Home Blog Page 593

BAZNAS Kota Bogor Salurkan Santunan untuk Keluarga Korban Sungai Cisadane

0

Bogordaily.net – Duka mendalam menyelimuti dua keluarga di Kota Bogor usai peristiwa tragis yang menimpa Raja dan Fikar, dua pelajar SMPN 6 dan SMPN 7 Kota Bogor yang meninggal dunia setelah terseret derasnya arus Sungai Cisadane pada Jumat, 18 September 2025.

Tragedi ini mengguncang masyarakat sekitar, mengingat Sungai Cisadane kerap menjadi lokasi aktivitas anak-anak. Namun, derasnya arus saat kejadian membuat kedua remaja malang itu tidak bisa terselamatkan.

Sebagai bentuk kepedulian, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Bogor turun langsung menemui keluarga korban. Ketua BAZNAS Kota Bogor bersama jajaran mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus menyerahkan santunan.

“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah ini. Semoga keluarga diberikan ketabahan, kekuatan, dan almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ungkap Ketua BAZNAS Kota Bogor saat menyerahkan santunan.

Wujud Kepedulian Sosial

Santunan yang diberikan bukan hanya berupa bantuan finansial, melainkan juga dukungan moral agar keluarga korban bisa tetap tegar menghadapi cobaan.

Menurut BAZNAS, kepedulian semacam ini menjadi bagian dari misi utama lembaga dalam memberikan perhatian kepada masyarakat yang tertimpa musibah.

“Ini adalah ikhtiar kami untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Karena setiap musibah adalah ujian, dan kita semua berkewajiban untuk saling menguatkan,” tambahnya.

Peristiwa tenggelamnya dua pelajar ini menyisakan luka mendalam. Sejumlah tetangga dan sahabat korban terlihat memadati rumah duka.

Doa dan air mata mengiringi kepergian Raja dan Fikar, yang dikenal sebagai anak-anak berprestasi dan penuh semangat dalam kesehariannya di sekolah.

Musibah ini juga menjadi pengingat bagi warga sekitar untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di area sungai, terlebih di musim hujan dengan potensi arus deras.

Dengan hadirnya BAZNAS Kota Bogor, keluarga korban merasa tidak sendirian dalam menghadapi duka. Kehadiran lembaga zakat ini sekaligus menegaskan bahwa solidaritas sosial tetap hidup di tengah masyarakat.***

 

Naik Kelas Bersama Rumah BUMN BRI, UMKM Fashion Asal Bandung Semakin Dikenal dan Berhasil Tembus Pasar Internasional

0

Bogordaily.net – Netaly, brand modest fashion asal Bandung yang berdiri sejak 2003, terus membuktikan konsistensinya dalam berinovasi dan berkembang.

Berkat dukungan dari BRI melalui berbagai program pemberdayaan UMKM, Netaly kini tidak hanya dikenal di pasar lokal, tetapi juga mulai diminati oleh buyer internasional.

Founder Netaly, Yuli Lubis mengenang awal perjalanan bisnisnya ketika pilihan busana modest modern masih sangat terbatas.

Kemudian, dengan keberanian berinovasi, Netaly hadir memadukan material khas Nusantara seperti batik, tenun, dan sarung dengan desain modern serta detail sulam tangan.

“Bahkan kami sempat membuat koleksi dengan bahan sarung yang divariasikan dengan denim, dan saat itu cukup booming,” ungkap Yuli.

Bagi Yuli, selain inovasi, hal yang tak kalah pentingadalah jika sebuah usaha dapat memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Keyakinan tersebut yang membuatnya turut melibatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitar tempat usaha untuk mengerjakan detail sulam tangan dari rumah.

Cara ini membuat para ibu tidak hanya terlibat dalam proses kreatif, tetapi juga memiliki kesempatan berkontribusi pada ekonomi keluarga.

“Kami melibatkan ibu-ibu sekitar untuk mengerjakan detail sulam tangan. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan tambahan penghasilan sekaligus punya keterampilan baru. Jadi Netaly tidak hanya mengembangkan brand, tapi juga memberi dampak positif bagi komunitas,” ujarnya.

Seiring perkembangan usahanya, Yuli menyebut tahun 2025 sebagai titik balik bagi Netaly, khususnya ketika ia bergabung dengan Rumah BUMN BRI Bandung.

Melalui program pembinaan UMKM yang meliputi pelatihan, pendampingan, dan networking dengan sesama UMKM, Yuli mengaku sangat terbantu dalam pengembangan usahanya.

Komitmen Yuli untuk terus belajar bisnis dan mengembangkan Netaly juga tercermin dari partisipasinya dalam BRIncubator, sebuah program pembinaan berjenjang Rumah BUMN di bawah naungan BRI yang menghadirkan pelatihan terfokus dan pendampingan intensif agar UMKM mampu naik kelas.

Materi yang diberikan pada program tersebut mencakup communication & negotiation skills, budaya inovasi, manajemen keuangan, manajemen pemasaran, hingga manajemen rantai pasok serta pendampingan intensif yang khusus membahas persoalan usaha.

Bekal dari proses tersebut semakin memperkuat identitas Netaly sebagai brand yang konsisten mengangkat craft lokal dengan sentuhan modern.

Karakter inilah yang berhasil mencuri perhatian dewan juri. Puncaknya, Netaly meraih predikat Juara 1 BRIncubator 2025 untuk Kategori Fashion & Beauty. Hal ini menjadi sebuah pencapaian yang menegaskan kapasitas UMKM Indonesia untuk bersaing di level nasional maupun global.

Perjalanan tersebut akhirnya membawa Netaly pada perkembangan yang signifikan. Diketahui, untuk saat ini, produksi Netaly mampu mencapai ribuan potong busana per bulan.

Koleksinya juga berhasil lolos kurasi menjadi salah satu UMKM untuk tampil di berbagai fashion show, dan siap dipamerkan hingga Melbourne, Australia.

Dari sisi bisnis, omzet bulanan Netaly kini mencapai ratusan juta rupiah, sekaligus berhasil menarik pembeli dari mancanegara seperti Malaysia, Rusia, Jepang, Filipina, dan Hong Kong.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan bahwa keberhasilan Netaly menjadi bukti nyata komitmen BRI dalam mendampingi UMKM agar dapat naik kelas dan terus berkembang.

Ia menegaskan, melalui program-program pemberdayaan seperti Rumah BUMN dan BRIncubator, BRI tidak hanya memberikan akses permodalan, tetapi juga pembinaan, pendampingan bisnis, hingga membuka peluang jejaring pasar hingga go global.

“Strategi ini sejalan dengan upaya BRI untuk memperkuat ekosistem UMKM di Indonesia. Dengan kombinasi literasi, digitalisasi, dan fasilitasi akses, UMKM diharapkan dapat meningkatkan daya saing sekaligus menciptakan nilai tambah di pasar,” tutup Dhanny.***

Program Pemberdayaan BRI Antar UMKM Jahit Rumahan Sukses Hasilkan Omzet Miliaran Rupiah hingga Jangkau Pasar Eropa

0

Bogordaily.net – JJC Rumah Jahit, sebuah bisnis jahit rumahan asal Jakarta Utara kini telah sukses berkembang menjadi rumah produksi fashion yang berorientasi pada ekspor dengan omzet miliaran rupiah.

Bisnis yang dijalankan Jihan Astriningtrias berhasil disulap menjadi ruang kreativitas yang menghadirkan koleksi busana wanita dengan memadukan tradisi dan desain modern, sembari membuka ruang pemberdayaan perempuan.

“Rebranding yang kami lakukan pada Desember 2023 menjadi titik balik penting bagi JJC Rumah Jahit. Langkah ini kami ambil agar usaha dapat berkembang dan terus menjaga relevansi sekaligus menjawab permintaan konsumen sekaligus mendukung perempuan untuk tetap percaya diri dalam setiap aktivitasnya,” ujar Jihan.

 

Transformasi itu juga tampak dari koleksi ready-to-wear terbaru bertajuk “Eunoia Jakarta” yang diperkenalkan pada 2025. Koleksi outerwear siap pakai ini ditujukan bagi perempuan aktif dengan selera desain unik. Terinspirasi dari kehidupan kota Jakarta, Eunoia Jakarta memadukan kain tenun dan perca dengan detail bordir yang memadukan seni tradisional dan sentuhan modern.

 

Adapun di sisi produksi, Jihan menekankan bahwa JJC Rumah Jahit juga memberdayakan perempuan di sekitar lingkungan usahanya.

“Kami melibatkan ibu rumah tangga untuk mempelajari berbagai keahlian fesyen, mulai dari pemotongan pola hingga finishing. Saat ini, sekitar 80% pekerja di butik rumahan kami adalah perempuan,” ungkapnya.

 

Perjalanan usaha yang makin berkembang ini ternyata tidak terlepas dari dukungan BRI, di mana JJC Rumah Jahit tergabung dalam program Rumah BUMN BRI Jakarta sejak 2024.

“Banyak manfaat yang kami peroleh, terutama dari pelatihan online gratis yang diadakan setiap hari dan bisa diikuti seluruh anggota grup. Selain itu, kami juga mendapat informasi penting terkait pitching dan kesempatan pameran,” tuturnya.

 

Tahun ini, JJC Rumah Jahit kini menargetkan omzet hingga Rp1 miliar melalui pembenahan internal, inovasi produk, serta ekspansi ke ranah B2B untuk menjaga kontinuitas bisnis.

Tidak hanya di pasar domestik, produk JJC Rumah Jahit juga telah dilirik wisatawan mancanegara, mulai dari Malaysia, Brunei, hingga sejumlah negara di Eropa.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan bahwa BRI berkomitmen untuk terus hadir mendampingi pengusaha UMKM di setiap tahap perjalanan usaha mereka. Menurutnya, berbagai program pelatihan dan pendampingan yang diinisiasi BRI menjadi pijakan penting untuk mendorong UMKM naik kelas dan memperluas pasar.

“Melalui inisiatif pembinaan berkelanjutan dan program pemberdayaan yang menyeluruh, BRI percaya pelaku UMKM seperti JJC Rumah Jahit memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional. BRI optimis UMKM tidak hanya menjadi tulang punggung perekonomian nasional, tetapi juga mampu tampil sebagai lokomotif ekonomi rakyat dan berdaya saing global,” ujarnya.***

BSI KCP Bogor Sudirman Resmikan Kantor Baru, Perluas Akses Layanan Syariah

0

Bogordaily.net – Bank Syariah Indonesia (BSI) Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bogor Sudirman meresmikan kantor barunya yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman No.1, Pabaton, Bogor Tengah, pada Jumat 19 September 2025. Acara grand opening ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim,

Area Manager BSI Area Bogor, Safira menjelaskan bahwa relokasi cabang ini dilakukan untuk memperluas kapasitas layanan dan mendekatkan BSI kepada masyarakat.

Sebelumnya, kantor BSI Sudirman berada di depan Markas Zeni, kini dipindahkan ke depan Rumah Sakit Salak.

“Alhamdulillah acara hari ini berjalan dengan lancar. Harapannya, dengan relokasi ini BSI KCP Sudirman bisa semakin memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan perbankan syariah,” ungkap Safira.

Saat ini, BSI Area Bogor tercatat memiliki aset sekitar Rp8 triliun dengan 22 kantor cabang. Tahun ini, BSI berencana menambah dua cabang baru di Kota dan Kabupaten Bogor, sehingga total menjadi 24 cabang.

Selain memperkuat jaringan, BSI juga menghadirkan produk unggulan yang menjadi keunikan dibanding bank konvensional, di antaranya tabungan emas dan tabungan haji.

Produk tabungan emas memungkinkan nasabah membeli emas secara cicilan maupun menabung emas melalui aplikasi BSI Mobile.

Ke depan, BSI juga menyiapkan layanan ATM emas yang pertama akan hadir di cabang Pajajaran Bantarjati, Bogor.

“Kenapa emas? Karena emas adalah instrumen investasi yang sudah teruji stabil dan cenderung naik dalam jangka panjang. Ini yang membuat BSI menghadirkan fitur tabungan emas agar masyarakat bisa berinvestasi dengan aman,” tambah Safira.

Sementara itu, untuk layanan haji, BSI menjadi bank pembayaran haji terbesar di Indonesia, yakni mencapai 87 persen.

Dengan adanya 22 cabang BSI di Bogor, masyarakat diharapkan lebih mudah dalam membuka tabungan haji maupun mengakses layanan syariah lainnya.

Dengan relokasi kantor baru BSI KCP Sudirman ini, BSI optimis mampu memperluas jangkauan dan memberikan kontribusi lebih besar bagi masyarakat Bogor dalam mengakses layanan keuangan syariah.***

Peluang Capai SDG’s dengan Program RevitalisasiSekolah yang Inklusif dan Berdampak

0

Bogordaily.net – Diera di mana dunia bergerak cepat mengejar Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, khususnya target SDG 4: Pendidikan Berkualitas, Indonesia menghadapi dua sisi mata: kesempatan besar dan tantangan nyata. Di satu sisi, kemajuan dalam akses pendidikan dasar dan menengah telah terlihat—anak-anak lebih banyak bersekolah, pemerataan jumlah sekolah meningkat. Namun di sisi lain, kualitas pembelajaran, fasilitas penunjang, dan kesetaraan antarwilayah masih jauh dari ideal. Menurut UNESCO dalam Asia-Pacific Education 2030: SDG 4 Midterm Review (akhir 2024), banyak negara termasuk Indonesia masih mengalami kurangnya kualitas dalam materi pembelajaran dan dukungan teknologi yang memadai untuk wilayah terpencil. Revitalisasi Bukan Hanya Sekolah Negeri

Direktur Jendral Pendidikan Anak Usia Dini (Dirjen PAUD) Gotot Suharwoto menyampaikan sasaran program tidak eksklusif hanya untuk satuan Pendidikan tertentu. Semua dapat mengajukan menjadi penerima manfaat program revitalisasi. “jadi swasta pun bisa menerima dana dan ikut program revitalisasi selama memang sekolah itu membutuhkan, nanti dilihat dari data Data Pokok Pendidik Pendidikan (Dapodik) dan hasil verval,” kata Gogot dikutip dari detik.com Jumat 12 September 2025.

Ini menjadi angin segar bagi Pengelola satuan Pendidikan swasta yang selama ini kesulitan dalam segi finansial untuk menjaga keberlangsungan sekolahnya. Bahkan sebagain sampai harus gulung tikar karena tidak sanggup mendanai oprasional.

Pemerintah menjawab tantangan ini melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan tahun 2025, yang dilandasi oleh Instruksi Presiden (Inpres) No. 7 Tahun 2025 mengenai percepatan pembangunan, salah satunya di bidang pendidikan. Tidak hanya itu, revitaslisasi ini juga sejajar dengan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang dirancang agar layanan pendidikan bermutu bisa dirasakan merata oleh semua lapisan masyarakat (Humas Setkab, 2025).

Langkah nyata terlihat dalam alokasi anggaran Rp17,1 triliun untuk memperbaiki sarana prasarana di 10.440 satuan pendidikan di seluruh penjuru negeri. Fokus revitalisasi meliputi ruang kelas, ruang guru, administrasi, perpustakaan, laboratorium, toilet dan UKS—bukan sebagai tambahan kosmetik, tetapi sebagai pondasi ekosistem belajar yang sehat, aman, nyaman, dan modern.

Fakta internasional memperkuat urgensi ini. UNESCO-UIS dalam World Education Statistics 2024 mencatat bahwa meskipun enrolmen pendidikan formal dan nonformal usia muda (15-24 tahun) di Indonesia cukup tinggi, banyak siswa yang masih mengalami kualitas pengajaran dan fasilitas yang tidak memadai. Selain itu, laporan UNESCO GEM (2023-24) menekankan bahwa teknologi pendidikan bila tidak didukung akses internet yang memadai, khususnya di pulau-terluar dan daerah 3T, bisa memperlebar kesenjangan daripada menutupnya.

Pendekatan inklusif melalui revitalisasi sekolah dengan swakelola dan partisipasi masyarakat menjadi jalan keluar. Melibatkan warga lokal dalam pembangunan dan pengelolaan fasilitas mendorong rasa kepemilikan dan memastikan bahwa fasilitas yang dibangun sesuai kebutuhan nyata. Bila semangat ini dijaga, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencapai SDG 4 secara nyata: pendidikan berkualitas yang bukan hanya untuk kota besar, tapi juga untuk desa-desa di ujung Nusantara.

Urgensi Revitalisasi Sekolah dan Peningkatan Kualitas Guru

Pembangunan bangsa tidak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusianya. Dan kualitas manusia hanya dapat dibentuk melalui pendidikan yang baik dan merata. Tokoh-tokoh pendidikan menegaskan bahwa fungsi utama sekolah bukan semata tempat belajar formal, tetapi ruang pembinaan potensi individu—baik fisik, intelektual, maupun moral.

Penelitian Donni Muhammad (Muhamad et al., 2021) menunjukkan bahwa revitalisasi sarana pendidikan berdampak langsung pada terciptanya suasana pembelajaran yang lebih fokus, kondusif, dan nyaman.

Lingkungan belajar yang mendukung membuat peserta didik lebih termotivasi, guru lebih leluasa mengajar, dan interaksi antarwarga sekolah lebih harmonis.

Fakta di lapangan menguatkan temuan tersebut. Menurut data Kemendikbudristek (2024), masih terdapat lebih dari 27% sekolah dasar di wilayah 3T yang tidak memiliki perpustakaan layak, sementara 19% SMP belum memiliki laboratorium sains.

Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak siswa di pelosok masih belajar di ruang kelas sempit dengan kursi reyot, tanpa fasilitas dasar penunjang.

Dalam konteks ini, revitalisasi sekolah tidak lagi bisa ditunda—ia menjadi kebutuhan mendesak untuk menghapus kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah.

Namun, revitalisasi fisik hanyalah salah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah kualitas guru. Sebab, sebagus apa pun gedung dan fasilitas, sekolah tidak akan bermakna tanpa pendidik yang profesional.

Melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. 7 Tahun 2025, pemerintah menegaskan komitmen percepatan pembangunan manusia lewat revitalisasi satuan pendidikan, dengan fokus pada penguatan kapasitas guru.

Peningkatan kualitas guru masuk dalam prioritas besar anggaran pendidikan. Diah Dwi Utami, Direktur Anggaran Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Kementerian Keuangan, menuturkan bahwa sebagian besar alokasi dana negara di sektor pendidikan diarahkan untuk penguatan kompetensi guru dan pemenuhan hak dasar berupa gaji serta tunjangan. Tahun 2025, pemerintah juga meluncurkan beasiswa lanjutan bagi 12.000 guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang D4 atau S1, serta program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru yang sempat kuliah namun belum lulus.

Tak berhenti di situ, skala lebih besar hadir dalam Program Profesi Guru (PPG). Kemendikdasmen menargetkan 806.000 guru mengikuti PPG sepanjang 2025—jumlah terbesar sepanjang sejarah pendidikan Indonesia.

Program ini bukan sekadar formalitas sertifikasi, tetapi diarahkan untuk membentuk guru profesional yang menguasai pedagogi modern, literasi digital, serta strategi pengajaran kreatif yang relevan dengan karakter generasi Z dan Alpha.

Realitas di lapangan juga menegaskan pentingnya fokus pada tenaga pendidik. Survei Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI, 2024) menunjukkan lebih dari 60% guru masih terbebani pekerjaan administratif sehingga mengurangi fokus mereka pada pembelajaran di kelas.

Menjawab keluhan klasik ini, pemerintah melakukan reformasi penilaian kinerja guru dengan melimpahkan kewenangan kepada kepala sekolah dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD).

Selain itu, diperkenalkan pula kebijakan “Hari Belajar Guru”, yakni satu hari khusus setiap pekan di mana guru dibebaskan dari kewajiban mengajar untuk fokus pada pengembangan diri.

Kebijakan-kebijakan ini menunjukkan paradigma baru: revitalisasi sekolah tidak hanya mengubah tembok dan kursi, tetapi juga membangun ekosistem yang menempatkan guru sebagai jantung pendidikan.

Harapannya, dengan sarana memadai dan guru berkualitas, cita-cita mewujudkan generasi emas 2045 tidak lagi sekadar retorika, tetapi menjadi kenyataan yang lahir dari ruang-ruang kelas di seluruh penjuru Nusantara.

Program Revitalisasi selaras dengan Tujuan SDG’s

Program revitalisasi sekolah yang digulirkan pemerintah pada tahun 2025 tidak hanya sebatas pembangunan fisik, melainkan bagian dari strategi besar untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4: “Quality Education” atau pendidikan berkualitas untuk semua.

Fokus utamanya adalah inklusi dan pemerataan pendidikan, meningkatkan mutu pembelajaran, serta mendorong kesejahteraan masyarakat.

Seperti yang diungkapkan Humaida dalam penelitian Difani Hayati et al. (2024), program ini menjadi instrumen penting untuk memperluas akses pendidikan yang berkeadilan sekaligus menjawab kesenjangan kualitas layanan di Indonesia.

Keterkaitan ini semakin relevan ketika melihat kondisi pendidikan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Menurut Safitri dalam Difani Hayati et al. (2024), kualitas pendidikan Indonesia masih berada di posisi tertinggal. Hasil Survei PISA 2022 pun menegaskan fakta serupa: Indonesia menempati peringkat ke-69 dari 81 negara untuk kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains.

Gap ini menunjukkan bahwa revitalisasi sarana dan prasarana bukan hanya program domestik, tetapi juga kebutuhan mendesak untuk meningkatkan daya saing bangsa di kancah global.

Sarana prasarana pendidikan, menurut Sinta dalam Difani Hayati et al. (2019), menjadi tolok ukur kualitas pembelajaran.

Sekolah dengan laboratorium sains yang lengkap, perpustakaan yang modern, dan ruang kelas yang nyaman akan lebih mampu mendorong inovasi serta pengembangan keterampilan abad ke-21.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan masih ada lebih dari 27% SD di wilayah 3T tanpa perpustakaan layak dan 19% SMP tanpa laboratorium sains (Kemendikbudristek, 2024).

Revitalisasi menjadi jawaban untuk memastikan setiap anak Indonesia, baik di perkotaan maupun pelosok, mendapatkan fasilitas pendidikan yang setara.

Lebih jauh, Wahyudiono et al. (2025) menekankan bahwa lingkungan belajar yang nyaman berfungsi sebagai rangsangan positif bagi perkembangan anak.

Ruang kelas yang aman, ventilasi yang baik, dan fasilitas sanitasi yang memadai tidak hanya meningkatkan kualitas belajar, tetapi juga mendukung kesehatan mental dan fisik siswa.

Dalam jangka panjang, ini menjadi investasi penting untuk menyiapkan generasi emas 2045—generasi produktif, sehat, dan berdaya saing global.

Namun, revitalisasi tidak berhenti pada pembangunan fisik. Tahap berikutnya yang krusial adalah bagaimana satuan pendidikan menjaga, melestarikan, dan mengembangkan aset yang telah dibangun. Menurut pedoman Kemendikdasmen (2025), sekolah penerima bantuan diwajibkan menyusun rencana pemeliharaan yang melibatkan guru, komite sekolah, orang tua, hingga masyarakat lokal. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat rasa memiliki, tetapi juga memastikan nilai dan fungsi fasilitas bertahan dalam jangka panjang.

Fenomena gotong royong di lapangan menjadi buktinya. Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, orang tua siswa terlibat langsung mengecat ruang kelas dan membangun pagar sekolah.

Praktik serupa juga tercatat di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana bahan bangunan untuk rehabilitasi sekolah diambil dari toko lokal sehingga menggerakkan ekonomi desa.

Hal ini menunjukkan bahwa revitalisasi bukan hanya proyek fisik, melainkan juga motor penggerak sosial dan ekonomi daerah.

Dengan begitu, Program Revitalisasi Sekolah dapat dipandang sebagai strategi multi-dimensi:

Mendukung pencapaian SDGs melalui inklusi dan pemerataan pendidikan.

Memperbaiki sarana prasarana sebagai pondasi mutu pembelajaran.

Meningkatkan daya saing bangsa di tingkat global dengan mempersempit gap pendidikan ASEAN.

Membangun partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan aset pendidikan.

Menggerakkan ekonomi lokal melalui pemanfaatan sumber daya setempat dalam pembangunan.

Jika konsistensi kebijakan ini terjaga, maka pada tahun 2030 target SDGs di bidang pendidikan akan lebih realistis untuk dicapai.

Dan pada 2045, revitalisasi sekolah dapat menjadi salah satu tonggak sejarah yang mengantar Indonesia menuju status negara maju dengan kualitas sumber daya manusia unggul.

Revitalisasi sebagai Jalan Menuju Generasi Perubahan yang Cemerlang

Revitalisasi sekolah bukanlah proyek jangka pendek, melainkan investasi peradaban. Dengan dukungan anggaran Rp17,1 triliun pada tahun 2025, pemerintah berusaha menjawab ketimpangan fasilitas pendidikan yang selama ini menghambat kualitas pembelajaran.

Lebih dari sekadar membangun ruang kelas atau laboratorium, program ini menghadirkan harapan baru: sekolah sebagai pusat pembentukan karakter, pusat pengembangan ilmu, dan sekaligus pusat kebersamaan masyarakat.

Selaras dengan tujuan SDGs 2030, revitalisasi sekolah di Indonesia mencerminkan semangat inklusi dan keberlanjutan.

Tidak ada anak yang boleh tertinggal hanya karena lahir di wilayah 3T, dan tidak ada guru yang terabaikan hanya karena distribusi tenaga pendidik timpang.

Semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi, hingga masyarakat lokal, memegang peran penting dalam memastikan program ini benar-benar berdampak.

Namun, keberhasilan revitalisasi tidak hanya bergantung pada besar kecilnya dana, melainkan pada integritas dan konsistensi pelaksanaan.

Transparansi anggaran, partisipasi masyarakat, serta pengawasan yang ketat akan menentukan apakah program ini sekadar menjadi catatan laporan atau benar-benar menjadi monumen pendidikan.

Harapannya, pada 2045—saat Indonesia genap 100 tahun merdeka—hasil revitalisasi sekolah akan terlihat nyata: ruang-ruang belajar yang modern dan inklusif, guru-guru yang berkualitas, dan generasi muda yang siap bersaing di panggung dunia.

Revitalisasi sekolah adalah cermin dari mimpi besar bangsa: membangun kualitas manusia Indonesia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing global.****

Oleh: Abdul Jabbar Hekmatyar

Pengamat Ekonomi dan Pendidikan UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Wind Hill Mountain View Resort, Staycation Nyaman dengan View Gunung di Megamendung

0

Bogordaily.net – Wind Hill Mountain View Resort baru saja membuka pintunya untuk para wisatawan. Lokasinya di Pasir Angin, Megamendung, Bogor. Dari exit Tol Ciawi atau Cibonon, hanya sekitar 15 menit perjalanan.

Resor ini langsung mencuri perhatian. Punya 65 unit kamar dengan berbagai tipe: Bungalow Suite untuk keluarga besar (bisa muat enam orang), Junior Suite, Deluxe Pool View, hingga Deluxe City View.

Wind Hill Mountain View Resort juga menyiapkan fasilitas untuk urusan serius. Meeting room berbagai ukuran tersedia, mulai dari kapasitas 10 orang hingga ballroom Mandalawangi yang bisa menampung 700 orang. Cocok untuk seminar, gathering, atau event perusahaan.

Tidak berhenti di situ. Pemandangan Gunung Salak jadi latar kolam renang utama. Ada pula Sky Bridge yang estetik, playground untuk anak, hingga area outbound seluas 2.000 meter persegi yang sedang dikerjakan.

Bagi yang ingin lebih rileks, Wind Hill Mountain View Resort menyediakan family massage. Untuk kebutuhan sehari-hari, tersedia minimarket Wmart. Dan urusan perut? Montura Resto sedang memberikan promo diskon 30 persen hingga 21 September 2025.

Resor ini memang baru soft opening. Itu sebabnya harga kamar pun masih promo sampai 25 September 2025.

Wind Hill Mountain View Resort hadir bukan hanya sebagai tempat singgah. Ia menawarkan kenyamanan, kelengkapan fasilitas, dan tentu saja, spot-spot instagramable.***

SesKemenkop: Percepatan Pembiayaan dan Digitalisasi Jadi Kunci Operasional Koperasi Desa Merah Putih

0

Bogordaily.net – Sekretaris Kementerian Koperasi(SesKemenkop) Ahmad Zabadi menegaskan pentingnya percepatan sosialisasi terkait skema pembiayaan untuk mendukung operasionalisasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/kel Merah Putih).

Melalui pemahaman yang utuh terkait alur proses pencairan pendanaan dari Bank Himbara menjadi titik kritis dalam upaya mendukung operasionalisasi Kopdeskel Merah Putih di seluruh Indonesia.

Kepala Dinas dan Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pembentukan Kopdeskel Merah Putih di tingkat provinsi/ Kabupaten/ Kota harus dapat menjawab semua pertanyaan atau permasalahan yang dihadapi para pengelola/ pengurus Kopdeskel Merah Putih di wilayahnya terutama terkait dengan pembiayaan. Hal ini diperlukan agar target awal Oktober 2025 seluruh Kopdeskel Merah Putih dapat mulai beroperasi.

“Ini jadi penting karena kita ingin memastikan awal Oktober ini sudah running, tidak lagi ada isu tentang pemahaman terkait dengan bagaimana model bisnisnya, bagaimana terkait dengan pembiayaannya dan permasalahan lainnya,” kata Ahmad Zabadi dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Regional di Ballroom I Hotel Nagoya, Batam, Jumat (19/9).

Turut hadir Para Pejabat Eselon I Kementerian Koperasi, Direktur LPDB Krisdianto Soedarmono, Direktur Commercial Bank BRI Alexander Dippo Paris, Peserta rapat terdiri dari Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi/ Kabupaten/ Kota se Provinsi Riau, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.

Zabadi menambahkan bahwa pada fase operasionalisasi ini, Kopdes/kel Merah Putih juga difokuskan pada upaya optimalisasi pemanfaatan teknologi digitalisasi melalui sistem yang telah disiapkan yaitu Simkopdes. Kemudian Kopdes/kel Merah Putih juga didorong memperkuat kemitraan dengan mitra strategis agar proses operasionalisasi dapat berjalan dengan baik dan lancar.

“Kita mendorong agar semua transaksi dapat dilakukan dengan cashless. Anggota akan mendapat kartu khusus untuk berbelanja, sehingga tidak ada lagi keraguan aparat hukum terkait pengelolaan dana,” kata Zabadi

Terkait dengan pembiayaan bagi Kopdes/Kel Merah Putih, Presiden Prabowo secara khusus memberikan arahan agar dukungan Bank Himbara ataupun LPDB tidak hanya berfokus pada pemenuhan modal kerja. Namun diharapkan ada dukungan pembiayaan investasi sehingga Koperasi dapat memiliki kapasitas yang lebih tinggi untuk bersaing.

“Banyak koperasi desa kita tidak memiliki gudang atau gerai. Karena itu, pembiayaan investasi sangat penting agar koperasi bisa menjalankan fungsinya dengan baik,” jelasnya.

Zabadi berharap dari Bank penyalur pembiayaan yaitu Himbara juga turut mempermudah alur proses pencairan setelah menerima berkas proposal bisnis yang diajukan oleh Kopdes/kel Merah Putih. Dalam proses pencairannya, Bank penyalur tidak akan mencairkan pengajuan pinjaman kepada Kopdes/kel Merah Putih melainkan langsung kepada mitra bisnisnya sebagai pemasok komoditas yang akan diperjualbelikan.

Zabadi mengapresiasi dukungan dari BRI, BNI, Mandiri, dan BSI yang sudah menyatakan komitmennya untuk mempermudah pencairan pinjaman kepada Kopdes/Kel Merah Putih dengan petunjuk teknis yang telah ditetapkan.

“Karenanya ini memang butuh akselerasi percepatan sebab Bapak Presiden menginginkan kita untuk menuntaskan operasionalisasinya ini hingga akhir tahun. Kalau sudah pecah telur, pembiayaan berikutnya akan lebih mudah,” ujarnya.

Zabadi juga menyoroti agar pengurus/ pengelola Kopdes/ Kel Merah Putih juga fokus pada upaya mengoptimalkan keterlibatan dan peran aktif dari anggota koperasi. Hal ini sangat penting karena operasionalisasi Kopdeskel Merah Putih tidak akan berjalan maksimal dalam jangka panjang apabila anggota koperasi tidak diberdayakan.

Pengajuan pembiayaan kepada perbankan hanyalah menjadi salah satu opsi untuk memulai mengoperasikan koperasi. Opsi lain yang tidak kalah penting adalah mengoptimalkan sumber daya dari anggota untuk dapat menggali potensi pembiayaan dari iuran wajib, iuran sukarela yang dapat dikoleksi setiap bulannya. Semakin banyak masyarakat yang menjadi anggota koperasi, maka semakin besar potensi sumber pembiayaan internal yang dapat digali.

“Kalau 10 ribu anggota menyetor simpanan wajib Rp25 ribu per bulan, koperasi bisa menghimpun Rp250 juta tiap bulan, atau hampir Rp1,5 miliar setahun,” jelasnya.

Zabadi mengkritisi rendahnya jumlah anggota di beberapa koperasi. Untuk itu perlu peran serta dari pemerintah daerah hingga ke tingkat desa/ kelurahan untuk bersama-sama mendorong masyarakat menjadi anggota Kopdeskel Merah Putih. Menurutnya strategi paling efektif untuk menggaet lebih banyak anggota koperasi adalah dengan mengaitkan keanggotaan dengan akses ke barang bersubsidi.

“Kalau non-anggota tidak bisa belanja, maka otomatis mereka terdorong jadi anggota. Inilah strategi marketing koperasi,” ujar Zabadi.

Pada kesempatan yang sama SesKemenkop Ahmad Zabadi turut mengunjungi gerai Koperasi kelurahan di Patam Lestari Batam. Ahmad Zabadi mengajak masyarakat sebanyak banyaknya untuk menjadi anggota koperasi.***

Imigrasi Bogor Gelar Sosialisasi Keimigrasian Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Tindak Pidana Penyeludupan Manusia

0

Bogordaily.net — Kelurahan Nanggewer Mekar bekerja sama dengan Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Bogor menyelenggarakan Sosialisasi Keimigrasian tentang Pencegahan Tindak
Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Penyelundupan Manusia (TPPM).

Kegiatan ini dihadiri perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, serta warga setempat, dengan tujuan meningkatkan pemahaman sekaligus kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya
kejahatan transnasional tersebut.

Dalam paparannya, Kepala Subseksi Intelijen Keimigrasian Kantor Imigrasi Bogor, Rizki Ari Kurniawan Ramadhan, menekankan pentingnya peran masyarakat dalam pencegahan TPPO
dan TPPM.

“Kejahatan ini seringkali melibatkan iming-iming pekerjaan atau perjalanan ke
luar negeri dengan cara ilegal. Oleh karena itu, masyarakat perlu waspada dan memastikan prosedur keimigrasian dilakukan sesuai aturan. Imigrasi siap memberikan pendampingan agar masyarakat terhindar dari jeratan sindikat perdagangan orang maupun penyelundupan manusia,” tegasnya.

Selain pemaparan materi, peserta juga diberikan contoh kasus dan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan di tingkat keluarga maupun lingkungan sekitar.

Menurut Rizki, edukasi ini penting agar masyarakat mampu mengenali modus operasi sindikat yang semakin beragam.

“Kunci utama adalah pengetahuan. Dengan memahami ciri-ciri dan pola
perekrutan ilegal, kita bisa mencegah korban baru bermunculan,” tambahnya.

Lurah Nanggewer Mekar, dalam kesempatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas dukungan Imigrasi Bogor. Ia berharap kegiatan ini mampu memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya mencegah TPPO dan TPPM.

Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan masyarakat lebih berdaya, terlindungi, dan mampu menjadi garda terdepan dalam melawan kejahatan perdagangan orang maupun penyelundupan manusia.***

Angga Perdana: Pemkot Bogor Harus Gandeng Kontraktor Profesional Demi Pembangunan Berkelanjutan

0

Bogordaily.net – Angga Perdana seorang Praktisi Hukum menyoroti urgensi profesionalisme dalam setiap program pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

Menurutnya, untuk mengakselerasi kemajuan Kota Bogor, Pemkot wajib bekerja sama dengan kontraktor yang benar-benar profesional, berintegritas, serta memiliki rekam jejak yang jelas dan terukur.

Ia menekankan bahwa kontraktor yang dipilih harus memiliki alamat dan kedudukan hukum yang jelas, sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, serta reputasi yang baik dalam menyelesaikan proyek.

Selain itu, mereka juga harus siap menerima kekalahan dalam proses tender sesuai ketentuan yang berlaku, menunjukkan sportivitas dan profesionalisme yang tinggi.

“Program-program Kota Bogor, baik yang rutin maupun berskala strategis, akan sulit mencapai hasil optimal jika masih dikerjakan oleh pihak ketiga atau kontraktor yang ‘nakal dan rajin membuat gaduh’,” ujar Dosen Hukum Tata Negara di FH Unpak ini pada Kamis (18/9).

Ia mengidentifikasi kontraktor semacam ini sebagai “benalu” yang mengganggu proses pembangunan dengan mengembangkan isu-isu tidak relevan, mempolitisasi, menyebar hoaks, atau melakukan manuver yang merusak iklim kompetisi yang sehat.

Angga menambahkan, perilaku kontraktor yang tidak sportif ini tidak hanya menghambat pekerjaan dan merusak reputasi proyek, tetapi juga dapat membuat citra Kota Bogor menjadi kurang ramah bagi investor dan terkesan selalu ‘ribut’ dalam implementasi pembangunan kotanya.

Oleh karena itu, ia mendesak Pemkot Bogor untuk bersikap tegas.

“Sudah saatnya Pemkot Bogor bersih dari benalu-benalu yang hanya mementingkan keuntungan pribadi tanpa peduli pada kualitas dan kemajuan kota. Jangan lagi menggunakan atau bekerja sama dengan perusahaan yang terbukti memiliki rekam jejak buruk,” tegas Angga yang tergabung juga di LKBH Serumpun Anak Negeri.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pemuda dan aktivis, untuk terus mengawasi jalannya proyek-proyek pembangunan. Transparansi dan akuntabilitas harus menjadi landasan utama agar setiap anggaran yang digunakan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Pernyataan Angga ini diharapkan menjadi dorongan bagi Pemkot Bogor untuk mengambil langkah konkret dalam menyeleksi mitra kerja.

Dengan menggandeng kontraktor yang profesional dan berintegritas, visi mewujudkan Kota Bogor yang maju, nyaman, dan berdaya saing akan semakin cepat terwujud.***

Pertama di Indonesia, PLN UP3 Bogor dan Hexing Resmikan SPKLU di Teras Teh Popi Bogor

0

Bogordaily.net – PT Hexing Technology meresmikan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) pertama miliknya di Indonesia yang berlokasi di Teras Teh Popi, Perumahan Villa Bogor Indah, Kota Bogor.

Kehadiran SPKLU ini menandai langkah strategis PT Hexing Technology dalam mendukung percepatan ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai di Tanah Air, tentunya dengan dukungan penuh dari PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Bogor.

SPKLU Hexing pertama di Indonesia ini merupakan SPKLU Fast Charging dimana SPKLU ini yang dilengkapi teknologi pengisian daya listrik arus searah (DC) berkapasitas tinggi, sehingga dapat mengisi daya baterai kendaraan listrik (seperti mobil atau motor listrik) jauh lebih cepat.

Peresmian dihadiri oleh Manager PLN UP3 Bogor, Grahaita Gumelar, Direktur Pemasaran PT Hexing Technology, Sajimin, owner Teras Teh Popi sekaligus mitra lahan, Ahmad Hidayat, serta perangkat pemerintahan setempat.

Gumelar mengatakan, kehadiran SPKLU ini bukan hanya sekadar fasilitas pengisian daya, tetapi juga tonggak penting dalam memperkuat ekosistem kendaraan listrik, yang sejalan dengan program pemerintah dalam transisi energi bersih menuju Net Zero Emission 2060.

“PLN sangat mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara Hexing, Teras Teh Popi, dan stakeholder daerah. Kolaborasi inilah yang menjadi kunci dalam memperluas infrastruktur kendaraan listrik, khususnya di wilayah Bogor dan sekitarnya.” ujarnya.

Sementara itu, Sajimin menambahkan bahwa teknologi fast charging yang digunakan di SPKLU Teras Teh Popi mampu mengisi baterai mobil listrik dengan cepat.

“Hanya dalam waktu sekitar 20–40 menit, baterai mobil listrik dapat terisi penuh. Sambil menunggu, pengguna bisa melakukan aktivitas lain seperti menikmati makanan dan minuman. Biaya pengisian pun sudah distandarisasi sesuai regulasi nasional, sehingga sama di semua SPKLU di Indonesia,” jelasnya.

Owner Teras Teh Popi, Ahmad Hidayat, merasa bangga tempat usahanya dipilih menjadi lokasi peresmian SPKLU pertama Hexing di Indonesia.

“Alhamdulillah, SPKLU ini hadir di Teras Teh Popi. Terima kasih kepada PLN UP3 Bogor dan PT Hexing Technology yang telah mempercayakan lokasi ini. Melalui SPKLU ini, kami berharap akan semakin banyak masyarakat yang beralih ke kendaraan listrik, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada upaya percepatan penggunaan energi bersih dan berkelanjutan demi masa depan yang lebih baik bagi bangsa kita.” ungkapnya.

Lokasi SPKLU di Teras Teh Popi Villa Bogor Indah dipilih karena strategis dan mudah diakses oleh pengguna kendaraan listrik, baik dari kawasan perumahan maupun pengunjung umum. Kehadiran SPKLU ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik sebagai moda transportasi ramah lingkungan, serta menjadi tren hidup masa kini.

Dengan diresmikannya SPKLU pertama ini, Hexing dan PLN menegaskan komitmennya untuk terus memperluas jaringan SPKLU di berbagai wilayah Indonesia, menghadirkan teknologi terdepan, serta mendukung target pemerintah dalam mencapai net zero emission pada tahun 2060.***