Amel, Balsem dan Duri dalam Daging - bogordaily.net
BOGOR CITY

Amel, Balsem dan Duri dalam Daging

Hampir seminggu lebih di telapak kaki saya tertancap noktah hitam. Seperti dititikkan dengan menggunakan spidol hitam. Noktah hitam itu adalah duri yang tertancap pada telapak kaki saya yang kapalan.

Duri tersebut tertancap sewaktu bertani di kebun. Sudah dua minggu lebih, hobby bertani tersalurkan karena liburan akhir tahun. Dan dengan nyeker alias bertelanjang kaki tanpa alas kaki.

Kebiasaan nyeker sejak kecil telah membentuk kaki saya kuat dan kapalan. Terbentuknya jaringan kulit yang tebal pada telapak kaki utamanya pada tumit. Sungguh kaki yang jauh dari seorang pria metropolis (putih, bersih dan wangi).
Nah, saat itulah sang duri nempel dan menusuk. Duri dari batang pohon sawit. Sialnya duri tersebut patah. Sehingga ada bagian yang tertinggal di telapak kaki.

Duri tersebut saya diamkan saja. Karean saya pikir akan hancur juga jadi jaringan menyatu dengan kulit. Namun, akibatnya, telapak kaki kadang sakit kadang juga tidak. Sakit tersebut memang sengaja saya lawan. Agar tubuh terlatih menahan.

Sakit tersebut akan muncul ketika nyeker dan pada titik tersebut tertekan batu kerikil. “Ditahan saja, nanti juga terbiasa…,” gumam saya dalam hati.

Seminggu lebih sudah duri bercokol. Itulah namanya duri dalam daging. Sebagai seorang advokat memilih hobby bertani adalah pilihan sadar, bukan gaya-gayaan.
Kesadaran bertani untuk menanamkan spirit menghormati proses alamiah, membentuk watak sabar, tahan uji, juga menyelami kehidupan masyarakat kebanyakan.

Bertani juga belajar jujur. Pohon yang ditanam, dirawat dan dipupuk dengan baik akan menghasilkan buah yang baik pula. Sebaliknya, yang tidak dirawat dan dipupuk tidak akan pula menghasilkan buah yang baik. Tidak ada yang instant seperti main sulap.

Bertani juga mengajarkan hidup sederhana dan secukupnya. Pernah juga saya coba-coba main golf, bahkan sudah membeli 2 set stick golf. Akan tetapi, ternyata saya tidak pernah bisa menyediakan waktu main golf.

Sebenarnya ada alasan ideologis juga yang akhirnya tidak bisa saya lawan dari dalam hati. Sehingga akhirnya 2 set stick golf itu saya hibahkan pada dua orang kawan.

Sore tadi dibantu Amel, saya menyiapkan surat-surat tanah untuk keperluan rencana kerjasama properti dan pengembangan lahan outbond dan agrowisata.

Tapi tanpa sengaja, kaki saya menapak dan menginjak kayu persis pada noktah hitam yang sudah tertancap lama di kaki. Dan terjadi lagi jaringan daging di bawah kulit tebal itu tertusuk duri.

Dengan menahan nyeri saya meringis kesakitan. Amel adalah pegawai administrasi saya yang saat ini sudah selesai kuliah D3 dan sedang melanjutkan Strata satu dibidang teknik informasi. Amel adalah anak kampung Kemang, Parakan Salak, Kabupaten Bogor.
Mungkin Amel akan menjadi satu-satunya sarjana dari keluarganya dan juga dari sekitar tempat tinggalnya.

Teman-teman sebayanya di kampung banyak yang tidak tamat SMA. Ia minta kerja ditempat saya saat ia baru selesai SMA. Amel tahu kalau bisa diterima ditempat saya, dia bisa meneruskan kuliah.

Selain itu, ia juga tahu saya akan membantu biaya dan bahkan mendorongnya untuk mencapai pendidikan lebih tinggi, sama dengan yang dialami oleh temannya Utami. Teman Amel itu sebelumnya juga bisa menyelesaikan studinya karena bekerja ditempat saya.

Amel gadis kecil, muka bulat, mata segaris apalagi kalau lagi tersenyum matanya tertutup. Mirip anak dari etnis Tionghoa. Tapi terhadap Amel, saya harus sering memberi arahan. Dan kadang kalau sudah tidak sabar, saya omelin.

Tapi Amel rupanya anak yang tahan banting. Walau diomelin, Amel tetap tegar dan bekerja terus. Teguran yang sering saya sampaikan adalah: “Amel, jangan bodoh gak kurang kurang, pinter gak nambah-nambah,”. Suatu pernyataan kekesalan saya saat dia tidak dapat memahami tugas yang sudah diberikan.

Amel yang mengetahui ada duri di telapak kaki saya menawarkan balsem. Loh, untuk apa balsem? Untuk menghilangkan sakit?

Ternyata bukan untuk menghilangkan sakit. Menurut Amel, untuk mengeluarkan duri dari telapak kaki. Suatu penjelasan yang tidak logis. Bagaimana mungkin diolesi balsem, duri bisa keluar. Apalagi yang menyampaikan Amel.

Sikap under estimate pada Amel muncul pada diri saya yang merasa lebih tahu segalanya dari bocah ABG itu.

Amel ngeloyor dan kembali membawa balsem panas untuk urut dan jarum pentul. Kata Amel: “Olesin balsem, Pak. Itu telapak kakinya nanti durinya akan keluar,” katanya.

Dengan agak ogak ogahan karena tidak percaya pada yang menyampaikan saran, maka saya olesi telapak kaki persis pada noktah hitam tersebut dengan balsem yang cukup banyak.

Tidak terasa panas sedikitpun pada telapak kaki (mungkin karena kulitnya yang sudah kapalan). Kemudian lima menit berlalu juga tidak ada tanda apapun. Panaspun tidak. Nah disaat itulah Amel bilang: “Pak, sekarang coba dikorek durinya pakai jarum,” ujarnya.

Dengan ogah-ogahan saya korek duri yang sudah masuk cukup dalam itu. Namun ajaib, ketika saya korek noktah hitam tersebut seperti bergerak naik, dan muncullah duri tersebut. Makin lama makin panjang yang keluar.

Wow, dahsyat! Duri tersebut benar-benar keluar dan dengan mudahnya saya cabut. Duri tersebut panjangnya sekitar 3 milimeter.

Amel benar balsem membantu duri keluar. Saya salah karena meremehkan Amel. Maaf ya Amel dan terima kasih atas nasehatnya.

Pelajaran berharga. Maka jangan meremehkan dan merendahkan orang lain. Orang yang lebih muda. Orang yang kau anggap lebih rendah. Orang kebanyakan, orang miskin, bahkan yang lebih muda. Maka kebenaran bisa muncul dari mulut siapapun yang dipakai Tuhan.

Selamat Tahun Baru 2017
Salam,

Sugeng Teguh Santoso, SH
(Sekjen DPN Peradi dan Ketua Umum Front Pembela Indonesia)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu