Sunday, 19 April 2026
Home Blog Page 297

Luka Sunyi Perempuan Bangsawan Bugis

0

Bogordaily.net – Sekira satu minggu lalu, saya dikontak kerabat berprofesi sebagai pengacara. Ia menyampaikan kalau dirinya bertindak selaku kuasa hukum dari seorang perempuan bernama Sara,maisara.

Singkat cerita, dipertemukan lah, saya dengan nara sumber tersebut, ibu Sara,maisara, di sebuah caffe yang nuansanya sangat asri.

Mungkin, jika diukur dengan mesin pemindai gelombang, gelombang tempat Kami berjumpa, berada pada mode frekuensi Alfa (8-12Hz). Rasanya bikin tenang dan menenteramkan.

Saya datang terakhir, ibu Sara, bersama kuasa hukumnya sudah berkumpul.

Usai saling menyapa, mengucapkan salam, satu persatu bersalaman sambil memperkenalkan diri, khususnya saya kepada ibu Sara.

Sejurus kemudian hidangan tersedia di meja makan. Karena belum merasakan lapar, saya hanya memesan jus.

Sambil, menyantap hidangan. Ibu Sara, mulai menceritakan kenapa dirinya ingin bertemu dengan saya.

Ia meyampaikannya dengan sangat rinci dan terstruktur. Pengucapannya lugas serta jelas. Tak heran penuturannya sekonyong-konyong menghadirkan empati. Rasanya sangat emosional.

Kalimat yang terlontar tidak saja pemiliki diksi yang tepat, intonasi gertur tubuh sehingga terdengar kata dalam untaian kalimat yang diucapkan, terasa menggedor dada.

“Bagai mana itu semua bisa terjadi. Dan berlangsung sampai tiga belas tahun berumahtangga?” saya bertanya.

Pertanyaan itu membuat seolah waktu berhenti sesaat. Perempuan berpenampilan sosialita dengan prilaku aristrokrat itu, mengurungkan niatnya menyantap menu yang dipesannya. Seolah nafsu makan tiba-tiba lenyap.

Sendok makan, perlahan tapi pasti disedot grafitasi, jatuh di permukaan piring menu makanan.

Redam Gejolak Emosi

Terlihat ibu Sara, mengatur nafasnya. Jelas ia tengah berusaha meredam gejolak emosi, yang tiba-tiba mencuat bergemuruh di batinnya.

Melihat itu, saya terdiam, memilih membiarkan angin menerpa Kami yang berada di sekeliling meja.

Dari sembilan kalimat pertama yang dilontarkan saat memulai perbincangan. Tercermin jelas jika perempuan ini bukan sembarang orang.

Hati-hati memilih diksi, supaya setiap kata dalam kalimat yang dilontarkan mudah difahami dan memiliki makna.

Tidak hanya itu, pengucapan, intonasi serta gestur tubuh saat bertutur, serta literasi yang mumpuni. Menceritakan derita dan nestapa sebagai seorang istri yang mengaku mengalami KDRT.

Penuturan itu sekaligus mengukuhkan jika dirinya merupakan seorang bangsawan Bugis, seorang Raja Muda Bugis, Sulawesi Selatan.

Penderitaan fisik maupun physikis yang dialami, terasa semakin menyayat hati. Dibalik gelar seorang Raja Muda, tak pernah terkuak jika selama ini, dirinya bertubi-tubi mengalami siksaan dari NA. Begitu pengakuannya.

Betapa kagetnya saya menyimak penuturan ibu Sara. Sebuah pengalaman getir di jalan yang panjang dan berliku. Ia berada dalam cool desac.

Teriakan diikuti pukulan, dikurung dalam sel bersama dua orang lainnya yang mangalami gangguan jiwa. Menjadi pil pahit yang harus ia telan.

Pengalaman tragis ibu dari enam orang anak ini, saat menjalani hari-harinya, seolah terjebak dalam labirin kehidupan yang menghipit fikiran serta batin, akibat KDRT yang dialaminya.

Ditengah persidangan perceraian yang sedang bergulir. Ibu Sara, sampat tiga kali melakukan percurian perhiasan mewah di beberapa toko yang ada di mall.

Karena ulahnya itu, ia sampat bolak balik berurusan dengan pihak berwajib.

Tapi kenapa ia melakukan aksi kriminal itu? Tidak lain dan tidak bukan, menurut ibu Sara, hanya supaya ia bisa keluar dari tekanan yang bertubi-tubi menghantam dirinya di dalam rumah tangga.

Diawal pernikahannya dengan dengan NA, ibu Sara, menyandang status Raja Muda Bugis, serta pengusaha sukses yang memiliki sejumlah perusahaan.

Perusahaan ibu Sara bergerak di berbagai bidang. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum HIPMI di Kabupaten Enrekang.

Secara sukarela ibu Sara, melepaskan semua kerajaan bisnis yang dibangunnya dari nol, kepada sang suaminya berinisial NA, demi menjadi seorang ibu rumah tangga dan istri yang berbakti pada suami.

Namun, setelah semua bisnis yang dirintisnya belasan tahun, diserahkan kepada sang suami NA.

Ibu Sara, yang dikenal luas dikalangan pengusaha, karena kiprahnya di dunia bisnis. Pada akhirnya terpaksa harus angkat kaki dari rumahnya sendiri, dengan kondisi hanya membawa dua koper pakaian.

Lakukan Upaya Bunuh Diri

Tidak sampai di situ, ibu Sara juga terhitung telah tiga kali mencoba upaya bunuh diri, namun Tuhan belum menghendaki.

Perempuan aristrokrat dengan latar belakan sebagai penggusaha bertangan dingin itu tetap hidup. Tidak haya itu, ia juga bangkit untuk melawan!

Baik, begitu pikir saya dalam benak. Lalu pertanyaan berikutnya apa yang ingin ia lakukan.

“Saya ingin suami saya NA, bertanggung jawab dari hasil dia bersiasat kepada saya sebagai istri. Dan mempertanggung jawabkan semuanya sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku di indonesia. Sehingga keadilan bisa ditegakkan,” ucap Ibu Sara, tegas.

Pengen tahu lebih rinci tentang perjalanan Raja Muda Bugis, Sara,maesara, mengarungi bahtera rumah tangganya. Ayo Kita simak selengkapnya di podcast BogordailyTV.

(Diki Sudrajat/ Pemimpin Umum Bogordaily)

BRI Hadirkan Ratusan Pengusaha UMKM Binaan dalam Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro

0

Bogordaily.net – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia.

Sebagai bank yang berfokus pada pemberdayaan, BRI terus memberikan dukungan nyata agar para pengusaha UMKM dapat berkembang dan naik kelas.

Salah satu wujud konkret dari komitmen tersebut adalah dengan partisipasi 720 pengusaha UMKM binaan BRI dalam Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro yang diselenggarakan oleh Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 22 Oktober 2025 di Sport Center Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, dan melibatkan total 1.200 pelaku usaha mikro dari berbagai wilayah dan latar belakang usaha.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri UMKM RI Helvi Yuni Moraza, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menaikkan kelas UMKM sekaligus menjamin keberlangsungan usaha mereka, melalui pelatihan, perizinan, pembiayaan, hingga literasi keuangan.

“Pemerintah melalui Kementerian UMKM terus berupaya menghadirkan berbagai program nyata untuk memperkuat sektor usaha mikro. Salah satu langkah konkret adalah menghadirkan layanan terpadu dalam festival ini agar pelaku UMKM dapat langsung mengakses berbagai fasilitas yang dibutuhkan, ujarnya.

Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro merupakan pusat layanan terpadu yang memudahkan pelaku usaha mikro dalam mengakses legalitas, perlindungan hukum, dan fasilitas pemerintah yang sebelumnya sulit dijangkau.

Diselenggarakan di berbagai daerah, festival ini telah melibatkan ribuan pelaku usaha mikro yang selama ini menjalankanusahanya dengan berbagai keterbatasan.

Bagi pengusaha UMKM, manfaat festival ini sangat nyata seperti kemudahan memperoleh legalitas usaha, perlindungan merek dan produk, peningkatan daya saing di pasar, kepercayaan konsumen yang lebih tinggi, kemudahan akses pembiayaan, serta terbukanya peluang kemitraan dan ekspor.

Dengan semakin banyaknya pelaku usaha mikro yang mendapatkan legalitas dan pendampingan, UMKM Indonesia diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berdaya saing secara berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun global.

Dalam ajang ini, BRI turut menghadirkan para pelaku UMKM binaan untuk tampil dan memperkenalkan produk-produk unggulan mereka kepada masyarakat luas. Tidak hanya sebagai ajang promosi, festival ini juga menjadi wadah edukasi, kolaborasi, dan pemberdayaan yang mendorong pelaku usaha untuk terus tumbuh secara berkelanjutan.

Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya mengungkapkan bahwa BRI terus memperkuat ekosistem pembiayaan mikro dengan dukungan teknologi, edukasi, serta kemudahan akses layanan perbankan. Melalui keikutsertaan UMKM binaan dalam festival ini, BRI berharap dapat membangun ekosistem usaha mikro yang kuat, tangguh, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Sebagai bank yang lahir dan tumbuh bersama rakyat, BRI konsisten untuk menjadi rumah besar bagi pengusaha UMKM. Kami ingin memastikan bahwa setiap pelaku usaha, sekecil apa pun, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan naik kelas, ujarnya.

Akhmad menjelaskan, hingga September 2025 BRI telah mencatat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp130,2 triliun kepada 2,8 juta debitur, atau setara 74,40% dari total alokasi KUR BRI tahun 2025 sebesar Rp175 triliun.

Penyaluran KUR BRI hingga akhir September 2025 tetap didominasi oleh sektor produksi, yang mencakup pertanian, perikanan, perdagangan, industri pengolahan dan jasa lainnya, dengan porsi sebesar 64,31% dari total penyaluran.

Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai Rp58,37 triliun atau setara 44,83% dari keseluruhan KUR yang telah disalurkan BRI. Capaian ini merefleksikan komitmen BRI dalam memperkuat sektor riil dan menjaga ketahanan pangan nasional.

Program KUR BRI bukan sekadar pembiayaan, tetapi juga sarana pemberdayaan. Melalui pendampingan usaha, pelatihan digital, dan integrasi ke dalam ekosistem, BRI berupaya agar UMKM tidak hanya memperoleh modal, tetapi juga mendapatkan nilai tambah dalam hal kapasitas usaha dan literasi keuangan.

Kami berkomitmen untuk terus hadir sebagai mitra utama bagi pelaku usaha mikro, dengan menyediakan akses pembiayaan yang mudah, perlindungan dari risiko usaha melalui asuransi mikro, serta mendorong transformasi digital agar UMKM dapat menembus pasar yang lebih luas, imbuhnya.***

Renungan Tentang Kepahlawanan untuk Partaiku

0

Bogordaily.net – Tidak ada bangsa yang bisa melangkah jauh tanpa berani menoleh ke belakang. Sejarah bukan beban, melainkan cermin, tempat sebuah bangsa mengenali dirinya sendiri.

Kematangan sebuah bangsa tidak diukur dari banyaknya pahlawan yang diagungkan, melainkan dari cara mereka memahami makna kepahlawanan itu sendiri. Negeri Belanda memberi pelajaran penting tentang hal ini.

Raymond Westerling

Antara tahun 1946 dan 1947, Raymond Westerling memimpin pasukan khusus Kolonial di Sulawesi Selatan. Ia membantai ribuan orang yang bersimpati pada Republik muda yang sedang bangkit. Sebuah lembaga di Belanda bahkan menyebut angka puluhan ribu.

Westerling adalah personifikasi dari kekerasan kolonial yang dingin dan sistematis. Wajah dari imperium yang berusaha bertahan di tengah dunia yang sedang berubah.

Ia kembali ke Belanda tanpa diadili. Selama puluhan tahun, ia dianggap oleh sebagian kalangan di tanah airnya sebagai pahlawan perang.

Pada 2022, setelah penyelidikan resmi membuktikan adanya kekerasan eksesif yang sistematis oleh pasukan kolonial, pemerintah Belanda akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada Indonesia atas kekejaman Westerling.

Butuh waktu tujuh puluh lima tahun bagi Belanda untuk menyebut pembantaian itu dengan namanya sendiri  dan dalam pengakuan itu, Belanda berdamai dengan bagian paling gelap dari dirinya.

Joris Ivens

Pada tahun 1946, Joris Ivens membuat film Indonesia Calling di Australia. Inilah film dokumenter tentang penolakan buruh pelabuhan Australia di Sydney memuat pasokan senjata ke kapal kapal kolonial Belanda yang akan berlayar ke Indonesia.

Film itu, yang menyuarakan keberpihakan Ivens pada kemerdekaan Indonesia, membuat Ivens dianggap penghianat oleh bangsanya sendiri. Paspornya dicabut dan ia tersingkir dari kehidupan kebudayaan negerinya.

Ia kemudian hidup berpindah-pindah di Prancis, Jerman Timur, Tiongkok, hingga Vietnam membuat film tentang perjuangan anti-imperialisme dan kemanusiaan.

Empat puluh tahun kemudian, pada Juni 1985, pemerintah Belanda memanggilnya pulang dan memberinya penghormatan resmi.

Elco Brinkman, Menteri Kebudayaan, dalam acara penghormatan di Den Haag, menyampaikan pengakuan penuh atas jasa-jasa Ivens bagi seni dan kemanusiaan.

Brinkman menyebut film-film Ivens adalah bukti “seni dapat menjadi kekuatan moral dan kemanusiaan yang melampaui politik negara.”

Pidato ini diterima publik Belanda sebagai rehabilitasi resmi terhadap Ivens — pengakuan bahwa negara akhirnya berdiri di sisi nilai-nilai yang dulu diperjuangkan Ivens. Indonesia Calling, karya yang pernah dianggap buah pengkhianatan, kini diakui sebagai bagian dari sejarah antikolonial yang perlu dihormati.

Memetik Pelajaran

Westerling dan Ivens berdiri di dua ujung yang berlawanan dari sejarah kolonial yang sama. Dan dari pengalaman Pemerintah Belanda berdamai dengan masa lalunya itu, kita mungkin bisa belajar sesuatu.

Kepahlawanan adalah mekanisme moral kolektif: cara sebuah bangsa mendidik anak-anaknya tentang mana yang benar dan mana yang salah, mana yang patut dihormati dan mana yang harus dijadikan pelajaran.

Ia bukan sekadar penghargaan atas jasa, melainkan pernyataan tentang nilai-nilai yang hendak dipertahankan oleh suatu bangsa.

Dalam masyarakat demokratis, kepahlawanan tidak boleh terjerumus ke dalam kultus individu. Ia bukan kemegahan bagi seseorang dan keluarganya, melainkan kompas moral bagi kehidupan bersama.

Negara yang sehat tidak menabalkan pahlawan untuk mengaburkan masa lalu, tetapi untuk menerangi masa depan.

Secara sosial, pahlawan juga menjadi titik temu moral dalam masyarakat yang beragam. Ia adalah simbol persatuan, bukan alat pembelahan.

Kita di Indonesia mungkin sekarang perlu bertanya. Dengan menobatkan Soeharto sebagai “Pahlawan Nasional”, nilai-nilai apa yang sesungguhnya bangsa ini ingin ajarkan kepada anak-anaknya sendiri?

Jawaban terhadap pertanyaan moral itu akan menentukan siapa sesungguhnya kita sebagai bangsa.*

(Rachland Nashidik)

Sayonara GOR Tirta Karya, Turnamen Pamungkas Dimenangkan Jikew/Herlan

0

Bogordaily.net – GOR Tirta Karya resmi menutup kiprahnya setelah 11 tahun menjadi salah satu pusat aktivitas bulutangkis di Bogor Raya. Sejak berdiri pada 2014, GOR ini menjadi rumah bagi puluhan komunitas dan ratusan anggota yang rutin berlatih serta mengikuti berbagai turnamen internal maupun eksternal.

Momentum penutupan ini ditandai dengan digelarnya Turnamen Pamungkas yang menghadirkan 17 pasangan ganda putra kategori C. Pasangan Jikew/Herlan keluar sebagai juara setelah menundukkan Malih/Sutris dengan skor meyakinkan 30–19 pada partai final. Sementara itu, posisi juara bersama diraih oleh pasangan Elly/Tobing dan Deden/Jipai.

Sebagai bagian dari perpisahan, GOR Tirta Karya juga menyajikan laga eksebisi yang melibatkan para pemain senior seperti Sukma/Ryan, Ikbal/Uber, serta Aldi/Cacu.

Owner GOR Tirta Karya, Ahmad Haerulloh, menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota dan komunitas yang telah setia selama 11 tahun.

“Terima kasih atas kebersamaan selama lebih dari satu dekade. Aktivitas GOR memang tutup, namun silaturahmi dan kiprah klub tetap berlanjut di berbagai turnamen,” ujarnya dalam acara syukuran penutupan.

Perwakilan members, Egi Kenedi, mengenang momen kebersamaan yang menurutnya memiliki nilai emosional tersendiri.

“Sebelas tahun bersama membangun suasana berbeda, terutama dari sisi persaudaraan. Setiap turnamen selalu menghadirkan dinamika yang mempererat hubungan,” ujar Egi.

Ia juga menambahkan bahwa GOR Tirta Karya pernah menggelar eksebisi istimewa yang menghadirkan mantan pemain nasional sekaligus juara dunia, Sigit Budiarto. “Banyak sekali nilai-nilai persaudaraan yang terbentuk selama ini,” tambahnya.

Dengan penutupan GOR Tirta Karya, sebuah era berakhir. Namun semangat komunitas, kompetisi, dan persahabatan yang terbentuk diyakini akan terus hidup dalam berbagai agenda bulutangkis di Bogor Raya.***

Banjir dan Longsor Landa Sukabumi, PMC Bersama Relawan dan Swasta Salurkan Bantuan Kemanusiaan

0

Bogordaily.net – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi pada Senin 27 Oktober 2025, memicu terjadinya bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah titik.

Salah satu wilayah terdampak parah berada di Desa Sukarame, Kecamatan Cisolok, di mana sembilan rumah warga rusak berat, lima di antaranya tertimbun material longsor.

Akses menuju Kampung Pamokoan dan Cijangkorang pun sempat terputus akibat tertimbun longsoran tanah, menyebabkan lebih dari 600 jiwa terdampak dan terisolasi selama beberapa hari.

Hingga lebih dari sepekan pascakejadian, jalur menuju pemukiman masih sulit dilalui. Setiap kali hujan turun, longsor susulan kerap menutup badan jalan sehingga menghambat mobilisasi logistik maupun layanan kesehatan bagi warga terdampak.

Pada Jumat 7 November 2025 sore, tim Pers Motor Club (PMC) bersama Indonesia Care dan unsur relawan lainnya menurunkan tim advance untuk melakukan peninjauan awal serta menyiapkan dapur umum di Kampung Cikahuripan.

Keesokan harinya, tim gabungan bergerak menuju Kampung Pamokoan membawa bantuan logistik dan membuka layanan kesehatan gratis.

Dengan menggunakan sepeda motor dan satu unit ambulans, para relawan menembus jalanan licin, bebatuan, serta ancaman longsor susulan.

Bantuan yang diberikan meliputi kebutuhan pokok, perlengkapan perempuan dan bayi, hingga obat-obatan. Warga menyambut kedatangan tim dengan penuh haru dan rasa syukur. Anak-anak pun tampak ceria saat mengikuti kegiatan trauma healing yang digelar di lokasi.

“Hari ini kami kirimkan bantuan hasil donasi dari sejumlah pihak. Walau tak seberapa, semoga bisa menguatkan hati warga di tengah musibah ini,” ungkap Presiden Pers Motor Club, Billy Adhyaksa, yang turut hadir menyerahkan bantuan.

Billy menegaskan, aksi sosial tersebut merupakan bentuk kolaborasi kemanusiaan antara PMC, organisasi wartawan, lembaga sosial, dan sektor swasta seperti Eiger Adventure Land, Indonesia Care, serta BAZNAS.

“PMC siap menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana,” ucapnya.

Ia menambahkan, bencana ini menjadi momentum untuk memperlihatkan kepedulian dan persaudaraan di tengah ujian.

“Longsor memang membawa duka, tapi juga memperlihatkan keindahan hati yang tergerak membantu dan keindahan persaudaraan yang tumbuh di tengah cobaan. Di saat bencana datang tanpa permisi, cinta kasih hadir tanpa batas,” tuturnya.

Melihat besarnya dampak bencana, pada Sabtu 8 November 2025 PMC bersama berbagai mitra kemanusiaan dan unsur media, seperti PWI Kota Bogor, PWI Kabupaten Bogor, SMSI Bogor Raya, dan PWI Peduli Sukabumi, kembali menyalurkan bantuan tahap dua. Aksi ini turut didukung oleh Pemerintah Kabupaten Bogor, sektor swasta, dan lembaga kemanusiaan lainnya.

Bantuan yang dibawa mencakup bahan pangan, perlengkapan bayi dan perempuan, serta tenaga medis.

“PMC akan terus mencoba membantu masyarakat yang terdampak. Bantuan ini semoga bermanfaat dan masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan normal,” ujar Billy.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan PMC dalam membantu masyarakat sekitar wilayah operasional.

Langkah kolaboratif ini menjadi implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang diadopsi oleh PMC dalam setiap aksi sosialnya.

Melalui pendekatan tersebut, PMC berupaya memperkuat ketahanan sosial dan mempercepat pemulihan pascabencana di wilayah terdampak.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, bencana banjir dan longsor tersebut memengaruhi lebih dari 3.700 jiwa di tiga kecamatan. Sebanyak 37 warga terpaksa mengungsi, sementara ratusan rumah dan sejumlah fasilitas publik mengalami kerusakan. Beberapa jembatan utama di Desa Cikahuripan dan ruas Cempakaratu–Cipedes dilaporkan putus sehingga memutus akses antarwilayah.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana sejak 27 hingga 31 Oktober 2025.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bersama instansi terkait kini tengah melakukan perbaikan infrastruktur vital secara bertahap.

Selain dukungan logistik, Indonesia Care juga menyalurkan bantuan medis berupa vitamin, antibiotik, antihistamin, salep, dan obat-obatan penyakit kronis. Bantuan obat tambahan diberikan oleh dr. Suhendra, termasuk paracetamol, calortusin, arkavit, loperamide, dan CTM.

Tim gabungan yang dipimpin Mohammad Syahri atau akrab disapa Bang Choy, melakukan pelayanan kesehatan keliling bagi warga yang sulit mengakses posko utama. dr. Dindana Caesarea dan Indri Retno Putranti melakukan pemeriksaan langsung ke rumah warga, sementara dr. Dayang Indah Milennia Komalasari dan Faza Ahluna berjaga di pos utama.

“Bagi kami, kepedulian tidak mengenal cuaca, lokasi, dan jarak. Selama masih ada yang membutuhkan, kami akan datang dan berbuat semampu kami,” ujar Indri Retno Putranti, tenaga medis dari Indonesia Care.

“Dalam kondisi darurat seperti ini, masyarakat sering menunda berobat karena akses sulit. Kami berusaha memastikan setiap warga tetap mendapatkan layanan kesehatan yang layak,” tambah dr. Dindana Caesarea di sela kegiatan.

Aksi lintas lembaga ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat Sukabumi pascabencana.***

Ibnu Galansa

Hanif Faisol: Indonesia Pimpin Upaya Global Bangun Pasar Karbon Berintegritas Tinggi di COP30 Brasil

0

Bogordaily.net – Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH), berkomitmen untuk memimpin kerja sama global dalam membangun pasar karbon berintegritas tinggi sebagai solusi nyata menuju ekonomi hijau berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq saat menghadiri kegiatan High-Level Roundtable at Sustainable Business COP30 (SBCOP) bertajuk “Advancing Indonesia’s High-Integrity Carbon Market: Toward a Green, Resilient, and Inclusive Future” di São Paulo, Brasil, Sabtu 8 November 2025.

Forum tersebut diinisiasi oleh Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, dan menghadirkan pejabat tinggi Indonesia serta pemimpin organisasi internasional seperti Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM).

Hanif Faisol menyampaikan bahwa Indonesia tengah memasuki babak baru pengelolaan karbon dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Regulasi ini memperluas mekanisme perdagangan karbon nasional, termasuk pasar karbon sukarela, dan membuka peluang kolaborasi internasional berbasis integritas dan transparansi.

“KLH berkomitmen memastikan bahwa setiap unit kredit karbon Indonesia memiliki nilai lingkungan yang nyata, terverifikasi, dan berintegritas tinggi. Ini bukan hanya mekanisme pasar, tapi jembatan hijau yang menghubungkan Indonesia dengan dunia,” ujar Hanif.

Sebagai tindak lanjut kebijakan tersebut, pemerintah melalui KLH telah membuka perdagangan karbon sukarela internasional melalui Mutual Recognition Agreements (MRA) dengan lima independent crediting schemes dunia, yaitu Gold Standard for Global Goals, Global Carbon Council (GCC), Plan Vivo, Verra, dan Puro Earth. Langkah ini memperluas ruang aksi mitigasi berbasis alam dan teknologi, sekaligus memperkuat daya saing pasar karbon nasional di tingkat global.

Dalam kesempatan itu, KLH juga mengundang investor dan pelaku usaha dunia untuk bergabung dalam Paviliun Indonesia di COP30 Belém, yang akan menghadirkan forum seller meets buyer guna mempertemukan penyedia dan pembeli kredit karbon berintegritas tinggi.

Sekitar 90 juta ton CO₂ ekuivalen (CO₂e) potensi kredit karbon dari aksi mitigasi di sektor kehutanan dan lahan (FoLU), energi, industri, dan pengelolaan limbah akan dipaparkan secara rinci di Indonesia Pavilion mulai Senin, 10 November 2025.

“Paviliun ini akan menjadi etalase diplomasi hijau Indonesia, menampilkan proyek, mitra, serta inovasi nasional yang siap bekerja sama dengan dunia,” terangnya.

Selain itu, lanjut Hanif, selama agenda COP30, KLH/BPLH juga memperkuat kerja sama bilateral untuk memperluas akses pendanaan dan transfer teknologi hijau. Dalam rangkaian pre-COP30 pekan ini, KLH telah menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan The Royal Foundation serta Memorandum of Understanding (MoU) dengan Department for Energy Security and Net Zero (DESNZ) Inggris. Kedua kerja sama ini merupakan langkah strategis memperkuat sinergi global menuju transisi energi dan ekonomi rendah emisi.

“Pasar karbon bukan sekadar transaksi ekonomi. Ini adalah wujud kepemimpinan Indonesia dalam menghadirkan solusi nyata terhadap perubahan iklim global. Melalui kerja sama lintas negara, kita menegakkan integritas dan memperkuat kepercayaan dunia terhadap sistem karbon Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan, dengan kehadiran aktif di COP30, Indonesia menegaskan perannya sebagai pembangun jembatan hijau dunia, memperkuat diplomasi iklim, membuka peluang investasi hijau, serta menempatkan diri di garis depan transisi menuju ekonomi rendah emisi dan berkelanjutan.

Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menekankan pentingnya kemitraan global dan kepastian kebijakan dalam mendorong investasi karbon yang berintegritas.

“Indonesia membuka diri bagi investasi karbon internasional yang berlandaskan transparansi dan kredibilitas. Melalui regulasi baru ini, kami ingin memastikan bahwa nilai ekonomi karbon tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Hashim.

Hashim menambahkan, kegiatan ini merupakan langkah nyata Indonesia dalam membangun jembatan hijau antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas global sebagai bagian dari upaya kolektif menghadapi tantangan perubahan iklim.***

Penanganan Kasus NAPZA: Dikriminalisasi Pengguna Menuju Era Baru, Keadilan yang Memulihkan, Bukan Menghukum

0

JUMLAH penangkapan terhadap pengguna narkotika masih marak terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam banyak kasus, muncul dugaan praktik pemerasan oleh oknum aparat penegak hukum, di mana pengguna diminta sejumlah uang sebagai imbalan untuk mendapatkan tuntutan hukum lebih ringan, pembatalan perkara, atau rujukan ke lembaga rehabilitasi.

Ironisnya, lembaga rehabilitasi tersebut sebagian besar merupakan mitra pihak kepolisian, dengan tarif yang tidak konsisten dan kualitas layanan yang belum merata.

Banyak lembaga rehabilitasi yang belum kompeten dalam melaksanakan program pemulihan sesuai prinsip kesehatan berbasis bukti ilmiah.

Padahal, fondasi hukumnya sudah jelas dan progresif. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika secara tegas menempatkan pecandu sebagai subjek yang harus dirawat, bukan semata dihukum.

Semangat ini diperkuat oleh Peraturan Kepala Bareskrim Polri Nomor 01 Tahun 2016 dan Surat Edaran Bareskrim SE/01/II/2018 yang membuka jalan bagi rehabilitasi medis dan sosial.

Peraturan Kepolisian (Perpol) Nomor 8 Tahun 2021 bahkan menandai langkah penting menuju keadilan restoratif — menempatkan pemulihan sebagai bagian dari penegakan hukum, bukan pengecualiannya.

Arah serupa juga diambil Kejaksaan Agung melalui Pedoman Jaksa Agung Nomor 18 Tahun 2021 yang menegaskan: pengguna narkotika seharusnya tidak lagi dijebloskan ke penjara, melainkan diarahkan untuk mendapatkan pemulihan.

Inilah tanda perubahan paradigma yang mulai menggeser hukum dari “alat menghukum” menjadi “ruang penyembuhan”. Namun sayangnya, di lapangan, perubahan ini masih sering terjebak pada tumpang tindih tafsir dan ego institusi.

Kasus musisi Onadio Leonardo alias Onad, yang diputus menjalani rehabilitasi selama tiga bulan di Yayasan Pemulihan Natura Indonesia (Ultra), menjadi sorotan publik.

Keputusan yang cepat ini menimbulkan pertanyaan tentang kesetaraan dan konsistensi penegakan hukum. Apakah setiap pengguna memiliki peluang yang sama untuk menjalani rehabilitasi, ataukah hanya mereka yang memiliki pengaruh sosial dan sorotan media?

Pertanyaan itu wajar muncul karena banyak pengguna dari kalangan biasa justru langsung dijatuhi pidana penjara tanpa melalui asesmen medis yang layak. Padahal, esensi kebijakan rehabilitasi adalah keadilan yang memulihkan bukan keistimewaan yang bisa dinegosiasikan.

Negara memiliki tanggung jawab memastikan setiap proses asesmen dilakukan secara profesional, terbuka, dan bebas dari kepentingan transaksional. Ketika rehabilitasi hanya berlaku bagi kalangan tertentu, kepercayaan terhadap sistem hukum dan kesehatan publik akan terus melemah.

Dalam situasi yang kompleks ini, Forum Akar Rumput Indonesia (FARI) mencatat satu hal positif. Berdasarkan keterangan dari dampingan FARI yang dirujuk pihak kepolisian ke Yayasan Pemulihan Natura Indonesia (Ultra), terlihat adanya komitmen lembaga ini untuk berbenah secara profesional.

Ultra mulai menerapkan asesmen berbasis data medis, melibatkan tenaga ahli berlisensi, serta memperbaiki tata kelola program pemulihan. Memang belum sempurna, tetapi sudah menuju arah yang lebih baik. Langkah ini patut diapresiasi , bukan karena lembaga tempat rehabilitasi figur publik, melainkan karena menjadi contoh bahwa perubahan itu mungkin dilakukan bila ada kemauan dan pengawasan publik yang kuat.

Pada akhirnya, keberhasilan penanganan kasus NAPZA di Indonesia tidak akan diukur dari berapa banyak orang yang ditangkap, melainkan dari seberapa manusiawi negara memperlakukan warganya.

Rehabilitasi harus menjadi jalan pemulihan yang terbuka bagi semua, bukan sekadar ruang aman bagi mereka yang memiliki privilese. Upaya-upaya perbaikan seperti yang dilakukan Yayasan Ultra menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin, asal disertai kemauan politik dan pengawasan publik yang jujur. Karena di tengah sistem hukum yang masih timpang, keberanian untuk memulihkan bukan menghukum adalah bentuk tertinggi dari keadilan.

Profil Organisasi

Forum Akar Rumput Indonesia berdiri pada tahun 2018 sebagai kolektif paralegal independen yang berfokus pada pendampingan hukum bagi kelompok marginal, khususnya individu yang berhadapan dengan hukum kasus narkotika.

Forum ini memberikan layanan pendampingan hukum baik litigasi maupun non-litigasi, serta memfasilitasi akses rehabilitasi dan layanan kesehatan bagi pengguna Napza yang terdampak. Dengan anggota yang tersebar di 12 provinsi, Forum Akar Rumput Indonesia memanfaatkan teknologi komunikasi sebagai sarana koordinasi, edukasi, dan respon cepat terhadap berbagai kasus hukum dan kemanusiaan di tingkat komunitas.

Seluruh kegiatan dijalankan secara mandiri tanpa dukungan donor, berlandaskan semangat gotong royong dan solidaritas antar anggota. Forum Akar Rumput Indonesia berkomitmen memperjuangkan hak asasi, kesetaraan, dan perlindungan hukum bagi pengguna Napza agar mereka memperoleh keadilan, pemulihan, serta kehidupan yang bermartabat tanpa stigma.***

Oleh: Forum Akar Rumput

Taman Safari Indonesia Berikan Grand Prize Mobil Wuling untuk Juara IAPVC 2025

0

Bogordaily.net – Taman Safari Indonesia (TSI) resmi menutup rangkaian International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) ke-34 melalui malam penghargaan yang digelar di MGP
Space, SCBD Jakarta.

Dengan tema “The Picture of Nature’s Secret”, ajang tahunan ini menjadi wadah
apresiasi bagi para fotografer dan videografer yang telah mengabadikan keindahan serta pesan pelestarian satwa liar melalui karya visual yang inspiratif.

Tahun ini, IAPVC mencatat rekor dengan 26.291 karya dari 9.115 peserta meningkat 10% dibanding tahun sebelumnya. Antusiasme ini menunjukkan semakin tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap konservasi satwa, sekaligus membuktikan bahwa kamera dan ponsel kini menjadi sarana efektif untuk
menyuarakan pesan pelestarian alam.

Taman Safari Indonesia terus berkomitmen menjadikan ajang ini
sebagai platform kreatif yang memadukan seni, edukasi, dan aksi nyata dalam mendukung keberlanjutan
bumi.

Sorotan utama malam penghargaan jatuh kepada Adhitya Wibhawa, peraih Grand Prize IAPVC 2025, yang sukses memukau dewan juri lewat karyanya menampilkan potret seekor elang dengan
pencahayaan dramatis dan komposisi kuat. Lewat pendekatan visual yang minimalis namun sarat makna,
Adhitya menangkap esensi ketenangan, kekuatan, dan kesunyian alam liar.

Atas prestasinya, Taman Safari Indonesia menghadiahkan 1 unit mobil listrik Wuling Air EV Lite sebagai simbol apresiasi tertinggi bagi kreativitas dan kepedulian terhadap konservasi satwa.
Setiap karya yang kami terima seakan berbicara tentang perjuangan, keindahan dan harapan.

Karya para peserta mengingatkan kita bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tapi gerakan
bersama yang lahir dari kreativitas dan kepedulian,” ujar Aswin Sumampau, Presiden Direktur Taman Safari Indonesia Indonesia.

Tentang Taman Safari Indonesia
Taman Safari Indonesia adalah taman rekreasi bertema dan lembaga konservasi kelas dunia yang terletak di enam kota terbesar dan empat resort di seluruh Indonesia.

Taman Safari Indonesia memiliki lebih dari 673 spesies dan 22963 satwa dan menarik lebih dari 5 juta pengunjung setiap tahunnya. Sejak tahun 1981, Taman Safari Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyelamatkan,
merehabilitasi, dan meng introduction ribuan satwa kembali ke alam liar.

Sebagai hasilnya, Taman Safari
Indonesia telah menjadi organisasi konservasi global terkemuka untuk satwa liar endemik Indonesia dan spesies yang terancam punah. Taman Safari Indonesia telah meraih empat sertifikasi internasional dan lebih dari 20 penghargaan nasional atas upayanya dalam bidang konservasi dan rekreasi.

Perjalanan Taman Safari Indonesia dimulai dengan pembukaan area konservasi satwa liarnya yang pertama, The Great Taman Safari Bogor, di Cisarua, Bogor, pada bulan April 1981.

Seiring berjalannya waktu, Taman Safari Indonesia memperluas jejaknya dengan mendirikan The Grand Taman Safari
Indonesia Prigen di Pasuruan, Jawa Timur, pada bulan Desember 1997.

Keberhasilan dua area konservasi ini menginspirasi Taman Safari Indonesia untuk terus berkarya dengan bertambahnya The Amazing Taman Safari Bali, The Fantastic Beach Safari di Batang, Jawa Tengah, Jakarta Aquarium & Safari, Solo Safari, dan yang terbaru Marine Safari Bali, Varuna Bali dan Enchanting Valley Bogor. Taman
Safari Indonesia juga mengelola beberapa bisnis terkait pariwisata, seperti Royal Safari Garden, Safari.***

BRI Hadirkan Ratusan Pengusaha UMKM Binaan dalam Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro

0

Bogordaily.net – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Sebagai bank yang berfokus pada pemberdayaan, BRI terus memberikan dukungan nyata agar para pengusaha UMKM dapat berkembang dan naik kelas.

Salah satu wujud konkret dari komitmen tersebut adalah dengan partisipasi 720 pengusaha UMKM binaan BRI dalam Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro yang diselenggarakan oleh Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 22 Oktober 2025 di Sport Center Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, dan melibatkan total 1.200 pelaku usaha mikro dari berbagai wilayah dan latar belakang usaha.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri UMKM RI Helvi Yuni Moraza, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menaikkan kelas UMKM sekaligus menjamin keberlangsungan usaha mereka, melalui pelatihan, perizinan, pembiayaan, hingga literasi keuangan.

“Pemerintah melalui Kementerian UMKM terus berupaya menghadirkan berbagai program nyata untuk memperkuat sektor usaha mikro. Salah satu langkah konkret adalah menghadirkan layanan terpadu dalam festival ini agar pelaku UMKM dapat langsung mengakses berbagai fasilitas yang dibutuhkan,” ujarnya.

Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro merupakan pusat layanan terpadu yang memudahkan pelaku usaha mikro dalam mengakses legalitas, perlindungan hukum, dan fasilitas pemerintah yang sebelumnya sulit dijangkau. Diselenggarakan di berbagai daerah, festival ini telah melibatkan ribuan pelaku usaha mikro yang selama ini menjalankan usahanya dengan berbagai keterbatasan.

Bagi pengusaha UMKM, manfaat festival ini sangat nyata seperti kemudahan memperoleh legalitas usaha, perlindungan merek dan produk, peningkatan daya saing di pasar, kepercayaan konsumen yang lebih tinggi, kemudahan akses pembiayaan, serta terbukanya peluang kemitraan dan ekspor.

Dengan semakin banyaknya pelaku usaha mikro yang mendapatkan legalitas dan pendampingan, UMKM Indonesia diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berdaya saing secara berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun global.

Dalam ajang ini, BRI turut menghadirkan para pelaku UMKM binaan untuk tampil dan memperkenalkan produk-produk unggulan mereka kepada masyarakat luas. Tidak hanya sebagai ajang promosi, festival ini juga menjadi wadah edukasi, kolaborasi, dan pemberdayaan yang mendorong pelaku usaha untuk terus tumbuh secara berkelanjutan.

Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya mengungkapkan bahwa BRI terus memperkuat ekosistem pembiayaan mikro dengan dukungan teknologi, edukasi, serta kemudahan akses layanan perbankan. Melalui keikutsertaan UMKM binaan dalam festival ini, BRI berharap dapat membangun ekosistem usaha mikro yang kuat, tangguh, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

“Sebagai bank yang lahir dan tumbuh bersama rakyat, BRI konsisten untuk menjadi rumah besar bagi pengusaha UMKM. Kami ingin memastikan bahwa setiap pelaku usaha, sekecil apa pun, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan naik kelas,” ujarnya.

Akhmad menjelaskan, hingga September 2025 BRI telah mencatat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp130,2 triliun kepada 2,8 juta debitur, atau setara 74,40% dari total alokasi KUR BRI tahun 2025 sebesar Rp175 triliun.

Penyaluran KUR BRI hingga akhir September 2025 tetap didominasi oleh sektor produksi, yang mencakup pertanian, perikanan, perdagangan, industri pengolahan dan jasa lainnya, dengan porsi sebesar 64,31% dari total penyaluran. Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai Rp58,37 triliun atau setara 44,83% dari keseluruhan KUR yang telah disalurkan BRI. Capaian ini merefleksikan komitmen BRI dalam memperkuat sektor riil dan menjaga ketahanan pangan nasional.

Program KUR BRI bukan sekadar pembiayaan, tetapi juga sarana pemberdayaan. Melalui pendampingan usaha, pelatihan digital, dan integrasi ke dalam ekosistem, BRI berupaya agar UMKM tidak hanya memperoleh modal, tetapi juga mendapatkan nilai tambah dalam hal kapasitas usaha dan literasi keuangan.

“Kami berkomitmen untuk terus hadir sebagai mitra utama bagi pelaku usaha mikro, dengan menyediakan akses pembiayaan yang mudah, perlindungan dari risiko usaha melalui asuransi mikro, serta mendorong transformasi digital agar UMKM dapat menembus pasar yang lebih luas,” imbuhnya.***

Terpilih Jadi Ketua Ardin Jabar, Raditya Dorong Optimalisasi Pengadaan Lokal Sesuai Inpres

0

Bogordaily.net — Ada yang menarik dari Musda Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia (Ardin) Jawa Barat, Sabtu (8/11/2025).

Bukan hanya karena lahirnya nahkoda baru, Tubagus Raditya Indrajaya. Tetapi karena satu kalimat yang ia ulang—dan seolah ingin ia titipkan kepada seluruh pejabat daerah: “Gunakan potensi lokal.”

Raditya resmi memimpin Ardin Jawa Barat untuk periode 2025–2030. Dan begitu terpilih, ia langsung bicara soal satu hal yang seharusnya sudah berjalan otomatis: penerapan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2022 tentang penggunaan produk dalam negeri.

Yang menarik, Raditya tidak mengucapkan itu sambil beretorika. Ia datang membawa angka.

“Dari total pengadaan barang dan jasa di Jawa Barat yang mencapai Rp13 triliun, baru sekitar Rp300 miliar yang benar-benar lewat toko daring lokal. Jauh dari 40 persen yang diwajibkan Inpres,” ujarnya.

Angka itu, bagi Raditya, sebuah ironi. Sebuah jurang yang memperlihatkan ketimpangan antara niat kebijakan dan kenyataan di lapangan.

Ardin Jabar Ingin Jadi Agregator UMKM

Di bawah kepemimpinannya, Ardin Jawa Barat ingin menjadi “agregator”—penghubung—antara UMKM lokal dan sistem pengadaan pemerintah. Raditya tahu permainan lama: kedekatan, jaringan, bahkan kebiasaan memilih penyedia dari luar daerah.

“Kami paham, barang dan jasa di kabupaten/kota hingga provinsi seringnya lewat aturan kedekatan. Dan kadang, bukan dari pengusaha lokal,” ujarnya lugas.

Narasinya sederhana, tapi dampaknya panjang: jika pemerintah daerah tidak membeli dari warga daerahnya sendiri, jangan berharap perekonomian lokal bergerak lebih cepat.

“Jadi kami dorong agar pemerintah daerah memakai potensi lokal. Agar pengadaan barang dan jasa itu benar-benar diperoleh pengusaha lokal,” tegas Raditya.

Bamsoet: Logistik Mahal, Industri Lokal Sulit Menang

Ketua Umum Ardin Indonesia, Bambang Soesatyo, hadir memberi dukungan. Ia melihat Ardin Jawa Barat punya “energi baru” untuk menjadi tulang punggung distribusi di provinsi dengan ekonomi terbesar kedua di Indonesia itu.

“Saya bangga melihat visi Ardin Jabar ini. Sangat strategis untuk menjadi ujung tombak antara industri, distribusi, dan pasar,” kata Bamsoet.

Namun ia juga mengingatkan satu persoalan klasik: biaya logistik Indonesia masih terlalu tinggi.

Tidak hanya soal pungutan liar di jalanan. Tetapi struktur distribusi darat yang berbiaya besar. Sebuah hambatan lama yang membuat produk lokal kalah bersaing dengan barang impor.

“Industri hilir kita bisa hebat. Tapi kalau logistik mahal, tetap tidak bisa bersaing,” ujarnya.

Bamsoet melihat satu tugas penting Ardin Jawa Barat: membedah dan menekan biaya logistik. Membantu pelaku usaha tumbuh lebih efisien.

Itulah misi besar yang menanti Tubagus Raditya Indrajaya. Membalik angka Rp300 miliar itu. Menjadikannya bukan sekadar statistik yang dibacakan di podium, tetapi bukti bahwa pengusaha lokal tidak lagi hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri.***