Besok Rebo Wekasan, Kisah Rabu Terakhir Bulan Safar

Menu

Mode Gelap
Hasil Piala Asia U-17, Timnas Indonesia Menang Tipis 3-2 Atas UEA Siap-siap Tampung Air, Pipa PDAM Sedang dalam Perbaikan Tidak Ditilang, Polisi Tegur Ratusan Pelanggar pada Hari Kedua Operasi Zebra Lodaya Update Terkini Perbaikan Pipa PDAM, Ini Wilayah yang Terdampak Buntut Tragedi Stadion Kanjuruhan, Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat Dicopot!

Kisah Misteri · 20 Sep 2022 10:37 WIB

Misteri di Balik Rebo Wekasan, Rabu Terakhir Bulan Safar dan Ribuan Malapetaka


 Ilustrasi malam hari. (Wallpaperbetter.com/Bogordaily.net) Perbesar

Ilustrasi malam hari. (Wallpaperbetter.com/Bogordaily.net)

Bogordaily.net–  Tahun ini Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan jatuh besok Rabu, 21 September 2022. Ritual khusus pada hari Rebo Wekasan dilakukan sebagian masyarakat  khususnya di Jawa untuk menolak bala atau musibah yang dipercaya turun di hari itu.  Berikut ulasan tentang Rebo Wekasan sebagaimana dilansir dari Suara.com.

Di kalangan masyarakat Jawa, bulan Safar kerap dihubungkan dengan mitos bulan sial, malapetaka dan banyak bencana. Pada masa Arab Jahiliyah, bulan Safar ini ternyata juga disebut bulan sial.

Shafar atau Safar satu suku kata dengan kata Shifr yang berarti kosong. Bulan ini dinamakan safar atau shifr, karena pada bulan ini bangsa Arab mengosongkan rumah mereka yang beralih ke medan perang.

Dilansir dari Jurnal Theologia IAIN Kudus, sejatinya bulan Safar tidaklah berbeda dengan bulan-bulan lainnya, hanya saja Rasulullah SAW pernah menyinggung tentang bulan Safar ini dalam haditsnya yang berbunyi:

“Tidak ada penyakit menular, tidak ada mitos, tidak ada prasangka buruk, tidak ada (keramat) bulan Safar”.

Rebo Wekasan memang telah menjadi fenomena di masyarakat karena faktor akulturasi budaya Jawa dengan Islam secara intensif. Diketahui, Islam di wilayah Jawa memiliki karakter tersendiri karena banyak prosesi ritual keagamaan yang merupakan perpaduan dari nilai-nilai Islam dengan animisme dan dinamisme.

Meskipun ada banyak kalangan yang menganggap ritual Rebo Wekasan hanya sebagai mitos, tetapi juga tidak sedikit yang masih terus melestarikannya hingga sekarang.

Rebo Wekasan Menurut Islam

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra disebutkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak ada wabah (yang menyebar secara sendirinya), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga Safar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa”.

Menurut Ibnu Utsaimin rahimahullah, kata Safar di dalam hadits tersebut memiliki makna yang bervariasi. Namun, makna yang paling kuat menurut umat Jahiliah adalah sebagai bulan kesialan, sehingga sebagian orang jika selesai melakukan pekerjaan tertentu pada hari ke-25 dari bulan Safar merasa lega, dan berkata, “Selesai sudah hari kedua puluh lima dari bulan Safar dengan baik”.

Dilansir dari laman Pondok Pesantren Tambakberas, asal-usul tradisi Rebo Wekasan bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi dalam kitab “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid. Anjuran serupa juga terdapat di dalam kitab ”Al-Jawahir Al-Khams” karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar, Hasyiyah As-Sittin, dan sebagainya.

Dalam kitab-kitab tersebut disebutkan bahwa salah seorang Waliyullah yang telah mencapai maqam kasyaf (kedudukan tinggi dan sulit dimengerti orang lain) mengatakan bahwa dalam setiap tahun pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, Allah SWT menurunkan 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam bala dalam satu malam.

Bermuhasabah sesungguhnya tidak memiliki waktu tertentu, tidak harus dilakukan pada bulan Safar atau Rabu terakhir di dalamnya. Sesungguhnya tidak ada istilah “hari sial” dalam pandangan syari’at, dan semua hari adalah sama.

Muslim juga tidak boleh berprasangka buruk (tasya’um) pada hari tertentu, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Jahiliah dahulu yang memiliki mitos bahwa bulan Safar adalah hari buruk dan sial.

Sementara itu Buya Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah juga memiliki pendapat tentang Rebo Wekasan. Menurutnya, jika amalan yang dikerjakan tidak bertentangan dengan Islam maka boleh saja dilakukan saat Rebo Wekasan. Misalnya seperti salat, dzikir, salawat dan semacamnya.

“Dari Nabi memang tidak ada, cuman kalau katanya ulama selagi tidak bertentangan dengan ajaran Nabi tidak bisa kita langsung mengatakan murni Bid’ah,” ujar Buya Yahya dalam video di kanal Youtube Al-Bahjah TV.

Memang banyak umat Islam di tanah air yang kemudian memperingati Rebo Wekasan dengan salat khusus dan berdoa. Namun penting untuk diketahui bahwa jika niat salatnya adalah khusus untuk Rebo Wekasan maka itu keliru.

Hukumnya tidak boleh karena salat seperti itu tidak terdapat dalam Syariat Islam. Akan tetapi jika niatnya adalah salat sunnah mutlaq atau sholat hajat meskipun dilakukan saat waktu rebo wekasan, maka hukumnya diperbolehkan.***

(Riyaldi)

 

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Redaktur

 
Baca Lainnya

Bikin Deg-Degan! Ini Cara Supaya Nggak Ketindihan ‘Hantu’ saat Tidur

6 Oktober 2022 - 10:08 WIB

Kisah Misteri Pocong Culi, Datangi Rumah dan Teror Warga

5 Oktober 2022 - 08:27 WIB

Heboh Kemunculan Anak Kuntilanak Tiara Kartika, Berikut Asal Usul dan Sejarahnya!

4 Oktober 2022 - 08:46 WIB

Sadikem si Cantik Penunggu Jembatan Jiwan, Gentayangan Mencari Suaminya

3 Oktober 2022 - 19:38 WIB

Sadikem Jembatan Jiwan

Kisah Horor Sopir Truk Diganggu Makhluk Halus, Kenek Sampai Kesurupan

3 Oktober 2022 - 17:23 WIB

Dianggap Sakral, Ini Mitos di Balik Keindahan Gunung Munara

1 Oktober 2022 - 15:26 WIB

Trending di Kisah Misteri