Friday, 10 April 2026
Home Blog Page 803

Misinformasi dan Hoaks: Tantangan Era Digital dan Implikasinya terhadap Ilmu Komunikasi

0

Bogordaily.net – Revolusi digital telah membawa perubahan besar dalam cara kita berkomunikasi. Dengan akses informasi yang sangat mudah dan cepat melalui berbagai platform media sosial, berbagai kemajuan dapat tercapai di banyak bidang. Namun, kemudahan ini juga diiringi dengan tantangan serius, terutama terkait dengan penyebaran misinformasi dan hoaks. Fenomena ini berpotensi menggerogoti kepercayaan publik, memperuncing polarisasi, dan bahkan mengancam stabilitas sosial-politik.

Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang misinformasi dan hoaks menjadi sangat penting, terutama bagi profesional dan akademisi di bidang ilmu komunikasi, yang memiliki peran krusial dalam membentuk wacana publik dan mengelola informasi.

Artikel ini bertujuan untuk memberikan analisis mendalam mengenai dampak, faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran, serta upaya untuk menanggulangi misinformasi dan hoaks, khususnya dalam konteks ilmu komunikasi.

Untuk menangani permasalahan hoaks secara efektif, kita perlu memahami berbagai jenis informasi yang salah. UNESCO mengklasifikasikan hoaks ke dalam tiga kategori utama: misinformasi, disinformasi, dan malinformasi.

Misinformasi merujuk pada informasi yang tidak benar yang disebarkan tanpa niat jahat, di mana penyebarnya seringkali percaya bahwa informasi itu benar dan bermanfaat, meskipun tanpa melakukan verifikasi yang cukup.

Sebaliknya, disinformasi adalah informasi yang dengan sengaja dirancang dan disebarluaskan untuk menyesatkan atau memanipulasi opini publik, sering kali dengan tujuan politik, ekonomi, atau ideologis tertentu.

Sementara itu, malinformasi adalah informasi yang berdasarkan fakta, tetapi disebarkan dengan niat merugikan individu, organisasi, atau negara tertentu.

Malinformasi bisa mencakup pengungkapan informasi pribadi atau rahasia, atau penyebaran informasi yang benar namun disajikan di luar konteks.

Dengan memahami perbedaan antara ketiga jenis ini, kita dapat menciptakan strategi yang lebih efektif untuk melawan penyebaran hoaks.

Penyebaran hoaks merupakan fenomena yang kompleks, dipengaruhi oleh beragam faktor yang saling berinteraksi. Salah satu faktor utama adalah teknologi. Platform media sosial memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat dan merata, tanpa mekanisme kontrol yang memadai.

Selain itu, aspek psikologi manusia juga berperan penting. Banyak orang cenderung lebih percaya pada informasi yang sesuai dengan keyakinan atau prasangka yang telah ada sebelumnya.

Emosi yang kuat, seperti ketakutan atau kemarahan, juga dapat membuat individu lebih rentan terhadap hoaks. Tingkat literasi media yang rendah di masyarakat juga turut memberikan kontribusi terhadap penyebaran hoaks.

Ketidakmampuan untuk mengevaluasi kredibilitas sumber informasi serta membedakan antara fakta dan opini membuat masyarakat lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang salah atau menyesatkan.

Akhirnya, motivasi dari para penyebar hoaks juga bervariasi, mulai dari keuntungan finansial, kepentingan politik, hingga sekedar keinginan untuk menarik perhatian.

Pemahaman yang lebih dalam mengenai hoaks dan pengaruhnya sangatlah diperlukan bagi para profesional dalam ilmu komunikasi, agar mereka dapat mengembangkan strategi yang tepat untuk mengatasi dampak negatifnya dalam kehidupan sehari-hari.

Penyebaran hoaks memiliki dampak yang mendalam terhadap ilmu komunikasi. Pertama, hoaks mampu mengikis kepercayaan publik terhadap media, pemerintah, dan lembaga lainnya.

Salah satu dampaknya adalah timbulnya polarisasi sosial dan politik. Kedua, hoaks mengganggu aliran informasi yang akurat dan relevan, sehingga menyulitkan individu dalam membuat keputusan yang tepat.

Ketiga, hoaks bisa dimanfaatkan untuk memanipulasi opini publik dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan politik. Keempat, penyebaran hoaks menjadi tantangan etis bagi para profesional komunikasi, termasuk jurnalis dan praktisi hubungan masyarakat.

Mereka perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam penyebaran informasi yang keliru atau menyesatkan, serta harus menjunjung prinsip-prinsip etika seperti akurasi, objektivitas, dan transparansi.

Mengatasi penyebaran hoaks memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai pihak. Salah satu strategi utama adalah pendidikan literasi media, yang bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengevaluasi informasi secara kritis serta membedakan antara fakta dan opini. Selain itu, verifikasi fakta menjadi alat penting dalam melawan hoaks.

Organisasi yang melakukan verifikasi fakta secara independen dan transparan dapat membantu masyarakat mengenali informasi yang salah atau menyesatkan, serta memberikan klarifikasi dan koreksi terhadap informasi yang telah beredar.

Regulasi juga dapat berperan dalam mencegah penyebaran hoaks, asalkan regulasi tersebut proporsional dan efektif tanpa melanggar kebebasan berekspresi.

Terakhir, kerjasama antara media, platform media sosial, pemerintah, dan masyarakat sipil sangat penting dalam upaya memerangi hoaks.

Misinformasi dan hoaks merupakan tantangan serius di era digital, dengan dampak yang luas terhadap masyarakat, politik, dan ilmu komunikasi. Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan pemahaman mendalam mengenai definisi, jenis, faktor penyebab penyebaran, serta implikasi hoaks pada berbagai aspek kehidupan.

Ilmu komunikasi memiliki peran sentral dalam upaya menanggulangi masalah ini melalui pendidikan literasi media, penelitian mengenai disinformasi, dan pengembangan strategi komunikasi yang efektif.

Dengan kerjasama dari semua pihak, kita bisa menciptakan lingkungan informasi yang lebih sehat dan terpercaya, di mana masyarakat dapat mengakses informasi yang akurat dan relevan untuk membuat keputusan yang bijak.

Kementerian Komunikasi dan Informatika juga berupaya melawan hoaks dari hulu ke hilir untuk mencegah disinformasi.***

Salsa Aulia Zahra

Pengaruh Media Sosial terhadap Opini Publik

0

Bogordaily.net – Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di era digital ini. Platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan TikTok bukan hanya sekadar tempat untuk berinteraksi, tetapi juga ruang diskusi yang memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap berbagai isu, termasuk politik.

Media sosial memiliki kemampuan luar biasa dalam menyebarkan informasi dengan cepat dan menjangkau audiens yang luas. Dalam konteks politik, media sosial berfungsi sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam diskusi, mobilisasi massa, dan pengumpulan opini.

Media sosial dapat memengaruhi opini publik, baik secara positif maupun negatif. Pengaruh ini dapat dilihat dari bagaimana informasi disebarkan, bagaimana algoritma mempersonalisasi konten, dan bagaimana isu-isu tertentu dibentuk melalui media sosial.

Media sosial telah menjadi alat penting dalam komunikasi digital yang memengaruhi opini publik. Informasi dapat disebarkan dengan cepat dan luas melalui platform seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, yang secara signifikan memengaruhi pandangan dan sikap masyarakat.

Sebagai saluran komunikasi publik, media sosial memiliki kekuatan untuk memengaruhi dan menentukan perilaku politik karena dapat berperan dalam membentuk opini publik. Pengelolaan opini publik yang baik berperan dalam memenangkan pertarungan untuk memperoleh pengaruh dari masyarakat.

Media sosial memungkinkan informasi tentang isu politik tersebar dengan cepat tanpa melalui proses penyaringan seperti media tradisional. Konten yang provokatif atau sensasional cenderung mendapatkan lebih banyak perhatian dan berpotensi menjadi viral, memengaruhi opini publik secara kuat, terlepas dari kebenaran atau keakuratan informasi.

Algoritma media sosial sering kali memperkuat “filter bubble” atau “echo chambers”, di mana pengguna hanya terpapar pada pandangan dan opini yang sejalan dengan keyakinan mereka sendiri. Hal ini dapat menyebabkan polarisasi dan mempersempit keragaman pandangan politik di antara masyarakat.

Media sosial sering digunakan sebagai platform untuk kampanye politik dan penyebaran propaganda. Partai politik, kandidat, atau kelompok kepentingan dapat menggunakan media sosial untuk memengaruhi opini publik tentang isu-isu tertentu.

Contohnya, dalam pemilihan umum, kampanye digital melalui media sosial dapat mencapai jutaan pemilih dalam waktu singkat, memengaruhi persepsi dan keputusan pemilih.

Media sosial sangat efektif digunakan sebagai media komunikasi, khususnya dalam memberikan informasi dan menerima umpan balik dari khalayak. Umpan balik dari khalayak dapat mendekatkan hubungan antara komunikator publik atau politik dengan masyarakat.

Penggunaan media sosial dapat menimbulkan perpecahan jika penggunanya tidak dapat memfilter berita atau informasi yang mengandung perpecahan, berita bohong (hoax), isu SARA, agama, dan lainnya.

Hal ini dapat memicu kericuhan yang memecah belah persatuan. Salah satu tantangan besar media sosial adalah penyebaran disinformasi atau informasi palsu tentang isu politik.

Hal ini dapat membingungkan dan memengaruhi opini publik dengan menyebarkan informasi yang tidak benar atau diputarbalikkan. Salah satu tantangan besar media sosial adalah penyebaran disinformasi atau informasi palsu tentang isu politik.

Hal ini dapat membingungkan dan memengaruhi opini publik dengan menyebarkan informasi yang tidak benar atau diputarbalikkan. Pengguna media sosial rentan terhadap berita palsu karena opini di media sosial mudah dipercaya.

Media sosial juga memberikan platform bagi individu untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi politik dan berbagi pandangan mereka. Ini dapat memperluas aksesibilitas politik dan memberikan suara kepada orang-orang yang sebelumnya mungkin tidak terlibat langsung dalam proses politik.

Media sosial memainkan peran signifikan dalam membentuk opini publik tentang isu politik. Namun, penting bagi individu untuk berpikir kritis dan mengonfirmasi kebenaran informasi sebelum membentuk pandangan atau menyebarkannya lebih lanjut.

Pendidikan literasi digital harus ditingkatkan untuk menghadapi tantangan penyebaran berita palsu. Pengguna media sosial harus lebih kritis dan selektif dalam menerima informasi.

Selain itu, platform media sosial perlu meningkatkan upaya dalam memverifikasi fakta dan mengurangi penyebaran berita palsu. Masyarakat juga harus didorong untuk mencari informasi dari berbagai sumber yang kredibel sebelum membentuk opini.

Pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan lembaga pendidikan dapat bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan media sosial yang bertanggung jawab dan beretika.

Dengan memahami sumber terpercaya dan meningkatkan literasi digital, kita dapat lebih memahami cara menggunakan media sosial dengan bijak. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi alat yang positif untuk membentuk opini publik yang lebih terinformasi.***

Laudya Marcelly

Menyalakan Semangat Belajar: Yuk, Berkenalan dengan Kak Harvia!

0

Bogordaily.net – Mari berkenalan dengan Kak Harvia, asisten dosen di IPB University. Kak Harvia tidak hanya membimbing mahasiswa dalam memahami materi perkuliahan, ternyata Kak Harvia juga memiliki usaha bisnis sampingan di bidang food and beverage. Yuk, simak ceritanya!

Harvia Atika Zahira lahir di Bogor pada 14 Juni 2002. Saat ini, ia menjalani tugas sebagai asisten dosen di program studi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB. Selain itu, ia juga memiliki usaha di bidang kuliner, yaitu bisnis chicken katsu yang berlokasi di IPB Dramaga.

Dalam perjalanan akademiknya, Kak Harvia memiliki pengalaman menarik karena menjalani dua program pendidikan sekaligus. Ia pertama kali masuk IPB pada tahun 2020 di program studi Komunikasi Digital dan Media.

Setahun kemudian, pada 2021, ia juga mendaftar di Universitas Terbuka (UT) dengan mengambil jurusan Manajemen. Saat ini, ia sedang menyelesaikan pendidikannya di Universitas Terbuka.

Menjalani dua pendidikan secara bersamaan tentu memberikan tantangan tersendiri. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah perbedaan sistem antara kedua kampus tersebut. Universitas Terbuka memiliki sistem pembelajaran full online.

Awalnya, Kak Harvia berpikir sistem ini akan lebih mudah karena fleksibilitasnya. Namun, kenyataannya jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Proses pembelajaran di UT mengharuskan mahasiswa untuk belajar secara mandiri.

Tanpa organisasi seperti kelompok belajar (pokjar), sangat sulit mendapatkan teman diskusi atau tempat berbagi ilmu. Perkuliahan dilakukan hanya melalui materi di buku dan komunikasi dengan dosen yang terbatas pada chat, tanpa ada interaksi langsung seperti telepon atau Zoom.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri baginya dalam memahami materi secara lebih mendalam. Berbeda dengan IPB, yang memiliki banyak interaksi dengan teman-teman dan dosen, membuat pengalaman belajar di sana terasa lebih hidup dan mendukung.

Dalam perjalanan akademik dan profesionalnya, pengalaman magang juga menjadi bagian penting yang ia peroleh melalui informasi dari teman ke teman. Salah satu contoh adalah ketika ia mengikuti turun lapangan.

Kak Harvia memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya-tanya dan memperluas relasi, yang sangat membantu dalam pengembangan kariernya.

Nah, teman-teman, menjadi asisten dosen sebenarnya bukan sesuatu yang direncanakan sejak awal oleh Kak Harvia. Kesempatan ini datang ketika program studi Komunikasi Digital dan Media membuka lowongan untuk posisi asisten dosen.

Karena belum mendapatkan pekerjaan tetap, Kak Harvia memutuskan untuk mendaftar dan mengisi waktu luang dengan pengalaman mengajar ini. Sementara itu, bisnis kuliner yang ia jalankan juga muncul dari peluang usaha yang tidak disangka sebelumnya.

Awalnya, bisnis ini dimiliki oleh seorang teman dari SMA-nya. Karena suatu alasan, temannya tidak dapat melanjutkan usahanya, lalu mengoper kontrak kepada Harvia. Melihat potensi dalam usaha ini, ia pun memutuskan untuk mengambil alih dan melanjutkannya.

Sejak Agustus 2024, Kak Harvia resmi menjadi asisten dosen. Sebagai asisten dosen, ia memiliki tanggung jawab untuk memastikan mahasiswa memahami materi yang dipelajari serta memantau tugas-tugas yang mereka kerjakan.

Pengalaman ini sangat menarik karena memungkinkan dirinya untuk berinteraksi langsung dengan mahasiswa. Saat ini, ia menangani sepuluh kelas dari angkatan 61. Melalui pengalaman ini, ia mulai memahami karakteristik mahasiswa baru.

Ada beberapa mahasiswa yang memiliki keunikan tersendiri, seperti gemar bertanya, meskipun pertanyaannya terkadang tidak relevan dengan materi yang sedang dibahas.

Salah satu tantangan terbesar dalam menjadi asisten dosen adalah dalam proses penilaian mahasiswa. Penilaian tidak hanya berdasarkan hasil tugas mereka, tetapi juga mempertimbangkan berbagai aspek lain seperti keaktifan di kelas, kehadiran, dan partisipasi dalam diskusi.

Oleh karena itu, ia harus selalu objektif dalam memberikan nilai dan sering berdiskusi dengan dosen utama untuk memastikan penilaian yang adil bagi setiap mahasiswa.

Mengenai rencana masa depan, Kak Harvia memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Saat ini, ia sedang dalam tahap persiapan, termasuk mengikuti tes bahasa dan tes akademik.

Namun, ia menyadari bahwa persiapannya agak terlambat, sehingga harus menunda rencana ini untuk sementara waktu. Mengenai kemungkinan menjadi dosen di masa depan, ia masih belum memiliki keputusan pasti.

Ia lebih memilih untuk melihat dan mempertimbangkan peluang yang ada. Jika memang ada kesempatan yang baik, tentu ia akan mengambilnya.

Teruntuk para mahasiswa, Kak Harvia berpesan agar teman-teman selalu semangat dalam belajar. Ia menyarankan agar mereka berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap proses pembelajaran, meskipun terkadang terasa tidak terlalu penting atau mudah.

Namun, suatu saat, ilmu yang dipelajari akan sangat berguna dan membantu dalam kehidupan. Belajar tidak hanya sekadar mendapatkan nilai, tetapi juga memahami dan mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan nyata.

Kepada rekan-rekan sesama asisten dosen, Harvia berharap mereka semua dapat menemukan karir yang lebih baik ke depannya. Karena, seperti yang diketahui, posisi asisten dosen tidak memiliki jenjang karir yang jelas.

Bagi mereka yang memiliki passion dalam mengajar, menjadi dosen bisa menjadi pilihan yang baik. Namun, bagi yang ingin berkembang di bidang lain, ia berharap mereka dapat menemukan jalur yang paling sesuai dengan minat dan tujuan masing-masing.***

 

Tsabita El Azmi, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Liburan Akan Terasa Singkat Saat Dihiasi Kebahagiaan

Bogordaily.net – Perjalanan akan terasa sangat ringan jika dilakukan bersama-sama. Tapi bagaimana dengan perjalanan yang dilakukan sendiri? Apakah terasa sangat sulit atau tidak menyenangkan? Terkadang, kita membutuhkan waktu sendiri untuk merasakan kebebasan tanpa ada gangguan dari orang lain.

Ternyata, perjalanan yang dilakukan sendiri itu tidak seburuk yang saya bayangkan. Beberapa waktu lalu, saya melakukan perjalanan liburan ke Bromo, Malang. Saat itu, saya sedang libur semester yang panjang, dan saya memutuskan untuk liburan. Perjalanan ini penuh dengan pengalaman baru.

Perjalanan saya dimulai dari Bogor, naik KRL ke Stasiun Pasar Senen, dan dari Pasar Senen, saya melanjutkan perjalanan menggunakan kereta keluar kota untuk pertama kalinya. Perjalanan sendirian dan pertama kali bingung? Tentu saja, tetapi ini menjadi pengalaman dan pelajaran berharga bagi saya.

Perjalanan yang awalnya saya pikir akan sangat membosankan karena harus duduk di kereta selama 13 jam tanpa teman ngobrol, ternyata menjadi pengalaman yang menyenangkan. Di kereta, saya bertemu dengan satu keluarga seorang bapak, ibu, dan anak perempuan mereka.

Dari awal, saya sudah memperhatikan mereka karena komunikasi mereka yang sangat akrab, terlihat seperti keluarga yang bahagia. Tak lama setelah saya duduk, keluarga tersebut duduk tepat di samping saya.

Berada di tengah-tengah keluarga yang bahagia, saya sempat merasa canggung dan berpikir mereka mungkin tidak akan memperdulikan saya atau merasa terganggu dengan keberadaan saya. Ternyata, semua itu tidak terjadi.

Mereka selalu menyertakan saya dalam obrolan mereka. Awalnya canggung, tetapi lama-kelamaan kami semakin dekat.

Saya pribadi cukup malas untuk berdiri, apalagi kalau duduk di pojok, jadi saya memilih untuk tidak membeli makanan atau pergi ke toilet. Saat itu, perut saya mulai lapar, tetapi saya malas berdiri.

Saya melihat ibu di sebelah saya pergi membeli makan. Awalnya, saya ingin ikut, tetapi rasa malas membuat saya tetap duduk. Tak lama kemudian, saya mencium bau mie yang sangat menggugah selera, dan untuk menghindari perasaan lapar, saya menutup mata dan pura-pura tidur.

Tiba-tiba, ibu di sebelah saya menawarkan pop mie ternyata dia tidak lupa akan saya. Dia bahkan membelikan saya makanan. Saya merasa terharu. Dia menawarkan semua makanan yang mereka bawa tanpa terkecuali.

Perjalanan saya yang awalnya saya kira akan sepi, ternyata diisi dengan orang-orang baik yang menganggap saya bagian dari mereka. Benar, orang baik selalu ada di sekitar kita.

Perjalanan panjang ini diisi dengan obrolan dan tawa keluarga yang bahagia, namun sayangnya, mereka harus turun lebih dulu karena tujuan mereka ke Solo. Setelah mereka turun, suasana terasa sangat sepi, karena saya benar-benar sendirian.

Menempuh perjalanan selama kurang lebih 13 jam terasa lelah, tetapi juga menyenangkan. Setelah sampai di tujuan, saya bertemu dengan teman-teman yang juga ingin melakukan trip ke Malang.

Setelah bertemu dengan teman-teman, kami melanjutkan perjalanan menuju Bromo. Kami menggunakan travel yang sudah termasuk transportasi dan jeep untuk menuju ke Bromo. Kami berangkat dari penginapan menuju Bromo, dan tiba di sana sekitar pukul 3 pagi.

Awalnya saya berpikir kami akan menuju ke area Pasir berbisik itu, namun saya sedikit bingung kenapa kami dibangunkan terlalu pagi. Saya masih berpikir positif, bahwa pasir-pasir itu pasti ada di puncak dan kami akan menaiki jeep ke sana.

Ternyata, saya terlalu positif berpikir. Kami malah disuruh mendaki dengan kondisi yang sangat dingin terutama karena kami memulai pendakian di pagi buta, dengan mata yang masih ngantuk.

Langkah demi langkah menuju puncak untuk melihat sunrise ternyata tidak semudah itu. Dengan semangat, kami mulai mendaki. Langkah pertama terasa ringan, langkah berikutnya mulai terasa berat, dan langkah ketiga semakin melelahkan.

Saya hampir menyerah dan ingin berhenti, tetapi teman-teman terus memberi semangat. Mau tak mau, saya harus terus melanjutkan dengan semangat meski tak sekuat sebelumnya.

Setengah perjalanan, ada satu teman saya yang sudah benar-benar lemas dan memutuskan untuk berhenti. Kami terus menyemangatinya, tetapi dia benar-benar tidak kuat.

Dia berhenti di tengah jalan, yang kebetulan sudah bisa melihat sunrise. Di tempat itu, banyak orang yang berhenti dan ada tempat makan. Beberapa teman saya memilih berhenti di sana, sementara saya melanjutkan perjalanan.

Ketika saya sedikit lagi mendekati puncak, matahari sudah mulai terbit. Teman saya menyadari jika kami terus berjalan ke puncak, mungkin kami tidak akan sempat menikmati sunrise. Jadi, kami mencari tempat yang masih bisa menikmati pemandangan matahari terbit.

Menikmati sunrise di tengah keramaian, dengan cuaca yang sejuk di atas puncak, ternyata sangat indah. Inilah yang dirasakan oleh para pendaki gunung. Keindahan dan ketenangan yang luar biasa. Kami menikmati pemandangan sambil ngobrol dan bercanda. Waktu terasa begitu berharga.

Waktu yang penuh kesenangan membuat hari terasa cepat berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, dan kami memutuskan untuk turun menuju destinasi berikutnya. Perjalanan turun terasa sangat ringan dan cepat.

Setelah sampai di bawah, kami sudah dijemput oleh jeep yang akan membawa kami ke destinasi berikutnya. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pasir Berbisik. Satu jeep kami naiki dengan tujuh orang semuanya cukup sempit, tapi sangat seru.

Sampai di area pasir, saya merasa kagum karena pemandangannya lebih indah dari yang saya bayangkan, jauh melampaui ekspektasi saya. Waktu terus berlalu, kami menikmati bermain di sana, makan bersama, dan bercanda.

Hal-hal kecil yang membuat perjalanan ini menjadi kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Waktu yang diisi dengan kebahagiaan selalu terasa cepat berlalu. Perjalanan seru ini harus diakhiri dengan meninggalkan Bromo dan sejuta keindahannya.***

Rifa Tuljanah
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

Kontroversi Social Experiment di Media Sosial: Antara Edukasi dan Sensasi

0

Bogordaily.net – Kontroversi Social Experiment di Media Sosial: Antara Edukasi dan Sensasi Fenomena social experiment di media sosial semakin marak dengan berbagai konsep yang beragam, mulai dari menguji empati masyarakat hingga mengungkap perilaku sosial. Namun, belakangan ini, banyak eksperimen sosial yang justru menimbulkan kontroversi karena dianggap lebih mengedepankan sensasi dibanding tujuan edukatif.

Beberapa konten social experiment memang berhasil menyampaikan pesan moral dan
membuka mata masyarakat terhadap isu sosial tertentu.

Misalnya, eksperimen tentang keberanian membela korban pelecehan sering kali menuai respons positif.

Namun, di sisi lain, banyak juga yang dibuat dengan cara manipulatif, seperti berpura-pura menjadi korban atau menipu orang lain demi reaksi spontan yang dramatis.

Kasus viral seperti eksperimen yang mempermalukan orang miskin dengan omongan “menguji kebaikan” atau membuat seseorang menangis hanya untuk konten telah menuai kecaman.

Beberapa bahkan dianggap melanggar privasi dan etika karena dilakukan tanpa izin. Konten semacam ini lebih condong pada eksploitasi demi keuntungan pribadi.

Saya merasa bahwa social experiment sebenarnya bisa menjadi hal yang baik untuk
mengedukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai isu sosial.

Namun, ketika tujuan utamanya hanya untuk sensasi bukan ke edukasi maka manfaat nya pun menjadi hilang dan hanya akan mendapatkan kecaman dari publik.

Banyak kreator yang mengabaikan aspek etika hanya demi mendapatkan engagement
tinggi di media sosial.

Padahal, eksperimen sosial yang tidak bertanggung jawab dapat menimbulkan dampak psikologis bagi orang yang terlibat, terutama jika mereka tidak mengetahui bahwa sedang menjadi bagian dari sebuah eksperimen.

Selain itu, banyak eksperimen sosial yang sengaja dibuat agar memprovokasi,yang justru bisa menciptakan prasangka buruk atau persepsi negatif terhadap kelompok tertentu.

Saya juga menyayangkan bagaimana banyak orang dengan mudah percaya dan
membagikan / men share video eksperimen sosial tanpa mencari tahu kebenarannya.

Ini menjadi tantangan tersendiri di era digital, di mana kita sendiri lupa harus mencari faktanya terlebih dahulu sebelum kita akan membagikannya lebih lanjut.

Fenomena Kontroversi Social Experiment, semakin diperparah dengan adanya algoritma media sosial yang cenderung mempromosikan konten berdasarkan tingkat interaksi, bukan keakuratan atau berbobotnya dari sebuah konten itu sendiri.

Akibatnya, video eksperimen sosial yang mengandung unsur kontroversi, manipulasi, atau eksploitasi sering kali mendapat lebih banyak perhatian daripada konten yang benarbenar edukatif dan beretika. Agar social experiment tetap menjadi media edukasi yang positif, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan:

1. Transparansi & Kejujuran: Kreator konten harus menjelaskan tujuan eksperimen,
mendapatkan izin dari partisipan, dan tidak merekayasa hasil demi kepentingan pribadi.

2. Memperhatikan Etika: Jangan sampai eksperimen ini merugikan orang lain, baik secara emosional maupun reputasi. Jika melibatkan masyarakat umum, pastikan tidak ada eksploitasi.

3. Fokus pada Dampak Positif: Eksperimen sosial yang baik harus mendorong perubahan positif di masyarakat, bukan hanya mengejar popularitas sesaat.

4. Pengawasan: Platform media sosial seharusnya lebih ketat dalam memoderasi konten eksperimen yang berpotensi merugikan, serta memberikan edukasi bagi kreator mengenai etika digital.

Eksperimen sosial yang benar-benar edukatif akan tetap memiliki tempat di media sosial. Namun, jika hanya untuk mencari sensasi tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya, maka itu bukanlah eksperimen sosial melainkan eksperimen sosial yang berkedok kepedulian. Sebagai audiens, kita juga harus lebih kritis dalam menilai dan tidak mudah terprovokasi oleh konten yang viral tanpa memahami konteksnya.***

Laudya Marcelly

Menolak Jadi Alat Korporasi, kisah Dr. Leonard Dharmawan Menemukan Panggilan di Dunia Akademik

0

Bogordaily.net – Dr. Leonard Dharmawan, S.P., M.Si. adalah seorang akademisi dan peneliti di bidang komunikasi digital dan media, yang saat ini mengajar di Sekolah Vokasi IPB University. Sebelum menjadi akademisi, ia pernah bekerja di industri dengan gaji besar, tetapi memilih meninggalkan kenyamanan finansial demi mengejar panggilan hatinya dalam dunia pendidikan. Keputusan ini tidak mudah, namun membawa makna lebih dalam hidupnya.

Kini, ia dikenal sebagai sosok yang inovatif dalam menerapkan pendekatan digital dalam pembelajaran serta aktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat.

Latar Belakang dan Pendidikan

Dr. Leonard lahir di Bogor pada tahun 1987. Sejak kecil, ia memiliki minat besar dalam dunia komunikasi dan teknologi. Ia menyelesaikan pendidikan tingginya di IPB University, meraih gelar S1, S2, dan S3 dengan spesialisasi dalam Komunikasi Pembangunan.

Selepas lulus S1, ia memulai karier sebagai External Auditor di perusahaan tambang yang berbasis di Kalimantan Timur. Gaji besar, fasilitas lengkap, serta peluang karier yang menjanjikan seolah menjadi impian banyak orang. Namun, semakin lama bekerja, ia mulai melihat praktik di industri yang tidak selalu sesuai dengan prinsip dan idealismenya, terutama dalam pengelolaan Corporate Social Responsibility (CSR).

Baginya, program CSR seharusnya bertujuan untuk membantu masyarakat, tetapi kenyataannya lebih banyak digunakan sebagai alat negosiasi bisnis. Momen puncaknya terjadi saat ia diminta untuk menutup mata terhadap ketimpangan sosial yang terjadi akibat kebijakan perusahaan.

Inilah yang membuatnya mempertimbangkan kembali nilai-nilai yang ia anut dan akhirnya mengambil keputusan besar: meninggalkan industri dan mencari makna dalam dunia akademik.

Karier sebagai Akademisi

Pada tahun 2013, Dr. Leonard memutuskan untuk beralih sepenuhnya ke dunia akademik dengan bergabung sebagai dosen di Sekolah Vokasi IPB University. Bagi banyak orang, meninggalkan industri dengan gaji besar adalah keputusan sulit, tetapi baginya, ilmu dan pendidikan adalah investasi jangka panjang yang lebih berarti.

Ia menghadapi tantangan besar di awal transisinya ke dunia akademik. Dari kehidupan industri yang cepat dan penuh target, ia kini berhadapan dengan sistem pendidikan yang memiliki tantangan tersendiri, termasuk menyesuaikan metode pengajaran agar tetap relevan dengan perkembangan digital. Namun, pengalaman industrinya menjadi nilai tambah dalam pendekatannya sebagai pengajar.

Pengalamannya sebagai praktisi membuatnya memiliki pendekatan unik dalam pengajaran. Ia tidak hanya mengajarkan teori tetapi juga menanamkan pemahaman praktis kepada mahasiswanya dengan studi kasus nyata dan proyek berbasis industri. Dengan latar

belakangnya di industri, ia berusaha menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan kebutuhan dunia kerja.

Selain mengajar, ia juga aktif dalam penelitian dan pengembangan kurikulum berbasis digital yang menyesuaikan dengan perkembangan teknologi komunikasi masa kini.
Keberadaannya di dunia akademik memperkuat sinergi antara teori dan praktik dalam bidang komunikasi digital dan media.

Penelitian dan Publikasi Dr. Leonard berhasil meraih hibah penelitian kolaboratif dari SEARCA sebanyak dua kali berturut-turut. Pada hibah pertama, ia berperan sebagai anggota tim penelitian, sedangkan pada hibah kedua, ia dipercaya sebagai ketua penelitian.

Penelitiannya berfokus pada pengaruh gas rumah kaca dari aktivitas pertanian di Bogor dan Sumbawa, serta strategi komunikasi dalam mengedukasi masyarakat mengenai dampaknya. yang menunjukkan kredibilitas dan konsistensinya dalam penelitian akademik.**, yang membuktikan kredibilitas dan dampaknya dalam riset akademik.

Sebuah pencapaian yang menunjukkan dedikasi dan komitmennya dalam dunia penelitian akademik. Hibah ini membantunya mengembangkan studi mengenai transformasi digital dalam komunikasi serta strategi komunikasi digital bagi UMKM dan startup.

Beberapa publikasi ilmiahnya meliputi: Dr. Leonard aktif dalam penelitian yang berfokus pada transformasi digital dalam komunikasi, media sosial dalam pembangunan, serta strategi komunikasi digital bagi UMKM dan startup. Beberapa publikasi ilmiahnya meliputi:

• “Digital Information Development in Agriculture Extension in Facing New Normal Era during COVID-19 Pandemics” – Studi tentang penggunaan informasi digital dalam penyuluhan pertanian.
• “Social Transformation in Peri-Urban Communities toward Food Sustainability and Achievement of SDGs in the Era of Disruption” – Penelitian mengenai ketahanan pangan dan transformasi sosial.
• “Development Communication Role in Natural Resources and Environmental Management Adaptive to Climate Change” – Studi tentang komunikasi pembangunan dalam pengelolaan lingkungan.

Dedikasi dalam Pengabdian Masyarakat

Dr. Leonard tidak hanya berkontribusi di ruang kelas, tetapi juga aktif dalam pengabdian masyarakat. Salah satu inisiatifnya adalah mendorong digitalisasi bagi UMKM dan startup, memberikan pelatihan terkait komunikasi digital, strategi pemasaran media sosial, serta peningkatan literasi digital di kalangan masyarakat.

Selain itu, ia membimbing mahasiswa dalam program penyuluhan pembuatan pupuk organik Mikroorganisme Lokal (MOL) di Desa Bantarsari, Kabupaten Bogor, yang bertujuan memberikan edukasi tentang pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Kehidupan Pribadi dan Prinsip Hidup

Dr. Leonard adalah sosok family man yang menyeimbangkan kehidupan profesional dan pribadi. Ia telah menikah dan memiliki satu anak. Salah satu prinsip hidup yang ia pegang

teguh adalah “Menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, sekecil apa pun kontribusinya”. Prinsip inilah yang mendorongnya untuk meninggalkan dunia industri dan mendedikasikan diri sepenuhnya untuk dunia pendidikan.

Di luar akademik, ia juga mendukung istrinya yang aktif sebagai content creator di bidang kuliner, sering membantu dalam pengambilan gambar dan editing video. Ini menjadi salah satu cara baginya untuk tetap terhubung dengan keluarga di tengah kesibukan sebagai dosen dan peneliti.

Pesan untuk Mahasiswa

Sebagai seorang pendidik, Leonard Dharmawan selalu menekankan pentingnya membangun jaringan dan pengalaman praktis. Ia berpesan kepada mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga mengembangkan keterampilan digital dan membangun personal branding.

Menurutnya, “Kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh sejauh mana seseorang dapat beradaptasi dan menguasai keterampilan yang relevan di industri.”

Ia mendorong mahasiswa untuk memiliki spesialisasi yang kuat di bidang content creation, digital marketing, social media management, serta media analytics agar dapat bersaing di era digital saat ini.

Dr. Leonard Dharmawan adalah contoh nyata seorang akademisi yang berhasil mengkombinasikan pengalaman industri dengan pendidikan. Dedikasinya dalam penelitian dan pengabdian masyarakat membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat berdampak luas jika diaplikasikan dengan tepat.

Keputusannya meninggalkan dunia industri bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi ia percaya bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang lebih berharga dibanding sekadar kenyamanan finansial.

Melalui perjalanan kariernya, Leonard Dharmawan menunjukkan bahwa idealitas dan profesionalisme dapat berjalan beriringan, serta bahwa kesuksesan sejati diukur dari manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.***

Andika R Hadiana Putra Mahasiswa Komunikasi Digital & Meda

Harapan dan Tantangan dalam Program Makan Bergizi Gratis

0

Bogordaily.net – Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program kerja dari President RI ke-8 yaitu Pak Prabowo Subianto. Program yang digadang-gadang sudah digagas dari tahun 2006, merupakan program unggulan dan program prioritas dari Bapak Probowo Subianto. Program makan siang ini menimbulkan berbagai sudut pandang, Menimbulkan pro dan kontra tetapi hal ini tidak membuat pak Prabowo menghentikan niatnya menjalankan program ini.

Pada tanggal 6 Januari Program makan siang gratis ini dilaksanakan diberbagai tempat di indonesia walau masih banyak daerah yang belum bisa merasakan program makan siang gratis.

Persebarang yang belum merata di sebabkan oleh beberapa hal, untuk itu, Pak Prabowo berkomitmen untuk memastikan program makan siang gratis ini dapat merata ke seluruh wilayah Indonesia pada akhir tahun 2025.

Program Makan siang gratis ini yang sudah berjalan sebulan lebih, Program makan siang gratis ini menimbulkan beragam respon dari masyarakat luas.Pujian dan kritik terus berdatangan, namun evaluasi dan perbaikan terus dilakukan.

Proses ini menghadirkan tantangan, namun juga memberikan peluang untuk menjadikan program pertama ini di Indonesia semakin efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Belajar dengan keadaan lapar merupakan situasi yang tidak mengenakan, ketika otak dipaksa bekerja sedangkan perut menahan kelaparan akan membuat proses belajar dan mengajar menjadi tidak efektif.

Memang benar makan siang gratis ini tidak akan memeberikan dampak yang langsung untuk perkembangan Indonesia tetapi dampak yang akan diterima oleh Indonesia akan terasa beberapa tahun atau bisa puluhan tahun kedepan, Karena program ini memang dirancang untuk menyiapkan anak-anak indonesia generasi emas 2045.

Program makan siang gratis ini menimbulkan respon yang negatif dari anak-anak Sekolah Dasar, mereka merasakan bahwa makanan yang disiapkan memiliki rasa yang asing dan tidak sesuai dengan selera mereka, seharusnya ini menjadi pertanyaan kenapa makanan ini tidak enak dan asing bagi mereka, apa masalah ini ada pada orang yang menyiapkan makanannya atau masalahnya timbul dari anak-anak yang sudah biasa memakan makanan cepat saji? hal ini lah seharusnya diselidiki lagi bukan langsung menyalahkan program makan siang gratis.

Respon negatif yang terjadi dari berbagai pihak, tetapi yang paling banyak memberikan respon negatif yaitu daerah-daerah yang bisa dikatakan kota besar yang dimana anak-anak ini sudah terbiasa dengan makanan cepat saji dan makanan yang mengandung msg sehingga makanan sehat terasa asing dan tidak enak.

Respon dengan pujian tidak sedikit juga didapatkan dari program ini, karena masih banyak anak-anak Indonesia yang berada di berbagai daerah yang tidak pernah merasakan makanan enak dan susu yang bergizi, sehingga hal ini membuat mereka merasa bahwa program makan siang gratis ini merupakan program yang sangat bermanfaat untuk mereka.

Banyak di antara mereka yang bahkan belum pernah merasakan makanan bergizi atau susu yang layak. Ini adalah kenyataan yang masih dihadapi oleh sebagian besar anak-anak Indonesia, yang seharusnya mendapat perhatian lebih.

Program makan siang gratis ini memang tidak bisa dibandingkan dengan kelezatan makanan yang biasanya kita nikmati di rumah. Namun, bagi sebagian orang, ini adalah suatu bentuk kemewahan yang sangat berarti. Makanan yang mungkin jarang atau bahkan tidak pernah mereka rasakan sebelumnya, kini bisa mereka nikmati, memberikan dampak positif meski sederhana.

Beragam respon yang diterima oleh pemerintah saat ini tentu menjadi bahan evaluasi dan bahan untuk menjadikan program makan siang gratis ini menjadi suatu program yang efektif dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia, karena ditengah permasalahan ekonomi dan sosial yang dihadapi indonesia membuat masyarakat berfikir akan program makan gratis ini efektif atau malah sebaliknya. sehingga diperlukan kecakapan dan kualitas yang baik dalam Program ini.

Setiap program atau kebijakan yang dilaksanakan, baik yang sedang berjalan maupun yang sudah terlaksana, pasti akan membawa dampak positif maupun negatif. Ini adalah hal yang wajar dan menjadi bagian dari proses evaluasi yang harus dilakukan.

Tidak terkecuali Makan Bergizi Gratis serta program-program pemerintah, yang selalu menimbulkan pro dan kontra. Yang penting adalah kita harus mampu melihat apakah dampak positif yang ditimbulkan lebih besar daripada dampak negatifnya, atau sebaliknya.

Dampak positif ketika jelas memberikan pengaruh yang lebih besar dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, serta dampak negatifnya bisa dikelola atau diatasi dengan baik, maka tidak ada salahnya untuk tetap melanjutkan atau bahkan memperluas program tersebut.

Kunci utamanya adalah bagaimana kita bisa meminimalkan efek negatif dan memastikan bahwa manfaat yang diperoleh masyarakat lebih signifikan, bukan hanya dalam jangka pendek, tetapi juga dalam jangka panjang.

Jadi, pada akhirnya, sebuah program yang baik adalah yang mampu memberikan dampak positif lebih besar dan dapat mengelola tantangan serta risiko dengan bijak. Meskipun ada tantangan, program ini perlu dilanjutkan dengan perbaikan, seperti peningkatan rasa makanan atau pemerataan distribusi.***

Rifa Tuljanah
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Apakah Efektif Jika Sosial Media Dibatasi Pada Anak?

0

Bogordaily.net – Sosial media sangat berdampak pada abad ke-20 ini. Kita semua tahu bahwa sosial media adalah wadah tanpa batas yang dapat diakses untuk mendapatkan ataupun menyebarkan informasi. Namun, peran sosial media sudah jauh lebih kompleks dari pada itu. Jika kita berbicara mengenai korelasi antara anak dan sosial media, banyak perdebatan yang muncul karena adanya pro dan kontra terkait dampaknya.

Di satu sisi, sosial media berperan dalam pembelajaran serta hiburan bagi anak-anak. Namun, di sisi lain, sosial media juga memiliki sisi gelap yang dapat menimbulkan risiko besar bagi kesehatan mental dan perkembangan anak apabila tidak digunakan dengan bijak.

Kasus ini cukup meresahkan dan menciptakan rasa khawatir bagi masyarakat terutama orang tua. Jika terlalu membatasi akses untuk menggunakan media sosial pada anak, ada kekhawatiran bahwa anak-anak akan menjadi kurang update terhadap perkembangan zaman.

Namun, di sisi lain, jika tidak ada batasan sama sekali, risiko kecanduan, cyberbullying, dan paparan konten yang tidak sesuai usia semakin meningkat. Ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan para pemangku kebijakan dalam mencari solusi yang terbaik untuk anak-anak di era digital ini.

Risiko Sosial Media bagi Anak
Menteri Kesehatan (Menkes) mendukung pembatasan sosial media bagi anak-anak sebagai salah satu langkah untuk melindungi mereka dari dampak negatif yang mungkin ditimbulkan.

Namun, apakah pembatasan ini benar-benar efektif? Kemungkinan besar memang pembatasan dapat mengurangi risiko paparan konten berbahaya dan mengontrol waktu penggunaan sosial media.

Namun, ada kemungkinan juga anak-anak justru semakin penasaran lalu mencari cara lain untuk mengakses sosial media, misalnya dengan menggunakan akun palsu ataupun cara lainnya yang lebih berisiko.

Pembatasan sosial media saja tidak dapat jadi solusi yang efektif. Edukasi digital orang tua dan anak-anak menjadi langkah yang lebih efektif dalam jangka panjang.

Perlunya anak-anak diberikan pemahaman tentang etika digital, literasi digital, dan bahaya kecanduan. Orang tua juga perlu diberi pemahaman tentang cara mengawasi anak dengan bijak dalam bersosial media.

Pentingnya Edukasi Digital untuk Anak dan Orang Tua
Sosial media juga memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi anak-anak.

Penguatan kebijakan moderasi konten, pengawasan orang tua, serta algoritma yang lebih bertanggung jawab perlu diterapkan untuk memastikan bahwa sosial media tidak menjadi ancaman bagi anak-anak.

Sebagai masyarakat yang hidup di era digital, kita tidak bisa sepenuhnya menghindari sosial media. Kita sebagai orang tua seharusnya dapat menemukan keseimbangan antara manfaat dan risikonya.

Oleh karena itu, dari pada sekadar membatasi, pendekatan yang lebih menyeluruh seperti edukasi digital, pengawasan orang tua, dan regulasi yang bijak dari pemerintah serta platform sosial media.

Peran Pemerintah dan Platform Sosial Media
Pentingnya untuk melibatkan berbagai pihak dalam menjaga anak-anak dari dampak negatif sosial media. Selain edukasi, pemerintah perlu kerja sama dengan perusahaan teknologi untuk membuat aturan lebih ketat terhadap konten yang bisa diakses anak-anak.

Sekolah juga bisa bantu dengan mengedukasi keamanan digital dan etika internet. Orang tua tidak hanya dapat membatasi , tapi juga memberi contoh penggunaan sosial media.

Dengan komunikasi terbuka, anak-anak akan bisa lebih paham dan siap menghadapi dunia digital dengan bijak. Pengaturan batas waktu yang bijak serta pemantauan terhadap konten yang dikonsumsi, risiko dampak negatif dapat dikurangi tanpa menghambat perkembangan anak-anak di dunia digital.

Kesimpulannya, pembatasan sosial media bagi anak-anak dapat menjadi pilihan yang baik jika diterapkan dengan cara yang tepat dan bijaksana. Namun, pembatasan saja tidak cukup.

Diperlukan keseimbangan antara aturan, edukasi, dan pengawasan yang menyeluruh. Orang tua, pendidik, serta pihak pemerintah dan platform media sosial harus bekerja sama dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih aman.

Edukasi digital harus menjadi prioritas agar anak-anak tidak hanya terlindungi dari dampak negatif, tetapi juga mampu memanfaatkan sosial media dengan bijak dan bertanggung jawab.

Dengan pendekatan yang tepat, kita dapat membangun generasi yang cerdas di era digital. Regulasi yang diterapkan juga harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebebasan berinternet dan keamanan digital agar anak-anak tetap dapat berkembang di lingkungan yang sehat dan aman.***

Wynez Izazyl Azry
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Menjawab Keresahan Kebijakan SPMB

0

Bogordaily.net – Pendidikan merupakan langkah utama untuk membangun masyaakat yang cerdas, berdaya saing, dan mampu berkontribusi terhadap kemajuan bangsa. Sistem Pendidikan yang baik harus setidaknya memiliki elemen yang dapat memberikan peluang yang adil bagi seluruh masyarakat disertai denga akses yang merata.

Kebijakan terkait pendidikan harus dirancang dengan mempertimbangkan beberapa aspek seperti pemberian kesempatan yang merata, kualitas pembelajaran, hingga kesiapan yang matang pada infrastruktur dan tenaga pendidik.

Dilantiknya Prof. Abdul Mu’ti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah pada Oktober 2024 lalu membawakan kebijakan baru untuk sistem Pendidikan di Indonesia. Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kini berubah menjadi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Berubahnya sistem ini membawa sejumlah perubahan signifikan yang turut memunculkan berbagai reaksi dari masyarakat. Beberapa pihak menyambut baik kebijakan baru ini karena dinilai mampu untuk menciptakan sistem baru yang lebih transparan dan adil sehingga calon siswa memiliki kesempatan yang lebih merata.

Namun, di sisi lain muncul keresahan mengenai dampak buruk yang terjadi terkait pengurangan kuota pada jalur domisili yang sebelumnya disebut jalur zonasi.

Keresahan terhadap Sistem SPMB

Jalur Domisili mempertimbangkan jarak antara tempat tinggal siswa dengan sekolah sebagai faktor utama penerimaan. Kuota jalur domisili pada jenjang SMP menurun dari 50% menjadi 40%, sementara pada jenjang SMA menurun dari 50% menjadi 30%.

Hal ini dapat menimbulkan ketidakadilan karena calon siswa yang memenuhi kategori pada jalur domisili memiliki sedikit kesempatan untuk diterima di jalur ini, terlebih maraknya praktik kecurangan memanipulasi alamat menjadi domisili fiktif semakin merugikan calon siswa yang benar-benar berdomisili di dekat sekolah.

Persaingan di jalur lain pun akan semakin ketat, terutama pada jalur prestasi akademik dan non-akademik yang lebih banyak diisi oleh siswa yang berasal dari keluarga yang mampu.

Hal ini juga dibersamai dengan kemungkinan adanya peningkatan siswa yang ingin masuk sekolah swasta karena pertimbangan jarak sekolah apabila tidak diterima di sekolah domisilinya, Namun, keresahan lainnya akan muncul bagi siswa yang berasal dari keluarga yang kurang mampu karena biaya yang dikeluarkan untuk bersekolah di sekolah swasta tidaklah kecil, hal tersebut dapat menyebabkan tekanan pada psikologis siswa.

Apabila siswa terpaksa harus bersekolah di sekolah yang bukan dari daerah domisilinya maka mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk transportasi disertai dengan waktu tempuh yang lebih lama.

Apabila semakin banyak siswa yang harus melakukan perjalanan jauh maka potensi kepadatan lalu lintas akan semakin tinggi, terutama di pagi dan siang hari yang dapat berdampak negative terhadap mobilitas masyarakat secara keseluruhan. Ini menjadikan sistem domisili tidak lagi efektif untuk diterapkan.

Solusi terhadap kebijakan baru SPMB
Pengurangan kuota pada jalur domisili akan efektif apabila kualitas pendidikan yang ada telah merata, karena dengan begitu orang-orang tidak akan berlomba-lomba untuk masuk ke sekolah favorit tertentu.

Peningkatan kapasitas sekolah negeri juga merupakan langkah yang efektif, pemerintah perlu membangun sekolah-sekolah baru ataupun meningkatkan kapasitas sekolah yang sudah ada sehingga dapat menampung lebih banyak siswa.

Penguatan pada jalur afirmasi pun perlu dilakukan agar siswa dari keluarga yang kurang mampu dapat tetap memiliki kesempatan yang sama.

Selain itu pemerintah juga dapat bekerja sama dengan sekolah swasta untuk memberikan subsidi apabila sekolah negeri yang ada di domisili siswa tidak dapat lagi menampung lebih banyak siswa, dengan begitu siswa yang memiliki kekurangan tetap bisa bersekolah di sekolah yang layak dan memiliki Pendidikan yang berkualitas.

Tidak hanya dari sisi pemerintah saja, namun kelayakan siswa juga perlu ditingkatkan, apabila tidak bisa mengikuti jalur domisili maka para siswa perlu selangkah lebih maju mempersiapkan diri untuk menguatkan potensi mereka di bidang akademik ataupun non akademik agar lebih aman ketika harus bersaing di jalur akademik dan jalur non akademik.

Hal tersebut harus selalu diiringi oleh dukungan orang tua dan guru untuk selalu memberikan motivasi kepada siswa untuk melakukan dan memperjuangkan yang terbaik bagi pendidikannya.

Evaluasi Tetap Perlu Dilakukan
Sebagaimana mestinya, evaluasi terhadap sistem SPMB ini tetap harus dilakukan guna menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan masyarakat serta mengatasi berbagai permasalahan yang muncul dalam pelasanaannya. Evaluasi dapat dilakukan secara berkala melalui survei, kajian akademik, serta diskusi dengan melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan, termasuk sekolah, orang tua siswa, dan juga siswa itu sendiri.

Evaluasi ini harus mencakup efektivitas sistem SPMB dalam meningkatkan pemerataan pendidikan, mengidentifikasi kendala yang muncul, serta menyesuaikan kebijakan berdasarkan data yang ada. Apabila proses evaluasi berjalan dengan baik dan memiliki transparansi serta basis bukti yang kuat, maka kebijakan SPBM dapat terus disempurnakan agar lebih adil dan efektif untuk jangka panjang.***

Kayla Qathrunnada Khairunnisa
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

AI dan Seni Ghibli: Inovasi atau Pencurian Kreativitas?

0

Bogordaily.net – Beberapa waktu terakhir, dunia maya diramaikan oleh tren gambar-gambar bergaya Seni Ghibli yang ternyata bukan hasil karya tangan animator, melainkan hasil ciptaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini mampu menghasilkan ilustrasi memukau, meniru gaya khas Ghibli yang selama ini dikenal dengan kehangatan visual, keindahan fantasi dan jiwa Jepang yang kuat. Namun, dibalik kekaguman publik terhadap kecanggihan ini, muncul pertanyaan besar: apakah karya AI tersebut adalah bentuk inovasi yang harus disambut atau justru pencurian terhadap kreativitas manusia?

Studio Ghibli bukan sekadar rumah produksi animasi, melainkan simbol dari seni yang dibuat dengan ketulusan dan ketekunan di bawah arahan maestro Hayao Miyazaki yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam proses kreatif. Maka, saat muncul gambar-gambar ala Ghibli buatan AI, banyak orang mulai mempertanyakan batas etika dalam penggunaan teknologi tersebut. Apalagi jika gambar itu dihasilkan tanpa seizin kreator asli dan digunakan secara luas di media sosial, bahkan dalam beberapa kasus dikomersialisasikan.

AI art generator seperti Midjourney, DALL•E, dan Stable Diffusion memang luar biasa. Ia bisa menciptakan karya visual dalam hitungan detik hanya dari deskripsi teks. Akan tetapi, kemampuan ini tidak muncul begitu saja. AI “belajar” dari kumpulan data besar yang mencakup ribuan bahkan jutaan karya seniman yang telah ada. Ketika AI menghasilkan gambar bergaya Ghibli, ia sejatinya tidak menciptakan dari nol, melainkan mengolah ulang gaya visual yang sudah melekat kuat dengan identitas Studio Ghibli.

Masalahnya terletak pada tidak adanya persetujuan eksplisit dari para kreator yang karyanya digunakan sebagai bahan pelatihan AI. Dalam konteks ini, penggunaan AI tidak lagi menjadi bentuk apresiasi, melainkan eksploitasi. Bahkan Hayao Miyazaki sendiri dalam sebuah wawancara pernah menyebut bahwa AI art adalah sesuatu yang “tidak memiliki jiwa” dan “tidak menghormati kehidupan”. Ucapan ini menjadi cerminan keresahan para seniman terhadap pesatnya kemajuan teknologi yang mulai mengaburkan batas antara kreasi manusia dan ciptaan mesin.

Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa AI hanyalah alat. Seperti halnya kamera yang dulu dianggap mengancam eksistensi pelukis, AI juga bisa digunakan untuk membantu proses kreatif manusia, bukan menggantikannya. Misalnya, AI bisa dimanfaatkan untuk membantu visualisasi awal sebelum seniman membuat versi akhirnya. Bahkan, beberapa seniman digital mulai memasukkan AI sebagai bagian dari eksplorasi artistik mereka.

Namun yang menjadi persoalan bukan sekadar “apakah AI bisa berkarya?”, tapi lebih kepada “siapa yang berhak atas karya tersebut?” Jika AI menghasilkan ilustrasi ala Ghibli dan seseorang mengklaim itu sebagai miliknya lalu mengunggah atau menjualnya, apakah itu adil bagi Studio Ghibli yang telah membangun identitas visual itu selama puluhan tahun?

Dalam ranah hukum, perdebatan ini masih terus berlangsung. Banyak negara belum memiliki regulasi yang tegas terkait hak cipta terhadap karya yang dihasilkan AI. Di beberapa kasus, pemilik model AI yang bukan kreator gambar dan memiliki hak cipta, sehingga menambah lapisan rumit dalam diskusi etika ini.

Bagi mahasiswa komunikasi digital dan media seperti saya, isu ini menjadi refleksi penting. Di era teknologi yang serba cepat ini, kita harus kritis dan peka terhadap dampak sosial dan etika dari kemajuan digital. AI adalah alat yang kuat, tetapi tanpa batasan yang jelas, ia bisa menjadi senjata yang merusak nilai orisinalitas dan apresiasi terhadap kerja kreatif manusia.

Kesimpulannya, penggunaan AI dalam dunia seni, termasuk yang meniru gaya Ghibli, bukan sekadar perbincangan teknologi, melainkan adalah soal moral dan identitas. Kita tidak bisa menolak kemajuan, tetapi kita juga tidak boleh menormalisasi pencurian kreatif hanya karena dilakukan oleh mesin. Inovasi harus berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap hak cipta dan nilai kemanusiaan. Jika tidak, maka seni akan kehilangan jiwanya dan yang tersisa hanyalah gambar-gambar kosong tanpa makna.***

 

Witsqa Nurul Aflah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB