Home Blog Page 998

Viral Sekolah SD yang melakukan Pungli di Parung Panjang

0

Bogordaily.net – Pungli atau lebih tepatnya pungutan liar, adalah tindakan seseorang meminta uang, atau barang yang dilakukan secara halus namun bersifat memaksa, mungkin kasus tentang pungli sudah banyak sekali dijumpai atau bahkan kita sendiri yang menjadi korban dari kasus pungli tersebut.

Tindakan ini mungkin sudah menjadi budaya atau kebiasaan yang dilakukan sebagaian masyarakat kita. Tidak kenal tempat, golongan atau bahkan kepada siapa pungli itu terjadi. Seperti kasus yang baru terjadi di SDN 02 Lumpang yang berlokasi di kabupaten Bogor, tepatnya di Parung Panjang.

Kasus ini sudah berjalan ber tahun tahun, dan dilakukan langsung oleh sebuah profesi yang bernama Guru, profesi yang mulia untuk mereka yang menjalankan nya dengan lurus dan tulus namun dinodai oleh beberapa oknum yang menggunakan atribut Guru.

Dengan dalih “SPP” Wali murid harus membayarkan sejumlah uang yang sudah ditentukan pihak sekolah. Padahal sudah jelas Pemerintah menanggung dan menjamin biaya pendidikan anak hingga memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA).

Kasus ini mungkin adalah 1 dari 100 sekolah yang terbongkar melakukan tindakan pungli kepada siswa nya, mungkin banyak orang yang diam atau bahkan tidak tau tentang ini.

Banyak dari wali murid pun membayarkan nya dengan suka rela meskipun dari latar belakang keluarga yang kurang mampu.

Namun permasalahannya bukan dari pemberiannya yang secara suka rela tapi dari kebiasaan buruk yang di lakukan oleh oknum oknum tersebut. Banyak juga wali murid yang geram ketika mengetaui kebenarannya.

lantas apa dampak bagi mereka bila telat atau bahkan tidak membayar pungli dengan dalih “SPP” itu?

Banyak dari mereka yang mereka yang merasa mendapatkan intimidasi dari beberapa guru, ketika telat menunggak berbulan-bulan.

Bahkan penahanan ijazah ketika mereka lulus dengan alasan “ belum melaksanakan kewajibannya” bayaran, yang seakan menjadi kewajiban bagi setiap murid tersebut, tanpa kejelasan dan kwitansi yang diberikan kepada wali murid.

Tanggapan atau langkah pemerintah dalam situasi ini?
Pemerintah harus mengambil peran di situasi ini, tindakan yang lantang dan tegas harus segera dilakukan agar kasus seperti ini bisa berhenti hanya sampai di Sekolah Dasar ini, atau minimal bisa mengurangi kasus semacam ini.

Sosialisasi juga harus dilakukan pemerintah kepada semua pihak yang berada di dalam ataupun luar lingkungan sekolah agar dapat berani lantang menolak

secara langsung tindakan pungli yang dilakukan oleh oknum pengajar tersebut.
Siapa yang Pro dan siapa yang Kontra di kasus ini?

Banjiran komentar netizen yang menghujani kasus ini seakan akan Pro dan menginginkan tindakan tegas dari pemerintah bagi oknum ini yang sudah menyusahkan ratusan orang.

Untuk siapa yang kontra yaitu mereka yang mungkin “sesama oknum” dengan dalih kecilnya gaji seorang guru. Diluar dari itu tindakan pungli ini tidak dapat dibenarkan karna sangat bertentangan dengan tujuan dan capaian mereka menjadi seorang pendidik (Guru)

Semoga untuk kedepannya kasus semacam ini tidak terulang kembali terkususnya pungli dari seorang guru kepada siswanya.***

Oleh Adolf Maximus Ruba Mahasiswa Komunikasi Digital Dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Dari K-Pop Hingga Menjadi Dosen: Perjalanan Akademik Tasya Camilla Hamdani

0

Bogordaily.net – Tasya Camilla Hamdani, S.I.Kom, M.Med.Kom, adalah contoh nyata bahwa kecintaan terhadap sesuatu yang sering diremehkan oleh banyak orang bisa menjadi jalan menuju kesuksesan akademik dan profesional. Perjalanannya membuktikan bahwa tidak ada minat yang terlalu sepele untuk dijadikan pijakan dalam meniti karier, termasuk dalam dunia akademik. Saat ini, ia adalah seorang dosen di Sekolah Vokasi IPB University, membuktikan bahwa passion terhadap industri kreatif, khususnya K-Pop, dapat bertransformasi menjadi bidang studi yang serius dan bermakna.

Lahir di Surabaya pada 10 Oktober 1998, Tasya tumbuh sebagai pribadi yang memiliki ketertarikan besar terhadap dunia komunikasi dan media. Sejak duduk di bangku SMA, ia sudah menunjukkan kecintaan terhadap dunia penulisan, terutama dalam konteks industri kreatif. Kegemarannya terhadap K-Pop bukan sekadar kesenangan belaka, tetapi juga menjadi inspirasi dalam berbagai karyanya.

Saat banyak orang menganggap K-Pop hanya sebagai hiburan semata, Tasya melihatnya sebagai peluang besar dalam industri komunikasi dan media pemasaran. Hal inilah yang mendorongnya untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Brawijaya, tempat ia meraih gelar Sarjana (S1) pada tahun 2020.

Perjalanannya tidak berhenti di sana. Dengan semangat dan dukungan dari orang tua yang selalu memberikan motivasi, ia melanjutkan studinya di Universitas Airlangga, mengambil program Magister di bidang Media dan Komunikasi, dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2022.

Ketertarikannya terhadap K-Pop bukan hanya sekadar hobi, tetapi juga menjadi fokus utama dalam penelitian akademiknya. Ketika banyak orang masih memandang sebelah mata industri ini, Tasya melihat adanya peluang besar untuk menganalisis dampak budaya populer terhadap strategi pemasaran digital.

Ini terlihat dalam penelitian S1-nya yang berjudul “Pengaruh BTS (Bangtan Sonyeondan) Sebagai Celebrity Endorser Brand Image E-Commerce Tokopedia.” Dalam penelitian ini, Tasya membahas bagaimana strategi pemasaran menggunakan boyband global BTS mampu memengaruhi citra merek dan perilaku konsumen di platform e-commerce.

Studi ini menunjukkan bahwa selebriti K-Pop bukan hanya sekadar idola bagi para penggemar, tetapi juga memiliki peran besar dalam industri pemasaran digital.

Ketertarikannya terhadap topik ini berlanjut dalam penelitian S2-nya dengan judul “Pengaruh Penggunaan NCT 127 Sebagai Celebrity Endorser Terhadap Minat Beli Pada E-Commerce Blibli dengan Brand Image Sebagai Variabel Intervening.”

Penelitian ini semakin memperkuat pemahamannya mengenai bagaimana industri hiburan Korea Selatan dapat menjadi alat pemasaran yang sangat efektif di era digital. Dengan pendekatan akademik yang mendalam, Tasya berhasil membuktikan bahwa K-Pop bukan sekadar tren budaya, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang nyata dalam dunia bisnis dan pemasaran.

Setelah menyelesaikan studi magisternya, Tasya memutuskan untuk mencoba peruntungan di dunia industri kreatif. Dengan latar belakang keilmuan yang kuat di bidang komunikasi dan media, ia berharap dapat berkarya di dunia yang selama ini menjadi minatnya.

Namun, setelah beberapa waktu terjun langsung ke industri tersebut, ia merasa bahwa lingkungan kerja di industri kreatif tidak sepenuhnya cocok dengan dirinya. Tasya kemudian memutuskan untuk beralih jalur dan mencoba dunia akademik sebagai tenaga pendidik.

Pada tahun 2023, ia mendaftarkan diri sebagai dosen, dan pada tahun 2024 ia resmi menjadi bagian dari Sekolah Vokasi IPB University. Keputusan ini bukanlah hal yang mudah, mengingat sejak awal ia lebih tertarik dengan dunia kreatif dibandingkan dengan dunia akademik.

Menjadi dosen bagi Tasya adalah tantangan tersendiri. Ia harus kembali beradaptasi dengan pola kerja yang berbeda dari industri kreatif. Namun, dengan semangat belajar yang tinggi, ia berusaha menyesuaikan diri dan mulai menemukan kenyamanan dalam berbagi ilmu kepada mahasiswa.

Ia menyadari bahwa menjadi seorang pengajar bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga membimbing mahasiswa untuk menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.

Sebagai dosen, Tasya ingin menunjukkan bahwa tidak ada bidang yang terlalu sepele untuk dikaji secara akademik. Ia ingin mengubah pandangan bahwa minat terhadap budaya populer, seperti K-Pop, bukanlah hal yang tidak berfaedah. Justru dari sana, seseorang bisa menemukan passion dan mengembangkannya menjadi sesuatu yang lebih besar.

Tasya percaya bahwa setiap individu memiliki hak untuk mengeksplorasi berbagai bidang sebelum akhirnya menemukan tempat yang paling sesuai untuk mereka.

Inilah yang menjadi pesan utama yang selalu ia sampaikan kepada mahasiswa-mahasiswanya. Ia ingin mereka tidak takut untuk mencoba berbagai hal baru, karena setiap pengalaman akan menjadi bekal berharga di masa depan.

Dari perjalanan akademik dan profesionalnya, Tasya Camilla,  ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda bahwa mencoba berbagai bidang adalah hal yang sangat penting.

Tidak semua orang langsung menemukan passion mereka sejak awal, dan itu adalah sesuatu yang wajar. Terkadang, seseorang harus melewati beberapa jalur berbeda sebelum menemukan apa yang benar-benar cocok untuk mereka.

Ia juga ingin menekankan bahwa tidak ada hobi atau minat yang sia-sia jika ditekuni dengan sungguh-sungguh. Dunia akademik sendiri semakin terbuka terhadap kajian-kajian yang dianggap tidak biasa, selama pendekatan yang digunakan tetap ilmiah dan memiliki manfaat bagi masyarakat luas.

Perjalanan Tasya Camilla Hamdani dari seorang penggemar K-Pop menjadi dosen di IPB University adalah bukti bahwa passion dan akademik bisa berjalan beriringan.

Dengan keberaniannya dalam mengangkat topik yang masih dianggap remeh oleh sebagian orang, ia berhasil menunjukkan bahwa industri hiburan Korea Selatan bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga memiliki nilai ilmiah yang dapat dikaji lebih dalam.

Melalui ketekunan, kerja keras, dan keberaniannya untuk mencoba hal baru, Tasya membuktikan bahwa seseorang bisa sukses dalam bidang apa pun yang mereka tekuni, termasuk dalam dunia akademik.

Kini, sebagai dosen, ia terus menginspirasi mahasiswa untuk tidak takut mengeksplorasi berbagai bidang dan menjadikan passion mereka sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik.***

Raja Agung Sulaiman

Sumber : Tasya Camilla Hamdani, S.I.Kom, M.Med.Kom

Dari Mahasiswa ke Mentor: Perjalanan Saskia Putri Maudian di Komunikasi Digital

0

Bogordaily.net – Saskia Putri Maudian, A.Md., tidak pernah membayangkan bahwa IPB University kampus yang dulu terasa asing dan terlalu kaku baginya akan menjadi ruang tempat ia kembali berdiri, bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai asisten dosen. Perjalanan ini bukan hasil dari rencana yang rapi, melainkan serangkaian keputusan penuh risiko, perjuangan akademik, dan momentum-momentum kecil yang mengubah arah hidupnya.

Dulu, IPB bahkan tidak masuk dalam daftar kampus impiannya. Saskia lebih tertarik pada dunia jurnalistik dan komunikasi yang dinamis, jauh dari kesan kampus pertanian yang ia bayangkan. Namun, hidup seringkali membawanya ke tempat yang tak terduga.

Titik Balik dari Radar Bogor
Saat SMA di Labschool Kornita IPB, Saskia merasa jenuh dengan lingkungan kampus yang monoton. Fokusnya lebih banyak ke organisasi dan kegiatan luar kelas hingga nilai anjlok: peringkat 20 dari 25. Keterpurukan itu justru membawanya ke komunitas Rebel Journalist di Radar Bogor. Dari satu liputan tentang mahasiswa Komunikasi Universitas Padjajaran, ia merasa menemukan dunia yang ingin ia masuki.

Dengan nekat, ia pindah jurusan dari IPA ke IPS tanpa persetujuan orang tua, keluar dari OSIS, dan menaruh seluruh energinya untuk belajar dan ikut pelatihan. Hasilnya? Ia naik ke peringkat 2. Saat pemilihan kampus, meski target utamanya Unpad, strategi guru BK justru mengantarnya ke IPB. Tanpa ekspektasi, Saskia diterima di jurusan Komunikasi Digital dan Media sebagai satu-satunya siswa IPS yang lolos jalur USMI.

Belajar Mengenal Manusia
Awalnya, ia belum sepenuhnya menerima IPB. Tapi sistem pengenalan kampus yang humanis membukakan matanya. Di kelas pertama, mereka diminta mengobrol dengan teman yang baru dikenal lalu mendeskripsikannya. Kegiatan itu sederhana tapi membekas. Ia belajar melihat manusia lebih dalam dari sekadar penampilan.

“Dari situ saya mulai suka komunikasi, bukan cuma sebagai ilmu, tapi sebagai cara hidup,” ujarnya. Ia menyadari bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga memahami manusia dengan segala kompleksitasnya.

Belajar dari Konflik dan Lapangan
Di bangku kuliah, tantangan utamanya datang dari kerja kelompok. Latar belakang budaya, gaya kerja, hingga ritme berpikir yang berbeda kerap jadi konflik. Sebagai pribadi yang cepat, Saskia kesulitan dengan teman yang lambat. Tapi dari situ ia belajar bahwa kecepatan bukan segalanya, dan kadang proses perlahan justru melahirkan hasil yang lebih matang.

Mata kuliah paling membekas baginya adalah TPME (Teknik Penulisan Media Elektronik). Satu semester penuh dihabiskan meliput demo, persidangan, hingga menginap di depan kantor KPK demi berita. “Kami belajar dari lapangan: jadi jurnalis, jadi editor, sampai jadi anchor. Nggak ada yang lebih real dari itu.”

Kembali sebagai Asisten Dosen
Setelah lulus, ia sempat bekerja di perusahaan, namun kembali ke IPB sebagai asisten dosen karena dua hal: rindunya pada dunia akademik dan kondisi sang ibu yang sakit. Ia mengirimkan CV ke dosen yang paling ia hormati, Guruh Ramdani, S.Sn., M.Sn., dan kembali ke kampus sebagai pengajar muda.

Di mata kuliah Desain Promosi, Saskia menjadi satu-satunya asisten untuk seluruh kelas angkatan 59. “Anak-anak ini ribut, tapi brilian. Saya kasih satu ide, mereka kembangkan jadi lima. Itu yang bikin saya bertahan,” ucapnya. Ia menyebut pengalaman ini sebagai salah satu yang paling emosional dan membanggakan dalam hidupnya.

Etika dan Literasi Digital
Saskia Putri,  memandang Pak Guruh lebih dari sekadar dosen. “Beliau guru dengan nurani. Saya pernah digaji lebih besar, tapi nggak bisa ninggalin posisi saya sekarang. Karena di sini saya belajar empati, bukan cuma teori.” Baginya, pendidikan bukan cuma soal kurikulum, tapi relasi antara dosen dan mahasiswa yang dibangun dengan ketulusan.

Di tengah cepatnya arus media digital, Saskia Putri, melihat banyak celah etis. Influencer mereview produk tanpa mencobanya, hoaks menyebar tanpa verifikasi. Dunia komunikasi digital, menurutnya, perlu keseimbangan antara kecepatan dan kualitas. Ia menekankan pentingnya literasi digital, terutama di kalangan mahasiswa. “AI itu alat bantu, bukan pengganti otak. Kalau semua dikerjakan AI, kapan manusianya mikir?”

Filosofi Hidup dan Gaya Kerja
Saskia hidup dengan dua filosofi: “Belajar sepanjang hayat” dan “Jujur serta adil meski dibenci.” Ia tak peduli dianggap keras atau terlalu lurus. Baginya, integritas lebih penting dari citra. Dalam rutinitas, ia disiplin menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ia selalu mencatat tugasnya, menyelesaikannya di kampus, dan menyisihkan waktu untuk menyendiri baik di mushola, pojokan, atau bahkan kamar mandi hanya untuk menenangkan pikiran.

“Ketenangan jiwa itu nomor satu. Saya nggak mau bawa kerjaan ke rumah.”

Misi yang Tak Selesai
Kini, ia sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi. Mimpi berikutnya: menjadi dosen. Bukan demi gelar, tapi untuk terus berkontribusi di jalur pendidikan. Ia ingin jadi bagian dari ekosistem yang sehat di dunia akademik membantu mahasiswa berkembang tanpa kehilangan arah.

“Jalan saya nggak gampang, tapi layak dicoba. Pendidikan itu ladang nilai, bukan sekadar ruang kelas. Dan sejauh apapun saya melangkah, satu hal tetap sama: hormat pada guru, karena ilmu bukan sesuatu yang bisa dibayar. Bahkan oleh hidup itu sendiri.”

Refleksi dan Harapan
Saskia sering merenung tentang perjalanannya. Dari seorang mahasiswa yang awalnya enggan dengan IPB, kini ia justru menemukan rumah di kampus yang sama. Ia berharap, suatu saat nanti, mahasiswanya akan merasakan hal serupa bahwa belajar bukan hanya tentang nilai, tetapi tentang menemukan diri dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Saya mungkin bukan orang terpintar, tapi saya ingin jadi yang paling gigih,” ujarnya dengan senyum.

Perjalanan Saskia Putri Maudian adalah bukti bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, tetapi setiap langkah baik yang direncanakan maupun tidak bisa membawa kita ke tempat yang tepat. Kini, sebagai asisten dosen, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga terus belajar. Dan di situlah esensi sebenarnya dari seorang pendidik: tumbuh bersama, memberi tanpa pamrih, dan selalu siap menghadapi tantangan baru.***

Faris Faid Anwar

Menak Aryananda Sudradjat: Perjalanan Seorang Akademisi, Wirausahawan, dan Pemimpin Visioner

0

Bogordaily.net – Menak Aryananda Sudradjat, S.Sn., M.Si., adalah seorang akademisi, wirausahawan, dan pemimpin yang dikenal dengan keberanian, integritas, serta semangat pantang menyerahnya. Dengan latar belakang seni dan manajemen ekowisata, ia telah menapaki perjalanan hidup yang penuh dinamika, baik di dunia akademik maupun bisnis. Keberhasilannya saat ini tidak terlepas dari prinsip hidup yang ia pegang teguh: jujur, bertanggung jawab, dan berani mengambil keputusan.

Dari Seni Fotografi ke Manajemen Ekowisata
Perjalanan akademik Menak Aryananda Sudradjat dimulai di Universitas Trisakti, tempat ia meraih gelar Sarjana Seni (S.Sn.) dalam bidang Seni Rupa Fotografi pada tahun 2007. Minatnya terhadap fotografi bukan hanya sebatas hobi, tetapi juga menjadi bagian dari cara ia melihat dunia dengan perspektif yang kreatif dan mendalam.

Namun, hidup selalu menawarkan kejutan dan peluang baru. Setelah menyelesaikan pendidikan S1, ia tidak hanya berkutat di bidang seni, tetapi juga mulai mengeksplorasi berbagai usaha yang berkaitan dengan minat dan potensi pasar.

Seiring berjalannya waktu, kecintaannya terhadap alam dan dunia bisnis membawanya ke ranah ekowisata.

Menyadari pentingnya ilmu dalam mengelola bisnis berbasis lingkungan, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Pascasarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB), mengambil program Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan.

Pada tahun 2017, ia berhasil meraih gelar Magister Sains (M.Si.), memperkuat fondasi akademik dan praktisnya di bidang ini.

Terjun ke Dunia Akademik: Dari Pengusaha ke Dosen
Keputusan untuk menjadi dosen di IPB bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Awalnya, ia fokus mengembangkan usaha ekowisata yang telah ia bangun.

Namun, suatu hari, seorang teman yang sudah lebih dulu mengajar di IPB mengajaknya untuk berbagi ilmu dan pengalaman di dunia akademik.

Tawaran ini menjadi titik balik dalam perjalanan kariernya. Menak menerima tantangan tersebut dan menemukan panggilan baru dalam hidupnya: mendidik dan menginspirasi generasi muda.

Sebagai dosen, ia tidak hanya mengajar teori, tetapi juga berbagi pengalaman nyata dalam dunia bisnis dan ekowisata. Baginya, pendidikan bukan hanya tentang memahami konsep di atas kertas, tetapi juga tentang bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Ia ingin para mahasiswanya tidak hanya menjadi akademisi, tetapi juga inovator dan pelaku usaha yang bisa membawa perubahan positif bagi masyarakat dan lingkungan.

Jiwa Wirausaha yang Tak Pernah Padam
Sejak muda, Menak Aryananda Sudradjat selalu memiliki naluri bisnis yang kuat. Dunia wirausaha adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Berbagai bidang usaha pernah ia geluti, membuktikan fleksibilitas dan kegigihannya dalam menghadapi tantangan.

Ia pernah mengembangkan bisnis jasa fotografi, yang berawal dari latar belakang pendidikannya. Selain itu, ia juga mencoba peruntungan dalam jual beli kucing impor, sebuah bidang usaha yang unik dan menantang.

Tak hanya itu, ia juga aktif dalam perdagangan helm dan sparepart kendaraan, bisnis makanan, hingga menjadi kontraktor proyek. Bahkan, ia pernah berkecimpung di dunia sales, di mana ia belajar banyak tentang strategi pemasaran dan negosiasi.

Baginya, setiap usaha yang ia jalani bukan hanya tentang keuntungan, tetapi juga tentang pembelajaran.

Kegagalan dan keberhasilan adalah bagian dari proses yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Ia selalu percaya bahwa peluang ada di mana-mana bagi mereka yang berani mencoba dan tidak takut mengambil risiko.

Prinsip Hidup: Kejujuran, Tanggung Jawab, dan Keberanian
Dalam setiap langkah yang ia ambil, Menak selalu menjunjung tinggi prinsip kejujuran dan tanggung jawab. Baginya, kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian materi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjaga integritasnya.

Sebagai seorang pemimpin, ia selalu berani mengambil keputusan, meskipun dalam situasi yang sulit. Keberanian inilah yang membawanya melewati berbagai tantangan, baik dalam dunia akademik maupun bisnis.

Ia percaya bahwa seorang pemimpin harus bisa mengambil risiko dengan perhitungan yang matang dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang dibuat.

Motivasi terbesar dalam hidupnya datang dari kedua orang tuanya, yang selalu mengajarkan pentingnya kerja keras dan ketekunan. Mereka adalah sumber inspirasi yang mendorongnya untuk terus berkembang dan tidak cepat puas dengan apa yang telah dicapai.

Pesan untuk Para Pembaca: Jangan Pernah Menyerah
Bagi siapa pun yang sedang berjuang mencapai impian, Menak Aryananda Sudradjat memiliki satu pesan penting: jangan pernah menyerah. Setiap orang memiliki jalannya masing-masing, dan setiap tantangan yang muncul adalah bagian dari perjalanan menuju kesuksesan.

Kegagalan bukanlah akhir, melainkan pelajaran berharga yang akan menguatkan kita di masa depan. Dengan semangat, kerja keras, dan ketekunan, tidak ada impian yang terlalu besar untuk diwujudkan.***

Muhammad Zaki Mubarok

Indonesia Gelap: Ketika Mahasiswa Menyalakan Alarm Demokrasi

0

Bogordaily.net – Dalam kurun waktu beberapa minggu terakhir, berbagai platform media sosial di Indonesia dipenuhi oleh gelombang tagar #IndonesiaGelap yang menjadi simbol kuat dari perlawanan mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah yang dipandang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat kecil.

Gerakan ini tidak semata-mata terbatas pada dunia maya, melainkan juga terejawantahkan dalam bentuk aksi-aksi demonstrasi secara langsung di berbagai kota besar di seluruh Indonesia, menandakan bahwa kesadaran kritis generasi muda terhadap arah dan isi kebijakan negara semakin meningkat dan tidak dapat diabaikan begitu saja.

Gerakan yang kini menjadi perhatian publik ini berakar dari kebijakan yang sangat kontroversial yang dikeluarkan oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan memberikan makanan gratis di sekolah, namun ironisnya dibiayai dengan memotong anggaran negara dalam jumlah yang sangat signifikan, yakni sebesar Rp306,69 triliun dari APBN 2025.

Dampak dari pemotongan anggaran tersebut terasa langsung pada sektor-sektor vital yang sangat memengaruhi kehidupan rakyat sehari-hari, seperti bidang pendidikan, layanan kesehatan, serta subsidi energi.

Tak heran jika tagar #IndonesiaGelap menjadi ruang pelampiasan dan wadah ekspresi kekecewaan, bahkan kemarahan publik yang merasa hak-haknya terancam dan tidak mendapat perhatian layak dari pemerintah.

Namun demikian, gerakan ini tidak hanya bertumpu pada isu pemangkasan anggaran saja, melainkan juga turut menyoroti isu yang jauh lebih serius, yakni revisi terhadap Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dinilai berpotensi mengaburkan batas antara ranah militer dan sipil.

Salah satu poin krusial yang dipermasalahkan adalah adanya ketentuan yang memungkinkan prajurit aktif menduduki jabatan sipil di kementerian atau lembaga negara, yang memunculkan kekhawatiran akan potensi kembalinya praktik dwifungsi ABRI yang pernah mendominasi era Orde Baru dan menjadi ancaman serius bagi sistem demokrasi yang selama ini dijaga dengan susah payah.

Dalam hal ini, kalangan akademisi dan mahasiswa secara tegas menyatakan bahwa prinsip demokrasi dan supremasi sipil harus dijaga agar tidak tergerus oleh kekuasaan yang cenderung otoriter.

Fenomena gerakan #IndonesiaGelap sejatinya menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia, sebagaimana dalam sejarah panjang perjalanan bangsa ini, masih tetap memainkan peran sentral sebagai agen perubahan sosial dan penjaga moral bangsa.

Melalui pemanfaatan media sosial sebagai alat mobilisasi massa yang efektif, mahasiswa mampu menggalang dukungan lintas generasi dan menyuarakan aspirasi rakyat dengan cara yang cepat, masif, dan terorganisir.

Akan tetapi, perjuangan ini tidaklah mudah, karena mereka juga harus siap menghadapi berbagai bentuk tantangan seperti upaya represi, pembungkaman kritik, serta stigmatisasi yang datang dari pihak-pihak yang merasa terusik oleh gerakan mereka.

Sudah seharusnya pemerintah tidak menanggapi gerakan ini secara reaktif dan represif, tetapi menjadikannya sebagai cermin reflektif untuk mengevaluasi kebijakan serta pola komunikasi publik yang selama ini digunakan.

Dialog yang terbuka, jujur, dan inklusif antara pemerintah dan kelompok masyarakat sipil, terutama generasi muda, harus diprioritaskan agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kebutuhan rakyat secara keseluruhan.

Partisipasi aktif publik dan ruang kritik yang sehat adalah pilar utama dalam membangun demokrasi yang kokoh dan berkeadilan.

Sebagai penutup, gerakan #IndonesiaGelap hadir sebagai pengingat penting bagi seluruh elemen bangsa bahwa demokrasi sejatinya bukanlah sebuah tujuan akhir yang statis, melainkan merupakan proses dinamis yang terus berkembang melalui keterlibatan aktif warga negara.

Mahasiswa, dengan idealismenya yang tinggi dan keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran, telah membunyikan lonceng peringatan bahwa ada ketimpangan yang harus segera diperbaiki.

Kini, saatnya bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk membuka telinga dan hati, agar Indonesia benar-benar berjalan menuju masa depan yang lebih terang, adil, dan demokratis.***

Muhammad Zaki Mubarok
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media,Sekolah Vokasi IPB

Propaganda Dikemas Pemimpin Korea Utara Melalui “Friendly Father”

0

Bogordaily.net – Sebuah lagu viral TikTok dengan alunan yang easy listening dan alunan synth-electro menarik perhatian Gen Z dengan anggapan musiknya mirip dengan soundtrack “Ultraman”. “Friendly Father.” Katanya. Lagu ini membawa banyak sekali kontroversi yang menimbulkan keresahan warga Korea Utara.

Perhatian tertuju kepada bagaimana diksi yang dipilih dalam lagu ini terkesan membawa sebuah paham yang ditanamkan secara tidak organik. “Ayo nyanyikan Kim Jong-un, pemimpin hebat/mari kita banggakan Kim Jong-un, ayah kita yang ramah,” Seperti itu bunyinya. Pemimpin Hebat citra yang dibentuk Kim Jong-un sebagai seorang pemimpin. Apakah ini diterima dengan baik oleh warga Korea Utara?

Setiap Liriknya Akan Teringat
Lagu ini dikemas dengan konsep yang ceria, mudah diingat dan menggunakan notasi yang sederhana. Kesederhanaan dalam konteks ini mengacu kepada bagaimana sebuah propaganda dapat tersalurkan secara konstan.

Perlakuan khusus untuk lagu ini terkesan berlebihan. Seluruh telinga di Korea Utara dipaksa mendengarkan “Friendly Father” setiap hari, lagu ini akan diputar di tempat-tempat umum seperti sekolah, taman, kantor, dan sebagainya.

Salah satu kasus, adalah ketika ada sebagian orang yang memaksa untuk menari setiap mendengar lagu “Friendly Father” sebagai bentuk penghormatan serta pujian untuk Kim Jong-Un. Hal ini dinilai sangat mengganggu, bukan hanya perihal kuantitas lagu ini diputar.

Budaya Konfusianisme Korea
Krisis kebudayaan Korea akibat lagu ini adalah mulai mengikisnya kebudayaan ”Konfusianisme”. Budaya ini menekankan hubungan yang dinamis serta etika yang ditanamkan mengenai sikap yang diambil ketika perhadapan dengan orang yang lebih tua. Budaya ini menjunjung rasa hormat dan menghargai sesama.

Namun, warga berusia 70-80 an terpaksa memanggil Kim Jong-Un yang berusia 40 tahun sebagai “Ayah yang ramah” sebuah kalimat yang tertera di dalam “Friendly Father.” Dorongan pemerintah terhadap propaganda ini jauh lebih agresif dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya, dimana “Friendly Father” terinspirasi oleh lagu propaganda sebelumnya yang berjudul “Friendly Name” yang memuji ayah Kim Jong-Un dan pendahulunya, Kim Jong Il.

Selain masalah kebudayaan, setelah lagu ini di rilis, banyak kebijakan serta sikap yang terkesan terlalu kebetulan. Kim Jong-Un semakin agresif terkait pembangunan militer yang dilakukan rezimnya ditandai dengan dihancurkannya sebuah bangunan besar, melambangkan harapan untuk reunifikasi dengan Korea Selatan. Kehadiran lagu ini dinilai sebagai sebuah pesan politik untuk menandai momen-momen penting.

Sikap beragam pun muncul dari masyarakat, mayoritas sangat menentang isi dari lagu tersebut. “Friendly Father”, kontra yang ada karena anggapan bahwasannya Kim Jong-Un bukanlah sebuah sosok yang dapat dipercaya bahkan tidak adanya harapan kepada pemimpinnya melainkan hanya sebuah pembiasaan terhadap citranya yang ramah melalui lagu tersebut. Pengaruh lagu ini sangat besar terhadap pola perilaku masyarakat yang seharusnya mendapat perhatian khusus.

Keterlibatan besar pemerintah dalam hal ini dapat ditangani dengan prinsip yang kuat serta pemahaman terhadap unsur kebudayaan serta etika yang sudah seharusnya dipertahankan. Regulasi terkait lagu inipun tidak tertulis secara hukum, lagu ini hanyalah bentuk dari sebuah penghormatan.

Sebagai warga negara yang diharuskan menjalankan kebijakan pemerintah, disamping itu ada hak sebagai warga negara untuk memilih apa yang ingin atau tidak ingin dilakukan. Perihal keberadaan lagu ini, hanya perlu diketahui dan dikaji isi serta tujuan dari lagu tersebut.

“Sikap Kecil, Dapat Mengenali Aktor yang Kerdil.”***

 

Oleh: Syifa Aulia Andara-Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

 

 

Menjelajah Bandung: Dari Jalanan Braga ke Sejuknya Kawah Putih

0

Bogordailt.net – Perjalanan menuju Bandung selalu punya cerita. Kota yang hanya berjarak beberapa jam dari Bogor ini menawarkan banyak pengalaman—dari riuhnya jalanan malam Braga hingga ketenangan kabut yang turun di pegunungan yang terdapat Kawah Putih.

Namun, tidak semua perjalanan berjalan sesuai rencana. Cuaca menjadi tantangan, waktu terasa begitu cepat berlalu, dan di beberapa momen, hanya menikmati suasana adalah pilihan terbaik.

Perjalanan ini bukan hanya tentang destinasi, tapi juga tentang bagaimana setiap momen yang tak terduga memberi warna tersendiri. Dari hujan yang menghambat perjalanan hingga terburu-buru mengejar waktu di Sunan Ibu, Bandung selalu punya cara untuk meninggalkan kenangan.

Hari Pertama: Hujan dan Malam di Braga

Pukul 13.00, kami memulai perjalanan dari Bogor dengan motor. Angin siang terasa hangat saat kami melaju di jalanan yang cukup ramai. Namun, perjalanan ini tidak semulus yang dibayangkan. Hujan turun di tengah jalan, memaksa kami menepi dan berteduh beberapa kali. Jas hujan dikeluarkan, tetapi tetap saja, rintik hujan yang mengenai helm menciptakan titik-titik kecil di kaca, membuat pandangan sedikit terbatas.

Saat akhirnya tiba di Bandung pukul 20.00, udara terasa lebih sejuk, khas kota ini di malam hari. Tak ingin kehilangan momen, pukul 21.00 kami langsung menuju Braga Citywalk. Jalanan penuh dengan lampu-lampu yang memantulkan cahaya di trotoar basah. Bangunan klasik di sepanjang Braga tetap mempertahankan pesonanya, mengundang siapa saja untuk berhenti sejenak dan menikmati suasana.

Kami mengabadikan momen di beberapa sudut Braga, lalu mencicipi beberapa jajanan khas yang dijajakan di sekitar area tersebut. Braga selalu hidup, bahkan di hari biasa. Riuh rendah suara pengunjung bercampur dengan denting musik dari kafe-kafe di sepanjang jalan. Waktu berlalu tanpa terasa, dan pukul 00.00 kami kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Hari Kedua: Hujan, Kabut, dan Wayang Windu

Siang itu, pukul 12.00, kami bersiap menuju Wayang Windu, salah satu tempat wisata yang sedang viral. Namun, cuaca kembali tak bersahabat. Hujan turun di tengah perjalanan, memaksa kami untuk berhenti dan menunggu reda.

Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan dan tiba di Wayang Windu pukul 17.15. Langit sudah mulai berubah warna, dan kabut turun dengan cepat. Kami segera mengambil beberapa foto sebelum gelap sepenuhnya. Kabut yang semakin tebal menciptakan suasana yang dramatis, seolah kami berada di dunia lain—hening, dingin, dan penuh misteri.

Saat azan magrib berkumandang, kami tahu saatnya untuk turun dan kembali ke penginapan. Perjalanan pulang ditempuh dalam suasana malam yang sejuk, dan pukul 20.28 kami akhirnya tiba kembali di tempat menginap.

Hari Ketiga: Kawah Putih dan Sunan Ibu

Ini adalah hari terakhir. Pukul 12.00, kami meninggalkan penginapan dan langsung menuju Kawah Putih. Perjalanan kesana memakan waktu tiga jam, cukup lama, tapi begitu tiba, keindahannya segera menghapus lelah perjalanan.

Kawah ini tampak luar biasa dengan airnya yang berwarna putih kehijauan, dikelilingi pohon-pohon kering yang memberikan kesan magis. Udara dingin menusuk, tetapi justru itu yang membuat tempat ini semakin terasa istimewa. Kami menghabiskan waktu menikmati pemandangan, tak menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 16.00.

Karena terlalu lama di Kawah Putih, waktu untuk mengunjungi Sunan Ibu sangat terbatas. Kami hanya memiliki 15 menit untuk naik dan turun. Meski terasa terburu-buru, kami tetap menikmati momen terakhir di Bandung ini sebelum akhirnya bersiap untuk pulang.

Pukul 18.00, perjalanan kembali ke Bogor dimulai. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan kota ini, kami mampir ke Braga pukul 20.25 untuk membeli titipan tiramisu. Perjalanan berakhir saat kami tiba kembali di Bogor pukul 00.35, membawa pulang kenangan dari tiga hari yang penuh warna di Bandung.

Tak semua perjalanan berjalan sesuai rencana. Cuaca yang tak menentu, waktu yang terasa terbatas, dan rintangan kecil di sepanjang perjalanan justru membuat pengalaman ini lebih berkesan. Bandung selalu menyambut dengan kehangatan dan keindahannya, dari malam di Braga hingga dinginnya kabut di Wayang Windu.

Perjalanan ini mengingatkan bahwa tak selalu harus terburu-buru untuk mengejar destinasi. Kadang, berhenti sejenak untuk menikmati momen juga adalah bagian penting dari pengalaman yang menyenangkan.***

Muhammad Raihan Ath Thaariq, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media IPB University

 

Mengapa Harga BBM Mahal? Tata Kelola Pertamina dan Pengawasannya Dipertanyakan

0

Bogordaily.net – Beberapa pekan terakhir, masyarakat kembali dihadapkan pada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan ini menambah beban hidup, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah yang bergantung pada transportasi publik dan kendaraan pribadi untuk mobilitas sehari-hari.

Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, kenaikan harga BBM sering kali dikaitkan dengan faktor eksternal, seperti fluktuasi harga minyak dunia, biaya impor, dan nilai tukar rupiah. Namun, persoalan ini juga memunculkan pertanyaan lain: apakah tata kelola energi di Indonesia telah berjalan dengan baik?

Kecurigaan publik semakin menguat ketika Kejaksaan Agung mengungkap kasus dugaan korupsi dalam pengadaan minyak mentah dan produk kilang yang melibatkan Pertamina dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Dengan kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp 193,7 triliun, kasus ini menjadi salah satu skandal keuangan terbesar di sektor energi dalam beberapa tahun terakhir.

Dugaan Korupsi dan Tata Kelola Pertamina
Dalam kasus ini, sejumlah pejabat Pertamina dan pihak terkait diduga melakukan berbagai penyimpangan dalam proses pengadaan minyak. Salah satu modus yang diungkap adalah praktik blending, yaitu mencampur minyak dengan kualitas lebih rendah untuk dijual sebagai produk dengan harga lebih tinggi.

Kejaksaan Agung menyebut bahwa praktik ini tidak hanya merugikan negara, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kualitas BBM yang dikonsumsi masyarakat. Selain itu, terdapat dugaan markup dalam kontrak pengadaan minyak mentah yang menyebabkan lonjakan biaya yang tidak perlu, yang pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap kenaikan harga BBM di pasaran.

Dalam banyak kasus korupsi di sektor energi, transparansi sering kali menjadi tantangan utama. Proses pengadaan minyak dan distribusinya masih kurang terbuka bagi publik, sehingga ruang untuk penyalahgunaan tetap terbuka.

Dampak bagi Masyarakat dan Kepercayaan Publik
Ketika harga BBM naik, dampaknya tidak hanya terasa di sektor transportasi. Biaya produksi dan distribusi barang ikut meningkat, yang berujung pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Masyarakat yang sudah terbebani oleh inflasi kini harus beradaptasi dengan kenaikan biaya hidup yang semakin tinggi.

Lebih dari itu, kasus ini juga memperburuk kepercayaan publik terhadap pengelolaan sektor energi nasional. Banyak pihak mempertanyakan apakah kebijakan harga BBM benar-benar berdasarkan kondisi pasar global, atau justru dipengaruhi oleh kepentingan bisnis tertentu.

Di beberapa negara, tata kelola energi lebih transparan dengan adanya mekanisme pengawasan independen yang kuat. Indonesia seharusnya belajar dari model ini untuk memastikan bahwa kebijakan energi tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga berpihak pada kepentingan rakyat.

Reformasi Tata Kelola Energi
Kasus ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan reformasi menyeluruh dalam pengelolaan energi. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang:
1. Meningkatkan transparansi pengadaan minyak mentah dan produk kilang, dengan memberikan akses lebih luas bagi publik dan lembaga pengawas untuk meninjau kontrak dan kebijakan harga.
2. Memperkuat pengawasan internal dan eksternal di Pertamina, agar mekanisme audit dan evaluasi dapat berjalan lebih efektif.
3. Mendorong transisi energi yang lebih berkelanjutan, dengan mempercepat pengembangan sumber energi alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah.
4. Menegakkan hukum secara tegas terhadap pelaku korupsi di sektor energi, untuk memberikan efek jera dan mencegah terulangnya kasus serupa.

Dalam beberapa kasus besar, tekanan publik terbukti dapat mempercepat proses penegakan hukum dan mendorong perubahan kebijakan. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dalam mengawal kasus ini menjadi sangat penting.

Perubahan Harus Dimulai Sekarang
Kasus dugaan korupsi di Pertamina bukan hanya tentang penyimpangan keuangan, tetapi juga tentang bagaimana sumber daya energi nasional dikelola. Jika permasalahan ini tidak ditangani dengan serius, maka kepercayaan publik terhadap kebijakan energi akan semakin menurun, dan masyarakat akan terus menjadi korban dari tata kelola yang tidak transparan.

Langkah reformasi harus segera dilakukan, tidak hanya untuk menutup celah penyimpangan, tetapi juga untuk memastikan bahwa kebijakan energi yang diambil benar-benar berpihak kepada rakyat. Jika tidak, maka kenaikan harga BBM hanya akan menjadi siklus yang terus berulang, dengan rakyat yang selalu menjadi pihak yang paling dirugikan.

Indrajid
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, IPB University

 

Prof. Dr. Amiruddin Saleh: Jejak Ilmu, Dedikasi, dan Warisan Perjuangan Muhammad

0

Bogordaily.net – Prof. Dr. Amiruddin Saleh adalah sosok akademisi sekaligus praktisi komunikasi yang telah menorehkan jejak panjang dan dalam di dunia pendidikan tinggi Indonesia.

Sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi di IPB University, beliau telah menjadi mercusuar bagi para mahasiswa dan rekan sejawat yang menekuni bidang komunikasi kelompok, komunikasi pembangunan, media digital, hingga etika komunikasi dan konseling.

Amiruddin Saleh, tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai integritas, kerja keras, dan kemanusiaan dalam setiap interaksinya.

Kiprah Prof. Amiruddin tak hanya berhenti di ruang kelas. Beliau aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan institusi, dan saat ini mengemban amanah sebagai Kepala Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia (P2SDM) di bawah Lembaga Kawasan Pengembangan Edukasi (LKPE) IPB University.

Dalam kapasitas ini, beliau menjadi penggerak utama program-program pelatihan, workshop, hingga pengabdian masyarakat yang berbasis pada pendekatan Development Communication serta berorientasi pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Salah satu kekuatan utama Prof. Amiruddin terletak pada kemampuannya menjembatani dunia akademik dan praktik.

Ia dikenal sebagai figur yang memahami pentingnya komunikasi dalam proses pemberdayaan masyarakat. Dengan pendekatan komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok yang ia kembangkan, Prof.

Amiruddin berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga kontekstual dan membumi.

Ia percaya bahwa komunikasi bukan hanya alat untuk menyampaikan pesan, melainkan medium untuk membangun kesepahaman, kepercayaan, dan transformasi sosial.

Sepanjang kariernya, beliau telah membimbing mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan—mulai dari Diploma IV Komunikasi Digital dan Media Terapan, program Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktoral (S3).

Tak terhitung berapa banyak mahasiswa yang akhirnya menemukan arah hidup dan karier mereka berkat bimbingan dan keteladanan beliau. Di tengah kesibukannya, beliau juga tetap produktif menulis dan meneliti.

Berdasarkan data Google Scholar, karya ilmiah Prof. Amiruddin telah dikutip sebanyak 1.451 kali, dengan indeks-h sebesar 17 dan indeks-i10 sebesar 44.

Catatan ini tidak hanya menunjukkan luasnya pengaruh akademis beliau, tetapi juga mencerminkan kualitas dan konsistensi pemikirannya dalam bidang komunikasi.

Namun, yang membuat beliau dihormati bukan hanya prestasi akademik atau jabatan strukturalnya, melainkan kepribadiannya yang rendah hati, tegas, dan mengayomi.

Ia tidak pernah menempatkan dirinya lebih tinggi dari orang lain, bahkan ketika berhadapan dengan mahasiswa tingkat awal.

Dalam banyak kesempatan, ia sering mengatakan bahwa “ilmu yang tidak memberi manfaat adalah ilmu yang belum selesai.” Prinsip inilah yang terus ia pegang dalam menjalankan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Gaya komunikasinya yang lugas, logis, namun tetap hangat dan menyentuh menjadikan setiap pertemuan dengannya terasa bermakna.

Ia tidak berbicara untuk didengar, tapi untuk dipahami. Dalam banyak forum, beliau mendorong mahasiswa untuk berani berpikir kritis, terbuka terhadap perbedaan, dan tidak pernah lelah mencari jawaban dari pertanyaan- pertanyaan besar dalam hidup.

Ia percaya bahwa keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa tinggi nilai akademik yang diraih, tetapi sejauh mana ilmu itu bisa digunakan untuk kebaikan.

Sebagai pemimpin, Prof. Amiruddin juga dikenal sebagai sosok yang visioner namun membumi. Ia mampu memetakan tantangan zaman dan meresponsnya dengan program- program yang inovatif. Dalam pengembangan sumber daya manusia, beliau menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin, pembelajaran sepanjang hayat, dan penerapan teknologi digital yang inklusif.

Kini, sebagai salah satu tokoh utama dalam pengembangan komunikasi pembangunan di Indonesia, Prof. Amiruddin Saleh tidak hanya meninggalkan jejak dalam bentuk karya ilmiah, tetapi juga dalam bentuk nilai-nilai kehidupan: integritas, ketekunan, dan kemauan untuk memberi manfaat bagi sesama.

Beliau ingin dikenang bukan karena gelar atau statistik pencapaiannya, tetapi karena satu hal yang sederhana namun bermakna: beliau selalu berusaha menjadi manusia yang baik. Dan dalam kesederhanaan itu, terpatri kebesaran yang sejati.

Dalam dunia yang terus bergerak cepat dan penuh perubahan, kehadiran beliau mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati adalah tentang keberanian untuk peduli, keikhlasan untuk membimbing, dan ketulusan untuk memberi. Itulah yang membuat Prof. Amiruddin bukan sekadar Guru Besar, tapi juga panutan dan pembentuk zaman.***

Umar Budiman
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Dampak TikTok terhadap Psikologi Audiens di Indonesia: Ancaman FOMO dan Kesehatan Mental

0

Bogordaily.net – Riset dari Indonesia Indicator (I2) menunjukkan bahwa TikTok adalah platform media sosial dengan jumlah pengguna terbesar di Indonesia pada tahun 2024, mencapai 137 juta pengguna. Dengan total 107.998.788 unggahan dan 17.329.380.404 tanggapan, TikTok mengungguli Instagram, Facebook, dan Twitter dalam tingkat interaksi (engagement).

Namun, di balik popularitasnya, TikTok membawa dampak psikologis yang signifikan bagi penggunanya, terutama dalam bentuk Fear of Missing Out (FOMO) dan kecanduan media sosial. Dengan rata-rata waktu penggunaan mencapai 38 jam 26 menit per bulan per pengguna, banyak pengguna yang mengalami penurunan kesehatan mental, kecemasan, hingga gangguan tidur.

FOMO: Ketakutan Ketinggalan Tren dan Tekanan Sosial di TikTok
Menurut artikel Halodoc, FOMO adalah kondisi ketika seseorang merasa khawatir atau cemas karena takut melewatkan pengalaman sosial yang sedang dinikmati orang lain. Di TikTok, fenomena ini dipicu oleh:

Tren yang Berubah Cepat – Pengguna merasa harus selalu mengikuti tantangan baru, filter unik, atau gaya hidup yang viral agar tetap “eksis”.

Tekanan Sosial dan Validasi Digital – Banyak pengguna mengukur harga diri berdasarkan jumlah like, komentar, dan share, sehingga mereka terdorong untuk terus aktif.

Algoritma TikTok yang Menciptakan Siklus Konsumsi Tanpa Henti – Sistem rekomendasi TikTok membuat pengguna terus menggulir video tanpa sadar waktu.

Menurut Halodoc, dampak negatif FOMO terhadap kesehatan mental meliputi:
1. Kecemasan dan Stres – Ketakutan tertinggal tren membuat pengguna mengalami gangguan tidur dan bahkan depresi.
2. Perasaan Tidak Puas – Membandingkan diri dengan kehidupan di media sosial dapat menurunkan kepercayaan diri.
3. Gangguan Produktivitas – Pengguna sering terdistraksi oleh TikTok, mengurangi fokus di sekolah atau tempat kerja.
4. Perilaku Berisiko – FOMO bisa mendorong pengguna untuk mencoba tren berbahaya hanya demi validasi sosial.

Kecanduan TikTok dan Dampak Psikologis yang Mengkhawatirkan
Seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna TikTok di Indonesia, fenomena kecanduan media sosial juga semakin banyak terjadi.

TikTok, dengan algoritma berbasis rekomendasi, membuat penggunanya terus menerus menggulir video tanpa menyadari berapa banyak waktu yang telah dihabiskan.

Kebiasaan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental, interaksi sosial, dan kesejahteraan psikologis penggunanya.

Salah satu dampak yang paling umum terjadi adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. TikTok menghadirkan konten dari berbagai kalangan, mulai dari selebritas, influencer, hingga orang biasa yang tiba-tiba viral.

Tanpa disadari, pengguna sering merasa bahwa kehidupan orang lain terlihat lebih menarik, lebih sukses, atau lebih bahagia dibandingkan dengan kehidupan mereka sendiri.

Hal ini memicu rasa tidak puas terhadap diri sendiri, menurunkan kepercayaan diri, dan bahkan dapat menyebabkan stres serta kecemasan.

Selain itu, kecanduan TikTok juga berkontribusi terhadap kesepian sosial. Meskipun platform ini memungkinkan pengguna untuk berinteraksi secara virtual melalui komentar, likes, dan fitur live streaming, interaksi digital ini tidak dapat sepenuhnya menggantikan hubungan sosial di dunia nyata.

Banyak pengguna yang merasa memiliki banyak teman di media sosial, tetapi justru mengalami isolasi sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka mungkin menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar daripada berkomunikasi langsung dengan keluarga atau teman-teman mereka, yang pada akhirnya memperburuk rasa kesepian dan keterasingan.

Tidak hanya itu, dampak psikologis dari kecanduan TikTok juga berujung pada penurunan kesehatan mental secara keseluruhan.

Penggunaan TikTok yang berlebihan sering kali dikaitkan dengan perasaan bersalah dan penyesalan, terutama ketika pengguna menyadari bahwa mereka telah menghabiskan terlalu banyak waktu tanpa melakukan hal yang produktif.

Hal ini dapat menyebabkan stres berkepanjangan, mengganggu produktivitas, dan memperburuk kondisi mental pengguna.

Dalam jangka panjang, kecanduan media sosial semacam ini bahkan dapat berkontribusi terhadap gangguan tidur, kelelahan emosional, dan peningkatan risiko depresi.
Media Halodoc, pemaparan oleh dr. Rizal Fadli (2023) yaitu bahwa pengguna yang terlalu lama menghabiskan waktu di media sosial cenderung mengalami suasana hati yang buruk dan gangguan tidur.

Algoritma TikTok yang terus-menerus menyajikan konten menarik membuat pengguna sulit untuk berhenti, bahkan ketika mereka sudah merasa lelah.

Banyak orang yang akhirnya tidur larut malam hanya karena ingin menonton “satu video lagi,” yang kemudian berlanjut menjadi puluhan hingga ratusan video tanpa disadari.

Siklus ini menyebabkan kurangnya istirahat yang berkualitas, meningkatkan tingkat stres, serta menurunkan daya konsentrasi di keesokan harinya.

Dengan berbagai dampak negatif ini, penting bagi pengguna untuk mulai mengatur kebiasaan mereka dalam menggunakan TikTok. Kesadaran akan batasan waktu penggunaan, membatasi konsumsi konten yang memicu kecemasan, dan lebih fokus pada interaksi sosial di dunia nyata dapat membantu mengurangi dampak buruk kecanduan media sosial terhadap kesehatan mental.

Solusi untuk Mengatasi Dampak Negatif TikTok dan FOMO
1. Meningkatkan Kesadaran Digital dan Penggunaan yang Sehat
Salah satu langkah utama dalam mengurangi dampak negatif TikTok terhadap kesehatan mental adalah dengan meningkatkan kesadaran digital dan membangun kebiasaan penggunaan yang lebih sehat.

Berdasarkan laporan Indonesia Indicator (I2), rata-rata pengguna TikTok di Indonesia menghabiskan 38 jam 26 menit per bulan untuk mengonsumsi konten di platform ini.

Durasi yang panjang ini dapat berdampak negatif jika tidak dikontrol dengan baik. Oleh karena itu, pengguna perlu memanfaatkan fitur seperti “Digital Wellbeing” yang disediakan oleh TikTok untuk membatasi waktu penggunaan harian.

Dengan menerapkan batas waktu yang jelas, pengguna dapat menghindari konsumsi konten yang berlebihan dan lebih fokus pada aktivitas lain yang lebih produktif.

Selain itu, pengguna juga perlu lebih selektif dalam mengonsumsi konten agar tidak terjebak dalam konsumsi pasif yang hanya membuang waktu tanpa memberikan manfaat.

Menghindari konten yang memicu kecemasan atau membandingkan diri dengan orang lain bisa menjadi langkah awal dalam menciptakan pengalaman digital yang lebih positif.

Sebagai gantinya, memilih konten edukatif seperti keterampilan baru, pengembangan diri, dan informasi bermanfaat dapat membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Di samping itu, menyeimbangkan aktivitas online dengan kegiatan offline seperti olahraga, membaca, dan berinteraksi secara langsung dengan orang di sekitar juga menjadi cara efektif untuk mengurangi ketergantungan pada media sosial.

Studi dari We Are Social (2024) menunjukkan bahwa terlalu banyak waktu di media sosial dapat menurunkan kepuasan hidup, sehingga keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata harus menjadi prioritas utama.

2. Peran Keluarga dan Pendidikan dalam Mengurangi FOMO
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang semakin marak di era digital menjadi salah satu dampak negatif dari penggunaan media sosial, termasuk TikTok.

Banyak pengguna merasa tertinggal jika tidak mengikuti tren yang sedang viral, sehingga mereka terus-menerus memantau media sosial tanpa henti.

Untuk mengatasi hal ini, literasi digital harus diajarkan sejak dini melalui pendidikan di sekolah dan keluarga.

Keluarga dan institusi pendidikan perlu mengedukasi generasi muda tentang bagaimana media sosial dapat memengaruhi psikologi mereka.

Menurut Halodoc (2023), FOMO dapat menyebabkan kecemasan, stres, dan bahkan menurunkan kualitas hidup seseorang jika tidak dikendalikan dengan baik.

Oleh karena itu, memahami bahwa media sosial sering kali hanya menampilkan “kehidupan yang disaring” dan tidak selalu mencerminkan realitas menjadi langkah penting dalam mengatasi perasaan kurang puas terhadap kehidupan sendiri.

Selain edukasi digital, pendampingan orang tua dalam penggunaan media sosial anak juga menjadi faktor krusial dalam mencegah dampak buruk TikTok.

Orang tua perlu terlibat aktif dalam memahami bagaimana anak mereka menggunakan platform ini dan mengajarkan bahwa tidak semua yang ditampilkan di TikTok adalah gambaran akurat dari kehidupan nyata.

Misalnya, banyak konten yang dikemas secara estetis dan menarik, tetapi sebenarnya hanya menampilkan potongan kecil dari kehidupan seseorang.

Dengan adanya komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, serta bimbingan yang tepat, anak-anak dapat lebih bijak dalam menggunakan TikTok tanpa terjebak dalam tekanan sosial yang berlebihan.

3. Kebijakan dan Regulasi untuk Mengontrol Pengaruh TikTok
Selain upaya individu dan keluarga, kebijakan dan regulasi yang lebih ketat dari pemerintah dan platform media sosial itu sendiri sangat diperlukan untuk mengurangi dampak negatif TikTok.

Pemerintah dan TikTok Indonesia harus lebih aktif dalam menerapkan regulasi terkait konten yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental. Menurut laporan Indonesia Indicator (2024), TikTok bukan hanya digunakan sebagai platform hiburan, tetapi juga menjadi ruang diskusi publik yang dapat memengaruhi opini masyarakat, termasuk dalam politik dan tren sosial.

Oleh karena itu, regulasi terhadap konten viral, informasi menyesatkan, serta tren yang berpotensi membahayakan harus semakin diperketat agar pengguna, terutama generasi muda, tidak terpengaruh oleh konten negatif yang dapat merusak pola pikir mereka.

Selain regulasi, pemerintah dan platform media sosial juga perlu menjalankan kampanye kesadaran digital untuk meningkatkan literasi masyarakat dalam menggunakan media sosial secara sehat.

Kampanye ini dapat berupa edukasi mengenai dampak psikologis penggunaan TikTok secara berlebihan, pentingnya keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata, serta cara mengelola FOMO agar tidak berdampak buruk pada kesehatan mental.

Studi dari We Are Social (2024) mencatat bahwa sentimen negatif di media sosial dapat menimbulkan efek domino terhadap kesejahteraan psikologis pengguna.

Oleh karena itu, dengan adanya kebijakan yang lebih ketat dan edukasi yang lebih luas, masyarakat diharapkan dapat menggunakan TikTok dengan lebih bijak tanpa mengorbankan kesehatan mental mereka.

TikTok telah menjadi platform media sosial terpopuler di Indonesia, tetapi juga membawa dampak psikologis yang serius bagi penggunanya. Fenomena FOMO dan kecanduan TikTok semakin meningkat, menyebabkan kecemasan, gangguan tidur, dan menurunkan produktivitas pengguna.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kesadaran digital, peran keluarga dalam mendidik anak-anak, serta kebijakan yang lebih ketat dari pemerintah dan platform media sosial itu sendiri.

Masyarakat Indonesia harus mulai menggunakan TikTok secara lebih sehat, agar manfaatnya bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan mental.***

Indrajid, Mahasiswa IPB University