Friday, 10 April 2026
Home Blog Page 809

Hap, Keponakan Membunuh Tante di Bogor Ditangkap Polisi

0

Bogordaily.net – Keponakan membunuh Tante di Kedungwaringin Kota Bogor ditangkap polisi.

Peristiwa itu bermula dari sini. Malam itu, Minggu, 6 April 2025.

Berita buruk beredar: seorang perempuan ditemukan tewas di rumahnya, di Kedungwaringin, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.

Polisi bergerak cepat. Satreskrim Polresta Bogor Kota langsung membentuk tim. Satu per satu saksi dikumpulkan. Termasuk seorang pria muda, 28 tahun umurnya, inisial ERP.

Tak perlu sehari. Malam itu juga ERP ditetapkan sebagai tersangka.

Ternyata, ERP ini bukan orang jauh. Ia keponakan korban. Darah daging sendiri.
Kasie Humas Polresta Bogor Kota, Ipda Eko Agus, membenarkan: “Pelaku sudah diamankan. Kurang dari 24 jam,” katanya singkat, Senin pagi soal peristiwa keponakan membunuh tante sendiri di Bogor tersebut.

Empat saksi diperiksa. Salah satunya — ya, ERP itu — akhirnya mengaku. Dan polisi tidak menunggu lama. Statusnya resmi: tersangka.

Apa motifnya? Uang? Warisan? Dendam lama yang tiba-tiba meledak?
Belum ada yang tahu pasti. Polisi masih menyimpannya. Siang ini baru akan diumumkan resmi oleh Kapolresta.

Kombes Eko Prasetyo, bos Polresta Bogor Kota, juga masih irit bicara.
“Mohon waktu. Nanti kami akan jelaskan,” katanya.

Yang pasti, warga Kedungwaringin kaget. Banyak yang tak percaya. Seorang keponakan bisa tega membunuh tantenya sendiri.

Sebelumnya, pada Minggu sore, 6 April 2025. Seorang perempuan ditemukan tewas di kawasan tersebut.

Informasi awal tentang insiden tragis ini tersebar cepat di kalangan warga melalui pesan singkat. Salah satu warga yang juga pengurus lingkungan mengonfirmasi adanya kejadian tersebut. “Min, izin, ada info pembunuhan di Taman Cimanggu. Diduga korban (tante) dan pelaku (ponakan),” tulisnya dalam pesan yang beredar.***

Liburan ke Jepang tanpa Izin, Begini Sindiran Gubernur Dedi Mulyadi ke Bupati Indramayu Lucky Hakim

0

Bogordaily.net – Bupati Indramayu Lucky Hakim yang tengah jadi perbincangan hangat netizen lantaran liburan ke Jepang bersama keluarganya.

Yang jadi masalah, Lucky Hakim liburan ke Jepang tanpa izin. Hal ini yang membuat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyindirnya lewat media sosial

Sang gubernur pun mengunggah foto-foto liburan Lucky dan keluarganya di Jepang.

“Selamat berlibur Pak Lucky Hakim. Nanti kalau ke Jepang lagi, bilang dulu ya.” Teguran halus tapi penuh makna itu langsung memancing reaksi publik.

“Bupati dengan kabupaten (maaf) termiskin di Jawa Barat sedang berlibur ke Jepang,” sindir salah satu netizen di akun Instagram @dedimulyadi71.

Hingga kini Bupati Indramayu Lucky Hakim belum tampil ke publik untuk menjelaskan perihal liburannya ke Jepang. ***

Menjelajahi Wisata Keluarga di Ecopark Curug Tilu Bandung

Bogordaily.net – Ecopark Curug Tilu yang berlokasi di Jalan Raya Patengan, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tempat wisata ini dikenal dengan keindahan alamnya yang asri, serta berbagai fasilitas menarik yang cocok untuk wisata keluarga. Pada tanggal 4 Juli 2024, saya dan keluarga memulai perjalanan menuju Eco Park Curug Tilu.

Kami berangkat dari Depok sekitar pukul 11 siang, namun karena padatnya arus liburan, kami baru tiba di Bandung pada pukul 3 sore setelah melalui perjalanan panjang dengan lalu lintas yang cukup padat.

Setibanya di Bandung, kami langsung menuju Eco Park Curug Tilu. Namun, karena hari sudah mulai sore, kami memutuskan untuk menginap di glamping yang tersedia di area wisata.

Glamping di Eco Park Curug Tilu menawarkan pengalaman menginap yang nyaman di tengah alam, dengan fasilitas tenda yang modern, lengkap dengan kasur empuk, penerangan, dan kamar mandi pribadi.

Suasana sejuk khas Ciwidey membuat pengalaman menginap semakin menyenangkan. Malam hari di glamping terasa damai dengan suara alam yang menenangkan.

Saya dan keluarga mulai mengeksplorasi area Eco Park Curug Tilu. Tempat ini sangatlah nyaman dan asri, paling utama adalah air terjun (curug) yang menjadi ikon wisata ini.

Kami menikmati pemandangan alam yang masih alami, dengan aliran air yang jernih dan udara yang begitu segar. Di sekitar curug, terdapat beberapa spot foto yang sangat instagramable, sehingga kami menyempatkan diri untuk mengabadikan momen bersama keluarga.

Kami mencoba makan malam di restoran yang tersedia di dalam Eco Park. Menu yang disajikan cukup beragam, mulai dari makanan khas Sunda hingga berbagai hidangan modern.

Harga makanan di sini cukup terjangkau, dan rasanya pun sangat lezat. Kami mencoba menu andalan seperti nasi timbel, ikan bakar, dan sambal khas Sunda yang sangat menggugah selera.

Keesokan paginya, saya bangun lebih awal untuk menikmati udara segar Ciwidey, saya dan keluarga berjalan-jalan santai di sekitar area Eco Park Curug Tilu. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan, menciptakan suasana yang begitu menenangkan.

Kami menikmati keindahan curug dan mendengar suara gemericik air yang menenangkan. Beberapa pengunjung sudah mulai berdatangan, terutama keluarga yang ingin menikmati alam dan udara segar di pagi hari.

Salah satu wahana yang paling menarik perhatian adalah Rainbow Slide, sebuah perosotan warna-warni yang cukup tinggi dan memberikan sensasi meluncur yang mengasyikkan. Kami mencoba wahana ini beberapa kali karena rasanya begitu seru dan memacu adrenalin. Setelah puas bermain, saya memutuskan untuk mengunjungi kafe yang ada di dalam area Eco Park.

Sambil menikmati secangkir kopi hangat, dan duduk santai di kafe sambil mengagumi keindahan alam Ciwidey yang begitu mempesona. Aroma kopi yang khas berpadu dengan udara dingin Ciwidey benar-benar menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.

Setelah menikmati kopi, kami melanjutkan perjalanan ke area lain di Eco Park. Ada berbagai wahana seru lainnya seperti flying fox, dan area bermain anak. Setelah itu, saya dan keluarga memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran di dalam area wisata. Menu makan siang kami cukup beragam, dengan sajian khas Sunda yang menggugah selera.

Semua anggota keluarga sangat menikmati hidangan ini, terutama karena cita rasa masakannya yang autentik dan segar. Kami memesan ayam goreng, sayur asam, lalapan, dan sambal yang begitu menggoda. Restoran ini memiliki pemandangan langsung ke perbukitan hijau, sehingga suasana makan siang terasa semakin nikmat.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, saatnya bagi kami untuk check-out dari glamping dan bersiap pulang. Sebelum meninggalkan Ecopark Curug Tilu, saya menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh khas Ciwidey, yaitu coklat dan stroberi segar yang terkenal dengan kualitasnya yang baik. Di sekitar Eco Park terdapat banyak pedagang yang menjual produk lokal seperti madu, teh hijau, dan aneka keripik khas Bandung.

Dengan hati yang puas dan kenangan yang indah, kami akhirnya kembali pulang setelah menghabiskan waktu yang menyenangkan di Ecopark Curug Tilu. Perjalanan ini menjadi salah satu liburan keluarga yang paling berkesan, dengan pengalaman menikmati keindahan alam dan berbagai wahana seru yang ditawarkan.***

Anindya Dzakirah Kurnia
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media IPB University

Muhammad Ghaza Abyan: Perjalanan Seorang Komunikator Muda

0

Bogordaily.net – Muhammad Ghaza Abyan, atau yang akrab dipanggil Ghaza, adalah seorang mahasiswa yang tengah meniti karier di bidang komunikasi. Lahir dengan minat mendalam terhadap interaksi manusia, Ghaza kini menempuh pendidikan di Sekolah Vokasi IPB University, Jurusan Komunikasi Digital dan Media.

Saat ini, ia berada di semester enam dan sedang menjalani program magang di PT Haloka Group Indonesia, sebuah perusahaan konsultan komunikasi yang berfokus pada branding.

Selain kesibukannya sebagai mahasiswa dan intern, Ghaza juga aktif mengembangkan akun “Semua Berkomunikasi.” Akun ini membahas berbagai aspek komunikasi dalam tim dan organisasi, khususnya dalam konteks bisnis profesional.

Minatnya pada dunia komunikasi tidak datang begitu saja, melainkan merupakan hasil dari perjalanan panjang yang dimulai sejak masa sekolahnya.

Awal Perjalanan dalam Komunikasi
Ketertarikan Ghaza terhadap komunikasi bermula dari hasil tes psikologi saat ia masih di bangku SMA. Hasil tes tersebut merekomendasikannya untuk menekuni bidang komunikasi, marketing, dan bisnis. Atas dasar itu, ia memutuskan untuk masuk ke jurusan komunikasi di perguruan tinggi.

Namun, perjalanan Ghaza dalam menemukan minat spesifiknya tidaklah instan. Di awal perkuliahan, ia banyak bereksperimen dengan berbagai aspek komunikasi hingga akhirnya menemukan ketertarikannya pada komunikasi tim dan organisasi.

Ia merasa terinspirasi oleh bagaimana ide-ide sederhana dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang nyata melalui kolaborasi dalam tim.

Ghaza menyadari bahwa komunikasi bukan hanya tentang berbicara atau menyampaikan informasi, tetapi juga tentang bagaimana pesan tersebut dapat dipahami dan diterima oleh audiens.

Ia mulai meneliti berbagai strategi komunikasi, sistem, dan standar operasional prosedur (SOP) yang digunakan dalam dunia profesional.

Tantangan dalam Komunikasi
Meskipun telah banyak belajar tentang komunikasi, Ghaza menyadari bahwa mengimplementasikan teori dalam kehidupan nyata bukanlah hal yang mudah.

Ia mengakui bahwa meskipun ia memberikan wawasan dan pengetahuan kepada orang lain tentang komunikasi yang efektif, ia sendiri masih menghadapi tantangan dalam menerapkannya.

Salah satu hambatan terbesar yang ia hadapi adalah memastikan bahwa komunikasi tidak hanya efektif dari segi penyampaian informasi, tetapi juga dalam membangun hubungan yang baik dengan orang lain.

Terkadang, meskipun pesan yang ia sampaikan jelas, ada aspek emosional yang tidak selalu tersampaikan dengan baik.

Selain itu, standar kerja tinggi yang ia tetapkan bagi dirinya sendiri terkadang membuat orang-orang di sekitarnya merasa sulit untuk bekerja sama dengannya.

Namun, ia menyadari bahwa dalam dunia profesional, memiliki standar yang tinggi bukanlah sesuatu yang buruk. Justru, hal ini membantunya untuk menemukan orang-orang yang sejalan dengan visi dan cara kerjanya.

Fokus pada PR Internal dan Koordinasi Komunikasi
Setelah melalui berbagai proses eksplorasi, Ghaza akhirnya memutuskan untuk fokus pada bidang Public Relations (PR), khususnya PR internal.

Baginya, PR internal memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan kelancaran koordinasi dalam sebuah organisasi atau tim.

Ia mulai membagikan wawasan dan pandangannya melalui akun pribadinya, yang kemudian berkembang menjadi “Semua Berkomunikasi.” Namun, awalnya akun tersebut tidak langsung mendapatkan respons yang besar.

Selama dua tahun pertama, ia terus konsisten membagikan konten tanpa hasil yang signifikan.

Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk mengganti strategi dan membuat akun baru sebagai bagian dari tugas kuliahnya tentang personal branding.

Dengan menerapkan berbagai pelajaran yang telah ia pelajari, akun baru ini berkembang pesat dalam lima bulan pertama, mencapai 20.000 pengikut.

Membangun “Semua Berkomunikasi” sebagai Konsultan Komunikasi
Ghaza memiliki visi besar untuk “Semua Berkomunikasi.” Ia ingin menjadikannya sebagai perusahaan konsultan komunikasi profesional yang fokus pada komunikasi tim dan organisasi.

Ia merasa bahwa komunikasi adalah elemen yang sering diremehkan dalam organisasi, padahal memiliki peran krusial dalam menentukan keberhasilan suatu tim.

Ia terinspirasi oleh konsep bahwa komunikasi dalam organisasi layaknya aliran darah dalam tubuh manusia. Jika aliran ini terhambat, maka fungsi-fungsi lainnya juga akan terganggu.

Oleh karena itu, ia ingin membantu organisasi dan bisnis memahami serta mengoptimalkan strategi komunikasi mereka.

Prestasi dan Pengalaman Berharga
Dalam perjalanan kariernya, Ghaza telah meraih beberapa pencapaian yang membanggakan. Salah satunya adalah menjadi pembicara di TEDx, sebuah pengalaman yang ia nilai sangat berharga.

Menurutnya, kesempatan ini tidak datang dengan mudah. Ia harus membangun jaringan dan membuktikan kapasitasnya sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan tersebut.

Selain itu, ia juga terlibat dalam acara “Muda Bersuara,” sebuah event yang berhasil memecahkan rekor ORI (Original Rekor Indonesia) untuk pertunjukan angklung dengan jumlah lagu terbanyak.

Acara ini dihadiri oleh 768 peserta dan menjadi salah satu pengalaman yang semakin memperkaya pemahamannya tentang komunikasi dalam organisasi.

Rencana Masa Depan dan Filosofi Komunikasi
Ke depannya, Ghaza berencana untuk fokus pada magang dan mendalami lebih lanjut dunia komunikasi profesional. Setelah menyelesaikan magangnya, ia ingin mengembangkan “Semua Berkomunikasi” menjadi konsultan komunikasi yang dapat membantu usaha kecil dan menengah dalam meningkatkan efektivitas komunikasi mereka.

Baginya, komunikasi bukan sekadar alat untuk berbicara, tetapi juga strategi yang harus dipadukan dengan bidang lain, seperti teknologi dan bisnis. Ia percaya bahwa dengan mengombinasikan ilmu komunikasi dengan bidang lain, seseorang dapat menciptakan peluang yang lebih besar di masa depan.

Nasihat bagi Generasi Muda
Sebagai seseorang yang telah banyak belajar dan berproses di dunia komunikasi, Ghaza memiliki satu pesan penting bagi mereka yang ingin mendalami bidang ini: komunikasi bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang mendengarkan dan memahami.

Ia juga menekankan pentingnya menggunakan komunikasi dengan struktur yang jelas, seperti memperhatikan Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan (SPOK) dalam setiap pesan yang disampaikan.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya nada dalam komunikasi. Menurut penelitian Albert Mehrabian, 55% makna dalam komunikasi dipengaruhi oleh nada suara. Oleh karena itu, memilih nada yang tepat dalam menyampaikan pesan adalah keterampilan yang harus terus dikembangkan.

Terakhir, ia mengingatkan bahwa komunikasi bukan hanya penting dalam dunia profesional, tetapi juga dalam kehidupan pribadi. Dengan memahami bagaimana cara berkomunikasi yang baik, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih harmonis dan efektif dengan orang-orang di sekitarnya.

Penutup
Perjalanan Muhammad Ghaza Abyan dalam dunia komunikasi adalah bukti bahwa konsistensi dan eksplorasi adalah kunci utama dalam menemukan passion. Dengan semangat belajar yang tinggi dan visi yang jelas, ia terus berkembang dan berusaha memberikan dampak positif dalam dunia komunikasi.

Masa depan “Semua Berkomunikasi” sebagai konsultan komunikasi tampaknya akan menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya dalam membangun dunia komunikasi yang lebih baik.***

Muhammad Raynafa Adzani
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB

 

 

 

Miskonsepsi Sejarah Korset Sebagai Simbol Propaganda Feminisme dan Sensasi pada Media Digital

0

Bogordaily.net – Pada paruh kedua abad ke-20, khususnya di era 1960-an dan 1970-an, gerakan feminisme gelombang kedua semakin menolak korset sebagai simbol penindasan. Banyak perempuan memilih untuk menyingkirkan segala bentuk pakaian yang dianggap membatasi tubuh mereka. Ini ditunjukan dengan berbagai kutipan dan narasi pada berbagai film, seperti “You like pain? Try wearing a corset,” kutipan ini terdapat di dalam Pirates of the Caribbean (2003) oleh Elizabeth Swann (Kiera Knightly).

Disusul dengan penulis novel Lucy Maud Montgomery (The Blue Castle, 1926), “Tight lacing gives a woman a figure—but at what cost?”. Sejarah korset lebih kompleks dari yang sering diasumsikan. Sejak abad ke-16, korset tidak hanya berperan sebagai penopang tubuh, tetapi juga menjadi elemen penting dalam tren mode dan simbol status sosial.

Banyak perempuan secara sukarela mengenakannya, baik untuk alasan estetika, kesehatan, maupun demi menjaga postur tubuh. Korset telah lama menjadi ikon kecantikan dalam sejarah mode.

Sejak berabad-abad lalu, busana ini bukan sekadar penyangga tubuh, tetapi juga lambang keanggunan dan kemewahan. Pada abad ke-16, korset mulai digunakan untuk membentuk siluet tubuh yang dianggap ideal pada masanya.

Wanita mengenakannya untuk menciptakan postur tegap, pinggang ramping, dan lekuk tubuh yang elegan, menjadikannya simbol feminitas dan daya tarik.

Pada era Victoria, korset mencapai puncak popularitasnya. Dalam masyarakat saat itu, bentuk tubuh yang ideal adalah pinggang kecil dengan proporsi yang seimbang. Para wanita berlomba-lomba mengenakan korset, percaya bahwa keindahan mereka terpancar dari bentuk tubuh yang harmonis.

Bukan hanya sekadar tren, korset juga melambangkan status sosial—semakin ramping pinggang seorang wanita, semakin tinggi daya tarik dan kelasnya di mata masyarakat.

Korset sering kali dikaitkan dengan feminitas dan standar kecantikan wanita, tetapi sejarah menunjukkan bahwa pakaian ini tidak hanya diperuntukkan bagi kaum hawa.

Pada abad ke-18 dan ke-19, terdapat pria yang mengenakan korset untuk memperoleh postur tubuh yang tegap dan siluet ramping.

Di era Victoria, misalnya, standar kecantikan tidak hanya berlaku bagi wanita—laki-laki dari kelas sosial tertentu juga diharapkan tampil rapi dengan tubuh yang lebih proporsional.

Korset membantu mereka mendapatkan bentuk tubuh yang ideal untuk dipadukan dengan mantel panjang dan setelan resmi yang populer pada saat itu. Banyak sejarawan telah berupaya menelusuri asal-usul korset.

Pada era Tudor, korset kemungkinan sudah digunakan dalam bentuk a pair of bodies, yaitu pakaian pelapis kaku yang membantu membentuk siluet tubuh. Salah satu tokoh terkenal yang mengenakannya adalah Ratu Elizabeth I.

Ia diketahui mengenakan a pair of bodies sebagai bagian dari busananya untuk menciptakan postur tegap dan tampilan yang anggun, menunjukkan bahwa korset telah menjadi bagian dari mode kerajaan sejak periode tersebut.

Walau begitu, a pair of bodies pada zamannya hanya dapat digunakan oleh kalangan aristokrat dan belum normal untuk semua kalangan. Namun, hingga kini mereka masih mengalami kesulitan dalam menentukan kapan pertama kali korset digunakan, mengingat istilah pakaian mengalami perubahan yang cepat dari waktu ke waktu.

Walau begitu Elizabeth Ewing, dalam bukunya Fashion in Underwear: From Babylon to Bikini Briefs (2010) menyebutkan bahwa istilah korset diambil dari Bahasa Prancis “cotte”.

Seiring perubahan waktu, tidak hanya nama yang berubah pada korset namun juga makna dan representasinya. Korset sering kali dianggap sebagai simbol penindasan perempuan, terutama dalam narasi feminis abad ke-20 yang melihatnya sebagai alat patriarki untuk membatasi kebebasan fisik dan sosial wanita.

Asal Usul Korset Sebagai Simbol Penindasan
Korset sering dianggap sebagai simbol penindasan karena dikaitkan dengan standar kecantikan pada zamannya. Namun, pandangan ini sebagian besar dipengaruhi oleh perspektif modern yang melihat standar kecantikan sebagai bentuk pembatasan bagi perempuan.

Dengan adanya pengalaman serta gerakan sosial seperti body positivity dan speak up movement, banyak orang saat ini menilai korset sebagai bagian dari sistem yang menekan perempuan agar menyesuaikan diri dengan idealisasi kecantikan yang ditetapkan oleh masyarakat patriarkal.

Namun, jika ditinjau dari konteks sejarah, pengaruh standar kecantikan yang berkaitan dengan korset tidak sebanding dengan dampaknya di era modern. Dahulu, standar kecantikan bersifat eksklusif dan hanya memengaruhi kelompok tertentu, terutama kalangan aristokrasi dan kelas menengah atas, yang memiliki akses serta dorongan untuk mengikutinya.

Sebaliknya, di era media sosial saat ini, standar kecantikan tersebar secara masif, menjangkau berbagai lapisan masyarakat, dan memberikan tekanan yang jauh lebih luas dibandingkan masa lalu.

Dengan berkembangnya media sosial, konsep kecantikan kini semakin distandarisasi secara global, menciptakan tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan masa lampau. Informasi mengenai bentuk tubuh ideal, gaya hidup, hingga prosedur kosmetik dapat diakses dalam hitungan detik, memperluas dampak psikologis bagi banyak orang.

Jika pada era Victoria penggunaan korset lebih terbatas pada kelompok sosial tertentu, kini ekspektasi terhadap tubuh ideal dapat menjangkau siapa saja melalui internet.

Di sisi lain, media digital sering kali menggunakan judul clickbait untuk menarik perhatian pembaca, menyederhanakan sejarah korset dengan narasi yang berlebihan. Artikel-artikel dengan judul kontroversial kerap mengabaikan fakta bahwa banyak perempuan di masa lalu memilih mengenakan korset sebagai bagian dari gaya hidup mereka.

Sensasionalisme ini semakin diperparah oleh tren media sosial yang cenderung menyebarkan informasi dangkal tanpa memberikan pemahaman yang lebih mendalam.

“Misinformation is worse than ignorance.” Charles Spurgeon, misinformasi tentang korset tidak hanya datang dari content creator independen, tetapi juga dari media besar seperti Vogue. Salah satu contohnya adalah video berjudul “Everything You Need to Know About the Corset”, yang berdurasi kurang dari enam menit.

Video ini mendapat kritik dari sejarawan mode di kanal YouTube Abby Cox. Dalam video reaksinya, Abby Cox tidak sendirian, melainkan didampingi oleh sejarawan dan pengamat mode lainnya, seperti Mina Le, Bernadette Banner, Nicole Rudolph, dan Karolina Żebrowska.

Mereka menilai bahwa video Vogue terlalu dangkal dan tidak menyajikan informasi yang lebih akurat dari yang dapat ditemukan di Wikipedia.

Selain media digital, film-film abad ke-20 juga berkontribusi dalam membentuk miskonsepsi tentang korset. Banyak film berlatar sejarah lebih menekankan unsur drama dibandingkan keakuratan fakta, sering kali menampilkan adegan perempuan yang kesulitan bernapas atau bahkan pingsan akibat korset yang terlalu ketat.

“History is written by the victors, but fashion history is often rewritten by Hollywood.” oleh Karolina Żebrowska. Representasi dramatis ini telah menjadi trope umum dalam film bertema sejarah, meskipun kenyataannya tidak semua perempuan pada masa itu mengalami ketidaknyamanan yang ekstrem.

Gambaran seperti ini semakin memperkuat anggapan bahwa korset adalah alat penindasan, padahal dalam banyak kasus, pemakaiannya bersifat sukarela dan sesuai dengan norma sosial yang berlaku saat itu.

Korset Sebagai Simbol Bereskpresi
Alih-alih dianggap sebagai alat penindasan, korset pada zamannya merupakan bentuk ekspresi diri dan identitas sosial. “Women did not wear corsets because they were forced to. They wore them because that was simply what one did.” Oleh Valerie Steele (The Corset: A Cultural History).

Perempuan menggunakan korset sebagai cara untuk menampilkan diri sesuai dengan norma budaya dan estetika yang berlaku. Di beberapa periode sejarah, korset bahkan dianggap sebagai lambang kebebasan dalam berpakaian, memungkinkan pemakainya menonjolkan citra diri yang mereka inginkan.

Selain itu, perempuan dari berbagai latar belakang sosial menggunakan korset untuk menciptakan siluet yang dianggap menarik atau untuk meningkatkan kenyamanan dalam berpakaian sehari-hari. Gagasan ini juga didukung oleh Hilary Davidson, Sejarawan Mode “Corsets were a foundation garment, no more oppressive than a bra is today.”

Begitu juga dengan kutipan “Throughout history, people have worn structured garments to support and shape the body. The corset was simply one of them.”
ungkap Bernadette Banner (Sejarawan Mode & YouTuber).

Dalam penelitian The Corset: A Cultural History (2001), sejarawan fashion Valerie Fahnestock Steele menjelaskan bagaimana korset menjadi bagian penting dalam praktik presentasi diri kaum elite bangsawan.

Korset menandakan kontrol atas tubuh yang dibentuk melalui serangkaian praktik sosial, mulai dari menari hingga berpakaian. Kaum bangsawan menggunakan korset untuk menghargai norma-norma kesopanan, sesuatu yang menggambarkan posisi sosial mereka di masyarakat.

Menariknya, tren penggunaan korset justru dipelopori oleh perempuan sendiri. Meskipun banyak laki-laki pada era tersebut mengkritik dan menyindir mode perempuan, termasuk korset, melalui satir dan tulisan humor, perempuan tetap mengenakan korset sebagai bentuk kontrol atas tubuh mereka sendiri.

Dalam konteks ini, korset justru bisa dilihat sebagai simbol kebebasan perempuan terhadap pandangan misoginis yang mencoba mendikte bagaimana mereka harus berpakaian. Fakta ini menjadi ironi jika dibandingkan dengan presepsi feminis masa kini dengan argumentasi bahwa korset adalah bentuk restriksi yang berbahaya.

Apakah Korset Memiliki Dampak Buruk?
Serena Dyer, Dosen Sejarah Desain dan Budaya Material di Universitas De Montfort, pernah menulis tentang bagaimana korset dibingkai jadi sumber penyakit oleh dokter-dokter misoginis pada tahun 1990-an.

Dr. William Henry Flower, seorang ahli anatomi Inggris, menulis buku Fashion in Deformity (1881) menungkapkan “The corset is responsible for the unnatural shape of women, compressing the ribs and causing serious injury to internal organs.”, ia mengkritik korset dengan menyebutnya sebagai penyebab deformitas tubuh perempuan.

Ia menegaskan bahwa korset merusak organ dalam dan menghambat pernapasan, meskipun bukti medisnya sering dilebih-lebihkan. Pernyataan serupa juga dijelaskan oleh Dr. Robert L. Dickinson (1911) – “The Corset: Questions of Pressure and Displacement” dimana ia mengatakan “The effects of the corset are not merely cosmetic; they lead to functional disturbances in the body, particularly in the abdomen.”

Korset sering dianggap sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan yang memengaruhi bentuk tubuh perempuan, seperti pneumonia, komplikasi kehamilan, gangguan pencernaan seperti sembelit, infeksi pasca-persalinan, hingga tuberkulosis.

Selain itu, penggunaan korset dalam jangka panjang juga disebut dapat menyebabkan saraf terjepit pada tulang belakang. Hal ini dicatat oleh Dyer dalam penelitiannya.
Anggapan bahwa tulisan ilmiah atau jurnal tentang korset di masa lalu bersifat faktual dan objektif perlu mendapat sorotan kritis.

Pada era Victoria, standar objektivitas ilmiah belum seketat saat ini, sehingga banyak dokter dapat menyisipkan opini pribadi ke dalam tulisan mereka tanpa dukungan bukti ilmiah yang kuat. Akibatnya, banyak pandangan negatif tentang korset lebih bersifat subjektif daripada hasil analisis medis berbasis data.

Faktanya, sebagian besar klaim kesehatan yang mengkritik korset berakar pada pandangan misoginis. Dalam tulisannya di The Conversation, Dyer menjelaskan bahwa isu-isu kesehatan yang dikaitkan dengan korset sebenarnya hanyalah mitos yang dikonstruksi oleh dokter laki-laki untuk mendukung perspektif patriarki mereka sendiri.

Kekhawatiran masyarakat modern terhadap korset juga dipicu oleh foto-foto era Victoria yang menampilkan perempuan dengan pinggang yang tampak sangat kecil, bahkan abnormal. “The camera may do justice to reality, but reality is not always what we see in photographs.”

Kata Susan Sontag (1977) yang menyoroti bagaimana foto dapat dikonstruksi untuk menyampaikan narasi tertentu, termasuk dalam kasus foto-foto perempuan berpinggang sangat kecil di era Victoria. Banyak yang berasumsi bahwa korset memang berbahaya tanpa mempertimbangkan kemungkinan manipulasi gambar.

Padahal, praktik edit foto sudah ada sejak lama. Fotografer era Victoria sering menggunakan latar belakang hitam atau putih dan menyesuaikan pencahayaan serta tinta untuk menciptakan ilusi pinggang yang lebih kecil.

Peran Komunitas Pecinta Sejarah Fashion
Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas penggemar sejarah fashion telah berupaya mengoreksi kesalahpahaman tentang korset dengan menghadirkan perspektif yang lebih akurat berdasarkan penelitian.

Sosok-sosok seperti Abby Cox, Mina Le, Bernadette Banner, Nicole Rudolph, dan Karolina Żebrowska berperan penting dalam menyebarkan informasi yang lebih seimbang mengenai sejarah fashion, termasuk penggunaan korset.

Bernadette Banner beranggapan “The corset is not an instrument of torture. It is a work of art.”, kemudian Valerie Steele pada The Corset: A Cultural History mengatakan “There is nothing unnatural about shaping the body through dress; all societies do it in one way or another.”.

Melalui platform seperti YouTube dan TikTok, mereka membagikan analisis mendalam tentang bagaimana korset sebenarnya digunakan dalam berbagai periode sejarah. Mereka juga mengungkap berbagai mitos yang beredar, seperti anggapan bahwa korset menyebabkan cedera serius atau dibuat semata-mata untuk menekan perempuan.

Konten mereka sering kali menampilkan demonstrasi langsung, di mana mereka membuat dan mengenakan korset berdasarkan pola asli dari abad-abad sebelumnya. Hasilnya menunjukkan bahwa korset yang dibuat dan dipakai dengan benar tidak hanya nyaman, tetapi juga dapat memberikan dukungan tubuh yang baik tanpa menimbulkan masalah kesehatan.

Selain menyebarkan informasi, komunitas ini juga menantang narasi sensasional yang sering dipopulerkan oleh media digital dan industri hiburan. Mereka mengkritisi bagaimana film, acara televisi, dan bahkan beberapa museum menggambarkan korset sebagai alat penyiksaan, meskipun dalam banyak kasus, pandangan tersebut lebih didasarkan pada dramatisasi daripada fakta sejarah.

Dengan pendekatan yang berbasis edukasi dan bukti, komunitas ini memainkan peran penting dalam mengoreksi kesalahpahaman publik mengenai sejarah fashion. Upaya mereka menyoroti pentingnya memahami mode masa lalu, termasuk korset, dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas, daripada menilainya melalui sudut pandang modern yang kerap menyederhanakan realitas sejarah.

Dengan demikian, mereska mendorong masyarakat untuk lebih kritis terhadap narasi populer dan lebih menghargai kompleksitas sejarah fashion.

Anggapan bahwa korset merupakan simbol utama penindasan perempuan sebagian besar dipengaruhi oleh pemberitaan media, propaganda feminisme abad ke-20, serta penggambaran yang keliru dalam film dan literatur ilmiah yang cenderung bias.

Padahal, jika dilihat dalam konteks sejarahnya, korset memiliki makna yang jauh lebih kompleks daripada sekadar alat pembatas gerak. Korset juga berfungsi sebagai bentuk ekspresi diri, bagian dari tren mode, dan bahkan simbol kebebasan dari norma misoginis pada masanya.

Di era digital saat ini, informasi tentang sejarah fashion sering kali disederhanakan demi menarik perhatian melalui clickbait dan sensasi, sehingga semakin memperkuat stereotip negatif terhadap korset.

Namun, komunitas penggiat sejarah fashion telah berupaya membongkar mitos ini melalui riset mendalam dan rekonstruksi berdasarkan fakta sejarah. Oleh karena itu, memahami sejarah dengan perspektif yang lebih objektif menjadi sangat penting, daripada sekadar mengandalkan narasi populer yang belum tentu akurat.***

Oleh: Elsa Anastasya Wijaya, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi, IPB University

 

Peran Strategis Tenaga Pengajar dalam Menjamin Kesuksesan Siswa pada SNBP

0

Bogordaily.net – Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) merupakan salah satu jalur seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang sangat dinantikan oleh siswa-siswa berprestasi di seluruh Indonesia. SNBP tidak hanya menjadi ajang kompetisi akademis, tetapi juga menjadi pintu gerbang menuju masa depan yang lebih cerah bagi banyak siswa.

Namun, di balik peluang besar yang ditawarkan oleh SNBP, terdapat tantangan dan risiko yang tidak boleh diabaikan, terutama terkait persiapan administratif dan akademis.

Kegagalan dalam mengikuti SNBP, seperti yang dialami oleh SMKN 2 Surakarta, dapat dianggap sebagai hal yang fatal karena kesempatan ini hanya datang sekali dalam hidup seorang siswa.

Oleh karena itu, peran tenaga pengajar dalam mendukung kesiapan siswa menghadapi SNBP menjadi sangat krusial.

Polemik yang terjadi di SMKN 2 Surakarta, di mana sekolah tersebut sempat terancam gagal mengikuti SNBP karena masalah administrasi, menjadi bukti nyata betapa pentingnya perhatian terhadap detail-detail kecil dalam proses seleksi ini.

Kegagalan administratif tidak hanya merugikan institusi sekolah, tetapi juga berdampak langsung pada masa depan siswa yang telah berjuang keras untuk meraih prestasi.

Dalam konteks ini, tenaga pengajar memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa semua persyaratan administratif telah dipenuhi dengan baik dan tepat waktu.

Hal ini mencakup pengumpulan dokumen, verifikasi data, serta koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Tanpa dukungan yang maksimal dari tenaga pengajar, siswa dapat kehilangan kesempatan emas yang tidak akan terulang kembali.

Namun, peran tenaga pengajar tidak hanya terbatas pada aspek administratif. Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan siswa secara akademis dan mental.

SNBP adalah ajang kompetitif yang membutuhkan persiapan matang, baik dari segi penguasaan materi maupun strategi mengerjakan soal.

Tenaga pengajar harus mampu memberikan bimbingan intensif, seperti pelatihan soal-soal seleksi, pembahasan materi yang sering muncul, serta simulasi ujian. Selain itu, dukungan moral dan motivasi dari tenaga pengajar juga sangat dibutuhkan oleh siswa.

Proses seleksi seperti SNBP seringkali menimbulkan tekanan psikologis yang besar bagi siswa. Oleh karena itu, peran tenaga pengajar dalam memberikan motivasi dan membangun kepercayaan diri siswa tidak boleh dianggap remeh.

Dalam perspektif yang lebih luas, peran tenaga pengajar dalam mendukung kesuksesan siswa pada SNBP sejalan dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Supriyanto dkk. (2023) dalam jurnal Educational Management and Planning.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa sekolah dengan tenaga pengajar yang aktif memantau perkembangan siswa, baik secara akademis maupun administratif, memiliki tingkat kelulusan SNBP yang lebih tinggi.

Studi ini juga mengungkapkan bahwa dukungan psikologis dari tenaga pengajar, seperti memberikan motivasi dan membangun kepercayaan diri siswa, berkontribusi signifikan terhadap keberhasilan siswa dalam menghadapi seleksi nasional.

Temuan ini semakin menegaskan bahwa peran tenaga pengajar tidak hanya terbatas pada transfer pengetahuan, tetapi juga mencakup aspek pendukung lainnya yang tidak kalah penting.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tenaga pengajar memegang peran strategis dalam memastikan kesuksesan siswa pada SNBP.

Mereka tidak hanya bertanggung jawab untuk mempersiapkan siswa secara akademis, tetapi juga harus memastikan bahwa semua persyaratan administratif telah terpenuhi dengan baik.

Selain itu, dukungan psikologis dan motivasi dari tenaga pengajar juga menjadi faktor penentu yang dapat memengaruhi performa siswa dalam menghadapi seleksi nasional.

Oleh karena itu, penting bagi tenaga pengajar untuk lebih proaktif dan peka terhadap kebutuhan siswa, baik dalam hal akademis, administratif, maupun psikologis.

Sebagai penutup, polemik yang terjadi di SMKN 2 Surakarta seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, terutama tenaga pengajar.

Kesempatan seperti SNBP tidak datang dua kali, dan kegagalan dalam mengikutinya dapat berdampak panjang pada masa depan siswa.

Dengan peran yang lebih maksimal dari tenaga pengajar, diharapkan siswa dapat memanfaatkan kesempatan ini secara optimal dan meraih impian mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.***

Muhammad Raynafa Adzani
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB

 

 

Mengenal Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan MS., Ahli Gizi yang Gemar Bollywood, Detektif, dan Jalan Kaki

0

Bogordaily.net – Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada 2 Februari 1960. Pendidikan menengahnya diselesaikan di SMA Negeri 1 Salatiga pada tahun 1978, sebelum melanjutkan studi ke Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1979. Ia meraih gelar sarjana dari Fakultas Peternakan IPB pada tahun 1983.
Perjalanan akademiknya berlanjut dengan meraih gelar magister dalam spesialisasi Ilmu Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga di Fakultas Pertanian IPB University pada tahun 1987.

Kemudian, ia melanjutkan studi doktoral di Iowa State University, Amerika Serikat, dalam bidang Home Economics and Education, yang diselesaikannya pada tahun 1991.

Selama menempuh pendidikan di luar negeri, ia semakin memperdalam pemahamannya mengenai ekonomi, keluarga, dan gizi manusia.

Keberhasilannya dalam meraih pendidikan tinggi di luar negeri tidak terlepas dari doa serta dukungan orang tuanya, khususnya ibunya, serta kedisiplinan yang diterapkan sejak kecil dalam keluarganya.

Dengan latar belakang keilmuan dalam nutrisi dan produksi ternak, Prof. Ali awalnya bercita-cita menjadi peneliti di bidang peternakan. Bahkan, ia sempat mengajukan lamaran ke lembaga penelitian.

Namun, kesempatan mengajar di Departemen Gizi IPB datang lebih dahulu, sehingga ia memutuskan untuk berkarier sebagai akademisi.
Peralihan bidang dari peternakan ke gizi manusia menjadi tantangan tersendiri baginya.

Fokus akademiknya berubah dari mengkaji gizi ternak ke gizi manusia. Meskipun demikian, ia tidak mengalami kendala berarti dan justru semakin terdorong untuk terus belajar serta mengembangkan keilmuannya di bidang tersebut.
Berkat ketekunannya dalam penelitian, Prof.

Ali berhasil meraih gelar Guru Besar dalam bidang Pangan dan Gizi pada tahun 2001, saat usianya baru menginjak 41 tahun. Prestasi ini tergolong luar biasa, mengingat gelar tersebut umumnya diperoleh akademisi di usia 50 tahun atau menjelang masa pensiun. Ia aktif dalam berbagai penelitian di bidang Gizi Masyarakat serta terus berkontribusi dalam berbagai kajian akademik.

Sebagai seorang akademisi, Prof. Ali Khomsan meyakini bahwa keberhasilan dalam pendidikan tinggi sangat bergantung pada persiapan yang matang serta penguasaan materi yang kuat. Selain mengajar, ia juga aktif dalam kegiatan penelitian dan publikasi ilmiah. Ia juga berkontribusi dalam meningkatkan literasi gizi di masyarakat melalui berbagai artikel populer.

Di dunia kepenulisan, Prof. Ali telah menerbitkan berbagai buku, di antaranya:
● Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup (Grasindo)
● Pangan dan Gizi untuk Kesehatan (Rajagrafindo)
● Solusi Makanan Sehat (Rajagrafindo)

Selain itu, ia juga menjabat sebagai anggota Dewan Editor di berbagai jurnal ilmiah, seperti Jurnal Gizi dan Pangan, Media Gizi dan Keluarga, Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, serta Majalah Pangan (Bulog).

Prof. Ali telah menulis lebih dari 330 artikel yang diterbitkan di berbagai media nasional, termasuk Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Sindo, dan Intisari. Salah satu artikelnya yang berjudul “Fortifikasi Beras, Strategi Atasi Kurang Gizi” berhasil meraih penghargaan Juara 3 dalam Kategori Penulisan Iptek pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) pada 2 Desember 2013.

Dedikasinya terhadap isu kesehatan dan gizi memperoleh apresiasi luas. Pada tahun 2003, ia dianugerahi penghargaan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia sebagai tokoh terbaik dalam bidang kesehatan populer.

Guru Besar sekaligus ahli gizi yang telah banyak meneliti tentunya memiliki pendapat atas pandangannya terutama mengenai tantangan utama dalam bidang gizi di Indonesia yang mencakup dua permasalahan besar, yakni gizi kurang (stunting) dan gizi lebih (obesitas).

Ketimpangan sosial-ekonomi membuat sebagian masyarakat mengalami kekurangan pangan, sementara sebagian lainnya menghadapi obesitas akibat pola makan yang tidak seimbang. Hal ini menjadi isu yang sangat Prof Ali perhatikan.

Saat ini, Prof. Ali menjabat sebagai Ketua Klaster Pencegahan Stunting Asosiasi Profesor Indonesia. Ia menegaskan bahwa permasalahan stunting bersifat multidimensi, sehingga solusi yang diterapkan harus mencakup berbagai aspek keilmuan. Menurutnya, peningkatan daya beli masyarakat serta akses pangan bergizi yang tetap terjangkau menjadi faktor penting dalam mengatasi permasalahan ini tanpa merugikan produsen maupun konsumen.

Selain fokus pada bidang akademik dan penelitian, Prof. Ali juga memiliki berbagai hobi yang digelutinya sejak muda. Salah satunya adalah menonton film, terutama film India. Sejak kecil, ia telah menikmati film Bollywood karena akses bioskop di Ambarawa yang cukup mudah, sehingga ia dapat menonton berbagai film secara rutin.

Minatnya ini juga didukung oleh keluarganya yang turut menggemari film Bollywood.
Di samping menonton film, ia juga merupakan penggemar buku bergenre misteri dan detektif. Salah satu penulis favoritnya adalah Agatha Christie, dengan tokoh ikonik seperti Hercule Poirot dan Miss Marple. Ia menyukai novel detektif karena alur cerita yang penuh kejutan dan mengajak pembaca untuk berpikir serta menganalisis jalannya cerita.

Tak hanya itu, Prof. Ali juga mengagumi sosok BJ Habibie, yang dikenal sebagai tokoh dengan kecerdasan luar biasa dan visi besar. Ia terinspirasi oleh bagaimana Habibie mampu meraih pengakuan di tingkat internasional, sebuah pencapaian yang tidak mudah diraih oleh banyak orang. Menurutnya, Habibie adalah bukti nyata bahwa kerja keras, dedikasi, dan visi yang jelas dapat membawa seseorang menuju pencapaian luar biasa.

Dalam menjaga kesehatannya, Prof. Ali kini semakin aktif berolahraga. Ia rutin berjalan kaki dan berenang, meskipun ia lebih menyukai berjalan kaki karena lebih praktis dan tidak memerlukan waktu tambahan seperti pergi ke kolam renang. Berjalan kaki dapat dilakukan beberapa kali dalam seminggu untuk menjaga kebugaran dan memberikan banyak manfaat bagi tubuh.

Sebagai seorang akademisi dan praktisi di bidang gizi, Prof. Ali Khomsan telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam pendidikan, penelitian, serta edukasi publik mengenai pentingnya pola makan sehat. Dedikasinya sebagai dosen membuatnya tetap aktif mengajar, meneliti, serta berbagi ilmu dengan generasi muda.

Di luar profesinya, ia tetap menikmati berbagai hobi seperti menonton film India dan membaca novel detektif. Kombinasi antara dedikasi akademik dan minat pribadinya menunjukkan bahwa seorang ilmuwan tidak hanya berfokus pada dunia penelitian, tetapi juga memiliki keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan pengalaman dan kontribusinya, Prof. Ali Khomsan terus menjadi salah satu tokoh sentral dalam bidang Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga di Indonesia.***

Elsa Anastasya Wijaya, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Fariz Zulfikar: Jejak Langkah Asisten Dosen Inspiratif

0

Bogordaily.net – Fariz Zulfikar Hanif, seorang pemuda kelahiran Buah Batu, Bandung, pada 18 Mei 2003, adalah sosok inspiratif yang saat ini menjabat sebagai Asisten Dosen di Program Studi Peternakan Sekolah Vokasi IPB University. Dengan semangat belajar yang tinggi dan dedikasi luar biasa, Fariz telah menempuh perjalanan hidup yang penuh tantangan, kerja keras, serta berbagai pencapaian yang membanggakan.

Sejak kecil, Fariz telah menunjukkan minat yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ia mengawali pendidikannya di SDN Cimareme Indah, di mana ia mulai mengembangkan rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia sains. Ketertarikannya pada IPA terus berkembang hingga ia melanjutkan pendidikan ke SMPN 8 Cimahi. Di sana, Fariz dikenal sebagai siswa cerdas yang sering mendapatkan nilai tinggi dalam pelajaran.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP, Fariz melanjutkan perjalanan akademiknya ke SMAN 5 Cimahi dengan memilih jurusan IPA. Di masa SMA inilah ia tidak hanya fokus pada akademik tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan kewirausahaan. Masa-masa ini menjadi awal mula pembentukan karakter Fariz sebagai individu yang mandiri, pekerja keras, dan penuh semangat.

Masa SMA menjadi salah satu periode penting dalam hidup Fariz. Di usia muda, ia sudah mulai belajar untuk mandiri secara finansial. Fariz memulai usaha kecil-kecilan dengan menjual es susu beku dan salad. Setiap hari, ia berkeliling membawa coolbox untuk menawarkan dagangannya kepada teman-teman sekolah maupun masyarakat sekitar.

Tidak berhenti di situ, Fariz kemudian menciptakan produk jajanan sendiri yang diberi nama “Janda” atau singkatan dari Jajanan Lada. Produk ini mencakup keripik kaca, basreng (baso goreng), dan berbagai makanan pedas lainnya.

Hasil dari usahanya digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari seperti ongkos transportasi dan makan sehingga tidak membebani orang tuanya. Perjuangan ini menunjukkan betapa gigihnya Fariz dalam menghadapi tantangan hidup. Ia belajar bahwa kerja keras adalah kunci untuk mencapai kemandirian.

Selain berwirausaha, Fariz juga aktif dalam organisasi Paskibra sejak SMP hingga SMA. Ia bahkan pernah menjadi pelatih Paskibra di sekolahnya dan berhasil membawa timnya meraih berbagai penghargaan di tingkat kabupaten, kota, hingga nasional. Pengalaman ini tidak hanya mengasah kemampuan kepemimpinannya tetapi juga membentuk mentalnya untuk selalu berkompetisi secara sehat.

Perjalanan Menuju Dunia Akademis
Setelah lulus SMA, Fariz memiliki impian besar untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Ia mengikuti bimbingan belajar intensif dan mendapatkan nilai yang cukup baik. Namun sayangnya, ia tidak lolos seleksi tersebut. Meski sempat merasa kecewa, Fariz tidak menyerah. Ia kemudian mendaftar melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) dan dinyatakan lolos diterima di Program Studi Peternakan IPB University.

Fariz memilih jurusan peternakan karena ia melihat potensi besar di sektor ini. Menurutnya, sektor peternakan memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari, segala hal yang mendasari kebutuhan manusia berawal dari sumber energi. Keputusan ini menjadi titik awal perjalanan akademisnya yang penuh makna.

Prestasi dan Pengalaman Organisasi
Selama menempuh pendidikan di IPB University, Fariz aktif mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan. Ia pernah magang sebagai staf BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan kemudian dipercaya menjabat sebagai Wakil Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM Sekolah Vokasi IPB. Selain itu, ia juga menjadi Ketua Departemen Biro Internal Himpunan Mahasiswa Peternakan.

Tidak hanya itu, Fariz juga terpilih sebagai anggota BKMWA (Badan Kelengkapan Majelis Wali Amanat) mewakili fakultas Sekolah Vokasi. Dalam perannya ini, ia bertugas mengevaluasi kinerja rektor serta memberikan masukan strategis untuk pengembangan universitas. Pengalaman-pengalaman ini memperkaya wawasan dan keterampilannya dalam memimpin serta berkontribusi bagi komunitas akademis.

Perjalanannya menjadi Asisten Dosen Teladan
Kedekatan Fariz dengan dosen-dosen di Program Studi Peternakan membuka jalan baginya untuk menjadi asisten dosen. Awalnya, ia sering direkomendasikan oleh para dosen karena dinilai memiliki kemampuan akademis dan komunikasi yang baik. Namun perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada beberapa pihak yang meragukan kemampuannya dan bahkan mencibir bahwa ia tidak pantas menjadi asisten dosen.

Namun demikian, Fariz memilih untuk tidak terpengaruh oleh komentar negatif tersebut. Ia fokus pada tujuan utamanya: membuktikan bahwa dirinya mampu menjalankan tugas dengan baik. Dengan kerja keras dan dedikasi tinggi, Fariz berhasil lolos seleksi asisten dosen dan kini aktif mengajar sambil tetap menyelesaikan skripsinya.

Bagi Fariz, pekerjaan sebagai asisten dosen adalah sebuah anugerah besar. Selain dapat berbagi ilmu dengan mahasiswa lain, ia juga mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan para profesor tentang isu-isu terkini di sektor peternakan. Pengalaman ini juga membantunya memperluas jaringan profesional dengan para pemegang jabatan penting di IPB University.

Impian dan Rencana Masa Depan
Setelah menyelesaikan studinya nanti, Fariz bercita-cita untuk bekerja di sektor peternakan dengan fokus pada unggas—bidang yang sangat diminatinya sejak lama. Ia juga memiliki rencana besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi melalui beasiswa LPDP ke Australia. Impian ini sejalan dengan visinya untuk terus berkembang secara akademis dan profesional sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi sektor peternakan Indonesia.

Sebagai seseorang yang telah melalui berbagai tantangan hidup, Fariz memiliki pesan penting bagi mahasiswa lainnya. Beliau menegaskan bahwa sebagai seorang mahasiswa sudah seharusnya belajar dengan sungguh-sungguh tanpa terdistraksi oleh hal-hal yang tidak penting, selain itu, prioritaskan pendidikan karena itu adalah investasi terbesar dalam hidup. Ia juga menekankan pentingnya membangun relasi baik dengan sesama mahasiswa maupun dosen serta pihak eksternal yang relevan dengan dunia kuliah.

Kisah hidup Fariz Zulfikar Hanif adalah bukti nyata bahwa kerja keras, ketekunan, dan semangat pantang menyerah dapat membawa seseorang menuju kesuksesan meskipun harus menghadapi berbagai rintangan. Sebagai seorang asisten dosen teladan sekaligus individu yang mandiri sejak muda, Fariz telah menginspirasi banyak orang di sekitarnya untuk terus berjuang meraih mimpi-mimpi besar mereka tanpa pernah menyerah pada keadaan.***

Nazwa Safira Ramadhani

 

Masa Depan Desain Grafis: Hilangnya Profesi dan Dampaknya terhadap Komunikasi Visual

0

Bogordaily.net – Kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi, telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang, termasuk desain grafis. Kini, alat desain berbasis AI seperti Canva, Adobe Firefly, dan DALL-E memungkinkan siapa saja, bahkan mereka yang tidak memiliki latar belakang desain, untuk menciptakan karya visual dalam hitungan detik.

Hal ini memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan profesi desain grafis: apakah profesi ini akan tetap bertahan? Jika tidak, bagaimana dampaknya terhadap komunikasi visual?

Artikel ini akan mengeksplorasi bagaimana tren teknologi dapat mengancam keberadaan profesi desain grafis, hubungan antara berkurangnya peran desainer dengan efektivitas komunikasi visual, serta tantangan dan peluang yang mungkin dihadapi para desainer di masa mendatang.

Kemajuan Teknologi dan Ancaman bagi Desain Grafis
Revolusi AI telah mengubah cara industri kreatif beroperasi. Berbagai alat seperti Canva, Adobe Firefly, dan DALL-E memungkinkan pengguna menciptakan desain berkualitas tinggi hanya dengan memasukkan beberapa kata kunci.

Misalnya, pada tahun 2023, Canva telah digunakan oleh lebih dari 135 juta pengguna di seluruh dunia, sebagian besar bukan desainer profesional.

Adobe Firefly, yang diperkenalkan pada Maret 2023, memungkinkan pembuatan gambar, ilustrasi, dan tipografi hanya melalui perintah teks, sehingga mengurangi ketergantungan pada desainer manusia.

Kemudahan yang ditawarkan teknologi ini membuat desain lebih mudah diakses oleh khalayak luas. Laporan dari HubSpot menunjukkan bahwa sekitar 63% bisnis kecil telah mengandalkan alat desain mandiri seperti Canva untuk memenuhi kebutuhan visual mereka, menggantikan peran desainer grafis profesional.

Selain itu, perubahan pola kerja dalam industri kreatif semakin memperkuat tren ini. Banyak perusahaan besar mulai menggunakan teknologi otomatisasi untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi.

Contohnya, The Grid, sebuah platform berbasis AI, mengklaim mampu merancang situs web tanpa perlu campur tangan manusia. Dengan adanya tren ini, pekerjaan desain yang bersifat rutin atau berbiaya rendah semakin rentan untuk digantikan oleh kecerdasan buatan.

Dampak Hilangnya Desainer Grafis terhadap Komunikasi Visual
Jika profesi desain grafis menghilang, hal ini dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi visual. Seorang desainer profesional memiliki pemahaman mendalam tentang prinsip desain, psikologi warna, dan cara menyampaikan pesan melalui elemen visual.

Sebaliknya, desain yang dibuat oleh AI sering kali tidak mempertimbangkan aspek-aspek tersebut. Studi yang dilakukan oleh Nielsen Norman Group pada tahun 2022 menunjukkan bahwa desain yang dihasilkan AI kurang efektif dalam menyampaikan pesan yang kompleks, sehingga dapat mengurangi daya tarik komunikasi visual hingga 40%.

Di sisi lain, aspek estetika dan kreativitas juga menjadi perhatian. Desain yang dibuat AI cenderung generik karena sistem ini hanya mengolah data yang sudah ada. Kemampuan untuk menciptakan konsep unik dan relevan dengan konteks budaya atau sosial tetap menjadi keunggulan desainer manusia.

Contoh nyata dari karya yang berpengaruh adalah kampanye “Just Do It” dari Nike dan poster “Obama Hope”, yang dibuat dengan pemikiran strategis dan kreativitas yang tidak dapat digantikan oleh algoritma.

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah pada identitas visual sebuah brand. Desain otomatis sering kali tidak mampu menciptakan identitas visual yang konsisten dan kuat. Logo yang dihasilkan AI cenderung memiliki kesamaan dengan desain yang sudah ada, sehingga mengurangi daya tarik sebuah brand.

Menurut laporan dari Forbes, sebanyak 75% konsumen mengingat sebuah merek berdasarkan logonya, dan desain yang kurang menarik dapat menurunkan daya tarik hingga 60%.

Tantangan dan Peluang bagi Desainer di Masa Depan
Perubahan ini menghadirkan tantangan bagi para desainer grafis. Salah satu tantangan terbesar adalah persaingan dengan alat desain otomatis yang lebih cepat dan lebih murah.

Seiring dengan meningkatnya jumlah bisnis yang beralih ke platform desain mandiri, permintaan terhadap jasa desainer profesional untuk proyek sederhana mulai berkurang.

Namun, di tengah tantangan ini, ada pula peluang bagi desainer yang mampu beradaptasi. Salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan adalah peralihan ke peran yang lebih strategis, seperti konsultan kreatif atau spesialis UX/UI. Posisi ini membutuhkan wawasan mendalam tentang audiens serta pengalaman pengguna, sesuatu yang sulit untuk ditiru oleh AI.

Selain itu, kreativitas tingkat tinggi tetap menjadi kekuatan utama desainer manusia. Desainer yang dapat menghasilkan karya inovatif dan bermakna, terutama dalam proyek kompleks seperti kampanye iklan atau identitas visual perusahaan, akan tetap memiliki peran penting di industri kreatif. Dalam lanskap desain yang semakin dipenuhi oleh karya generik buatan AI, desain dengan sentuhan manusia justru akan semakin bernilai.

Kesimpulan
Meskipun perkembangan teknologi mengancam keberadaan profesi desain grafis, peluang tetap terbuka bagi mereka yang dapat beradaptasi dengan perubahan. Berkurangnya peran desainer dalam industri ini dapat berdampak pada kualitas komunikasi visual, terutama dalam aspek kreativitas dan efektivitas pesan yang disampaikan. Namun, dengan meningkatkan keterampilan yang tidak dapat digantikan oleh AI, para desainer tetap dapat bertahan dan berkembang di masa depan.

Desain grafis mungkin akan mengalami transformasi, tetapi kebutuhan akan komunikasi visual yang efektif dan kreatif tetap akan ada. Tantangan terbesar bagi para desainer adalah menemukan keseimbangan antara penggunaan teknologi dan sentuhan manusia dalam menciptakan karya yang bermakna. Masa depan bukanlah akhir bagi profesi ini, melainkan peluang untuk berevolusi dan menciptakan nilai baru dalam industri kreatif.***

Muhammad Raynafa Adzani
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB

Perjalanan Tanpa Peta

Bogordaily.net – Perjalanan ini bukan sekadar tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar menjejaki tanah baru atau menaklukkan peta yang belum pernah kulalui. Perjalanan, bagiku, adalah tentang menemukan kembali diri sendiri di tengah pergerakan waktu. Tentang memahami bahwa jarak bukan hanya diukur dari kilometer yang ditempuh, tetapi juga dari sejauh mana hati mampu meresapi makna di setiap langkah.

Kali ini, aku tidak bergegas menuju destinasi wisata atau mengejar pemandangan tertentu. Aku hanya datang ke Sukabumi, menghabiskan waktu di sebuah hotel dan membiarkannya berjalan dengan ritmenya sendiri. Aku tidak mencari sesuatu yang baru untuk dikagumi, aku hanya ingin menemukan kembali apa yang selama ini luput, keheningan yang mendamaikan, kebersamaan yang tak butuh kata-kata.

Setelah sekian lama hidup dalam kesibukan, dikejar jadwal dan target yang tak ada habisnya, aku menyadari bahwa bukan destinasi yang aku cari, melainkan jeda. Aku rindu berada di suatu tempat tanpa harus memikirkan ke mana langkah selanjutnya. Aku ingin menikmati hari tanpa rencana, membiarkan tubuhku bersandar pada waktu tanpa tekanan untuk “memanfaatkan” setiap detiknya.

Di hotel ini, aku menemukan ruang yang selama ini kurindukan, ruang untuk diam, untuk bernapas tanpa terburu-buru. Tidak ada suara notifikasi yang mendesak, tidak ada tugas yang menunggu untuk diselesaikan. Hanya ada aku, keluargaku, dan keheningan yang terasa lebih seperti pelukan daripada kekosongan.

Kami tidak banyak bicara, tetapi justru itulah yang membuat momen ini begitu berharga. Ada kenyamanan dalam kebersamaan yang tidak membutuhkan kata-kata. Duduk di ruang santai hotel, menyesap teh hangat sambil melihat hujan turun perlahan di luar jendela.

Berbagi tawa kecil di antara obrolan ringan yang tak perlu dipaksakan. Tidak ada agenda khusus, tidak ada tempat yang harus dikunjungi atau waktu yang harus diatur. Semuanya berjalan begitu saja, tanpa paksaan, tanpa aturan.

Saat malam datang, aku berdiri di balkon kamar, menatap langit yang dihiasi bintang-bintang kecil. Angin membawa aroma hujan yang masih tersisa, dan aku membiarkan diriku larut dalam keheningan yang menenangkan.

Tak ada hiruk-pikuk kota, tak ada suara klakson atau obrolan yang memecah ketenangan. Hanya aku, angin malam, dan detak waktu yang berjalan perlahan. Aku menyadari betapa jarangnya aku bisa menikmati momen seperti ini, di mana aku tidak perlu menjadi siapa-siapa, tidak perlu memikirkan apa-apa.

Hanya ada aku yang hadir di saat ini, tanpa perlu merancang masa depan atau mengingat masa lalu.

Di kamar hotel, aku menikmati hal-hal kecil yang selama ini luput dari perhatianku. Aroma selimut yang bersih, suara air yang mengalir dari kamar mandi, kelembutan kasur yang menyambut tubuhku setelah hari yang panjang.

Aku membiarkan diriku tidur tanpa gangguan, tanpa harus mengatur alarm untuk esok pagi. Rasanya seperti hadiah kecil yang diberikan oleh waktu, kesempatan untuk benar-benar beristirahat, bukan hanya untuk tubuhku, tetapi juga untuk pikiranku.

Di pagi hari, sinar matahari menyelinap melalui celah tirai, membangunkanku dengan lembut. Aku bangun tanpa terburu-buru, menikmati setiap detik pagi tanpa tekanan untuk segera memulai hari.

Sarapan terasa lebih nikmat karena aku memakannya dengan tenang, tidak diselingi oleh notifikasi atau pikiran yang melayang ke pekerjaan dan tugas yang harus dikerjakan.

Aku duduk bersama keluargaku, menikmati percakapan sederhana yang biasanya hanya terjadi di sela-sela kesibukan. Tidak ada yang terburu-buru, tidak ada yang merasa perlu untuk mengisi keheningan dengan obrolan yang dipaksakan.

Semua berjalan dengan alami, seperti melodi yang mengalun tanpa perlu diarahkan.
Aku menyadari bahwa yang membuat perjalanan ini begitu berharga bukanlah pemandangan atau tempat-tempat yang kukunjungi, melainkan kebersamaan dan ketenangan yang kudapatkan.

Perjalanan ini mengingatkanku bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pengalaman baru atau tempat-tempat jauh. Terkadang, kebahagiaan bisa ditemukan dalam momen-momen sederhana, di antara orang-orang yang kita sayangi, di tengah keheningan yang tidak terasa sepi.

Ketika akhirnya tiba waktunya pulang, aku merasa berbeda. Aku kembali dengan hati yang lebih ringan, dengan pikiran yang tidak lagi terbebani oleh keharusan untuk selalu bergerak.

Aku belajar bahwa perjalanan bukan hanya tentang ke mana kita pergi, tetapi bagaimana kita menikmati waktu yang ada. Dan di antara kesibukan yang tak ada habisnya, aku tahu bahwa sesekali, aku harus memberi diriku sendiri ruang untuk berhenti, menikmati sunyi, dan merayakan kebersamaan yang tenang.
Karena mungkin, justru di saat kita membiarkan diri kita tidak melakukan apa-apa, kita akhirnya menemukan segalanya.***

Elsa Anastasya Wijaya, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB