakukan langkah konkret:
1. Audit total perizinan hutan dan tambang di hulu DAS
Termasuk aktivitas yang berpotensi merusak keseimbangan ekosistem.

2. Moratorium aktivitas di kawasan rentan
Seluruh aktivitas berisiko tinggi harus dihentikan sampai kondisi lingkungan dinyatakan pulih.

3. Rehabilitasi besar-besaran kawasan hutan dan DAS
Ini bukan proyek seremonial, tetapi upaya penyelamatan jangka panjang.

4. Penguatan sistem peringatan dini dan tata ruang berbasis risiko bencana

5. Penegakan hukum tanpa kompromi
Kerusakan ekologis adalah kejahatan kemanusiaan.
Pelakunya tidak boleh dilindungi.

6. Gerakan masyarakat untuk konservasi lingkungan
Edukasi publik sangat penting agar masyarakat memahami bahwa menjaga alam sama dengan menjaga hidup.

Penutup: Jangan Tunggu Korban Berikutnya

Bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh bukan akhir, melainkan peringatan.

Jika kita tidak berubah sekarang, kita akan terus menyaksikan bencana demi bencana, dengan korban semakin banyak dan kerusakan semakin luas.

Kita harus bertindak.
Kita harus memperbaiki kebijakan.
Kita harus menghentikan kerakusan.
Kita harus menyelamatkan hutan dan sungai kita — karena di sanalah masa depan bangsa ini berada.

Semoga musibah ini membuka mata kita semua.

Alam sudah berbicara. Saatnya kita mendengarkan.***

Menkop Ajak ICMI Perkuat Kopdes Sebagai Ekosistem Baru Ekonomi Kerakyatan

0

Bogordaily.net – Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan bahwa koperasi adalah amanat konstitusi dan fondasi ekonomi rakyat yang kini diperkuat melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai ekosistem baru yang memotong rantai pasok, menghadirkan layanan usaha di desa, dan melibatkan jutaan anggota.

Oleh karena itu, Menkop menekankan, penguatan koperasi juga membutuhkan dukungan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang memiliki peran strategis dalam memberikan pandangan keilmuan, pembinaan, dan jejaring intelektual.

“Hal itu untuk memastikan gerakan ekonomi kerakyatan berjalan lebih terarah dan berkelanjutan, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ucap Menkop, saat menjadi narasumber dalam acara National Leadership Camp dengan tema “Meneguhkan Peran Cendikiawan Muslim untuk Menwujudkan Indonesia Emas” yang diadakan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), di Bali, Sabtu (6/12)

Hadir dalam acara tersebut, Ahmad Muzani (Ketua MPR RI), Prof Arif Satria – Kepala BRIN (Ketua Umum ICMI), Fadel Muhammad (Anggota DPD), Andi Yuliani Paris (Anggota Komisi XI DPR RI), Dr Priyo (Wakil Ketua Umum ICMI), Andi Irman (Bendahara Umum ICMI), dan Direktur Pembiayaan Syariah LPDB Ari Permana.

Menkop mengajak kalangan ICMI untuk mengambil kesempatan dan memanfaatkan momentum ini untuk perkuatan ekonomi kerakyatan ke depan. Tahun depan, bakal ada 80 ribu lebih gerai ritel moderen yang dikelola Kopdes Merah Putih.

“Maknanya, kita harus bisa memproduksi barang-barang sendiri untuk dijual di ritel-ritel moderen milik Kopdes Merah Putih,” imbuh Menkop.

Bahkan, bagi Menkop, ini merupakan kesempatan emas dalam mendorong masyarakat koperasi bisa kembali ke sektor produksi. “Kembali ke sektor distribusi, industri dan sektor perkreditan,” tegas Menkop.

Menkop berharap ICMI bisa membangun koperasi atau mendorong pelaku UMKM yang ada di lingkungan keluarga besar ICMI untuk mulai bikin pabrik sabun, pabrik detergen, pabrik shampo, pabrik kecap, pabrik saus, pabrik sambal, dan sebagainya. “Apapun pabriknya, juga industri kecil, dan dalam bentuk koperasi, kita akan dukung,” kata Menkop.

Kemenkop akan mendorong pembentukan industri-industri, produk-produk, hingga pabrik-pabrik, yang akan memproduksi barang-barang kebutuhan masyarakat. “Tidak usah takut, produk-produk itu akan kami jual di Kopdes Merah Putih,” ucap Menkop.

Menurut Menkop, bangsa ini harus kembali percaya diri untuk menjadi produsen. “Kemenkop akan mendukung 100% sekiranya ada yang berkinginan untuk menjadi produsen, pabrik-pabrik, barang-barang, apalagi dalam bentuk badan usaha koperasi, kami akan biayai,” kata Menkop.

Dengan begitu, melalui eksistensi Kopdes Merah Putih, Menkop meyakini bangsa Indonesia akan kembali menjadi bangsa produsen. “Ini menjadi cara kita menuntaskan cita-cita para pendiri republik, pendiri ICMI, hingga tokoh-tokoh ICMI,” ucap Menkop.

Lebih dari itu, Menkop juga mendorong perguruan tinggi negeri dan swasta untuk mulai membuat dan menciptakan mesin-mesin pasca panen, dryer, alat pengatur suhu untuk buah-buahan dan sayuran, cold storage, dan lain sebagainya. “Kita punya semangat yang sama dan kami siap untuk kolaborasi,” ujar Menkop.***

Asesmen Lapangan Perubahan Bentuk Institut Ummul Quro Al-islami Bogor Menjadi Universitas

0

Bogordaily.net — Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor melaksanakan Asesmen Lapangan Perubahan Bentuk sebagai salah satu tahapan penting menuju transformasi kelembagaan menjadi Universitas Ummul Quro Al-Islami Bogor.

Kegiatan ini menjadi momentum strategis bagi IUQI dalam memperluas jangkauan akademik dan meningkatkan kualitas tata kelola pendidikan tinggi.

Asesmen ini dipimpin oleh tim dari Kementerian Agama Republik Indonesia, terdiri dari Prof. Dr. Amin Suyitno, M.Ag. (Direktur Jenderal Pendidikan Islam / Dirjen Pendis) dan Dr. Asro’i, M.M. (Kasubdit Kelembagaan & Kerjasama, Direktorat PTKI Diktis). Kedua asesor melakukan peninjauan menyeluruh terhadap seluruh aspek yang menjadi persyaratan perubahan bentuk, mulai dari sarana prasarana, kurikulum, SDM dosen, tata kelola kampus, hingga kesiapan pengembangan program studi.

Kegiatan berlangsung di Gedung Rektorat IUQI Bogor dan dihadiri oleh jajaran pimpinan institut, termasuk rektorat, dekanat, kaprodi, serta unit-unit pendukung akademik dan non-akademik. Dalam proses asesmen, tim melakukan pendalaman dokumen, wawancara, serta observasi lapangan untuk memastikan IUQI memenuhi standar yang ditetapkan.

Transformasi IUQI menjadi universitas diharapkan mampu membuka peluang lebih besar bagi inovasi, pengembangan keilmuan, dan peningkatan daya saing lulusan. Semangat perubahan ini juga tercermin dalam slogan inspiratif yang diusung pada kegiatan tersebut: “Go University!”

Dengan terselenggaranya asesmen ini, IUQI Bogor semakin dekat menuju status sebagai Universitas Ummul Quro Al-Islami Bogor, lembaga pendidikan tinggi berkarakter Ahlussunnah wal Jamaah yang siap berkontribusi lebih luas bagi bangsa dan dunia pendidikan.***

Agam Kembali Menyala, Sistem Kelistrikan Sumbar Pulih 100% Pascabencana

0

Bogordaily.net — PT PLN (Persero) berhasil memulihkan sistem kelistrikan Sumatra Barat pasca bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi akhir November lalu. Berkat kerja keras tim di lapangan, listrik wilayah Sumatra Barat pulih 100% setelah Kabupaten Agam sebagai wilayah terdampak terakhir berhasil dinyalakan pada Jumat (5/12) pukul 17:53 WIB.

Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi Ansharullah menyampaikan apresiasi atas langkah cepat PLN dan kolaborasi lintas sektor dalam pemulihan kelistrikan di berbagai wilayah terdampak bencana. Dengan pulihnya kelistrikan di Sumatra Barat, aktivitas masyarakat perlahan dapat kembali berjalan normal.

“Kami mengapresiasi dedikasi petugas PLN dan seluruh pihak yang bekerja tanpa henti untuk memulihkan kembali listrik di wilayah-wilayah terdampak banjir dan tanah longsor, meski kondisi medan yang sangat berat. Insyaallah listrik sudah bisa dinikmati oleh masyarakat dan aktivitas bisa berjalan seperti biasa,” ucap Mahyeldi.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa hadirnya listrik merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak. Maka, sejak awal pihaknya _all out_ untuk merampungkan proses pemulihan kelistrikan pascabencana di wilayah Sumatra Barat.

“Sesuai arahan Pemerintah, melalui Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Pak Bahlil Lahadia, seluruh personel bekerja 24 jam penuh di lapangan untuk memastikan semua titik terdampak mendapatkan suplai listrik kembali. Alhamdulillah, saat ini pasokan listrik Sumatra Barat telah pulih 100%. Semoga ini semakin memudahkan masyarakat untuk melakukan aktivitasnya serta mengoptimalkan layanan publik,” ucapnya.

Darmawan juga menyampaikan, pemulihan cepat yang dikerjakan tak lepas dari kolaborasi erat berbagai pihak. Menurutnya, sinergi Pemerintah Daerah, TNI, Polri, dan masyarakat sangat krusial dalam proses penormalan kelistrikan Sumatra Barat.

“Kami menyaksikan bagaimana semangat gotong royong benar-benar hidup. Pemerintah Daerah, TNI, Polri, masyarakat, dan tim PLN bergerak sebagai satu tubuh. Ini merupakan misi kemanusiaan untuk mengembalikan terang pascabencana di Sumatra Barat,” ujarnya.

Sementara itu, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Barat, Ajrun Karim menyampaikan, proses pemulihan di berbagai lokasi terdampak, seperti Agam, Pasaman Barat, Padang Pariaman, Dharmasraya, Sawah Lunto, Pasaman Timur, Solok, Pesisir Selatan, Padang Panjang, Solok Selatan, dan Kota Padang memiliki tantangan yang besar. Menurutnya, penanganan tersebut memerlukan langkah teknis yang kompleks akibat terputusnya akses sejumlah lokasi jaringan listrik tegangan menengah (JTM), jaringan tegangan rendah (JTR) dan gardu distribusi terdampak.

“Petugas kami bersama TNI, Polri, dan masyarakat menembus jalur terjal, membawa peralatan berat secara manual, dan bekerja hingga malam hari karena akses ke titik-titik lokasi yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki,” ujar Ajrun.

Dirinya melanjutkan, untuk memulihkan kondisi kelistrikan Sumatra Barat, pihaknya membangun kembali beberapa tiang jaringan listrik dan gardu trafo distribusi pada sejumlah daerah terdampak.

“Dalam pemulihan ini, PLN berhasil memasang 619 tiang JTM dan JTR, serta 30,95 kilometer sirkuit (kms) kabel listrik pengganti untuk memastikan suplai listrik untuk masyarakat kembali normal,” tutupnya.***

Perkuat Komitmen Keberlanjutan, BRI Gelar Aksi Tanam Pohon dan Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan

0

Bogordaily.net – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menunjukkan konsistensinya dalam memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui program BRI Menanam – Grow & Green.

Inisiatif yang telah berjalan sejak 2022 tersebut terbukti memberikan dampak nyata dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan melalui berbagai kegiatan pemulihan ekosistem, baik di wilayah darat maupun laut.

Salah satu implementasi program BRI Menanam – Grow & Green diwujudkan melalui kegiatan penanaman dan pemberian 3.000 bibit pohon produktif dan pohon keras di Kiara Artha Park, Bandung, Jawa Barat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian BRI Group Leadership Forum yang digelar pada Jumat, 5 Desember 2025 dan dihadiri oleh jajaran Senior Leader BRI Group, serta 500 orang perwakilan penerima manfaat yang berasal dari masyarakat setempat.

Bibit pohon diberikan jajaran senior leader BRI kepada penerima manfaat dari Yayasan Kiara Artha Park dan Sekemala Integrated (SEIN). Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penanaman berbagai jenis pohon produktif seperti alpukat, rambutan, mangga, dan sawo, serta pohon keras seperti cemara hias di area lahan terbuka.

Senior Executive Vice President (SEVP) Ultra Mikro BRI M. Candra Utama yang hadir pada kegiatan tersebut menyampaikan bahwa penanaman bibit pohon ini merupakan wujud nyata komitmen BRI dalam mendorong praktik keberlanjutan lingkungan sekaligus memperkuat nilai sosial di tingkat komunitas.

Melalui inisiatif ini, BRI mengedepankan pendekatan kolaboratif dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan menyalurkan bibit pohon sebagai langkah awal pembentukan ekosistem hijau yang berkelanjutan di kawasan pemukiman.

“Ini tidak hanya merepresentasikan dukungan BRI terhadap pelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi momentum untuk menginspirasi masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam menjaga dan mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab. Inisiatif ini diharapkan mencerminkan sinergi kepedulian BRI terhadap lingkungan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Candra menjelaskan bahwa penanaman pohon produktif merupakan bagian dari inisiatif BRI Menanam – Grow & Green yang berfokus pada pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Program ini menjadi bentuk komitmen BRI dalam mendukung mitigasi perubahan iklim melalui kegiatan penghijauan di berbagai wilayah Indonesia.

“Program ini berfokus pada penanaman pohon di lahan kritis dan kawasan produktif dengan tujuan memulihkan ekosistem daratan, meningkatkan serapan karbon, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” tambahnya.

Sejak dimulai pada tahun 2022, program BRI Menanam – Grow & Green telah menanam 120.300 pohon produktif dengan potensi penyerapan karbon mencapai 86,64 ton CO₂e per tahun.

Program ini juga telah memberdayakan 19 kelompok tani di berbagai daerah di Indonesia.

Candra menegaskan bahwa program BRI Menanam – Grow & Green juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat melalui peningkatan pendapatan dari kegiatan penanaman, perawatan, hingga pendataan tanaman.

Program ini bahkan membuka lapangan pekerjaan dan menghasilkan panen yang dapat menambah penghasilan kelompok tani yang terlibat.

Kegiatan penanaman pohon produktif merupakan upaya nyata dalam membantu pemerintah mengatasi dampak negatif lahan kritis seperti banjir, longsor, dan kekeringan, serta berkontribusi pada pengurangan emisi dan adaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain penanaman pohon, sebagai bagian dari kegiatan BRI Group Leadership Forum, BRI Peduli juga turut menyalurkan 5.000 paket sembako bagi masyarakat sekitar. Penyaluran bantuan ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pokok serta memperkuat rasa kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.***

Hanif Faiso, Injakkan Kaki di Dua Perusahaan di Daerah Aliran Sungai (DSA) Batang Oru

0

Bogordaily.net – Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dua perusahaan yang beroperasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, yakni PT Agincourt Resources dan PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) pada Jumat, 5 Desember 2025.

Sidak terse but merupakan rangkaian dari kunjungan Menteri Hanif ke wilayah terdampak banjir dan longsor di Sumatra Utara (Sumut).

Hanif menjelaskan bahwa sidak dilakukan setelah pantauan udara menunjukkan adanya perubahan bentang alam yang diduga memicu intensitas banjir di kawasan tersebut. Menurutnya, setidaknya terdapat tiga sumber utama yang memperparah banjir di Batang Toru.

“Dari peninjauan udara, kami mengidentifikasi sedikitnya tiga sumber utama yang memperparah banjir, kegiatan hutan tanaman industri, pembangunan listrik tenaga air yang masif, dan aktivitas penambangan emas di DAS Batang Toru. Semua ini memberi kontribusi signifikan terhadap tekanan lingkungan,” ujar Hanif Faisol.

Ia mengatakan, beberapa aktivitas skala besar tersebut, terbukti memberikan tekanan tambahan bagi DAS Batang Toru, terutama dalam situasi curah hujan ekstrem yang belakangan ini semakin sering terjadi.

Kondisi kerusakan alam yang disaksikan langsung dengan mata kepalanya sendiri.

Ia menjelaskan, bahwa identifikasi awal dilakukan melalui perpaduan pantauan udara dan pemeriksaan langsung di lapangan pada titik-titik, yang diduga menambah beban limpasan air. Kondisi di hulu DAS juga diperparah oleh hamparan luas lahan pertanian, baik lahan kering maupun lahan basah, yang mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan.

“KLH kini melakukan verifikasi lapangan secara menyeluruh untuk memastikan seluruh temuan dapat diikuti dengan tindakan korektif yang presisi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pemulihan lingkungan tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi harus memandang keseluruhan ekosistem sebagai s,atu kesatuan. Pola curah hujan ekstrem yang mencapai lebih dari 250 hingga 300 mm juga harus menjadi acuan baru dalam perencanaan dan pengendalian pemanfaatan ruang.

“Semua temuan ini harus dinilai dalam satuan lanskap yang utuh. Dengan intensitas hujan yang kini meningkat signifikan, KLH akan mereview kembali seluruh persetujuan lingkungan yang berlaku di DAS Batang Toru,” tegasnya.

Saat mayarakat menceritakan latar belakan kenapa pasca terjadinya peristiwa tersebut.

KLH juga, kata Hanif akan memperketat pengawasan terhadap aktivitas pemanfaatan ruang di kawasan rawan banjir dan longsor, termasuk dua perusahaan yang mendapat sidak. Seluruh kegiatan di lereng curam, hulu DAS, dan alur sungai akan diverifikasi ulang terkait izin lingkungan dan kesesuaian tata ruang.

“Penegakan hukum akan ditempuh apabila ditemukan pelanggaran yang berpotensi menambah risiko bencana,” ucapnya.

“Kami akan melakukan verifikasi lebih lanjut terhadap perusahaan-perusahaan lain yang terindikasi memberikan kontribusi signifikan terhadap tekanan lingkungan, yang turut memperparah bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatera,” pungkasnya.***

PPPAU Atang Sendjaja Gelar Pelatihan Bela Negara dan Penanaman Pohon untuk Generasi Muda

0

Bogordaily.net – Persatuan Putera Puteri Angkatan Udara (PPPAU) Atang Sendjaja menggelar kegiatan pelatihan dan pendidikan bela negara serta penanaman pohon di Jalan Letkol Atang Sendjaja No. 9446, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, pada Sabtu 6 Desember 2025.

Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 49–50 peserta yang terdiri dari pelajar dari berbagai sekolah serta masyarakat.

Ketua Umum PPPAU Pusat, Fastabiqul Khairat, menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan kegiatan yang dinilai memberikan manfaat besar bagi generasi muda.

“Ini kegiatan yang sangat positif, pelatihan bela negara dan penanaman pohon. Ini patut kita apresiasi setinggi-tingginya karena menjadi bentuk nyata kontribusi PPPAU kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tidak hanya fokus pada pembinaan karakter, kegiatan penanaman pohon juga menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan.

“Selain pengembangan potensi generasi muda, penanaman pohon ini juga menunjukkan peran aktif PPPAU Cabang Atang Sendjaja dalam pelestarian lingkungan. Dua hal ini adalah bukti nyata kehadiran PPPAU Atang Sendjaja,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua PPPAU Atang Sendjaja, H. Deni Irawan, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membekali generasi muda dengan nilai-nilai kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah air.

Materi pelatihan meliputi wawasan kebangsaan dan pelatihan baris berbaris, yang menghadirkan narasumber dari Marinir dan TNI Angkatan Udara.

Selain pelatihan, peserta juga melakukan penanaman berbagai jenis pohon, seperti durian, rambutan, dan pucuk merah.

Deni menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi muda menghadapi Indonesia Emas 2045.

“Pembekalan seperti ini penting agar anak-anak kita siap menghadapi tantangan masa depan dengan karakter yang kuat dan berjiwa nasionalis,” ungkapnya.***

Ibnu Galansa