Monday, 6 April 2026
Home Blog Page 836

Menapaki Makna Hidup di Desa Kasepuhan Ciptagelar

0

Bogordaily.net – Perjalanan kami ke Desa Kasepuhan Ciptagelar bermula dari rasa penasaran terhadap ketahanan pangan dan pengembangan sumber daya manusia. Saat mencari informasi di YouTube, kami menemukan sebuah video tentang Aba Ugi, seorang kepala adat di Desa Ciptagelar.

Kisah Aba Ugi sangat menginspirasi, mengingat ia hanya lulusan SMA, tetapi memiliki dedikasi tinggi untuk memajukan daerahnya.

Lebih luar biasa lagi, di usianya yang masih muda, sekitar 33 tahun, ia sudah dipercaya memimpin desanya.

Terpukau oleh ceritanya, kami memutuskan untuk mengunjungi Ciptagelar demi mempelajari lebih dalam tentang kehidupan di sana.

Pada awalnya, kami tidak memiliki rencana pasti mengenai apa yang akan dipelajari, tetapi kami yakin bahwa perjalanan ini akan memberikan pengalaman berharga.

Salah satu aspek unik dari Ciptagelar adalah keberadaan leuit, yaitu lumbung tempat menyimpan hasil panen padi. Padi yang telah dipanen diikat hingga berbentuk seperti ‘pocongan’ sebelum akhirnya disimpan di leuit.

Awalnya, tujuan utama kami bukanlah mempelajari leuit, tetapi setelah berada di sana, kami justru memperoleh wawasan yang lebih luas tentang kehidupan.

Sepanjang perjalanan, kami menyadari bahwa kehidupan memiliki banyak kesamaan dengan perjalanan fisik yang kami lalui.

Setiap manusia memiliki tujuan, begitu pula dalam perjalanan ini. Tidak jarang, seseorang tersesat dalam hidup, sebagaimana kami juga mengalami kesulitan menemukan jalan ke desa.

Saat mencoba kembali ke jalur yang benar, tantangan yang dihadapi justru semakin berat jalan berbatu, tanjakan dan turunan terjal, ban motor yang kempes, serta motor yang mengalami overheat.

Semua ini mengajarkan bahwa menuju kebenaran atau tujuan yang benar memang bukan perkara mudah, tetapi dengan tekad yang kuat, semua rintangan dapat dilewati.

Perjalanan ini juga menjadi ujian mental, moral, dan material bagi kami. Kami menghadapi rasa lelah, kelaparan, kehabisan bensin, bahkan uang yang semakin menipis.

Namun, kami belajar bahwa dalam kondisi sesulit apa pun, prioritas tetap harus dijaga. Misalnya, kami tetap menjalankan ibadah meskipun harus sholat di tepi sawah dengan beralaskan jaket.

Hal ini menunjukkan bahwa jika sesuatu benar-benar menjadi prioritas, maka akan selalu ada cara untuk mewujudkannya.

Selain itu, perjalanan ini juga memperlihatkan karakter dan loyalitas masing-masing individu. Ada teman kami yang ikut serta tanpa banyak bertanya, hanya karena percaya pada ajakan kami.

Ada pula yang sempat ingin menyerah di tengah perjalanan tetapi tetap melanjutkan karena merasa sudah terlalu jauh untuk berbalik arah.

Dari sini, kami memahami bahwa dalam perjalanan, baik fisik maupun kehidupan, keyakinan terhadap tujuan sangat penting.

Kami juga belajar banyak mengenai moralitas dari masyarakat Ciptagelar. Di kota, menerima tamu asing dan langsung memberikan tempat menginap serta makanan mungkin terdengar tidak biasa, tetapi bagi masyarakat desa, hal tersebut adalah bentuk memanusiakan manusia.

Mereka memiliki prinsip bahwa beras tidak untuk dijual, melainkan untuk dibagikan kepada sesama. Sikap ini mencerminkan nilai gotong royong yang kuat dalam budaya mereka.

Selain itu, kami belajar tentang bagaimana mereka menjaga keseimbangan dengan alam. Setelah panen raya, mereka memberikan waktu bagi tanah untuk beristirahat sebelum kembali menanam, sehingga kesuburan tanah tetap terjaga.

Pendekatan ini tidak hanya menunjukkan penghormatan mereka terhadap alam, tetapi juga sejalan dengan prinsip ekologi yang benar.

Dari perjalanan ini, kami menyadari bahwa tujuan hidup yang jelas harus diperjuangkan dengan penuh tekad. Di tengah perjalanan, rasa ingin menyerah pasti muncul, tetapi kebahagiaan sebenarnya sangat sederhana misalnya, saat akhirnya menemukan jalan yang lebih landai dan mulus setelah melalui medan yang sulit. Momen seperti ini mengajarkan kami untuk lebih bersyukur atas hal-hal kecil dalam hidup.

Kesulitan yang kami alami sepanjang perjalanan membuat kami lebih menghargai setiap proses, bukan hanya hasil akhirnya. Banyak orang yang hanya melihat keindahan Desa Ciptagelar tanpa mengetahui perjuangan untuk mencapainya.

Begitu pula dalam hidup, sering kali kita hanya melihat keberhasilan seseorang tanpa memahami usaha dan pengorbanan di baliknya. Dari perjalanan ini, kami belajar bahwa hidup adalah perjalanan penuh makna, dan setiap tantangan yang dihadapi adalah bagian dari pembelajaran menuju tujuan yang lebih baik.***

Fayyaz Ahsan Widyanto J0401231392
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

Perjalanan dari Jakarta ke Maroko: Mengunjungi Orang Tua dan Menjelajahi Keindahan Negeri Maghribi

0

Bogordaily.net – Pada tanggal 16 Desember 2024, saya memulai perjalanan panjang dari Jakarta menuju Maroko untuk mengunjungi ibu saya yang sedang bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Rabat. Sejak beberapa bulan sebelumnya, saya telah menyiapkan segala keperluan perjalanan, mulai dari tiket pesawat, visa, hingga pakaian yang sesuai dengan musim dingin di Maroko.

Ini adalah perjalanan yang sangat saya nantikan, bukan hanya karena ingin bertemu ibu setelah sekian lama, tetapi juga karena saya ingin mengeksplorasi budaya dan keindahan negeri Maghribi tersebut. Selain itu, perjalanan ini merupakan pengalaman pertama saya keluar negeri, dan saya melakukan solo travelling sepanjang perjalanan ini.

Perjalanan Jakarta – Maroko dengan Transit di Turki
Pada malam tanggal 16 Desember 2024, saya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, menuju Malaysia untuk penerbangan awal. Dari Kuala Lumpur, saya melanjutkan penerbangan ke Istanbul, Turki, yang menjadi titik transit saya selama lima jam.

Bandara Istanbul sangat besar dan modern, dengan berbagai fasilitas yang memanjakan para penumpang. Saya memanfaatkan waktu transit ini untuk beristirahat sejenak dan menikmati suasana bandara yang ramai.

Setelah transit, saya kembali melanjutkan penerbangan menuju Maroko dengan tujuan akhir Bandara Mohammed V di Casablanca. Setelah perjalanan udara yang panjang dan melelahkan, akhirnya saya tiba di Maroko pada tanggal 17 Desember 2024.

Begitu tiba, saya merasakan hawa sejuk khas musim dingin yang langsung menyambut saya. Dari Casablanca, saya melanjutkan perjalanan ke Rabat, ibu kota Maroko, tempat ibu saya tinggal.

Tinggal di Rabat Bersama Ibu
Sesampainya di Rabat, saya disambut hangat oleh ibu pemilik apartemen di apartemennya. Ibu saya tinggal di sebuah apartemen yang berlokasi tidak jauh dari kantor kedutaan dan berada dalam satu lantai dengan pemiliknya.

Lingkungan sekitar apartemen sangat nyaman dan tenang, dengan arsitektur khas Maroko yang indah. Selama di sana, saya berkesempatan mengunjungi kantor kedutaan dan melihat bagaimana ibu bekerja sebagai perwakilan Indonesia di negeri Maghribi ini.

Menikmati Keindahan Ifrane dan Pengalaman Pertama Melihat Salju
Salah satu pengalaman paling berkesan selama di Maroko adalah perjalanan ke Ifrane. Kota ini terkenal dengan julukan “Little Switzerland” karena keindahan alamnya yang menyerupai wilayah pegunungan di Eropa. Ini adalah pertama kalinya saya melihat dan merasakan salju secara langsung.

Keindahan pegunungan yang tertutup salju benar-benar memukau, dan saya tidak melewatkan kesempatan untuk bermain salju serta mengambil banyak foto di sana. Suhu yang dingin membuat pengalaman ini semakin berkesan, dan saya merasa seperti sedang berada di benua lain.

Menjelajahi Kota-Kota Bersejarah: Marrakesh dan Tangier
Selama di Maroko, saya juga mengunjungi beberapa kota bersejarah yang memiliki daya tarik uniknya masing-masing.

Salah satunya adalah Marrakesh, kota yang terkenal dengan pasar tradisionalnya, atau yang dikenal sebagai “souk.” Di sini, saya menyusuri Jemaa el-Fnaa, alun-alun yang selalu ramai dengan pedagang, musisi jalanan, dan pertunjukan budaya khas Maroko.

Arsitektur di Marrakesh didominasi oleh bangunan bernuansa merah bata, yang membuat kota ini dijuluki “Kota Merah.” Saya juga menyempatkan diri untuk berbelanja di medina, kawasan pasar tua yang penuh dengan barang-barang unik seperti karpet, lampu mozaik, dan rempah-rempah khas Maroko.

Selain itu, saya juga mengunjungi Tangier, kota yang terletak di utara Maroko dan berbatasan langsung dengan Selat Gibraltar. Tangier memiliki sejarah panjang sebagai kota pelabuhan yang menghubungkan Afrika dan Eropa.

Salah satu destinasi yang saya kunjungi di sini adalah Gua Hercules, sebuah gua legendaris yang diyakini sebagai tempat peristirahatan Hercules dalam mitologi Yunani. Dari dalam gua, saya bisa melihat pemandangan laut yang menakjubkan melalui celah berbentuk menyerupai peta Afrika.

Tidak jauh dari sana, saya juga mengunjungi Cap Spartel, titik paling barat laut Afrika yang menawarkan panorama laut Atlantik dan Mediterania. Pemandangan matahari terbenam dari Cap Spartel sungguh luar biasa, dan saya menikmati momen tersebut dengan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.

Mengunjungi Masjid Hassan II di Casablanca
Salah satu destinasi yang tidak boleh dilewatkan di Maroko adalah Masjid Hassan II di Casablanca. Masjid ini adalah salah satu yang terbesar di dunia dan terletak di tepi pantai Atlantik, sehingga memberikan pemandangan laut yang spektakuler.

Keindahan masjid ini terlihat dari arsitektur megahnya yang dihiasi ukiran khas Maroko, dengan menara setinggi 210 meter yang menjadi ikon kota Casablanca. Saya berkesempatan untuk masuk dan melihat interior masjid yang menakjubkan, dengan lampu gantung kristal yang mewah serta lantai marmer yang indah.

Karakter Unik Orang Maroko
Salah satu hal menarik yang saya amati selama di Maroko adalah karakter masyarakatnya yang sangat berbeda dengan Indonesia.

Contohnya, ketika menyebrang jalan, orang Maroko cenderung langsung melangkah tanpa terlalu memperhatikan kendaraan yang lalu lalang.

Hal lain yang unik adalah jika terjadi kecelakaan di jalan, kendaraan yang terlibat biasanya dibiarkan begitu saja di tengah jalan, karena pemiliknya harus menunggu klaim dari asuransi sebelum bisa mengurus kendaraan mereka.

Namun, di balik kebiasaan unik itu, orang Maroko terkenal sangat ramah. Saya berkesempatan berbicara dengan beberapa warga setempat dan melatih kemampuan bahasa Inggris saya.

Meskipun begitu, sebagian besar masyarakat menggunakan bahasa Arab Darija dan Prancis dalam kehidupan sehari-hari, sehingga komunikasi menjadi tantangan tersendiri bagi saya.

Menjelajahi Kuliner Khas Maroko
Selain menikmati keindahan alam dan budaya, saya juga berkesempatan mencicipi berbagai hidangan khas Maroko. Salah satu makanan yang saya coba adalah tajin, sejenis masakan berbahan dasar daging yang dimasak dalam wadah keramik berbentuk kerucut.

Rasa rempahnya yang khas membuat hidangan ini sangat lezat. Selain itu, saya juga mencicipi daging kambing bakar yang dimasak dengan teknik khas Maroko, serta couscous, makanan berbahan dasar gandum yang sering disajikan dengan sayuran dan daging.

Kembali ke Indonesia
Setelah satu bulan berada di Maroko, akhirnya saya harus kembali ke Indonesia. Perjalanan pulang saya tempuh dengan rute dari Casablanca menuju Doha, Qatar, sebelum melanjutkan penerbangan ke Jakarta. Saya memiliki waktu transit selama tiga jam di Bandara Hamad, Doha. Namun, penerbangan saya mengalami delay hampir satu jam, sehingga waktu transit saya menjadi sangat singkat.

Saya pun berlari di bandara Qatar untuk mengejar penerbangan selanjutnya, dan dengan napas terengah-engah, saya akhirnya tiba di pesawat sebagai penumpang terakhir yang naik.

Meskipun perjalanan ini telah berakhir, pengalaman dan kenangan yang saya dapatkan di Maroko akan selalu membekas dalam ingatan saya. Dari keindahan Ifrane yang bersalju, warna-warni pasar di Marrakesh, mitos kuno Gua Hercules, hingga keindahan Masjid Hassan II di Casablanca, semuanya menjadi bagian dari perjalanan solo travelling pertama saya ke luar negeri yang tidak akan saya lupakan.***

Muhammad Farhan Aufar (Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB University)

 

Harga Dolar AS, Turun Dalam Semalam: Jadi Sebenarnya Salah Siapa?

0

Oleh: Muhammad Farhan Aufar (Mahasiswa Prodi Komunikasi, Sekolah Vokasi, IPB University)

Harga dolar AS selalu mengalami peningkatan, jarak terdekat rupiah dengan dolar AS terdapat pada tahun 1996 yaitu di angka Rp.2,383. Mulai dari tahun tersebut hingga sekarang harga dolar terus meningkat drastis, faktor utama hal tersebut bisa terjadi ialah harga tukar rupiah yang kian melemah hal tersebut di sebabkan karena inflasi yang marak pada awal tahun 2000an.

Maka dari itu berita tentang penurunan harga dolar AS pada 1 Februari 2025 sangat menggemparkan banyak kalangan, penurunan yang terjadi itu sebesar 50% yang sebelumnya Rp 16.275 berubah menjadi Rp 8.170.

Isu penurunan harga dolar Amerika sempat menjadi obrolan hangat beberapa waktu lalu. Harga dolar Amerika Serikat turun hingga 50% hal tersebut terjadi pada 1 Februari 2025, Penurunan harga tersebut membuat seluruh kalangan heboh, terlebih di aplikasi media sosial X.

Hal yang paling banyak muncul dan menjadi buah bibir orang-orang ketika terjadi hal tersebut adalah karena dolar merupakan salah satu mata uang terkuat di dunia banyak orang yang menyimpan dolar AS sebagai sarana investasi karena harganya yang selalu meningkat, penurunan harga kemaren membuat heboh banyak orang karena banyak yang tidak percaya mata uang sebesar dolar AS bisa turun dalam waktu semalam saja.

Terpantau hingga Sabtu (1/2) petang, kurs dolar AS masih berada di Rp 8.170. Itu artinya nilai tukar dolar ini anjlok hingga 50%. Nilai tukar dolar Rp 8.170 di Google itu merupakan data pada 1 Februari 2009. Ada kemungkinan bila raksasa teknologi itu tengah mengalami kendala atau kesalahan menyampaikan data.

Ternyata hal tersebut merupakan kesalahan sistem Google, hal tersebut telah dikonfirmasi berbagai pihak seperti Bank Indonesia dan pihak Google Indonesia sendiri. Kesalahan tersebut diyakini sebagai salahnya pengambilan data dari yang seharusnya harga data kurs pada 1 Februari 2025 menjadi data harga kurs pada 1 Februari 2009.

Setelah dilakukanya konfirmasi hal tersebut, banyak pihak yang merasa lega akan harga dolar AS yang tetap diangka 16 ribu. Semua orang yang memiliki dolar dirumahnya banyak yang mengambil langkah aman dengan menukarkan uangnya setelah terjadi hal konfirmasi tersebut.

Fenomena ini menggaris bawahi pentingnya verifikasi informasi dari sumber resmi sebelum mengambil kesimpulan atau tindakan, terutama terkait data ekonomi yang sensitif. Mengandalkan satu sumber informasi tanpa melakukan verifikasi dapat menimbulkan kesalah pahaman dan potensi kerugian.

Selain itu, kejadian ini juga menyoroti peran platform teknologi dalam penyebaran informasi. Kesalahan pada platform besar seperti Google dapat memiliki dampak luas, mengingat banyaknya pengguna yang mengandalkan informasi tersebut. Oleh karena itu, penting bagi penyedia layanan informasi untuk memastikan akurasi dan keandalan data yang mereka tampilkan.

Dalam konteks ini, masyarakat diharapkan lebih kritis dan bijak dalam menerima informasi, terutama yang berkaitan dengan data finansial. Selalu pastikan untuk memverifikasi informasi dari sumber resmi dan terpercaya sebelum mengambil keputusan yang dapat berdampak signifikan.

Maka dari itu diperlukanya kemapuan literasi media yang baik dalam menanggulangi berita-berita seperti ini. Jika terdapat berita yang belum pasti kebenaranya maka harus terus melakukan pengawasan secara berkala terkait berita tersebut dan jangan beranggapan bahwa teknologi sebesar perusahaan Google tidak pernah melakukan salah. Teknologi ada untuk mempermudah bukan memperbudak manusia.***

 

Meniti Karier dari Nol: Perjalanan Andri Hendriana di Dunia Akuakultur

0

Bogordaily.net – Sejak muda, Andri Hendriana tidak pernah membayangkan bahwa dunia perikanan akan menjadi bagian besar dalam hidupnya. Berasal dari keluarga wirausaha, jalannya menuju bidang ini terjadi secara tidak terduga.

Namun, seiring waktu, rasa ingin tahunya berkembang menjadi dedikasi penuh terhadap penelitian, pendidikan, dan pengembangan perikanan budidaya (akuakultur) di Indonesia.

Kini, ia bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga mentor bagi generasi muda yang ingin memahami lebih dalam tentang dunia perikanan.

Andri Hendriana menghabiskan seluruh jenjang pendidikan di Kota Bogor, dari TK hingga S3. Perjalanan akademiknya di dunia perikanan dimulai ketika ia diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur undangan (USMI) pada tahun 2002.

Awalnya, pilihannya jatuh pada jurusan Budidaya Perairan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) karena jurusan tersebut terdengar menarik. Namun, seiring berjalannya waktu, ketertarikannya terhadap bidang ini semakin bertambah.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1 pada tahun 2006, Andri melanjutkan studi magister (S2) bidang Ilmu Akuakultur di IPB pada tahun 2011, kemudian pada tahun 2018 melanjutkan kembali studi studi doktor (S3) pada bidang yang sama.

Ia memilih untuk tetap fokus di bidang perikanan karena melihat potensinya yang besar dalam sebagai ketahanan pangan dan ekonomi Indonesia.

Keputusan untuk melanjutkan studi hingga jenjang doktoral juga didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi serta dukungan dari para mentor yang membimbingnya selama menempuh pendidikan.

Sebelum terjun sepenuhnya ke dunia akademik, Andri aktif dalam berbagai proyek perikanan budidaya di berbagai daerah, terutama bekerja sama dengan dosen pembimbingnya.

Pengalaman lapang ini memberikan wawasan praktis yang memperkaya pemahamannya tentang dunia akuakultur terutama untuk kebutuhan vokasi IPB.

Pada tahun 2007, ia mulai mengajar di Program Diploma IPB, sebelum menjadi Sekolah Vokasi IPB pada tahun 2018, hal ini menjadi awal dari karirnya sebagai seorang akademisi.

Hingga saat ini, ia masih aktif dalam dunia pendidikan tinggi, mengajar, meneliti, dan membimbing mahasiswa yang tertarik di bidang perikanan. Bagi Andri, menjadi dosen adalah panggilan untuk berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa.

Ia menyadari bahwa sektor swasta mungkin menawarkan keuntungan finansial yang lebih besar, namun ia berpikir bahwa berkontribusi dalam membangun generasi penerus bangsa jauh lebih berharga.

Sebagai seorang akademisi, Andri Hendriana menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia aktif menulis artikel ilmiah yang dapat ditemukan di Google Scholar serta telah menerbitkan dua buku.

Buku pertamanya, yang terbit pada tahun 2010, membahas budidaya ikan lele berdasarkan pengalamannya usahanya. Buku kedua membahas budidaya ikan kerapu, hasil kerja sama dengan dosen dari Universitas Sriwijaya. Selain itu, ia juga rutin melakukan penelitian dan aktif dalam berbagai kegiatan akademik.

Andri Hendriana mengatakan bahwa salah satu pengalaman berharga dalam perjalanan akademiknya adalah bimbingan dari dua sosok yang sangat menginspirasinya, yakni almarhum Prof. Dr. Ir. Muhammad Zairin Junior, M.Sc dan almarhum Dr. Ir. Nur Bambang Priyo Utomo, M.Si.

Mereka bukan hanya menjadi dosen pembimbingnya selama S1, tetapi juga mentor yang mengajaknya terjun langsung ke dunia perikanan. Selama dua tahun, Andri turut membantu usaha tambak udang mereka di Banten, yang semakin memperkaya pemahamannya tentang sektor akuakultur.

Pengalaman bekerja langsung di tambak menjadi pelajaran berharga bagi Andri dalam memahami berbagai tantangan di industri perikanan, seperti pengelolaan air, pakan, dan kesehatan ikan.

Ia menyadari bahwa teori yang dipelajari di kelas harus dilengkapi dengan pengalaman lapangan agar dapat menghasilkan solusi nyata bagi industri perikanan di Indonesia.

Meski perikanan memiliki potensi besar, minat mahasiswa terhadap bidang ini masih terbatas. Padahal, kebutuhan pangan berbasis protein ikan terus meningkat, menciptakan peluang luas bagi lulusan di bidang ini.

Oleh karena itu, Andri terus berupaya mengedukasi mahasiswa tentang pentingnya sektor perikanan dan membuka wawasan mereka terhadap peluang yang ada.

Bagi Andri, perikanan bukan sekadar bidang studi, melainkan masa depan yang menjanjikan. Ia percaya bahwa selama air masih ada di bumi, akuakultur tidak akan mati.

Seperti yang ia sampaikan bahwa, “As long as water still on this earth, aquaculture never die.” Kalimat ini bukan sekadar ungkapan, tetapi juga prinsip yang ia yakini dalam menjalani perannya sebagai akademisi dan praktisi di dunia perikanan.

Dalam menjalani kehidupannya, ia selalu memegang teguh prinsip “mempermudah urusan orang lain.” Ia percaya bahwa dengan membantu orang lain, maka seseorang juga sedang menjalankan bentuk ibadah dan berkontribusi bagi masyarakat.

Prinsip ini ia terapkan baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam profesinya sebagai dosen.

Sebagai seorang akademisi, ia ingin terus memberikan ilmu yang bermanfaat bagi mahasiswanya dan membantu mereka mencapai potensi terbaik.

Ia juga selalu membuka ruang diskusi bagi mahasiswa yang ingin belajar lebih dalam tentang perikanan dan dunia akademik.

Ke depannya, ia berharap dapat terus berkontribusi dalam dunia akademik dan tetap sehat agar bisa mengabdikan dirinya bagi pendidikan. Ia juga berharap perkembangan digital dapat dimanfaatkan secara positif dalam pendidikan, sehingga kualitas sumber daya manusia di Indonesia semakin meningkat.

Dengan ilmu dan pengalaman yang dimilikinya, Andri Hendriana ingin terus membangun generasi penerus yang lebih baik, terutama dalam dunia perikanan dan akademik secara luas.

Selain itu, ia berharap agar lebih banyak mahasiswa yang tertarik untuk mendalami dunia perikanan. Menurutnya, sektor ini memiliki peluang besar yang masih belum dimanfaatkan secara optimal.

Jika lebih banyak generasi muda yang terjun ke bidang ini dengan bekal ilmu dan inovasi, maka industri perikanan Indonesia dapat berkembang lebih pesat dan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.

Melalui perjalanan hidupnya, Andri Hendriana membuktikan bahwa dedikasi dan ketekunan dalam satu bidang dapat membawa perubahan besar. Ia tidak hanya menjadi akademisi, tetapi juga seorang mentor yang terus berusaha memberikan dampak positif bagi dunia perikanan dan pendidikan di Indonesia.***

Khansa Saniyya Adlina

Menemukan Diri Kembali di Museum Toeti Heraty

0

Bogordaily.net – Ada sesuatu yang selalu terasa menenangkan saat mengunjungi galeri seni. Mungkin karena ruangannya yang sunyi, mungkin juga karena setiap karya seni seperti berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti jika kita benar-benar memperhatikannya. Kemarin, saya memutuskan untuk meluangkan waktu sejenak dari kesibukan dan mengunjungi Museum Toeti Heraty di Jakarta.

Perjalanan dimulai dari Bogor, tempat saya naik KRL menuju Stasiun Gondangdia. Perjalanan dengan KRL selalu membawa nuansa tersendiri, melihat berbagai orang berlalu-lalang dengan tujuan mereka masing-masing.

Setibanya di Stasiun Gondangdia, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit menuju museum yang terletak di Jl. HOS. Cokroaminoto No. 9-11, Menteng, Jakarta Pusat. Kawasan Menteng sendiri memiliki atmosfer yang berbeda jalanannya rapi, bangunan-bangunan tua berdiri dengan elegan, dan suasana sekeliling terasa tenang meski masih berada di tengah ibu kota.

Museum Toeti Heraty, yang juga dikenal sebagai Cemara 6 Galeri-Museum, didirikan oleh Prof. Dr. Toeti Heraty N Roosseno pada tahun 1993. Awalnya merupakan rumah pribadi, museum ini kini berfungsi sebagai ruang pameran seni yang menampilkan berbagai karya lukisan, patung, dan instalasi seni.

Suasananya hangat dan intim, jauh dari kesan formal seperti museum besar lainnya. Ada perasaan nyaman yang muncul begitu saya memasuki area museum, seolah-olah saya sedang berkunjung ke rumah seseorang yang sangat mencintai seni.

Di bagian depan, terdapat taman kecil yang asri dengan kolam ikan yang membuat suasana semakin tenang. Saya melangkah masuk ke ruang pamer utama yang memajang koleksi pribadi Prof. Dr. Toeti Heraty, termasuk karya-karya dari seniman ternama seperti Salim dan Mochtar Apin. Beberapa lukisan menggambarkan potret manusia dengan ekspresi mendalam, sementara yang lain menyajikan komposisi abstrak yang penuh warna.

Selain ruang pamer utama, terdapat juga ruang belakang yang sering digunakan untuk berbagai acara diskusi seni, pertunjukan puisi, dan presentasi video art. Ruang ini terasa lebih dinamis dibandingkan dengan ruang pamer utama, mencerminkan bagaimana museum ini bukan sekadar tempat menyimpan karya seni, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi komunitas seni dan budaya.

Harga tiket masuk ke museum ini cukup terjangkau, Rp. 35.000 Untuk umum dan Rp. 25.000 Untuk pelajar dan mahasiswa. Museum ini buka dari Selasa hingga Sabtu, mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.
Selain menikmati koleksi seni, pengunjung juga bisa bersantai di kafe kecil yang berada di dalam area museum, atau membeli beberapa suvenir bertema seni di toko yang tersedia.

Ketika mengunjungi tempat seperti ini, saya selalu merasa lebih terhubung dengan diri sendiri. Ada sesuatu tentang galeri seni yang membawa saya kembali ke inti dari siapa saya sebenarnya.

Seseorang yang menikmati seni bukan hanya sebagai sesuatu yang dilihat, tetapi juga sebagai sesuatu yang dirasakan. Duduk di bangku yang menghadap salah satu lukisan, saya membiarkan diri tenggelam dalam pikiran saya sendiri, mencoba memahami cerita yang ingin disampaikan oleh para seniman.

Selama beberapa jam di museum ini, saya merasa seolah-olah dunia luar menghilang. Tidak ada kebisingan lalu lintas, tidak ada notifikasi ponsel yang terus-menerus berbunyi, hanya ada saya dan karya seni di hadapan saya.

Ini adalah pengalaman yang jarang bisa ditemukan di tempat lain, dan itulah yang membuat saya selalu kembali ke galeri seni setiap kali merasa perlu melarikan diri sejenak dari kesibukan.

Sebelum pulang, saya sempat berbincang sebentar dengan salah satu staf museum. Dari obrolan itu, saya mengetahui bahwa Museum Toeti Heraty juga sering menjadi tempat bagi pameran seni temporer, di mana seniman-seniman muda mendapatkan kesempatan untuk memamerkan karya mereka.

Museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan seni, tetapi juga sebagai ruang bagi seniman untuk berkembang.

Saat keluar dari museum dan kembali berjalan menuju stasiun, saya merasa lebih fresh, lebih tenang. Seperti ada bagian dari diri saya yang kembali utuh setelah menghabiskan waktu di sana.

Kunjungan ke museum ini mengingatkan saya bahwa di tengah segala hiruk-pikuk kehidupan, selalu ada tempat untuk berhenti sejenak, mengamati, dan menemukan kembali diri sendiri melalui seni.

Bagi siapa pun yang mencari tempat untuk beristirahat sejenak dari kesibukan kota, Museum Toeti Heraty bisa menjadi pilihan yang sempurna. Atmosfernya yang nyaman, koleksi seninya yang menarik, serta komunitas seni yang hidup di dalamnya menjadikan museum ini lebih dari sekadar tempat pameran ia adalah ruang untuk refleksi, inspirasi, dan apresiasi terhadap seni yang sesungguhnya.***

Maudyandra Chairunnisa | Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

Peran Media dalam Meningkatkan Kesadaran Lingkungan

0

Bogordaily.net – Di era digital yang serba cepat, isu-isu lingkungan semakin mendesak untuk diperhatikan. Media memainkan peran sentral dalam menyebarluaskan informasi, mengedukasi masyarakat, dan mendorong tindakan kolektif untuk melindungi planet ini. Artikel ini membahas secara mendalam peran media dalam meningkatkan kesadaran lingkungan, mencakup platform tradisional dan digital, serta menyoroti tantangan, peluang, dan implikasi etis yang terlibat.

Media Sebagai Sarana Edukasi
Media tradisional seperti televisi, radio, dan surat kabar telah lama menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat. Program televisi dan radio sering menayangkan dokumenter tentang perubahan iklim, pentingnya daur ulang, dan konservasi energi. Surat kabar dan majalah menerbitkan artikel yang membahas dampak polusi, deforestasi, dan krisis air. Jurnalisme investigasi juga berperan penting dalam mengungkap praktik-praktik ilegal yang merusak lingkungan, seperti pembalakan liar dan pencemaran industri.

Studi Kasus: Salah satu contoh sukses adalah kampanye “Diet Kantong Plastik” yang diprakarsai oleh Greeneration Foundation. Kampanye ini memanfaatkan media massa untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya penggunaan kantong plastik sekali pakai dan mendorong penggunaan tas belanja kain. Hasilnya, banyak supermarket dan toko ritel mengurangi penggunaan kantong plastik dan konsumen menjadi lebih sadar akan dampaknya.

Peran Media Sosial
Media sosial telah merevolusi cara kita berkomunikasi dan berbagi informasi. Platform seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan TikTok digunakan secara luas untuk menyebarkan pesan-pesan lingkungan, membangun komunitas peduli lingkungan, dan memobilisasi aksi kolektif. Konten visual yang menarik, narasi yang emosional, dan keterlibatan langsung dengan audiens terbukti efektif dalam komunikasi lingkungan melalui media sosial.

Studi Kasus: Gerakan #TrashtagChallenge, yang dimulai di Reddit pada tahun 2019, mengajak orang-orang untuk membersihkan area yang dipenuhi sampah dan membagikan foto “before-and-after” di media sosial. Kampanye ini menjadi viral dan menginspirasi ribuan orang di seluruh dunia untuk membersihkan lingkungan mereka.
Perspektif Komunikasi Digital: Algoritma media sosial memainkan peran penting dalam menentukan informasi apa yang dilihat oleh pengguna. Algoritma ini dapat memperkuat filter bubble, di mana pengguna hanya terpapar informasi yang sesuai dengan keyakinan mereka.

Oleh karena itu, penting bagi para komunikator lingkungan untuk memahami cara kerja algoritma media sosial dan mengoptimalkan konten mereka agar dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

Tantangan dan Peluang
Meskipun media memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah penyebaran informasi yang tidak akurat atau hoaks. Disinformasi tentang perubahan iklim dan isu-isu lingkungan lainnya dapat menyesatkan masyarakat dan menghambat upaya pelestarian lingkungan. Selain itu, rendahnya tingkat literasi digital di beberapa kalangan juga menjadi hambatan.

Namun, ada juga banyak peluang yang dapat dimanfaatkan. Media dapat bekerja sama dengan organisasi lingkungan, ilmuwan, dan pemerintah untuk menyebarkan informasi yang akurat dan terpercaya. Media juga dapat mempromosikan inovasi hijau dan solusi-solusi berkelanjutan untuk mengatasi masalah lingkungan.

Analisis Kritis
Efektivitas media dalam meningkatkan kesadaran lingkungan tergantung pada berbagai faktor, termasuk kualitas konten, strategi komunikasi, dan karakteristik audiens. Pesan-pesan lingkungan yang efektif harus relevan, mudah dipahami, dan membangkitkan emosi positif. Kampanye-kampanye yang menggunakan humor, storytelling, dan visual yang menarik cenderung lebih berhasil dalam menarik perhatian audiens.

Namun, penting juga untuk mengakui bahwa media tidak selalu menjadi kekuatan yang positif. Media dapat digunakan untuk menyebarkan propaganda yang merusak lingkungan, seperti iklan yang menyesatkan tentang produk-produk yang якобы ramah lingkungan (greenwashing).

Implikasi Etis
Peran media dalam membentuk opini publik tentang isu-isu lingkungan membawa implikasi etis yang signifikan. Media harus menjaga objektivitas dan akurasi dalam meliput isu-isu kontroversial seperti perubahan iklim. Media juga harus memberikan ruang bagi berbagai perspektif dan menghindari bias yang dapat merugikan upaya pelestarian lingkungan. Jurnalis lingkungan memiliki tanggung jawab untuk mengungkap kebenaran dan menyuarakan kepentingan masyarakat, bahkan jika itu berarti menentang kepentingan perusahaan atau pemerintah. Kode etik jurnalisme harus menjadi panduan utama dalam meliput isu-isu lingkungan.

Media memainkan peran yang sangat penting dalam meningkatkan kesadaran lingkungan. Melalui edukasi, kampanye di media sosial, jurnalisme yang mendalam, dan promosi inovasi hijau, media membantu membentuk opini publik dan mendorong tindakan pro-lingkungan.

Namun, media juga harus menghadapi tantangan seperti disinformasi, literasi digital yang rendah, dan implikasi etis. Dengan terus berinovasi dan bekerja sama dengan berbagai pihak, media dapat terus menjadi alat yang ampuh dalam upaya pelestarian lingkungan.***

Joanna Larisa Munthe Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media IPB University

 

Perjalanan Seorang Akademisi : Linda Andriani, S.S., M.I.Kom

0

Bogordaily.net – Linda Andriani, S.S., M.I.Kom. lahir di Pejaten, Jakarta Selatan, pada 12 April 1976. Sejak usia sekitar 5 tahun, ia dan keluarganya pindah ke Depok, Jawa Barat, tempat ia menghabiskan masa kecil hingga menikah. Pendidikannya dimulai di TK Pertiwi, Pasar Minggu; TK Kuntum Melati, Depok Timur; SDN Mekar Jaya 18, yang kemudian berubah nama menjadi SDN Bakti Jaya IV setelah adanya pemekaran wilayah.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke SMPN 3 Depok, sekolah yang sempat menjadi lokasi syuting sinetron Aku Cinta Indonesia (ACI) yang populer pada masa itu dan kemudian bersekolah di SMAN 1 Depok. Awalnya, ia bercita-cita menjadi dokter.

Namun, rencana tersebut berubah karena ia enggan berkuliah jauh dari keluarga setelah ia kehilangan salah seorang adiknya dalam sebuah kecelakaan motor. Dalam proses menentukan pilihan jurusan kuliahnya, karena ia punya beberapa pilihan, yaitu Kedokteran dan Psikologi, seorang guru bimbingan karier di tempatnya les bimbingan belajarnya menyarankan agar ia menguatkan pilihan ke-3-nya, Sastra Indonesia, sebagai pilihan studi.

Hal ini melihat potensinya di bidang bahasa dan posisi Indonesia yang strategis. Saran itu pada awalnya ia anggap biasa saja, tetapi ternyata menjadi titik awal perjalanan akademiknya.

Linda akhirnya melanjutkan studi di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, pada tahun 1994. Keputusannya untuk mendalami bidang ini bertambah kuat setelah ia menyadari luasnya cakupan ilmu bahasa, baik dalam kajian linguistik maupun sastra.

Setelah lulus pada tahun 1998, ia tidak langsung masuk ke dunia pendidikan, melainkan memulai karier di bidang pers. Dunia pers menjadi awal perjalanan profesionalnya. Linda bergabung dengan Harian Umum ABRI sebagai editor bahasa, kemudian naik menjadi koordinator editor bahasa hingga akhirnya dipercaya menjadi sekretaris pemimpin perusahaan.

Kariernya terus berkembang. Ia sempat bekerja sebagai editor bahasa lepas di berbagai media besar, seperti grup Gramedia. Di Harian Kompas, ia pernah tergabung dalam tim transkrip rekaman diskusi internal, sementara di Gramedia, ia turut serta dalam berbagai proyek penyuntingan buku-buku fiksi dan nonfiksi. Selain itu, ia juga pernah menjadi editor bahasa di grup majalah Aneka Yess! dan beberapa penerbit serta media lainnya.

Meski berkarier di bidang media, Linda merasa bahwa dunia pers bukanlah jalur yang ingin ia tempuh dalam jangka panjang. Setelah mengalami kehamilan yang bermasalah, ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan tetapnya dan beralih menjadi editor bahasa lepas.

Keputusan ini juga dilatarbelakangi oleh keinginannya untuk memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga. Namun, perubahan karier tidak berhenti di situ. Melihat anak-anaknya bertumbuh kembang, ia ingin memiliki tempat kerja yang bisa bersama anak-anaknya pula.

Pilihannya ya masuk ke dunia pendidikan. Pada tahun 2009, ia mendapat kesempatan mengajar mahasiswa asing, khususnya calon mahasiswa Indonesia dari pecahan negara-negara Uni Soviet, di sebuah lembaga pendidikan kerja sama Indonesia-Turki. Di lembaga ini, selain mengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), ia juga mengajar Bahasa Indonesia untuk siswa tingkat SMP dan SMA. Inilah titik awalnya beralih ke dunia pendidikan. Seiring waktu, ia tambah mendalami dunia pengajaran.

Setelah sempat mengajar di tingkat SD, SMP, dan SMA di dekat rumahnya, perjalanan hidupnya membawanya beralih ke pendidikan tinggi. Pada tahun 2019, ia bergabung sebagai dosen Bahasa Indonesia lepas di Politeknik Siber dan Sandi Negara lalu di Sekolah Vokasi IPB University.

Selanjutnya, ia juga mendapat kesempatan mengajar di Politeknik Sahid dan Stikes Fatmawati. Sejak bergabung di IPB sampai saat ini, bersama tim dosen Bahasa Indonesia IPB, ia pernah mengajar di berbagai program studi, yaitu Analisis Kimia, Akuntansi, Supervisor Jaminan Mutu Pangan, Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak, Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, Teknologi dan Manajemen Ternak, Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian, Teknik dan Manajemen Lingkungan, Manajemen Agribisnis, Paramedik Veteriner, Ekowisata, dan Komunikasi.

Pada tahun 2021, ia lolos seleksi menjadi Duta Bahasa Negara Angkatan IX dalam pelaksanaan diplomasi kebahasaan melalui pengajaran BIPA dan kegiatan kebahasaan lainnya di luar negeri yang diadakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud RI.

Karena terhalang pandemi covid, pada 2022, ia baru mendapat penugasan 2 periode menjadi pengajar jarak jauh BIPA di KBRI Manila dan Mindanao State University, General Santos City, Filipina. Sudah 2 tahun belakangan, ia kembali mengajar BIPA untuk program Darmasiswa di Politeknik Sahid Kampus Pondok Cabe. Program ini merupakan program beasiswa dari Pemerintah Indonesia untuk mahasiswa asing belajar di Indonesia selama sekitar 10 bulan.

Melanjutkan pendidikan merupakan keinginan terbesar Linda dalam hidupnya. Karena itu, ia tidak pernah putus berdoa agar dapat kesempatan melanjutkan pendidikannya. Doa sejak ia lulus S1 pada 1998 baru terwujud pada tahun 2017. Setelah 17 tahunan, akhirnya ia dapat melanjutkan pendidikannya dengan lolos seleksi program beasiswa kuliah S2 untuk guru sebesar 100% dari Yayasan Menara Bakti.

Ia jadi dapat menempuh studi Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Jakarta. Menjelang lulus, ia mendapatkan Dana Hibah Dikti untuk penelitiannya yang berjudul Pola Pesan Politik dalam Komunikasi Partisipatif Perempuan di Dinding Facebook Terkait Pemilihan Presiden Republik Indonesia pada Tahun 2019.

Penelitiannya ini dipresentasikannya juga dalam konferensi internasional, The First International Conference on Administration Science (ICAS 2019). Ini menjadi salah satu kontribusinya dalam kajian komunikasi digital dan politik. Terkait melanjutkan pendidikan ini, membuatnya tambah percaya bahwa ketika punya keinginan apa pun, teruslah berdoa tanpa putus karena akan ada waktunya, Allah Swt. Pasti akan mengabulkannya dengan cara-Nya.

Sebagai pendidik, ia meyakini bahwa ketulusan adalah kunci dalam mengajar. Ia selalu berusaha membangun hubungan yang baik dengan mahasiswa, tanpa membeda-bedakan latar belakang mereka. “Hati bertemu dengan hati. Kalau kita menyampaikan sesuatu dengan tulus, orang juga akan menangkapnya dengan tulus,” ujarnya. Filosofi ini membuatnya merasa bahwa selama menjadi dosen, ia tidak pernah menghadapi tantangan yang benar-benar besar.

Di luar dunia akademik, Linda aktif dalam berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Ia sebagai sekretaris sejak 2009, lalu pada 2014 sampai sekarang, ia sebagai Sekretaris Umum Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Pusat. Forum ini merupakan sebuah komunitas yang awalnya berfokus pada diskusi kebahasaan daring para editor bahasa media massa seluruh Indonesia, tetapi kemudian berkembang menjadi forum bahasa yang lebih luas untuk siapa saja yang peduli dengan bahasa Indonesia.

Ia juga terlibat dalam Ikatan Alumni SMA-nya sebagai kepala bidang learning and development serta menjadi ketua kelompok pengajian ibu-ibu di alumni SMP angkatannya. Di tengah kesibukannya sebagai dosen dan konsultan bahasa, Linda tetap berusaha menyeimbangkan kehidupan profesional dan pribadinya. Ia memiliki empat anak yang lahir pada tahun 2002, 2005, 2007, dan 2010. Ketika tidak sedang mengajar atau terlibat dalam organisasi, ia lebih memilih menghabiskan waktu di rumah, menikmati momen serta beristirahat.

Sebagai seorang akademisi, Linda memiliki harapan besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Ia berharap kurikulum pendidikan dapat lebih terintegrasi dari prasekolah hingga perguruan tinggi sehingga tidak terus berubah akibat dinamika politik. Ia juga ingin agar mahasiswa Indonesia dapat mempertahankan jati diri dan budaya bangsa di tengah arus globalisasi yang bertambah deras.

Perjalanan panjang Linda Andriani dari dunia pers hingga menjadi seorang dosen menunjukkan bahwa hidup selalu penuh dengan kemungkinan yang tidak terduga. Dari seseorang yang awalnya bercita-cita menjadi dokter, ia kini menjadi sosok yang berkontribusi dalam membentuk generasi muda melalui pendidikan. Dedikasinya dalam dunia akademik menjadi bukti bahwa ilmu dan pengabdian adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ia terus berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi mahasiswa dan mahasiswinya serta dunia pendidikan di Indonesia.***

Maudyandra Chairunnisa, Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB

Peran Komunikasi dalam Membangun Personal Branding di Media Sosial

0
Bogordaily.net – Komunikasi adalah bagian penting dalam kehidupan manusia. Sejak dahulu, komunikasi digunakan untuk menyampaikan ide, membangun hubungan, hingga mempengaruhi orang lain. Seiring dengan perkembangan teknologi, cara manusia berkomunikasi juga mengalami perubahan. Jika dulu komunikasi dilakukan secara langsung, kini interaksi banyak terjadi secara virtual melalui media sosial. Dalam era digital, media sosial bukan hanya sekadar tempat berbagi informasi, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun citra diri atau personal branding.
Personal branding bukan hanya tentang apa yang ditampilkan, tetapi juga bagaimana seseorang berkomunikasi dengan audiensnya. Cara seseorang menyampaikan pesan, berinteraksi, dan menampilkan dirinya akan mempengaruhi bagaimana ia dipersepsikan oleh publik.
Apa Itu Personal Branding?
Personal branding adalah proses membangun citra diri secara sadar agar dikenal dan dipercaya dalam bidang tertentu.
Konsep ini semakin penting di era digital karena media sosial memungkinkan seseorang untuk memperkenalkan dirinya ke audiens yang lebih luas.
Menurut jurnal yang diterbitkan oleh Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, personal branding yang efektif dapat meningkatkan kredibilitas dan membuka lebih banyak peluang dalam dunia profesional maupun bisnis.
Beberapa tokoh yang sukses dalam membangun personal branding melalui komunikasi yang kuat di media sosial antara lain adalah Najwa Shihab dan Elon Musk.
Najwa dikenal dengan gaya komunikasi yang tegas dan intelektual, sementara Elon Musk berhasil menciptakan citra sebagai inovator dengan sering berinteraksi langsung dengan pengikutnya di Twitter/X.
Strategi Komunikasi dalam Personal Branding
1. Menentukan Identitas dan Pesan Utama
Langkah pertama dalam membangun personal branding adalah menentukan identitas yang ingin ditampilkan. Ini mencakup keahlian, nilai, dan citra diri yang ingin dibentuk. Dengan memiliki pesan utama yang jelas, seseorang dapat membangun komunikasi yang lebih terarah dan tidak mudah terbawa arus tren yang tidak relevan.
2. Konsistensi dalam Gaya dan Konten
Konsistensi adalah kunci dalam membangun personal branding yang kuat. Ini mencakup gaya bahasa, tone komunikasi, serta elemen visual yang digunakan di media sosial. Dengan mempertahankan gaya yang konsisten, audiens akan lebih mudah mengenali dan mengingat seseorang.
3. Storytelling yang Autentik
Cerita yang autentik dan relevan dapat menciptakan keterhubungan emosional dengan audiens. Menampilkan pengalaman pribadi, tantangan yang pernah dihadapi, atau perjalanan karier dapat membantu seseorang terlihat lebih manusiawi dan dapat dipercaya.
4. Interaksi dengan Audiens
Membangun hubungan dengan audiens tidak hanya sebatas mengunggah konten, tetapi juga berinteraksi dengan mereka. Membalas komentar, menjawab pertanyaan, atau mengadakan diskusi dapat meningkatkan engagement dan membentuk komunitas yang loyal.
Tantangan dan Cara Mengatasinya
Membangun personal branding di media sosial juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah menjaga keseimbangan antara autentisitas dan mengikuti tren.
Tidak jarang seseorang terjebak dalam tren hanya demi mendapatkan perhatian, padahal hal tersebut tidak selaras dengan identitas mereka.
Untuk menghindarinya, penting untuk tetap setia pada nilai dan tujuan yang telah ditentukan sejak awal.
Selain itu, kritik dan komentar negatif juga menjadi tantangan lain. Dalam menghadapi hal ini, seseorang perlu memiliki strategi komunikasi yang baik, seperti menanggapi dengan profesionalisme atau memanfaatkan kritik sebagai bahan evaluasi untuk berkembang.
Kesimpulan
Komunikasi yang efektif adalah fondasi utama dalam membangun personal branding yang kuat di media sosial. Dengan menentukan identitas yang jelas, menjaga konsistensi dalam gaya komunikasi, memanfaatkan storytelling yang autentik, dan aktif berinteraksi dengan audiens, seseorang dapat menciptakan citra yang positif dan berkesan.
Dalam dunia digital yang kompetitif, membangun personal branding bukan hanya tentang menampilkan diri, tetapi juga bagaimana seseorang mampu membangun hubungan dan memberikan nilai bagi audiensnya.
Dengan strategi komunikasi yang tepat, personal branding yang kuat bukan hanya meningkatkan popularitas, tetapi juga membuka berbagai peluang di dunia profesional.
Sebagai tambahan, penelitian dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka menekankan bahwa penggunaan media sosial yang tepat dapat secara signifikan meningkatkan personal branding seseorang dalam bidang profesional maupun bisnis.***
Maudyandra Chairunnisa
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB 

Pengaruh Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pendidikan dan Pekerjaan di Indonesia: Antara Peluang dan Tantangan

0

Bogordaily.net – Memasuki tahun 2025, salah satu isu yang sedang menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, adalah revolusi yang dibawa oleh teknologi kecerdasan buatan (AI). Dari sektor pendidikan hingga dunia kerja, kehadiran AI dihadapkan pada pro dan kontra yang intens.

Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi yang luar biasa dan potensi besar untuk meningkatkan produktivitas, tetapi di sisi lain, ada kekhawatiran tentang dampaknya terhadap pekerjaan manusia, serta perubahan besar yang harus dihadapi oleh sistem pendidikan kita.

Dalam konteks ini, bagaimana kita menyikapi kemajuan teknologi ini dengan bijak, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh semua pihak tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan?

Kecerdasan buatan kini telah mulai merambah dunia pendidikan, menawarkan berbagai solusi baru yang dapat mempercepat proses belajar mengajar. Dari alat pembelajaran berbasis AI yang dapat disesuaikan dengan gaya belajar siswa, hingga platform ujian otomatis yang dapat memberikan umpan balik secara real-time, teknologi ini memungkinkan pembelajaran yang lebih personal dan efisien.

Di Indonesia, beberapa sekolah dan universitas telah mulai mengintegrasikan AI dalam kurikulum mereka, memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan mempercepat akses mereka ke materi pembelajaran yang lebih beragam.

Namun, perdebatan muncul mengenai apakah penggunaan AI dapat menggantikan peran pengajar manusia. Sebagian pihak khawatir bahwa penggunaan AI dalam pendidikan dapat mengurangi interaksi manusia yang esensial dalam proses belajar.

Bagi banyak pihak, pendidikan bukan hanya soal menguasai materi, tetapi juga tentang membangun karakter dan empati, yang tentu saja tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin. Selain itu, ada juga isu terkait kesenjangan akses teknologi antara sekolah-sekolah di kota besar dan daerah terpencil yang dapat memperlebar ketimpangan dalam kualitas pendidikan di Indonesia.

Selain pendidikan, salah satu bidang yang terpengaruh besar oleh kehadiran AI adalah dunia kerja. Pada Januari 2025, wacana tentang “otomatisasi pekerjaan” semakin berkembang, mengingat kemajuan pesat dalam teknologi AI yang dapat menggantikan berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan oleh manusia.

Sektor-sektor seperti manufaktur, transportasi, bahkan layanan pelanggan, kini mulai menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya operasional. Hal ini tentu membuka peluang baru, seperti pekerjaan di bidang pengembangan dan pemeliharaan teknologi AI itu sendiri.

Namun, dampak otomatisasi terhadap lapangan pekerjaan menjadi topik perdebatan yang tak kalah hangat. Banyak yang khawatir bahwa banyak pekerjaan yang akan hilang atau tergantikan oleh mesin, terutama di sektor-sektor yang padat karya.

Di Indonesia, yang masih menghadapi tantangan besar dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan, otomatisasi berpotensi memperburuk ketidaksetaraan sosial dan ekonomi jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang mendukung pelatihan keterampilan baru bagi tenaga kerja yang terdampak.

Pemerintah dan sektor swasta perlu berkolaborasi untuk merancang kebijakan yang memastikan bahwa transisi ke dunia kerja yang lebih berteknologi tinggi dapat berjalan dengan mulus.

Pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan digital harus ditingkatkan agar tenaga kerja Indonesia siap bersaing dalam era otomatisasi ini, serta untuk mengurangi dampak negatif dari hilangnya pekerjaan yang diakibatkan oleh AI.

Teknologi AI membawa serta berbagai peluang dan tantangan yang besar, baik dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja.

Di satu sisi, AI dapat mempercepat proses pembelajaran dan meningkatkan efisiensi dalam berbagai sektor, namun di sisi lain, kecanggihan teknologi ini juga menimbulkan kekhawatiran akan pengurangan lapangan pekerjaan dan kesenjangan akses pendidikan.

Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk menyikapi perkembangan ini dengan bijak. Peran pemerintah dalam memastikan adanya kebijakan yang berpihak pada masyarakat, serta investasi dalam pelatihan keterampilan digital, akan sangat menentukan sejauh mana kita bisa memanfaatkan potensi AI tanpa merugikan aspek sosial dan ekonomi. Teknologi harus digunakan untuk memberdayakan manusia, bukan untuk menggantikannya.***

 

Nazwa Nayla Allaysyaa (Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB)

No Buy Challenge 2025: Tren Positif atau Tekanan Sosial Baru?

0

Oleh : Maudyandra ChairunnisaMahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

Belakangan ini, No Buy Challenge 2025 menjadi salah satu topik yang banyak
diperbincangkan di media sosial. Tantangan ini mengajak masyarakat untuk tidak membeli barang non-esensial selama satu tahun penuh dengan tujuan mengurangi konsumsi berlebihan, menjalani gaya hidup minimalis, serta meningkatkan kesadaran dalam mengelola keuangan.

Gagasan ini terdengar menarik, terutama bagi mereka yang ingin lebih bijak dalam mengatur pengeluaran. Namun, apakah tantangan ini benar-benar memberikan manfaat bagi semua orang? Atau justru hanya menjadi tren sesaat yang menimbulkan tekanan sosial baru?

Tren seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Sebelumnya, tantangan serupa seperti low-buy year atau gerakan hidup minimalis juga sempat populer di komunitas yang peduli terhadap konsumsi berkelanjutan.

Akan tetapi, No Buy Challenge 2025 terbilang lebih ekstrem karena menargetkan satu tahun penuh tanpa pembelian barang di luar kebutuhan pokok. Dengan komitmen yang tinggi, tantangan ini tentu dapat memberikan manfaat. Namun, ada pula risiko yang perlu dipertimbangkan sebelum seseorang memutuskan untuk mengikutinya.

Manfaat: Lebih Hemat dan Ramah Lingkungan
Salah satu keuntungan utama dari tantangan ini adalah meningkatkan kesadaran dalam
mengatur keuangan. Dengan membatasi pembelian barang yang tidak terlalu diperlukan,
seseorang dapat mengalokasikan uangnya untuk hal yang lebih penting, seperti menabung, berinvestasi, atau melunasi utang.

Beberapa peserta tantangan ini bahkan mengaku berhasil menghemat hingga Rp6 juta – Rp8 juta per bulan hanya dengan mengendalikan kebiasaan belanja impulsif. Dalam jangka panjang, penghematan ini dapat digunakan untuk tujuan finansial yang lebih besar, seperti membeli rumah atau merencanakan masa depan yang lebih stabil. Selain manfaat finansial, tantangan ini juga berdampak positif terhadap lingkungan.

Mengurangi konsumsi berarti mengurangi permintaan terhadap produksi barang, yang pada akhirnya dapat menekan jumlah limbah dan emisi karbon. Industri produksi barang konsumsi, terutama industri mode dan elektronik, dikenal sebagai penyumbang limbah terbesar di dunia. Dengan mengurangi pembelian barang yang tidak esensial, masyarakat dapat berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Tidak hanya itu, tantangan ini juga membantu individu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang melakukan pembelian karena
dorongan sesaat (impulse buying), baik karena tergiur promosi, mengikuti tren, maupun karena tekanan sosial. Dengan mengikuti No Buy Challenge, seseorang akan lebih reflektif dalam membuat keputusan finansial dan lebih selektif dalam berbelanja.

Tekanan Sosial dan Dampak Psikologis

Meskipun menawarkan banyak manfaat, tantangan ini tidak selalu mudah untuk dijalani. Tidak semua orang memiliki kondisi finansial atau gaya hidup yang memungkinkan mereka untuk sepenuhnya berhenti membeli barang non-esensial. Ada individu yang masih perlu melakukan pembelian untuk mendukung pekerjaan, hobi, atau sekadar menjaga kenyamanan hidup mereka.

Sebagai contoh, seorang pekerja kreatif mungkin masih membutuhkan alat-alat tertentu untuk menunjang pekerjaannya, sementara seseorang yang memiliki hobi tertentu masih memerlukan perlengkapan khusus agar tetap produktif. Selain itu, tekanan sosial dari media juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.

Ketika banyak figur publik dan influencer membagikan pengalaman mereka dalam mengikuti tantangan ini, audiens bisa merasa terdorong untuk ikut serta, meskipun sebenarnya belum siap.

Dalam beberapa kasus, seseorang yang gagal menjalankan tantangan ini bisa mengalami perasaan bersalah atau merasa kurang disiplin dalam mengatur keuangan, padahal mungkin barang yang dibeli memang benar-benar dibutuhkan.

Psikolog Meity Arianty menegaskan bahwa mengikuti tren tanpa kesiapan mental justru
dapat menimbulkan stres yang tidak perlu. Beberapa orang mungkin terlalu menekan diri untuk tidak berbelanja sama sekali, sehingga menciptakan perasaan tidak nyaman.

Dalam beberapa kasus, tekanan yang berlebihan ini dapat berujung pada perilaku kompensasi di mana seseorang justru melakukan belanja besar-besaran setelah tantangan selesai (binge shopping), yang pada akhirnya menghilangkan manfaat dari tantangan itu sendiri.

Apakah Tantangan Ini Layak Diikuti?
Pada akhirnya, No Buy Challenge 2025 dapat menjadi langkah yang baik untuk
meningkatkan kesadaran finansial dan mengurangi konsumsi yang berlebihan, tetapi tidak harus diikuti oleh semua orang. Tantangan ini sebaiknya tidak dijalani semata-mata karena mengikuti tren, melainkan karena adanya kesadaran pribadi untuk mengubah kebiasaan konsumsi.

Jika Jika seseorang ingin mengikuti tantangan ini, sebaiknya ada strategi yang disesuaikan dengan kondisi pribadi. Tidak harus mengikuti tantangan ini secara ekstrem dengan benar-benar tidak membeli apa pun selain kebutuhan pokok, tetapi bisa dilakukan dengan menetapkan batasan yang realistis.

Misalnya, membuat daftar barang yang diperbolehkan untuk dibeli dan yang harus dihindari, atau menetapkan periode tertentu dalam satu tahun di mana pembelian barang non-esensial dikurangi secara bertahap.

Pendekatan yang lebih fleksibel ini akan membantu seseorang mendapatkan manfaat dari tantangan tanpa harus mengalami tekanan yang berlebihan. Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa pengelolaan keuangan bukan hanya soal mengurangi pengeluaran, tetapi juga soal bagaimana mengalokasikan uang dengan bijak.

Jika seseorang dapat menyeimbangkan antara kebutuhan, keinginan, dan investasi jangka panjang, maka mereka akan mendapatkan manfaat yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan hanya mengikuti tantangan ini dalam jangka pendek.

Di sisi lain, media sosial memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menyebarkan tren seperti No Buy Challenge 2025. Oleh karena itu, penting bagi pengguna media sosial untuk lebih kritis dalam menerima informasi dan tidak serta-merta mengikuti tren tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan mereka sendiri.

Tidak ada satu metode pengelolaan keuangan yang cocok untuk semua orang, sehingga setiap individu harus menyesuaikan strategi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi mereka masing-masing.

Sebagai kesimpulan, No Buy Challenge 2025 dapat menjadi tantangan yang bermanfaat jika dijalani dengan kesadaran penuh dan strategi yang matang. Namun, tantangan ini tidak seharusnya menjadi beban atau tekanan sosial bagi siapa pun.

Keputusan untuk mengikuti tantangan ini harus berdasarkan pemahaman pribadi tentang manfaatnya, bukan hanya karena ingin mengikuti tren yang sedang viral. Pada akhirnya, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang dapat mengelola keuangan mereka dengan lebih bijak.***