Home Blog Page 1026

Fenomena Revenge Bedtime Procrastination: Ketika Media Sosial Mencuri Waktu Tidur Kita

0

Bogordaily.net – Suara notifikasi ponsel berbunyi satu kali. Tangan otomatis meraihnya. “Lima menit saja,” pikir kita, sebelum menyadari waktu telah melompat satu jam ke depan. Tengah malam menjelang pagi, dan kita masih saja menggulir layar, berpindah dari satu video ke video lain, dari Instagram ke TikTok, lalu kembali lagi. Padahal, tubuh sudah lelah, mata sudah berat, dan esok ada tumpukan aktivitas yang menunggu. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan buruk—ia kini punya nama: Revenge Bedtime Procrastination.

Istilah Revenge Bedtime Procrastination pertama kali populer di Tiongkok dengan frasa “bàofùxìng áoyè” yang secara harfiah berarti begadang karena ingin membalas dendam. Dendam apa? Dendam terhadap rutinitas yang padat, pekerjaan yang menyita waktu, atau bahkan sekadar rasa terjebak dalam kehidupan yang terlalu cepat. Ketika siang hari tak memberi ruang untuk bersantai, malam pun dikorbankan untuk mengambil kembali waktu “kebebasan” yang hilang. Ironisnya, waktu yang diambil kembali itu justru merampas esok hari.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia menjamur bersamaan dengan naiknya penggunaan media sosial sebagai bentuk hiburan sekaligus pelarian. Media sosial menawarkan sensasi cepat, ringan, dan memikat. Video berdurasi 15 hingga 60 detik dengan musik seru dan visual menarik terasa seperti permen digital yang tak pernah habis. Fitur infinite scroll atau auto-play membuat pengguna sulit berhenti. Dalam waktu singkat, seseorang bisa menghabiskan dua hingga tiga jam hanya untuk melihat konten ringan yang sebenarnya tidak terlalu berfaedah—dan semuanya dilakukan sambil menunda tidur.

Tidak sedikit orang yang menyadari bahaya di balik kebiasaan ini, namun tetap melakukannya. Salah satu pemicunya adalah FOMO (Fear of Missing Out), atau rasa takut tertinggal dari tren dan kabar terbaru. Perasaan itu membuat kita merasa harus terus “terhubung”, bahkan saat tubuh meminta istirahat. Media sosial, dalam hal ini, menjadi medan yang kuat untuk menciptakan ilusi keterlibatan, padahal yang kita korbankan adalah kesehatan fisik dan mental.

Dampak dari Revenge Bedtime Procrastination tidak main-main. Begadang yang dilakukan secara konsisten bisa menyebabkan kelelahan kronis, penurunan konsentrasi, gangguan mood, bahkan risiko kesehatan jangka panjang seperti tekanan darah tinggi dan gangguan metabolisme. Selain itu, kurang tidur juga berpengaruh pada produktivitas, kemampuan mengambil keputusan, serta hubungan sosial di dunia nyata. Akibatnya, hari esok menjadi lebih berat, yang justru semakin memperkuat alasan untuk “balas dendam” lagi di malam berikutnya—sebuah lingkaran setan yang sulit diputus.

Secara pribadi, saya melihat bahwa Revenge Bedtime Procrastination bukan hanya masalah waktu tidur, tetapi cermin dari tekanan hidup modern. Banyak dari kita merasa hidup terlalu dikendalikan oleh kewajiban dan ekspektasi luar, hingga lupa menyisakan ruang untuk diri sendiri. Maka, waktu malam—yang seharusnya menjadi momen istirahat—diubah menjadi zona pelarian dari kenyataan. Tapi benarkah pelarian itu menyenangkan, atau hanya bentuk penundaan terhadap beban hidup yang tidak pernah selesai?

Kita tidak bisa terus membiarkan malam-malam kita dirampas oleh algoritma. Perlu ada kesadaran dan usaha untuk memperbaiki pola hidup, termasuk kebiasaan digital. Langkah-langkah kecil seperti mengatur batasan waktu layar (screen time), menyalakan mode tidur pada ponsel, atau membuat rutinitas relaksasi sebelum tidur bisa sangat membantu. Lebih dari itu, penting bagi kita untuk menyediakan me time di siang atau sore hari, agar malam tidak selalu menjadi tempat “balas dendam”.

Tidur bukanlah bentuk kemewahan yang hanya boleh dinikmati saat akhir pekan. Tidur adalah kebutuhan dasar, hak tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri. Dalam dunia yang semakin bising dan cepat, tidur adalah salah satu bentuk kasih sayang paling tulus kepada diri sendiri. Maka, mari kita jaga malam kita—bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk berdamai dengan diri sendiri.

Jangan sampai kita terus membayar mahal demi beberapa jam kesenangan semu di malam hari. Saatnya mengembalikan fungsi malam sebagai tempat beristirahat, bukan zona pelarian. Karena pada akhirnya, tidur yang cukup adalah fondasi dari hari esok yang lebih baik.***

Oleh Lintang Asya Arita Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Anis Adinda Putri, Menginspirasi Melalui Komunikasi dan Dedikasi

0

Bogordaily.net – Anis Adinda Putri, lahir di Bogor pada 16 September 2004, adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Kecintaannya terhadap dunia komunikasi dan public speaking telah membawanya ke berbagai pencapaian gemilang, termasuk menjadi Duta IPB. Selain memiliki minat yang besar dalam bidang komunikasi, ia juga pecinta kuliner, terutama ayam dan nasi goreng, serta memiliki tiga ekor kucing kesayangan.

Latar Belakang Pendidikan
Sejak di bangku sekolah, Anis telah menunjukkan keberanian dalam berbicara di depan publik sebagai pembawa acara dalam berbagai kegiatan sekolah. Kesadaran akan pentingnya komunikasi mendorongnya untuk memilih Program Studi Ilmu Komunikasi Digital dan Media di IPB University, guna mempertajam keterampilan public speaking-nya.

Menjadi Duta IPB bukanlah hal yang asing bagi Anis. Sebagai bagian dari Biro Komunikasi IPB, ilmu yang ia pelajari di jurusan Ilmu Komunikasi sangat mendukung perannya sebagai duta. Ia juga aktif dalam kegiatan Icomotion, yang ia anggap sebagai langkah awal sebelum menjadi Duta IPB karena memiliki konsep yang serupa dalam memperkenalkan program studi.

“Untuk menjadi ahli di suatu bidang, kuncinya adalah menekuni apa yang kita bisa dan kita suka. Saya menyadari bahwa saya memiliki keterampilan komunikasi dan menikmati bidang ini, sehingga saya terus berusaha mengasahnya agar dapat menjadi lebih baik,” ujarnya.

Perjalanan Karier
Terpilih menjadi Duta IPB merupakan perpaduan antara ekspektasi dan kejutan bagi Anis. Meskipun ia yakin dengan kemampuannya, ia juga menyadari banyak kandidat lain yang memiliki keahlian luar biasa. Namun, ia selalu percaya bahwa setiap pencapaian adalah hasil dari takdir dan kepercayaan yang diberikan oleh banyak pihak.

Sebagai Duta IPB, Anis mendapatkan pengalaman luar biasa, seperti mengunjungi berbagai kota di Indonesia untuk bertemu dengan calon mahasiswa IPB. Hal ini memberinya perspektif baru mengenai sudut pandang institusi dan bagaimana upaya yang dilakukan di balik kesuksesan kampus.

Selain menjadi narasumber dan pembawa acara di berbagai kegiatan, Duta IPB juga berperan dalam merancang strategi promosi kampus selama setahun ke depan serta menyelenggarakan acara besar, seperti Exploring, yang berkolaborasi dengan organisasi daerah (Omda) di IPB untuk menjangkau calon mahasiswa dari seluruh Indonesia.

Namun, menjadi Duta IPB juga memiliki tantangan tersendiri. Sebagai wajah institusi, perilaku mereka selalu menjadi sorotan publik, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di media sosial. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam bertindak menjadi hal yang sangat penting.

Perjalanan Inspiratif
Salah satu momen paling berkesan bagi Anis adalah proses seleksi yang berlangsung lebih dari enam bulan. Dalam perjalanan tersebut, ia mengalami berbagai tantangan, termasuk kejenuhan. Namun, dengan selalu mengingat tujuan dan visinya sebagai duta, ia tetap berjuang hingga akhirnya berhasil meraih posisi tersebut.

Keaktifannya dalam mengembangkan Instagram Ayo Masuk IPB juga membuahkan hasil. Dalam waktu singkat, ia berhasil meningkatkan engagement akun tersebut dan menciptakan konten yang menarik dengan jumlah penonton mencapai lebih dari 200 ribu. Selain itu, ia juga berhasil mengembangkan kanal Ayo Masuk IPB hingga mencapai lebih dari 2.000 anggota dalam dua bulan.

Anis mengungkapkan bahwa sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah keluarganya, terutama ibunya dan kakaknya. Ibunya selalu menjadi pendukung utama dalam perjalanan hidupnya, sementara kakaknya memberikan wawasan luas serta mengajarkan cara berpikir kritis. Keaktifan sang kakak sebagai alumni IPB juga menjadi inspirasi bagi Anis untuk mengikuti jejaknya.

Pesan dan Harapan
Anis berpesan kepada mahasiswa untuk terlebih dahulu menemukan makna di balik statusnya sebagai mahasiswa. “Sebelum ingin berkontribusi untuk kampus atau masyarakat, cari tahu dulu jawaban atas pertanyaan ‘Kamu untuk apa jadi mahasiswa?’ Jika sudah menemukan jawabannya, maka apa pun yang dilakukan akan secara otomatis memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Ia juga memiliki harapan besar bagi lulusan IPB ke depan. “Saya yakin bahwa lulusan IPB memiliki potensi besar untuk memberikan dampak dan manfaat bagi sekitarnya. Semoga dalam 5–10 tahun ke depan, lulusan IPB terus berinovasi, menjadi pemimpin yang baik, dan membawa perubahan yang signifikan bagi negeri.”

Dengan semangat dan dedikasinya, Anis Adinda Putri membuktikan bahwa ketekunan dan kecintaan pada bidang yang digeluti dapat membawa seseorang menuju pencapaian yang luar biasa.***

Tenri Fahira Larasati Isma Mahasiswa Komunikasi dan Digital Media Sekolah Vokasi IPB

 

Mencuri Tenang di Tengah Bisingnya Ibu Kota yang Tak Pernah Tidur

Bogordaily.net – Pernahkah kamu membayangkan Jakarta tanpa bunyi mesin mobil, tanpa kerumunan manusia yang lalu lalang dikejar waktu, atau lampu yang begitu menyilaukan? Ziggy, dalam novel Jakarta Sebelum Pagi, menghipnotis kita dengan potongan sunyinya kota lewat petualangan Emina dan Abel–dua karakter yang menyusuri sudut-sudut hening Jakarta sebelum subuh. Tapi kalau dipikir-pikir, apakah Jakarta betulan menyisakan ruang hening di dalamnya?
Salah satu tempat yang dapat menjawab pertanyaan ini adalah Cikini, sebuah kawasan di Jakarta Pusat yang seperti disihir lepas dari hukum alam tentang kota metropolitan ini. Hiruk-pikuk yang riuh itu seperti disihir dalam jalanan yang tak sebesar Sudirman, dengan bangunan tua yang masih dipertahankan untuk berdiri tegak, juga trotoar yang cukup lapang untuk dilalui sembari bergandengan tangan dengan yang terkasih.
Perjalanan saya dimulai dari Stasiun Cikini. Saat itu agak salah sih timingnya karena saya baru keluar di jam 11 pagi–atau bahkan sudah dapat dikatakan siang– udaranya sudah cukup panas ketika saya melangkahkan kaki menuju Jalan Cikini Raya. Untung saja pohon-pohon yang sudah berumur itu memberikan sedikit keteduhan.
Sepanjang jalan satu kilometer ini terasa seperti ritual karena gaya Indische Empire masih melekat di bangunan yang ada, seakan berjalan di tengah kota Batavia.
Bahkan, saya temukan pula rumah yang cukup autentik milik Masagus Nur Muhammad Hasyim Ning. Rumah dengan cat putih itu pernah menjadi saksi dari syuting series atau sinetron Catatan si Boy. Tidak hanya itu, nama Jalan Raden Saleh tidak hanya mengingatkan saya pada sang maestro juga pada sebuah film  garapan Angga Dwi Sasongko.
Ujung perjalanan ini akan bermuara di Taman Ismail Marzuki (TIM). Bangunan yang dibangun di atas tanah seluas 9 hektar dengan gaya bangunan futuristik. Dan yang semakin menarik adalah ini punya kaitan dengan nama jalan yang tadi saya jumpai. Kompleks ini dulunya adalah kebun binatang pribadi Raden Saleh, di mana beliau melukis harimau-harimaunya.
Patung Ismail Marzuki menyambut saya di gerbang TIM. Sang maestro berdiri gagah, biolanya terangkul seperti sedang memeluk melodi yang tak pernah mati. Di belakangnya, lorong sempit di antara gedung utama dan parkiran menjadi portal magis: hanya sepuluh langkah, tapi Jakarta tiba-tiba kehilangan desibelnya.
TIM bukan sekadar kompleks seni—ia adalah mesin pembunuh kebisingan. Di sini, seni bekerja sebagai peredam. Graha Bhakti Budaya menelannya dengan pertunjukan monolog yang membuat klakson tak lagi relevan.
Gedung Ali Sadikin, dengan arsitektur meliuk mirip not balok Rayuan Pulau Kelapa, menyimpan perpustakaan di mana deru komuter digantikan derik halaman buku yang dibalik.
Gedung Oemar Effendi memaksa pengunjung bisu lewat pamerannya. Saat itu, Jakarta Biennale ke-50 sedang memamerkan kegelisahan seniman yang terlalu jujur untuk diucapkan.
Pameran ini seperti labirin ide. Tanpa tema spesifik, karya-karya saling berteriak dalam diam. Saya terjebak di depan instalasi Mantra Tubuh—sebuah zine raksasa dari kain perca, pita, dan benang yang menjuntai dari langit-langit. Di setiap “halaman”-nya, puisi tentang tubuh perempuan tertulis dalam sulaman yang patah-patah.
“Ini ruang untuk menjahit luka,” bisik seorang pengunjung sambil melangkahkan kakinya mengitari halaman zine. Karya ini bukan untuk dilihat, tapi dirasakan dengan tangan: meraba kekasaran kain, menyusun ulang kata-kata yang tercabik, atau sekadar berdiri di bawahnya sambil bertanya, “Apakah Abel dan Emina juga menyimpan begitu banyak pertanyaan dalam pencariannya yang sunyi itu?”
Tempat ini adalah dunia lain dari Jakarta yang biasanya berputar dengan bagaimana bisa mendapat lebih banyak uang. Desas-desus tentang seni–sastra–pemeran lebih banyak bergaung di sini. Bahkan, Jakarta Sebelum Pagi sendiri dinobatkan sebagai pemenang melalui malam anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 di sini juga.
Lorong-lorong di dalam Gedung Ali Sadikin yang mengantarkan saya pulang ini membuat saya tidak ingin cepat meninggalkan tempat ini. Seakan ingin lebih lama menghabiskan waktu untuk berputar dengan isi kepala sendiri.
Satu persinggahan terakhir sebelum betul-betul meninggalkan tempat ini, adalah duduk melamun di pendopo, di depan kolam yang menghadap gedung Trisno Soemardjo atau Planetarium. Melihat ikan yang bergerak tanpa berisik itu juga air yang tenang rasanya seperti ingin serakah berharap “apa lebih baik Jakarta sesunyi kolam ini saja ya?”
Kembali ke pertanyaan awal, bisakah kita masih menemukan Jakarta yang sunyi? Jawabannya mungkin tak akan pernah sependapat dengan semua orang. Tapi di Cikini, langkah yang buru-buru itu perlahan ditelan. Deretan pekerjaan yang harus segera dituntaskan itu terganti dengan berbagai ruang-ruang ekspresi diri. Entah buku yang menjadi lebih berisik atau suara di tengah teater. Tapi rasanya, kemerdekaan memiliki diri sendiri dapat ditemukan di sini.
Seperti kata Ziggy dalam novelnya: “Jakarta adalah kota yang tak pernah benar-benar tidur, tapi di sudut-sudut tertentu, ia masih bisa berbisik.” Dan Cikini adalah salah satu sudut itu—tempat di mana kita bisa mendengar bisik-bisik itu, ketika Jakarta tak sebising pukul 8 pagi dan 5 sore, di mana kamu masih bisa temukan kewarasan di tengah semua orang yang sibuk berlari dikejar ambisinya.***
Ayu Ardiyati Nuraini Joyo Atmojo, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

Medhanita Dewi Renanti: Menjembatani Ilmu Komputer dan Kehidupan Sehari-hari dengan Inovasi

0
Bogordaily.net – Women in Tech, sebuah frasa yang mungkin lebih familier terdengar di tahun 2020-an. Sebelumnya wanita dan teknologi dipandang sebagai suatu hal yang tidak dapat beriringan, pekerjaan memusingkan yang didominasi oleh laki-laki. Tapi tidak bagi, seorang Medhanita Dewi Renanti yang telah berkecimpung lama di field computer science.
Medhanita Dewi Renanti, lahir di Banyuwangi pada 12 Mei 1983 Saat ini beliau merupakan dosen yang juga menjabat seorang Ketua Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak Sekolah Vokasi IPB. Salah satu wanita yang berhasil mematahkan paradigma bahwa perempuan tidak dapat berkarir luas di dunia IT.
Ketertarikan pada Ilmu Komputer 
Tidak pernah terbayang bagi Medha untuk berkecimpung di bidang IT. Sampai akhirnya ketika di masa SMA, beliau mengikuti pelajaran tambahan yang membuka pandangannya tentang ilmu komputer. Berkenalan dengan berbagai aplikasi dari Microsoft Office hingga games membuatnya penasaran hingga akhirnya jatuh cinta.
Walaupun pada mulanya tidak terlalu tertarik dengan ranah games, ia menyadari bahwa logika yang terdapat di Ilmu Komputer sangat menarik untuk dipelajari. Berangkat dari sana, beliau mantap melangkahkan kakinya lebih jauh untuk menyelami dunia komputer.
Kehidupan menjadi Mahasiswa
Menempuh pendidikan sarjananya di Universitas Gadjah Mada sebagai mahasiswa Ilmu Komputer, Medha melanjutkan pendidikan magisternya di Institut Pertanian Bogor dengan jurusan yang sama. Menjadi mahasiswa Ilmu Komputer yang melanjutkan studi di dua tempat yang berbeda tidak menjadi tantangan bagi Medha, menurutnya tempatnya mengampu pendidikan Ilmu Komputer sama-sama memiliki kurikulum yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, culture yang ada di Jogja lebih kuat dengan adanya “unggah inggih”.
Selain fokus dalam menuntaskan pendidikannya, Medha dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dalam mengikuti organisasi di lingkungan prodi. Himpunan Mahasiswa Ilmu Komputer menjadi wadahnya untuk mengembangkan diri di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa.
Selama berkuliah pun Medha juga mencari tambahan uang jajan dengan menjadi tutor. Ia mengajarkan materi-materi yang berkaitan dengan program studinya, seperti Photoshop, aplikasi multimedia, Excel, dll. Di samping itu, Medha saat ini masih melanjutkan studi doktoralnya di Institut Pertanian Bogor dengan masih mengambil program studi yang sama.
Berkarir Sebagai Dosen
Bermula dengan memulai jenjang kehidupan baru sebagai seorang istri, Medha dihadapkan pilihan karir antara menjadi guru atau dosen. Setelah melalui berbagai pertimbangan, surat pinangan pun dilontarkan ke Institut Pertanian Bogor sebagai seorang dosen. Terhitung sejak tahun 2006 beliau sudah aktif mengajar.
Meskipun terkesan menjadi dosen hanya sebuah opsi, tetapi passion dalam mengajar sudah mengakar sejak lama. Medha ingat ketika masa sekolah dasar ia sering bermain dengan teman-temannya untuk melakukan role play sebagai guru.
Saat ini menjadi dosen menurutnya adalah panggilan hati. Dalam menjalaninya ia sangat bersyukur karena di sana ia dapat melakukan sesuatu yang ia sukai seperti, mengajar, membagikan ilmu serta pengalamannya. Tidak hanya itu, kepribadiannya sebagai seorang ekstrovert juga membuatnya gemar untuk berinteraksi dengan orang lain.
Saat ini, dengan posisinya sebagai Ketua Program Studi Teknologi Perangkat Lunak, Medha memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Jika sebelumnya fokusnya hanya pada mahasiswa yang diajarnya, kini ia juga harus memberikan perhatiannya ke banyak aspek. Mulai dari menjalin kerja sama dengan pihak eksternal hingga menyusun strategi dalam meningkatkan kompetensi dosen di program studi. Lokakarya menjadi salah satu wadah baginya untuk dapat tetap update mengetahui kebutuhan industri saat ini dengan berkomunikasi bersama alumni maupun praktisi.
Membagi Waktu di Tengah Kesibukan
Dengan berbagai kesibukannya, manajemen stress dan waktu adalah tantangan yang harus dihadapi. Menurut Medha, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan membuat hati serta pikiran tetap bahagia. Bagi dirinya, kebahagiaan adalah kunci utama untuk tetap produktif menjalankan pekerjaan.
Medha sendiri mengatakan bahwa dirinya adalah pribadi yang tidak dapat diam-diam saja, ia ingin terus berbuat sesuatu.
Hal ini sudah tercermin sejak beliau masih belia, ia aktif dalam mengikuti kegiatan seperti menari, silat, voli, basket, organisasi, hingga menjadi anggota paskibraka. Bahkan, ia juga pernah menjabat sebagai ketua drumband ketika sekolah.Walaupun dengan banyaknya kegiatan yang diikuti, Medha tetap dapat menyeimbangkan kehidupan akademiknya dengan tetap menempati peringkat atas.
Membuat skala prioritas adalah sesuatu yang harus dilakukan. Tidak hanya itu, ia juga menuturkan bahwa orang itu akan berkah waktunya dan ilmunya ketika menomor satukan sang Pencinta. Terlebih lagi, ketika ia menjadi seseorang yang bekerja di bidang IT dapat membawa keberkahan dalam hidupnya. Hal itu karena ia dapat berkontribusi dengan memudahkan pekerjaan orang lain yang kini bergeser pada kebutuhan digital, baginya ini adalah sebuah kesempatan untuk dapat menjalin hubungan sesama manusia yang lebih baik.
Terciptanya Madsaz 
Medha kembali menemukan jalannya saat menghadapi fase baru dalam kehidupannya. Berangkat dari niat untuk datang ke seminar tumbuh kembang anak sebagai persiapan menjadi Ibu baru, ia malah mendapat ide baru dari salah satu narasumbernya yang merupakan seorang dokter bersertifikasi dari Australia dalam mengenal bahasa bayi.
Madsaz adalah aplikasi yang kemudian ia kembangkan hasil kolaborasi antara keilmuannya di bidang komputer dengan wawasan barunya tentang arti tangisan bayi. Aplikasi ini dibuatnya sebagai proyek akhir pendidikan magisternya dengan memanfaatkan teknologi machine learning. Selama proyek ini, Medha banyak melibatkan orang-orang terdekatnya untuk melakukan pengujian keakuratannya.
Madsaz juga merupakan aplikasi pertama karya anak bangsa yang membawakan konsep ini. Saat ini aplikasi ini telah diunduh oleh 176 negara dan mencapai lebih dari 358 ribu unduhan. Tidak hanya itu, Medha juga sedang melakukan pengembangan guna memperbaiki bug yang ada sehingga keakuratannya tidak menurun ketika terdapat noise di sekitarnya. Selain itu, Medha mengatakan bahwa akan ada aplikasi lain setelah Madsaz yang sedang ia rancanganya.
Kesibukan Lain yang Saat Ini Dijalani 
Tidak melulu tentang dunia pendidikan, Medhanita Dewi Renanti, saat ini juga memiliki kesibukan sebagai pebisnis. Bahkan, jauh sebelum bergabung menjadi anggota UMKM Perhimpunan Penggerak Indonesia Sejahtera Kota Bogor beliau pernah menekuni bisnis kue coklat ketika masih berkuliah sarjana.
Bisnis kue coklat atau brownies ini tercipta karena kegemarannya dalam baking atau membuat kue. Walaupun sempat mencari-cari resep yang sesuai di internet, bisnis ini sukses membuat teman-temannya di Jogjakarta menjadi pelanggan tetapnya ketika itu karena rasa kuenya yang enak.
Pandangan Tentang Ilmu Komputer ke Depannya
Sebagai seseorang yang menempuh pendidikan di ilmu komputer, kemudahan yang ada saat ini dengan hadirnya artificial intelligence (AI) instant seperti Chat GPT harusnya dapat digunakan dengan penuh etika. Mahasiswa sebagai agent digital dapat memanfaatkan AI secara optimal dengan tidak hanya melakukan copy paste saja, tetapi juga melibatkan kinerja otak untuk mengasah diri.
Medhanita Dewi Renanti, juga mengakui industri kerjanya saat ini cukup riskan, dalam artian bahwa IT dapat menjadi pisau bermata dua. Kejadian peretasan-perbatasan yang terjadi memberikan gambaran bahwa etika dalam dunia teknologi sangat diutamakan karena dapat menyangkut etika, moral, dan hukum. Teknologi, terutama ilmu komputer, dapat memberikan manfaat kepada orang lain apabila dilakukan dengan cara yang bermoral sesuai dengan aturan yang sudah ada.***
Ayu Ardiyati Nurani Joyo Atmojo, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

Efisiensi Anggaran: Stabilitas Ekonomi atau Downfall Era dari Pendidikan Nasional?

0

Bogordaily.net – Secara resmi Kementerian Keuangan Republik Indonesia telah mengeluarkan surat yang menyatakan akan ada pemangkasan anggaran negara untuk beberapa sektor. Perintah ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto guna melakukan efisiensi anggaran.

Ada sekitar Rp256,1 triliun atau sekitar 22% dari total anggaran K/L yang mencapai Rp1.160 triliun. Selain itu, efisiensi juga dilakukan pada alokasi dana transfer ke daerah sebesar Rp50,59 triliun. Secara keseluruhan, pemotongan anggaran ini mencapai Rp306,69 triliun atau sekitar 8,5% dari total APBN 2025.

Dalam kebijakan tersebut beberapa instansi turut merasakan adanya pemotongan. Efisiensi yang dilakukan pun terbilang cukup ekstrim jika dilihat dari persentase nilai yang dipotong. Ada sekitar 16 sektor yang akan dipangkas sesuai dengan surat resmi nomor S-37/MK.02/2025 yang dikeluarkan Menteri Sri Mulyani.

Walaupun begitu, Menteri Keuangan Republik Indonesia menjamin bahwa sektor pendidikan, terutama pendidikan tinggi tidak akan terdampak dari efisiensi ini. Namun, ucapan hanyalah ucapan karena tidak sampai dua minggu setelahnya hampir seluruh PTN di Indonesia berbondong-bondong mengeluarkan surat edaran yang mengatakan akan ada akan ada fasilitas yang dihentikan. Bahkan, PTN yang mengeluarkan edaran tersebut adalah PTN ternama yang sudah berbadan hukum dan teratas di Indonesia.

Sebetulnya, hal ini sudah sedikit terlihat hilalnya dengan ditariknya beasiswa dari Kementerian Keuangan. Padahal beasiswa itu masih dalam masa pendaftaran yang seharusnya baru berakhir pada bulan Maret ini. Namun, apa boleh buat seperti yang diketahui bersama bahwa pendidikan juga bukan fokus utama dalam pemerintahan ini.

Dalam keseharian sebagai mahasiswa, fasilitas dari kampus memiliki peranan yang sangat besar dalam menunjang kegiatan belajar. Ketiadaan akses jurnal resmi menghambat mahasiswa dalam mengakses jurnal ilmiah, bahkan yang berbasis internasional.

Padahal dengan adanya akses jurnal internasional mahasiswa dapat dengan mudah mengupdate pengetahuan yang ada di belahan dunia lain. Riset dan penelitian adalah hal dinamis yang sangat cepat berkembang, tapi sayangnya kita harus merelakan update pengetahuan ini.

Tidak hanya ketiadaan akses jurnal, dampak dari efisiensi anggaran, mahasiswa kini harus menghadapi kenyataan bahwa mendapat ruang kelas yang layak adalah barang mahal. Beserta surat edaran yang diumumkan, beberapa PTN memberikan batasan kapan lampu harus menyala dan mati. AC dan lift pun sekarang menjadi barang yang tidak diakses dengan bebas.

Padahal, beberapa gedung di PTN yang bertingkat sangat bergantung dengan kedua hal tersebut. Apakah setelah ibu-ibu berebut membeli gas di tengah terik matahari, kini harus dirasakan juga oleh anaknya dengan berebut lift dan kepanasan di kelas?

Beradu data melalui data statistik, lantas tidak mengubah kenyataan bahwa sebagian besar mahasiswa berlatar belakang keluarga menengah bawah. Menurut data dari Katadata kurang dari 7% masyarakat Indonesia yang mengenyam pendidikan sampai pendidikan tinggi, bukankah ini dapat dikatakan bahwa pendidikan tinggi adalah barang mewah di negeri ini?

Masih dari sektor pendidikan tinggi, dosen pun rasanya juga duduk di kursi yang sama karena hingga saat ini belum mendapat Tunjangan Kinerja (tukin). Selain dengan tunjangan yang belum tau kapan akan cairnya, dana untuk penelitian pun kian seret.

Padahal, yang kita ketahui riset dan pendidikan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Sudah sulit untuk mengakses jurnal internasional, kini melakukan penelitian mandiri pun kian sukar. Rasanya menuntut pendidikan terbaik terasa semakin utopia di negeri ini.

Sebagai seorang mahasiswa yang memang didorong untuk melihat suatu fenomena Efisiensi Anggaran, dengan kacamata yang lebih kritis, situasi ini rasanya sangat miris. Transparansi penyampaian informasi yang dilakukan oleh pemerintah terasa sekedarnya, bahkan terkesan ditutup-tutupi. Bahkan perilisan Danantara yang agak spontan cukup dapat menggambarkan bahwa rakyat tidak perlu tau banyak apa yang sedang dikerjakan oleh pemerintahnya.

Apakah memang benar di mata pemerintah kita adalah makhluk yang tidak tahu menahu sehingga kritik yang disampaikan hanyalah sebuah angin lalu. Mungkin, memang kesejahteraan rakyat saat ini tidaklah penting dari kesejahteraan rakyat lain yang berada di gedung-gedung pemerintahan saat ini.

Saat ini, teman-teman mahasiswa lain sedang harap-harap cemas. Takut apabila dengan situasi ekonomi yang diperburuk dengan naiknya nilai tukar dollar disertai pula dengan kenaikan UKT.

Bahkan, KIP-K bukan lagi hal yang dapat diharapkan sejak efisiensi diumumkan. Semua hanya tinggal menunggu waktu, pendidikan tinggi menjadi barang tersier yang tidak akan pernah dijangkau masyarakat luas atau pemerintah sadar bahwa pendidikan adalah cara terbaik untuk mewujudkan Indonesia Emas.***

Oleh: Ayu Joyo Atmojo
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Malam Dingin tetapi Hangat : Liburan Tahun Baru Penuh Tawa di Villa yang Jauh dari Keramaian

Bogordaily.net – Tahun Baru 2025 menjadi momen istimewa bagi saya dan keluarga besar. Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan di sebuah villa bambu yang terletak jauh dari keramaian, tepatnya di daerah Ciwidey, Bandung. Villa ini menawarkan suasana yang tenang, dikelilingi oleh alam yang asri, dan jauh dari pemukiman warga. Liburan kali ini bukan hanya sekadar untuk melepas penat, tetapi juga sebagai ajang berkumpul dan mempererat hubungan keluarga. Kegiatan liburan yang berlangsung pada tanggal 11 dan 12 Januari 2025 ini menjadi salah satu kenangan yang tidak akan saya lupakan.

Pemandangan Indah dan Suasana Damai Villa Bambu

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dari rumah, kami akhirnya tiba di villa bambu yang terletak di perbukitan Ciwidey. Udara segar dan pemandangan yang menakjubkan langsung menyambut kami. Dikelilingi oleh pepohonan hijau, villa ini memberikan kesan sejuk dan menenangkan. Suara alam yang terdengar di sekitar villa menjadi teman setia kami selama liburan. Tidak ada kebisingan kendaraan atau suara hiruk-pikuk kehidupan kota. Hanya ada hembusan angin dan suara alam yang menciptakan suasana damai.

Saat malam tiba, kami berkumpul di ruang tengah villa untuk menikmati makan bersama dan arisan keluarga yang sudah direncanakan sebelumnya. Tidak hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk merayakan kebersamaan dalam suasana yang jauh dari rutinitas sehari-hari. Kegiatan malam itu menjadi salah satu momen paling berkesan selama liburan.

Permainan Seru yang Membangkitkan Semangat Kekeluargaan

Arisan keluarga menjadi lebih seru dengan berbagai permainan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Salah satu permainan yang paling menarik adalah serok uang dengan mata tertutup. Kami harus mencari uang yang tersebar di lantai hanya dengan menggunakan serok, sementara mata kami ditutup. Lelucon dan tawa pun menggema di setiap sudut ruangan saat kami berusaha mengumpulkan uang, dikarenakan tingkah konyol beberapa anggota keluarga. Permainan ini tidak hanya menguji kelincahan, tetapi juga mempererat kekompakan antar anggota keluarga.

Tidak hanya itu, permainan mengambil uang koin dari dalam tumpukan tepung juga berhasil membuat kami tertawa terbahak-bahak. Masing-masing anggota keluarga mencoba mengambil koin yang tersembunyi di dalam tepung tanpa menggunakan tangan. Hasilnya, tangan dan wajah kami dipenuhi tepung, tetapi itu justru menambah keseruan permainan. Kami juga memainkan estafet tepung tanpa menggunakan tangan, yang memaksa kami untuk tidak berkomunikasi secara lisan dan bekerja sama agar tepung bisa dipindahkan dari satu orang ke orang lainnya hanya dengan menggunakan kertas yang ditahan melalui mulut.

Permainan tebak pasang botol dan mencari koin di dalam kolam renang juga memberikan sensasi seru dan penuh tantangan. Tentu saja, tidak ada yang bisa melupakan bagaimana kami saling berteriak, memberikan petunjuk, dan melompat ke dalam kolam renang yang airnya begitu dingin, hanya untuk menemukan koin yang tersembunyi di dasar kolam.

Namun, di balik permainan yang seru ini, ada satu hal yang paling saya hargai: kebersamaan yang tercipta. Setiap permainan yang kami lakukan tidak hanya menciptakan tawa, tetapi juga mengingatkan kami tentang pentingnya saling menghargai dan bekerja sama dalam keluarga.

Malam Berakhir dengan Barbekyu Keluarga

Setelah bermain hingga malam, kami pun melanjutkan kebersamaan dengan acara barbekyu di halaman villa. Kami menikmati sate, sosis bakar, dan berbagai hidangan lezat lainnya sambil mengobrol santai jauh dari keramaian. Api unggun yang menyala menambah kehangatan suasana, mengiringi canda tawa kami yang terus bergema. Momen ini menjadi penutup yang sempurna untuk hari pertama liburan kami. Tak ada yang lebih nikmat selain menikmati kebersamaan dengan keluarga sambil menikmati makanan lezat di udara yang segar.

Hawa Dingin yang Menyengat dan Angin Kencang

 Meskipun liburan kami penuh dengan keceriaan dan kebersamaan, malam pertama di villa bambu Ciwidey menghadirkan tantangan tersendiri ketika jam dinding, jauh dari keramaian, menunjukkan waktu semakin malam, angin kencang dan hawa dingin cukup dapat membuat kami kedinginan jika saja villa yang kami tempat tidak memiliki penghangat ruangan. Untungnya karena villa yang hangat, kami tidak begitu merasakan hawa dingin yang menusuk kulit.

Pagi Hari yang Penuh Kenangan

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di villa, menikmati pemandangan indah dan suasana pedesaan yang menenangkan. Kami berfoto bersama, mengabadikan momen kebersamaan yang tidak bisa terulang. Suasana pagi itu begitu damai, dengan kabut tipis yang menyelimuti perbukitan dan suara burung berkicau di kejauhan.

Kami duduk bersama di teras villa, menikmati secangkir kopi atau teh, sambil berbicara tentang berbagai hal—dari rencana masa depan hingga cerita lucu yang terjadi selama liburan. Saat itu, saya menyadari betapa berharganya waktu bersama keluarga. Meski kami sibuk dengan rutinitas masing-masing, momen seperti ini adalah kesempatan langka untuk saling berbagi dan mendekatkan diri.***

 

Witsqa Nurul Aflah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

Belajar dengan Hati, Bekerja dengan Dedikasi: Kisah Sukses Adela

0

Bogordaily.net – Adela, SE., MM., Ak., CTA., CAP., CFA., CA., AB., ASEAN, lahir di Medan pada 13 Oktober 1964 dari keluarga sederhana. Sejak kecil, ia memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, perjalanan menuju kesuksesan tidaklah mudah. Ini sekelumit kisah sukses Adela.

Pada tahun 1984, Adela pernah bekerja sebagai cleaning service di Ratu Plaza, Kebayoran Baru tanpa sepengetahuan orang tuanya. Pekerjaan tersebut baru diketahui keluarganya ketika sang ibu menemukan seragam kerjanya, yang kemudian membuat ibunya cukup kecewa.

Uniknya, Adela pernah bercita-cita menjadi sopir taksi karena melihat betapa menariknya mengendarai mobil. Namun, keinginannya ini ditentang oleh orang tuanya yang berharap ia memiliki pekerjaan lebih baik dan lebih menjanjikan.

Awal Perjalanan di Dunia Akuntansi

Siapa sangka, Adela yang semasa SMA mengambil jurusan IPA dan sangat tidak menyukai akuntansi justru kini menjadi seorang ahli di bidang tersebut? Awalnya, akuntansi bukanlah minatnya, namun semua berubah ketika ia pindah ke Bandung dan bekerja di toko fotokopi milik pamannya, yang kebetulan terletak di samping kantor akuntan publik milik pamannya pula.

Setiap hari, Adela melihat banyak orang kantoran datang dan pergi, mengenakan pakaian rapi dan terlihat profesional. Ia mulai penasaran dan mempelajari materi-materi akuntansi yang sering difotokopi pelanggan. Malam harinya, ia belajar lebih dalam dengan bimbingan saudara pamannya. Namun, karena merasa kesulitan, sempat terbesit rasa benci terhadap akuntansi.

Meski demikian, ia tidak menyerah. Ia akhirnya melanjutkan pendidikan di Universitas Padjadjaran (UNPAD) dengan minat pada akuntansi. Semester awal berjalan ia hampir mengalami drop out (DO) karena kesulitan memahami materi. Namun, setelah merenung, ia menyadari bahwa yang terpenting bukanlah nilai semata, melainkan pemahaman terhadap ilmu itu sendiri. Dengan semangat baru, ia belajar dengan tekun, hingga akhirnya pada semester 4, nilainya meningkat pesat. Bahkan di semester 7, ia dipercaya menjadi asisten dosen (asdos) hingga lulus.

Karier Profesional dan Akademik

Setelah lulus, Adela bekerja di kantor akuntan publik milik pamannya selama enam tahun. Ia kemudian melanjutkan kariernya sebagai praktisi akuntansi selama enam tahun berikutnya.

Keinginannya untuk terus berkembang mendorongnya untuk melanjutkan studi S2 di Universitas KALBIS, Jakarta, dengan fokus pada Manajemen Keuangan. Dengan pengalaman dan ilmu yang semakin matang, Adela memutuskan untuk mendirikan kantornya sendiri. Pada tahun 2016, ia resmi mendirikan Kantor Jasa Akuntan Adela (KJA Adela) yang bergerak di bidang konsultasi akuntansi dan perpajakan.

Di tengah kesibukan sebagai praktisi, Adela juga mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Hingga kini, ia telah mengajar di lebih dari 10 kampus, termasuk menjadi dosen tamu di Program Studi Akuntansi Sekolah Vokasi IPB University. Selain itu, ia juga aktif sebagai pembicara, instruktur, serta tenaga ahli di bidang akuntansi keuangan. Ia merupakan anggota utama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Rutinitasnya sangat padat—pagi mengajar, siang bertemu klien, dan malam kembali mengajar. Namun, bagi Adela, semua ini bukanlah beban, melainkan sebuah talenta dan hobi yang ia jalani dengan penuh keikhlasan.

Mengatasi Keterbatasan dengan Kekuatan Tekad

Meskipun memiliki keterbatasan pada kaki kirinya yang sedikit pincang, Adela tidak pernah menganggap hal tersebut sebagai hambatan. Ia justru meyakini bahwa di balik setiap musibah pasti ada hikmahnya.

Baginya, mengeluh bukanlah solusi. “Buat apa kita mengeluh? Tidak akan ada yang selesai jika terus mengeluh,” ujarnya.

Capaian Terbesar dan Filosofi Hidup

Salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya ialah memperoleh berbagai gelar akademik dan profesional, yang merupakan impian sang ayah. Ayahnya pernah berkata, “Kenapa harus mengejar gelar? Karena nama kamu pendek.” Perkataan itu membekas di hati Adela, mendorongnya untuk terus belajar dan meraih berbagai sertifikasi bergengsi di bidang akuntansi dan keuangan.

Pesan untuk Mahasiswa dan Anak Muda

Adela selalu berpesan kepada mahasiswa dan anak-anak muda yang sedang berjuang agar mempelajari sesuatu dengan jiwa dan hati, bukan hanya dengan otak. Menurutnya, hati adalah tempat yang bersih, dan jika hati merasa yakin, maka lakukan. Namun, jika timbul keraguan, lebih baik ditinggalkan. Ia juga menekankan bahwa jangan terlalu memikirkan omongan orang lain, karena setiap orang memiliki jalan dan perjuangannya sendiri. Yang terpenting adalah tetap fokus pada tujuan. Selain itu, ia selalu mengingatkan bahwa doa orang tua, terutama ibu, memiliki kekuatan luar biasa. Restu mereka adalah kunci utama dalam mencapai kisah sukses Adela.

Sekelumit kisah sukses Adela. Adela adalah bukti nyata bahwa keberhasilan tidak datang dari jalan yang mulus dan mudah. Ia pernah gagal, hampir menyerah, bahkan membenci bidang yang kini menjadi dunianya. Namun, dengan kerja keras, ketekunan, dan niat yang tulus, ia berhasil mengubah hidupnya dan menginspirasi banyak orang.***

 

Witsqa Nurul Aflah Mahasiswa Komunikasi dari Sekolah Vokasi IPB

Wanita Paruh Baya Menangis Histeris, Rumahnya Dirobohkai Padahal Punya SHM

0

Bogordaily.net – Jadi, beberapa hari ini ramai banget di media sosial soal video seorang wanita paruh baya yang nangis histeris karena rumahnya dirobohkan paksa. Yang bikin banyak orang geram, ternyata dia punya sertifikat hak milik (SHM) atas tanah dan rumahnya. Jadi, gimana ceritanya orang yang punya bukti kepemilikan sah bisa digusur begitu saja? Ini nggak cuma soal hukum, tapi juga soal keadilan dan perlindungan hak-hak kita sebagai warga negara.

Sebenernya, masalah kayak gini nggak baru di Indonesia. Konflik tanah udah jadi masalah dari dulu, dari jaman kolonial sampe sekarang. Data dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) aja bilang, tahun 2022 ada lebih dari 1.300 kasus konflik tanah di Indonesia. Luas areanya? Gila, sampe 2,5 juta hektar lebih! Ini nggak cuma soal tanah adat atau lahan pertanian, tapi juga tanah pribadi kayak kasus wanita ini. Nah, yang bikin banyak orang nggak habis pikir, kok bisa sih orang yang punya SHM masih kena gusur?

SHM kan mestinya jadi bukti sah bahwa tanah itu milik dia, dilindungi sama negara. Tapi kenyataannya, punya SHM aja nggak cukup buat jaminin keamanan. Kenapa? Pertama, sering banget ada tumpang tindih kebijakan. Misalnya, tanah yang udah punya SHM tiba-tiba aja diklaim buat proyek strategis nasional kayak pembangunan jalan tol atau kawasan industri. Alasannya sih buat kepentingan umum, tapi kok rasanya nggak adil ya buat yang punya tanah?

Kedua, proses hukum di Indonesia itu ribet, mahal, dan lama. Buat orang biasa kayak kita-kecik ini, berurusan sama hukum itu kayak masuk labirin. Belum lagi kalo lawannya perusahaan besar atau pemerintah. Banyak orang akhirnya nggak sanggup buat berjuang dan memilih nyerah aja. Atau kalo dikasih kompensasi, jumlahnya nggak sebanding sama nilai tanah atau rumah yang diambil.

Yang paling bikin sedih, proses penggusuran sering banget dilakukan dengan cara yang nggak manusiawi. Kayak kasus wanita ini, rumahnya dirobohkan paksa sampe dia nangis histeris. Itu bukan hanya soal kehilangan materi, tapi juga kehilangan rasa aman dan kepercayaan sama negara. Gimana nggak trauma? Rumah itu kan bukan cuma bangunan fisik, tapi juga tempat kita bernaung, berkumpul sama keluarga, dan menyimpan kenangan seumur hidup.

Dampaknya nggak cuma buat si korban, tapi juga buat masyarakat luas. Kasus kayak gini bikin kita semua ngerasa nggak aman. Kalo aja orang yang punya SHM aja bisa digusur, gimana nasib kita yang nggak punya bukti kepemilikan sekuat itu? Ini bikin kepercayaan masyarakat sama sistem hukum dan pemerintah jadi turun. Lama-lama, kalo dibiarin, bisa jadi bom waktu yang suatu hari nanti meledak.

Nah, apa yang harus dilakukan? Pertama, pemerintah harus evaluasi ulang kebijakan-kebijakan yang berhubungan sama tanah dan pembangunan. Jangan sampe kepentingan umum jadi alasan buat ngerampas hak-hak warga. Proses pembebasan lahan harus transparan, adil, dan melibatkan partisipasi masyarakat. Kompensasi juga harus sesuai sama nilai properti yang diambil, jangan asal kasih duit receh.

Kedua, penegakan hukum harus diperbaiki. SHM sebagai bukti kepemilikan sah harus dihormati dan dilindungi. Proses hukum harus bisa diakses sama semua orang, nggak peduli dia orang kecil atau orang besar. Aparat penegak hukum juga harus tegas sama praktik-praktik intimidasi atau kekerasan dalam proses penggusuran. Jangan sampe ada lagi cerita preman atau aparat yang nggak manusiawi kayak kasus ini.

Ketiga, pemerintah harus lebih gencar ngasih sosialisasi dan edukasi ke masyarakat soal hak-hak agraria. Banyak orang nggak ngerti prosedur hukum atau hak-hak mereka kalo berhadapan sama konflik tanah. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat bisa lebih siap dan nggak gampang ditindas.

Selain itu, kita sebagai masyarakat juga harus saling dukung. Kasus kayak ini harus jadi perhatian bersama. Media sosial bisa jadi alat buat nyuarakan ketidakadilan, tapi kita juga harus bijak dalam nyebarin informasi. Jangan sampe malah jadi provokasi atau bikin masalah tambahan.

Intinya, kasus wanita paruh baya ini harus jadi pelajaran buat kita semua. Jangan sampe kita ngerasa aman hanya karena punya sertifikat atau dokumen resmi. Masalah agraria di Indonesia itu kompleks dan butuh solusi yang serius dari semua pihak. Kasus wanita paruh baya ini menjadi pelajaran berharga.

Pemerintah, masyarakat, dan semua elemen bangsa harus kerja sama buat ngejamin bahwa setiap warga negara punya hak yang sama buat hidup aman dan sejahtera di tanah airnya sendiri. Jangan sampe ada lagi cerita orang nangis histeris karena rumahnya dirobohkan paksa. Itu sih nggak banget.***

Tenri Fahira Larasati Isma Mahasiswa Komunikasi dan Digital Media Sekolah Vokasi IPB

 

Mengapa Konten Viral lebih Menarik Perhatian Dibandingkan Berita yang Penting?

0

Bogordaily.net – Fenomena konten viral merupakan konten yang memikat perhatian khalayak dan menyebar dengan cepat di media sosial, baik itu berupa foto, video, berita dan trend yang sedang populer. Fenomena ini sudah menjadi konsumsi bagi para pengguna media sosial. Dibalik melesatnya konten viral yang membuat khalayak sangat terpaku, menjadi sangat kontras jika dibandingkan dengan berita-berita penting.

Ketika suatu konten viral yang berisi informasi yang mungkin tidak sesuai dengan berita yang aslinya ini bisa terjadi dikarenakan saat ini perilaku pengguna lebih menyukai dan mementingkan sensasi dari konten viral tersebut dibandingkan berita yang sebenarnya. Dan ini tentu sangat relevan dengan melesatnya teknologi dan internet yang membuat konten viral tersebut menyebar sangat cepat.

Hal ini menjadi keadaan terbalik jika berbicara mengenai berita-berita penting, yang mana substansi pada berita tersebut merupakan berita yang benar. Berita yang penting cenderung isinya perlu dibaca secara mendalam untuk dipahami oleh khalayak, dan tidak semua audiens membaca secara teliti sedangkan konten viral yang mana mungkin beberapa isinya singkat, ramai dibicarakan, dan orang-orang langsung mempercayai konten tersebut.

Didukung juga dengan isi informasi tersebut mengandung hiburan, isu para influencer, atau sebagainya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis fakfak-faktor yang menyebabkan perbedaan antara konten viral yang lebih memikat khalayak dibandingkan berita-berita yang sebenarnya lebih penting dan benar.

Psikologi Audiens dan Pola Konsumsi Digital
Menurut databoks katadata pada tahun 2024, frekuensi penggunaan masyarakat di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu dalam menggunakan media sosial sebanyak 3 jam 14 menit per hari dan 81% mengakses setiap hari. Hal ini yang menjadikan konten viral sangat begitu cepat menyebar. Konten viral juga dapat memicu emosi para khalayak, entah yang viral merupakan konten yang mengandung hal lucu, kesedihan, mengejutkan dan sebagainya.

Sedangkan untuk berita-berita penting yang cenderung lebih serius dan butuh pemikiran yang mendalam. Ini terbukti dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Berger dan Milkman (2012) dalam jurnal “What Makes Online Content Viral?” menemukan bahwa konten yang membangkitkan emosi kuat, baik positif maupun negatif, lebih cenderung menjadi viral dibandingkan konten netral.

Di era digital, pola konsumsi informasi telah berubah secara drastis. Audiens kini lebih menyukai konten yang singkat, cepat dikonsumsi, dan mudah dipahami. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah informasi yang tersedia serta cara kerja platform digital yang mendorong keterlibatan pengguna dalam waktu singkat.

Sebagai contoh berita tentang kesehatan mental remaja akibat kecanduan media sosial yang didukung oleh data dan fakta sering kalah populer dibandingkan dengan perdebatan permasalahan yang dialami influencer terkenal. Ini bukan berarti berita penting tidak memiliki nilai, tetapi cara penyajiannya yang lebih serius membuatnya kurang menarik algoritma yang mengutamakan engagement tinggi.

Ketika satu orang membagikan konten yang menarik, lingkaran sosialnya cenderung ikut melihat dan membagikan ulang, menciptakan efek bola salju yang mempercepat penyebaran informasi

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi preferensi ini adalah menurunnya rentang perhatian (attention span). Sebuah studi dari Microsoft (2015) menunjukkan bahwa rentang perhatian manusia telah berkurang menjadi sekitar delapan detik, lebih pendek dibandingkan dua dekade sebelumnya.

Hal ini membuat orang cenderung lebih memilih konten yang dapat dikonsumsi dalam hitungan detik atau menit, seperti video TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts, dibandingkan artikel panjang atau berita mendalam. Hal ini didukung juga dengan adanya algoritma yang mendorong keterlibatan tinggi pada konten yang menghibur.

Peran Media Sosial dan Algoritma dalam Menentukan Popularitas Konten
Media sosial mainstream seperti TikTok, Instagram, dan X itu lebih memprioritaskan engagement yang tinggi. Contohnya Tiktok, algoritma Tiktok ditekankan pada viralitas, sehingga video dari pengguna mana pun berpotensi menjadi viral tanpa melihat jumlah pengikut.

Waktu menonton pun juga menjadi sinyal utama dalam algoritma TikTok. Jika pengguna menonton video hingga selesai atau berulang-ulang, TikTok akan memprioritaskan video yang serupa. Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin di platform tersebut.

Dilihat dari bagaimana cara bekerja Algoritma diatas ini menjadikan bahwa video yang lebih menarik perhatian khalayak, seperti mendapatkan engagement yang tinggi ini yang menjadikan lebih banyak dikonsumsi dibandingkan berita-berita penting lainnya.

Konten-konten viral lebih mudah dibagikan karena formatnya yang menarik, seperti videonya yang pendek, meme, dan sebagainya. Konten tersebut juga yang makin banyak dilihat oleh khalayak, atau bahkan diikuti oleh mereka. Berbanding terbalik dengan berita penting yang memerlukan konteks yang lebih mendalam dan kurang menarik bagi khalayak.

Dampak dari fenomena ini bisa bersifat positif maupun negatif. Di satu sisi, konten viral dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran tentang isu tertentu jika dikemas dengan baik. Namun, di sisi lain, berita penting seringkali terabaikan, dan yang lebih mengkhawatirkan, hoaks atau misinformasi dapat menyebar lebih cepat daripada informasi yang akurat.

Untuk mengatasi tantangan ini, media dan jurnalis perlu beradaptasi dengan tren digital tanpa mengorbankan kualitas informasi. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengemas berita dalam format yang lebih menarik, seperti video pendek, infografis, atau storytelling interaktif, sehingga lebih mudah dicerna oleh audiens digital.

Pada akhirnya, keseimbangan antara hiburan dan informasi sangat diperlukan. Media harus lebih inovatif dalam menyajikan berita agar tetap relevan di era digital, sementara masyarakat juga perlu lebih bijak dalam memilih informasi yang mereka konsumsi. Dengan demikian, berita penting tidak akan tenggelam di tengah arus konten viral yang terus berkembang pesat.***

Lintang Asya Arita Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Perjalanan Menuju Puncak dan Drama Sekaligus Keseruan di Jalan

Bogordaily.net – Tanggal 17 Desember 2024 itu bagiku bukan sekadar tanggal biasa di kalender, bukan sekadar angka-angka yang tertera tanpa makna. Hari itu bagaikan gerbang menuju dunia lain, dunia di mana tawa, kebersamaan, dan kenangan bersatu membentuk mozaik cerita yang tak akan pernah pudar.

Aku dan tim management, sekumpulan manusia-manusia luar biasa yang tak hanya sekadar rekan kerja, tapi sudah menjelma menjadi keluarga kedua, bersiap menapaki petualangan yang telah kami nanti berbulan-bulan lamanya. Tujuan kami satu: villa megah di Puncak yang konon punya panorama seindah lukisan surga.

Siang itu, di bawah langit yang muram dan mendung yang bergelayut manja, kami berangkat dengan semangat membara. Hujan yang mengguyur sejak Bogor seolah ingin menguji seberapa kuat tekad kami. Butiran air hujan menghantam kaca mobil seperti ribuan peluru air, namun kami tak gentar.

Justru, tawa kami membahana, menembus derasnya hujan, mengubah perjalanan ini bukan sekadar perjalanan, tapi sebuah epik legendaris yang akan diceritakan ulang di meja-meja kantor selama berbulan-bulan ke depan.

Perjalanan darat yang biasanya membosankan, mendadak terasa seperti talkshow dadakan. Obrolan kami melompat-lompat dari satu topik ke topik lain, mulai dari gosip hangat di dunia entertainment, mitos-mitos villa angker di Puncak, sampai teori konspirasi tentang kenapa Indomie selalu lebih enak di warung.

Ternyata, dunia entertainment yang selama ini kami anggap penuh gemerlap dan glamor, menyimpan sisi gelap dan cerita-cerita absurd yang sukses bikin kami terpingkal-pingkal sepanjang jalan.

Setelah beberapa jam melawan kemacetan yang rasanya seperti antrian konser gratis, akhirnya villa impian itu muncul di hadapan kami. Berdiri megah bak istana di negeri dongeng, dengan arsitektur yang seolah dibangun untuk para bangsawan, lengkap dengan kolam renang yang airnya bening seperti kristal dan menghadap langsung ke bentangan alam yang membuat jantung serasa berhenti berdetak.

Langit sore memancarkan semburat jingga, seakan tahu betul bahwa kami layak mendapatkan sambutan semegah ini setelah bertarung dengan derasnya hujan dan belitan kemacetan. Begitu kaki kami menginjak lantai villa, insting penjelajah kami langsung menyala.

Seolah-olah villa ini adalah kastil misterius penuh rahasia, kami menjelajah setiap sudutnya dengan antusiasme seperti anak kecil pertama kali ke taman bermain. Dari ruang tamu yang luas bagai lapangan futsal indoor, dapur yang mengundang aroma petualangan kuliner, hingga kamar-kamar yang siap menampung mimpi-mimpi liar kami malam itu.

Tak butuh waktu lama sampai akhirnya kami sampai pada momen sakral: sesi memasak bersama. Dapur villa yang tadinya sunyi berubah menjadi arena peperangan rasa dan aroma. Para perempuan, lengkap dengan celemek kebesaran masing-masing, berkumpul di dapur layaknya pasukan koki kerajaan. Pisau-pisau menari di atas talenan, bumbu-bumbu berterbangan di udara, dan aroma daging yang dipanggang perlahan menyatu dengan udara sore yang sejuk.

Aku yang keahlian memasaknya tak jauh beda dengan membedakan mana garam mana gula, lebih banyak jadi supporter di pinggir dapur. Tapi semangatku tak kalah membara. Sementara itu, para lelaki—yang entah sejak kapan mengklaim diri sebagai divisi hiburan—memutuskan bahwa malam itu dapur butuh soundtrack.

Mereka karaoke tanpa malu, menyanyikan lagu-lagu patah hati dengan suara yang kalau didengar produser rekaman, mungkin langsung disuruh ganti karier. Suasana makin absurd saat mereka mulai bermain billiard sambil mengomentari cara kami memotong bawang.

Saat hidangan akhirnya tersaji, kami semua berkumpul di ruang TV, ruangan yang malam itu menjelma menjadi arena pertarungan game paling sengit dalam sejarah outing management. Game tebak gaya yang biasanya hanya permainan biasa, berubah jadi ajang unjuk bakat akting dan kreativitas yang melampaui batas normal.

Tebak gambar yang awalnya santai, mendadak jadi ajang debat kusir penuh teori dan argumen tak masuk akal. Tawa kami meledak-ledak tanpa henti, mengisi setiap sudut villa dengan gelombang kebahagiaan yang tak bisa dibendung.

Dan tentu saja, tak ada game seru tanpa hadiah yang menggiurkan. Beberapa lembar uang tunai berkilau di atas meja, seolah memanggil-manggil para peserta untuk mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya. Belum lagi reward dari pemilik management yang membuat kami makin bersemangat, seolah-olah kami sedang memperebutkan mahkota ratu sejagat raya.

Setelah energi kami terkuras oleh tawa dan teriakan, acara berlanjut ke tepi kolam renang. Daging-daging yang tadi ditusuk rapi, kini mulai dipanggang perlahan di atas bara api, mengeluarkan aroma yang sukses membuat perut keroncongan makin berdendang. Obrolan santai mengalir begitu saja, dari cerita masa kecil hingga mimpi-mimpi besar yang belum sempat dikejar.

Di bawah langit Puncak yang bertabur bintang, kami menyadari bahwa malam itu bukan sekadar malam biasa. Itu adalah malam di mana kami benar-benar menjadi tim, keluarga, sahabat, dan bagian dari cerita hidup satu sama lain.

Pagi menjelang terlalu cepat, seakan semesta enggan memberi kami waktu lebih lama. Udara dingin pagi itu terasa menggigit, tapi tentu saja, bukan tim management namanya kalau pagi-pagi bisa santai. Aku yang berencana menikmati pagi dengan damai, justru diseret masuk kolam renang oleh managerku sendiri.

Air dingin yang menusuk tulang sukses membuatku menjerit lebih kencang dari alarm kebakaran. Tapi di balik jeritan itu, ada tawa bahagia yang tak bisa kututupi. Tawa yang sama keluar dari mulut rekan-rekanku yang ikut tercebur, berenang sembari menyantap sarapan dengan cara paling absurd yang pernah ada.

Tak terasa waktu checkout tiba. Villa yang sehari sebelumnya terasa seperti istana megah, kini perlahan kembali menjadi bangunan sunyi. Kami mengepak barang-barang, menyelipkan kenangan di setiap sudut kamar, lalu berfoto bersama sebagai tanda bahwa kami pernah menaklukkan tempat ini.

Perjalanan pulang, meski dipenuhi kantuk dan lelah, tetap penuh cerita. Kami mampir di salah satu tempat makan di Ciawi, mengisi perut dan menyusun ulang memori-memori yang baru saja tercipta. Namun, tentu saja, drama tak pernah absen.

Sesampainya di Bogor, salah satu talent kami baru sadar bahwa tasnya tertinggal di tempat makan. Panik? Pasti. Tapi teknologi dan jasa pengiriman online menyelamatkan kami, membuat tas itu kembali ke pangkuan pemiliknya dengan selamat.***

Tenri Fahira Larasati Isma-Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB