Sunday, 5 April 2026
Home Blog Page 854

Tunjangan Guru Naik, Kualitas Harus Ditingkatkan

0

Bogordaily.net – Kenaikan tunjangan guru yang diumumkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi merupakan kabar baik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik, yang pada akhirnya akan berimbas pada kualitas pembelajaran di sekolah. Namun, apakah kenaikan tunjangan ini secara otomatis menjamin peningkatan kualitas pendidikan?

Tunjangan Naik, Kualitas Harus Mengikuti

Tunjangan guru memang penting, tetapi peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada aspek finansial. Guru yang lebih sejahtera tentu memiliki motivasi lebih tinggi, tetapi jika tidak dibarengi dengan peningkatan kompetensi dan evaluasi kinerja, hasilnya bisa jauh dari harapan. Oleh karena itu, program peningkatan kualitas guru melalui pelatihan berkelanjutan harus menjadi prioritas utama pemerintah.

Dengan demikian, kebijakan ini harus diikuti dengan sistem penilaian yang transparan dan berbasis kinerja. Kenaikan tunjangan seharusnya tidak diberikan secara merata, tetapi lebih mengutamakan guru yang memang menunjukkan dedikasi dan profesionalisme tinggi dalam mengajar. Hal ini untuk memastikan bahwa insentif yang diberikan benar-benar membawa dampak positif terhadap dunia pendidikan.

Tantangan dalam Implementasi

Salah satu tantangan terbesar dalam kebijakan ini adalah bagaimana memastikan bahwa tunjangan yang diberikan benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Banyak guru di daerah terpencil masih menghadapi kesulitan dalam mengakses pelatihan berkualitas, fasilitas yang memadai, dan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan siswa saat ini. Pemerintah perlu memperhatikan kesenjangan ini agar semua guru, baik di perkotaan maupun di daerah terpencil, mendapatkan manfaat yang setara dari kebijakan ini.

Pengawasan dan akuntabilitas dalam distribusi tunjangan juga harus diperketat agar tidak terjadi penyalahgunaan anggaran. Tanpa sistem yang transparan dan akuntabel, kenaikan tunjangan bisa jadi hanya akan menjadi beban anggaran tanpa dampak signifikan bagi pendidikan nasional. Oleh karena itu, diperlukan sistem audit dan pemantauan yang ketat untuk memastikan bahwa tunjangan benar-benar sampai kepada mereka yang berhak.

Pentingnya Peningkatan Kompetensi Guru

Selain kesejahteraan, faktor lain yang tidak kalah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah kompetensi guru. Dengan dunia yang terus berkembang, metode pembelajaran yang efektif harus terus diperbarui agar relevan dengan perkembangan zaman. Sayangnya, tidak semua guru memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas mereka melalui pelatihan dan workshop.

Pemerintah seharusnya tidak hanya fokus pada pemberian tunjangan, tetapi juga menyediakan akses lebih luas terhadap pendidikan dan pelatihan lanjutan bagi para guru. Dengan demikian, guru tidak hanya mendapatkan penghargaan secara finansial, tetapi juga dibekali dengan keterampilan yang lebih baik untuk mendidik generasi masa depan.

Penutup

Kenaikan tunjangan guru merupakan langkah yang patut diapresiasi, tetapi tidak boleh berhenti di situ. Pemerintah harus memastikan adanya keseimbangan antara kesejahteraan guru dan peningkatan kompetensi mereka. Pendidikan berkualitas hanya bisa terwujud jika guru memiliki kesejahteraan yang cukup, akses pelatihan yang baik, dan sistem penilaian yang adil. Dengan demikian, harapan untuk mencetak generasi emas Indonesia dapat benar-benar terwujud, bukan sekadar wacana di atas kertas.

Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat juga menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sekolah harus mampu memberikan lingkungan belajar yang kondusif bagi siswa dan mendukung guru dalam menerapkan metode pembelajaran yang inovatif. Masyarakat juga dapat berperan dengan mendukung kebijakan pendidikan dan memberikan umpan balik yang konstruktif terhadap program pemerintah.

Dengan adanya perhatian terhadap berbagai aspek ini, diharapkan kebijakan kenaikan tunjangan guru benar-benar menjadi langkah awal menuju sistem pendidikan yang lebih baik di Indonesia. Tidak hanya guru yang sejahtera, tetapi juga siswa yang mendapatkan pendidikan berkualitas yang akan membentuk masa depan bangsa. ***

Andika Prasetya, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Mulai Marak Modus Kejahatan Smishing, BRI Imbau Nasabah untuk Waspada dan Jaga Kerahasiaan Data Transaksi Perbankan

0

Bogordaily.net – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengimbau nasabah untuk lebih waspada terhadap smishing, modus penipuan berbasis SMS yang semakin marak terjadi.

Smishing merupakan teknik kejahatan digital yang digunakan pelaku untuk mencuri data perbankan dengan mengirim pesan singkat yang menyerupai komunikasi resmi dari pihak perbankan.

Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan menggunakan nomor pengirim yang menyerupai layanan pelanggan bank untuk meyakinkan korban.

Atas maraknya modus penipuan tersebut, BRI mengimbau nasabah untuk selalu berhati-hati terhadap pesan yang menginformasikan transaksi mencurigakan, meminta verifikasi akun, atau menjanjikan hadiah tertentu. Pesan semacam ini umumnya mengandung tautan yang jika diklik, akan mengarahkan korban ke situs palsu yang dirancang menyerupai laman resmi perbankan. Situs tersebut akan meminta informasi seperti nomor kartu, PIN, kode OTP, masa berlaku kartu, CVC/CVV, user ID, dan password, yang dapat digunakan pelaku untuk mengakses rekening nasabah.

Jika data tersebut diberikan, akan membuka ruang untuk pelaku kejahatan dapat mengakses rekening nasabah dan melakukan transaksi.

Terkait dengan hal tersebut, Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI Arga M. Nugraha, menegaskan bahwa kejahatan siber terus berkembang dengan pola yang semakin kompleks, sehingga kewaspadaan dan literasi digital menjadi faktor utama dalam melindungi keamanan perbankan.

“BRI terus meningkatkan sistem keamanan untuk menghadapi berbagai ancaman siber yang terus berkembang. Kami juga mendorong nasabah untuk lebih berhati-hati dalam menerima pesan yang mencurigakan dan memastikan bahwa setiap transaksi hanya dilakukan melalui kanal resmi BRI,” ujar Arga.

Jika menerima pesan mencurigakan yang mengatasnamakan BRI, nasabah disarankan untuk tidak menanggapi atau meng-klik tautan yang disertakan dan selalu mengaktifkan notifikasi transaksi melalui aplikasi BRImo, SMS, ataupun Whatsapp Resmi BRI agar dapat langsung mendeteksi aktivitas mencurigakan.

Selain itu, nasabah diharapkan untuk lebih waspada terhadap berbagai bentuk modus penipuan digital dan tidak memberikan informasi perbankan kepada pihak yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

Segera lakukan perubahan password atau PIN BRImo serta ATM apabila terdapat indikasi bahwa informasi perbankan tersebut telah dibagikan kepada pihak yang tidak terverifikasi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan BRI, nasabah dapat menghubungi Contact BRI di 1500017 atau melalui WhatsApp Sabrina di 08121214017. ***

Dari Family Time jadi Panik Time di Alun-Alun Kota Bogor

0

Bogordaily.netAda satu hal yang gak pernah tertulis di kalender, yaitu hari sial. Datengnya tiba-tiba, tanpa permisi, dan tanpa aba-aba. Di hari minggu yang cerah, awalnya aku berencana menghabiskan waktu bareng keluarga di salah satu restoran sunda yang ada di Alun-Alun Kota Bogor, tapi rencana itu mendadak jadi berantakan pas sesuatu terjadi, yaitu handphone mama yang hilang entah kemana. Niat hati mau quality time malah berubah jadi malapetaka.

Siang itu, aku dan mama berangkat naik angkot, turun di dekat Bank Mandiri kemudian jalan menuju Alun-Alun Kota Bogor. Di kepala kami pada saat itu, sudah terbayang menu makan siang nanti, seperti gurame bakar, sambal lalapan, dan nasi liwet. Family time yang udah direncanakan sejak kemarin ini akhirnya bakal tiba juga, tapi kenyataannya belum sempet sampai ke restorannya, kejadian tak terduga sudah lebih dulu merusak suasana hati kami. Di sepanjang jalan menuju Alun-Alun Kota Bogor, banyak pedagang kaki lima yang berjualan di sana mulai dari yang gurih, manis, hingga asam. Aku merasa banyak sepasang mata yang tertuju pada kami, entah itu karna kami datang dari arah yang berlawanan atau ada niat lain.

Sesampainya kami di pos polisi dekat Bank BJB untuk menunggu ayah yang akan menjemput kami, masih banyak pedagang kaki lima di sana, bahkan ada beberapa polisi lalu lintas yang bertugas untuk mengatur alur lalu lintas pada saat itu. Di hari itu, situasi dan suasana sekitar terlihat sangat chaos dan penuh oleh orang-orang yang berlalu-lalang, mulai dari yang berjalan kaki, naik turun angkot, hingga klakson dari motor dan mobil. Setelah ayah sampai, kami mengobrol sebentar untuk menentukkan destinasi restoran yang akan kami kunjungi dari beberapa opsi yang ada. Kemudian, kami memutuskan untuk menaikki GrabCar di Halte Taman Topi, artinya kami harus berjalan dan menyebrang terlebih dahulu untuk sampai di sana.

Kami duduk di bangku Halte Taman Topi yang saat itu hanya diisi oleh dua ibu-ibu. Ketika kami hendak memesan GrabCar melalui handphone mama yang saat itu ditaruh di ranselnya, ternyata tas kesayangannya yang berwarna coklat itu sudah terbuka lebar. Sletingnya sudah menjuntai lemas seperti menyerah pada kenyataan. Handphone mama yang seharusnya ada di dalam, sekarang raib entah ke mana. Bagaikan air yang tumpah, semua rencana mengalir begitu saja, hilang tanpa sisa. Kami memikirkan semua kemungkinan yang terjadi, mulai dari turun angkot tadi. Apakah tas mama sudah terbuka sejak berjalan kaki tadi atau setelah bertemu ayah dan hendak menyebrangi zebra cross? Padahal sudah jelas-jelas polisi sedang memantau arus lalu lintas di sana, tetapi kami tetap kecolongan.

Kepanikan tersebut membuat kami memutuskan kembali ke pos polisi dekat Bank BJB karena di situ kami mengobrol cukup lama, dan kemungkinan kami lengah terhadap situasi sekitar. Salah satu pedagang kaki lima yang menyadari dan melihat kepanikan kami menyarankan untuk langsung membuat surat kehilangan supaya nomor yang ada di handphone mama bisa langsung diblokir. Mengingat Polresta Kota Bogor hanya tinggal menyebrang dari titik pedagang kaki lima itu, kami langsung menanyakan bagaimana mekanisme laporan kehilangan. Setelah dibantu oleh beberapa polisi, kami diarahkan ke SPKT yang merupakan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu. Akhirnya Surat Keterangan Tanda Lapor Kehilangan (SKTLK) berhasil dibuat untuk keperluan pemblokiran kartu mama.

Sejak itu, family time resmi bubar jalan. Bukannya makan siang, kami malah mondar-mandir mencari solusi untuk mama. Sambil menahan lapar, mama lebih khawatir soal data yang ada di dalam handphone daripada handphone-nya itu sendiri. Jika satu kode OTP jatuh ke tangan yang salah, maka hal tersebut bisa membuka akses ke banyak hal penting. Banyak media yang sering mengingatkan soal pentingnya keamanan data, tapi saat kejadian seperti ini terjadi menimpa kita, baru akan terasa betapa rentannya data-data kita.

Di era serba digital ini, kehilangan handphone bukan cuma soal kehilangan benda fisik, melainkan kehilangan akses ke data yang tersimpan di dalamnya. Mulai dari aplikasi ­m-banking, media sosial, foto pribadi, hingga data-data penting lainnya tersimpan di satu perangkat kecil itu. Kode OTP, informasi akun, dan berbagai akses penting bisa berpindah tangan dan disalahgunakan dalam hitungan detik.

Aku cuma bisa menghela nafas panjang, hari yang harusnya diisi dengan canda tawa malah berubah jadi sesi panik massal. Tapi di hari itu, aku belajar dua hal. Pertama, rencana family time bisa hancur seketika gara-gara satu kejadian tak terduga. Dan kedua, keamanan digital harus selalu jadi prioritas di era serba digital ini. Dunia nyata dan dunia maya kini saling terhubung, dan kehilangan satu sisi bisa berdampak besar di sisi lainnya. Dan yang paling pasti, hari sial memang terbukti gak ada di kalender, dia datang tanpa undangan.

Semakin Menjauh, Semakin Didekatkan: Perjalanan Luvy Dellarosa Menjadi Dosen

0

Bogordaily.net – Luvy Dellarosa, atau yang biasa dikenal dengan Della, tidak pernah menyangka bahwa dunia pendidikan akan menjadi rumahnya. Sejak awal, ia selalu membayangkan dirinya sebagai pribadi tangguh yang akan bekerja lapangan di industri tambang. Namun, semakin ia mencoba untuk menjauh, semakin kuat dunia pendidikan menariknya kembali. Perjalanan panjang Della penuh dengan dilema, tangis, sekaligus support dari para mentor yang menjadi inspirasi dan membawanya pada tujuan yang baru, yaitu “menjadi dosen bukan hanya tentang mengajar, tetapi memberikan value yang impactful dan bagian dari pengabdian yang besar”

Della mengawali pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jurusan Teknik Lingkungan. Della yang datang dari kota kecil di Kediri, harus beradaptasi di perantauan sekaligus di lingkungan pendidikan ITB yang sangat ketat dan kompetitif. Semester pertama diawali dengan Tahap Persiapan Bersama (TPB), yang mengharuskan Della mempelajari berbagai mata kuliah dasar, seperti kimia dasar, kalkulus, fisika dasar, dan lainnya. Pada prosesnya, ia mendapatkan nilai yang tidak sesuai harapan dan membuatnya sempat berpikir untuk berpindah jurusan dengan mengikuti SBMPTN lagi di tahun depan. Namun, dorongan dari keluarga membuat Della tetap bertahan pada langkahnya. Di semester ketiga, ia mulai memahami peran teknik lingkungan dalam kehidupan nyata dan mendorong ketertarikannya di bidang persampahan. Ketertarikan ini membuatnya semakin gigih belajar dan mulai mendalami lebih banyak mengenai pengelolaan lingkungan, khususnya di bidang persampahan.

Setelah menyelesaikan studi sarjananya di Teknik Lingkungan ITB, Della yang awalnya berencana menjadi seorang praktisi justru mengalami perubahan arah ketika seorang dosen muda, Bu Marsel menawarkan kesempatan untuk menjadi asisten dosen. Pada awalnya, Luvy Dellarosa, merasa ragu karena bukan mahasiswa terbaik dan kurang percaya diri dengan kemampuannya. Namun, Bu Marsel meyakinkannya bahwa menjadi dosen bukan tentang menjadi yang paling pintar, melainkan tentang menjadi seorang long life learner yang mau belajar terus-menerus. Seiring waktu, ia mulai menikmati interaksi dengan mahasiswa lain, menjelaskan konsep, dan membantu mereka memahami materi. Meskipun begitu, ia masih memiliki keinginan untuk menjadi praktisi. Namun setelah enam bulan ke sana ke mari, ia merasa lebih cocok menjadi akademisi. Di saat yang sama, Prof. Enri melihat sesuatu dalam dirinya yang belum ia sadari sendiri. Beliau mengatakan bahwa Della memiliki potensi besar sebagai akademisi, karena ia memiliki kepribadian yang detail, prosedur, sistematis, serta logis. Perkataan beliau membuat Della mulai melihat dirinya dari sudut pandang yang berbeda dan mulai menyadari bahwa mungkin jalannya memang bukan sebagai praktisi, melainkan sebagai akademisi. Hal tersebut memantapkan Della kembali ke ITB untuk melanjutkan studi magister di jurusan yang sama, yaitu Teknik Lingkungan.

Selama menjadi asisten dosen dan berkuliah magister, Della banyak belajar dan menyerap value dari dosen – dosen seniornya. Salah satunya adalah Pak Benno. Inspirasi terbesar Della datang dari sosok Pak Benno, seorang dosen yang tidak hanya mengajar, tetapi juga merawat mahasiswa-mahasiswa yang kesulitan. Ia melihat bagaimana Pak Benno dan keluarganya menyediakan tempat tinggal bagi mahasiswa yang terlambat lulus, serta membimbing mereka secara akademik maupun personal. Bahkan, ketika ada mahasiswa yang menghilang karena tekanan akademik, Pak Benno dan istrinya akan menjemput mereka satu per satu. Melihat bagaimana Pak Benno dan keluarganya mendukung dan membantu mahasiswa yang kesulitan, Della termotivasi untuk menjadi dosen yang tak hanya mengajar, tetapi juga memiliki keluarga supportif untuk bersama-sama membantu mahasiswa menyelesaikan studinya.

Setelah melewati badai yang besar, atas izin Allah, Della berhasil menggapai mimpinya menjadi dosen. Sebelum bergabung menjadi dosen Teknik dan Manajemen Lingkungan Sekolah Vokasi IPB University, ia sempat mengajar di ITENAS. Setiap tempat mengajarkan hal baru baginya, terutama dalam memahami perbedaan budaya dan kebiasaan di berbagai institusi.

Pada akhirnya, Luvy Dellarosa, menyadari bahwa segala hal yang ia alami—dilema karir, kegagalan, dan inspirasi dari para dosennya, mengarahkan dirinya kembali ke satu titik, yaitu dunia pendidikan. Ia percaya bahwa terkadang jalan yang kita hindari justru adalah jalan terbaik untuk kita. Salah satu yang menjadi pegangan baginya adalah At Taubah ayat 41 “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah”. Dengan tekad yang semakin kuat, ia melangkah ke depan, siap mengabdikan diri untuk pendidikan dan generasi yang akan datang.

Mentalitas Instan dan Eksploitasi Diri: Sisi Gelap Live Streaming TikTok

0

Oleh: Putri Apsari Najwan, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

 

Belakangan ini, marak fenomena “ngemis” online di TikTok dan menjadi perbincangan publik. Kasus Gunawan, atau yang biasa dikenal dengan panggilan Sadbor, mengajak banyak orang di desanya untuk berjoget demi saweran digital. Lewat TikTok, ia berhasil menarik banyak orang di sekitarnya menjadi live streamer, tapi bukan untuk berjualan seperti live streaming pada umumnya. Sadbor berjoget berharap saweran digital dari penonton itu bersama hampir satu masyarakat desa yang berlokasi di Sukabumi. Di satu sisi, hal ini menunjukkan bagaimana media sosial membuka peluang ekonomi baru dengan menghadirkan fitur live streaming, tetapi tren ini juga memperlihatkan wajah lain dari kemiskinan dan eksploitasi digital yang terjadi di Indonesia. Fenomena ini bukan hanya sekedar hiburan semata, melainkan cerminan dari sistem sosial dan ekonomi yang belum mampu memberikan solusi yang tepat dan jangka panjang bagi masyarakat yang membutuhkan.

TikTok Menjadi Inovasi atau Ladang Eksploitasi?

TikTok menjadi platform yang kini mengubah cara orang mencari penghasilan, atau bahkan ada yang menjadikan TikTok sebagai penghasilan utama mereka. Sejak populer di Indonesia pada 2017, aplikasi ini berkembang pesat dan menciptakan profesi baru, mulai dari content creator hingga pedagang online. Dengan lebih dari 110 juta pengguna di Indonesia, TikTok kini bukan sekedar media hiburan, tetapi juga platform ekonomi digital yang menggiurkan. Namun, apakah inovasi ini akan membawa manfaat bagi semua kalangan? Atau justru menjadi ladang eksploitasi bagi mereka yang kurang beruntung?

Fitur live streaming ini memungkinkan pengguna mendapatkan saweran berbentuk gift yang harus dibeli menggunakan koin. Hal ini membuka peluang sekaligus jebakan bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat dengan keterbatasan ekonomi akan melihat kesempatan ini sebagai cara cepat untuk mendapatkan uang tanpa perlu bekerja secara resmi. Namun, kenyataannya mereka hanya menjadi objek tontonan yang dipermainkan oleh algoritma dan empati penonton. Jika kreativitas berarti menggali potensi dan inovasi, maka mengemis online—baik dengan berjoget, mandi lumpur, dan sebagainya—bukanlah kreativitas, melainkan bentuk eksploitasi diri yang disengaja pada platform digital.

Mentalitas Instan Menjadi Faktor Pendorong Utama

Fenomena “ngemis” online ini tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ekonomi yang sulit menjadi salah satu faktor pendorong utama. Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar, sedangkan kesempatan kerja yang layak masih terbatas bagi banyak orang. Alih-alih memilih untuk mengasah keterampilan atau diberdayakan dengan pelatihan keterampilan, mereka justru lebih memilih untuk terjerumus dalam mekanisme mencari uang yang instan, meskipun dengan cara yang merendahkan diri sendiri. Mereka bisa mendapatkan uang hanya dengan menjadi objek penonton yang melalukan sawer, berpikir bahwa itu cara yang paling instan.

Selain itu, rendahnya literasi digital juga menjadi masalah. Banyak orang yang belum memahami bagaimana dunia digital bekerja dan bagaimana algoritma menentukan kenaikkan konten. Mereka tidak menyadari bahwa semakin mereka melakukan aksi yang dianggap “unik” atau “menghibur” dalam perspektif tertentu, semakin besar kemungkinan mereka viral dan mendapatkan saweran. Hal ini termasuk pada jebakan psikologis yang memanfaatkan mentalitas instan. Artinya, kepuasan dan keuntungan harus didapat dengan cara yang paling cepat tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.

Dampak Negatif: Normalisasi Eksploitasi

Hal yang paling mengkhawatirkan dari fenomena ini bukan hanya soal mengemis online itu sendiri, tetapi bagaimana praktik ini perlahan menjadi sesuatu yang dinormalisasi oleh masyarakat Indonesia. Jika dibiarkan, hal ini tentu saja bisa menurunkan standar moral masyarakat Indonesia dalam melihat kerja keras seorang individu. Alih-alih berjuang untuk meningkatkan taraf hidup dengan keterampilan dan pendidikan yang berkualitas, orang-orang mulai percaya bahwa cukup dengan tampil menyedihkan di depan kamera, mereka bisa mendapatkan uang dan bertahan hidup.

Terlebih lagi, fenomena ini memperkuat eksploitasi kelompok rentan, termasuk anak-anak dan lansia. Saya sudah melihat bagaimana sebelumnya seorang nenek rela mandi lumpur atau seorang kakek berjoget demi mendapatkan perhatian dan donasi dari penonton. Jika hal seperti ini terus terjadi, masyarakat seharusnya mengecam praktik live streaming berkedok eksploitasi digital ini, bukan malah menikmatinya sebagai hiburan.

Perlunya Regulasi Ketat dan Kesadaran Individu

Tentunya, masalah ini tidak bisa dibiarkan terus berkembang semakin besar. Pemerintah dan platform digital harus mengambil tindakan tegas terkait masalah ini. Regulasi ketat perlu diterapkan untuk mencegah ekploitasi digital, terutama terhadap anak-anak dan kelompok rentan. Tidak cukup hanya dengan “pedoman kounitas”, tetapi harus ada tindakan konkret dari TikTok seperti pemblorikan akun yang melanggar dan penghapusan fitur gift atau sawer bagi konten-konten tertentu.

Selain itu, edukasi mengenai pentingnya literasi digital harus diperkuat, baik melalui sekolah, komunitas, ataupun media. Msyarakat Indonesia harus diberi pemahaman bahwa ada acara lain untuk mencari uang dengan memanfaatkan teknologi tanpa harus merendahkan diri sendiri. Kita juga harus mendorong ekonomi digital yang lebih sehat, seperti pelatihan keterampilan sebagai content creator, dan promosi konten-konten kreatif yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat Indonesia.

Pastikan Kejadian di SPBU Jalan Alternatif Sentul Tak Terulang, Pertamina Minta Masyarakat Lapor Jika Ada Kecurangan

Bogordaily.net – Pertamina meminta agar masyarakat untuk dapat melapor jika ada kecurangan dalam setiap pengisian BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Hal tersebut buntut kecurangan di SPBU Pertamina dengan nomor 34.167.12 di Jalan Alternatif Sentul, Desa Cijujung, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, yang diketahui sudah terjadi sejak 5 Maret 2025.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega menyebut bahwa, kecurangan di SPBU tersebut sudah terjadi sejak awal dioperasionalkan tepatnya pada 2 bulan lalu. Dimana, dari kecurangan itu, SPBU tersebut berhasil meraup keuntungan hingga 3,4 Miliar.

“Keuntungan dari hasil kecurangan ini bahwa tiap tahun mereka mendapat keuntungan 3,4 miliar nanti kita gali lakukan pendalaman berapa tahun dia sudah beroperasional melakukan di SPBU ini sehingga kita tau keuntungan mereka selama ini,” kata Ega kepada wartawan.

Kemudian, pihaknya bersama Pemerintah akan terus melakukan pengawasan terhadap takaran BBM Pertalite dan juga Pertamax di beberapa SPBU.

Sehingga pelanggaran yang dilakukan pihak pengusaha khususnya SPBU untuk tidak akan terjadi lagi dan tidak ada yang dirugikan kembali.

“Kami bersama Polri dan instansi terkait lainnya utk memastikan bahwa takaran pertalite dan pertamax, kami pastikan konsumen mendapatkan sesuai takaran yang berlaku,” jelasnya.

“Pemerintah juga harus proaktif melakukan pengawasan dan menyampaikan laporan ke kami apabila ditemukan ada laporan² lain,” tambah Ega.

Selain itu, pihaknya meminta agar masyarakat dapat melapor jika terbukti SPBU melakukan kecurangan. Sehingga liriknya bersama Pemerintah akan segera menindak tegas.

“Masyarakat juga kita himbau apabila ada informasi laporan tentang kecurangan silahkan laporkan ke pertamina,” ujar Ega.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama Dit Tipiter Mabes Polri menyegel SPBU Pertamina dengan nomor 34.167.12 di Jalan Alternatif Sentul, Desa Cijujung, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Rabu 19 Maret 2025.

Penyegelan dilakukan karena SPBU tersebut telah mengurangi takaran BBM jenis Pertalite dan Pertamax menjadi kurang dari – 4 persen atau setiap 20 liter berkurang 750 mililiter. Sehingga konsumen atau diperkirakan dirugikan hingga 3,4 miliar dalam satu tahun

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjelaskan bahwa, temuan tersebut berawal dari adanya aduan masyarakat yang kemudian ditindaklanjuti dan didalami, oleh Polri bersama dengan Kemendag dan Pemerintah.

Sehingga ditemukan atau diduga ada kecurangan yang dilakukan oleh pengusaha SPBU tersebut dengan, modus operandi yakni memasang alat elektronik dalam pompa ukur.

“Yaitu dengan memasang alat perangkat elektronik yang ini saya pikir bentuknya baru jadi tidak begitu kelihatan, alat elektronik dipasang di kabel di pompa ukur kemudian dibawa ke ruangan agak jauh dari pompa ukur,” ungkap Mendag kepada wartawan, Rabu 18 Maret 2025.***

Albin Pandita

Terbukti Lakukan Kecurangan, Dit Tipiter Mabes Polri : Pengawas SPBU Jalan Alternatif Sentul Terancam 5 Tahun Penjara

Bogordaily.net – Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dit Tipiter) Mabes Polri mengungkapkan pengawas SPBU Pertamina dengan nomor 34.167.12 di Jalan Alternatif Sentul, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor terancam 5 tahun penjara.

Dirtipidter Mabes Polri Brigjen Pol Nunung Syaifuddin menjelaskan bahwa, temuan tersebut awalnya terjadi pada tanggal 5 Maret 2025 tim penyelidik subnit 1 Dit Tipiter Mabes Polri, bersama Direktorat mitrologi Dirjen BKTN Kementerian Perdagangan dan PT Pertamina Patra Niaga mendatangi SPBU tersebut untuk melakukan pengecekan dan serangkaian penyelidikan

Dari hasil penyelidikan tersebut disaksikan oleh pengawas beserta admin, dan operator SPBU, meminta kepada petugas dari direktorat mitrologi ilegal kementerian perdagangan telah diperoleh bukti permulaan yang cukup.

“Sehingga kasus ini bisa kita naikan ke penyidikan dengan terlapor sodara HZ selaku pengawas SPBU,” kata Brigjen Pol Nunung Syaifuddin kepada wartawan, Rabu 18 Maret 2025.

Menurutnya, untuk modus operandi yang dilakukan oleh SPBU ini adalah dengan memasang kabel tambahan berjenis kabel data, yang terpasang di dalem blok kabel arus atau junction blox.

Kemudian, kabel yang berada dibawah dispenser yang tersambung pada panel listrik dan pada seperangkat modul, terdiri dari satu buah mini smart switch, dan satu buah mct serta dua buah prile dan kategori alat lainnya sebagai tambahan.

“Dari volume BBM yang keluar dari dispenser terdapat kekurangan minimal 605 ML – 840 ML per 20 Liter, penyembunyian alat tambahan berupa kompenen elektronik pada pcp terbukti bahwa mengurangi takaran BBM pada konsumen,” jelasnya.

Adapun, pompa pada BBM tersebut menyebabkan tidak terdeteksinya oleh petugas mitrologi. Sehingga SPBU tersebut dinilai telah menyebabkan kerugian bagi masyarakat.

“Kalau ketika melakukan kegiatan tera ulang karna alatnya adanya di dalam dan kabel saja, alat tambahan secara ilegal yang terpasang pada dispenser bbm secara melanggar hukum,” ujarnya.

Lebih lanjut, saat ini pihaknya, berhasil mengamankan satu orang terduga pelaku yakni HZ selaku pengawas SPBU dan beberapa saksi dan juga berbagai barang bukti berupa 4 dispenser dan lain sebagainya.

“Untuk saksi saksi yang sudah kita periksa ada 8, barang bukti yang sudah kita sita 1 kabel tambahan berjenis kabel data, kedua 1 buah mini smart swit ,1 buah mcb, 2 buah relay, dan 4 dispenser,” tegasnya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan saksi dan barang bukti perbuatan yang telah dilakukan oleh HZ selaku pengawas SPBU, dapat dikenakan pidana pasal 62 ayat 1 uu no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman penjara paling lama 5 tahun dan denda 2 miliar rupiah.

Kemudian, juncto pasal 27 ayat 1 pasal 32 ayat 1 uu no 2 tahun 81 tentang mitrologi legal dapat dipidana selama lamanya satu tahun dan denda setingginya Rp1 miliar.***

Albin Pandita

Kurangi Takaran Pertalite dan Pertamax, Kemendag dan Mabes Polri Segel SPBU di Jalan Alternatif Sentul Bogor 

Bogordaily.net – Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama Dit Tipiter Mabes Polri menyegel SPBU Pertamina dengan nomor 34.167.12 di Jalan Alternatif Sentul, Desa Cijujung, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Rabu 19 Maret 2025.

Penyegelan dilakukan karena SPBU tersebut telah mengurangi takaran BBM jenis Pertalite dan Pertamax menjadi kurang dari – 4 persen atau setiap 20 liter berkurang 750 mililiter. Sehingga konsumen atau diperkirakan dirugikan hingga 3,4 miliar dalam satu tahun

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjelaskan bahwa, temuan tersebut berawal dari adanya aduan masyarakat yang kemudian ditindaklanjuti dan didalami, oleh Polri bersama dengan Kemendag dan Pemerintah.

Sehingga ditemukan atau diduga ada kecurangan yang dilakukan oleh pengusaha SPBU tersebut dengan, modus operandi yakni memasang alat elektronik dalam pompa ukur.

“Yaitu dengan memasang alat perangkat elektronik yang ini saya pikir bentuknya baru jadi tidak begitu kelihatan, alat elektronik dipasang di kabel di pompa ukur kemudian dibawa ke ruangan agak jauh dari pompa ukur,” kata Mendag kepada wartawan, Rabu 18 Maret 2025.

Dalam operasinya, kata Budi, pelaku melakukan sistem remot, sehingga pengurangan atau pengoperasionalan ini bisa dilakukan dengan sistem remot yang difungsikan dengan hp.

“Jadi nanti ada aplikasi yg ada di hp itu bisa difungsikan kapan takaran ini akan berkurang dan kapan tidak berfungsi,” jelasnya.

Dengan begitu, setiap konsumen melakukan pengisian BBM dikurangi sebanyak 4 persen atau setiap 20 liter berkurang 250 mili liter. Diperkirakan, keuntungan dari SPBU tersebut dalam setahun bisa mencapai Rp. 3,4 Miliar.

“Jadi dengan perangkat elektronik ini maka takaran bensin itu rata rata berkurang – 4 persen atau setiap 20 liter berkurang 750 mili liter sehingga konsumen atau masyarakat dirugikan kira kira dalam setahun 3,4 miliar,” tegasnya.

Lebih lanjut, pihaknya meminta agar pengusaha SPBU untuk tidak melakukan kegiatan tersebut. Sehingga dapat menyebabkan kerugian di masyarakat.

“Karena ini merugikan masyarakat dan pemerintah akan bertindak tegas atas pelanggaran pelanggaran yang dilakukan oleh pengusaha,” ujarnya.

Selain itu, terhadap SPBU tersebut terbukti melakukan pelanggaran terhadap UUD metrologi legal dan UUD perlindungan konsumen, akan ditindak tegas oleh pemerintah.

“Pemerintah akan tegas untuk melakukan tindakan atas pelanggaran oleh pengusaha khususnya berkaitan dengan SPBU ini,” ungkap Budi.***

Albin Pandita

 

Liburan keluarga yang Berakhir tak terduga Di Pantai Pelabuhan Ratu Sukabumi

0

Bogordaily.net – Berkumpul dengan keluarga besar adalah momen yang paling ditunggu-tunggu, terutama di saat menjelang hari raya. Di tengah kesibukan masing-masing, menemukan waktu untuk bepergian bersama menjadi hal yang langka, tetapi sangat berharga. Momen ini bukan hanya tentang melepas penat, tetapi juga mempererat hubungan antar anggota keluarga.

Satu bulan sebelum Lebaran, di rumah nenek, terdengar obrolan santai antara tante-tanteku. Pembahasan ringan yang berubah menjadi serius, tentang liburan keluarga tahun ini. “Liburan kemana ya kita tahun ini?” tanya salah satu tanteku, yang membuka percakapan pertama. Beberapa usulan mulai muncul, dari pengunungan hingga pantai. Setelah perdebatan kecil dan pertimbangan matang, akhirnya kami sepakat memilih Pelabuhan Ratu, Sukabumi yang akan menjadi tujuan liburan kami kali ini.

Keputusan ini disambut dengan antusias.  Mulai membahas hal apa saja yang perlu di perbincangkan lebih lanjut, dari menentukan jumlah mobil yang dibutuhkan, apa saja yang harus di bawa, hingga memilih penginapan terbaik. Semua di bahas dengan penuh semangat. Hingga akhir nya kami sepakat untuk menginap di salah satu villa yang ada di daerah sana, Villa Sunset 77, sebuah tempat yang menawarkan pemandangan langsung ke laut sesuai apa yang di lihat oleh tante ku di internet.

Waktu pun berjalan, hingga tibalah awal Maret, saat nya para anggota keluarga menyesuaikan jadwal cuti dan berkumpul di rumah nenek kembali. Kami memutuskan berangkat pada hari Sabtu Pagi.

Sehari sebelumnya, suasana rumah begitu ramai dan penuh kehangatan, Ayahku yang datang dari Bekasi sudah lebih dulu tiba, begitu pun tanteku yang jauh-jauh datang dari Palembang, sementara tiga tanteku lainnya, yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah nenek, hanya menyesuaikan diri.

Malam itu, rumah nenek dipenuhi gelak tawa. Anak-anak kecil berlarian ke sana kemari, sementara yang dewasa berbincang seru. Obrolan ringan tentang perjalan esok hari pun semakin menambah rasa antusias. “Jangan lupa bawa obat anti mabuk ya, perjalanan kita lumayan jauh” ujar salah satu tanteku yang mengingatkan.

Sabtu pagi menuju Pelabuhan Ratu, Sukabumi menjadi awal perjalan kami. Tiga mobil keluarga beriringan meninggalkan Bogor. Aku duduk di dalam mobil bersama keluarga kecilku, menikmati perjalanan yang masih terasa segar.

Di dalam mobil, suasana begitu menyenangkan. Lagu-lagi dari layar kecil berbentuk kotak menemani perjalanan kami, hingga obrolan santai dengan ayah dan ibu pun mengalir begitu saja. Adik kecil ku selalu energik membuat kamu tertawa dengan tingkah lakunya yang lucu.

Namun, keceriaan di dalam mobil sedikit meredup ketika kami merasakan kemacetan panjang di jalan tol. Mobil pun melaju lambat, antrean panjang kendaraan membuat perjalan menjadi terasa lebih melelahkan. Aku pun memutuskan untuk tidur sejenak, berharap terbangun kami sudah lebih dekat dengan tujuan.

Beberapa saat kemudian, ketika membuka mata, aku melihat bahwa kami hampir keluar dari Tol Sukabumi. Namun, perjalanan masih cukup panjang. Perjalanan pun berubah, dari jalur lebar menjadi lebih sempit dengan tanjakan curam dan tikungan tajam.

Meski melelahkan, pemandangan di sepanjang perjalanan cukup menghibur. Kami melewati daerah perbukitan dengan kabut tipis yang menyelimuti pohon-pohon besar. Di sisi jalan, banyak terlihat pegangan yang menjual oleh oleh khas Sukabumi seperti Mochi, Sagon, dan Keripik Pisang.

Perjalanan semakin menantang, kami memilih jalur yang cepat tetapi ekstrem. Jalanan semakin menanjak dan di kelilingi pohon yang lebat. Beberapa kali kami juga melihat banyak monyet yang berkeliaran di pinggir jalan, mencari makanan berharap para pelintas jalan memberi nya makanan.

Setelah perjalanan panjang itu, akhirnya kami tiba di Villa Sunset Plaza 77. Begitu turun dari mobil, angin laut langsung menyapa kami. Hijabku berkibar di terpa angin, sementara suara deburan ombak terdengar begitu jelas. Adik kecil ku langsung berteriak kegirangan, berlari kecil menuju pemandangan laut itu. Sementara itu, sepupu sepupuku sibuk mengeluarkan ponsel mereka untuk langsung mengabadikan momen di pantai itu.

Villa tempat kami menginap benar-benar nyaman. Dengan desain bernuansa Bali, terlihat dari pintu masuk nya yang terbuat dari kayu jati. Setiap kamar juga memiliki fasilitas yang lengkap, termasuk AC dan kamar mandi pribadi.

Sore harinya, kami pergi ke pantai yang berada tepat di depan villa kami. Langit di sana terlihat mendung, tetapi semangat kami untuk bermain di pantai tetap tinggi. Kami bermain pasir, membangun istana pasir, serta membuat karakter hewan dengan cetakan yang sudah di beli sebelum kami datang ke villa itu, kami sangat mempersiapkan itu.

Di sepanjang pantai, terdapat penyewaan kuda. Dengan harga Rp50.000, kami bisa menikmati sensasi menunggang kuda di tepi pantai. “Ayo coba naik kuda” ajakku pada saudara sepupu ku. Kami pun bergantian menaiki kuda dan tak lupa mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel.

Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba hujan turun, membuat kami berlari ke kecil menuju villa.

Malam harinya, suasana berubah drastis. Ombak yang tadinya tenang kini bergulung besar. Angin begitu kencang, dan suara petir bersahutan di langit gelap. Dari dalam villa, suara ombak yang menghempas pantai terdengar begitu keras, bahkan teraa begitu menyeramkan.

Kami berkumpul di ruang tengah, membuat minuman hangat untuk menghangatkan tubuh. Dalam suasana yang sedikit cemas, kami mulai berdiskusi apakah sebaiknya kami pulang lebih awal. “Ombak semakin besar, besok kita pulang saja pagi pagi” ujar salah satu om ku. Semua sepakat bahwa keselamatan lebih penting, meskipun sedikit kecewa karena liburan harus berakhir begitu cepat.

Malam itu, tidur pun terasa lebih sulit. Suara ombak terus mengema, membuat kami merasa tak tenang.

Pagi harinya, kami mulai berkemas menyiapkan tas untuk di masukkan ke dalam mobil. Ombak saat itu, tampak terasa lebih tenang dibandingkan semalam. Tetapi, angin masih berhembus kencang. Kami pun segara meninggalkan villa itu.

Sebelum kembali ke Bogor, kami sempat singgah ke sebuah restoran seafood di daerah Pelabuhan Ratu. Hidangan laut segar, seperti udang, kerang dan ikan bakar tersaji di meja makan kami. Masih sama dengan villa tempat penginapan kami. Restoran ini pun menyuguhkan pemandangan yang langsung terlihat ke arah pantai. Di tengah makan kami, ombak kembali membesar, seakan ingin menelan restoran yang sedang kami singgahi.

Kami pun segera menyelesaikan makanan dan mempercepat kepulangan. Sesampainya kami di Bogor, kami langsung beristirahat. Namun, saat menyalakan televisi, sebuah berita mengejutkan muncul dari Pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Pantai tersebut mengalami banjir rob.

Rasa syukur langsung menyelimuti hati kami. Keputusan untuk pulang lebih awal ternyata menyelamatkan kami dari kemungkinan terjebak dalam bencana alam.

Liburan kali ini memberikan pelajaran berharga. Selain kebersamaan yang tak ternilai, kami juga belajar bahwa alam bisa berubah dalam waktu yang cepat. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama.

Meskipun perjalanan ini berakhir lebih cepat dari perencanaan, pengalaman dan kenangan yang kami dapatkan akan selalu tersimpan dalam ingatan.***

 

Egialipamana Ramdini Sitepu

 (Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB)

 

 

Percepat Kopdes Merah Putih, Menkop Rilis SE Tata Cara Pembentukan

0

Bogordaily.net – Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 1/2025 tentang Tata Cara Pembentukan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang ditujukan kepada para Menteri dan Pimpinan Lembaga Pemerintah Terkait, Gubernur dan Bupati/Wali Kota di seluruh Indonesia, Kepala Dinas yang membidangi koperasi Provinsi/Kabupaten/Kota, serta Kepala Desa seluruh Indonesia.

“Surat Edaran ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pembentukan Kopdes Merah Putih,” kata Menkop dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu 19 Maret 2025.

Dalam SE tersebut dipaparkan tahapan dan lini masa pembentukan Kopdes Merah Putih yang berlangsung pada Maret-Juni 2025.

Di dalamnya mencakup tahap sosialisasi dan persiapan, mulai Maret 2025, dilakukan sosialisasi intensif program ke seluruh pemerintah daerah (Gubernur, Bupati Walikota) hingga tingkat desa (Kepala Desa).

Dalam SE tersebut, Menkop Budi Arie juga menyinggung soal musyawarah desa dalam pembentukan koperasi, dimana setiap desa yang ditargetkan membentuk koperasi harus menyelenggarakan musyawarah desa khusus.

“Dalam forum ini, harus disepakati pembentukan koperasi, anggaran dasar awal mencakup nama, jenis usaha, modal dasar, keanggotaan awal, dan sebagainya, serta pemilihan calon pengurus/pengawas koperasi,” jelas Menkop.

Tahap selanjutnya, lanjut Menkop, terkait pengesahan badan hukum untuk pendirian koperasi baru.

“Notaris akan membuat Akta Pendirian Koperasi sesuai ketentuan hukum,” ungkap Menkop.

Lalu, diajukan permohonan pengesahan koperasi ke Kementerian Hukum untuk mendapatkan pengesahan badan hukum.

Namun, bagi desa-desa yang telah memiliki koperasi aktif, dilakukan pendataan dan penilaian kinerja koperasi tersebut.

Apabila dinilai sehat dan sesuai tujuan program, koperasi eksisting dapat diintegrasikan sebagai bagian dari program Kopdes Merah Putih.

“Ini tanpa perlu mendirikan baru, dengan penyesuaian anggaran dasar. Bagi koperasi desa yang ada namun kurang aktif atau lemah, akan langsung masuk ke skema revitalisasi,” terang Menkop.

Menurut Menkop, desa yang jumlah penduduknya kurang dari 500 orang, maka koperasi desa bisa didirikan lebih dari satu desa.***