Sunday, 12 April 2026
Home Blog Page 882

Kisah Ratu Meta dan Suaminya Yogi Renaldi, dari Pernikahan hingga Dugaan KDRT

0

Bogordaily.net – Kisah Ratu Meta dan suaminya Yogi Renaldi kembali menjadi perbincangan hangat setelah penyanyi dangdut ini membagikan sebuah video mengejutkan di akun TikToknya tentang KDRT.

Dalam video tersebut, wajahnya tampak mengalami luka-luka, yang diduga akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya. Unggahan ini pun langsung menghebohkan media sosial dan menarik perhatian publik.

Melalui unggahannya, Ratu Meta mengaku bahwa dirinya mengalami tindak kekerasan dari sang suami, Yogi Renaldi.

Dalam kisah rumah tangganya, Ratu Meta sebelumnya sempat terlihat harmonis bersama Yogi Renaldi, namun kini rumah tangga mereka justru diterpa isu KDRT yang memilukan.

Dalam keterangannya di TikTok, penyanyi dangdut ini menyebut bahwa dirinya dicekik hingga hampir kehabisan napas, dipukul menggunakan perkakas mobil, dan bahkan diinjak oleh suaminya.

Peristiwa ini meninggalkan trauma mendalam bagi dirinya, yang ia ungkapkan melalui tulisan emosional di media sosial.

Kasus ini semakin viral setelah warganet ramai membahas hubungan mereka yang kini penuh tanda tanya.

Kisah Ratu Meta dan suaminya Yogi Renaldi, yang dahulu tampak bahagia, kini berubah menjadi kisah pilu yang menyita perhatian publik.

Banyak yang merasa prihatin atas kejadian yang menimpa Ratu Meta, sementara sebagian lain menunggu klarifikasi dari pihak suami terkait dugaan kekerasan ini.

Kasus ini pun menjadi perbincangan di media sosial mengenai kebenaran peristiwa kdrt yang dialami pedangdut Ratu Meta tersebut.***

Resmikan Gedung Baru Umar Bin Khatab, RS Islam Bogor Wujudkan Amanah Wakaf Untuk Ummat

0

Bogordaily.net – Dalam upaya menghadirkan layanan kesehatan yang lebih luas dan berkualitas, Rumah Sakit (RS) Islam Bogor meresmikan gedung baru bernama Umar Bin Khatab. Gedung ini menjadi simbol harapan bagi masyarakat dengan fasilitas medis yang lebih lengkap dan modern.

Peresmian ini dihadiri oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, Duta Besar Turki Prof. Dr. Talip Küçükcan, Ketua Pembina Yayasan RS Islam Bogor Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin, MS, Ketua Yayasan RSIB Dr. Ir. H. Dwi Sudharto, M.Si, Direktur RSIB drg. Dewi Wiyana, M.Kes, serta para donatur dan wakif yang berkontribusi dalam pembangunan gedung ini.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan bahwa kehadiran gedung baru ini semakin memperkuat layanan kesehatan di Kota Bogor.

“Peresmian gedung baru di RS Islam Bogor menambah fasilitas kesehatan bagi warga Kota Bogor. Saat ini, rata-rata kunjungan ke rumah sakit meningkat untuk berbagai keluhan kesehatan. Jadi, masyarakat punya pilihan dengan adanya fasilitas yang lebih memadai di RS Islam Bogor,” ujar Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim pada Sabtu 15 Maret 2025.

Sementara itu, Ketua Yayasan RS Islam Bogor, Dr. Ir. H. Dwi Sudharto, menjelaskan bahwa pembangunan gedung ini merupakan amanah yang diwariskan oleh Almarhum Kiai Haji Soleh Iskandar, pendiri RS Islam Bogor.

“Beliau telah meletakkan fondasi perjuangan dalam pelayanan kesehatan Islami. Kini tugas generasi penerus adalah melanjutkan dan mengembangkan amanah ini agar manfaatnya semakin luas,” ujar Dwi Sudharto.

Gedung Umar Bin Khatab memiliki luas 2.359,8 m² dengan empat lantai yang diperuntukkan bagi layanan medis krusial, seperti ICU (Intensive Care Unit), NICU (Neonatal Intensive Care Unit), PICU (Pediatric Intensive Care Unit), Perinatologi, Ruang Operasi (OK), VK (Verloskamer – Ruang Bersalin), Hemodialisa (Cuci Darah) dan Ruang Rawat Inap Kebidanan.

“Dengan fasilitas ini, RS Islam Bogor semakin siap menjawab tantangan kesehatan, mulai dari perawatan bayi prematur di NICU, penanganan pasien kritis di ICU dan PICU, hingga layanan cuci darah bagi penderita gangguan ginjal,” jelasnya.

Pembangunan Gedung Umar Bin Khatab tidak lepas dari dukungan wakaf umat dan kontribusi berbagai pihak, antara lain:

PT PLN Persero membantu revitalisasi listrik, Keluarga Besar BPK Edi Tasman mewakafkan pembangunan lantai 3, IPHI/YPHB membangun ruang ICU, Bank Syariah Indonesia (BSI) menyumbang satu unit ambulans,
BAZNAS membantu pengadaan alat kesehatan serta YBM PLN dan BRILian turut serta dalam pembangunan fasilitas kesehatan.

Secara khusus, penghargaan diberikan kepada His Excellency Mr. Ambassador Prof. Dr. Talip Küçükcan bersama TIKA yang telah membantu pengadaan alat kesehatan di ruang ICU.

Resmikan Gedung Baru Umar Bin Khatab, RS Islam Bogor Wujudkan Amanah Wakaf Untuk Ummat
Dalam menghadirkan layanan kesehatan yang berkualitas, Rumah Sakit Islam Bogor (RSIB) meresmikan gedung baru bernama Umar Bin Khatab. (Ibnu/bogordaily.net).

“Sebagai bentuk apresiasi, ruang ICU ini diberi nama “Ruang ICU Presiden Recep Tayyip Erdoğan”,” jelasnya.

Sebagai rumah sakit wakaf, RS Islam Bogor terus berkomitmen memberikan manfaat bagi masyarakat melalui berbagai program sosial, seperti Jumat Berkah, khitanan massal, bantuan bencana alam, edukasi kesehatan, dan pelayanan kesehatan gratis.

Bahkan, hingga akhir Februari 2025, RSIB telah menggratiskan layanan kesehatan bagi 487 pasien dhuafa.

Sebagai bagian dari peresmian gedung baru ini, RS Islam Bogor juga mengadakan “Pasar Sehat Gratis”, sebuah program yang menyediakan sembako gratis bagi 200 penerima manfaat.

Dengan hadirnya Gedung Umar Bin Khatab, RS Islam Bogor semakin siap memberikan pelayanan kesehatan yang lebih profesional, komprehensif, dan sesuai dengan motto “Sehat Syariah, Lancar Ibadah, Kuat Akidah”.***

Ibnu Galansa

Tradisi Baju Lebaran di Indonesia: Makna, Sejarah, dan Perkembangannya

0

Bogordaily.net – Memakai baju baru saat Lebaran telah menjadi tradisi yang mengakar kuat di berbagai negara Muslim, terutama Indonesia.

Meskipun bukan kewajiban agama, kebiasaan menggunakan baju lebaran dianggap sebagai simbol kebersihan lahir dan batin setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.

Menurut sejarah, memakai baju baru saat Lebaran berakar dari simbolisme kebersihan dan kesucian.

Dalam Islam, Hari Raya Idulfitri dianggap sebagai momen untuk kembali ke keadaan fitrah, atau kesucian, seperti bayi yang baru lahir.

Baju baru yang dikenakan mencerminkan kesiapan untuk memulai lembaran baru dengan semangat dan harapan yang lebih baik.

Selain itu, tradisi ini juga menjadi ekspresi kegembiraan dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

Bagi banyak orang, mengenakan baju baru saat Lebaran adalah cara untuk merayakan kemenangan setelah berhasil menahan hawa nafsu selama Ramadan.

Sejarah tradisi baju lebaran

Sejarah pasti kapan tradisi ini dimulai memang sulit dilacak. Namun, kebiasaan memakai pakaian terbaik pada hari raya sudah berlangsung lama di berbagai budaya, termasuk di Indonesia.

Nilai-nilai Islam kemudian turut memengaruhi tradisi ini hingga menjadi kebiasaan yang umum dilakukan setiap Lebaran.

Tidak hanya itu, budaya lokal Indonesia yang menghargai penampilan dan kerapihan turut memperkuat tradisi ini. Di berbagai daerah, masyarakat memiliki ciri khas busana Lebaran yang merefleksikan identitas budaya masing-masing.

Dalam perkembangannya, tradisi memakai baju baru saat Lebaran telah mengalami perubahan.

Jika dulu pakaian baru identik dengan sesuatu yang sederhana namun bersih, kini model, bahan, dan desain baju Lebaran semakin beragam dan mengikuti tren fashion.

Seiring dengan perkembangan industri fashion dan ekonomi kreatif, banyak desainer dan pengusaha lokal yang menciptakan koleksi busana Lebaran yang unik dan menarik.

Hal ini tidak hanya memberikan variasi bagi masyarakat, tetapi juga membantu menggerakkan roda ekonomi, terutama bagi para pelaku industri kreatif.

Tradisi memakai baju baru saat Lebaran tampaknya akan terus bertahan dan berkembang seiring waktu. Meskipun bentuknya mungkin berubah, makna simbolis dari kebersihan, kesucian, dan kebahagiaan akan selalu menjadi inti dari perayaan Idulfitri.

Haruskah Warga Muslim Memakai Baju Baru Saat Lebaran? Ini Hukumnya

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, pusat perbelanjaan dan pasar menjadi tujuan favorit masyarakat untuk membeli berbagai keperluan lebaran.

Salah satu tradisi yang sudah mengakar di kalangan masyarakat Muslim Indonesia adalah mengenakan baju baru di hari kemenangan tersebut.

Namun, apakah memakai baju baru saat lebaran merupakan suatu keharusan? Bagaimana pandangan agama mengenai hal ini?

Anjuran Mengenakan Pakaian Terbaik

Melansir Nuonline, menurut Ustadz Alhafiz Kurniawan, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), agama Islam menganjurkan umat Muslim untuk mengenakan pakaian terbaiknya saat merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Namun, hal ini bukan berarti harus mengenakan baju baru.

Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin dalam kitab Busyral Karim menjelaskan bahwa seseorang dianjurkan berhias, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik ketika hendak keluar untuk melaksanakan shalat Id.

Pakaian terbaik tersebut tidak selalu berwarna putih, namun jika dihadapkan pada pilihan antara pakaian berwarna putih dan warna lain yang sama baiknya, maka mengenakan pakaian putih dianggap lebih utama.

“Maksud dari hari Id adalah menampakkan nikmat Allah, karenanya mengenakan pakaian terbaik itu lebih utama,” jelasnya. Artinya, tujuan utama mengenakan pakaian yang baik pada Hari Raya Idul Fitri adalah untuk mensyukuri nikmat Allah dan menunjukkan kebahagiaan.

2. Baju Baru Bukanlah Keharusan

Ustadz Alhafiz juga menegaskan bahwa memakai baju baru bukanlah sebuah kewajiban. Islam hanya menganjurkan agar umatnya mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki, bukan berarti harus membeli pakaian baru setiap kali lebaran tiba.

Jika pakaian lama masih layak dan baik, itu sudah cukup untuk memenuhi anjuran agama.

Adapun alasan banyak orang membeli baju baru menjelang lebaran, menurut Ustadz Alhafiz, bisa jadi karena pakaian yang dimiliki sudah tidak muat, atau warnanya sudah pudar. Dalam kasus ini, membeli baju baru dianggap wajar dan bukan sesuatu yang dilarang.***

Perjuangan Menuju Alam Bebas

0

 Bogordaily.net – Kami bukan keluarga dengan tipe yang suka berkarya wisata sepanjang liburan. Namun, tiba-tiba saja entah datang dari mana ide Ibu untuk mengajak Kami semua berkemah bersama. Jadilah Kami menyusun rencana karya wisata dadakan untuk esok hari, Sabtu tanggal 30 Oktober 2022.

Dari semalam, Ibu sudah menyiapkan satu tas carrier besar, satu tas ransel sedang, satu buah tenda, dan beberapa barang bawaan lainnya. Tentunya beliau tidak lupa dengan bekal makanan dan snack-snack ringan lainnya.

Nantinya tas-tas itu kami bawa satu masing-masing. Hanya berbekal catatan rute perjalanan yang Ibu buat hasil menonton tutorial di sebuah kanal YouTube, tujuan kami adalah Camping Gayatri Mountain adventure yang merupakan Bumi perkemahan di Cisarua, Jawa Barat.

Dengan menggunakan taksi online, kami berangkat menuju stasiun Pondok Ranji sekitar pukul 9 pagi. Di Stasiun Pondok Ranji, aku sempatkan melihat satu persatu wajah semangat keluargaku. Adikku sudah senyum-senyum sendiri, wajah Ibu tampak bersemangat, dan Kakakku walau tidak begitu terlihat, tapi pasti dia juga senang.

Kereta tujuan Tanah Abang tiba, kami naik dan langsung mencari setidaknya satu tempat duduk untuk Ibu. Tidak sampai setengah jam, kami sampai di Stasiun Tanah Abang. Keadaan Stasiun Tanah Abang sangat ramai.

Aku pikir semua orang juga dalam perjalanan untuk jalan-jalan. Cukup lama kami berdiri menunggu di peron 3, kereta yang melewati Stasiun Manggarai akhirnya sampai setelah 15 menit.

Saat itu kereta sudah terlalu penuh, sehingga tidak ada satupun kursi untuk Ibu. Namun kata Ibu, “Gak apa-apa, bentar doang cuma lewatin 3 stasiun kok”. Benar saja, kurang lebih 10 menit kemudian, kami sudah sampai di Stasiun Manggarai. Kami keluar kereta bersamaan dengan kerumunan orang lainnya.

Berjalan berurutan, membelah keramaian, bertabrakan dengan tas-tas besar orang lain. Untung saja sesampainya di dalam kereta tujuan Bogor, keramaian kian memudar. Digantikan dengan orang-orang yang berebut tempat duduk.

Kami mendapat tempat duduk tepat di dekat pintu, tepat untuk empat orang. Perjalanan kereta dari Manggarai ke Bogor akan memakan waktu kurang lebih satu jam kurang, jadi syukurlah kami mendapat tempat duduk.

Terdengar suara penyiar kereta api, menyebutkan bahwa kereta telah sampai di Stasiun Bogor. Kami pun bersiap keluar kereta. “Habis ini kemana, Bu?”, tanyaku. “Keluar dulu, nanti kita cari angkot 02 yang ke Sukasari”, jawab Ibu.

Sejujurnya, Ibu juga belum terlalu mengerti dengan rute angkot yang ada di Bogor. Maka dari itu, kami banyak bertanya dengan orang-orang di sekitar luar stasiun. Kami pun diarahkan oleh salah satu bapak-bapak untuk menunggu di trotoar seberang.

Di sana, sudah ada sebuah angkot bertuliskan “02 Sukasari” yang tengah bertengger di bahu jalan. Sebelum naik, Ibu sempat  memastikan bahwa angkot yang akan kami naiki sesuai dengan tujuan kami.

Sesuai dengan yang tertulis di catatan Ibu, seharusnya kami sudah berada di angkot yang tepat. Sepanjang perjalanan di dalam angkot 02 Sukasari itu, Ibu fokus memperhatikan ke luar jendela. Hingga akhirnya kami turun di tempat mobil-mobil keluar dari Tol Jagorawi.

Jam sudah menunjukkan pukul dua belasan. Matahari sudah di atas kepala. Setelah turun dari angkot, kami kembali menaiki angkot bernomorkan 02A, kali ini dengan tujuan Cisarua. Sejauh ini, rasa semangat masih ada walau gerah dan pegal terasa. Apalagi ketika melihat pemandangan di luar, jadi tidak sabar untuk sampai di tempat perkemahannya. Setelah hampir satu jam kami menempuh perjalanan dengan angkot “02A Cisarua” itu, akhirnya kami turun di pertigaan Batu Layang, Jalan Raya Puncak.

Jalanan ramai itu cukup familiar, mengingat sebelumnya kami sudah beberapa kali melewati jalan ini ketika ingin ke Puncak. Beberapa lama kami berdiri di pertigaan itu, di depan sebuah minimarket yang juga ramai oleh pengunjung, menerka-menerka harus pergi ke arah mana lagi setelah ini.

Setelah sudah cukup yakin, Ibu mengarahkan kami untuk jalan sedikit ke arah atas hingga sampai di sebuah pertigaan lainnya yang ada di antara ruko-ruko. Di sebelah rumah makan Padang, kami belok ke sebuah gang.

Dari situ, aku lihat perjalanan sudah mulai menanjak medannya. Sejujurnya, sudah pertengahan perjalanan, rasanya cukup lelah. Apalagi masing-masing dari kami membawa tas yang lumayan berat dan harus berjalan. Terutama adikku yang membawa tas carrier besar. Pasti pundaknya sudah meronta-ronta karena pegal.

Kami berjalan menyusuri perkampungan, melewati rumah-rumah, sekolah dasar, dan ada juga sawah-sawah. Berjalan tanpa tahu sejauh apa perjalanannya dan kapan akan sampainya, membuat kami cukup lelah. Beberapa kali kami beristirahat di pinggir jalan, meneguk air minum yang kami bawa. Untungnya, kami menikmatinya, dengan bercanda tawa selama perjalanan.

“Masih jauh kah, Bu?”, tanya Adik.

“Hahaha Ibu juga gak tau. Istirahat aja dulu kalau capek”, jawab Ibu.

“Hiii masa cowok lemah”, ledek Kakakku.

“Ga lemah. Orang tanya doang, masih jauh atau enggak. Ayo kita cepet-cepetan sampe yuk”, Adikku yang tidak terima diremehkan, akhirnya mempercepat langkahnya. Sedangkan Kakakku yang pada dasarnya suka mendaki gunung itu pun tak mau kalah. Akhirnya mereka berjalan lebih cepat, meninggalkan aku dan Ibu, hingga sudah tak terlihat oleh kami. Aku dan Ibu hanya tertawa melihat mereka berdua.

Berbagai pemandangan sudah kami lewati, mulai dari villa dengan kolam renang, rumah di tengah sawah yang luas, hingga jalanan menanjak hampir 90 derajat yang mengagumkannya bisa dilewati oleh kendaraan warga yang biasa melewatinya. Berkali-kali berhenti untuk istirahat, melepas tas-tas besar itu sebentar, dan meregangkan badan yang rasanya ingin sekali direbahkan. Sampailah kami di pintu masuk Camping Gayatri Mountain adventure.

Sudah ada banyak orang di sana, baik yang baru ingin masuk, ataupun yang ingin pulang. Selagi Ibu dan Kakakku mengurus tiket masuk, aku dan Adik beristirahat di sebuah area yang terdapat banyak tempat duduk, tempatnya orang-orang bersinggah sebelum masuk ke dalam area perkemahan.

Tak lupa, sembari menunggu, kami mengisi daya baterai handphone kami yang sudah habis saat perjalanan, takut-takut di dalam area perkemahan nanti akan sulit menemukan tempat untuk mengisi daya.

Saat handphone ku menyala, aku langsung membuka aplikasi Google Maps. Aku penasaran, berapa jarak yang sudah kami tempuh untuk sampai ke sini, hingga menghabiskan waktu satu jam lebih. Ketika melihat tulisan “3,2 km” di layar, aku menganga. Pantas saja rasanya jauh tidak sampai-sampai.

Ibu dan Kakakku akhirnya bergabung dengan aku dan Adikku. Kami tidak langsung masuk ke area perkemahan. Masih nyaman dengan sofa yang kami duduki di sana. Kata Ibu, “istirahat dulu ajah di sini ya”. Kami semua setuju. Bagaimana tidak? Untuk masuk ke area perkemahannya pun kami masih butuh jalan sekitar kurang lebih satu kilo lagi. Sebenarnya di sana ada yang menyewakan mobil untuk sampai ke area perkemahan. Namun kami lebih memilih untuk berjalan saja lagi. Toh, tanggung sekali.

Setelah Ashar, kami memutuskan untuk kembali berjalan ke dalam. Ada beberapa rombongan lain yang ikut berjalan, di depan maupun di belakang kami. Kanan dan kiri dipenuhi dengan pemandangan pohon-pohon yang tinggi dan rindang, mendukung udara sejuk selama perjalanan. Kali ini langkahku sama dengan Kakakku.

Kami mengabadikan foto dan video bersama. Namun tiba-tiba saja, Kakakku mendapatkan notifikasi obrolan grup yang mengatakan bahwa ternyata akan ada kelas kuliah online yang harus dia hadiri melalui Google Meet. Akhirnya, Kakakku harus berjalan sambil mendengarkan kuliah online melalui handphonenya. Jujur itu adalah hal yang lucu.

Setelah cukup lama perjalanan kami tempuh, yang tentunya menghadirkan rasa lelah, akhirnya semua itu terbayarkan setelah melihat pemandangan di atas sini. Semakin sore, semakin sejuk dan dingin pula udaranya. Kami pun langsung mendirikan tenda kami di antara tenda-tenda lain yang sudah berdiri duluan. Setelah tenda siap, kami akhirnya menikmati pemandangan di sekitar.

Rasanya lega, bersyukur, dan senang. Akhirnya rasa lelah yang kami alami seharian terbayar juga dengan indahnya pemandangan di sini. Sungguh nikmat Tuhan yang tidak akan kami lupakan. Walau lelah telah berjalan hingga 3,2 km dengan barang bawaan yang super berat, namun kami anggap itu bayaran yang setara dengan yang kami dapat di atas sini.

“Anggap aja kita abis naik gunung”, celetuk Ibu saat kami memandangi pemandangan sekitar. Ya betul, anggap saja habis naik gunung. Perjuangannya bukan main.***

Vinda Ramadhani,                                                                                            Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Taylor Swift, Silent Queen, dan Dilema ‘Speak Up atau Cancelled?’

0

Bogordaily.net – Dalam era digital atau zaman netizen maha benar, selebriti dan influencer memiliki pengaruh besar yang tidak hanya terbatas pada karya mereka, tetapi juga pada opini mereka tentang isu sosial. Posisi ini bagaikan pedang bermata dua—salah langkah sedikit bisa menimbulkan kontroversi. Salah satu contoh yang menarik perhatian adalah Taylor Swift.

Sebagai artis dengan lebih dari 282 juta pengikut di Instagram, ia memiliki jangkauan global yang masif. Namun, ketika dunia tengah ramai membahas konflik Israel-Palestina, Taylor Swift memilih untuk tetap diam. Keputusan ini membuatnya dijuluki “Silent Queen” oleh publik, yang mempertanyakan mengapa ia tidak menggunakan pengaruhnya untuk bersuara.

Padahal, tidak menjadi rahasia lagi bahwa Taylor Swift vokal terhadap isu lain seperti feminisme, LGBTQ, politik AS, dsb. Dengan demikian, bukan kah akan menjadi wajar jika publik memintanya untuk speak up juga mengenai isu Israel-Palestina ini?

Taylor ini seperti teman yang selalu paling vokal pas bahas kesetaraan gender, tapi giliran berbicara isu Palestina malah tiba-tiba jadi penonton aja. Kok ya bisa?

Ramai orang-orang membicarakan isu Israel-Palestina tersebut, bahkan sampai sekarang tiada henti-hentinya baik media maupun pengguna di media sosial menyuarakan pihak yang mereka bela.

Menurut data dari Armed Conflict Location and Event Data Project, antara 7 Oktober hingga 24 November 2023, terdapat setidaknya 7.283 protes pro-Palestina dan 845 protes pro-Israel di seluruh dunia. Data ini menunjukkan mayoritas keberpihakan dunia terhadap Palestina. Namun, Taylor Swift masih saja belum bersuara, tentunya ini yang menjadi masalah sehingga sebagian penggemarnya atau Swifties merasa kecewa dan menyebutnya sebagai ”Silent Queen”.

Memang bisa jadi Taylor Swift tidak bersuara karena adanya tekanan dari industri musik yang erat kaitannya dengan kepentingan bisnis maupun politik dan memilih fokus untuk berkecimpung pada dunia musik saja. Selain itu, tidak semua selebriti memiliki pemahaman mendalam tentang konflik geopolitik. Ada kemungkinan Taylor Swift merasa bahwa jika ia berbicara tanpa pemahaman yang cukup, pernyataannya malah bisa menjadi kontraproduktif atau dipandang sebagai performatif belaka.

Namun, seorang selebriti dengan influence sebesar Taylor Swift seharusnya berani memutuskan pilihannya: jadi Pop Queen atau Silent Queen?

Jika Taylor Swift bersuara alias memilih menjadi Pop Queen, ia mungkin kehilangan sebagian penggemar yang tidak sepakat. Namun, jika ia tetap diam atau menjadi Silent Queen, asumsi bahwa ia berpihak pada Israel dapat semakin kuat, yang justru berpotensi merusak citranya lebih besar atau bahkan ia dapat disebut sebagai Tone Deaf, yaitu istilah yang banyak digunakan untuk menyebut orang yang cenderung tak acuh terhadap isu sekitar.

Dengan kemungkinan-kemungkinan tersebut, diamnya Taylor Swift semakin sulit dibenarkan di mata publik. Bahkan, banyak selebriti lain yang sudah menyuarakan keberpihakannya terhadap Palestina, seperti Gigi Hadid dan Bella Hadid. Suara keduanya yang cukup vokal membuat diamnya Taylor Swift menjadi mencolok.

Perlu diingat bahwa dalam bermedia sosial sekarang, diam dianggap sebagai salah satu cara berpolitik. Diam terhadap penindasan berarti keberpihakan atas penindasan tersebut.

Publik sudah beramai-ramai mendeklarasikan cancel culture terhadap beberapa selebriti maupun influencer yang kemungkinan berpihak kepada Israel. Mereka berbondong-bondong menyebarkan informasi di media sosial mereka. Informasi tersebut berisi siapa-siapa saja seleberiti atau influencer yang berpihak kepada Israel dan Taylor Swift termasuk dalam barisan tersebut.

Lalu, solusi apa yang sebenarnya dapat ditawarkan kepada Taylor Swift? Seperti yang sudah banyak dibahas, Taylor Swift sebenarnya tidak harus banyak membahas keberpihakannya akan Palestina atau Israel. Namun, setidaknya para penggemarnya sudah tahu akan kepeduliannya terhadap isu sosial mengenai siapa yang ia bela.

Selain itu, Taylor Swift juga dapat menyuarakan kepeduliannya atau keberpihakannya terhadap kemanusiaan saja. Strategi ini telah diambil oleh beberapa selebriti yang ingin menunjukkan empati tanpa harus terlibat dalam perdebatan politik.

Tapi, apakah keputusannya ini akan berdampak pada citranya di masa depan? Itu masih jadi misteri yang hanya waktu (dan album barunya) yang bisa menjawab. Yang jelas, album baru pasti ada. Tapi apakah isinya cuma soal mantan lagi, atau akhirnya dia bakal angkat suara soal konflik dunia? Mari kita tunggu, Swifties.***

Nur Anisah Fadia                                                                                                Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

 

 

 

 

Dinas Kesehatan Kota Bogor Perkuat Upaya Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS

0

Bogordaily.net – Dinas Kesehatan Kota Bogor terus meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS guna menekan angka penularan serta dampak penyakit ini di masyarakat.

Berbagai program edukasi, sosialisasi, hingga layanan kesehatan telah diterapkan untuk memastikan akses informasi dan pengobatan yang lebih luas bagi warga Kota Bogor.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah strategis. Edukasi dan sosialisasi HIV/AIDS di kalangan siswa dan remaja.

Penerbitan Surat Edaran tentang Implementasi Pemberian ARV Multibulan.

Pemeriksaan skrining HIV di universitas. Perluasan layanan konseling dan tes HIV di klinik swasta.
Pemeriksaan triple eliminasi di puskesmas, klinik swasta, dan praktik bidan mandiri. Penyuluhan bagi kelompok rentan.

Penyediaan dan perluasan layanan perawatan, dukungan, serta pengobatan HIV/AIDS di fasilitas layanan kesehatan swasta.

Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan HIV/AIDS. Kemitraan dengan LSM dan organisasi masyarakat dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS.

Program Kesadaran Masyarakat

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS, beberapa program utama telah dijalankan, di antaranya sosialisasi HIV/AIDS di Sekolah dan Komunitas.

Dinas Kesehatan Kota Bogor bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dalam membentuk Duta HIV di kalangan pelajar SMA sederajat.

“Siswa yang terlibat diberikan penyuluhan terkait HIV/AIDS dengan harapan mereka dapat menyebarluaskan informasi dan cara pencegahannya kepada teman-teman di sekolah masing-masing,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno, Sabtu 15 Maret 2025.

Lanjut Kadinkes, penyuluhan kepada kelompok berisiko tinggi. Program ini menargetkan kelompok yang lebih rentan terinfeksi HIV, seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, dan pria yang memiliki hubungan seks dengan pria (MSM).

“Penyuluhan ini berfokus pada peningkatan kesadaran akan pentingnya tes HIV, penggunaan kondom, serta pengobatan pencegahan HIV (PrEP),” ujarnya.

Selanjutnya program tes dan Konseling Sukarela (KTS). Dinas Kesehatan Kota Bogor menyediakan layanan tes HIV gratis melalui puskesmas dan rumah sakit.

Selain itu, program konseling juga disiapkan untuk membantu masyarakat yang terpapar atau memiliki risiko tinggi terhadap HIV, sehingga deteksi dini dapat dilakukan dan stigma terhadap HIV dapat diminimalkan.

Akses Layanan HIV/AIDS di Kota Bogor

Saat ini, layanan pemeriksaan dan penegakan diagnosis HIV/AIDS, serta pemeriksaan Infeksi Menular Seksual (IMS) gratis, telah tersedia di seluruh puskesmas se-Kota Bogor (25 puskesmas), 22 rumah sakit (baik pemerintah maupun swasta), serta 10 klinik yang telah dilatih dalam penanganan HIV/AIDS.

Selain itu, pengobatan ARV gratis bagi penderita HIV/AIDS tersedia di seluruh puskesmas Kota Bogor serta 8 rumah sakit, seperti RSUD Kota Bogor, RSJ Marzoeki Mahdi, RS PMI, RS Medika Dramaga, RS Melania, RS Ummi, RS Hermina dan RS Azra.

Dua klinik swasta, yaitu Klinik Dyanza dan Klinik Pelita Sehat Pomad, juga telah menyediakan pengobatan ARV dari program pemerintah.

“Dengan berbagai program dan layanan ini, diharapkan penularan HIV/AIDS di Kota Bogor dapat ditekan secara signifikan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS,” tutupnya.***

 

Ibnu Galanza

Polisi Pastikan Oknum Anggota Patwal Senggol Pengendara Motor di Puncak Bakal Ditindak Tegas

Bogordaily.net – Polisi memastikan oknum anggota patwal yang viral telah menyenggol pengendara motor di kawasan Puncak, Bogor bakal ditindak tegas.

Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Kasatlantas Porles Bogor, AKP Rizky Guntama di Mapolres Bogor, Cibinong, pada Sabtu 15 Maret 2025.

Menurut Rizky, urgensi patwal melakukan pengawalan terhadap mobil berjenis Alphard itu dikarenakan, didalamnya ada rekan sesama anggota patwal.

Sehingga, pada saat itu pihaknya mengawal mobil dari arah Puncak menuju ke arah bawah simpang Gadog.

“Untuk saat itu pengawalan adalah rekannya, yang bersangkutan itu sudah lama kenal memang awalnya mau silaturahmi tetapi karena ternyata ketemu dari bawah sekalian diboyong ke atas ke tempat nya yang di kawal,” kata AKP Rizky Guntama, kepada wartawan.

Namun, kata Rizky walau yang bersangkutan merupakan anggota Polisi, pihaknya tetap akan mengambil langkah tegas sesuai dengan SOP yang berlaku.

“Yang pasti saya tegaskan bahwa anggota tetap diperiksa dan dijatuhi hukuman sesuai dengan aturan disiplin yang terkait dalam peraturan di kepolisian,” jelasnya

Adapun, dalam SOP patwal dikhususkan mengawal beberapa kriteria seperti ambulance, dan pejabat yang dinilai memerlukan bantuan pengawalan khusus.

“Untuk SOP sendiri itu dikawal memang bilamana urgensi, baik ambulance, pemadam kebakaran ataupun ada kendaraan sipil yang memerlukan bantuan khusus,” tegasnya.

“Mungkin membawa orang sakit, ataupun ada keperluan khusus dan juga sesuai dengan undang-undang pejabat yang bisa di kawal,” tambah Rizky.

Lebih lanjut, saat ini pihaknya telah memeriksa anggota patwal tersebut dan juga akan menindak tegas dengan pemberhentian tugas.

“Untuk anggota saat ini sudah dilaksanakan pemeriksaan dan diberhentikan tugasnya saat ini untuk pemeriksaan,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya telah melakukan mediasi dengan pengendara motor tersebut. Sehingga keduanya berakhir damai dan saling meminta maaf.

“Untuk pengendara bermotor sementara ini sedang diupayakan, kemarin sudah ketemu terakhir berdua sudah melaksanakan mediasi dan alhamdulillah mencapai kesepakatan damai saling meminta maaf satu sama lain,” ungkap AKP Rizky.***

Albin Pandita

Viral Patwal Senggol Pengendara Motor di Puncak Bogor, Satlantas Polres Bogor Buka Suara

Bogordaily.net – Satlantas Polres Bogor buka suara soal video viral patwal yang menyenggol pengendara motor di Kawasan Puncak, Bogor, pada Jum’at 14 Maret 2025.

Kasatlantas Polres Bogor AKP Rizky Guntama mengatakan bahwa, pihaknya meminta maaf atas insiden tersebut. Sehingga menimbulkan beragam komentar dan terjadi kesalahpahaman di media sosial.

“Yang mengenai kasus kemarin yang anggota di puncak, saya sebagai kasat lantas memohon maaf bilama mana anggota kami terjadi kesalahpahaman di jalan mengakibatkan viralnya di medsos,” kata AKP Rizky Guntama kepada wartawan, Sabtu 15 Maret 2025.

Menurut Rizky, peristiwa tersebut bermula saat patwal tengah bertugas mengawal kendaraan jenis Alphard yang merupakan rekan dari anggota patwal itu sendiri.

Namun, di depan ada salah satu pengendara roda dua yang sudah diberikan tanda menepi oleh anggota patwal.

“Dimana kronologi yang ada adalah ketika sedang melaksanakan pengawalan memang ada kendaraan motor yang sudah dikasih tanda untuk ke pinggir, tetapi memang kendaraan tersebut masih mencari ataupun berupaya ke pinggir karena melihat spion,” jelasnya.

Kemudian, secara tidak sengaja anggota patwal tersebut bersenggolan dengan pengendara motor. Sehingga membuat pengendara roda dua tersebut tersungkur ke sisi jalan.

“Saat terjadi pengawalan tersebut mereka bersenggolan mobil yang dikawal setelah itu, karena dilihat adanya keramaian di belakang,” ujar dia.

Rizky menjelaskan, insiden tersebut murni karena ketidak sengajaan dan tidak ada unsur untuk mencederai pengendara dengan cara menendang.

“Anggota ini mengupayakan untuk memberhentikan kendaraan tersebut, tetapi karena terlalu mepet akhirnya kena crossbar jadi saya tekankan untuk yang di medsos katanya ditendang, itu tidak,” tegasnya.

“Tetapi karena memang bersentuhan dengan kendaraan kena crossbar motor patroli akhirnya motor yang bersangkutan terjatuh,”  tambah Rizky.

Lebih lanjut, saat ini pihaknya telah memeriksa anggota patwal tersebut dan juga akan menindak tegas dengan pemberhentian tugas.

“Untuk anggota saat ini sudah dilaksanakan pemeriksaan dan diberhentikan tugasnya saat ini untuk pemeriksaan,” ungkap Rizky Guntama.***

Albin Pandita

Membangun Mimpi, Menebar Inspirasi: Kisah Salwa Putri Awalina

0

Bogordaily.net – Salwa Putri Awalina

lahir di Bogor pada 27 Mei 2002 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Ia memiliki seorang adik laki-laki dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat menghargai pendidikan, disiplin, dan kreativitas.

Sejak kecil, Salwa sudah menunjukkan minat besar terhadap dunia literasi. Ia selalu merasa bahagia setiap kali ayahnya pulang kerja, bukan hanya karena bisa bertemu sang ayah, tetapi juga karena ada satu hal yang selalu dibawanya—majalah Bobo.

Kebiasaan sederhana itu ternyata berdampak besar. Dari membaca Bobo, ia mulai mengenal berbagai cerita, petualangan, dan tokoh-tokoh menarik yang membuat imajinasinya berkembang, memperluas wawasan, dan meningkatkan rasa ingin tahunya.

Sejak saat itu, membaca bukan sekadar hobi, tetapi menjadi bagian dari kesehariannya. Imajinasi yang terasah dari kebiasaan ini membuatnya selalu penasaran dengan berbagai hal hingga akhirnya tumbuh menjadi seseorang yang mencintai dunia literasi.

Kegemarannya membaca cerita-cerita fiksi dan dongeng membuatnya lebih menyukai bacaan dengan banyak gambar dan narasi yang kuat. Dibandingkan dengan komik, ia lebih menikmati buku yang memiliki cerita panjang dan mendetail.

Salwa adalah anak yang mandiri dalam belajar. Sejak kecil, ia terbiasa mengerjakan tugas sekolah sendiri. Biasanya, ia menyelesaikan tugasnya pada sore hari agar ketika ayahnya pulang, ia bisa langsung menikmati waktu membaca tanpa gangguan. Kebiasaan ini tidak hanya membentuk kedisiplinannya dalam mengatur waktu, tetapi juga menjadikannya pribadi yang bertanggung jawab dan terorganisasi.

Pendidikan formal Salwa dimulai dari TK Indria, lalu ia melanjutkan ke SD Rimba Putra, SMPN 7 Bogor, dan SMAN 4 Bogor. Semasa sekolah, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan kompetisi.

Saat SD, ia bergabung dalam kelompok paduan suara, yang menjadi pengalaman pertamanya dalam bidang seni dan melatihnya untuk tampil di depan publik. Saat SMP, ia mulai tertarik dengan dunia jurnalistik dan terpilih menjadi perwakilan sekolah dalam Lomba Jurnalistik Tingkat Kota Bogor.

Meskipun tidak berhasil meraih juara, kesempatan tersebut tetap menjadi pengalaman berharga bagi Salwa karena mengantarkannya pada rasa ingin tahu yang tinggi mengenai bidang jurnalistik hingga saat ini.

Di SMA, Salwa semakin menonjol dalam berbagai kompetisi. Ia berhasil meraih juara 2 pada perlombaan menulis puisi dalam rangka memperingati Bulan Bahasa di sekolahnya beberapa tahun lalu. Bidang seni tari pun turut ia geluti, meski diiringi dengan kendala dari sang ayah sendiri.

Sikap pantang menyerah Salwa membawanya menjadi peraih juara 1 Lomba Tari Saman atau Ratoh Jaroe tingkat provinsi beberapa tahun silam. Prestasi ini menjadi bekal kesiapan mentalnya dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Sejak masa SMA, Salwa mulai aktif menulis di Wattpad. Ia menuangkan perasaannya dalam bentuk puisi dan sajak, terutama saat merasa galau atau tidak memiliki teman bercerita. Baginya, menulis adalah cara terbaik untuk mengungkapkan emosi dan menciptakan sesuatu yang bernilai.

Kegemarannya menulis juga dipengaruhi oleh ayahnya, yang memiliki hobi serupa. Ia percaya bahwa menulis bukan hanya sekadar mengungkapkan isi hati, tetapi juga meninggalkan jejak dalam kehidupan.

Setelah lulus SMA, Salwa melanjutkan pendidikannya di Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengambil program studi Komunikasi.

Awalnya, ia bercita-cita menjadi seorang guru, terinspirasi dari ibunya yang berprofesi sebagai pendidik. Menurutnya, seorang guru adalah sosok yang cerdas, penuh dedikasi, dan memiliki peran penting dalam berbagi ilmu kepada banyak orang. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menemukan ketertarikan yang lebih luas dalam dunia media dan komunikasi.

Sebagai mahasiswa, ia tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan proyek. Salah satu perannya yang paling berkesan adalah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Praktik Acara Komunikasi/Event Organizer.

Dalam peran ini, ia memiliki kesempatan untuk berbagi ilmu dengan mahasiswa lainnya dan mendapatkan pengalaman dalam dunia akademik.

Ia pernah mendapat kesempatan terjun di dunia media televisi dalam bidang Marketing Communication Publicity di MNC Media dengan tanggung jawab mengoordinasikan 300 fanbase Obsesi Awards. Ketertarikannya pada dunia event membawa Salwa untuk terus mencari celah demi mendapat pengalaman baru

. Akhirnya, ia berhasil menjadi crew wedding organizer hingga crew dan tour leader di Parade Trans Wisata, biro perjalanan dan wisata miliknya sendiri.

Salwa juga aktif dalam berbagai organisasi, seperti Ruang Vokasi ID, serta beberapa proyek webinar nasional. Ia pernah mengelola dan mengembangkan konsep Webinar Nasional Public Speaking Louder n Louder 2021 serta Webinar Fotografi TRAVELENS 2022. Ia juga menjadi MC di beberapa acara webinar yang diselenggarakan oleh BEM Sekolah Vokasi IPB University.

Semua pengalaman ini membentuknya menjadi pribadi yang lebih percaya diri, komunikatif, dan memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik.

Di usia 23 tahun, Salwa tengah mengembangkan PT Parade Cipta Niaga, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa, termasuk wedding organizer, catering, dan travel wisata. Baginya, mendirikan usaha bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga menciptakan peluang dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Ia ingin perusahaannya berkembang.

Ayahnya selalu mengajarkan Salwa untuk menjadi pribadi yang tegas, mandiri, senang mengeksplorasi banyak hal, dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Sementara itu, ibunya menekankan pentingnya bersikap adaptif dan memiliki prinsip yang kokoh.

Berbagai tantangan dan pengalaman yang ia dapatkan mengantarkannya menjadi pribadi yang memiliki semangat tinggi untuk selalu berani mencoba hal baru. Dari berbagai pengalaman dalam hidupnya, ia belajar untuk tetap menyediakan ruang ikhlas yang diiringi dengan pikiran positif agar tetap optimis, tidak berlarut dalam kegagalan, dan terus memanfaatkan peluang baru yang ada di depan.

Salwa selalu berpegang pada keyakinan bahwa tantangan adalah bagian dari perjalanan menuju kesuksesan. Ia percaya bahwa setiap kegagalan bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Melalui semangat dan kerja keras, ia berharap bisa terus berkembang, memberikan dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya, dan mewujudkan impian yang telah lama ia cita-citakan. ***

Kementerian UMKM Dukung Pengembangan Fesyen Lokal Lewat Jakarta Night Carnival 2025

0

Bogordaily.net – Kementerian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berkolaborasi dengan SMESCO, Jakcloth, Clothing Meet Up (Clome), dan Pasar Malam Festival mendukung pengembangan produk fesyen lokal melalui acara Jakarta Night Carnival 2025.

“Pesan saya, berikan kepada masyarakat produk-produk yang memang bagus dengan harga yang bersaing. Karena produk bagus kalau tidak dipromosikan dengan baik, maka tidak akan ada yang tahu,” ujar Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM Temmy Satya Permana saat membuka Jakarta Night Carnival 2025 di Smesco Outdoor Arena, Jakarta, Jumat (14/3) malam.

Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM berharap, ke depan jangan sampai konsumen di Indonesia hanya bisa membeli produk impor lantaran produk lokal susah dicari.

“Perbanyak event-event seperti ini karena ini adalah cara yang efektif untuk mempertemukan produk lokal dengan konsumennya,” katanya.

Selain itu, Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM melanjutkan, melalui konsep agregasi diharapkan ada rumah atau wadah bagi fesyen lokal.

“Tahun lalu kami menggandeng Jakcloth untuk menggagas ide Clothing Meet Up atau Clome, dan alhamdulillah sekarang sudah berjalan. Ke depan, kita akan coba mendorong agar Clome ini benar-benar menjadi rumah bagi produk lokal, terutama untuk pengusaha UMKM di bidang fesyen,” katanya.

Founder Jakcloth Ucok Nasution menambahkan, tahun ini akan ada roadshow Jakcloth lebaran yang tersebar di beberapa wilayah yaitu Bekasi, Jakarta, Cikarang, Depok, dan Lampung.

“Tahun ini kami mengadakan event offline di 10 hari menjelang lebaran, momen ini diharapkan bisa menjadi primadona bagi para pengusaha UMKM khususnya yang bergerak di bidang fesyen lokal,” katanya.

Acara Jakarta Night Carnival 2025 akan berlangsung di Smesco Outdoor Area mulai 14 Maret – 13 April 2025, dan dimeriahkan oleh 70 Brand Clothing dan Multi Produk serta disemarakkan 40 stand kuliner. ***