Sunday, 12 April 2026
Home Blog Page 894

Dari Limbah Jadi Indah: Kreativitas Warga Kampung Perca Bogor Mengolah Limbah

0

Bogordaily.net – Ada satu hal yang selalu menarik perhatianku, setiap kali berangkat atau pulang kuliah, mataku selalu tertuju pada sebuah papan nama besar yang mencolok bertuliskan ‘Perca’. Papan itu unik, dibentuk dari gambar sisa-sisa kain yang dirangkai menjadi satu. Jelas terlihat kreativitas membuat limbah jadi indah.

Namanya Kampung Perca, sebenarnya tidak jauh dari rumahku hanya berjarak kurang dari lima kilometer dan cukup sering kulewati. Tapi entah kenapa, meskipun sering melihat papan nama itu, aku tak pernah benar-benar menyempatkan diri untuk berhenti dan mencari tahu lebih dalam.

Awalnya, aku hanya menganggap Kampung Perca ini sebagai kampung biasa, tak ada yang istimewa, sama seperti kampung-kampung lain di daerahku, hanya saja letaknya di pinggir jalan raya. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa penasaran mulai muncul dan menyelimuti benakku.

Setiap kali melewati papan nama itu aku mulai bertanya-tanya, ‘Sebenarnya, apa sih Kampung Perca ini?’ ‘Kenapa papan namanya dipenuhi gambar kain-kain yang disatukan?’ Aku pun mulai menduga, jangan-jangan ada sesuatu yang unik di balik kampung ini, sesuatu yang belum banyak orang tahu, termasuk aku.

Sejujurnya, meski Kampung Perca tak jauh dari rumahku, aku selalu saja menunda untuk mengunjunginya. Namun, suatu hari ada dorongan kuat dalam diriku yang membawaku untuk akhirnya melihat langsung dan mengenal lebih dalam tentang Kampung Perca. Ini seperti sebuah keajaiban, tiba-tiba aku memutuskan untuk mencari sesuatu yang istimewa di kampung itu, kampung yang selama ini hanya kulihat sekilas, tanpa tahu apa yang ada di baliknya.

Siang itu, aku berangkat bukan dari rumah, melainkan langsung dari kampus. Sengaja, aku ingin ditemani oleh seorang teman. Menggunakan sepeda motor, kami menempuh perjalanan selama dua puluh menit untuk mencapai Kampung Perca yang terletak di Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.

Saat memasuki Kampung Perca, aku langsung terpesona dengan pemandangan yang ada. Tembok di sebelah kiri jalan dipenuhi kotak-kotak warna-warni yang digantung, membuat suasana kampung jadi lebih hidup.

Di sepanjang jalan, tembok-tembok dihiasi lukisan-lukisan yang menarik perhatian dengan warna-warna cerah. Terdengar percakapan hangat antara warga yang sedang bekerja atau bersantai di depan rumah sambil menikmati makan siangnya.

Aku menyusuri kampung Perca dan menemukan informasi dari penduduk setempat bahwa terdapat 4 galeri yang dimiliki oleh Kampung Perca. Galeri pertama yaitu Galeri Kriwil, terdapat produk-produk seperti keset dan taplak khas kampung perca.

Galeri kedua yaitu Galeri Petok, terdapat beberapa produk kerajinan seperti cempal berbentuk ayam. Galeri ketiga yaitu Galeri Pangsi, terdiri dari produk-produk fashion seperti baju pangsi dan outer.

Terakhir, Galeri Pak Has yang merupakan galeri utama, masih aktif sebagai tempat workshop bagi para pengrajin untuk memilah, menyiapkan, dan merangkai produk-produk perca.

Tanpa menunda-nunda waktu lagi aku langsung bergegas ke Galeri Pak Has. Ketika aku memasuki galeri tersebut ternyata di lantai dua terdapat tempat kursus menjahit. Sementara itu, galeri utama terletak di lantai tiga.

Di sana, aku disambut oleh Ibu Ika, salah satu pengurus Kampung Perca. Kami banyak mengobrol mengenai Kampung Perca dan bagaimana kampung ini dapat terbentuk.

Ibu Ika menjelaskan kepadaku bahwa Kampung Perca adalah kampung yang berdiri di tengah menurunnya tingkat perekonomian masyarakat dunia akibat pandemi Covid 19. Pada tahun 2020 saat pandemi Covid 19 melanda, warga Sindangsari mengalami kesulitan ekonomi yang parah.

Melihat kondisi tersebut warga Sindang Sari berdiskusi untuk menciptakan peluang usaha berdasarkan potensi yang dimiliki. Akhirnya dipilih lah pemanfaatan kain perca untuk dijadikan usaha.

Pilihan ini didasari oleh perhatian warga kepada sampah limbah kain sebagai bahan limbah yang sulit terurai, sehingga tercetus lah ide untuk menciptakan limbah kain menjadi bernilai.

Selain itu, bahan baku kain perca juga mudah didapatkan tanpa biaya dengan demikian kain perca dipilih untuk diproduksi dan dijual dengan tujuan meningkatkan pendapatan ibu-ibu di Kampung Sindang Sari.

Saat ini Kampung Perca telah berkembang menjadi kampung wisata yang memiliki tujuan pemberdayaan masyarakat terutama perempuan dan ibu-ibu rumah tangga. Setelah banyak mengobrol bersama pengurus kampung perca, Aku diperbolehkan untuk mengeksplor seluruh isi galeri.

Saat memasuki galeri aku menyusuri dari sisi kiri, berputar hingga ke sisi kanan, mengamati berbagai produk mulai dari tas, baju, hingga syal yang tergantung rapi di manekin.

Tidak hanya itu, aku juga melihat bagaimana proses pembuatannya dari mulai seukur kain kecil hingga bisa menjadi sebuah barang yang bernilai seperti taplak meja, keset, hingga tas. Setiap produk dibuat dengan perhatian penuh terhadap detail, dan prosesnya cukup rumit.

Kampung Perca bagiku bukan hanya sekedar kampung wisata. Kampung ini adalah contoh nyata bagaimana kreativitas dapat mengubah tantangan menjadi peluang.

Aku sangat terkesan dengan semangat seluruh masyarakat yang ada di kampung ini untuk terus hidup bangkit dan mencari peluang. Melalui kreativitasnya, warga Kampung Perca dapat menciptakan karya-karya luar biasa dari limbah kain perca.

Tidak hanya membangkitkan kembali roda perekonomian, kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi lingkungan. Tumpukan limbah tekstil yang berpotensi dapat mencemari lingkungan kini diubah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai jual.

Ini menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dan kesadaran lingkungan dapat berjalan beriringan bahkan menghasilkan uang. Setelah mengunjungi Kampung Perca aku baru menyadari bahwa tempat yang selama ini hanya kulihat dari jalan ternyata menyimpan sejarah yang indah.

Kekompakan dan ketangguhan warganya patut diacungi jempol. Ibu Ika, pengurus Galeri Pak Has memberitahuku bahwa Kampung Perca telah meraih berbagai penghargaan atas apresiasi dan dukungan yang diberikan kepada masyarakatnya.

Aku merasa sangat beruntung bisa berkunjung ke sini. Aku mendapatkan banyak ilmu dan informasi baru. Warga Kampung Perca sangat ramah dan menyambutku dengan hangat.
Pengalaman ini akan selalu kuingat. Aku senang perjalananku kali ini memberikan wawasan baru. Aku berharap Kampung Perca bisa terus berkembang di masa depan.

Ginandita Novi Andhini
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Keberhasilan Cokelat Ndalem Jadi Bukti Nyata Keberpihakan BRI Terhadap UMKM

0

Bogordaily.net – Konsistensi dalam inovasi dan ketahanan menghadapi tantangan menjadikan Cokelat Ndalem sebagai salah satu UMKM unggulan di industri cokelat lokal.

Berawal dari kecintaan pada cokelat, fokus utama mereka adalah memahami pasar dan memastikan produk yang dihasilkan sesuai dengan selera konsumen.

“Fasilitas termahal adalah mesin cetakan. Kami mengalokasikan biaya sekitar Rp2,5 hingga Rp3 juta hanya untuk cetakan sebelum akhirnya mulai berjualan,” ujar Meika Hazim pemilik Cokelat Ndalem saat berbagi pengalaman dalam BRI UMKM EXPO(RT) 2025.

Seiring berjalannya waktu, bisnis ini terus berkembang. Dengan strategi yang tepat, Cokelat Ndalem mampu mencapai titik impas sejak tahun pertama.

Namun, pandemi Covid-19 sempat menghambat laju pertumbuhan bisnis mereka.

“Setelah pandemi, kami kembali berproduksi secara bertahap dan mempertahankan kualitas produk untuk menjaga kepercayaan pelanggan,” tambahnya.

Saat ini, Cokelat Ndalem menawarkan berbagai varian rasa, dengan milk chocolate sebagai produk paling diminati.

Selain itu, inovasi terus dilakukan, termasuk menghadirkan varian cokelat kopi dengan bahan baku kopi dari Papua, Wamena, dan Yogyakarta.
Cokelat Ndalem juga merilis produk mirip Pocky untuk memenuhi selera konsumen yang kurang menyukai rasa cokelat terlalu manis.

Pelanggan Cokelat Ndalem kini tersebar di berbagai kota besar, terutama Jakarta, dan telah merambah pasar internasional seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Australia.

Perjalanan bisnis ini tidak terlepas dari strategi adaptasi, inovasi, kolaborasi, dan konsistensi dalam menjalankan usaha.

“Inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru, tetapi bisa berupa penyesuaian agar produk yang ada lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi kunci untuk memperluas jangkauan dan memperkuat bisnis,” jelas pemilik Cokelat Ndalem.

Terkait dengan hal tersebut, Direktur Commercial, Small, and Medium Business BRI Amam Sukriyanto turut mengapresiasi perjuangan dan inovasi yang dilakukan oleh Cokelat Ndalem.

“Kami di BRI percaya bahwa UMKM seperti Cokelat Ndalem memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh. Melalui dukungan permodalan dan pendampingan yang tepat, UMKM dapat semakin berdaya dan mampu bersaing di pasar global. BRI berkomitmen untuk terus memberikan akses pembiayaan serta program pemberdayaan guna mendorong UMKM naik kelas,” ujar Amam Sukriyanto.

Sebagai bagian dari komitmennya dalam mendukung UMKM, BRI terus memberikan akses permodalan serta berbagai program pemberdayaan bagi pengusaha UMKM, termasuk Cokelat Ndalem.

Melalui inisiatif seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), AgenBRILink, dan berbagai program digitalisasi seperti LinkUMKM dan Rumah BUMN, BRI secara konsisten terus mendorong UMKM untuk naik kelas dan agar dapat menembus pasar global.

“BRI percaya bahwa UMKM memiliki peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan dukungan finansial dan ekosistem yang kuat, UMKM seperti Cokelat Ndalem dapat terus berkembang, berinovasi, dan menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan”, pungkasnya.***

DPRD Kabupaten Bogor Siapkan Anggaran BTT Rp100 Miliar untuk Penanganan Bencana

0

Bogordaily.net  — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor mengalokasikan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp100 miliar untuk menangani bencana di Kabupaten Bogor pada tahun 2025.

Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Sastra Winara, mengatakan bahwa, anggaran tersebut disiapkan untuk memastikan respons cepat dalam menghadapi situasi darurat, termasuk membantu para pengungsi dan memperbaiki infrastruktur yang terdampak.

“Tahun ini, kalau tidak salah, sekitar Rp100 miliar BTT. Kami sampaikan hari ini, momen bulan puasa jangan sampai masyarakat kita tidak merasakan kebahagiaan saat lebaran,” kata Sastra, Selasa, 11 Maret 2025.

Ia menyoroti pentingnya kesiapan menghadapi bencana, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri, mengingat tingginya mobilitas masyarakat pada periode tersebut.

Sastra mencontohkan kejadian di wilayah Cisarua, di mana sebuah jembatan putus. Beruntung, TNI segera turun tangan untuk membangun jembatan Bailey sebagai solusi sementara.

“Kita sebagian besar muslim, tentu momen lebaran jangan sampai terganggu oleh bencana. Biasanya, kegiatan masyarakat saat lebaran memiliki mobilitas tinggi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sastra menegaskan bahwa anggaran BTT ini akan digunakan sesuai kebutuhan, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi. Ia memastikan dana tersebut cukup untuk menghadapi berbagai potensi bencana.

“Kami akan menyesuaikan penggunaan BTT sesuai kebutuhan, karena nantinya setiap pengeluaran harus dipertanggungjawabkan,” ungkap Sastra.

DPRD Kabupaten Bogor berharap anggaran ini dapat memberikan perlindungan dan bantuan yang efektif bagi masyarakat, sehingga momen lebaran tetap berlangsung dengan aman dan nyaman meski di tengah ancaman bencana.***

Albin Pandita

Beli Mobil Bekas atau Baru? Simak Perbandingannya Sebelum Membeli!

0

Bogordaily.net –  Membeli mobil, baik bekas atau baru, adalah keputusan besar yang memerlukan pertimbangan matang.

Setiap pilihan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lalu, mana yang lebih menguntungkan? Berikut perbandingannya.

Perbandingan Mobil Bekas atau Baru

1. Harga dan Depresiasi

Mobil baru biasanya memiliki harga lebih tinggi dibanding mobil bekas. Namun, salah satu kelemahan membeli mobil baru adalah depresiasi nilai yang cepat.

Dalam satu hingga dua tahun pertama, harga mobil baru bisa turun hingga 20-30% dari harga awal. Sementara itu, mobil bekas sudah mengalami depresiasi, sehingga harganya lebih stabil.

2. Kondisi dan Garansi

Mobil baru tentunya dalam kondisi prima dan mendapatkan garansi pabrik yang cukup panjang, biasanya 3 hingga 5 tahun.

Sementara itu, mobil bekas perlu dicek lebih teliti sebelum membeli, karena kondisi mesin dan bodi tergantung pada pemakaian pemilik sebelumnya.

Meski begitu, saat ini banyak dealer mobil bekas yang menawarkan garansi untuk memberikan rasa aman bagi pembeli.

3. Teknologi dan Fitur Keamanan

Mobil baru umumnya sudah dilengkapi dengan teknologi terbaru, baik dari segi efisiensi bahan bakar, fitur hiburan, hingga sistem keselamatan seperti sensor parkir dan automatic braking.

Sedangkan, mobil bekas mungkin memiliki fitur lebih sederhana, tergantung pada tahun produksinya.

4. Biaya Perawatan dan Asuransi

Mobil baru biasanya membutuhkan perawatan yang lebih ringan dalam beberapa tahun pertama. Selain itu, asuransi untuk mobil baru cenderung lebih mahal dibanding mobil bekas karena nilai pertanggungannya lebih tinggi.

Jika mengutamakan kondisi prima, teknologi terbaru, dan garansi panjang, mobil baru bisa menjadi pilihan.

Namun, jika ingin harga lebih terjangkau dan depresiasi lebih stabil, mobil bekas bisa menjadi alternatif yang menarik.

Sebelum memutuskan, pastikan untuk menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan dan anggaran Anda.***

Bulan Ramadan, Donasi Pegawai PLN Beri Sambungan Listrik Gratis Bagi 2.597 Keluarga Prasejahtera

0

Bogordaily.net – PT PLN (Persero) melakukan penyalaan serentak sambungan listrik gratis untuk 2.597 rumah tangga prasejahtera dalam program Light Up The Dream, pada Senin 10 Maret 2025. Program yang berasal dari donasi pegawai PLN ini sekaligus menjadi momen berbagi kebahagiaan Ramadan 1446 H. Berlangsung sejak tahun 2020, program ini secara total telah menyambungkan listrik secara gratis untuk 32.275 keluarga prasejahtera di seluruh Indonesia.

Kehadiran program yang dibiayai dari donasi pegawai PLN ini pun menjadi berkah bagi banyak keluarga yang sebelumnya belum menikmati listrik, salah satunya Ferra Rostika. Kebahagiaan terpancar dari wajah warga Desa Neusu Jaya, Banda Aceh ini setelah akhirnya ia dan keluarganya bisa menikmati listrik PLN. Sebelumnya ia hanya mengandalkan aliran listrik dari tetangga.

“Syukur alhamdulillah, saya tidak bisa berkata-kata. Selama ini, tetangga membantu saya, tetapi mereka juga terganggu karena MCB mereka sering mental. Sekarang kami sekeluarga dapat menikmati listrik. Anak sudah bisa belajar di malam hari. Semoga PLN semakin jaya dan bisa membantu masyarakat lainnya yang mengalami kesulitan ekonomi seperti kami,” ungkap Ferra.

Hal serupa juga yang dirasakan Nenek Rusmini. Warga Lubuk Linggau Selatan, Provinsi Sumatera Selatan ini tak kuasa menahan haru ketika listrik di rumah akhirnya menyala berkat program Light Up The Dream. Selama ini nenek berusia 86 tahun tersebut hidup seorang diri dalam gelap tanpa listrik dengan kondisi yang serba terbatas.

“Selama ini kalau malam saya pakai lilin. Kalau hujan turun, rumah saya gelap gulita. Mau masak pun sulit, saya harus nyalakan lilin atau pinjam listrik menyalur dari tetangga. Sekarang alhamdulillah, rumah saya sudah terang. Terima kasih PLN, semoga berkah bagi semuanya,” ujar Rusmini dengan mata berkaca-kaca.

Di wilayah Indonesia timur ada juga Catarina, warga Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur yang pada kesempatan ini turut menjadi penerima manfaat penyalaan serentak program Light Up The Dream. Hadirnya listrik tidak sekadar untuk penerangan, tetapi juga memberikan harapan dan kesejahteraan bagi keluarganya.

“Kami sangat bersyukur dapat merasakan nikmat listrik di bulan Ramadan ini. Selama ini, kami menabung untuk biaya pasang baru listrik. Kini, anak-anak kami bisa belajar dengan nyaman di malam hari, dan kami bisa tambah peralatan untuk jual es. Terimakasih PLN sudah mewujudkan impian kami,” ungkap Catarina.

Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN, Yusuf Didi Setiarto, menyampaikan bahwa program Light Up The Dream adalah wujud nyata komitmen dan kepedulian insan PLN dalam mewujudkan energi berkeadilan serta pemerataan akses listrik. Program ini merupakan inisiatif pegawai PLN yang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk masyarakat kurang beruntung agar dapat menyambung listrik secara gratis di seluruh Indonesia.

“Program Light Up The Dream secara reguler kita jalankan, paling tidak bisa dua kali dalam satu tahun. Sebuah tradisi yang sangat baik di PLN, yang dirintis oleh para insan PLN yang peduli dengan lingkungan sekitar,” kata Didi.

Oleh sebab itu, Didi mengapresiasi para pegawai PLN yang secara konsisten menyisakan sebagian dari penghasilannya untuk menopang keberlangsungan program ini.

“Pada Light Up The Dream hari ini telah tersambung 2.597 instalasi listrik untuk pelanggan. Sehingga, secara total sampai dengan Maret 2025, insan PLN di seluruh Indonesia telah menyumbang untuk kebahagiaan masyarakat prasejahtera sebanyak 32.275 sambungan,” lanjut Didi.

Sementara itu Direktur Retail dan Niaga PLN, Edi Srimulyanti menambahkan bahwa pihaknya turut berterima kasih kepada para stakeholders di pusat dan daerah yang mendukung kesuksesan program Light Up The Dream. Ia berharap program ini akan terus menjadi wadah untuk seluruh pihak menjalin kolaborasi demi kemajuan masyarakat.

“Kami juga berharap wadah ini terus digerakkan, karena memang masih ada saudara-saudara di lingkungan sekitar kita yang belum mendapatkan kesempatan untuk bisa menikmati listrik secara mandiri,” ujar Edi.

Edi menambahkan program ini juga sekaligus menjadi komitmen PLN mendukung upaya pemerintah meningkatkan Rasio Elektrifikasi di Indonesia. Ia berharap program ini akan turut mendorong perekonomian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Sesuai dengan visi dari PLN, bahwa hadirnya listrik ini akan membawa kehidupan menjadi lebih baik dan juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” pungkas Edi.***

Koperasi Desa Merah Putih Jadi Alat Revolusi Ekonomi Desa

0

Bogordaily.net – Kementerian Koperasi (Kemenkop) terus mematangkan rencana pembentukan Koperasi Desa (Kop Des) Merah Putih dengan melibatkan secara langsung peran aktif dari para kepala desa yang tergabung dalam wadah Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI).

Maka itu komunikasi dengan APDESI terus dilakukan agar semua perangkat desa memiliki visi yang sama dengan pemerintah pusat dalam upaya mewujudkan Kop Des Merah Putih tersebut.

Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi mengatakan Kop Des ini bakal menjadi momentum strategis untuk melakukan revolusi terhadap perekonomian di pedesaan. Dengan begitu kesejahteraan hingga ketimpangan ekonomi yang banyak terjadi di pedesaan dapat teratasi.

“Koperasi Desa bisa mengakselerasi program pembangunan di desa sehingga ini menjadi lompatan baru dan menjadi cara baru untuk merevolusi ekonomi di desa,” kata Menkop Budi Arie saat Rapat Koordinasi bersama Menteri Dalam Negeri dan APDESI di kantornya, Selasa, 11 Maret 2025.

Menkop Budi Arie memastikan Kop Des Merah Putih ini akan menjadi solusi bagi segala permasalahan di desa khususnya soal kemiskinan dan ketimpangan ekonomi.

Bahkan Kop Des Merah Putih dapat menjadi agregator bagi hasil produksi dari petani saat musim panen raya sehingga dapat membantu menjaga ketahanan pangan negara yang dimulai dari desa.

Lanjut Menkop Budi Arie, Kop Des Merah Putih akan menjadi solusi bagi permasalahan tengkulak yang kerap memainkan harga sehingga merugikan produsen maupun konsumen.

Melalui peran aktif koperasi, Menkop Budi Arie optimis akan mampu mewujudkan keadilan ekonomi di masyarakat.

Menkop Budi Arie juga memastikan bahwa keberadaan Koperasi Desa Merah Putih tidak akan mematikan atau menggantikan koperasi ataupun Badan Usaha Milik Desa (BumDes) yang masih ada hingga saat ini.

Justru kehadiran Kop Des ini akan menjadi pelengkap dari upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunan perekonomian di desa.

“Bumdes kami pastikan masih tetap ada, Kop Des ini menjadi semangat baru karena skemanya baru terutama dari segi model bisnisnya. Koperasi menjadi instrumen pemerataan ekonomi khususnya ekonomi rakyat,” kata Menkop Budi Arie.

Kemenkop akan secara intensif melakukan koordinasi dan kerja sama dengan multi pihak khususnya Kementerian dan Lembaga untuk mewujudkan cita-cita Presiden Prabowo Subianto dalam membangun perekonomian yang berkeadilan melalui koperasi.

Di tempat yang sama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menambahkan bahwa adanya penolakan pembentukan Kop Des Merah Putih dari beberapa Kepala Desa karena adanya miss komunikasi. Maka itu melalui forum rapat koordinasi dengan APDESI ini, kesalahpahaman itu dapat diluruskan dengan baik.

Ditegaskan demi memastikan pembentukan Kop Des Merah Putih berjalan dengan baik di tingkat desa, Mendagri akan mengeluarkan Surat Edaran agar seluruh unsur di tingkat desa dapat memberikan dukungan maksimal karena keberadaan koperasi ini justru akan menguntungkan desa.

Surat Edaran tersebut juga akan memuat poin-poin pengawasan yang melibatkan peran aktif dari seluruh unsur aparat di desa.

Selain itu Mendagri menambahkan perlu dibuatnya Instruksi Presiden (Inpres) terkait Kop Des Merah Putih agar para Kementerian/Lembaga juga mengetahui tugasnya masing-masing.

“Koperasi ini akan membuat desa lebih maju dan ini merupakan sebuah lompatan luar biasa dari Presiden Prabowo untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat desa,” ucap Mendagri.

Ketua Umum APDESI Pusat Surtawijaya menegaskan bahwa seluruh anggota APDESI menyatakan kesiapannya untuk mendukung program pembentukan Kop Des Merah Putih.

Berkat penjelasan dari Menkop Budi Arie dan Mendagri Tito Karnavian, saat ini seluruh anggota APDESI tidak lagi ragu-ragu dengan program pembentukan Kop Des Merah Putih tersebut.

“Setelah audiensi ini kami APDESI dari Sabang sampai Merauke melihat Kop Des Merah Putih bukan hanya lompatan lagi, yang awalnya kami ragu namun setelah mendengar penjelasannya kami Kepala Desa siap mendukung percepatan pembentukan Kop Des Merah Putih,” kata Surtawijaya.***

Pasar Jambu Dua Siap Tampung Pedagang Pasar Bogor

0

Bogordaily.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tengah mempersiapkan relokasi pedagang Pasar Bogor yang akan menempati Pasar Jambu Dua dan Pasar Sukasari.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, memastikan bahwa saat ini Pasar Jambu Dua sudah selesai dibangun, nyaman, dan ramai dikunjungi pembeli, yang bisa disaksikan langsung oleh pedagang Pasar Bogor

Saat ini terdapat 1.141 kios, 300 di antaranya telah diisi oleh pedagang eksisting Pasar Jambu Dua yang sudah beroperasi.

Dedie menyampaikan bahwa ini merupakan bentuk komitmen Pemkot Bogor dalam penataan kota.

Nantinya, relokasi atau pergeseran pedagang yang sebelumnya berada di Pasar Bogor dan Plaza Bogor akan dilaksanakan usai Lebaran.

“Saat ini masih ada sekitar 800 kios yang bisa ditempati pedagang dari Pasar Bogor. Tujuannya agar kita bisa melanjutkan rencana revitalisasi Pasar Bogor dan Plaza Bogor,” ujar Dedie A. Rachim

Pasar Jambu Dua sudah memiliki fasilitas lengkap, termasuk berbagai pedagang sayur, buah, daging, ikan, serta unggas. Bahkan, di lantai atas disediakan tempat kuliner dan berbagai produk fashion.

“Ini merupakan bagian dari upaya penataan yang lebih baik. Pembangunan sudah 100 persen selesai, dan sampah dikelola langsung oleh Perumda Pasar,” ucap Dedie A. Rachim.

Untuk keberlanjutannya, Dedie menekankan untuk secara konsisten menjaga dan merawat kebersihan pasar.

“Ini menjadi contoh yang baik, tinggal bagaimana keberlanjutannya nanti. Jadi, jangan hanya saat kunjungan saja, tetapi secara konsisten penanganan sampah ini harus bisa menjadi contoh untuk pasar lain,” ujarnya.(Muhammad Irfan Ramadan)

Menkop: Koperasi Desa Merah Putih Jadi Alat Revolusi Ekonomi Desa

0

Bogordaily.net – Kementerian Koperasi (Kemenkop) terus mematangkan rencana pembentukan Koperasi Desa (Kop Des) Merah Putih dengan melibatkan secara langsung peran aktif dari para kepala desa yang tergabung dalam wadah Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI).

Maka itu komunikasi dengan APDESI terus dilakukan agar semua perangkat desa memiliki visi yang sama dengan pemerintah pusat dalam upaya mewujudkan Kop Des Merah Putih tersebut.

Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi mengatakan Kop Des ini bakal menjadi momentum strategis untuk melakukan revolusi terhadap perekonomian di pedesaan. Dengan begitu kesejahteraan hingga ketimpangan ekonomi yang banyak terjadi di pedesaan dapat teratasi.

“Koperasi Desa bisa mengakselerasi program pembangunan di desa sehingga ini menjadi lompatan baru dan menjadi cara baru untuk merevolusi ekonomi di desa,” kata Menkop Budi Arie saat Rapat Koordinasi bersama Menteri Dalam Negeri dan APDESI di kantornya, Selasa (11/03).

Menkop Budi Arie memastikan Kop Des Merah Putih ini akan menjadi solusi bagi segala permasalahan di desa khususnya soal kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Bahkan Kop Des Merah Putih dapat menjadi agregator bagi hasil produksi dari petani saat musim panen raya sehingga dapat membantu menjaga ketahanan pangan negara yang dimulai dari desa.

Lanjut Menkop Budi Arie, Kop Des Merah Putih akan menjadi solusi bagi permasalahan tengkulak yang kerap memainkan harga sehingga merugikan produsen maupun konsumen. Melalui peran aktif koperasi, Menkop Budi Arie optimis akan mampu mewujudkan keadilan ekonomi di masyarakat.

Menkop Budi Arie juga memastikan bahwa keberadaan Koperasi Desa Merah Putih tidak akan mematikan atau menggantikan koperasi ataupun Badan Usaha Milik Desa (BumDes) yang masih ada hingga saat ini. Justru kehadiran Kop Des ini akan menjadi pelengkap dari upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunan perekonomian di desa.

“Bumdes kami pastikan masih tetap ada, Kop Des ini menjadi semangat baru karena skemanya baru terutama dari segi model bisnisnya. Koperasi menjadi instrumen pemerataan ekonomi khususnya ekonomi rakyat,” kata Menkop Budi Arie.

Kemenkop akan secara intensif melakukan koordinasi dan kerja sama dengan multi pihak khususnya Kementerian dan Lembaga untuk mewujudkan cita-cita Presiden Prabowo Subianto dalam membangun perekonomian yang berkeadilan melalui koperasi.

Di tempat yang sama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menambahkan bahwa adanya penolakan pembentukan Kop Des Merah Putih dari beberapa Kepala Desa karena adanya miss komunikasi. Maka itu melalui forum rapat koordinasi dengan APDESI ini, kesalahpahaman itu dapat diluruskan dengan baik.

Ditegaskan demi memastikan pembentukan Kop Des Merah Putih berjalan dengan baik di tingkat desa, Mendagri akan mengeluarkan Surat Edaran agar seluruh unsur di tingkat desa dapat memberikan dukungan maksimal karena keberadaan koperasi ini justru akan menguntungkan desa.

Surat Edaran tersebut juga akan memuat poin-poin pengawasan yang melibatkan peran aktif dari seluruh unsur aparat di desa. Selain itu Mendagri menambahkan perlu dibuatnya Instruksi Presiden (Inpres) terkait Kop Des Merah Putih agar para Kementerian/Lembaga juga mengetahui tugasnya masing-masing.

“Koperasi ini akan membuat desa lebih maju dan ini merupakan sebuah lompatan luar biasa dari Presiden Prabowo untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat desa,” ucap Mendagri.

Ketua Umum APDESI Pusat Surtawijaya menegaskan bahwa seluruh anggota APDESI menyatakan kesiapannya untuk mendukung program pembentukan Kop Des Merah Putih. Berkat penjelasan dari Menkop Budi Arie dan Mendagri Tito Karnavian, saat ini seluruh anggota APDESI tidak lagi ragu-ragu dengan program pembentukan Kop Des Merah Putih tersebut.

“Setelah audiensi ini kami APDESI dari Sabang sampai Merauke melihat Kop Des Merah Putih bukan hanya lompatan lagi, yang awalnya kami ragu namun setelah mendengar penjelasannya kami Kepala Desa siap mendukung percepatan pembentukan Kop Des Merah Putih,” kata Surtawijaya.***

Patrick Kluivert: Harapan atau Ancaman Baru untuk Timnas Indonesia

0

Oleh: Kenzie Muhammad Azri
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Sepak bola Indonesia kembali memasuki babak baru setelah PSSI secara resmi menunjuk Patrick Kluivert sebagai pelatih tim nasional Indonesia pada 8 Januari 2025. Penunjukan ini menggantikan posisi Shin Tae-yong yang sebelumnya diberhentikan oleh PSSI. Keputusan ini menandai langkah strategis PSSI dalam upaya meningkatkan performa tim nasional dengan harapan besar lolos ke Piala Dunia 2026.

Penunjukan Kluivert menjadi sorotan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional, mengingat reputasinya sebagai salah satu legenda sepak bola dunia.

Pemecatan Shin Tae-yong: Keputusan Kontroversial PSSI
Shin Tae-yong mulai melatih Timnas Indonesia pada tahun 2020 dan berhasil membawa sejumlah prestasi, termasuk peningkatan peringkat FIFA dan lolos ke babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026. Di bawah kepemimpinannya, Timnas Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan dalam permainan dan mental bertanding.

Namun, PSSI memutuskan untuk mengakhiri kerjasama dengan Shin pada Januari 2025, dengan alasan untuk mencapai target yang lebih tinggi dan membawa perubahan baru dalam strategi tim nasional.

Keputusan ini menuai pro dan kontra di kalangan pengamat dan suporter sepak bola Indonesia. Sebagian mendukung keputusan tersebut sebagai langkah berani untuk kemajuan, sementara yang lain merasa kecewa atas penghentian kerja sama dengan pelatih yang telah memberikan kontribusi nyata.

Era Baru Bersama Patrick Kluivert Patrick Kluivert
Mantan striker timnas Belanda, memiliki pengalaman melatih di berbagai klub Eropa, termasuk sebagai pelatih tim muda Barcelona dan asisten pelatih di beberapa klub lainnya.

Dengan filosofi permainan menyerang ala Belanda yang terkenal dengan “Total Football,” Kluivert diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi Timnas Indonesia.

Ia akan didampingi oleh asisten pelatih asal Belanda, Alex Pastoor dan Denny Landzaat, serta dua asisten pelatih lokal yang diharapkan dapat menjembatani adaptasi dengan pemain Indonesia.

Namun, tantangan besar menanti Kluivert, termasuk adaptasi dengan budaya sepak bola Indonesia yang unik serta peningkatan kualitas individu pemain yang masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Selain itu, Kluivert juga harus memahami dinamika liga domestik dan bagaimana mengintegrasikan pemain-pemain muda berbakat ke dalam tim nasional. Dengan jadwal kualifikasi Piala Dunia 2026 yang semakin dekat, Kluivert harus segera menemukan strategi terbaik untuk menghadapi lawan-lawan tangguh di Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia.

Harapan untuk Timnas Indonesia ke Depan
Publik Indonesia memiliki harapan besar terhadap kepemimpinan Kluivert. Selain peningkatan performa di level Asia Tenggara, Timnas Indonesia diharapkan mampu bersaing di tingkat Asia dan dunia.

Tidak hanya sekadar memenangkan pertandingan, tetapi juga menunjukkan permainan yang atraktif dan disiplin. PSSI juga dituntut untuk memberikan dukungan penuh, termasuk peningkatan infrastruktur sepak bola, fasilitas latihan yang memadai, serta pengembangan sistem pembinaan pemain muda yang lebih baik dan berkelanjutan.

Kesuksesan Kluivert akan sangat bergantung pada kemampuannya membangun tim yang solid, kompetitif, dan memiliki mental juara.

Jika ia berhasil membawa hasil positif dalam kualifikasi Piala Dunia, Indonesia mungkin akan semakin dekat dengan impian berlaga di ajang sepak bola terbesar di dunia, sesuatu yang telah lama dinantikan oleh seluruh pecinta sepak bola di tanah air.

Namun, jika hasilnya tidak sesuai harapan, PSSI dan Kluivert akan menghadapi kritik dan tekanan dari publik yang selalu berharap tinggi terhadap prestasi tim nasional.
Patrick Kluivert kini memegang kunci masa depan sepak bola Indonesia.

Akankah ia mampu membawa Garuda terbang lebih tinggi dan menorehkan sejarah baru, atau justru menghadapi tantangan yang sama seperti pendahulunya? Waktu yang akan menjawab, namun harapan dan doa dari jutaan pendukung setia Timnas Indonesia akan selalu mengiringi langkahnya.***

 

Sinopsis Film Animasi Flow, Perjuangan Kucing Hitam saat Diterpa Bencana Alam

0

Bogordaily.net – Bagi pencinta film animasi, bersiaplah untuk petualangan luar biasa dalam Flow, sebuah karya menawan dari sutradara Gints Zilbalodis.

Film ini telah mencuri perhatian sejak pemutarannya di Festival Film Cannes pada Mei 2024 dan telah tayang di bioskop Indonesia pada November 2024 lalu.

Sinopsis Flow

Flow mengisahkan perjalanan emosional seekor kucing hitam yang harus bertahan hidup di dunia yang berubah akibat banjir besar.

Tanpa dialog, film ini mengandalkan visual yang memukau untuk menggambarkan perjalanan penuh tantangan sang kucing.

Awalnya, ia hidup damai, hingga datangnya bencana yang menghancurkan tempat tinggalnya.

Dalam upaya mencari keselamatan, kucing ini menemukan sebuah perahu dan bergabung dengan berbagai hewan lain seperti capybara, anjing, lemur, dan burung. Meski berasal dari latar belakang berbeda, mereka dipaksa untuk bekerja sama agar bisa bertahan.

Melintasi kota yang telah tenggelam, para hewan menghadapi berbagai rintangan. Kucing itu jatuh ke laut, hampir tenggelam, tetapi diselamatkan oleh seekor paus.

Dalam perjalanannya, ia juga berhadapan dengan kawanan burung yang agresif, bertemu dengan anjing yang terjebak di menara lonceng, dan menemukan arti persahabatan serta keberanian.

Seiring waktu, kucing ini mulai beradaptasi dengan kehidupan barunya. Ia belajar berenang dari capybara, menangkap ikan untuk memberi makan kelompoknya, dan membangun kepercayaan dengan sesama penghuni perahu.

Di tengah badai yang dahsyat, ia kembali terlempar ke air, tetapi kali ini ia cukup kuat untuk berenang ke pantai.

Di sana, ia bertemu kembali dengan burung sekretaris yang sebelumnya mengejarnya, namun kini telah berubah.

Puncak petualangan terjadi ketika cahaya misterius muncul di langit, mengangkat burung sekretaris ke udara.

Sang kucing hanya bisa menyaksikan saat sahabat barunya itu menghilang dalam cahaya tersebut, meninggalkannya untuk melanjutkan perjalanan di dunia yang telah berubah selamanya.***