Sunday, 12 April 2026
Home Blog Page 898

Menkop Sinkronisasi Kop Des Merah Putih Bersama Kepala dan Perangkat Desa

0

Bogordaily.net – Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi menegaskan bahwa Koperasi Desa (Kop Des) Merah Putih merupakan milik masyarakat desa maka eksistensinya harus berguna untuk menjadi penggerak roda ekonomi di desa. Maka itu Kementerian Koperasi melakukan sinkronisasi program Kop Des Merah Putih bersama para Kepala/Aparat/Lembaga Desa.

“Kop Des bisa menjadi pusat produksi dan distribusi barang-barang yang ada di desa. Tentunya, dengan melibatkan sebanyak mungkin anggota warga desa sehingga kemanfaatan Kop des Merah Putih bisa dirasakan seluruh warga desa,” papar Menkop, saat audiensi bersama Asosiasi Kepala,Perangkat dan Lembaga Desa yang terdiri dari PAPDASI, ABDESI, PPDI, di Jakarta, Senin (10/3).

Menkop Budi Arie pun membandingkannya dengan BUMDes yang milik pemerintah desa, sedangkan Kop Des milik masyarakat desa. “Tidak akan ada saling mematikan. Kalau bisa malah bekerja sama. Koperasi itu dari kata kooperatif yang artinya kerja sama. Orang koperasi itu harus bisa bekerja sama dengan semua orang,” ucap Menkop.

Menkop menekankan bahwa pemerintah pada tahap ini ingin memberikan dukungan. “Dukungan dalam pengertian percepatan penguatan Kop Des Merah Putih. Kini saatnya mesti bersatu, semua harus bersatu,” ucap Menkop Budi Arie.

Terlebih lagi, lanjut Menkop, tujuan pendirian Koperasi Desa Merah Putih ini memang untuk kepentingan dan kesejahteraan warga desa, bukan yang lain.

“Tujuannya adalah bagaimana kemiskinan ekstrim kita bisa berantas, tengkulak, rentenir, dan semua yang bisa menghambat dan menjadi jeratan dan lingkaran setan kemiskinan desa kita bisa berantas,” ucap Menkop.

Sementara Ketua Umum PAPDESI (Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia), Wargiyati mengatakan, pihaknya mendukung dan menyambut baik program satu desa, satu koperasi, atau Koperasi Desa Merah Putih.

“Harapan ke depan tentu saja dengan adanya koperasi desa otomatis membangkitkan ekonomi di seluruh desa di seluruh Indonesia, sesuai potensinya. Ada yang pertanian, perikanan, kelautan,” kata Wargiyati.

Hal senada diucapkan Ketua Umum ABDESI Anwar yang mendukung penuh dengan adanya Koperasi Desa Merah Putih. “Bagi kami, ini sudah bisa menjadi jembatan peningkatan ekonomi di masyarakat. Yang tentunya warga masyarakat harus berproduktif, tidak boleh lagi konsumtif,” kata Anwar.

Anwar berharap, dengan adanya Koperasi Desa bisa memutus mata rantai tengkulak, rentenir, dan sebagainya. Sehingga, kemandirian juga kesejahteraan akan diraih masyarakat desa seluruh Indonesia.

“Yang semula masyarakat kami mendapatkan harga-harga yang mahal kemudian dengan Koperasi Desa Merah Putih ini menjadi harga terjangkau yang bisa dibeli masyarakat,” ujar Anwar.

Begitupun dengan Ketua Majelis Pertimbangan DPP ABDESI Agung Heri menyampaikan dengan adanya Kop Des akan membangkitkan kembali keberadaan koperasi. “Sehingga ekonomi kerakyatan akan muncul dari desa untuk Indonesia lebih hebat,” ucap Agung.

Agung menambahkan nanti juga akan ada harmonisasi dengan bumdes, dengan peraturan-peraturan desa yang ada termasuk permodalannya dan sebagainya. “Sehingga kami beraudiensi di sini dengan tujuan agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dan tumpang tindih aturan-aturan yang nanti bisa menjadi benturan di tingkat bawah. Kami siap mendukung program Pak Presiden untuk Koperasi Desa Merah Putih ini,” ucap Agung. ***

Menyelami Kebudayaan Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah

0

Bogordaily.net – Di tengah kesibukan kuliah dan tugas, tiba-tiba aku mendapat kesempatan tak terduga. Berawal dari semester dua ini, terdapat mata kuliah festival budaya yang menantang aku dan teman-teman untuk menggali lebih dalam tentang kebudayaan Indonesia, khususnya Budaya Papua. Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menjadi tempat yang cocok untuk mencari tahu lebih banyak tentang berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia. Namun, perjalanan ini tidak berjalan sesuai rencana, karena sebuah perubahan mendadak yang membuat aku jadi lebih terlibat dari yang aku bayangkan.

Saat itu, beberapa hari sebelum keberangkatan, Angel sebagai ketua kelompok budaya Papua, sudah menjelaskan siapa saja yang akan ikut pergi ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Yang ikut ke TMII itu perwakilan ya, dari ketua, acara 1 orang, sekre 1 orang, konsumsi 1 orang, sama humasnya 1 orang,” katanya, memastikan semuanya paham. Mengingat Nazif adalah ketua bagian acara, otomatis dialah yang akan berangkat mewakili tim acara kelompok kami.

Namun, satu hari sebelum keberangkatan, situasi berubah. Nazif tiba-tiba menghubungiku yang juga bertugas sebagai tim acara, bahwa dirinya tidak bisa ikut serta pergi ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) disebabkan kondisi tubuhnya yang dirasa kurang sehat.

“Aku nggak enak badan, Rat. Bisa tolong kamu gantiin?” ucapnya yang langsung aku setujui, mengingat tim acara kami hanya berisikan aku dan dia.
“Oke” jawabku singkat kala itu.

Meskipun mendadak, aku tahu ini adalah kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang kebudayaan yang akan aku tampilkan di festival nanti. Keputusan ini sedikit mengubah alur perjalanan kami, karena anggota perwakilan yang berangkat didominasi dengan anak perempuan, hanya Kak Wira lah yang mewakilkan anggota laki-laki di tim keberangkatan kami ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini. Namun tanpa menunggu lama lagi, kami langsung melanjutkan persiapan keberangkatan.

Taman Mini Indonesia Indah: Menyelami Kekayaan Budaya Papua
Begitu tiba di TMII, perasaan antusiasme dan sedikit cemas menyatu dalam hatiku. Aku yang baru pertama kali benar-benar menyelami kebudayaan Papua ini, merasa semangat untuk menggali lebih dalam. Tujuan utama kami adalah mengunjungi Anjungan Papua, tempat di mana berbagai aspek kebudayaan Papua dipamerkan.

Berjalan mengelilingi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang begitu luas membuat kami cukup kelelahan, terlebih saat itu juga kami sempat terpisah dengan salah satu anggota kelompok yang tersesat cukup jauh. Namun setelah berkeliling cukup lama, dan dengan bantuan peta yang tersedia di beberapa papan yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), akhirnya aku dan teman-teman perwakilan kelompok Papua berhasil tiba di Anjungan Papua.

Di sana, kami langsung disambut dengan patung khas suku Papua dan rumah adat khas Papua yang megah, berdiri kokoh sebagai simbol kehidupan dan tradisi masyarakat Papua.

Aku mulai berbicara dengan penjaga anjungan yang ternyata adalah orang asli dari Papua. Tanpa ragu, aku bertanya tentang segala hal yang ingin kutahu. Mulai dari Lagu tradisional seperti Lagu Yamko Rambe Yamko dan Tari Sajojo, yang ternyata memiliki filosofi dan sejarah yang sangat mendalam.

“Kalian tahu nggak sih?, Lagu Sajojo itu berawal dari kata ‘Sajojo’ yang berasal dari suku Biak. Sejak dulu, Lagu ini biasa digunakan sebagai simbol kegembiraan dan semangat” jelas Bu Vera sebagai kepala petugas anjungan.

Aku sangat terkesan dengan penjelasan itu, karena tak hanya sekedar lagu, namun setiap baitnya memiliki makna yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Papua. Selain itu, kami juga belajar tentang rumah adat yang sangat kental dengan nilai kekeluargaan dan adat istiadat dari berbagai suku.

Rumah adat Papua tidak hanya sekedar tempat tinggal, namun ternyata, beberapa juga berfungsi sebagai tempat pertemuan dan perayaan ritual adat yang penting bagi masyarakat sekitar. Bahkan bentuknya pun berbeda-beda dari setiap sukunya.

Mengenal Makanan Khas dan Aksesori yang Menjadi Identitas Papua
Tidak lengkap rasanya jika hanya berfokus pada tarian, lagu dan rumah adat tanpa mengenal bagian kuliner dan aksesori yang menjadi ciri khas budaya Papua.

Penjaga anjungan dengan ramah menjelaskan tentang makanan khas Papua, salah satunya adalah papeda, makanan yang terbuat dari sagu. Makanan ini punya tekstur kenyal yang unik, dan biasanya disantap dengan ikan kuah kuning yang segar. Rasanya sangat berbeda dari makanan yang sering aku makan sehari-hari, namun tetap lezat dan menggugah selera.

Satu hal yang juga tak kalah menarik adalah aksesori yang digunakan oleh masyarakat Papua. Dari kalung manik-manik, tato, hingga hiasan kepala, semua aksesori itu punya arti yang dalam. Setiap suku di Papua memiliki ciri khasnya masing-masing dalam hal aksesori, yang menggambarkan status sosial, peran, dan bahkan usia seseorang. Menurut penjaga anjungan, aksesori-aksesori ini bukan hanya simbol, tetapi juga cara untuk mempertahankan identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Mengenal Budaya Daerah Lain di TMII
Setelah dibekali dengan banyak informasi mendalam terkait kebudayaan yang akan kami tampilkan pada festival budaya nusantara ke-15 kala itu, serta banyak dokumentasi yang kami ambil, kami memutuskan untuk berpamitan kepada Bu Vera selaku kepala petugas Anjungan Papua. Selain itu, agenda pertemuan yang harus dilaksanakan Bu Vera juga menjadi alasan kami untuk menyudahi runtutan pertanyaan yang kami ajukan seputar Budaya Papua.

Kami memutuskan untuk menjumpai teman-teman kelompok budaya lainnya, sekaligus mencari makan siang untuk mengisi perut kami yang sudah protes sejak tadi. Namun sebelum mencari makan, aku dan teman-temanku memiliki ide untuk pergi mencari makan siang di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini dengan mengendarai sepeda tandem atau sepeda gandeng.

Akhirnya kami menyewa sepeda tersebut dan berkeliling Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dengan gembira. Pengalaman ini sungguh menyenangkan, aku dan teman-temanku sangat menikmati kesempatan itu dengan baik. Bahkan tidak hanya sekali dua kali kami tertawa sambil terus mengayuh sepeda.

Selain bersenang-senang dengan bersepeda, aku dan teman-temanku tak lupa juga untuk mengunjungi anjungan-anjungan lainnya. Setiap anjungan menawarkan pengalaman yang sangat berbeda. Dari pakaian adat Sumatera, hingga kesenian Bali yang memukau, semuanya memberi aku wawasan lebih tentang betapa beragamnya budaya yang ada di Indonesia.

Tentu saja, perjalanan ini tidak lengkap tanpa mencoba kuliner khas daerah lain. Setelah berkeliling sambil memikirkan makanan yang akan kami santap siang itu, aku dan teman-temanku memutuskan untuk mencoba Mie Aceh, yang memang sudah membuat aku penasaran sejak lama. Ternyata rasanya cukup pedas dan kaya akan rempah, Mie Aceh benar-benar langsung mencuri perhatian lidahku ketika sampai di Anjungan Sumatera.
Begitu kaya dengan rasa, setiap suapan terasa seperti petualangan rasa yang baru.

Tanpa disadari, aku jadi ketagihan dengan hidangan yang satu ini. Terlebih, Mie Aceh ini dihidangkan dengan berbagai topping pilihan, bisa disandingkan dengan potongan bakso dan sosis, atau potongan cumi dan udang segar seperti yang aku coba. Semua bisa disesuaikan dengan selera kita.

Pembelajaran yang Tak Terlupakan
Perjalanan ke Taman Mini Indonesia Indah ini bukan hanya sekedar mengunjungi tempat wisata, tetapi lebih dari itu, ini adalah perjalanan untuk memahami budaya Indonesia yang kaya dan beragam.

Setiap anjungan yang kami kunjungi memberikan wawasan baru, mulai dari Papua hingga Aceh, setiap daerah memiliki keunikan dan keindahan yang luar biasa.

Bagi aku, perjalanan ini mengajarkan banyak hal. Saat itu juga aku sempat berfikir, bahwa ‘Bukan hanya tentang kebudayaan Papua yang akan aku tampilkan di festival budaya nanti, tetapi juga tentang bagaimana kita sebagai generasi muda harus menjaga dan menghargai warisan budaya Indonesia’.

Meskipun perjalanan ini dimulai dengan sebuah perubahan mendadak, namun justru di situlah aku mendapatkan pengalaman berharga yang tidak akan terlupakan.

Ratu Prameswari

Kasus Agus Buntung: Keadilan bagi Korban dan Perlindungan Hak Penyandang Disabilitas

0

Oleh Ratu Prameswari

Kasus pelecehan seksual yang melibatkan I Wayan Agus Suartama (IWAS), atau lebih dikenal sebagai Agus Buntung, telah menjadi perbincangan luas di masyarakat. Agus, yang merupakan penyandang disabilitas, diduga melakukan pelecehan terhadap 15 korban, termasuk anak di bawah umur.

Fakta-fakta yang terungkap dalam kasus ini memicu perdebatan mengenai bagaimana sistem hukum harus menangani pelaku kejahatan yang memiliki kondisi khusus seperti Agus. Menurut laporan yang beredar, Agus menggunakan ancaman psikologis dan manipulasi untuk melakukan aksinya.

Bukti berupa rekaman video dan suara semakin memperkuat dugaan tersebut. Agus Buntung akhirnya ditetapkan sebagai tersangka setelah adanya laporan dari seorang mahasiswi yang mengaku sebagai salah satu korbannya tersebut.

Kasus ini menimbulkan dilema hukum yang cukup kompleks. Di satu sisi, keadilan bagi para korban harus ditegakkan tanpa kompromi. Namun, di sisi lain, status Agus sebagai penyandang disabilitas menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana sistem hukum memperlakukannya secara adil.

Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, individu dengan disabilitas memiliki hak untuk mendapatkan perlakuan khusus dalam sistem peradilan. Namun, apakah ini berarti pelaku seharusnya mendapatkan keringanan hukum?

Menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), penegakan hukum dalam kasus ini harus mengacu pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).

“Hak penyandang disabilitas memang harus diperhatikan, tetapi dalam kasus kekerasan seksual, keadilan bagi korban harus menjadi prioritas utama,” ujar Komisioner Komnas Perempuan dalam sebuah pernyataan.

Pemeriksaan terhadap Agus sebagai tersangka berlanjut hingga pada sidang yang digelar baru-baru ini. Jaksa penuntut umum akhirnya mendakwa Agus dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara dan denda sebesar Rp300 juta, sesuai dengan Pasal 6A dan atau Pasal 6C juncto Pasal 15 huruf E Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).

Selama proses hukum berlangsung, Agus sempat mengajukan permohonan untuk menjadi tahanan rumah dengan alasan kondisi disabilitasnya. Namun, majelis hakim Pengadilan Negeri Mataram menolak permintaan tersebut, dan Agus tetap ditahan di Lapas Kelas II A Lombok Barat.

Dampak sosial dari kasus ini juga tidak bisa diabaikan. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa proses hukum terhadap Agus Buntung masih berlangsung, dengan agenda persidangan yang terus berlanjut.

Kasus ini menjadi sorotan publik karena melibatkan pelaku dengan disabilitas, sehingga menimbulkan perdebatan mengenai penegakan hukum yang adil dan perlindungan hak-hak penyandang disabilitas.

Muncul kekhawatiran bahwa kasus ini dapat memperburuk stigma terhadap penyandang disabilitas, yang selama ini masih sering mendapat diskriminasi di berbagai aspek kehidupan. Di sisi lain, ada juga kekhawatiran bahwa kasus ini bisa digunakan untuk meringankan tanggung jawab hukum pelaku dengan alasan disabilitas, yang tentu akan menjadi preseden buruk dalam kasus kejahatan seksual.

Solusi terbaik adalah pendekatan yang seimbang. Penegak hukum harus memastikan bahwa tersangka mendapatkan hak-haknya sebagai penyandang disabilitas, tetapi tanpa mengabaikan hak-hak korban. Selain itu, sistem hukum juga perlu lebih responsif dalam menangani kasus kekerasan seksual, terutama yang melibatkan kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan.

Pada akhirnya, kasus Agus Buntung bukan hanya tentang seorang pelaku dan para korbannya, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dan sistem hukum kita merespons kejahatan seksual dengan tetap menjunjung tinggi keadilan dan hak asasi manusia.***

Penulis adalah Mahasiswi Sekolah Vokasi IPB jurusan Komunikasi Digital dan Media.

Peran Media Sosial sebagai Media Massa di Kalangan Mahasiswa

0

Bogordaily.net – Media sosial telah berkembang pesat menjadi salah satu alat komunikasi utama di kalangan masyarakat, termasuk di kalangan mahasiswa. Media Sosial (medsos) adalah media yang mendukung interaksi sosial manusia yang berbasis daring.

Melalui medsos, batas-batas teritorial tidak lagi menjadi kendala besar dalam berinteraksi. Medsos secara kualitatif berbeda dengan komunikasi daring dua arah, misalnya chat atau SMS.

Komunikasi yang awalnya hanya dapat dilakukan antar dua orang, lalu menjadi interaksi yang interaktif dengan melibatkan banyak orang, misalnya melalui facebook, whatsapp, instagram, youtube, line, dan sebagainya.

Dengan tingginya jumlah pengguna internet, maka diasumsikan bahwa pola perilaku berkomunikasi juga turut berubah. Sebagaimana dalam proses komunikasi, seorang pengguna tidak hanya berperan sebagai konsumen media namun dapat menjadi produsen informasi.

Dan kini, seiring berkembang pesatnya teknologi untuk berkomunikasi tersebut, penggunanya pun bukan hanya dapat menerima informasi terkini, namun juga dapat menjadi penyebar informasi tersebut.

Kietzmann, dkk (2011) menyatakan fungsi medsos sebagai sebuah platform atau aplikasi yang bersifat sosial memiliki setidaknya tujuh fungsi yakni sebagai media identitas, media percakapan, media berbagi, media eksistensi, media hubungan sosial, media berkelompok, dan media reputasi.

Sebagai media massa, media sosial memiliki kekuatan untuk mempengaruhi opini publik, termasuk di kalangan mahasiswa yang merupakan salah satu kelompok masyarakat yang dinamis dan kritis.

Artikel ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana mahasiswa memanfaatkan media sosial untuk mencari informasi, berinteraksi dengan sesama mahasiswa, serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan.

Media Sosial sebagai Sarana Informasi

Pada bulan April 2007, Pew Research Center for the People and the Press merilis hasil penelitiannya mengenai pengetahuan masyarakat Amerika terhadap national public affairs.

Sebagian besar hasil temuan para peneliti tersebut sepertinya logis- mereka yang terididik lebih mengetahui public affairs dibanding mereka yang kurang berpendidikan; mereka yang memiliki pendapatan yang lebih tinggi lebih banyak memperoleh informasi dari mereka yang berpendapatan rendah; para pemilih terdaftar lebih banyak tahu dari mereka yang tidak terdaftar; mereka yang senang “mengikuti perkembangan berita” punya pengetahuan lebih banyak dari mereka yang tidak; mereka yang memiliki berbagai sumber informasi lebih banyak membperoleh informasi.

Salah satu pemanfaatan utama media sosial oleh mahasiswa adalah untuk memperoleh informasi, baik itu terkait dengan berita terkini, perkembangan akademik, maupun informasi mengenai kegiatan kampus.

Mahasiswa cenderung lebih memilih media sosial daripada media tradisional untuk memperoleh informasi karena akses yang cepat dan interaktif. Platform seperti Twitter, Instagram, dan Facebook sering digunakan oleh mahasiswa untuk mengikuti akun-akun yang menyajikan informasi pendidikan, politik, budaya, dan hiburan. Dengan akses yang cepat dan mudah, mahasiswa dapat memperbarui pengetahuan mereka secara real-time.

Media sosial juga berfungsi sebagai sarana untuk berinteraksi dengan teman, dosen, dan sesama mahasiswa. Banyak mahasiswa yang menggunakan grup WhatsApp, Line, atau platform lainnya untuk berdiskusi dan memenuhi tugas kuliah, berbagi sumber referensi, atau bahkan membahas topik-topik yang lebih luas seperti organisasi maupun kegiatan yang masih terkait dengan bidang studi mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga sebagai alat yang mendukung perolehan informasi dengan lebih mudah, serta mendukung aktivitas akademik yang tentunya sangat membantu dan bermanfaat banyak bagi mahasiswa.

Sebagai contoh, salah satu media sosial yang mendukung aktivitas akademik yang dapat sangat membantu mahasiswa adalah platform YouTube.

YouTube menjadi pilihan yang tepat bagi pelajar karena youtube bisa digunakan sebagai tempat bagi tenaga pengajar seperti guru atau dosen mengupload video materi pelajaran diyoutube sehingga memudahkan pelajar untuk mempelajari materi yang disampaikan.

Dan pelajar juga bisa mempelajari materi dengan mencari video sesuai materi pelajarannya yang diupload oleh orang lain di youtube (Silvia Septhiani 2022).

Media Sosial sebagai Sarana Berpartisipasi

Dapat diakui bahwa kini media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Platform seperti Instagram, Twitter/X, TikTok, dan YouTube digunakan tidak hanya untuk bersosialisasi tetapi juga untuk mendapatkan informasi dan berita terkini.

Dengan fitur yang memungkinkan setiap individu untuk menjadi penyebar informasi, media sosial telah mengubah paradigma media massa yang sebelumnya terpusat pada institusi media tradisional.

Selain sebagai sarana informasi dan akademik, media sosial juga berfungsi sebagai platform yang memungkinkan mahasiswa untuk terlibat dalam diskusi isu-isu terkini.
Dikutip dari sebuah artikel oleh Arlina dan Rahma Do Subuh yang melakukan penelitian terhadap mahasiswa di Universitas Khairun bahwa media sosial telah memberikan pengaruh yang berkaitan dengan psikologi sosial yakni tentang harapan dari sebuah hubungan sosial dan peningkatan minat mahasiswa terhadap aktivitas ekonomi dari tayangan konten atau iklan.

Di kalangan mahasiswa, media sosial tidak hanya digunakan untuk menyuarakan opini pribadi, tetapi juga untuk memperjuangkan hak-hak sosial, seperti hak pendidikan, kebebasan berbicara, dan keadilan sosial.

Dalam banyak kasus, isu-isu seperti kebijakan pendidikan, hak asasi manusia, dan permasalahan sosial lainnya mendapat perhatian besar melalui kampanye di platform media sosial. Gerakan-gerakan mahasiswa pro-demokrasi di berbagai negara banyak didorong oleh aktivisme di media sosial, di mana mahasiswa dan pemuda menjadi aktor utama dalam memperjuangkan nilai-nilai tersebut.

Mahasiswa dikenal sebagai kelompok yang aktif dalam berbagai isu, baik isu perekonomian, sosial maupun politik Media sosial memberikan platform bagi mereka untuk berpartisipasi dalam diskusi dan beropini mengenai isu terkini yang terjadi, baik dalam lingkup kampus maupun lebih luas.

Diskusi ini sering kali mendorong mereka untuk lebih kritis terhadap informasi yang diterima. Mahasiswa juga biasa menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi mengenai aksi atau gerakan tertentu, mengkampanyekan isu-isu penting, serta untuk membentuk opini publik terkait dengan berbagai permasalahan mulai dari permasalahan sosial hingga politik.

Dengan jangkauan yang luas dan kemampuan untuk menarik perhatian publik, media sosial telah mengubah cara mahasiswa berpartisipasi dalam diskursus publik.

Mereka tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga sebagai penghasil dan penyebar opini publik. Namun, peran media sosial dalam pembentukan opini publik bukan tanpa tantangan. Dalam hal ini, kemampuan mahasiswa untuk menyaring dan mengevaluasi informasi menjadi sangat penting.

Media Sosial sebagai Salah Satu Tantangan
Meskipun media sosial menawarkan berbagai manfaat dalam penggunaannya, mahasiswa juga menghadapi sejumlah tantangan yang tidak dapat diabaikan. Salah satu masalah utama adalah penyebaran informasi yang tidak akurat atau hoaks.

Karena sifatnya yang sangat cepat dan mudah untuk dibagikan, informasi yang salah dapat dengan mudah tersebar luas di platform seperti Twitter, Facebook, dan WhatsApp.

Hoaks ini seringkali mempengaruhi opini publik, termasuk di kalangan mahasiswa, yang juga sering kali tidak memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.
Masalah lainnya adalah rendahnya tingkat literasi media di kalangan sebagian mahasiswa.

Meskipun banyak mahasiswa yang aktif di media sosial, tidak semua dari mereka memiliki kemampuan untuk secara kritis menilai dan menganalisis informasi yang mereka terima. Tanpa kemampuan literasi media yang memadai, mahasiswa berisiko jatuh ke dalam perangkap berita palsu atau menjadi korban informasi yang menyesatkan.

Oleh karena itu, pendidikan literasi digital menjadi hal yang sangat penting untuk mengatasi masalah ini, di mana mahasiswa diajarkan untuk memverifikasi informasi sebelum membagikannya, serta memahami cara kerja algoritma media sosial yang dapat memperkuat bias informasi.

Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan juga berpotensi mengganggu fokus dan produktivitas mahasiswa. Ketergantungan pada media sosial untuk hiburan, interaksi sosial, atau sekadar scrolling feed dapat mengurangi waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar atau melakukan kegiatan akademik lainnya.

Hal ini sering disebut sebagai “media sosial adiksi” yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental mahasiswa. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan tingkat kecemasan, depresi, dan stres, terutama jika mahasiswa merasa tertekan untuk selalu terhubung atau mendapatkan pengakuan sosial melalui likes dan komentar.***

Ratu Prameswari

KH. Dr. Rachmat Soji, Lc. M.A: Mendidik dengan Ilmu, Membimbing dengan Iman

0

Bogordaily.net – KH. Dr. Rachmat Soji Lc. M.A lahir pada 1984 di Sukabumi Selatan dari keluarga pedagang. Beliau merupakan anak kesembilan dari sepuluh bersaudara. Lingkungan keluarganya sangat religius, terutama sang ayah yang memiliki kedekatan dengan para kyai dan ulama. Hal ini membuat beliau terbiasa mengikuti berbagai kegiatan keagamaan sejak kecil, seperti pengajian hingga ke pendirian sekolah. Dari sinilah, muncul ketertarikannya untuk mendalami ilmu agama dan belajar di pesantren.

Pendidikan formalnya dimulai di Madrasah Ibtidaiyah. Sejak usia dini, beliau sudah memiliki tekad kuat untuk melanjutkan studi di pesantren. Bahkan sebelum wisuda dari sekolah dasarnya, dengan semangat dan antusiasme beliau langsung berangkat ke sebuah pesantren di Kecamatan Kalibunder, Sukabumi Selatan. Setelah satu tahun menimba ilmu disana, beliau pindah ke Pesantren Al-Aman, pesantren yang lebih besar, mengikuti jejak kakaknya yang sudah lebih dulu belajar di sana. Di pesantren inilah Rachmat Soji,  menimba ilmu selama tiga hingga empat tahun sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa kader ulama dari MUI. Beasiswa ini membiayai pendidikannya dari tingkat SMA hingga persiapan studi ke Timur Tengah.

Pada tahun 2004, Rachmat Soji berangkat ke Mesir melalui jalur beasiswa untuk melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar, Kairo, mengambil jurusan Aqidah dan Filsafat. Beliau menyelesaikan pendidikan S1 pada tahun 2008, lalu melanjutkan S2 sebelum akhirnya kembali ke tanah air pada tahun 2014. Begitu kembali ke Indonesia, beliau langsung diminta untuk mengelola sebuah pesantren di sukabumi yaitu Pesantren Bina Insan Madani dan juga melanjutkan pendidikan S3 di Universitas Ibn Khaldun, Bogor.

Perjalanan pendidikannya tidak selalu mudah, terutama dari segi biaya. Kondisi ekonomi keluarga yang menurun sempat menjadi tantangan, tetapi dengan keyakinan dan usaha, ia merasakan kemudahan yang diberikan oleh Allah swt. Selain tantangan ekonomi, ia juga sempat mengalami hal-hal umum dalam pergaulan remaja, namun tidak ada hambatan yang benar-benar berat dalam hidupnya. Sebaliknya, ia merasa banyak kemudahan yang ia syukuri sebagai anugerah dari Allah swt.

Dalam perjalanannya menuntut ilmu, Rachmat Soji, banyak terinspirasi oleh para gurunya. Salah satu gurunya di pesantren mengajarkan tentang kesederhanaan dalam hidup. Meskipun memiliki kemampuan finansial, gurunya hanya memiliki tiga pakaian dan selalu berusaha mandiri, bahkan menolak pemberian mobil untuk keperluan pribadi. Prinsip hidup yang sederhana ini memberikan pengaruh besar bagi dirinya untuk tidak hidup serakah dalam nikmat duniawi yang bersifat sementara. Selain itu, ada juga sosok guru yang kini menjadi kakeknya setelah beliau menikah dengan cucunya. Sang kakek selalu mengajarkannya tentang pentingnya memiliki keinginan dalam hidup dan bahwa hidup harus diisi dengan kesibukan yang bermanfaat. Keteladanan lainnya juga beliau dapatkan dari para gurunya di Mesir, yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menunjukkan kasih sayang dan penghormatan kepada murid-muridnya, seolah menjadi orang tua bagi mereka.

Sebelum benar-benar terjun dalam dunia pendidikan, Rachmat Soji, sempat menjalankan bisnis dan bisa dikatakan berhasil meraih kesuksesan. Namun, beliau menyadari bahwa kebahagiaan sejatinya bukan terletak pada harta, melainkan pada ilmu, membaca, dan mengajar. Beliau juga merasa bahwa dengan semakin banyaknya harta, justru semakin berat pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah swt. Karena itu, beliau memutuskan untuk lebih fokus pada dunia pendidikan. Pengalamannya mengajar dimulai sejak tahun kedua kuliah di Mesir, dan ketika kembali ke Indonesia, beliau bergabung menjadi dosen di IPB untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar di bidang agama.

Dalam dunia pendidikan, tantangan terbesar yang ia hadapi datang dari murid dan wali murid. Tidak semua wali murid dapat memahami dan mendukung kebijakan pesantren, terutama dalam hal mengajarkan kesederhanaan hidup kepada santri. Menurut Rachmat Soji, pendidikan bukan lah sekadar proses transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter, yang memerlukan kerja sama antara pihak pesantren dan orang tua.

Selain itu, menghadapi mahasiswa dengan latar belakang pemahaman agama yang beragam juga menjadi tantangan tersendiri. Karena itulah, beliau selalu membuka sesi tanya jawab dalam setiap pertemuan agar terjadi diskusi yang lebih terbuka. Beliau menyadari bahwa pemahaman agama seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya, sehingga tidak bisa dipukul sama rata. Selain itu, beliau juga selalu mendoakan murid-muridnya, menyadari bahwa terkadang ada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya, sehingga hanya bisa diserahkan kepada Allah swt. Pendekatan rasional juga menjadi metode yang beliau terapkan dalam mengajar, karena beliau memahami bahwa mahasiswa berada dalam fase berpikir kritis dan membutuhkan pendekatan yang lebih logis.

Dari sekian banyak pengalaman mengajar, mengajar di IPB menjadi salah satu yang paling berkesan baginya. Perbedaan latar belakang pemahaman agama di kalangan mahasiswa menjadikannya sebuah tantangan dalam menyampaikan materi. Beliau merasa bahwa mengajarkan ilmu agama kepada mahasiswa adalah sebuah amanah yang harus dijalankannya dengan penuh tanggung jawab. Menurutnya, jika pendidikan agama di lingkungan kampus berjalan dengan baik, maka proses pembelajaran secara keseluruhan pun akan lebih lancar. Iman manusia selalu naik turun, sehingga harus selalu diperbarui agar tidak melemah.

Di era digital yang semakin berkembang, Rachmat Soji, menyadari pentingnya bagi para pengkaji agama untuk terus memperdalam ilmunya. Perubahan zaman membuat audiens memiliki karakteristik dan pemahaman yang berbeda-beda, sehingga pendekatan dakwah juga harus disesuaikan. Islam memiliki metode tersendiri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, sehingga pemahaman yang mendalam sangat diperlukan agar tidak salah dalam mengambil langkah dakwah.

Rachmat Soji,  memiliki harapan besar bagi generasi muda agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam. Beliau mengingatkan bahwa banyak kejayaan di masa lalu yang diraih setelah manusia memahami Islam dengan baik. Tanpa agama, kekayaan hanya akan melahirkan kesombongan, kekuatan akan menjadi alat penindasan, dan kemiskinan akan membawa penderitaan. Sebaliknya, jika kehidupan didasari oleh agama, maka kekayaan akan melahirkan sifat dermawan, kekuatan akan digunakan untuk melindungi, dan kemiskinan tetap akan menjaga kehormatan.

Dalam menjalani kehidupan, prinsip yang selalu dipegang teguh oleh beliau adalah berusaha semaksimal mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah swt. Dan dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan ibadahnya, beliau selalu mendahulukan yang lebih utama, yaitu menjalankan kewajiban sebelum melakukan hal-hal sunnah. Jika ada bentrokan antara tanggung jawab yang satu dengan yang lain, ia memilih untuk mendiskusikannya agar dapat mengambil keputusan terbaik.

Motivasi terbesarnya sebagai dosen adalah kesadaran bahwa tanpa adanya guru yang mengajarkan agama, generasi mendatang tidak akan memahami agama dengan baik. Beliau merasa bahwa ilmu yang dititipkan oleh Allah swt. kepadanya harus diajarkan dan diamalkan kepada orang lain. Karena itu, selama masih mampu, dirinya akan terus menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Untuk tetap istiqomah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, Rachmat Soji, selalu berpegang teguh pada prinsipnya dan rutin berkonsultasi dengan orang tua, kyai, serta keluarganya. Beliau percaya bahwa musyawarah adalah bagian penting dalam menemukan solusi terbaik dalam kehidupan.

Sebagai pesan kepada mahasiswa, KH. Dr. Rachmat Soji Lc. M.A menegaskan bahwa semua ilmu memiliki manfaat, tetapi ilmu agama adalah yang paling panjang manfaatnya hingga akhir hayat. Akan ada satu titik dalam kehidupan seseorang di mana ilmu dunia yang dimilikinya sudah tidak lagi digunakan, kecuali ilmu agama. Oleh karena itu, beliau berharap para mahasiswa tidak pernah berhenti belajar dan terus memperdalam pemahaman agama mereka agar tetap menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.

Prameswari mahasiswi                                                                                          Sekolah Vokasi IPB jurusan Komunikasi Digital dan Media

 

“Kampung Ramadhan” Nuansa Sajian Nusantara di Swiss-Belcourt Bogor

0

Bogordaily.net – Bulan suci Ramadhan adalah waktu untuk berkumpul dan berbagi kebahagiaan bersama teman dan keluarga. Dalam semangat ini, Hotel Swiss-Belcourt Bogor menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang istimewa dengan tema ”Kampung Ramadhan”.

Menghadirkan all you can eat iftar buffet dengan kekayaan kuliner khas Nusantara, live cooking stall dan masakan khas Timur Tengah.

Untuk variasi masakan khas Nusantara, Swiss-Belcourt Bogor menyediakan menu Nasi Goreng Kampung Ramadhan, Bakmie Goreng Djawa, Bakmie Godog Djawa, Ikan Lada Garam, Ikan Asam Manis, Ayam Bakar Solo, Ayam Goreng Lengkuas dan lainnya.

Sedangkan untuk Middle East Corner akan disajikan menu-menu khas seperti Chicken Kebab, Chicken Kofta, Chicken Shish Taouk, dan Umali.

Untuk sajian Takjil itu sendiri, setiap harinya selalu disediakan Kurma, Aneka Gorengan, Bakso, Mie Ayam dan hidangan lainnya untuk memanjakan para pengunjung di saat waktu berbuka puasa.

”All You Can Eat Iftar Buffet” ini ditawarkan dengan harga Rp 159,000,- per orang untuk periode tanggal 3-14 Maret 2025 dan Rp 199,000,- per orang untuk periode tanggal 15-30 Maret 2025 dan berlaku juga promo Beli 10 Gratis 1.

Semua informasi terkini terkait promosi Swiss-Belcourt Bogor dapat Anda lihat di website swiss-belhotel.com atau Anda dapat menghubungi kami langsung melalui WhatsApp reservasi di nomor +62 811 8902 558.

Tentang Swiss-Belhotel International

Swiss-Belhotel International saat ini beroperasi di 20 negara, mengelola portofolio lebih dari 150* hotel, resor, dan proyek yang terletak di Australia, Selandia Baru, Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Thailand, Kamboja, China, Hong Kong, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, Irak, Mesir, Kenya dan Tanzania.

Grup ini menyediakan layanan pengembangan dan manajemen yang komprehensif dan sangat profesional dalam semua aspek hotel, resor, dan tempat tinggal berlayanan.

Kantor-kantor Swiss-Belhotel International terletak strategis di Hong Kong, Selandia Baru, Australia, China, Indonesia, Uni Emirat Arab,Filipina, Vietnam, Malaysia dan Thailand yang mencakup wilayah Oceania, Asia, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan India.***

Neng Lutfia: Mendapatkan Kepercayaan Dirinya di Dunia Pendidikan

Bogordaily.net – Menjadi asisten dosen di kampus bukanlah hal yang direncanakan oleh Neng Lutfia sebelumnya. Mahasiswi angkatan 58 ini memulai perjalanan akademiknya di jurusan IPA, saat ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas 5 Kota Sukabumi, sebelum akhirnya ia melanjutkan studi di Sekolah Vokasi IPB University dengan Program Studi Komunikasi Digital dan Media.

Kini, di semester delapan ini, ia sedang disibukkan dengan penyusunan skripsi untuk kelulusannya. Sebelum lulus dari perguruan tinggi, ia ingin mencoba beberapa tantangan baru sambil mencari pengalaman berharga, yang dapat meningkatkan kemampuannya dan memperkaya CV-nya.

Lutfia memutuskan untuk menjadi asisten dosen di tempatnya mengenyam pendidikan. Melalui peran ganda tersebut, kini ia tidak hanya berstatus sebagai mahasiswi, tetapi juga menjalani tanggung jawab sebagai asisten dosen di lingkungan akademiknya.

Alasan Lutfia memilih profesi tersebut dikarenakan ia ingin mengisi luang sambil menyelesaikan skripsinya. Namun, pengalaman berharga ini justru membantunya dalam menambahkan wawasan mengenai perkembangan dunia digital serta memberinya kesempatan untuk belajar hal-hal baru yang tidak didapatkan di semester sebelumnya dan meningkatkan kemampuan yang belum ia kuasai terutama kemampuan dalam berbicara depan umum.

Meskipun Lutfia berada di jurusan Komunikasi, tetapi ia tidak dapat menguasai kemampuan dalam berbicara di depan umum, dikarenakan Lutfia memiliki sifat pemalu atau introvert. Hal ini menjadi tantangan terbesar Lutfia yang harus dihadapi saat menjadi asisten dosen.

Tantangan Asisten Dosen Baru
Hari pertama saat ia mengajar menjadi asisten dosen, hal ini menjadi ujian mental tersendiri baginya. Ia mengakui masih malu berbicara di depan para mahasiswa dan perlu bantuan asisten dosen lainnya yang sudah senior dalam mengajar.

Namun, seiring waktu berjalan ia mulai terbiasa. Dengan melihat cara asisten dosen senior dan dosen dalam menyampaikan materi dan berinteraksi dengan para mahasiswa, sehingga ia belajar dari pengalaman mereka dan bisa membangun kepercayaan diri.

“Dulu saya jarang sekali, untuk tampil di depan orang banyak. Namun, setelah saya mencoba akhirnya saya bisa walaupun terkadang masih gugup dan gemetar” tutur neng Lutfia.

Meskipun masih merasa gugup, kini ia lebih percaya diri untuk menyampaikan materi atau tugas di depan mahasiswa. Walaupun Lutfia baru memasuki bulan ketiga menjadi asisten dosen, tetapi ia sudah mengajar beberapa mata kuliah termasuk Destirmanisasi, Festival Budaya, Teknologi Sosial Preneur, dan berpikir Kreatif Angkatan 61 Program Studi Komunikasi Digital dan Media.

Meskipun begitu, tantangan akan terus ada. Menghadapi mahasiswa yang kesulitan dalam memahami materi yang sudah disampaikan dengan dosen menjadi salah satu hal yang harus dihadapi.

Menurutnya, seorang asisten dosen harus benar-benar memahami isi materi yang disampaikan dosen agar dapat membantu mahasiswa dengan baik. Namun jika terdapat pertanyaan yang sulit dari mahasiswa, ia tidak ragu untuk berdiskusi dengan dosen langsung.

Karena baginya, asisten dosen berperan sebagai jembatan antara mahasiswa dan dosen. Terkadang ada mahasiswa yang takut untuk bertanya langsung ke dosen, sehingga mahasiswa bertanya kepada asisten dosen.

Pendekatan yang Lutfia lakukan dengan mahasiswa saat ia mengajar adalah dengan cara membangun hubungan yang nyaman, tetapi harus menjaga batas profesionalisme sebagai asisten dosen.

Ia selalu bertanya kepada mahasiswa apakah ada kesulitan yang mereka dapatkan dalam memahami materi, kemudian ia akan memberikan penjelasan tambahan, mengarahkan dan memperbaiki tugas mahasiswa.

Dengan menjalin komunikasi yang baik dan sehat antara mahasiswa dan asisten dosen dapat mempermudah proses pembelajaran. Oleh karena itu, ia terus menciptakan suasana yang santai dan tidak tegang, namun tetap fokus dengan pembelajaran.

Menjadi asisten dosen selama 3 bulan ini, memberikan Lutfia pengalaman yang berharga, sekaligus membuka jalan Impian barunya. Ia jadi terinspirasi oleh dosen- dosennya dan berharap suatu hari nanti ia akan bisa mengikuti jejak mereka.

“Saya ingin menjadi dosen kelak atau mungkin menjadi Pegawai Negeri Sipil di dalam dunia Pendidikan”, ungkapannya.

Selain itu, pengalaman menjadi asisten dosen juga membantunya dalam mengenali dunia akademik secara mendalam. Ia jadi paham bagaimana cara mengajar, menyampaikan materi dan menjelaskan tugas, hingga mengelola kelas.

Ia menyadari bahwa menjadi pengajar di kelas bukan hanya sekedar berbicara di depan kelas, tetapi juga tentang bagaimana cara memimpin dan membimbing mahasiswa dengan sabar juga membantu mereka dalam menemukan Solusi atas kesulitan yang mereka hadapi dalam memahami materi.

Pesan Mahasiswa
Neng Lutfia berpesan kepada mahasiswa yang ingin menjadi asisten dosen, untuk melatih kemampuan terutama dalam berbicara di depan umum sejak dini. Karena menurutnya mental yang kuat sangat dibutuhkan dalam menjalankan peran ini.

“Jika mental kalian sudah terlatih sejak dulu, maka rasa ragu tidak akan menjadi penghalang saat mengajar nanti,” ungkapnya dengan semangat.

Selain keterampilan dalam berbicara, ia menekankan pentingnya kemampuan analisis dan berpikir kritisnya. Karena seorang asisten dosen harus dapat menguasai materi dengan baik agar bisa menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan oleh mahasiswa nanti.

Perjalanannya sebagai asisten dosen masih terbilang singkat, namun dampak yang ditimbulkan begitu besar baginya. Dari seseorang yang tidak bisa berbicara di depan umum, kini ia bisa tampil dengan percaya diri di hadapan orang banyak.

Bagi Neng Lutfia, ini bukan hanya pekerjaan sampingan, tetapi sebuah perjalanan menuju masa depan yang lebih cerah melalui dunia Pendidikan.

Pengalamannya menjadi bukti bahwa setiap tantangan yang dihadapi dapat dilalui dan menjadi kesempatan untuk berkembang. Dengan tekad, ikhtiar, latihan, dan kemauan untuk terus belajar, siapapun bisa mengatasi rasa takut dan menjadi lebih percaya diri.***

Nasya Karina Nur’aziza

RS BSH dan Benelli Bogor Riders MC Kolaborasi dalam Aksi Donasi untuk Panti Asuhan PYI Heulang

0

Bogordaily.net – Bulan suci Ramadhan menjadi momentum yang penuh berkah bagi banyak pihak untuk berbagi kebaikan.

Salah satu bentuk nyata kepedulian terhadap sesama terlihat dari aksi donasi yang dilakukan oleh RS BSH di Kota Bogor yang bekerja sama dengan komunitas motor Benelli Bogor Riders MC.

Kegiatan ini ditujukan untuk membantu anak-anak panti asuhan dan memberikan pesan solidaritas kepada masyarakat.

Pada hari Sabtu 8 maret 2025, RS BSH memberikan donasi di salah satu panti asuhan di Kota Bogor.

Acara ini melibatkan berbagai pihak, termasuk tenaga medis, perwakilan manajemen rumah sakit, serta anggota komunitas motor yang memiliki kepedulian terhadap kegiatan sosial.

Dr.Albert Abednego MM.,Fisqua.,KMK menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial mereka.

“Kami ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak panti asuhan di bulan Ramadhan ini. Selain itu, kami ingin menyampaikan pesan bahwa rumah sakit kami akan segera membuka layanan BPJS Kesehatan sebagai wujud kontribusi nyata rumah sakit dalam melayani Masyarakat kota Bogor dan sekitarnya sehingga masyarakat termasuk pengguna kendaraan bermotor, tidak perlu ragu untuk mendapatkan layanan kesehatan jika mengalami kecelakaan di jalan. ” ujarnya.

RS BSH dan Benelli Bogor Riders MC Kolaborasi dalam Aksi Donasi untuk Panti Asuhan PYI Heulang

Komunitas motor Benelli Motor Riders MC yang turut serta dalam kegiatan ini juga merasa senang dalam aksi sosial tersebut melihat anak-anak panti merasakan kebahagian bersama.

Komunitas motor yang hadir menyatakan bahwa komunitas mereka bukan hanya sekadar berkumpul untuk berkendara, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat.

“Kami ingin membangun kesadaran bahwa pengendara motor juga memiliki kepedulian sosial. Selain itu, kami ingin mengedukasi anggota komunitas agar selalu mengutamakan keselamatan di jalan dan tidak ragu untuk mendapatkan bantuan medis jika mengalami kecelakaan. Nomor kegawatdaruratan yang dapat dihubungi 08197888017 dan hotline 081770998889 untuk rekan apabila ada pertanyaan atau ingin berkolaborasi dengan RS BSH.”

Acara ini diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk pemberian bantuan berupa sembako, perlengkapan sekolah, meja belajar dan pakaian untuk anak-anak panti asuhan.

Selain itu juga uang tunai yang masih tersisa dari pembelian perlengkapan yang dibutuhkan. Kajian bersama oleh Ustadz Bayu Chandra Bahari, serta berbuka bersama.

Para penghuni panti asuhan merasa sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan. Salah satu anak panti mengatakan bahwa bantuan ini sangat berarti bagi mereka, terutama dalam menghadapi bulan Ramadhan.

“Kami sangat senang dengan bantuan yang diberikan. Semoga semua yang berbagi mendapatkan balasan kebaikan dari Allah SWT,” ujarnya dengan penuh haru.

Di penghujung acara, rumah sakit dan komunitas motor berkomitmen untuk terus melakukan kegiatan sosial serupa di masa mendatang. Kolaborasi ini tidak hanya memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan, tetapi juga memperkuat hubungan antara rumah sakit dan komunitas motor dengan masyarakat sekitar.

Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berbagi dan peduli terhadap sesama. Aksi donasi ini menjadi bukti bahwa kebersamaan dan kepedulian dapat membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

Selain itu, dengan hadirnya layanan BPJS Kesehatan di RS BSH tersebut, masyarakat, termasuk para pengguna motor, tidak perlu khawatir jika memerlukan layanan kesehatan di masa mendatang.***

Polres Bogor Gerebek Pabrik Oplos MinyaKita di Sukaraja Bogor

0

Bogordaily.net – Polres Bogor mengungkap pabrik oplos MinyaKita dalam sidak yang dilakukan di wilayah Sukaraja, Kabupaten Bogor.

Dalam operasi ini, petugas menemukan praktik ilegal berupa pengemasan ulang dan pengurangan takaran minyak goreng merek MinyaKita, yang seharusnya dijual dengan standar tertentu kepada masyarakat.

Kapolres Bogor AKBP Rio Wahyu Anggoro menjelaskan bahwa pabrik oplos MinyaKita yang terungkap ini diduga telah beroperasi cukup lama dengan modus mencampur dan mengurangi isi minyak sebelum dikemas ulang menggunakan merek dagang resmi.

Polisi pun langsung mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi untuk proses penyelidikan lebih lanjut.

Dengan terungkapnya kasus ini, pihak kepolisian menegaskan akan terus mengembangkan penyelidikan guna menemukan pihak-pihak lain yang terlibat.

Pengungkapan pabrik oplos MinyaKita ini diharapkan menjadi peringatan bagi pelaku usaha yang berusaha mencari keuntungan dengan cara curang dan merugikan masyarakat.***

Sekda Ajat Sampaikan Arahan Bupati Bogor Pada Hari Jadi Perumda Tirta Kahuripan

0

Bogordaily.net -Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika menyampaikan sejumlah arahan Bupati Bogor, Rudy Susmanto pada peringatan hari jadi ke-44, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor, di Aula Kantor Tirta Kahuripan, Cibinong, Jumat (7/3).

Salah satu arahan Bupati Bogor, Rudy Susmanto adalah Perumda Air Minum Tirta Kahuripan dapat semakin meningkatkan pelayanan air minum dengan kualitas, kuantitas dan kontinuitas sesuai dengan persyaratan serta memperhatikan keterjangkauan masyarakat, sesuai dengan misi perusahaan.

“Sesuai arahan Bupati, pada momentum hari jadi ke-44 ini, Perumda Air Minum Tirta Kahuripan harus terus meningkatkan kinerja,” ujar Ajat.

Selanjutnya, kata Ajat, teruslah berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, semakin mandiri secara keuangan, serta efisien dalam mengelola sumber daya air, dan sumber pendanaan.

“Sehingga perusahaan dapat terus mengembangkan jaringan, dan cakupan pelayanan sampai dengan tercapai 100% terlayani,” tandas Ajat.

Ajat juga menyampaikan, terimakasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga besar perumda air minum tirta kahuripan, yang telah berkomitmen dalam menyediakan air bersih untuk masyarakat.

“Hal itu dibuktikan dari evaluasi nilai kinerja tahun 2023, berdasarkan indikator dari Kementerian PUPR dengan kategori sehat, dan berada pada peringkat ke-1 di Provinsi Jawa Barat,” kata Ajat.

Ia menambahkan, tapi tentunya banyak tantangan, diantaranya pak Bupati sangat peduli bagaimana kita meningkatkan pelayanan, bagaimana mengurangi kehilangan air. Masyarakatnya Kabupaten Bogor harus menikmati air bersih.

Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Kahuripan, Tedi Kurniawan mengungkapkan, Dalam perjalanan 44 tahun di Kabupaten Bogor, Perumda Tirta Kahuripan telah berupaya untuk terus melakukan meningkatkan kinerja untuk pengembangan pelayanan dan penyediaan air minum kepada masyarakat di wilayah Kabupaten Bogor.

“Sesuai dengan visi perusahaan untuk menjadi perusahaan air minum yang terbaik dan termaju di Indonesia, Perumda Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor siap untuk mendukung program kerja Bupati dan Wakil Bupati Bogor,” ungkap Tedi.

Pada hari jadi Perumda Tirta Kahuripan tahun ini dilaksanakan penandatanganan perjanjian kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor terkait gerakan masyarakat hidup sehat dengan menggunakan air minum yang layak dan aman. Dilanjutkan santunan untuk 134 anak yatim yang berada diseluruh wilayah cabang dan instalasi.

Hadir pada acara tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Plt. Kepala Dinas Kesehatan, jajaran Direktur BUMD, dan pegawai Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor.***