Sunday, 12 April 2026
Home Blog Page 884

Kemenkop dan Kadin Indonesia Sepakat Kerja Sama Mengakselerasi Pembentukan Kop Des Merah Putih

0

Bogordaily.net – Kementerian Koperasi (Kemenkop) bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menandatangani nota kesepahaman terkait upaya pembentukan Koperasi Desa (Kop Des) Merah Putih.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie.

Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto memiliki komitmen yang sangat besar untuk membangkitkan koperasi sehingga dapat berkontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.

Sinergi antara Kemenkop dengan Kadin Indonesia ini diharapkan dapat mempercepat upaya untuk mendorong kemandirian desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui Kop Des Merah Putih.

“Pak Prabowo itu hatinya untuk koperasi dan rakyat, karena itulah ide pembentukan Koperasi Desa Merah Putih yang dicanangkan beliau adalah bagaimana masyarakat desa tidak terjebak rentenir, tengkulak dan sistem ekonomi yang tidak adil di desa,” kata Budi Arie Setiadi dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (15/03).

Menkop Budi Arie berharap Kadin Indonesia dapat membantu Kemenkop dalam penguatan kelembagaan serta digitalisasi khususnya Koperasi Desa Merah Putih.

Selain itu juga dapat terlibat dalam pendampingan serta peningkatan SDM pengelola koperasi sehingga output yang dihasilkan dari program Kop Des Merah Putih sesuai yang dicita-citakan Presiden Prabowo Subianto.

“Kerja sama dengan Kadin pasti sangat kita perlukan karena untuk membentuk 70 ribu Kop Des perlu pembinaan yang maksimal (ke pengurus koperasi), sehingga diharapkan koperasi kembali menjadi ekonomi konstitusi,” kata Menkop Budi Arie.

Dalam Penandatangan Nota Kesepahaman yang dilaksanakan Jumat sore (15/03), Kemenkop dan Kadin Indonesia bersepakat untuk melakukan pertukaran dan atau pemanfaatan data dan informasi hingga fasilitasi pendampingan untuk pengembangan dan pengelolaan rantai pasok bahan pokok, produk pertanian dan obat-obatan di desa-desa.

Menkop Budi Arie kembali menegaskan bahwa melalui Kop Des Merah Putih, kesejahteraan masyarakat desa akan terangkat karena praktik – praktik tengkulak hingga rentenir akan dihilangkan. Pada akhirnya Kop Des Merah Putih dapat menjadi jembatan bagi upaya pengentasan kemiskinan yang masih banyak terjadi di pedesaan.

“Kop Des ini juga menjadi salah satu jalan untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem yang jumlahnya sekitar 3 juta orang di desa desa. Jadi saya optimis bersama Kadin kita bisa memajukan rakyat dengan kemajuan (ekonomi) desa,” ungkap Menkop Budi Arie.

Terkait dengan aspek transparansi dalam pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih, Menkop Budi Arie berjanji akan mengoptimalkan peran aktif dari berbagai pihak untuk turut serta membantu dalam hal pengawasan. Hal ini diperlukan karena beberapa kasus penyelewengan yang dilakukan oleh oknum pengurus koperasi di beberapa koperasi besar di Indonesia karena minimnya pengawasan terhadap tata kelola koperasi.

“Kita tidak akan mengulangi kesalahan- kesalahan masa lalu dimana perilaku dan manajemen koperasi diselewengkan oknum- oknum koperasi sehingga merusak nama baik koperasi. Jadi pengelolaan koperasi ini harus transparan, profesional dan akuntabel,” kata Menkop Budi Arie. ***

Pengaruh Drama Korea terhadap Tren Komunikasi Media Sosial dan Identitas Nasional

0

Bogordaily.netPerkembangan teknologi informasi mendorong dunia ke dalam komunikasi yang dapat dilakukan dengan mudah secara global, mengakibatkan cepatnya arus persebaran informasi antarbenua. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi sangat cepat terlebih lagi dengan ditambah adanya internet sehingga mengalami banyak perubahan seperti munculnya media-media sosial yang mempermudah manusia untuk mengakses segala informasi dan konten secara tidak terbatas (Nurhaliza S, Anjani F, Sijabat R, 2025). Kini, media sosial tidak lagi hanya digunakan untuk media dalam berkomunikasi, namun juga mencari hiburan dan memenuhi kebutuhan preferensi.

Timbulnya berbagai trend terbaru yang diinformasikan secara cepat melalui media sosial menimbulkan terjadinya ketakutan jika ketinggalan terhadap suatu trend atau informasi yang sedang tren atau disebut juga dengan istilah Fear of Missing Out (FoMO) (Nurhaliza S, Anjani F, Sijabat R, 2025).

Istilah FoMO ini pun berhubungan dengan meningkatnya penggunaan media sosial untuk mendapatkan hiburan, salah satunya seperti Drama Korea yang biasa disebut dengan Drakor. Hal ini juga didukung oleh maraknya penggunaan media sosial seperti Instagram, X, YouTube, dan TikTok yang memudahkan para penggunanya untuk mendapatkan informasi terbaru dan terkini mengenai Drakor.

Banyak orang yang senang sekali ketika berselancar di antara konten-konten yang berhubungan dengan Drakor, entah itu kabar dari aktor atau aktris favoritnya, judul Drakor terbaru, cuplikan yang menggoda untuk ditonton, hingga Drakor yang viral karena ceritanya yang seru dan menarik.

Semua informasi mengenai hal tersebut bahkan tersebar secara global, sehingga sebagian orang akan merasa tertinggal jika tidak mengikuti perkembangannya.

Drakor Membentuk Tren Komunikasi Baru Di Media Sosial.

Awalnya, budaya “nonton Drakor” ini terasa asing dan janggal di antara masyarakat Indonesia. Bahkan ketika pertama kali seseorang menonton cuplikan Drakor, Ia pasti akan merasa asing dengan bahasa yang digunakan oleh aktor dan aktris dalam Drakor tersebut.

Sebagian lagi bahkan tidak lanjut menonton karena merasa aneh ketika mendengar bahasa yang bukan bahasanya. Namun, berkat teknologi informasi yang semakin berkembang, Drakor akhirnya menjadi konsumsi hiburan yang lumrah bagi masyarakat Indonesia.

Ketika suatu hal telah dikonsumsi secara luas oleh publik maka secara tidak langsung perlahan hal tersebut akan semakin familiar dan menjadi hal biasa yang dilihat oleh masyarakat (Pristalisa E.M, 2022). Kini, Drakor bahkan telah membentuk atau menciptakan tren komunikasi baru di media sosial.

Penggemar Drakor yang telah menonton lebih dari 5 atau 10 drama Korea pasti sudah mulai terbiasa dengan bahasa Korea. Seiring berjalannya waktu, mereka seringkali menjadi familiar dengan berbagai frasa atau kata-kata dalam bahasa tersebut.

Tak jarang, kebiasaan ini berlanjut hingga mereka mulai mengucapkan atau bahkan mengetikkan frasa-frasa dalam bahasa Korea yang mereka pelajari. Bahkan, kebiasaan ini pun semakin terbawa ketika mereka bermedia sosial, di mana frasa atau kalimat dalam bahasa Korea sering kali muncul di status, komentar, atau percakapan online mereka.

Tentu saja, hal ini menciptakan sebuah fenomena unik, di mana penggemar Drakor tak hanya menikmati cerita dalam drama, tetapi juga meresapinya dalam kehidupan sehari-hari mereka melalui bahasa yang digunakan. Kata-kata seperti “Annyeong”, “Kamsahamnida”, atau “Mianhae” pun kini juga menjadi familiar di berbagai kalangan di media sosial.

Selain itu, interaksi digital di kalangan penggemar Drakor juga dipengaruhi oleh gaya komunikasi yang lebih formal dan sopan, yang sering muncul dalam hubungan antara karakter dalam drama.

Dalam percakapan sehari-hari, penggemar yang terpapar dengan Drakor mulai terbiasa dengan penggunaan bahasa yang lebih halus atau penuh penghormatan, seperti menambahkan kata-kata seperti nim setelah nama seseorang sebagai bentuk penghormatan.

Hal ini kemudian diterjemahkan ke dalam interaksi digital mereka, di mana para penggemar menggunakan frasa yang lebih formal atau penuh penghormatan dalam berkomunikasi, meskipun dengan teman sebaya.

Tak hanya bahasa, penggemar Drakor juga sering kali menirukan berbagai gestur atau ekspresi yang mereka lihat dalam drama Korea. Salah satu contoh yang paling populer adalah finger heart, yaitu gerakan tangan dengan jari yang membentuk hati, yang melambangkan cinta atau kasih sayang.

Gerakan ini sering kali muncul dalam adegan-adegan romantis di Drakor, sehingga menjadi ikonik dan mudah dikenali oleh penggemarnya. Tak hanya sebatas gerakan fisik, finger heart kini telah berkembang menjadi sebuah simbol universal yang banyak digunakan, bahkan di luar konteks Drakor sekalipun.

Kini, finger heart sudah menjadi emoticon atau simbol yang tersedia di berbagai platform media sosial, seperti Instagram, Twitter, dan WhatsApp. Penggemar Drakor tak jarang menggunakannya dalam status, foto, atau komentar untuk menyampaikan perasaan mereka, terutama cinta atau dukungan, dengan cara yang lebih lucu dan penuh arti.

Bahkan, fenomena ini melampaui batasan budaya Korea dan mulai dikenal di seluruh dunia, menjadi bagian dari tren global yang menghubungkan penggemar Drakor dengan cara yang sangat unik dan khas.

Mendunianya per-Drakor-an ini, kemudian menimbulkan beberapa keresahan, apakah hal tersebut akan mendatangkan hal baik atau malah menimbulkan ancaman bagi identitas bangsa kita?

Pengaruh Drakor bagi Bahasa dan Budaya

 Pengaruh Drakor dalam penggunaan bahasa Korea di kalangan penggemar Indonesia membawa dampak yang cukup signifikan, tidak hanya dalam hal pemahaman bahasa, tetapi juga dalam peningkatan kreativitas dan interaksi antarbudaya.

Bagi banyak penggemar, Drakor bukan sekadar hiburan, tetapi juga inspirasi untuk membuat konten yang kreatif di media sosial. Berangkat dari minatnya pada Drakor, hingga mampu membuat konten yang menarik dan relate dengan penggemar lainnya.

Penggunaan bahasa Korea yang semakin meluas di kalangan penggemar Drakor juga membuka peluang untuk terjadinya interaksi global antar penggemar dari berbagai negara. Penggemar Drakor dari Indonesia, misalnya, mulai merasa lebih terhubung dengan penggemar dari Korea, Jepang, atau negara lain yang memiliki minat serupa.

Mereka dapat saling berbagi pengalaman, berdiskusi tentang episode terbaru, atau bahkan berinteraksi dalam bahasa Korea, meskipun dengan kemampuan bahasa yang masih terbatas. Dalam hal ini, Drakor tidak hanya menjadi sebuah hiburan, tetapi juga jembatan yang mempererat hubungan antarbudaya dan meningkatkan kesadaran global tentang keberagaman bahasa dan tradisi.

Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa Drakor juga membawa pengaruh buruk. Beberapa penggemar mungkin terlalu terobsesi dengan cerita atau karakter dalam drama Korea, sehingga mengabaikan kehidupan nyata mereka.

Hal ini bisa menyebabkan kecanduan menonton, mengganggu produktivitas sehari-hari, atau bahkan membuat mereka tidak realistis dalam menghadapi hubungan sosial.

Selain itu, ada juga yang terpengaruh oleh standar kecantikan atau gaya hidup yang digambarkan dalam Drakor, yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga bisa memicu perasaan kurang percaya diri atau tekanan sosial.

Di sisi lain, kecintaan yang berlebihan terhadap Drakor dapat menjadi ancaman bagi identitas budaya bangsa. Ketika penggemar terlalu mengagumi budaya Korea, ada kecenderungan untuk mengabaikan dan meremehkan budaya Indonesia sendiri.

Fenomena ini dapat mempengaruhi cara berpikir generasi muda yang mulai lebih menghargai budaya luar daripada budaya lokal mereka. Di kalangan fans yang fanatik, hal ini bahkan bisa menumbuhkan rasa superioritas terhadap budaya Korea dan meremehkan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia.

Jika tidak disikapi dengan bijak, pengaruh Drakor bisa menimbulkan ketidakseimbangan dalam menjaga keberagaman budaya dan identitas bangsa.

Dalam hal bahasa Drakor juga membawa pengaruh buruk. Hal itu dapat terlihat dari adopsi kata-kata kasar atau tidak sopan yang digunakan dalam drama Korea. Beberapa penggemar, khususnya yang menonton Drakor dengan intensitas tinggi, mungkin tanpa sadar mulai meniru kata-kata tersebut dalam percakapan sehari-hari. Kata-kata seperti shibbal (지발) yang memiliki arti kasar atau menghina, serta sekkiya (새끼야) yang sering digunakan sebagai penghinaan, bisa menjadi lebih sering terdengar di kalangan penggemar.

Penting untuk diingat bahwa, meskipun kata-kata ini memiliki konteks tertentu dalam budaya Korea, penggunaannya yang berlebihan atau sembarangan dapat merusak norma sosial di Indonesia, di mana nilai kesopanan dan tata krama dalam berbicara sangat dijunjung tinggi.

Penggemar Drakor perlu lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih kata-kata yang akan mereka gunakan, agar tidak terjebak dalam kebiasaan berbahasa yang tidak sesuai dengan budaya lokal dan tetap menjaga etika komunikasi yang baik.

Menjaga Identitas Budaya di Tengah Tren Drakor

Fenomena Drakor membawa dampak positif seperti memperluas wawasan budaya dan membuka kesempatan untuk interaksi global. Namun, jika tidak hati-hati, pengaruh budaya Korea bisa mengancam identitas budaya Indonesia, terutama dalam hal bahasa dan gaya komunikasi.

Penggemar yang terpapar budaya Korea mungkin mulai lebih menghargai budaya luar daripada budaya lokal. Untuk tetap menikmati tren ini tanpa kehilangan identitas, kita perlu menjaga keseimbangan dengan tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, sambil tetap mengapresiasi budaya Korea. Dengan cara ini, kita bisa merayakan keberagaman budaya tanpa mengorbankan nilai-nilai budaya kita sendiri.

Vinda Ramadhani,                                                                                           Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

 

Tebet Eco Park: Model Ideal untuk Kebijakan Taman 24 Jam di Jakarta

0

Oleh: Ergie Ramadhan – Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Baru-baru ini, muncul pernyataan Pemerintah Provinsi DKI mengenai wacana pembukaan ruang terbuka hijau (RTH) selama 24 jam sebagai bagian dari upaya menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih ramah lingkungan dan inklusif. Salah satu taman yang menarik perhatian dalam kebijakan ini adalah Tebet Eco Park, yang telah menjadi destinasi favorit masyarakat sejak diperbaharui. Namun, apakah Tebet Eco Park siap menjadi model ideal untuk kebijakan taman 24 jam di Jakarta?

Manfaat Pembukaan Taman 24 Jam

Membuka Tebet Eco Park selama 24 jam memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat. Pertama, kebijakan ini memberi kesempatan lebih luas bagi warga untuk menikmati ruang terbuka hijau serta fasilitas di dalamnya, terutama bagi mereka yang memiliki jadwal kerja padat di siang hari. Dengan operasional yang lebih fleksibel, masyarakat dapat menggunakan taman untuk berolahraga, bersantai, atau sekadar mencari udara segar kapan saja.

Selain itu, keberadaan taman yang bisa diakses kapan saja dapat mengurangi kepadatan di waktu-waktu tertentu. Saat ini, Tebet Eco Park sering kali dipadati pengunjung pada akhir pekan atau sore hari. Jika taman dibuka 24 jam, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan waktu untuk berkunjung, sehingga tekanan terhadap fasilitas taman dapat lebih merata.

Dari sisi lingkungan, kebijakan ini juga mendukung konsep kota berkelanjutan (sustainable city). Ruang terbuka hijau yang dapat diakses sepanjang hari dapat berfungsi sebagai paru-paru kota dan membantu mengurangi polusi udara. Selain itu, taman yang aktif sepanjang hari berpotensi meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya ruang hijau dalam kehidupan perkotaan.

Tantangan yang Harus Dihadapi

Disamping banyaknya manfaat yang didapat dari dibukanya ruang terbuka hijau 24 jam, tentunya ada beberapa tantangan yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah keamanan dan ketertiban. Jam operasional yang terbatas dilakukan untuk mengurangi resiko kriminalitas. Maka dari itu, pemerintah wajib memastikan sistem keamanan yang ada pada ruang terbuka hijau efektif untuk menghindari kriminalitas yang terjadi. Hal itu dapat dilakukan seperti pemasangan CCTV dan pencahayaan yang memadai.

Selain itu, pemeliharaan fasilitas menjadi tantangan lain. Dengan meningkatnya waktu operasional penggunaan taman , fasilitas seperti tempat duduk, jogging track, dan area bermain anak bisa lebih cepat mengalami kerusakan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pemeliharaan yang lebih intensif agar taman tetap nyaman dan aman bagi pengunjung.

Dari sisi sosial, ada juga kekhawatiran terkait potensi penyalahgunaan taman di malam hari. Tanpa pengawasan yang ketat, ruang terbuka hijau bisa dimanfaatkan untuk aktivitas yang kurang produktif, seperti nongkrong berlebihan tanpa tujuan jelas atau bahkan kegiatan ilegal.

Pemerintah perlu merancang regulasi yang jelas agar kebijakan ini tetap memberi manfaat positif bagi masyarakat. Pencahayaan yang cukup berguna untuk menghindari hal-hal serupa. Pengelola maupun orang yang bertugas untuk penjagaan taman akan lebih mudah mengawasi para pengunjung yang datang pada malam hari.

Sebagai salah satu taman yang sudah dikelola dengan baik, Tebet Eco Park memiliki potensi besar untuk menjadi model percontohan bagi kebijakan taman 24 jam di Jakarta. Dengan desain yang modern, fasilitas yang lengkap, serta konsep ramah lingkungan, taman ini bisa menjadi tolok ukur dalam penerapan kebijakan serupa di taman-taman lain.

Namun, agar kebijakan ini berhasil, beberapa langkah perlu diperhatikan, seperti peningkatan keamanan dengan menambah petugas patroli dan kamera pengawas, sistem manajemen kebersihan yang lebih baik agar taman tetap terawat, program edukasi dan komunitas yang melibatkan masyarakat untuk menjaga ruang hijau bersama-sama.

Pemerintah perlu memastikan bahwa konsep ini tidak hanya sekadar kebijakan, tetapi juga disertai dengan regulasi yang matang. Penyediaan pencahayaan yang cukup, sistem keamanan berbasis teknologi, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga ketertiban bisa menjadi solusi agar taman tetap nyaman diakses sepanjang waktu.

Jika wacana ini berhasil diimplementasikan dengan baik, Jakarta bisa menjadi contoh kota yang mengoptimalkan ruang hijau sebagai bagian dari gaya hidup masyarakatnya yang sehat dan berkelanjutan. Tebet Eco Park, dengan segala potensinya, dapat menjadi titik awal transformasi tersebut.

Perjalanan Hidup Seorang Social Entrepreneur

0

Bogordaily.net – Agus Gusnul Yakin adalah seorang wirausahawan sosial (social entrepreneur) yang mendirikan berbagai lembaga dan komunitas di bidang pendidikan, pemberdayaan masyatakat.

Walaupun sangat aktif di dunia kewirausahaan sosial, sejatinya ia adalah seseorang introvert, tipe orang yang menikmati waktunya sendiri ketimbang keluar rumah. Agus dikenal sebagai wirausahawan yang kreatif dan inovatif.

Salahbsatu inovasinya adalah School of Makers, sekolah inkubator setingkat SMA yang mendampingi setiap siswa belajar menjadi founder bisnis. Bagaimana dia bisa melakukanya? Bacalah artikel ini sampai habis!

Menyemai Benih Aktivisme dan Kerelawanan Sosial
Agus Gusnul Yakin lahir di Ciamis pada tanggal 7 Februari 1976. Sejak kecil, ia adalah seseorang yang tidak terlalu suka keluar rumah.

Ia lebih suka menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku. Kebiasaan ini terus ia bawa sampai ia masuk ke pendidikan tinggi di IPB University sebagai seorang mahasiswa Agribisnis.

Selama menjadi mahasiswa IPB, ia menjadi mahasiswa yang aktif. Agus menjadi pengurus di Senat Mahasiswa (sekarang BEM) dan terlibat pada kegiatan komunitas di luar kampus. Jiwa aktivisnya makin terasah saat ikut terlibat pada Aksi Mahasiswa tahun 1998 untuk menurunkan rezim saat itu.

Pasca krisis 98, Agus bersama teman-temannya menginisiasi program sosial pendampingan anak-anak jalanan dan dhuafa di Kota Bogor.

Inisiatif ini mengantarkan Agus dan teman-temanya mendirikan Yayasan Progress Insani pada tahun 2000.Pendirian Yayasan menjadi tonggak penting yang memantapkan hati Agus berkiprah di dunia sosial yang terus ia tekuni setelah menyelesaikan kuliah.

Mengembangkan Sekolah Alam
Pada tahun 2002, Agus dan teman-temannyandinYayasan Progress Insani mendirikan TK Alam Lembah Parigi, yang merupakan cikal bakal Sekolah Alam Bogor.

Saat ini Sekolah Alam Bogor nelayani pendidikan jenjang Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak, SD, SMP dan SMX (setingkay SMA). Kiprah Agus di dunia pendidikan semakin meluas saat ia diminta mendampingi pengembangan pendidikan kontekstual di berbagai daerah terpencil di Nusantara.

Tahun 2015, salah satu sekolah yang Agus dampingi di Kalimantan Barat mendapatkan MDGs Award di bidang pendidikan.

Eksperimentasi Agus di dunia pendidikan tidak berhenti di sana. Pada tahun 2916, Agus mendirikan SMX School of Makers, sebagai kelanjutan profram pendidikan Sekolah Alam Bogor tingkat SMA.

SMX memiliki konsep yang berbeda dibanding SMA/SMK biasa. Di SMX, setiap siswa diajarkan untuk membuat sebuah projek bisnis yang tidak hanya cocok dengan kesukaan atau bakat merek, namun juga dapat berkontribusi menyelesaikan masalah di masyarakat.

Konsep sekolah SMX School of Makers membuka peluang yang lebih banyak untuk Agus, sekarang ia tidak hanya dikenal sebagai seorang pegiat sekolah alam, namun ia juga menjadi seorang pelopor yang membuat sebuah sekolah non-formal yang membina para siswanya untuk menjadi seseorang yang lebih dari hanya seorang siswa SMA, melainkan mereka lulus sebagai seseorang founder bisnis.

Ketika Menemukan SMX
SMX School of Makers menjadi sebuah sekolah yang unik, konsepnya sekolah inkubator bisnis yang membuat para siswanya mempelajari cara membuat bisnis yang bisa membuat dampak sekitar lingkunganya dan adaptasi proses Design Thinking yang membuat para siswanya berfikir secara sistematis adalah konsep yang belum terfikirkan di Indonesia.

Alhasilnya, sekolah ini pun menjadi inovasi di bidang pendidikan yang menarik sehingga ia dikenal sebagai seorang inovator yang merubah perspektif terhadap edukasi di Indonesia.

Meskipun SMX berawal sebagai sekolah yang kecil yang berada di sebuah rumah kecil, SMX pun tumbuh berjalanya waktu sehingga mereka membangun reputasinya sebagai sekolah SMA yang unik di kota Bogor sehingga nama Agus naik menjadi seseorang inovator menjadi seseorang yang merubah cara mengajari anak-anak SMA.

Tetapi ia tidak hanya membangun SMX untuk mengajari anak-anak SMA untuk membuat projek melalui teori dan praktik di kelas, ia juga mengadakan sebuah acara yang mempertunjukkan karya siswa SMX ke masyarakat, acara itu adalah Bogor Makers Fair, sebuah acara pameran projek siswa SMX dipaparkan kepada masyarakat, acara ini adalah wadah untuk para siswa untuk melatih ketrampilan mereka untuk berbicara terhadap orang asing di tempat umum mengenai projek mereka dan seberapa mereka mengerti terhadap projek sendiri.

Dampak SMX terhadap Agus Gusnul Yakin
Setelah mendirikan SMX, ia telah menjadi sesorang yang lebih terlibat di berbagai organisasi yang peduli terhadap bidang industri kreatif seperti Reka Bogor, Innovation Heroes, Indonesia Brand Activists Network (IBAN) dan Dewan Kreasi Jawa Barat.

Banyak orang juga sudah mewawancarainya tentang filosofi SMX itu sendiri, seperti Reka Bogor yang melakukan sebuah wawancara dengan Agus Gusnul Yakin tentang profil dirinya, dimana ia menceritakan perjalanan hidupnya dan kepedulianya terhadap anak-anak yang tidak cocok dalam sekolah formal dan membuat sebuah sekolah yang mendampingi anak-anak tersebut agar mereka bisa menjadi seseorang yang produktif.

Agus tidak hanya membangun SMX, melainkan ia juga terlibat dalam pendirian organisasi lainya seperti sebuah organisasi nirlaba bernama SalamAid dimana organisasi tersebut terlibat dalam membantu bencana alam, mengajari anak-anak untuk membaca, dan mengadakan acara Qurban, ia juga membantu membuat sebuah lembaga inovasi bernama Salam Rancage yang memproduksi produk artisan berbahan dasar kertas dan bahan daur ulang.

Refleksi Terhadap Hidupnya
Agus sudah meraih banyak prestasindan mensyukuri perjalanan hidupnya. Namun ada satu hal yang ia sesali saat masa mudanya: tidak cukup banyak menjelajah dunia. Agus menyadari bahwa masa mudanya tidak digunakan untuk keluar dan mengenal dunia, meskipun ia bisa keluar negeri dan pergi mengeklilingi Indonesia di masa dewasa, perasaan ‘nyaman’ nya membuat dia tidak mengambil kesempatan untuk beasiswa keluar negeri dan melihat dunia.

Maka dari itu, jika ia diberikan kesempatan untuk kembali ke masa SMA atau kuliah, ia akan menjelajahi dunia. Dari cerita perjalananya, Agus Gusnul Yakin bertumbuh dari seseorang yang pendiam dan suka membaca buku menjadi salah satu inovator yang membuat sekolah inkubator bisnis yang melahirkan para pebisnis muda.

Anargya Atha

 

 

Kekerasan Seksual: Lawan! Kok Diam Saja?

0

Oleh: Vinda Ramadhani, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Di saat hawa nafsu tidak mampu dibendung, menguasai jiwa, kemudian membabi buta mencari mangsa. Saat itu pula, moral sudah tidak baik-baik saja. Mata yang hanya mendengarkan, bukan melihatnya secara nyata, berpikir yang diam saja patut disalahkan. Lantas apa kabarnya yang jadi mangsa? Sepertinya “Indonesia Darurat Kekerasan Seksual” bukan sekadar bualan.

Tiap tahun ke tahunnya, angka kasus kekerasan seksual di Indonesia kian melonjak. Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh ibu atau ayah ke anaknya, guru ke muridnya, dan masih banyak lagi. Kekerasan seksual itu bahkan sering kali menjamah ke lingkungan yang biasanya kita anggap aman. Ketika berita-berita itu muncul ke permukaan, reaksi kita mungkin akan terbagi menjadi dua. Pertama, kenapa pelaku bisa sampai segitunya? Dan kedua, Apa yang dilakukan korban, kenapa dia tidak melaporkannya lebih cepat? Hal itu yang terjadi jika kita hanya membaca  penggalan berita tanpa mendalami apa yang sebenarnya terjadi.

Menilai Tanpa Memahami

Diketahui seorang lansia pemilik panti asuhan di Surabaya berumur 60 tahun melakukan pencabulan dan kekerasan seksual terhadap anak asuhnya selama 3 tahun usai bercerai dengan istrinya. Bagaimana bisa hal itu berlangsung hingga bertahun-tahun? Banyak dari kita terlalu cepat menilai, tanpa mencoba memahami apa yang sebenarnya dirasakan korban. Begitu sebuah kasus kekerasan seksual mencuat, reaksi pertama sering kali bukan empati, tetapi pertanyaan penuh kecurigaan: “Kenapa baru melapor?” atau “Kenapa tidak melawan?” Seakan-akan keberanian melawan atau melapor adalah sesuatu yang bisa dengan mudah dilakukan oleh semua orang.

Ketika Trauma Melumpuhkan

Banyak yang berpikir bahwa korban kekerasan seksual seharusnya bisa berteriak, menendang, atau melawan. Tapi tidak semua orang memahami bagaimana trauma bekerja dalam tubuh manusia. Dalam psikologi, ada fenomena yang disebut tonic immobility, di mana seseorang menjadi tidak bisa bergerak atau berbicara saat menghadapi ancaman yang luar biasa. Ini bukan pilihan. Ini adalah respons otomatis tubuh terhadap ketakutan yang sangat besar.  Tonic immobility terjadi ketika otak mendeteksi bahwa perlawanan akan sia-sia. Alih-alih bertarung atau lari, tubuh memilih diam—membeku dalam ketakutan. Ini bisa terjadi dalam hitungan detik, menit, bahkan berjam-jam. Sayangnya, banyak yang tidak memahami hal ini dan justru menggunakannya sebagai alasan untuk menyalahkan korban.

Ketimpangan Kekuasaan yang Membungkam Korban

Dunia tidak pernah benar-benar adil bagi mereka yang tidak memiliki kuasa. Begitu pula dalam kasus kekerasan seksual. Posisi pelaku yang lebih dominan menjadi tembok penghalang yang sulit ditembus oleh korban. Bagi mereka, melawan bukan hanya soal keberanian, tetapi juga soal melawan kekuatan yang jauh lebih besar.  Ketimpangan ini juga diperparah dengan ancaman dan manipulasi yang kerap dilakukan oleh pelaku. “Kalau kamu cerita, kamu tidak akan dipercaya.” “Kamu akan kehilangan tempat tinggal.” “Tidak ada yang akan membelamu.” Ucapan-ucapan seperti ini bukan hanya menanamkan rasa takut, tetapi juga membuat korban merasa sendirian, seakan tidak ada tempat untuk mencari perlindungan.

 Hukum yang Sering Kali Tidak Berpihak pada Korban

Andai saja keadilan di negeri ini bisa dipegang teguh, mungkin kita tidak akan melihat korban kekerasan seksual ragu untuk melapor. Tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Banyak kasus di mana pelaku yang seharusnya dihukum berat malah mendapat keringanan. Banyak korban yang suaranya dipadamkan, bukan oleh pelaku saja, tetapi juga oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka.  Banyak kasus pelecehan seksual yang justru berakhir dengan pelaku bebas berkeliaran, sementara korban harus menanggung trauma seumur hidup. Jika hukum seharusnya menjadi benteng terakhir perlindungan, mengapa sering kali justru menjadi penghalang bagi korban untuk mendapatkan keadilan?

Korban yang Seharusnya Dilindungi, Bukan Diminta Berjuang Sendiri

Kita seringkali lupa bahwa banyak dari korban kekerasan seksual adalah anak di bawah umur. Anak-anak yang seharusnya menikmati masa kecil mereka dengan aman, bukan justru menjadi korban kebiadaban orang-orang yang seharusnya menjaga mereka. Seharusnya, perlindungan itu ada sejak awal, tanpa harus diminta.  Tapi kenyataannya? Kita baru bergerak setelah ada korban. Kita baru peduli setelah ada kasus yang viral. Kita baru bersuara ketika luka sudah terlalu dalam. Tidakkah ini menyedihkan? Sejak kapan seorang anak harus berjuang sendirian untuk mendapatkan perlindungan? Sejak kapan kita hanya bertindak setelah semuanya terlambat?

Kasus kekerasan seksual yang terus meningkat bukan sekadar angka di berita. Di balik setiap kasus, ada korban yang menghadapi ketakutan, trauma, dan ketidakadilan. Mereka tidak diam karena ingin, tetapi karena keadaan yang membuat mereka sulit berbicara. Jika mereka bisa melawan, bukankah mereka sudah melakukannya sejak awal?

Kita sering bertanya, “Kenapa korban tidak melawan?” atau “Kenapa baru melapor?” tanpa benar-benar memahami beban yang mereka pikul. Tetapi, “apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan mereka untuk diam?” Banyak yang tidak menyadari betapa besar rasa takut dan trauma yang mereka alami. Dalam situasi yang penuh ancaman, melawan atau bahkan melapor bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Tidak jarang, rasa takut akan balasan atau ketidakpastian akan keadilan membuat korban merasa terperangkap dan lebih memilih untuk menahan semuanya dalam diam.

Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya merasakan apa yang dirasakan korban, tapi kita bisa berusaha untuk lebih memahami dan mendukung mereka. Sebelum bertanya “Kenapa mereka diam?” atau “Kenapa baru melapor?”, cobalah untuk melihatnya dari perspektif mereka. Ketika kita berhenti menyalahkan dan mulai memberikan ruang bagi mereka untuk berbicara, barulah kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan penuh empati. Jangan biarkan ketakutan dan ketidakadilan memaksa mereka untuk terus diam. Sebab, melawan bukanlah tugas yang seharusnya mereka pikul sendirian.***

 

Dituduh Maling, Pria Dianiaya Secara Brutal Hingga Tewas oleh Sejumlah Warga di Cibinong Bogor 

Bogordaily.net – Seorang pria May Winner Gultom MWG (41) menjadi korban penganiayaan hingga tewas oleh sejumlah warga, usai salah paham karena dituduh mencuri motor di Kampung Pisang, Kelurahan Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.

Hal tersebut dijelaskan Kuasa Hukum Keluarga Korban MWG (41), Meka Dadendra usai reka adegan kasus pembunuhan tersebut di Mapolres Bogor, Cibinong, pada Jum’at 14 Maret 2025.

Dirinya menjelaskan bahwa, peristiwa penganiayaan tersebut terjadi pada tanggal 5 Januari 2025 lalu sekitar pukul 09.00 WIB.

Korban yang merupakan warga Kampung Kaum Pandak itu, awalnya memiliki riwayat hutang dengan pelaku sebesar 2,5 juta, karena telah menggadaikan motor milik pelaku.

Mereka langsung menuju ke rumah korban yang memang sudah mereka kenal sebelumnya yaitu May Winner Gultom (41).

“Ketiga laki-laki tersebut langsung menggedor pintu dan ketika dibukakan oleh korban yang kebetulan sendiri dirumah habis sholat subuh langsung di interogasi dan ditodongkan senjata Api oleh pelaku,” kata Meka kepada wartawan.

Kemudian, pelaku menuduh korban bersekongkol menipu dan membawa kabur uang sejumlah Rp2,5 juta milik pelaku dengan orang yang memegang gadai motor.

“Karena korban belum bisa mengembalikan kerugian pelaku saat itu lalu korban langsung diikat kedua tangannya kedepan pakai lakban dan dianiaya di rumahnya tersebut,” jelasnya.

Lebih lanjut, setelah dianiaya dan berdarah darah di bagian kepala oleh para pelaku korban langsung dibawa ke kampung pisang (kampung para pelaku) menggunakan sepeda motor.

Pada saat membawa korban, para pelaku meneriakkan kepada warga yang melihat bahwa korban adalah pelaku pencurian sepeda motor, sehingga warga yang melihat tidak berani melerai.

“Di kampungnya para pelaku, korban dibawa ke pos warga, disana diteriakkan dan diberitahukan kepada warga bahwa korban adalah maling motor,” ujarnya.

Kemudian, banyak warga yang terprovokasi dan ikut menginterogasi lalu menganiaya korban secara bersama sama secara membabi buta.

“Tidak ada warga yang melerai dan menghentikan peristiwa penganiayaan tersebut. Secara bergantian banyak warga yang ikut melakukan penganiayaan sampai korban yang tangannya terikat lakban kedepan tidak sadarkan diri,” ungkap Meka.

Meka menurunkan, setelah tidak sadarkan diri, korban masih ditendang oleh warga dan bahkan diludahi sambil diteriaki maling. Padahal dalam catatan kehidupan korban tidak pernah melakukan pencurian.

Bahkan lebih parahnya, korban yang saat itu tak berdaya mendapatkan beberapa penganiayaan yang dinilai cukup sadis, hingga membuat luka di kepala, kaki, hingga kemaluan karena beberapa kali dianiaya.

Pihaknya berharap, kedepan perkara ini masih terus berkembang dan beberapa DPO tertangkap dan terindikasi melakukan bisa naik menjadi tersangka.

“Saat ini baru 8 orang tersangka yang diamankan 1 DPO,” ujarnya.

Selain itu, ia mengungkapkan, banyak warga yang tidak mau membantu pemakaman korban karena dianggap maling. Hal tersebut justru membuat pihak keluarga terpukul bahkan, ada beberapa warga yang mem-bully keluarga korban

“Selesai pemakaman keesokan harinya selasa tanggal 7 Januari 2025 istri korban mendatangi Polres Bogor untuk menanyakan lebih lanjut perkembangan penyidikan dan menyerahkan bukti surat kematian suaminya,” tuturnya.***

Albin Pandita

Cinta Siber di Dalam Sosial Media

0

Bogordaily.net – Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Ketika kita melihat seseorang yang terlihat menawan di mata kita, ada sebuah keinginan mendekati orang tersebut dan setiap orang mempunyai metode yang berbeda agar tujuanya tercapai. Ada yang menggunakan surat cinta, ada yang mengobrol secara langsung dan ada yang berkomunikasi denganya melewati sosial media.

Sosial media sudah menjadi alat komunikasi untuk kehidupan sehari-hari, baik untuk mengobrol dengan teman sebaya, menentukan waktu rapat atau membagikan konten yang lucu, namun salah satu alasan yang populer menggunakan sosial media adalah mendekati orang yang disukai.

Di sosial media, ada beragam konten yang dipublikasi, termasuk foto-foto sendiri, ketika seseorang perempuan mengunggah foto dirinya, foto tersebut akan terunggah di media sosial sehingga semua pengguna bisa melihat fotonya, jika foto yang terunggah membuat citra si penunggah menjadi lebih menawan, ada kemungkinan bahwa ada seseorang lelaki yang melihat foto perempuan tersebut akan jatuh cinta.

Ketika seseorang lelaki jatuh cinta dengan perempuan tersebut,ia mungkin akan tertarik untuk mengenalnya agar si perempuan bisa menjadi pacarnya, seketika mereka berkenalan dan mulai mendekat dengan satu sama lain sehingga saling suka, mereka pun akan menyatakan perasaan mereka dan memulai hubungan romantis dan nama hubungan ini adalah Cyber Romantic Relationship (CRR).

Bahkan, ada juga aplikasi yang khusus untuk mencari jodoh dari tahun 2012, seperti Tinder, dimana para pengguna bisa mencari jodoh dengan melihat profil orang yang ada di layar dan menentukan apakah dia adalah orang yang cocok atau tidak, menurut World Population Review, ada 10 juta warga Brazil yang menggunakan Tinder sebagai alat untuk mencari jodoh dengan 1 juta warga tersebut menemukan pasanganya yang cocok. Data ini menunjukan bahwa teknologi juga bisa membantu kita dalam mencari jodoh.

Sosial media sudah berkembang menjadi sesuatu yang lebih sekedar sebuah tempat untuk membagikan foto atau berbagai kabar. Kini, sosial media telah membuka kesempatan baru di dunia maya, termasuk hubungan romantis. Namun, tentunya ada kelebihan dan kekurangan dari sosial media ini sebagai alat komunikasi.

Sosial Media Sebagai Wadah Cyber Romantic Relationship
Proses perkenalan di dalam Cyber Romantic Relationship adalah proses yang penting dikarenakan awal dari hubungan romantis di dunia maya adalah cara kita berkomunikasi dengan orang yang kita sukai tanpa bertemu denganya.

Menurut Tifferet Dkk (2020), bermain aplikasi kencan online melatih kemampuan untuk menjalin komunikasi dengan orang baru menjadi salah satu motif pengguna aplikasi kencan online karena melalui aplikasi kencan online individu akan bertemu dengan banyak orang baru yang tidak pernah ditemui pada lingkungan sekitar.

Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa melalui aplikasi kencan online individu memiliki kesempatan berinteraksi dengan pasangan melalui fitur yang ada sehingga mendorong individu untuk melatih keterampilan komunikasi.

Tidak hanya itu, menurut Stenberg (2009), ada tiga komponen di dalam cinta, yaitu Intimacy, commitment, dan passion. Setiap hubungan cinta harus mempunyai keintiman yang dekat, komitmen yang tinggi, dan hasrat yang kuat untuk menjaga hubungan romantis tersebut, tentunya Cyber Romantic Relationship juga mempunyai ketiga komponen ini dalam caranya sendiri.

Pertama, komponen hasrat yang ada di sebuah hubungan Cyber Romantic Relationship adalah ketika mereka berinteraksi dengan satu sama lain melalui chat, video call yang menunjukan kedekatan mereka sebagai pasangan meskipun mereka tidak dekat secara fisik.

Cyber Romantic Relationship juga tidak terlalu menggunakan biaya yang tinggi sehingga pasangan bisa berada di kondisi ekonomi yang baik, namun ada beberapa dampak yang buruk terhadap Cyber Romantic Relationship ini, menurut marriage.com, mudahnya untuk memulai mencari jodoh di sosial media dari membuat profil digital dan kita juga bisa menentukan kapan kita mau berinteraksi dengan pasangan kita adalah salah satu kelebihan dari Cyber Romantic Relationship.

Tantangan Cyber Romantic Relationship
Sebaiknya-baiknya sebuah hubungan, ada beberapa dampak buruk dalam Cyber Romantic Relationship. Menurut Hidayanto, Jaringan internet yang tidak stabil menjadi penghambat komunikasi utama dalam melakukan komunikasi secara virtual sebab buruknya koneksi internet dapat menghambat pengiriman pesan secara efektif dan menyebabkan kehilangan data atau gangguan dalam komunikasi.

Komitmen di dalam hubungan Cyber Romantic Relationship juga memerlukan komitmen yang lebih tinggi dikarenakan pasangan tidak dekat dengan satu sama lain secara fisik. Tidak hanya itu, mereka harus berkomitmen untuk berkomunikasi dengan satu sama lain agar mereka tetap dekat.

Keintiman di Cyber Romantic Relationship bekerja secara berbeda, ketika pasangan tidak bisa dekat dengan satu sala lain, mereka harus menunjukan keintiman dengan cara lain seperti memberikan pesan yang main, memastikan kesehatan mereka dan komunikasi yang rutin sehingga tidak ada kesalahpahaman.

Tidak hanya itu, pasangan juga tidak bisa menyentuh satu sama lain sehingga mereka tidak bisa meraskaan kesentuhan fisik satu sama lain, sementara, menurut Field, dewasa muda yang jatuh cinta akan cenderung berkeinginan untuk melakukan kontak fisik. Pria memiliki presentase lebih besar akan keterarikan seksual dan kontak fisik dalam menjalani hubungan cinta.

Beberapa tantangan di Cyber Romantic Relationship membuat hubungan ini menjadi sebuah hubungan yang kurang ideal untuk orang-orang yang ingin mendapat sentuhan fisik dari pasanganya, meskipun ada banyak tantangan di hubungan ini, ada aspek Cyber Romantic Relationship juga bisa menjadi sebuah hubungan yang baik.

Kesimpulan dari Cyber Romantic Relationship
Cyber Romantic Relationship adalah sebuah bentuk hubungan romantis yang hanya ada di era modern, ketika sosial media memudahakan kita untuk berkomunikasi dengan satu sama lain tanpa batasan ruang atau waktu, percintaan juga mengalami perubahan yang sangat signifikan.

Namun perlu diingat bahwa Cyber Romantic Relationship adalah sebuah bentuk hubungan romantis yang alternatif sehingga jika anda ingin mencari pasangan anda, lebih baik dilakukan secara langsung.

Komitmen, tenaga dan waktu yang diperlukan untuk memulai dan menjalani hubungan melalui sosial media bisa menjadi melelahkan sehingga Cyber Romantic Relationship tidak terlihat begitu meyakinkan, ditambah dengan kita yang tidak bisa merasakan raga pasangan anda, namun jika anda adalah seseorang yang malu berbicara secara langsung, anda bisa memulai mencari pasangan anda melalui sosial media dan memulai sebuah hubungan Cyber Romantic Relationship.

Tidak semua hubungan Cyber Romantic Relationship berakhir dengan baik seperti hubungan romantis yang berada di dunia nyata tetapi ada sebuah kesempatan bahwa pasangan anda memang berada di dunia siber sehingga Cyber Romantic Relationship bisa menjadi sebuah fondasi untuk hubungan yang berkelanjutan.

ANARGYA ATHA

 

RSUD Kota Bogor Jadi Pusat Pelatihan Dokter Militer untuk Medis dan Keamanan Nasional

0

Bogordaily.net – 75 dokter muda atau sarjana kedokteran militer dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) resmi mengucapkan sumpah dokter dalam acara yang digelar pada Jumat (14/3/2025) di Ruangan Pasabean Surawisesa, Setda Kota Bogor.

Acara ini dipimpin langsung oleh Rektor Unhan RI, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Jonni Mahroza. Pengambilan sumpah ini menandai transisi para dokter muda dari fase pembelajaran teoritis ke praktis, sekaligus menjadi langkah awal mereka untuk berkontribusi kepada masyarakat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor.

Dalam sambutannya, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Jonni Mahroza menegaskan pentingnya peran dokter militer tidak hanya dalam bidang medis, tetapi juga dalam menjaga pertahanan negara.

“Sumpah ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah awal bagi mereka untuk terjun langsung ke dunia nyata, menghadapi tantangan medis dan pertahanan yang semakin kompleks,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kerja sama antara Unhan RI dan RSUD Kota Bogor sebagai bentuk sinergi dalam mempersiapkan dokter-dokter yang kompeten dan tangguh.

“Kerja sama ini merupakan bentuk nyata dalam menyiapkan tenaga medis yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta tuntutan masyarakat akan layanan kesehatan yang berkualitas,” tambahnya.

Komitmen Pemerintah Kota Bogor Tingkatkan Sarpras RSUD

Peningkatan kualitas layanan kesehatan di RSUD Kota Bogor menjadi fokus utama Pemerintah Kota Bogor, terutama setelah ditetapkannya RSUD Kota Bogor sebagai rumah sakit pendidikan. Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menegaskan bahwa peningkatan sarana dan prasarana (sarpras) merupakan kewajiban pemerintah daerah.

“Ini sebuah kehormatan bagi Pemerintah Kota Bogor, atas kerjasama RSUD Kota Bogor, yang menjadi rumah sakit pendidikan bagi Universitas Pertahanan. Oleh karena itu, kami harus meningkatkan sarana dan prasarana, kualitas layanan, serta memastikan kesiapan RSUD untuk membimbing para kadet dokter muda dalam melayani masyarakat,” ujar Dedie saat ditanya Humas RSUD Kota Bogor.

Direktur RSUD Kota Bogor, dr. Ilham Chaidir, menjelaskan bahwa pengembangan sarpras merupakan langkah penting untuk memenuhi standar rumah sakit pendidikan. “Menjadikan RSUD Kota Bogor sebagai rumah sakit pendidikan membutuhkan perluasan dan penambahan fasilitas. Misalnya, kita membutuhkan departemen-departemen seperti penyakit dalam dan THT, yang saat ini masih dalam proses pembangunan dan perluasan,” jelas dr. Ilham.

Lebih lanjut, dr. Ilham menyebutkan bahwa pengembangan sarpras akan disinergikan dengan arahan dari Wali Kota Bogor. “Kami akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bogor untuk memastikan bahwa semua kebutuhan sarpras terpenuhi,” tambahnya.

RSUD Kota Bogor Jadi Pusat Pelatihan Dokter Militer untuk Medis dan Keamanan Nasional

Sinergi untuk Layanan Kesehatan dan Pendidikan yang Berkualitas

Peningkatan sarpras di RSUD Kota Bogor diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan kesehatan, tetapi juga menjadi wadah pendidikan yang berkualitas bagi calon dokter dari Universitas Pertahanan. Langkah ini sejalan dengan visi Pemerintah Kota Bogor untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat.

Dengan adanya pengembangan ini, RSUD Kota Bogor diharapkan dapat menjadi rumah sakit pendidikan yang unggul dan mampu menghasilkan tenaga medis yang kompeten serta siap melayani masyarakat. “Belajar menghadapi masyarakat adalah tantangan besar bagi setiap tenaga medis. Saya yakin, dengan bekal ilmu yang telah didapat, mereka akan menjadi dokter yang handal dan berdedikasi tinggi,” ucap Wali Kota Bogor.

75 Dokter Muda Unhan Siap Berkontribusi

Ke-75 dokter muda yang mengucapkan sumpah dokter ini merupakan angkatan kedua Unhan yang akan ditugaskan di RSUD Kota Bogor. Sebelumnya, angkatan pertama yang juga berjumlah 75 dokter muda telah lebih dulu menjalani praktik di rumah sakit tersebut.

Dengan mengucapkan sumpah dokter, para dokter muda ini siap mengemban tugas mulia sebagai tenaga medis sekaligus garda terdepan dalam menjaga pertahanan negara. Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen Unhan RI dan RSUD Kota Bogor dalam mencetak generasi dokter militer yang profesional, tangguh, dan berintegritas.

Sinergi antara Unhan RI dan RSUD Kota Bogor ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan kesehatan, tetapi juga menghasilkan tenaga medis yang siap menghadapi tantangan kesehatan dan pertahanan di masa depan.***

Komisi I DPRD Kota Bogor Motivasi Puskesmas Kedung Badak Raih Zona Integritas

0

Bogordaily.net – Puskesmas Kedung Badak menggelar acara buka puasa bersama (bukber) yang diisi dengan pembekalan motivasi untuk mencapai Zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK).

Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Komisi 1 DPRD Kota Bogor, H. Karnain Asyhar, serta seluruh staf dan Kepala Puskesmas Kedung Badak.

Acara berlangsung di Aula Puskesmas setempat, Jumat 14 Maret 2025, dengan fokus pada penguatan integritas dan transparansi layanan publik.

Dalam sambutannya, H. Karnain Asyhar menekankan pentingnya kolaborasi antara legislatif dan instansi kesehatan dalam membangun sistem yang akuntabel.

“Zona Integritas bukan sekadar penghargaan, tapi komitmen nyata untuk menjauhkan praktik korupsi melalui penguatan tata kelola, pelayanan prima, dan pengawasan partisipatif,” ujar Karnain.

Ia juga menyoroti peran puskesmas sebagai ujung tombak kesehatan masyarakat yang harus menjadi contoh integritas.

Kepala Puskesmas Kedung Badak, dr. Kurnia, menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi momentum untuk menyelaraskan visi seluruh tim.

“Kami bertekad memenuhi 8 area reformasi birokrasi, seperti pengelolaan anggaran yang transparan, pencegahan gratifikasi, dan peningkatan kualitas layanan,” tegasnya.

Acara tersebut ditutup dengan buka puasa bersama dan ramah tamah oleh seluruh peserta. ***

Irvan

Diberdayakan BRI, UMKM Papua Global Spices Berhasil Eksis di Pasar Internasional

0

Bogordaily.net – Papua Global Spices, salah satu UMKM binaan BRI yang berasal dari Fakfak, Papua Barat, sukses menembus pasar internasional melalui berbagai pameran dan program pemberdayaan yang diinisiasi oleh BRI.

Keikutsertaan Papua Global Spices dalam berbagai acara nasional maupun internasional, termasuk di China, telah membuka peluang lebih besar bagi bisnis ini untuk berkembang.

Melalui pameran tersebut, mereka mendapatkan akses ke calon pembeli baru yang berpotensi meningkatkan skala usahanya.

“Kami sangat bersyukur atas kesempatan ini. Dengan dukungan dari BRI, kami bisa memperkenalkan produk rempah khas Indonesia ke pasar global. Ini menjadi langkah besar bagi kami untuk terus berkembang,” ujar perwakilan Papua Global Spices.

Sebagai agent of development, BRI tidak hanya menyediakan akses permodalan bagi pengusaha UMKM, tetapi juga ekosistem pemberdayaan yang komprehensif, seperti program Klasterku Hidupku, Rumah BUMN, dan LinkUMKM.

Sebagai informasi, hingga akhir 2024 BRI telah membina lebih dari 38.574 klaster usaha, menjangkau lebih dari 433 ribu pengusaha UMKM melalui 54 Rumah BUMN, serta menghubungkan 10,6 juta user dalam platform LinkUMKM.

Selain itu, melalui Holding Ultra Mikro yang terdiri dari BRI, Pegadaian, dan PNM, layanan keuangan yang terintegrasi mampu melayani lebih dari 183 juta nasabah simpanan dan 35,9 juta debitur dengan total penyaluran kredit mencapai Rp626,6 triliun.

Terkait dengan keberhasilan Papua Global Spices, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari menyatakan bahwa pencapaian ini menunjukkan potensi besar pengusaha usaha kecil Indonesia untuk bersaing di tingkat internasional.

“Keberhasilan UMKM dalam menembus pasar global menunjukkan bahwa pengusaha usaha kecil Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat internasional. BRI akan terus memberikan dukungan, baik dalam hal permodalan maupun pembinaan, agar semakin banyak UMKM yang dapat naik kelas,” ujarnya.

Lebih lanjut, bagi para pengusaha UMKM yang ingin meniti jalan menuju kesuksesan, pendiri Papua Global Spices menekankan tiga kunci utama: kerja keras, keberanian dalam melangkah, dan kejujuran. Semangat ini sejalan dengan komitmen BRI dalam mengembangkan UMKM agar mampu berkontribusi terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Ke depan, BRI akan terus mendukung UMKM Indonesia agar semakin kompetitif di pasar global dengan menyediakan berbagai program pembinaan dan pendampingan yang berkelanjutan.

Hal ini merupakan bagian dari strategi BRI dalam memperkuat ekonomi kerakyatan serta mewujudkan inklusi keuangan yang lebih luas di Tanah Air.***