Home Blog Page 803

Biografi Yafinda Julia Andriani, Perjalanan dari Karawang Menuju Industri Event

0

Bogordaily.net – Yafinda Julia Andriani, seorang perempuan yang lahir di Karawang pada 20 Juli 2022. Masa kecilnya diwarnai dengan penanaman nilai kemandirian yang kuat dari keluarga. Ia tidak pernah diantar jemput sekolah sejak TK, bahkan sudah berani naik kendaraan umum sejak berada di Sekolah Dasar (SD).

Kebiasaan ini tentunya sangat berperan penting dalam pembentukan kepribadiannya menjadi seseorang yang lebih disiplin, teratur, dan tidak bergantung pada orang lain. Tidak bisa dipungkiri, Yafnida sering merasa kesulitan, meskipun ia dibiasakan untuk selalu berusaha sendiri. Namun, keluarganya tetap menjadi garda terdepan dan selalu siap membantu Yafnida ketika ia sedang ada masalah.

Pengalaman dan Ketertarikan pada Komunikasi dan Dunia Event
Ketertarikan Yafnida pada dunia komunikasi dan event mulai tumbuh sejak Sekolah Menengah Akhir (SMA). Ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan memiliki kemampuan lebih dalam berbicara di depan umum (public speaking) yang membuatnya semakin menyadari betapa ia menikmati berinteraksi dengan orang lain dan membuat acara yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ketika melihat program studi Komunikasi Digital Media (KMN) menawarkan mata kuliah event organizer, Yafnida merasa menemukan jurusan yang tepat untuk mengembangkan minatnya. Oleh sebab itulah, keinginan untuk belajar Public Speaking dan meniti karir di bidang event semakin memantapkan pilihannya untuk menekuni program studi Komunikasi Digital dan Media (KMN) di Sekolah Vokasi IPB University.

Masa studi di Komunikasi Digital dan Media (KMN) sangat berkesan bagi Yafnida. Ia berkesempatan untuk terlibat dalam berbagai proyek lapangan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Dari proyek-proyek itulah yang menjadi wadah bagi Yafnida untuk mengasah skill dan membentuk kemampuan yang ia miliki. Yafnida merasa bahwa Komunikasi Digital dan Media (KMN) telah memberikan bekal yang sangat berharga untuk mempersiapkan dirinya menghadapi dunia kerja di masa depan.

Di KMN, Yafnida tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi acara. Ia juga belajar bagaimana bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan klien, dan memecahkan masalah yang muncul selama proses penyelenggaraan acara. Semua pengalaman ini sangat membantunya dalam membangun karirnya di bidang event.

Turning Point: Memperdalam Fokus pada Sebuah Event
Saat berkuliah sebagai mahasiswi Komunikasi Digital dan Media (KMN), Yafnida aktif berorganisasi, termasuk di BEM dan Musik of Vocation (MOV) Sekolah Vokasi IPB University. Titik balik dalam karirnya terjadi ketika ia bergabung dengan Bigu Festival, sebuah event musik piknik terbesar di Indonesia. Ia terlibat dalam festival ini selama dua tahun, pada tahun 2023 saat masih menjadi mahasiswa akhir dan pada tahun 2024.

Pengalaman di Bigu Festival membuka jalannya untuk lebih fokus di bidang event musik dan penyelenggaraan acara secara luas. Yafinda Julia, belajar banyak tentang bagaimana mengel.ola acara besar, berkoordinasi dengan berbagai pihak, dan memastikan semua berjalan lancar. Dari sinilah Yafnida semakin yakin bahwa karirnya memang berada di dunia event.

Berkarya di Vincy Entertainment: Menciptkan Kebahagiaan Lewat Event di Purwakarta dan Sekitarnya
Saat ini, Yafinda Julia berkarir di Vincy Entertaintmet, sebuah event organizer yang berbasis di Purwakarta. Yafnida memegang peran atau memiliki jobdesck sebagai Event Planner, yang memungkinkan keterlibatan langsung dari awal persiapan acara, baik itu dari brainstorming ide, meeting dengan klien, hingga pitching, Yafnida selalu terlibat aktif. Yafnida merasa sangat beruntung bisa bergabung dengan Vincy Entertainment, yang sejalan dengan minatnya di bidang event dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan karirnya.

Vincy Entertainment didirikan dengan tujuan untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Purwakarta, yang sebelumnya di kota tersebut belum memiliki banyak penyelenggara event atau event organizer. Hal tersebut yang menjadi tolak ukur bagi Yafnida dan tim untuk mendirikan dan terus mengembangkan Vincy Entertainment di kota Purwakarta. Selain itu, Yafinda Julia dan tim Vincy Entertainment memiliki visi untuk menjadikan Vincy sebagai event organizer yang dikenal di Purwakarta dan mempeluas jangkauan ke Jabodetabek. Tagline Vincy adalah “create happiness”, yang mencerminkan komitmen mereka untuk menciptakan kebahagiaan bagi klien dan semua orang yang terlibat dalam acara yang mereka selenggarakan.

Salah satu proyek yang paling berkesan bagi Yafnida adalah ketika Vincy Entertainment dipercaya untuk menyelenggarakan acara screening movie digital dan grand opening brand fashion muslim, Wearing Klamby. Keberhasilan acara ini dan feedback positif dari klien membuat Yafnida semakin termotivasi untuk terus berkarya di bidang event. Terlebih lagi, Wearing Klamby memberikan repeart order kepada Vincy Entertainment, yanng semakin membuktikan kualitas kerja mereka.

Dengan Vincy Entertainment yang terus berkembang yang benchmarking di Purwakarta dan menjadi tolak ukur bagi event organizer di Purwakarta, Yafnida miliki visi yang lebih dalam, yaitu menciptakan kebahagiaan yang berkelanjutan melaluis setiap event yang ia selenggarakan. Ia percaya bahwa setiap acara adalah kesempatan untuk menyebarkan kebahagiaan, membangun koneksi, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Memanfaatkan Ilmu KMN untuk Memajukan Klien
Yafnida berperan sebagai event planner dan sosmed spesialis di Vincy Entertainment. Ia mengelola media sosial klien dan mengembangkan strategi konten yang efektif. Skill ini tentunya ia peroleh berkat mata kuliah di Komunikasi Digital dan Media (KMN) yang memebrikan bekal pengetahuan dan keterampilan di bidang media sosial. Yafnida merasa senang bisa memanfaatkan ilmu yang dia dapatkan di bangku kuliah untuk membantu memajukan bisnis klien Vincy Entertaintment.
Pesan Motivasi untuk Mahasiswa/i KMN: Jangan Takut Keterbatasan, Cari Peluang!

Yafnida berpesan kepada mahasiswa KMN untuk tidak pernah takut menghadapi keterbatasan. Yafnida mengajak setiap mahasiswa untuk terus mencari peluang dan memaksimalkan potensi yang dimiliki. Selain itu, Yafnida juga menekankan pentingnya mencari passioan, mengasah skill, dan membangun relasi. Ia meyakini bahwa dengan kerja keras, kegigihan, dan selalu melakukan kebaikan, mahasiswa KMN dapat meraih kesuksesan di masa depan.***

Cikita Sinaga

Donal Trump dan Ancaman Kesehatan Global

0

Bogordaily.net – Donal Trump, Presiden Amerika Serikat, baru-baru ini mengumumkan keputusan kontroversial dengan menghentikan pasokan obat untuk tuberkulosis (TBC), HIV, dan malaria ke negara-negara miskin, termasuk Indonesia. Kebijakan ini merupakan bagian dari pembekuan bantuan dan pendanaan yang dimulai sejak 20 Januari 2025. Langkah ini dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap upaya penganggulangan penyakit di negaranegara yang paling membutuhkan dukungan medis ini.

Dikutip dari detikHealth, Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) selama ini membantu negara-negara miskin di seluruh dunia melalui berbagai program pembangunan, ekonomi, dan kemanusiaan.

Keputusan tersebut juga mencakup penghentian distribusi perlengkapan medis untuk bayi baru lahir di negara-negara yang sebelumnya menerima bantuan dari Badan Pembangunan Internasional AS (USAID).
Dampak Kebijakan

Penghentian bantuan medis ini dipandang sebagai keputusan politis yang dapat memperburuk penyebaran penyakit di seluruh dunia. Ketua Yayasan Stop TB Partnership Indonesia (STPI), dr Nurul Luntungan, menyatakan bahwa keputusan ini akan meningkatkan risiko penyebaran penyakit secara global dan menggangu upaya kesehatan masyarakat.

Keputusan ini juga dapat menyebabkan krisis kesehatan masyarakat yang lebih luas, dengan meningkatkan jumlah kasus baru dan kematian akibat penyakit yang seharusnya dapat dicegah atau diobati. Hal ini menciptkan beban tambahan bagi sistem kesehatan di negara-negara miskin.

Mantan pejabat Badan Pembagunan Internasional Amerika Serikat (USAID), Atul Gawande, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala kesehatan global di lembaga tersebut, menyebut keputusan ini sebagai “bencana besar”.

Dampak jangka panjang dari penghentian pasokan obat ini bisa sangat besar, terutama bagi penderita HIV. Tanpa pengobatan, virus HIV dapat berkembang pesat, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan meningkatnya resikp penularan ke orang lain.

Menurut The New York Times, satu dari tiga wanita hamil yang tidak menerima pengobatan dapat menularkan virus HIV kepada bayi mereka. Selain itu, penghentian terapi ini juga bisa memperburuk krisis resistensi obat, yang berpotensi menciptkan strain baru yang lebih sulit diobati.

Jirair Ratevosian, mantan kepala staf PEPFAR di era pemerintahan Presiden Joe Biden, menyebut kebijakan ini sebagai “domino lain dari dampak buruk pembekuam program yang sangat berbahaya, yang membuat nyawa tergantung pada keseimbangan.” Sebuah studi memperkirakan, jika program bantuan ini dihentikan, lebih dari 600.000 nyawa di Afrika Selatan saja bisa hilang dalam satu dekade ke depan.

Langkah ini menimbulkan kekhawatiran besar terkait masa depan upaya penganggulangan HIV dan penyakit-penyakit lainnya di negara-negara miskin, yang sangat bergantung pada bantuan dari USAID dan lembaga internasional lainnya.
Implikasi untuk Indonesia

Dalam konteks Indonesia, keputusan Trump dsatang pada saat yang krusial. Negara ini memiliki beban TBC tertinggi kedua di dunia setelah India, berisiko gagal mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030. Penghentian pendanaan dan akses terhadap obat-obatan vital dapat merusak strategi pengendalian penyakit yang telah dibangun, sehingga menghambat kemajuan dalam penganggulan TBC dan HIV.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut hal itu sedikit banyak mempengaruhi sumber hibah untuk pendanaan sejumlah penanganan penyakit maupun pengobatan, termasuk salah satunya TBC. Meskipun pemerintah Indonesia berusaha mencari alternatif pendanaan dari negara lain, seperti Arab Saudi dan India, dampak dari keputusan AS tetap signifikan.

Selama ini, Indonesia beberapa kali mendapatkan bantuan secara langsung dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) hingga sumber lain Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan juga aliansi vaksin internasional GAVI. Sumbangan utama di lembaga tersebut juga didominasi AS. Misalnya, pendanaan WHO yang 14,53 persen di antaranya merupakan hibah AS.

Meskipun begitu, pemerintahan Indonesia telah menjadikan penanganan Tb sebagai salah satu prioritas dalam rencana pemerintahan Presiden Prabowo untuk periode 2024-2029, seperti yang tekah diungkapkan oleh Ktua Yayasan STOP Tb Partnership Indonesia (STPI), Nurul Luntungan.

Keberadaan obat Tb yang efektif sangat penting untuk menjaga kesetimbangan dalam penanggulangan penyakit ini. Meski vaksinasi sudah dilakukan, penanganan di lapangan melalui akses obat yang memadai tetap menjadi kunci untuk mengatasi penyebaran Tb. Oleh karena itu, masyarakat dan pemerintah dunia diharapkan bisa bersatu untuk menyampaikan pentingnya dukungan internasional dalam memerangi penyakit berbahaya ini.

Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi semua pihak untuk mempertahankan nilainilai kemanusiaan dan memahami dampak dari setiap kebijakan yang diambil. STPI berharap agar ke depannya tidak ada lagi keputusan yang diambil secara instan tanpa analisis mendalam, khususnya dalam konteks kesehatan yang berhubungan dengan nyawa manusia. Dengan tetap memberikan akses yang layak terhadap obat-obatan, diharapkan kehidupan mereka yang terpapar Tb bisa diselamatkan.

Penghentian pasokan obat yang diusulkan Trump dapat mengakibatkan dampak yang lebih arah di berbagai bidang, terutama kesehatan masyarakat. Tanpa akses yang memadai terhadap pengobatan, pencapaian target global untuk pengentasan Tb akan semakin sulit dicapai.

Penghentian pasokan obat yang diusulkan Trump dapat mengakibatkan dampak yang lebih arah di berbagai bidang, terutama kesehatan masyarakat. Tanpa akses yang memadai terhadap pengobatan, pencapaian target global untuk pengentasan Tb akan semakin sulit dicapai. Hal ini menjadi tantangan serius bagi seluruh dunia untuk tetap berkomitmen dalam penanganan penyakit ini.

Keputusan ini merupakan sebuah tindakan politis yang tidak mempertimbangkan dampak kemanusiaan. Sebuah keputusan politis untuk menunjukkan kekuasaan.***

Cikita Sinaga
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Tikar, Curug, dan Saudara Ketemu Gede

Bogordaily.net – Sebagai mahasiswa, liburan murah meriah adalah pilihan utama. Jadi ketika aku dan beberapa teman memutuskan untuk pergi ke curug, kami benar-benar mengandalkan insting hemat. Alam terbuka, suara air terjun, dan bekal seadanya yang penting liburan, deh.

Namun begitu sampai di lokasi, ternyata semuanya berbayar. Mulai dari makanan dan minuman, hingga tikar buat duduk. Harga sewa tikar? Rp35.000. Buat kami yang datang dengan uang seadanya, itu jelas bikin mikir dua kali. Apalagi lahan-lahan kosong pun udah ‘dikuasai’ oleh tikar-tikar sewaan. Kami cuma bisa berdiri dan celingak-celinguk, bingung cari tempat duduk yang nggak perlu keluar uang.

Di tengah kebingungan itu, datanglah seorang ibu-ibu entah dari mana, yang dengan santainya berkata: “Dek, mau duduk? Gak usah nyewa. Nih saya kasih aja tikarnya. Nanti saya bilang kalian sodara saya ya.”

Tanpa mikir panjang, kami langsung jawab, “Iya buu!” sambil senyum lega.
Spontan, kami langsung bikin skenario dadakan versi keluarga: dua teman salim, satu lagi manggil “tante!”, bahkan ada yang dadah-dadah ke anaknya yang lagi main. Kita semua masuk ke peran masing-masing seolah-olah memang bagian dari keluarga besar ibu itu.

Padahal nggak ada yang tahu nama ibu itu siapa, atau siapa anaknya. Tapi yang jelas, dia menyelamatkan kekantongkeringan kami. Kami duduk nyaman, makan bekal, ngobrol, dan menikmati alam, di atas tikar yang bukan kami sewa, tapi kami pinjam dari kebaikan hati seseorang yang kami tidak kenal.

Sampai sekarang, kami masih suka tertawa tiap kali ingat kejadian itu. Cerita sederhana, tapi hati kami pulang dengan penuh ceria. Salam dari “anak-anak sodara ibu” versi curug dadakan.***

Selfira Putri

Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar: Perjalanan Khalila Zahra Maharani

0

Bogordaily.net – Khalila Zahra Maharani, berusia 22 tahun, seorang mahasiswa yang tengah berjuang untuk melanjutkan Studi S2. Perjalanan hidupnya penuh dengan tantangan dan segudang keberhasilan. Sejak kecil, Kalila sudah memiliki cita-cita yang besar, termasuk keinginan untuk belajar di luar negeri. Dengan tekad dan kerja keras, ia berhasil mencapai banyak hal yang sebelumnya hanya menjadi angan-angan. Meski penuh rintangan, termasuk perasaan kehilangan arah saat pertama kali masuk kuliah di masa pandemi, Kalila tetap berusaha mengejar tujuannya.

Di awal kuliahnya, Kalila sempat merasa tidak yakin dengan pilihannya, terutama karena program kuliah yang banyak dijalani secara online akibat COVID-19. Ia merasa kesulitan beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh, merasa terisolasi karena tidak bisa bersosialisasi dengan teman-teman sekelas, dan sempat berpikir bahwa ia tidak cocok dengan jurusan komunikasi. Bahkan, ia sempat merasakan tekanan mental yang cukup berat, sampai akhirnya ia jatuh sakit karena panic attack. Namun, lambat laun, Kalila mulai menemukan kembali semangatnya. Dia menyadari bahwa meskipun banyak tantangan, itu semua adalah bagian dari proses yang membentuknya menjadi lebih baik.

Sebagai anak tunggal, Kalila sangat dekat dengan orang tuanya, yang selalu mendukung keputusan hidupnya tanpa pernah memaksakan kehendak. Kedua orang tuanya selalu mengingatkannya untuk tetap berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, untuk terus berkembang, dan tidak berhenti berjuang. Ayahnya selalu memberikan semangat dengan berkata, “Kamu harus lebih keren dari ayah,” dan reaksi kebahagiaan saat mendengar Kalila diterima di universitas di luar negeri menunjukkan betapa besar dukungannya terhadap perjuangan anaknya. Kalila merasa sangat terinspirasi oleh orang tuanya, yang selalu memberikan yang terbaik dan mendukungnya dengan sepenuh hati.

Di samping orang tuanya, Kalila juga merasa terinspirasi oleh berbagai pengalaman yang ia jalani selama kuliah, seperti magang di berbagai perusahaan media dan berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja di bidang yang ia minati. Selain itu, ia aktif dalam berbagai kegiatan di lingkungan kampus dan komunitas, seperti menjadi asisten dosen, yang memberinya kesempatan untuk membimbing mahasiswa lain dalam menulis penelitian dan jurnal mereka.

Pengalaman-pengalaman ini membentuknya untuk lebih yakin dalam mengejar impian dan terus berusaha memberikan yang terbaik. Namun, perjalanan Kalila tidak selalu mulus. Terkadang, ia merasa terhambat dengan banyaknya rintangan dan kesulitan yang dihadapinya, baik dalam hal akademik maupun pribadi.

Meski begitu, ia selalu berusaha untuk bangkit dan terus melangkah maju. Keinginan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, terutama keluarga dan lingkungan sekitar, menjadi motivasi utama dalam hidupnya. Kalila merasa bahwa hidupnya tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk memberikan dampak positif bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Dalam percakapan tersebut, Kalila juga menyampaikan pesan untuk generasi muda yang tengah berjuang seperti dirinya. Menurutnya, meskipun pendidikan akademik penting, pengalaman hidup dan hubungan sosial juga tidak kalah pentingnya. Membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, baik itu dengan teman, pasangan, atau keluarga, akan sangat mendukung perjalanan hidup seseorang. Kalila mengingatkan untuk tidak terlena hanya pada dunia akademik, tetapi juga penting untuk menjaga keseimbangan dalam hidup, karena orang-orang di sekitar kita sangat mempengaruhi perkembangan pribadi kita.

Selain itu, Khalila Zahra,  juga menekankan pentingnya membaca buku dan terus belajar, tidak hanya melalui buku akademik, tetapi juga untuk memahami perspektif orang lain. Ia mengingatkan agar generasi muda tidak meninggalkan agama sebagai pegangan hidup, dan terus berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Ia menegaskan bahwa dalam hidup, kita harus berusaha untuk menjadi orang yang baik, memiliki budi pekerti, dan berusaha untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Pesan terakhir Kalila adalah untuk tidak takut mengambil langkah pertama meskipun banyak rintangan yang menghadang. Ia mengingatkan agar kita selalu percaya pada diri sendiri dan tidak menyerah pada keadaan.

Perjalanan hidup memang tidak selalu mudah, tetapi dengan tekad dan dukungan orang-orang tercinta, kita bisa melewati segala tantangan. Khalila Zahra,  berharap agar generasi muda terus berjuang dan tidak pernah berhenti mengejar impian mereka. Sebagaimana yang ia rasakan dalam perjalanannya, di akhir semua perjuangan tersebut, akan ada hasil manis yang menanti.***

Putri Nabila Raissah

Pengalaman Pertama Liburan ke Bali

Bogordaily.net – Akhirnya, setelah beberapa bulan cuma jadi wacana di grup WhatsApp keluarga, liburan ke Bali benar-benar terlaksana juga. Ini merupakan pengalaman pertama saya ke Pulau Dewata. Kami berangkat pagi-pagi dari Jakarta. Suasana di bandara sudah ramai, tapi semua tetap semangat. Saya duduk di sebelah kakak saya di pesawat, dan sepanjang penerbangan dia sibuk motret langit dari jendela. Ibu sibuk mengecek tas kami, dan Ayah seperti biasa tenang-tenang saja, cukup bawa koran dan kopi.

Begitu mendarat di Bandara Ngurah Rai, udara panas langsung terasa, tapi justru itu yang bikin beda. Ada aroma laut, campur bau dupa dari sesajen di setiap sudut. Rasanya langsung tahu, “Oke, ini Bali.” Kami dijemput oleh sopir hotel yang sudah kami pesan jauh- jauh hari.

Namanya Pak Wayan, orangnya ramah banget dan suka cerita soal tempat-tempat seru di Bali selama perjalanan ke Seminyak. Hari pertama, kami langsung ke Pantai Kuta. Pantainya ramai tapi tetap asik. Saya
dan adik main air, sementara Ibu duduk santai di bawah payung sambil ngemil kacang rebus.

Ayah? Dia sibuk motret kami dari segala sudut. Sore harinya kami tungguin sunset. Warna langitnya keren banget, oranye keemasan, kayak lukisan. Saya cuma bisa diam, menikmati pemandangan sambil berpikir, “Kapan lagi bisa kayak gini sama keluarga.”
Hari kedua, kami sewa mobil dan jalan ke Pura Tanah Lot.

Ini salah satu tempat yang dari dulu pengin saya lihat langsung, bukan cuma dari foto. Jalannya agak jauh, tapi pemandangan sepanjang jalan bikin lupa capek. Begitu sampai, pura itu berdiri megah di atas batu karang, dikelilingi ombak. Kami sempat duduk-duduk sambil minum es kelapa, lalu makan siang di warung kecil yang ternyata enak banget ayam betutunya juara.

Hari ketiga, kami pindah suasana ke Ubud. Suasananya jauh lebih tenang, banyak
pepohonan, dan sawah-sawah hijau yang bikin adem mata. Kami mampir ke Monkey Forest, tempat yang dipenuhi monyet yang lumayan jahil.

Salah satu monyet malah naik ke bahu adik saya dan nggak mau turun, kami semua langsung ketawa. Setelah itu, kami iseng masuk ke galeri seni kecil, tempat seniman lokal jualan lukisan dan ukiran. Saya sempat ngobrol sebentar dengan salah satu pelukisnya, dan dia cerita soal inspirasi dari budaya Bali. Saya jadi sadar, di Bali, seni itu bukan cuma karya, tapi bagian dari hidup.

Sorenya, kami ikut kelas membuat canang sari. Ternyata nggak segampang
kelihatannya. Bikin sesajen kecil dari janur dan bunga ini butuh kesabaran dan ketelitian. Tapi dari situ saya belajar, bahwa di Bali, hal-hal kecil pun punya makna. Semua dilakukan dengan hati, bukan cuma rutinitas.

Hari keempat, kami pergi ke Bedugul, ke Danau Beratan. Cuacanya lebih sejuk dibanding daerah pantai. Kabut tipis menyelimuti danau, dan Pura Ulun Danu berdiri cantik di pinggir air. Kami sempat duduk di dekat danau, diem-diem aja, sambil menikmati udara segar. Saya sempat berpikir, kapan terakhir kali saya benar-benar menikmati suasana kayak gini nggak pegang HP, nggak mikirin kerjaan, cuma bareng keluarga.

Sebelum pulang, kami sempat belanja oleh-oleh di pasar seni Sukawati. Suasananya ramai, penuh warna, dan tentu saja penuh godaan. Saya beli kaos Bali buat teman-teman, Ibu borong camilan khas, dan Ayah akhirnya beli ukiran kayu kecil yang dari kemarin dia taksir tapi masih mikir-mikir.

Liburan ini bukan cuma soal tempat-tempat bagus yang kami kunjungi, tapi soal
waktu yang kami habiskan bareng-bareng. Ketawa di mobil, makan bareng, saling ganggu di kamar hotel, semua itu yang bikin perjalanan ini terasa hangat. Rasanya menyenangkan bisa lepas sebentar dari rutinitas, dan kembali merasa dekat dengan keluarga.

Bali bukan cuma tentang pantai dan pura. Buat saya, Bali adalah tentang momen-
momen sederhana yang bikin hati penuh. Hari kelima, kami bangun sedikit lebih siang karena malam sebelumnya semua kelelahan. Tapi tetap saja, semangat jalan-jalan belum hilang.

Hari itu kami memutuskan untuk santai saja, tidak terlalu banyak aktivitas. Setelah sarapan di hotel, kami jalan kaki menyusuri jalan-jalan kecil di sekitar Seminyak. Banyak kafe lucu dan toko oleh-oleh kecil yang menjual kerajinan tangan, sabun alami, sampai baju-baju etnik.

Saya dan kakak membeli beberapa gantungan kunci dan sabun aromaterapi buat teman-teman di rumah. Siangnya, kami menghabiskan waktu di pantai Double Six. Tidak seramai Kuta, tapi tetap indah. Kami menyewa bean bag warna-warni dan duduk di tepi pantai sambil menikmati jus semangka dingin.

Ada musisi lokal yang menyanyi akustik di kafe sebelah, suara gitar dan angin laut jadi latar belakang yang sempurna. Saya sempat berpikir, rasanya hidup seperti melambat di Bali. Segalanya terasa lebih tenang, tidak tergesa-gesa.

Sore hari, kami mencoba spa tradisional Bali. Ini adalah ide Ibu, dan awalnya Ayah agak malas, tapi akhirnya dia malah yang paling betah. Dengan aroma minyak esensial, musik lembut, dan pijatan yang menenangkan, tubuh kami semua terasa lebih segar. Rasanya seperti mengisi ulang energi setelah beberapa hari padat jalan-jalan.

Malamnya, kami makan malam terakhir di sebuah restoran pinggir sawah di Umalas.
Pemandangannya cantik, meski malam hari. Lampu-lampu kecil digantung di pepohonan, membuat suasananya hangat dan intim. Kami memesan menu khas Bali: bebek goreng, lawar, dan sambal matah yang pedasnya bikin ketagihan.

Di tengah makan malam itu, tanpa direncanakan, kami saling bercerita kenangan favorit selama di Bali. Ternyata setiap orang punya momen tersendiri Ayah paling suka saat di danau, Ibu suka belanja di pasar seni, dan saya? Saya paling suka saat duduk diam di Pura Ulun Danu sambil melihat kabut menari di atas air.

Keesokan paginya, saat koper sudah terisi penuh oleh pakaian dan oleh-oleh, perasaan campur aduk mulai terasa. Senang karena perjalanan ini berjalan lancar dan menyenangkan, tapi juga sedih karena harus kembali ke rutinitas. Di mobil menuju bandara, suasana agak sepi. Bukan karena bosan, tapi karena semua sedang menikmati detik-detik terakhir berada di pulau ini.

Pesawat kami lepas landas siang hari. Dari jendela, saya melihat garis pantai Bali
yang perlahan menjauh. Saya menarik napas panjang dan tersenyum. Banyak hal yang saya pelajari dari liburan ini. Bahwa keluarga adalah rumah, ke mana pun kami pergi. Bahwa berhenti sejenak dari kesibukan itu penting. Dan bahwa Bali, dengan segala ketenangan dan pesonanya, akan selalu punya tempat khusus di hati saya.
Saya tahu, suatu hari nanti, saya ingin kembali lagi.

Setelah kembali ke Jakarta, rutinitas langsung menyambut kami—kemacetan jalan, bunyi alarm pagi, dan tumpukan pekerjaan yang sempat tertunda. Tapi entah kenapa, hati saya tetap terasa ringan. Setiap kali melihat wallpaper ponsel yang saya ganti menjadi foto matahari terbenam di Pantai Kuta, saya tersenyum sendiri. Rasanya seperti ada semangat baru yang dibawa pulang dari Bali.

Beberapa hari setelah liburan, saya masih sering menceritakan pengalaman di sana kepada teman-teman kantor. Mereka tertawa waktu saya cerita soal monyet yang naik ke pundak adik saya, atau tentang bagaimana Ayah akhirnya ketagihan spa. Bahkan salah satu teman saya sampai bilang, “Kayaknya kamu pulang dari Bali auranya beda ya. Lebih kalem.” Saya cuma senyum, tapi dalam hati, saya mengakui itu benar. Ada sesuatu dari suasana Bali kesederhanaannya, ketenangannya, dan budayanya yang membuat saya melihat hidup dengan cara yang sedikit berbeda.

Satu hal yang paling membekas buat saya adalah nilai-nilai keseimbangan dan rasa syukur yang begitu kuat di kehidupan masyarakat Bali. Hampir setiap rumah di sana punya tempat sembahyang, dan setiap pagi saya melihat orang-orang meletakkan canang sari dengan penuh ketulusan. Mereka melakukan semua itu bukan karena ingin dilihat, tapi karena memang sudah menjadi bagian dari hidup mereka.

Hal kecil seperti itu mengingatkan saya untuk lebih sering meluangkan waktu berhenti sejenak, menarik napas, dan menghargai hal- hal yang mungkin selama ini saya anggap sepele.

Setelah liburan itu juga, saya jadi lebih dekat dengan keluarga. Kami jadi lebih sering makan malam bersama, lebih sering ngobrol, bahkan mulai merencanakan liburan berikutnya. Bukan karena ingin ke tempat yang lebih mewah atau lebih jauh, tapi karena kami menyadari betapa berharganya waktu yang bisa kami habiskan bersama tanpa gangguan.

Saya pun mulai menulis pengalaman ini di buku catatan pribadi. Mungkin suatu hari
nanti, saya akan membacanya lagi mengingat perasaan bahagia dan tenang yang saya alami di sana. Mungkin suatu hari, saya akan kembali ke Bali, ke tempat-tempat yang sama, atau mungkin menjelajahi sisi lain dari pulau itu yang belum sempat saya kunjungi.

Tapi yang pasti, saya tidak akan pernah lupa, bahwa liburan itu bukan sekadar pergi dari tempat biasa, tapi tentang kembali menemukan bagian dari diri sendiri. Bali, dengan segala keindahannya, telah meninggalkan jejak yang dalam di hati saya. Jejak yang membuat saya ingin menjadi pribadi yang lebih sederhana, lebih tenang, dan lebih menghargai kebersamaan.

Beberapa minggu setelah pulang, saya masih menyimpan beberapa kebiasaan kecil yang saya pelajari selama di Bali. Setiap pagi sebelum mulai bekerja, saya menyempatkan diri untuk duduk sebentar di balkon rumah, sekadar menikmati udara pagi dan membiarkan pikiran saya tenang sebelum menghadapi kesibukan. Rasanya seperti versi sederhana dari momen-momen duduk di tepi sawah Ubud atau pinggir danau Bedugul. Ketenangan itu ternyata bisa dibawa pulang, asal saya mau meluangkan waktu untuk menciptakannya.

Kadang saat sedang sendiri, saya memutar ulang video-video pendek yang kami
rekam selama di Bali. Suara tawa kami, ombak, dan senandung musisi jalanan masih terasa dekat. Momen-momen itu sederhana, tapi terasa hangat dan penuh makna. Dari semua perjalanan yang pernah saya lakukan, liburan ke Bali bersama keluarga adalah salah satu yang paling berkesan. Bukan hanya karena keindahan tempatnya, tetapi karena Bali mengajarkan saya cara menikmati hidup secara perlahan, tanpa terburu-buru, dan dengan hati yang penuh rasa syukur.***

Naufal Rafi Aqil Putra
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

 

Antara Informasi dan Manipulasi

0

Bogordaily.net – Instagram sudah jadi salah satu platform sosial media yang paling populer di dunia, bahkan bisa dibilang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari kita. Dari berbagi foto, video, hingga cerita-cerita kehidupan pribadi, Instagram memberi kesempatan kepada penggunanya untuk saling terhubung dengan cara yang sangat mudah. Tapi, meskipun kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat dan mudah, ada juga kekhawatiran soal dampak dari media sosial ini terhadap pandangan masyarakat secara umum.

Instagram sering kali bisa membentuk bagaimana kita melihat sesuatu atau bahkan orang lain. Gambar yang kita lihat, video yang kita tonton, dan cerita yang kita baca, semuanya membentuk pandangan kita terhadap dunia. Sering kali, kita merasa terpengaruh oleh apa yang kita lihat di sana, dan hal ini memunculkan pertanyaan, apakah kita benar-benar mendapatkan informasi yang akurat, atau justru kita sedang dipengaruhi oleh citra yang diciptakan di platform ini?

Menurut Bucher (2012), “media sosial seperti Instagram memungkinkan pengguna untuk membentuk identitas mereka dengan cara yang sangat terkontrol dan bisa langsung dinilai oleh publik.” Platform ini memberi kekuatan kepada penggunanya untuk menciptakan citra ideal, namun seringkali ini tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan. Oleh karena itu, kita perlu memahami seberapa besar pengaruh Instagram terhadap persepsi dan opini masyarakat, terutama dalam hal membentuk pandangan kita terhadap individu, isu sosial, dan fenomena tertentu.

Dalam tulisan ini, kita akan mengulas bagaimana Instagram bisa membentuk persepsi kita terhadap berbagai isu, baik itu tentang individu, tren, atau bahkan topik-topik yang lebih besar. Tidak hanya itu, kita juga akan melihat manfaat dan risiko yang datang seiring dengan penggunaan Instagram sebagai sarana untuk menyebarkan informasi dan membentuk opini.

Instagram sebagai Ruang Pembentukan Persepsi Publik

Instagram lebih dari sekadar tempat untuk berbagi foto atau video pribadi. Platform ini sudah menjadi ruang di mana banyak hal dipertontonkan kepada publik, dan melalui sini kita bisa melihat bagaimana persepsi seseorang atau bahkan sekelompok orang dibentuk. Pengguna Instagram, baik itu selebriti, influencer, ataupun orang biasa, sering menggunakan platform ini untuk menyampaikan citra atau pesan tertentu yang ingin mereka tunjukkan.

Hal yang paling mencolok dari Instagram adalah sifatnya yang sangat visual. Apa yang kita lihat seringkali lebih berpengaruh daripada apa yang kita baca. Foto yang menarik, video yang mengesankan, semuanya bisa memberi kesan tertentu tentang kehidupan seseorang atau bahkan suatu peristiwa. Namun, sering kali apa yang kita lihat di Instagram tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan. Banyak orang, terutama selebriti atau influencer, dengan sengaja memilih foto terbaik mereka, menggunakan filter, dan mengedit foto agar terlihat lebih sempurna.

Citra yang dibangun melalui gambar atau video sering kali jauh dari kenyataan. Gambar kehidupan yang tampaknya sempurna, perjalanan yang luar biasa, atau prestasi yang mengesankan, bisa saja merupakan gambaran yang sengaja disusun untuk menciptakan kesan tertentu. Banyak orang yang, tanpa disadari, merasa tertekan untuk hidup seperti yang mereka lihat di Instagram, yang sebenarnya belum tentu mencerminkan kehidupan nyata.

Fenomena ini sering kali berdampak pada standar kecantikan, gaya hidup, dan bahkan kesuksesan yang dipandang oleh banyak orang. Tak jarang, orang merasa harus memenuhi standar yang mereka lihat di Instagram, tanpa mempertimbangkan kenyataan bahwa itu semua bisa jadi hanya bagian dari citra yang ingin dibentuk oleh pemilik akun tersebut.

Dampak Instagram terhadap Opini Masyarakat: Manfaat dan Risiko

Instagram jelas memberikan banyak manfaat dalam hal penyebaran informasi. Dengan satu klik, informasi bisa tersebar begitu cepat. Misalnya, kampanye sosial yang mengangkat isu penting seperti kesadaran lingkungan, hak asasi manusia, atau gerakan sosial lainnya bisa mencapai audiens yang lebih luas melalui Instagram. Banyak orang kini lebih mudah mengetahui tentang isu-isu tersebut, berkat konten yang dibagikan oleh berbagai pihak, termasuk selebriti dan influencer.

Selain itu, Instagram juga bisa menjadi sarana yang efektif untuk mempromosikan produk atau layanan, serta untuk menyampaikan pesan yang lebih luas kepada masyarakat. Dalam konteks ini, Instagram benar-benar memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini dan memberikan informasi secara cepat dan efisien.

Menurut Nielsen (2019), “Media sosial telah mengubah cara orang terlibat dengan isu- isu sosial dan politik, memberi suara kepada mereka yang sebelumnya tidak terdengar.” Melalui Instagram, berbagai gerakan sosial dapat meningkatkan visibilitas dan mendapatkan dukungan lebih banyak dari masyarakat global.

Namun, tidak semua hal di Instagram adalah positif. Salah satu risiko besar yang muncul adalah manipulasi informasi. Di Instagram, gambar dan video yang diposting seringkali sudah melalui berbagai proses pengeditan dan seleksi. Bahkan ada banyak sekali foto yang tidak menggambarkan kenyataan, dan justru lebih mirip dengan sebuah ‘ilusi’. Pengguna sering kali hanya menampilkan bagian terbaik dari hidup mereka, menciptakan gambaran yang jauh lebih ideal daripada kenyataan yang sebenarnya.

Lebih dari itu, Instagram juga memperburuk apa yang disebut dengan filter bubble. Ini adalah fenomena di mana algoritma Instagram cenderung menunjukkan konten yang sudah sesuai dengan minat atau pandangan pengguna sebelumnya. Misalnya, jika seseorang lebih sering menyukai atau mengomentari postingan yang mendukung suatu ideologi, Instagram akan lebih sering menampilkan konten yang serupa. Ini bisa memperburuk polarisasi di masyarakat, karena kita lebih cenderung berada dalam ‘gelembung’ yang hanya menampilkan pandangan-pandangannya saja tanpa memberikan ruang untuk perspektif lain.

Di sisi lain, Instagram juga bisa memperburuk tekanan sosial, terutama bagi generasi muda. Dengan melihat kehidupan orang lain yang terlihat lebih sempurna, banyak orang

menjadi merasa rendah diri atau bahkan terobsesi untuk meniru apa yang mereka lihat. Pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental, terutama di kalangan remaja, menjadi isu yang semakin penting untuk dibahas.

Kesimpulan

Instagram memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik dan opini masyarakat. Dalam banyak hal, platform ini mampu memberikan manfaat yang besar dalam hal penyebaran informasi, serta memfasilitasi koneksi antara orang-orang dari berbagai belahan dunia. Melalui Instagram, kita bisa mengikuti akun-akun yang membagikan berbagai informasi dan pengetahuan, dari berita terkini hingga edukasi terkait isu-isu sosial, politik, dan lingkungan.

Platform ini juga memungkinkan orang-orang untuk mengungkapkan diri mereka melalui gambar, video, dan tulisan yang merepresentasikan pandangan, pengalaman, dan nilai- nilai mereka. Hal ini membuka kesempatan bagi siapa saja untuk belajar dari perspektif orang lain, bahkan jika mereka tidak berada dalam lingkungan yang sama atau memiliki latar belakang yang sama sekali berbeda.

Instagram juga memungkinkan seseorang untuk terlibat langsung dalam diskusi yang sedang berlangsung, memperluas jaringan sosial mereka, dan membentuk komunitas berdasarkan minat yang sama. Oleh karena itu, Instagram memiliki potensi besar untuk memperkaya pengetahuan kita dan membuat dunia terasa lebih terhubung.

Namun, di sisi lain, Instagram juga membawa risiko yang tidak bisa diabaikan. Salah satu risiko terbesar adalah manipulasi citra dan informasi. Banyak pengguna yang mengedit foto dan video mereka untuk menciptakan gambaran hidup yang ideal, yang tidak selalu mencerminkan kenyataan.

Penggunaan filter dan alat editing lainnya sering kali mengubah penampilan fisik seseorang atau memperindah situasi sehingga tampak sempurna, padahal kenyataannya mungkin sangat berbeda. Hal ini kemudian bisa memengaruhi persepsi masyarakat, khususnya generasi muda, yang merasa tertekan untuk mengikuti standar kecantikan atau gaya hidup yang tidak realistis. Akibatnya, kita bisa terjebak dalam ilusi yang dibangun oleh citra media sosial yang tidak mencerminkan dunia nyata.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rosen (2012), “Penting bagi pengguna media sosial untuk mengembangkan literasi media yang kritis, sehingga mereka tidak hanya mengonsumsi informasi secara pasif, tetapi mampu memproses dan menganalisisnya dengan cara yang lebih sadar dan bijaksana.”

Literasi media yang baik memungkinkan kita untuk lebih memahami konten yang kita lihat dan menghindari terjebak dalam ilusi yang dibangun oleh filter visual atau narasi yang disajikan oleh pengaruh tertentu. Dengan keterampilan ini, kita bisa menjadi lebih bijak dalam menilai konten yang kita temui di Instagram, serta mampu membedakan antara informasi yang dapat dipercaya dan yang hanya sekadar berusaha membentuk citra atau pandangan tertentu.

Pada akhirnya, jika kita dapat menggunakan Instagram dengan bijaksana, platform ini bisa menjadi ruang yang positif untuk berbagi informasi, belajar hal-hal baru, dan memperluas wawasan kita tentang dunia. Instagram memiliki potensi untuk menjadi alat yang kuat dalam menciptakan masyarakat yang lebih terhubung dan lebih peduli terhadap isu-isu sosial.

Berbagai kampanye sosial yang bermanfaat telah berhasil memanfaatkan Instagram untuk menarik perhatian terhadap masalah-masalah besar, seperti ketidaksetaraan, perubahan iklim, atau hak asasi manusia. Platform ini memberi ruang bagi individu dan kelompok untuk berbagi pandangan mereka dan menggalang dukungan untuk perubahan yang lebih baik.

Ketika digunakan dengan hati-hati dan bijaksana, Instagram bisa memberikan manfaat besar. Namun, kita juga harus menjaga kesadaran bahwa apa yang kita lihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, penting untuk terus berpikir kritis terhadap apa yang kita terima dan selalu memverifikasi informasi sebelum mempercayainya atau membagikannya lebih lanjut. Kesadaran penuh terhadap dampak yang dapat ditimbulkan terhadap persepsi kita adalah kunci untuk memanfaatkan Instagram secara positif dan menghindari jatuh ke dalam perangkap citra yang dimanipulasi.

Dengan literasi media yang baik dan pemahaman tentang cara kerja platform ini, kita dapat menggunakan Instagram sebagai alat untuk memperluas pengetahuan, membentuk hubungan yang bermakna, dan berkontribusi pada perubahan positif.

Namun, kita harus selalu ingat bahwa sebagai pengguna, kita memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya mengonsumsi konten secara pasif, tetapi juga untuk memprosesnya dengan cara yang lebih bijaksana. Instagram bisa menjadi alat yang bermanfaat jika digunakan dengan benar, tetapi tanpa kesadaran dan literasi yang memadai, kita bisa dengan mudah terjebak dalam dunia yang penuh dengan citra yang dimanipulasi dan informasi yang menyesatkan.***

Naufal Rafi Aqil Putra

Warna Baru untuk Timnas Indonesia

0

Bogordaily.net – Produsen apparel asal Indonesia, Erspo akhirnya merilis pengumuman yang ditunggu-tunggu oleh pecinta Timnas Indonesia. Setelah sempat menuai kontroversi pada perilisan jersey timnas terdahulu, mereka akhirnya resmi merilis jersey terbaru Timnas Indonesia. Seperti yang sudah diketahui, Erspo sudah sekitar sepuluh bulan menjadi penyedia apparel Timnas Indonesia. Mereka menggantikan Mills selaku penyedia apparel Timnas Indonesia sebelumnya.

Erspo sendiri sejauh ini baru merilis satu set jersey Timnas Indonesia. Namun beberapa waktu yang lalu, Erspo mengumumkan bahwa mereka akan merilis jersey baru untuk Skuad Garuda. Pada Kamis 23 Januari lalu, Erspo resmi memperkenalkan tampilan jersey kandang baru Timnas pada media sosial mereka. disebutkan latar belakang seragam anyar Timnas Indonesia terinspirasi wujud dan semangat kekuatan bangsa Indonesia dari generasi ke generasi.

Terdapat corak dan motif yang menjadi perwakilan keberagaman Indonesia seperti gunung, flora endemik Indonesia bunga edelweis, dan Garuda sebagai lambang negara. Selain itu terdapat pula pola yang membentuk relief seperti pada candi. Jersey baru Timnas Indonesia akan resmi diperjualbelikan melalui platform daring atau online mulai 14 Februari 2025. Pihak Erspo melakukan sesi pemotretan di Stadion Olympisch, Amsterdam.

Pemilihan lokasi pemotretan dimaksudkan untuk memudahkan aksesibilitas nama-nama pemain yang terlibat menjadi model. Beberapa pemain yang tampil sebagai model banyak berkarier di Belanda dan juga sebagian di Belgia, diantaranya adalah Mees Hilgers, Thom Haye, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, dan lain-lain. Lalu, pada Senin, 3 Februari 2025 kemarin Erspo resmis merilis jersey tandang baru Timnas Indonesia, Seragam tandang terbaru timnas Indonesia mengusung warna dominan putih dengan aksen kelir hitam pada bagian leher, ujung lengan, serta nomor.

Corak abu-abu juga terlihat pada sisi pundak sampai kedua lengan seragam. Pada bagian berwarna abu-abu itu, terlihat jelas ornamen bunga edelweis, gunung, dan garuda. Dalam jersey tandang terbaru ini, Erspo tidak menambahkan elemen warna merah pada jersey tersebut seperti pada jersey tandang sebelumnya. Pemotretan untuk jersey tandang ini dilakukan di empat negara berbeda, yaitu Indonesia, Belanda, Belgia dan Italia. Kedua Jersey terbaru Timnas Indonesia ini akan digunakan pada lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026 saat melawan Bahrain dan Australia pada Maret nanti.

Kebangkitan Erspo
Setelah sempat menuai pro dan kontra pada perilisan jersey timnas sebelumnya, Erspo akhirnya kembali mendapatkan kepercayaan supporter timnas Indonesia melalui perilisan jersey terbaru ini. Para supporter timnas Indonesia menilai desain jersey terdahulu Pasukan Merah Putih jelek. Bahkan, tak sedikit yang menyayangkan keputusan PSSI untuk memilih Erspo sebagai produsen jersey Indonesia. Kekesalan penikmat sepak bola Indonesia terhadap Erspo makin panas lantaran desainer dinilai antikritik. Saat ada komentar tak enak dari

penggemar soal desain yang dibuat, Ernanda selalu menjadi defensif. Tak jarang balasan komentarnnya malah balik menyudutkan penggemar. Puncaknya, ketika Ernanda mendapat kritik atas desainnya dari pengamat sepak bola, Justinus Lhaksana alias Coach Justin. Ernanda membalasnya dengan cara yang tak elok, dan menyeret fans klub tertentu. Selain itu, ada kesan Ernanda menyerang balik Coach Justin secara personal.

Dikarenakan hal itu, Ernanda langsung kena semprot warganet hingga akhirnya, kasus ini begitu ramai dibicarakan. Hingga akhirnya muncul seruan #BoikotErspo dan #BoikotMakna di media sosial. Banyak dari pecinta sepak bola Tanah Air tidak puas dengan desain yang ditawarkan. Lebih lanjut, pelatih Shin Tae-yong secara terang-terangan menyebut bahan jersey latihan tidak menyerap keringat dengan maksimal.

Dikarenakan semua kontroversi itu, produsen apparel jersey Timnas Indonesia, Erspo, meminta maaf dan membuat pernyataan resmi usai desainer yang membuat jersey Timnas yakni Ernanda Putra dihujat netizen. Setelah polemik dan kontroversi yang terjadi, Erspo mengonfirmasi akan mengabulkan desakan pecinta sepak bola Tanah Air untuk mendesain ulang jersey Timnas Indonesia. Akhirnya setelah 10 bulan berlalu, Erspo berhasil memperbaiki kesalahan mereka dan kembali mendapat dukungan dari supporter timnas Indonesia setelah perilisan jersey terbaru tersebut.

Apresiasi untuk Erspo
Sebagai salah satu supporter Timnas Indonesia, saya merasa perlu memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Erspo, yang telah berhasil menepati janjinya kepada para supporter Timnas Indonesia. Walaupun brand apparel ini sebelumnya dihadapkan pada berbagai kontroversi dan mendapat banyak kritik pedas dari supporter Timnas Indonesia, terutama pada saat peluncuran jersey-jersey sebelumnya, Erspo tidak menyerah.

Mereka menunjukkan komitmen yang kuat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Hal ini terlihat dari usaha mereka untuk mendengarkan masukan dan kritik dari para supporter, serta berupaya keras untuk memenuhi ekspektasi mereka. Hasilnya, desain jersey terbaru Timnas berhasil mendapatkan respons positif dari banyak supporter. Banyak yang merasa puas dengan desain terbaru ini, menganggapnya jauh lebih baik dibandingkan dengan desain jersey sebelumnya.

Kembalinya kepercayaan supporter Timnas kepada Erspo merupakan langkah penting yang patut diapresiasi. Namun, ini bukanlah akhir dari perjalanan. Saya berharap Erspo dapat mempertahankan kepercayaan ini dengan terus menjaga kualitas dan konsistensi dalam setiap produk yang mereka hasilkan. Selain itu, penting bagi Erspo untuk tetap membuka diri terhadap kritik dan saran dari para supporter.

Dengan mendengarkan suara-suara dari pendukung setia Timnas Indonesia, Erspo dapat terus berkembang dan memberikan yang terbaik bagi tim dan supporter. Kolaborasi yang baik antara brand dan supporter ini akan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dan mendukung kemajuan Timnas  di kancah internasional. Semoga ke depannya, Erspo dapat terus menjadi partner yang andal bagi Timnas Indonesia, serta terus menghadirkan produk-produk yang membanggakan dan memenuhi harapan para supporter.

Selain itu, keberhasilan Erspo dalam memenuhi ekspektasi supporter juga menjadi bukti bahwa brand lokal mampu bersaing dan memberikan kualitas yang tidak kalah dengan

brand internasional. Ini adalah momentum yang baik untuk membangun kepercayaan diri brand lokal dalam menghadapi persaingan global. Erspo telah menunjukkan bahwa mereka tidak hanya sekadar memproduksi jersey, tetapi juga memahami betapa pentingnya jersey tersebut bagi identitas dan kebanggaan supporter Timnas. Jersey bukan hanya sekadar pakaian, melainkan simbol semangat, persatuan, dan rasa cinta terhadap tanah air.

Ke depan, saya berharap Erspo tidak hanya fokus pada desain jersey, tetapi juga memperhatikan aspek-aspek lain seperti kualitas bahan, kenyamanan, dan keberlanjutan. Dengan begitu, mereka tidak hanya memenuhi ekspektasi supporter dalam hal desain, tetapi juga dalam hal kualitas produk secara keseluruhan. Selain itu, Erspo juga bisa mempertimbangkan untuk melibatkan supporter dalam proses desain, misalnya melalui polling atau kompetisi desain jersey. Hal ini akan semakin memperkuat hubungan emosional antara brand dan supporter, serta menciptakan rasa memiliki yang lebih besar.

Terakhir, saya ingin mengajak seluruh supporter Timnas untuk terus memberikan dukungan yang positif dan konstruktif kepada Erspo. Kritik memang diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan cara yang baik dan disertai dengan solusi. Dengan kerja sama yang baik antara brand dan supporter, saya yakin Timnas Indonesia akan semakin maju dan bisa bersaing di kancah internasional dan bahkan lolos dikualifikasi Piala Dunia 2026. Semoga Erspo terus menjadi kebanggaan bagi kita semua dan terus menghadirkan inovasi-inovasi terbaru yang memukau. Bersama-sama, kita bisa mendukung Timnas Indonesia mencapai prestasi yang gemilang.***

Naufal Rafi Aqil Putra
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Berkeliling dan Melihat Keajaiban Nusantara dalam Satu Malam

Bogordaily.net – Perjalanan kali ini memakan waktu singkat dan tanpa biaya banyak. Memulai perjalanan diwaktu siang hari dan dimalam hari bertekad sudah sampai di kediaman masing-masing. Merencanakan perjalanan singkat namun panjang ini di hari Senin siang keitka semua orang masih sibuk dengan kegiatan lainnya. Perjalanan ini adalah perjalanan menjelajahi keajaiban nusantara, tanpa harus mengeluarkan biaya yang fantastis.

Taman Mini Indonesia Indah mungkin sudah tak asing di telinga. Terkenal dengan istana boneka, miniatur rumah adat dan pernak-perniknya, serta Danau Arsipelago yang menjadi senter dari Taman Mini. Masyarakat Jakarta mungkin sering mengunjungi tempat ini. Namun, untuk kami ini adalah pengalaman pertama berkunjung ke tempat ini. Berkunjung ke tempat ini setelah dewasa rasanya sangat senang, apalagi setelah tempat tersebut banyak mengalami perubahan.

Kunjungan ini sebenarnya untuk mencari tahu lebih dalam soal budaya Indonesia, karena kunjungan ini bertepatan dengan adanya momen Festival Budaya Nusantara XV. Kami melakukan perjalanan di hari Senin setelah kelas dibubarkan dan perjalanan kami kali ini menggunakan transportasi umum. Dari kampus Sekolah Vokasi beberapa dari kami berangkat menggunakan angkutan kota bernomor 03 yang akan membawa kami menuju Stasiun Kota Bogor. Sedangkan sebagian lainnya, menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju Stasiun.

Sesampainya di stasiun, kami semua menaiki Kereta Rel Listrik (KRL) yang menuju arah Jakarta Kota. Situasi gerbong kereta saat itu terbilang cukup sepi dikarenakan kami berangkat siang hari. Selama melakukan perjalanan diantara kami ada yang memejamkan mata dan ada pula yang tetap terjaga. Kurang lebih satu jam perjalanan, kami tiba di Stasiun Cawang untuk menyambung perjalanan menggunakan Light Rail Transit (LRT). Untuk menuju Stasiun LRT Cikoko harus berjalan sedikit dari Stasiun Cawang.

Perjalanan menggunakan LRT ini akan dimulai dari Stasiun Cikoko sampai TMII. Namun, kami menaiki kereta yang menuju Harjamukti untuk bisa menuju Taman Mini Indonesia Indah. Perjalanan menggunakan LRT terbilang lebih cepat daripada KRL. Hanya dalam waktu sekitar 20 menit kami sudah sampai di Stasiun LRT TMII. Sebelum datang ke Taman Mini Indonesia Indah pengunjung wajib membayar Rp. 25.000 per orang yang dibeli melalui website TMII. Setelah kami sampai di Stasiun TMII, di depan stasiun sudah tersedia shuttle bus yang berasal dari TMII.

Untuk bisa menaiki shuttle bus tersebut, pengunjung harus membayar tiket dan nantinya tiket tersebut akan dipindai oleh petugas jaga. Shuttle bus ini akan membawa pengunjung ke TMII tanpa harus menaiki transportasi umum lagi. Dengan adanya shuttle bus ini memudahkan pengunjung untuk ke sana, apalagi ketika kami berkunjung cuaca saat itu sedang hujan.

Kondisi cuaca yang seperti itu membuat jalanan sedikit padat dan untuk kami tiba di tempat sekitar membutuhkan waktu 20 menit. Setibanya kami disambut oleh petugas dengan hangat dan ramah di depan ruangan informasi yang sekaligus menjadi tempat jual beli aneka buah tangan.

Memasuki kawasan TMII ini setelah diguyur hujan yang cukup deras terasa sangat menyejukkan meskipun tempat ini masih berada di tengah Kota Jakarta. Ketika masuk ke dalam, kami di sambut dengan Museum Indonesia yang sangat khas dengan ukiran-ukiran Bali.

Dari luar, museum ini terlihat megah dan mewah dengan ciri khasnya.
Sebenarnya tujuan kami ke sana adalah untuk mencari tahu lebih dalam mengenai budaya dari Jakarta. Namun, dengan kunjungan ke TMII ini kami bisa sekaligus melihat berbagai rumah adat yang ada di Indonesia. Berbagai anjungan dari berbagai daerah kami lihat, seperti anjungan Nusa Tenggara Timur yang di depannya terdapat replika komodo. Selain itu juga, terdapat anjungan Jawa Barat, Jawa Timur, dan lainnya.

Karena tujuan kami ke TMII ini adalah untuk mencari tahu lebih dalam mengenai budaya Jakarta, kami memutuskan untuk berjalan terus hingga menemukan anjungan DKI Jakarta. Setelah menemukan anjungan Jakarta, kami menemui petugas yang mengetahui seluk beluk budaya ini lebih dalam.

Di depan anjungan Jakarta ini terdapat sebuah bangunan rumah ibadah umat kristen, yaitu gereja. Menunjukkan bahwa Taman Mini Indonesia Indah juga terdapat rumah ibadah lain selain rumah ibadah umat muslim. Berkeliling sambil menikmati sore di Taman Mini Indonesia Indah sangat menyenangkan apalagi ditambah dengan cuaca yang asri setelah diguyur hujan.

Di sepanjang perjalanan menyusuri TMII ini, tidak ada satu pun kendaraan bermotor roda dua maupun empat yang melintas. Sejak revitalisasi, Taman Mini Indonesia Indah memang sudah menerapkan konsep go green, dimana ketika kami berkunjung ke sini kami hanya bisa berjalan kaki atau menaiki feeder yang telah disediakan secara gratis untuk pengunjung.

Hari semakin sore dan semua anjungan di tutup tepat pukul 16.00 WIB. Meski begitu, kami tetap bisa bermain dan berkeliling TMII ini. Setelah berkeliling melihat anjungan dari berbagai daerah di Indonesia, memutuskan untuk beristirahat dan mencari warung ataupun tempat menjual makanan.

Kami memutuskan untuk beristirahat di Danau Arsipelago. Danau Arsipelago ini merupakan danau buatan yang di kelola oleh pihak Taman Mini Indonesia Indah. Di tengah danau ini terdapat miniatur pulau yang berbentuk lima pulau besar di Indonesia.

Biasanya terdapat pertunjukan air mancur atau dancing fountain di danau ini. Sejak di revitalisasi, danau ini terlihat lebih rapih dan lebih bagus daripada dahulu. Beristirahat di danau ini sambil menikmati pemandangan danau rasanya nyaman dan tidak mau berpindah tempat dengan cepat. Sebagian dari kami memutuskan untuk membeli makan dan lainnya juga ada yang memutuskan untuk memakan bekal yang telah di bawa dari rumah.

Kami beristirahat di Danau Arsipelago ini cukup lama, sambil beristirahat kami mendengar informasi bahwa akan ada pertunjukan air mancur menari di danau ini pada jam 18.30 WIB. Setelah mendengar informasi tersebut, kami memustuskan untuk menonton pertunjukan itu sebelum pulang dan kembali ke rumah masing-masing.
Pertunjukan air mancur menari ini sekaligus menampilkan Tirta Cerita.

Tirta Cerita adalah atraksi air mancur yang telah menjadi daya tarik utama dari TMII. Tirta Cerita ini menggunakan kolaborasi antara seni dan tekonolgi, yaitu penggunaan water screen dan juga audio visual yang menarik. Tirta Cerita ini menampilkan cerita dari legenda nusantara. Air mancur yang keluar dari danau ini mengikuti irama dari Tirta Cerita ini sehingga sangat menarik utuk dilihat.

Kami semua menonton tirta cerita ini secara bersama-sama. Cukup kaget dan terharu dengan penampilan Tirta Cerita ini, karena penggabungan seni dan teknologi yang sangat bagus serta seeprti sebuah keajaiban yang menarik mata penonton.

Air mancur menari yang ditampilkan pun sangat indah, karena memunculkan warna yang berbeda di setiap adegan ceritanya. Biasanya terdapat penampilan yang menggunakan drone, tetapi ketika itu penampilan drone tidak bisa ditampilkan dengan alasan tertentu. Berkunjung pada hari Senin menurut kami adalah waktu yang tepat.

Di saat orang-orang sedang tidak liburan dan sibuk dengan kegiatan, sehingga ketika berkunjung ke TMII hanya ada beberapa orang yang kami lihat. Pertunjukan Titra Ceriya ini berlangsung sektar 20 menit lamanya. Setelah pertunjukkan ini selesai, feeder gratis akan menjemput pengunjung ketika selesai menonton. Feeder akan menunggu di depan danau sampai semua pengunjung sudah tidak ada lagi di kawasan tersebut.

Feeder ini memang tidak terlalu banyak sebab sudah waktunya kawasan ini di tutup sehingga kami harus menunggu sampai terdapat feeder kosong yang bisa membawa kami ke tempat semula. Setelah menunggu sekitar 5 menit, kami semua langsung menaiki feeder gratis untuk membawa kami kembali menuju pusat informasi.

Menggunakan feeder ini lebih praktis dan efisien daripada haru berjalan kaki ke pusat informasi. Setibanya kami di pusat informasi, sebagian dari kamu ada yang melaksanakan ibadah terlebih dahulu sebelum pulang dan yang lainnya menunggu. Sembari menunggu kami, berkunjung kembali ke Museum Indonesia dengan ukiran Bali lagi. Di sana kami beberapa kali mengambil gambar dan selfie untuk mengabadikan momen bersama.

Sehabis berfoto ria bersama, kami memutuskan untuk segera keluar dari kawasan TMII karena shuttle yang akan membawa kami menuju LRT TMII telah tiba. Perjalanan menunggunakan shuttle kali ini tidak sepadat saat kami tiba. Kami kembali melakukan perjalanan pulang menunggunakan LRT lalu dilanjut dengan KRL. Kami menaiki LRT yang menuju ke Dukuh Atas dan akan membawa kami kembali ke Stasiun Cikoko. Setibanya di Stasiun Cikoko, kami melanjutkan langsung perjalanan menuju Stasiun Cawang.

Kondisi stasiun hari itu cukup padat, ditambah dengan bertepatan dengan waktu orang kerja pulang. Menunggu kereta menuju ke arah Bogor tidak terlalu lama namun kami harus bersabar karena nantinya kami tidak bisa duduk seperti pada waktu keberangkatan. Kereta menuju ke arah Bogor tiba setelah kereta menuju Depok tiba lebih dahulu.

Terlihat dari peron bahwa kereta yang akan membawa kami pulang kali ini sangat ramai dan dipadati dengan para pekerja. Hampir satu jam lebih kami semua berdiri dalam satu gerbong yang sama. Dua orang dari kami turun lebh cepat di Stasiun Bojong Gede dan yang lainnya akan turun di pemberhentian terakhir, yaitu Stasiun Bogor. Setibanya di Bogor, kami langsung pulang menggunakan ojek online menuju kediaman masing-masing.

Perjalanan singkat namun panjang ini sangat seru, tetapi cukup membuat kami kelelahan. Dari perjalanan singkat ini Tirta Cerita menjadi hal paling menyenangkan bagi penulis. Perjalanan ini tidak membutuhkan banyak biaya yang harus dikeluarkan, namun sangat memuaskan untuk dilakukan. Memanfaatkan moda transportasi umum daripada menggunakan kendaraan pribadi menjadi pilihan yang terbaik.

Sebelum pembaca menjelajahi tempat ini, sebaiknya pembaca harus datang lebih awal lagi dan harus mempersiapkan dengan matang, seperti kartu kereta, makanan dan minuman yang cukup, serta tenaga yang lebih untuk bisa berkeliling melihat anjungan yang ada di Taman Mini Indonesia Indah.***

Nusie Mahmuda

Dari Keturunan Petani, Aktif Berorganisasi hingga Menjadi Dosen di Sekolah Vokasi IPB University

0

Bogordaily.net – Rici Tri Harpin Pranata, Dosen Muda Program Studi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University ini lahir 33 tahun yang lalu di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pacitan ini menjadi saksi masa kecilnya yang akrab dengan kehidupan pertanian. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan kehidupan pertanian seperti membantu Kakeknya membajak sawah, menanam padi, hingga mencari kayu bakar di hutan. Pengalaman itu bukan hanya mengajarkan kegigihan, kesabaran dan kerja keras sejak kecil, tetapi juga mendasarinya untuk masuk ke IPB karena nilai-nilai pertanian yang sudah ditanamkan sejak kecil.

Dari desa kecil tersebut, Rici kemudian berpindah ke Tulungagung dan tinggal bersama dengan Neneknya untuk melanjutkan pendidikan. Di Tulungagung, Ia bersekolah di SMP Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung dan SMA Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung. Semangat kepemimpinannya mulai tumbuh sejak dini, terlihat dari keaktifannya sebagai ketua kelas dan berorganisasi dengan mengikuti kegiatan Pramuka. Bahkan pada puncaknya, Ia terpilih untuk mewakili tim pramuka dalam kegiatan Jambore Nasional.

Lalu saat menduduki bangku SMA, Ia juga mengikuti berbagai organisasi seperti Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), Patroli Keamanan Sekolah (PKS), Pencak Silat Pamur, dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK) dan menjadi salah satu ketua dalam organisasi tersebut. Mulai dari sinilah jiwa kepemimpinannya semakin terus terbentuk.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, tahun 2010, Rici berhasil lolos ke Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur prestasi, dan kemudian memilih jurusan Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Tak sekedar hanya menjadi mahasiswa biasa dalam dunia perkuliahannya, ia juga ikut aktif dalam organisasi kemahasiswaan.

Sejak tahun pertama, Ia sudah bergabung dalam BEM TPB (sekarang dinamakan PPKU) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FORCES, serta aktif di berbagai kepanitian salah satunya Ketua Divisi Humas MPKMB IPB. Karir organisasi kemahasiswaannya terus menanjak, di tahun kedua, Ia diamahkan menjadi Ketua Departemen Kajian Sosial dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FEMA, hingga akhirnya ia diberikan amanah sebagai Ketua BEM FEMA pada tahun ketiga dan kemudian menjadi Menteri BEM KM pada tahun keempat.

Pengalaman organisasinya membawa Rici pada berbagai program pengabdian masyarakat yang berdampak luas, baik di organisasi maupun berkolaborasi dengan mitra lainnya. Salah satunya adalah Samiena, kegiatan sosial yang dilakukan di sekitar kampus IPB. Selain itu, saat mahasiswa, Ia juga terlibat dalam IPB Mengajar, sebuah gerakan mahasiswa yang memberikan pendidikan kepada anak-anak di lingkar kampus.

Kini, ia menjadi pembina IPB Mengajar tersebut, untuk terus memastikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak. Tak berhenti di pendidikan S1, pada tahun 2017, Rici melanjutkan studi S2 di bidang Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan di IPB. Di sela-sela kegiatan perkuliahannya, ia turut aktif dalam membuat berbagai penelitian serta dalam berbagai kegiatan sosial. Ia membuktikan hasil tersebut dengan berbagai amanah yang dipercayakan, seperti menjadi Sekretaris Rektor IPB dan Staf Khusus Rektor IPB, dan Asisten Direktur Pengembangan Karakter dan Organisasi Mahasiswa IPB.

Saat ini, selain menjadi Dosen Komunikasi Digital dan Media di Sekolah Vokasi IPB University, Rici dipercaya sebagai Asisten Direktur Pengembangan Karier dan Kewirausahaan IPB. Dalam perannya sebagai Asisten Direktur, ia membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, memperluas jaringan, serta memfasilitasi dan mengembangkan program kewirausahaan untuk mahasiswa.

Baginya, karakter, mindset, jejaring adalah kunci untuk membangun kebermanfaatan. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya fokus di dalam kelas, tetapi juga aktif dalam kegiatan organisasi di luar kelas. “Kalau kita punya wadah, kebermanfaatan akan lebih luas,” Ujarnya.

Sebagai akademisi di Sekolah Vokasi IPB, Ia meyakini bahwa tugas seorang dosen tidak hanya sebatas mengajar/pendidikan, tetapi juga mencakup penelitian dan pengabdian masyarakat. “Intinya dosen itu Tridharma (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) yang harus dipenuhi dengan baik, tetapi ada hal lain di luar itu yang lebih luas juga perlu dikerjakan dengan baik sehingga bisa berdampak luas” Ujarnya. Ia pun aktif dalam beberapa penelitian dan beberapa publikasi artikel ilmiah.

Dalam perjalanannya, Rici menyadari bahwa tantangan terbesar dalam masa depan yaitu membangun kolaborasi yang lebih besar, agar kebermanfaatan yang bisa diberikan juga tentunya akan lebih luas. Maka dari itu, Ia terus mendorong mahasiswa untuk berjejaring dan membangun hubungan baik di dalam maupun di luar kampus. Dengan pengalamannya, ia berharap bisa terus menginspirasi mahasiswa dan para akademisi untuk berkontribusi lebih luas dalam dunia pendidikan dan masyarakat.***

Matius Salomo Nababan

Perjalanan dari Bogor Menuju Senayan Park, Jakarta Pusat 

Bogordaily.net – Pada Minggu, 23 Januari 2025. Saya, papih, dan dua adik, memutuskan untuk menjemput mami yang pada saat itu sedang ada pekerjaan sebagai Makeup Artist di Jakarta. Beliau pulang sore, dan memutuskan untuk pergi makan dan mencari hiburan terlebih dahulu bersama teman-temannya yang lain. Saat itu, keputusan tempatnya berada di “Senayan Park”. Maka, saya dan beberapa anggota keluarga lainnya sibuk bersiap-siap pada sore harinya untuk menjemput ke Senayan Park yang berada di Jalan Gerbang Pemuda No. 3, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat 10270. Sebagai gambaran awal, “Senayan Park” adalah pusat gaya hidup modern di Jakarta yang menawarkan berbagai pilihan hiburan, dan tempat makan.
Satu adik saya yang masih berumur dua tahun, tentu sangat senang mendengar akan pergi menjemput mami. Maka dari itu, dalam mempersiapkan perjalanan ke Senayan Park ini, saya bukan hanya bersiap-siap untuk diri saya sendiri, melainkan turut mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan untuk adik saya yang masih kecil, seperti membawa beberapa perlengkapan (baju & celana pengganti). Setelah semua perlengkapan dikemas dengan baik, kami berangkat ke Senayan Park dengan menaiki mobil.
Perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih. Adik saya yang masih kecil tersebut, tampak sangat antusias melihat berbagai objek yang dia temukan selama perjalanan. Di umurnya yang masih sangat belia, adik kecil satu itu memang belum lancar bicara, namun sepanjang perjalanan, kami yang sudah dewasa turut serta menanggapi obrolannya tentang objek yang dia lihat, seperti pepohonan rindang di sisi kanan dan kiri, mobil-mobil yang melaju cepat di sepanjang jalan tol, dan sesekali ada kereta yang lewat di bagian atas jalan.
Dia sangat suka kereta, sehingga setiap kali ada kereta yang melintas, dia langsung berdiri dan menghadap belakang (agar bisa memandangi kereta dengan waktu yang cukup lama). Tidak hanya sampai di situ, ternyata anak kecil selalu menangkap apa yang pernah dilihatnya, walaupun mungkin tidak sering. Tapi dia sangat tertarik pada gerbang tol, dimana kartu akan ditempelkan untuk bisa membuka palang. Setiap kali mau memasuki gerbang tol, adik kecil ini juga langsung berdiri, dan siap melihat aksi papi-nya dalam membayar tol menggunakan kartu yang ditempel.
Anak kecil memang selalu bisa memberikan kesan yang lucu, menarik, dan bahkan tidak terduga di setiap perjalanannya. Terkadang dia sangat terkejut dengan apa yang baru ditemuinya di jalan, terkadang dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selama dia melakukan perjalanan, dan bahkan tiba-tiba bisa saja menangis tanpa diketahui secara pasti apa penyebabnya, terlebih adik saya masih berusia dua tahun, belum lancar berbicara.
Jadi ketika menangis, saya dan anggota keluarga yang lain pun harus menebak-nebak apa kemauan dia. Misalnya saja seperti di perjalanan kali ini. Awal-awal perjalanan memang dilalui dengan hal yang mulus, banyak objek yang dia nikmati, tapi lama kelamaan, adik saya menangis dan memegangi perut. Ternyata setelah ditebak, adik kecil saya itu ingin makan, dia lapar, dan ingin segera turun.
Di saat-saat seperti itulah yang menjadi tantangan bagi kami sebagai orang dewasa untuk membuat dia tenang. Tantangan menariknya adalah ketika saya sudah hidup di dunia digital, dan rasa-rasanya selalu ingin langsung memberikan tontonan kartun. Karena dengan cara itu, biasanya adik saya langsung terdiam, apalagi jika tontonannya terdapat kereta.
Tapi setelah dipikir kembali, saya maupun anggota keluarga yang lain, memutuskan untuk tidak melakukannya. Kami lebih memilih untuk mengalihkan perhatian si kecil dengan cara bercerita panjang lebar dengan apa yang ada di perjalanan. Semua objek yang dilihat, kami sebutkan satu per satu, hingga entah mengapa setelah itu banyak kereta yang melintas. Membuat adik kecil saya semakin lupa dengan rasa laparnya, dan beralih melihat kereta yang melaju dengan kecepatan biasa, sama dengan mobil.
Perjalanan yang panjang, biasanya diisi dengan mainan yang dia punya di rumah. Tapi sayangnya tidak saya bawa. Namun, justru pada saat inilah usaha saya dan keluarga saya dalam mengobrol dengan anak kecil diuji. Bagaimana caranya supaya dia tetap bisa nyaman walaupun  belum terlalu mengerti bahasanya.
Bagaimana kemudian kosakata kami diuji, karena mengobrol dengan anak kecil itu ternyata harus bisa tau banyak, tidak harus yang berat-berat, misalnya hanya sekedar mendeskripsikan warna pohon, apakah disana ada buah atau burung yang hinggap, daun-daunnya banyak, tertiup angin atau tidak, dan lain sebagainya. Mungkin kesannya sangat sederhana, tapi pada saat melakukannya, butuh pikiran yang cepat untuk mengeluarkan semua kata-kata demi membuat anak kecil ini bisa teralihkan fokusnya. Jika bercerita sudah tidak berguna, maka tahap selanjutnya yang dilakukan adalah dengan bernyanyi.
Bernyanyi dari hal yang dia suka, misalnya kereta. Maka sepanjang perjalanan, kami akan menyanyikan lagu kereta untuk si kecil, sambil tepuk tangan supaya meriah, dan membuat si kecil aktif bergerak. Kalau sudah bosan, baru ganti lagu yang lain. Dengan hiburan-hiburan yang diberikan selama perjalanan, membuat si kecil kelelahan, hingga membuatnya tertidur.
Terlebih pada saat perjalanan, tiba-tiba hujan datang, membuat suasana semakin nyaman untuk tidur. Pada akhirnya adik kecil itu tertidur di pangkuan saya. Semenjak dia tertidur, biasanya selintas suka memikirkan momen-momen bersama dia. Dan selintas pula, saya merasa senang karena bisa mengalihkan dia untuk terus tersenyum, tertawa, dan bertepuk tangan, hanya karena mendengar nyanyian atau cerita saya dan anggota keluarga lainnya di dalam mobil. Artinya, selama perjalanan, dia berhasil untuk tidak menonton melalui gadget.
Satu jam berlalu, akhirnya perjalanan kami sekeluarga telah sampai. “Senayan Park”, yang ada di Jakarta Pusat itu benar-benar memiliki banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sampai di sana, langsung menyambut hangat mami yang baru pulang bekerja bersama teman-temannya. Karena selama perjalanan, adik kecil kami sudah menangis meminta makan, akhirnya kami putuskan untuk membeli makan terlebih dahulu.
Kami makan bersama di sana, menikmati kebersamaan yang saat ini sudah jarang dirasakan. Saling berbagi cerita satu sama lain, termasuk cerita selama menempuh perjalanan ke “Senayan Park”. Kemudian, beranjak dari tempat makan, saya dan keluarga lanjut berjalan-jalan mengelilingi tempat menarik ini hingga malam tiba. Ternyata pada malam hari, lebih indah. Banyak lampu-lampu yang menyala, tempat wisata pun dibuka untuk umum, seperti perahu yang harus didayung sendiri, dan disana ada angsa juga.
Perjalanan ini sangat menyenangkan, belajar dari si kecil yang selalu ingin tahu segalanya, membuat kami para orang dewasa harus berusaha untuk menyeimbangkan obrolan yang mungkin bahasanya harus lebih disederhanakan kembali. Tapi dari itu, kami juga belajar, bahwa anak kecil sangat butuh perhatian untuk tumbuh kembangnya.***
Wanda Fithriana 
Mahasiswa Komunikasi Digital & Media, Sekolah Vokasi IPB