Home Blog Page 1066

Pantai Minajaya dan Cerita yang Kami Bawa Pulang

0

Bogordaily.net – Liburan semester genap telah tiba. Setelah sibuk dengan berbagai aktivitas di perkuliahan masing-masing, kami berencana untuk bertemu dan merencanakan liburan semester genap kali ini. Rindu, mungkin itu kata yang paling pas untuk menggambarkan setiap pertemuan kami di akhir semester. Empat tahun menjalin persahabatan tak pernah membuat kami bosan merencanakan liburan bersama.

Kami memutuskan untuk bertemu disalah satu kafe, pertemuan kami diawali dengan cerita kesibukan selama di perkuliahan, lalu berlanjut hingga menentukan destinasi liburan kali ini.

Tujuan kami ialah pantai Karang Gantung di Sukabumi, namun siapa sangka perjalanan ini justru membawa kami ke pantai Minajaya yang menyimpan pesona pasir putihnya.

Pembahasan berlanjut ke persiapan logistik yang harus kami bawa, dan paling penting transportasi menuju pantai. Awalnya kami sempat kebingungan untuk mencari rental mobil, karena ini pertama kalinya kami sewa mobil untuk kebutuhan liburan.

Ditengah-tengah kebingungan, akhirnya kami menemukan salah satu rental mobil di Bogor dengan harga terjangkau, hanya mulai dari Rp300.000/24jam. Setelah diskusi panjang, akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing untuk merapikan bawaan pribadi dan sepakat untuk kumpul besok pagi di rumah Faris.

Pada keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Juni 2024, kami memulai perjalanan dari Bogor menuju Pantai Karang Gantung dengan perasaan senang, tak lupa juga kami berdoa sebelum memulai perjalanannya.

Perjalanan yang diperkirakan memakan waktu empat jam ini kami tempuh dengan mobil, di sepanjang perjalanan kami bernyanyi bersama, tertawa, dan sesekali berbagi camilan.

Melihat pemandangan yang berada di kanan kiri sudah bukit dan hutan-hutan menandakan bahwa kami sudah memasuki daerah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, kami bercerita satu sama lain tentang ekspektasi liburan kali ini, berharap perjalanan panjang akan terbayar dengan keindahan pantai di Kabupaten Sukabumi.

Setelah hampir dekat dengan pantai Karang Gantung, kami kebingungan dengan arah jalannya, karena setelah jalan besar seharusnya kami memasuki jalan alternatif tetapi kami merasa tidak yakin, karena jalan alternatifnya menanjak dan masih berbatu.

Masih dengan rasa ragu kami terus melewati jalan alternatif berbatu ini, hingga kami sampai ke pos yang ada di sana.

Kami diberhentikan oleh sekumpulan warga lokal kurang lebih 5 orang, mereka menjelaskan jika kami ingin memasuki pantainya, kami harus memarkir kendaraan di pos lalu menyewa ojek yang ada di sana dan di patok 50.000/orangnya.

Dalam keadaan ini kami ragu, tidak mungkin kami meninggalkan mobil sewaan di sini dan menambah biaya di luar perhitungan. Setelah negosiasi sepertinya tidak ada jalan keluar untuk tetap masuk ke area pantai, kami dengan berat hati memutuskan untuk balik arah.

Di tengah perjalanan dengan cepat kami mencari pantai pengganti yang ada di sekitar kabupaten Sukabumi. Sahabatku, Sakinah, menemukan pantai yang tidak jauh dari lokasi awal, yaitu pantai Minajaya. Pantai ini terletak di Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Tanpa membuang waktu, kami segera jalan menuju pantai berikutnya, ketika ingin memasuki pantai kami diharuskan membayar tiket masuk, hanya 15.000/orang saat itu, cukup murah dan lebih worth it tentunya.

Setelah sampai, sudah tercium wangi air laut dan suara ombak halus. Kami mencari lahan parkir yang sekiranya cocok untuk kami memasang tenda dan parkir mobil. Setelah itu kami memasang tenda untuk tidur, ada dua tenda yang kami pakai, tentu saja perempuan dan laki-laki terpisah.

Setelah tenda terpasang, kami menyempatkan untuk jalan-jalan di sekitar pantai. Suara ombak yang bergantian datang membuat rasa nyaman, berpadu dengan pasir putih bersih yang terasa lembut di kaki.

Angin yang berhembus cukup kencang membuat suasana menenangkan. Kami menikmati setiap sudut pemandangan yang ada, tidak lupa mengabadikan momen dengan berfoto bersama sebagai kenang-kenangan yang tak akan terlupakan.

Puas dengan jalan-jalan, tak sadar perut berbunyi, dengan segara aku dan Sakinah memasak untuk makan malam. Kami juga memesan ikan disalah satu warung yang menjual hasil tangkapan nelayan yang ada di sana.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan beristirahat. Rasa lelah mulai terasa setelah perjalanan kami ke pantai. Kami tidur agar esok pagi bisa bangun dan menikmati keindahan pantai di waktu fajar.

Keesokan paginya, setelah beristirahat semalaman kami kembali menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitar pantai. Udara pagi yang sejuk dan langit perlahan berubah keemasan, membuat momen menikmati sunrise di pantai Minajaya terasa begitu menenangkan. Keindahan cahaya matahari yang muncul di ufuk timur menjadi pelengkap kebersamaan kami di pagi itu.

Kami berlarian bersama, saling menjahili dengan mencipratkan air laut, tertawa bersama dan membuat kenangan baru bersama pantai Minajaya.

Salah satu sahabatku mengajak kami untuk mencoba ke pasir yang posisi di pertengahan laut, lalu kami berhati-hati berjalan melewati karang dan akhirnya sampai ke pasir itu.

Posisinya cukup unik karena terdapat di tengah-tengah laut, sepertinya ketika pagi air akan surut, namun ketika menjelang siang pasir ini akan tertutup dengan air laut.

Waktu berjalan begitu cepat, sudah seharusnya kami kembali ke pesisir pantai dan bersiap pulang. Namun saat di perjalanan, kakiku sedikit tergelincir dan terkena karang yang ada di sana, rasanya perih namun aku pikir itu hanya luka kecil, aku terus berjalan ke arah pesisir untuk melihat luka.

Sampai ke pesisir aku merasakan rasa sakit yang menjadi-jadi, entah kenapa rasa sakitnya lebih terasa ketika sudah sampai ke pesisir pantai, aku melihat ternyata terdapat goresan di kaki bawahku, lalu sahabatku dengan cepat membeli betadine dan hansaplast untuk menutupi luka.

Sahabatku cukup khawatir dengan kondisi ini, tapi aku meyakini mereka bahwa ini hanya luka kecil. Tanpa ingin membuang waktu, aku segara mengajak mereka untuk kembali ke tenda dan membereskan barang-barang.

Dikarenakan perjalanan yang sangat panjang, kami harus pulang di siang hari, agar sampai ke Bogor perkiraan sore/malam.

Perjalanan pulang masih seperti biasa, kami mengobrol, mendengar lagu, bahkan ada yang sudah tertidur lagi.

Di pertengahan perjalanan ada truk besar yang sedang melewati jalan yang sama seperti kami, namun kami di arahkan untuk terlebih dahulu menanjak sebelum truk besar.

Dengan perhitungan yang pas awalnya mobil kami ingin menanjak dengan aman, namun ternyata dari arah atas ada kemacetan, mobil kami seketika mati karena tidak kuat untuk menanjak.

Kami yang berada di dalam mobil panik, dan bingung karena mobil tidak bisa hidup. Warga sekitar sana dengan segara memberi ganjalan di mobil kami, agar antara mobil dan truk besar tidak terapit lagi.

Akhirnya mobil bisa kembali menanjak dengan aman, walau mobil sewa ini harus mendapatkan penyok di bagian belakang karena insiden tadi. Tapi itu semua bukan jadi masalah, yang penting kami aman dan selamat, kami juga akan bertanggungjawab untuk kerusakan mobil. Setalah kejadian tadi, suasana mobil lebih sunyi, mungkin masih terbayang dengan kepanikan tadi.

Sampailah sudah kami di Bogor, kami merasa kelelahan setelah perjalanan panjang tadi. Tetapi liburan kami kali ini di Pantai Minajaya menjadi momen yang tak terlupakan bagi kami. Meski hanya sebentar, kebersamaan yang terjalin kembali membuat liburan ini terasa begitu berharga.

Bukan tentang seberapa jauh tempat yang dituju, tapi tentang bagaimana tawa dan kebersamaan mampu mempererat persahabatan. Liburan kali ini membuat kami sadar, bahwa waktu dan jarak tak pernah mampu memisahkan kenangan yang sudah terukir.***

NABILA CIKAWATI
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Widya Hasian Situmeang: Mengabdi Melalui Ilmu dan Masyarakat

0

Bogordaily.net – Di tengah kesibukannya sebagai dosen, Widya Hasian Situmeang, SKPm, MSi, tetap konsisten menjalankan dedikasinya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan serta berkontribusi bagi masyarakat. Bagi sebagian orang, dunia akademik mungkin hanya tentang mengajar di dalam kelas, tetapi bagi Widya, perannya sebagai dosen memiliki makna yang lebih luas.

“Saya suka meneliti, mendampingi masyarakat, dan berbagi ilmu dengan mahasiswa. Dunia akademik memungkinkan saya melakukan semuanya sekaligus,” ujarnya saat diwawancarai.

Namun, perjalanannya menuju dunia pendidikan tinggi tidak terjadi begitu saja. Ada banyak pengalaman dan tantangan yang membentuknya hingga akhirnya memutuskan untuk berkarier sebagai akademisi di Sekolah Vokasi IPB.

Dari Dunia Akademik ke Pengabdian Masyarakat
Memulai perjalanannya di dunia akademik dengan menempuh studi di Program Studi Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM), Fakultas Ekologi Manusia, IPB. Ia lulus dengan predikat cumlaude dan berhasil mendapatkan beasiswa dari Tanoto Foundation sejak menempuh pendidikan S1 disemester 3.

Ketertarikannya terhadap pengembangan masyarakat semakin mendalam saat ia terlibat dalam berbagai penelitian di Pusat Studi Pembangunan Pedesaan (PSP3) IPB. Tidak hanya itu, ia juga aktif sebagai aktivis di Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), sebuah organisasi yang bergerak dalam isu pangan lokal dan kesejahteraan petani.

“Kegiatan di NGO dan penelitian membuat saya melihat langsung permasalahan di lapangan. Saya belajar bahwa teori yang dipelajari di kampus harus bisa diimplementasikan untuk membantu masyarakat,” katanya.
Pengalaman tersebut akhirnya membawanya melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di bidang Sosiologi Pedesaan di IPB.

Mengabdi Sebagai Akademisi dan Peneliti
Tahun 2021, Widya resmi menjadi dosen tetap di Sekolah Vokasi IPB, tepatnya di Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian (PPP). Baginya, ini adalah kesempatan besar untuk menghubungkan ilmu yang ia pelajari dengan praktik di lapangan.

Selain mengajar, ia juga aktif melakukan penelitian dan terlibat dalam berbagai program sertifikasi kompetensi di IPB. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Bidang Mutu di Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSP) Vokasi IPB.

Beberapa penelitian yang digelutinya berkaitan dengan sosiologi pedesaan, komunitas pesisir dan petani, pangan lokal, serta kajian gender. Minatnya dalam bidang tersebut membawanya meraih hibah penelitian dan kesempatan untuk mengikuti pelatihan di Glasgow, Skotlandia, tentang tata kelola pendidikan vokasi.

Menghadapi Tantangan dalam Perjalanan Karir
Menjadi dosen tentu bukan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar bagi Widya adalah menyeimbangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Ketiganya sangat menarik bagi saya, tetapi dalam praktiknya, perlu manajemen waktu dan energi yang baik,” ungkapnya.

Namun, bagi Widya, tantangan bukanlah alasan untuk menyerah. Justru, semakin banyak rintangan yang dihadapi, semakin besar semangatnya untuk terus belajar dan berkembang.

“Saya menemukan passion saya di sini. Saya suka mengajar dan meneliti. Justru tantangan membuat saya semakin yakin bahwa ini adalah jalan yang ingin saya tempuh,” tambahnya.

Harapan dan Visi ke Depan
Sebagai akademisi, Widya berharap dapat terus berkontribusi dalam penelitian yang berdampak bagi masyarakat, khususnya di bidang sosiologi pedesaan dan pembangunan masyarakat. Ia juga ingin terus mendukung mahasiswa untuk berkembang dan menemukan potensi terbaik mereka.

“Dunia akademik bukan hanya tentang gelar dan penelitian, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa membuat ilmu itu bermanfaat untuk orang banyak,” tutupnya.
Prinsip yang selalu ia pegang, membuktikan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga sebuah pengabdian untuk masa depan yang lebih baik.***

NABILA CIKAWATI
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Kesehatan Mental Mahasiswa: Tanggung Jawab Siapa?

0

Bogordaily.net – Kesehatan mental telah menjadi isu serius di kalangan mahasiswa, tidak sedikit orang yang masih menganggap sebagai hal tabu dan sering mengabaikannya di tengah kesibukan akademis.

Sedangkan di balik prestasi akademik/non-akademik, kesibukan organisasi, ekspektasi keluarga dan persaingan sosial di kampus, membuat banyak mahasiswa yang melawan tekanan mental secara diam-diam.

Karena hal ini menjadikan mahasiswa sulit terbuka ketika mengalami masalah, karena takut dianggap lemah atau tidak mampu bersaing.

Jika sudah di situasi seperti ini, apakah menjaga kesehatan mental mahasiswa hanya menjadi tanggung jawab individu semata?

Ataukah ada tanggung jawab bersama antara mahasiswa, kampus, dan keluarga dalam menciptakan suasana yang lebih suportif?

Mahasiswa dianggap sebagai individu dewasa yang mampu mengelola stres dan tekanan di kampus secara mandiri.

Mereka selalu diharapkan dapat menyeimbangkan antara kehidupan akademisi dan pribadinya, harus mempunyai kesadaran diri untuk mengenali tanda-tanda stres dan segera mencari bantuan untuk menjaga kesehatan mental.

Tetapi kenyataannya, tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan tersebut atau kesiapan mental untuk menghadapi tekanan yang ada. Masih banyak yang merasa ragu untuk terbuka tentang kesehatan mentalnya karena takut dianggap lemah.

Pada situasi seperti ini pihak kampus memiliki tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan kampus yang suportif dalam mendukung kesehatan mental mahasiswanya.

Setiap kampus idealnya menyediakan ruang konsultasi psikologi yang mudah diakses, agar mahasiswa bisa mendapatkan bimbingan konseling gratis dan merasa masih ada tempat untuk mereka berbagi atau terbuka di kampus.

Kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan mental mahasiswa semakin berkembang, terbukti dari banyaknya universitas di Indonesia mulai serius menanggapi kesehatan mental di kalangan mahasiswa.

Berbagai kampus secara aktif membantu menyediakan layanan konseling yang aman dan nyaman. Langkah ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental dan menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan suportif.

Selain adanya peran kampus, lingkungan sosial juga berperan besar dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa. Biasanya teman sebaya sering menjadi tempat pertama bagi mahasiswa untuk berbagi keluh kesah.

Kehadiran mereka dapat menjadi dukungan emosional, namun sayangnya, tidak semua teman memiliki pemahaman yang cukup tentang cara memberikan bantuan yang tepat.

Di sisi lain, keluarga juga memiliki peran penting, terutama bagi mahasiswa yang merantau. Adanya dukungan emosional dari keluarga dapat menjadi faktor yang berpengaruh dalam menjaga keseimbangan mental, oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk lebih peka dan terbuka dalam memberikan dukungan yang dibutuhkan.

Lingkungan yang aman dan nyaman akan membuat mahasiswa merasa lebih tenang saat menghadapi tekanan akademis maupun kehidupan pribadi.

Dengan adanya dukungan dari lingkungan sosial yang positif, mahasiswa akan merasakan kehadiran dukungan dalam mengatasi kesulitan kesehatan mental yang mereka hadapi.

Pada akhirnya, kesehatan mental mahasiswa bukanlah hal yang bisa diabaikan. Kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab individu semata, tetapi juga tanggung jawab bersama yang memerlukan perhatian serius.

Mahasiswa memang perlu memiliki kesadaran diri untuk mengenali tanda-tanda stres dan mencari bantuan, tetapi tanpa dukungan dari kampus, keluarga, serta teman sebaya, upaya tersebut akan terasa lebih berat.

Diharapkan semakin banyak pihak yang memahami betapa pentingnya kesehatan mental mahasiswa dan ikut berperan dalam menciptakan lingkungan akademisi yang lebih sehat, suportif, dan aman.

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dapat tumbuh dan berkembang secara akademis, tetapi juga menjaga kesejahteraan mental yang akan membantu menciptakan generasi yang lebih kuat secara mental dan emosional.***

NABILA CIKAWATI
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Pangalengan, Bersama Pamaung IPB

0

Bogordaily.net – Pada akhir bulan Desember 2024, saya berkesempatan mengikuti trip tahunan bersama teman-teman dan alumni dari Pamaung SV IPB. Kegiatan ini telah menjadi tradisi yang selalu ditunggu-tunggu oleh para anggota. Setiap tahun, kami berkeliling ke tempat-tempat menarik, dan kali ini kami memutuskan untuk berkunjung ke Pangalengan, Bandung, menginap semalam di villa milik Sora, salah satu anggota Pamaung. Trip ini diikuti oleh sekitar 40 anggota Pamaung dan beberapa alumni, yang menjadikannya salah satu perjalanan paling seru yang pernah saya alami.

Kegembiraan sudah terasa bahkan sebelum keberangkatan. Saya merasa sangat antusias karena setiap perjalanan dengan Pamaung selalu memberikan kehangatan kebersamaan. Lebih dari sekadar trip biasa, ada semacam keakraban dan rasa kekeluargaan yang sulit dijelaskan. Selain itu, saya bersemangat karena akan mengendarai motor kesayangan saya, Astrea Grand 1997 yang saya beri nama “Lulu.” Rasanya ada kesenangan tersendiri ketika bisa menikmati perjalanan panjang di atas motor yang telah menemani banyak momen dalam hidup saya.

Perjalanan kami dimulai setelah menyelesaikan agenda rapat event tahunan Pamaung, yaitu rapat persiapan acara “Parahyangan Exploring IPB 2025” yang diadakan di SMANSA Bandung. Usai rapat, saya langsung berangkat bersama lima motor lainnya tanpa membawa boncengan. Meskipun kami tidak berangkat bersama seluruh peserta trip, ada keseruan tersendiri saat memacu motor di jalanan Bandung menuju Pangalengan.

Perjalanan menuju Pangalengan sendiri menjadi salah satu momen favorit saya. Jalur menuju ke sana tidak hanya menantang, tetapi juga memberikan pemandangan yang menenangkan. Hujan sempat turun di tengah perjalanan, tetapi hal itu justru menambah sensasi petualangan. Dibalut jas hujan dan dibasahi gerimis, saya menikmati setiap tikungan jalanan yang membawa kami semakin dekat ke tujuan. Angin dingin yang menggigit kulit dan tetesan hujan yang membasahi jalan hanya membuat saya semakin menghargai kebersamaan dengan teman-teman di perjalanan ini.

Sesampainya di villa, udara dingin langsung menyergap tubuh saya yang sudah basah kuyup. Pangalengan memang terkenal dengan udaranya yang sejuk, dan ditambah hujan yang turun saat perjalanan membuat saya semakin kedinginan. Namun, begitu tiba di villa dan disambut oleh hangatnya teman-teman yang sudah lebih dulu sampai, rasa dingin itu perlahan memudar. Ada kehangatan dalam kebersamaan yang terasa begitu erat di antara kami.

Malam itu, setelah membersihkan diri dan beristirahat sejenak, kami melanjutkan dengan acara makan malam bersama. Para perempuan sibuk memasak hidangan, sementara para lelaki menyiapkan bahan untuk acara bakar-bakaran. Suasana terasa sangat akrab, dipenuhi canda tawa dan obrolan hangat yang mengalir begitu saja. Ini adalah momen yang selalu saya tunggu-tunggu setiap tahunnya.

Setelah makan, kami mengisi malam dengan karaoke bersama. Tidak berhenti di situ, keseruan terus berlanjut dengan berbagai permainan. Ada kompetisi antar-angkatan di mana setiap kelompok harus menampilkan pertunjukan lucu. Kami semua tertawa terbahak-bahak melihat kreativitas dan kekonyolan teman-teman. Ada juga permainan lain di mana alumni berbagi hadiah uang kepada kami, para anggota yang lebih muda, sebagai bentuk apresiasi dan kebersamaan yang begitu kental.

Pagi harinya, kami kembali menikmati kebersamaan dengan sarapan bersama. Setelah itu, kami mengunjungi Situ Cileunca yang berada tepat di depan villa. Pemandangan di sana sangat memukau. Kabut tipis menyelimuti sebagian danau, namun hal itu justru menambah keindahan suasana pagi di Pangalengan. Udara segar dan pemandangan yang menyejukkan membuat kami betah berlama-lama di sana, menikmati keheningan alam dan kebersamaan.

Menjelang siang, beberapa dari kami memutuskan untuk berenang di kolam villa. Kami bermain voli air dan beragam permainan lainnya di dalam air. Suasana ceria penuh tawa terus mengisi hari itu. Meski udara masih dingin, bermain air bersama teman-teman membuat semuanya terasa hangat dan menyenangkan.

Setelah puas bermain, kami akhirnya bersiap untuk pulang. Saya dan teman-teman memutuskan berangkat dari villa sekitar pukul lima sore. Perjalanan pulang sedikit berbeda karena jalanan macet, membuat kami baru tiba di Bandung sekitar pukul tujuh malam. Namun, anehnya saya sama sekali tidak merasa kesal. Keseruan yang kami alami selama di villa membuat perjalanan pulang terasa ringan dan tetap menyenangkan.

Trip ini sungguh menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Bukan hanya karena tempat yang indah atau aktivitas seru yang kami lakukan, tetapi karena kehangatan dan kebersamaan yang selalu hadir setiap kali Pamaung berkumpul. Perjalanan seperti ini akan selalu saya nantikan di akhir taun, Pamaung, Nu Aing!***

Muhamad Ikhlas Andhana, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB

 

Makan Bergizi Gratis: Solusi Nyata atau Sekadar Janji?

0

Bogordaily.net – Ketercukupan gizi terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh bangsa dan negara. Hal tersebut yang menjadi landasan dari pemerintah Kabinet Prabowo-Gibran untuk meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak usia sekolah di seluruh Indonesia.

Dilansir dari situs Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Provinsi Sumatra Utara, program MBG bertujuan untuk mengurangi angka malnutrisi dan stunting yang ada di Indonesia, khususnya pada kelompok rentan (balita, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui) yang akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup dari masyarakat. Program ini juga menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan satu dari delapan misi Asta Cita, yaitu untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Program unggulan ini sudah direncanakan oleh pemerintah dari tahun 2024, berawal dari gagasan tim Prabowo-Gibran saat berkampanye dan dirumuskan secara lebih detail oleh seluruh kabinet pemerintahan saat Presiden Prabowo menjabat.

Program MBG sudah melakukan berbagai uji coba sebelum akhirnya mulai diluncurkan pada Januari 2025, meskipun masih ketidakmerataan dari program ini dikarenakan masalah anggaran. Program yang tengah berjalan ini memiliki tujuan yang baik, akan tetapi dalam implementasi yang terjadi di lapangan terdapat banyak sekali tantangan dan evaluasi yang perlu diperhatikan agar bisa berjalan dengan maksimal.

Dampak dari program MBG ini berjalan linier dari segi kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Pencegahan terjadinya malnutrisi dan stunting dalam kelompok rentan dengan menjaga tercukupinya gizi yang telah sesuai dengan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) bagi kelompok tersebut.

Anak-anak yang telah tercukupi gizinya diharapkan dapat belajar dengan lebih konsentrasi sehingga akan meningkatkan penyerapan materi dalam pembelajaran di sekolah. Program ini juga menggaet UMKM sebagai mitra untuk memproduksi pangan yang akan disalurkan kepada anak-anak. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan sektor ekonomi dalam negeri, banyak UMKM yang akhirnya mendapatkan peluang dan pendapatan baru.

Terlepas dari berbagai manfaat yang dimiliki oleh program ini, selama hampir satu bulan berjalan, terdapat kendala dalam implementasinya. Dimulai dari distribusi yang belum merata di seluruh daerah, terutama di daerah terpencil.

Masih banyak dari daerah-daerah terpencil yang tidak mendapatkan program MBG ini secara rutin. Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah kurangnya infrastruktur yang memadai dalam proses pengiriman, contohnya di beberapa daerah luar pulau Jawa mengeluhkan adanya keterlambatan distribusi yang disebabkan oleh sulitnya akses jalan ke tempat tersebut. Beberapa sekolah juga menyebutkan mendapatkan jumlah yang terbatas, sehingga tidak mencukupi untuk semua muridnya.

Kualitas makanan yang disajikan juga tidak konsisten. Bertebaran di media sosial mengeluhkan kalau mereka mendapatkan makanan yang sudah tidak segar, bahkan sudah ada yang basi, contohnya seperti di beberapa sekolah di Jawa Tengah dan Jakarta yang mendapatkan makanan basi karena penyimpanan yang kurang memadai.

Menu makanan yang kurang beragam tidak dapat memenuhi gizi secara optimal, bahkan ada beberapa yang hanya menyediakan gizi seadanya, tanpa protein yang optimal. Minimnya pengawasan membuat berbagai hal ini bisa terjadi dalam pelaksanaannya.

Program yang bernilai fantastis sangatlah rentan terhadap kasus penyelewengan dana yang disalurkan. Program MBG diperkirakan membutuhkan dana ratusan triliun ini perlu diawasi dengan seksama bagaimana pemanfaatan dana yang disalurkan.

Beberapa dugaan sudah mulai muncul menyebutkan bahwa ada pihak katering yang sengaja markup harga makanan yang mereka sediakan. UMKM yang menjadi mitra program MBG akan diberikan dana sebesar 500 juta sebagai bantuan modal dari pemerintah. Hal tersebut dapat menjadi pisau bermata dua, pengawasan ketat serta transparansi dapat mencegah adanya penyalahgunaan dana tersebut.

Salah satu masalah utama dari program ini adalah terkait dengan efektivitasnya dalam jangka panjang. Sejatinya program ini bagus untuk mengatasi masalah jangka pendek. Kita dapat mempertanyakannya bagaimana prospek jangka panjangnya.

Jika untuk kesehatan jangka panjang, program ini akan terasa sia-sia kalau tidak diberlangsungkan dengan edukasi terkait esensi makan bergizi itu sendiri. Orang-orang tidak akan memahami bagaimana sebenarnya program ini berjalan untuk memenuhi gizi mereka di setiap golongan dengan kebutuhannya masing-masing.

Melihat dari sisi ekonomi, untuk meningkatkan kualitas hidup bertaraf ekonomi, program ini tidak cukup mampu mengatasi masalah jangka panjang seperti kemiskinan. Betul bahwa program ini membantu kalangan kurang mampu untuk mendapatkan makanan tanpa biaya, tetapi manfaat jangka panjangnya masih perlu dipertanyakan.

Dibandingkan dengan program pendidikan gratis yang jelas memberikan manfaat jangka panjang sebagai bekal anak-anak hingga dewasa, program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih memerlukan pengkajian ulang dan perencanaan jangka panjang untuk memastikan dampaknya lebih luas.

Berbagai masalah dalam implementasi program ini memang menjadi tantangan bagi pemerintah. Namun, beberapa solusi dapat diterapkan guna menjaga jalannya program ini secara lebih baik. Sistem pengawasan ketat dan evaluasi rutin dapat menjadi kunci utama.

Pengawasan terhadap transparansi pengelolaan anggaran dapat mencegah terjadi adanya penyelewengan dana, serta pengawasan distribusi makanan dapat menjaga kualitas serta pasokan yang tercukupi ke seluruh daerah. Evaluasi secara rutin dari program ini, terkait bagaimana pelaksanaan, pendanaan, pemanfaatan, dan hasil yang diperolehnya, sehingga dapat terukur sejauh mana program ini berdampak dan sebaik apa pelaksanannya di lapangan.

Agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat, pemerintah perlu memastikan distribusi yang merata, menjaga kualitas makanan, serta meningkatkan transparansi anggaran. Dengan pengawasan yang ketat dan evaluasi rutin, program ini dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan, sehingga tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga investasi nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.***

Balyan Firjatullah
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Dari Healing ke Horor: Drama Ban Kempes di Gunung Mas

0

Bogordaily.net – Siang hari dipertengahan bulan Desember tahun 2023 lalu, saya dan ketiga teman saya berkunjung ke Gunung Mas Puncak Bogor, demi pemenuhan tugas Mata Kuliah Reportase. Saat itu masih musim Ujian Akhir Semester (UAS), namun karena jadwalnya yang berakhir sekitar pukul 09.00 pagi kami pun yakin untuk berkunjung ke Gunung Mas.

Sejujurnya, tugas kelompok saya dan satu teman saya sudah selesai dan tujuan saya mengikuti kedua teman yang lain adalah untuk healing sejenak di tengah banyaknya tugas akhir dan ujian yang merajalela.

Awal perjalanan dimulai dari teman saya yang pergi mengisi angin ban nya terlebih dahulu, karena kami pergi berempat kendaraan yang digunakan ada dua motor. Setelah, teman saya selesai mengisi angin ban kami pun memulai perjalanan ke arah Puncak, Bogor.

Perjalanan menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit untuk mencapai pintu masuk Gunung Mas dengan diselingi beberapa titik kemacetan yang biasa dijumpai di Ciawi, Bogor akan tetapi, karena kami menggunakan sepeda motor kemacetan tersebut tidak terlalu mengganggu perjalanan.

Setibanya kami di pintu masuk, kedua motor langsung melenggang ke arah tempat parkir. Setelahnya, kedua teman saya yang memang ada urusan di Gunung Mas langsung mengerjakan tugasnya, yakni mewawancarai beberapa karyawan di Gunung Mas.

Selesai dengan tugas, kami pun langsung mengitari Gunung Mas untuk melihat keindahan alam di sana, ditambah pula dengan angin sejuk khas di Puncak membuat perjalanan kami seolah terbayarkan.

Mengambil beberapa foto dan video baik untuk kebutuhan tugas maupun pribadi kami lakukan selama satu setengah jam. Sudah puas melihat-lihat kami pun mantap untuk pulang, karena saya juga yang sebenarnya memiliki agenda lain dengan teman-teman Asistensi Kristen di siang hari.

Titik balik dari semua senyuman serta tawa kami akhirnya pun tiba. Panggil saja teman laki-laki saya sebagai ‘A’ lalu dua teman perempuan saya yang lainnya sebagai ‘B’ dan ‘C’. A adalah orang yang mengisi angin ban tepat sebelum berangkat dan ialah yang membawa motor sambil membonceng teman saya B.

Tepat setelah keluar dari pintu masuk Gunung Mas, belum ada 100 meter, tiba-tiba ban motor milik A kempes, sehingga kami langsung buru-buru mencari bengkel isi angin ban.

Sudah diisi ulang angin ban motor milik A, kami pun melanjutkan perjalanan tanpa adanya kecurigaan. Kami pikir hanya sedang tidak beruntung saja si A hari itu karena harus dua kali isi angin ban.

Saya yang dibonceng oleh teman saya, C dan melanjutkan perjalanan di depan motor A dan B. Tanpa rasa curiga kami jalan cukup lama, hingga tiba-tiba masuk telepon dari C ke gawai saya.

Awalnya, saya tidak sadar karena mematikan nada dering gawai selama perjalanan, akan tetapi ketika saya hendak melihat jam di layar gawai muncul beberapa notifikasi pesan dan telepon yang terlewat dari B. Rasa bingung muncul di benak saya, namun dengan pasti akhirnya C dan saya menghentikan laju motor dan mengangkat telepon tersebut.

Rasa curiga tersebut memang tidak meleset, karena benar saja lagi-lagi A harus menghentikan motornya karena ban nya yang kembali kempes.

Saya dan C pun memutar arah kembali ke tempat di mana A dan B berhenti, ternyata jarak yang ditempuh cukup jauh yang menunjukkan bahwa antara jarak A mengisi ulang angin ban tepat setelah keluar pintu masuk Gunung Mas dengan tempat ban nya kembali kempes tidak cukup jauh.

Setibanya saya dan C, kami sudah melihat A dan B yang tengah mendorong motor akhirnya dengan bantuan saya dan C kami dorong motor hingga menemukan bengkel.

Sesudah dicek oleh montir di sana, diketahui bahwa ban dalam motor A harus diganti, namun seolah-olah hari itu dipenuhi dengan kesialan bengkel tersebut tidak memiliki ban dalam.

Mau tidak mau akhirnya C dan satu montir di sana pergi mencari ban dalam. Saat itu, perjalanan yang kami kira hanya akan memakan waktu 30 menit menjadi dua jam lamanya.

Sedangkan, saya yang memang ada agenda lain harus menundanya dan mengirimkan pesan berupa permintaan maaf kepada teman saya yang lain.

Setelah cukup lama mengganti ban dalam, akhirnya saya pun mulai menyadari kejanggalan ini.

Karena bagaimana bisa dalam satu hari sudah ada dua kali teman saya A, mengisi angin ban dan satu kali mengganti ban dalam?

Mengingat-ingat beberapa nasehat orang tua dan berita di media massa, juga mencocokkan musim saya pun baru sadar mengenai berita rumor tentang pedagang licik yang menyebarkan benda tajam di jalanan, khususnya pada musim liburan untuk mendapatkan pelanggan.

Saat itu adalah bulan Desember pertengahan dan jumlah kendaraan yang lewat memang cukup padat, maka dari itu saya simpulkan bahwa kedua hal ini ada kaitannya, namun tidak pernah terlintas bahwa saya serta teman-teman akan menjadi korbannya.

Ban motor A yang sudah selesai diganti ban dalamnya membuat kami yakin bahwa tidak akan ada lagi kejadian yang sama, namun seolah saya serta teman-teman tengah ditertawai tidak ada jalan 50 meter kembali lagi kami ulang kisah lama.

Benar sekali, ban motor milik A lagi-lagi kempes dan untungnya jarak motor C dan saya dengan A dan B tidak jauh demi mewaspadai kejadian serupa kembali terjadi. Di siang hari itu, akhirnya kami dorong bersama motor A, untungnya tidak jauh dari sana kami temukan bengkel untuk mengisi angin ban motor A.

Sudah mulai muak akhirnya, saya sampaikan dugaan saya kepada teman-teman dan menyuruh A untuk lebih baik berjalan di tengah dan jangan ke pinggir untuk langkah preferentif. Selain itu, saya dan B bertukar jadi saya dibonceng oleh A dan B dibonceng oleh C.

Benar saja, sesudahnya tidak ada kejadian serupa lagi karena motor A yang selalu dijalankan di tengah, walaupun cukup beresiko namun kami tidak ingin mengulang terus menerus kejadian sama, yang awalnya kami kira akan sampai di kampus siang hari molor hingga sore hari ditambah pula dengan hujan karena akhir tahun di Bogor yang memang curah hujannya termasuk tinggi.

Mengucapkan salam perpisahan saya pun langsung berlari menuju tempat janji saya dengan teman Asistensi Kristen untuk meminta maaf dan mengikuti agenda.

Cerita ini saya beberkan kepada banyak orang karena kejadian yang sebenarnya cukup membuat kesal, namun jika diingat kembali agak konyol karena betapa absurd kejadian tersebut.

Teman saya, A yang juga akhirnya perlu merogoh kocek cukup dalam karena bolak-balik ke bengkel cukup membuat kami kasihan. Akhir kata, tetap waspada di mana pun kita membawa kendaraan khususnya di musim liburan.***

Happy Taranian Olifia
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Perjalanan Menuju Kota Pattani Perbatasan Malaysia – Thailand

0

Bogordaily.net – Jam menunjukkan angka 03:00 di pagi hari yang menandakan saya harus segera bersiap-siap untuk pergi keluar. Pada hari itu, tanggal 5 Juli 2024 tepatnya hari Jumat, saya dan keluarga saya berangkat menuju Kota Pattani, salah satu kota Islam yang ada di Thailand, yaitu Pattani. Kami berangkat dari kota Merchang yang terletak di distrik Marang, negara bagian Terengganu, Malaysia.

Kami memutuskan untuk berangkat menggunakan jalur darat dengan mobil. Sekitar pukul 04:00 pagi, setelah semua barang sudah siap, kami pun memulai perjalanan. Udara masih dingin dan langit masih gelap.

Di perjalanan, kami sempat menunaikan salat Subuh di salah satu tempat peristirahatan. Suasana Subuh di jalan terasa syahdu, dengan lampu jalan yang samar-samar menemani perjalanan kami.

Setelah salat Subuh, kami melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk berhenti sejenak di Kampung Raja, Malaysia, untuk sarapan. Kami menikmati suasana pagi di kampung tersebut sambil menyantap roti canai dengan kari ayam yang simple tapi lezat.

Melihat proses pembuatan roti canai itu sendiri adalah salah satu kebiasaan saya melihat dalam feeds Instagram, namun kini secara langsung. Setelah perut terisi, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju perbatasan.

Saat mendekati perbatasan, kami tiba di tempat imigrasi perahu. Proses imigrasi berjalan cukup lancar, dan tak lama kemudian kami menyeberang menggunakan kapal. Perjalanan menyeberang ini menjadi pengalaman yang seru dan tak terlupakan.

Setelah beberapa jam perjalanan, sekitar pukul 12:00 siang waktu setempat, kami baru tiba di daerah Mayo – La-Nga, Thailand. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di rest area dan sekalian menunaikan salat Jumat sebelum melanjutkan perjalanan ke Pattani.

Usai menunaikan salat Jumat, kami segera menuju hotel di Pattani. Begitu tiba, suasana nyaman hotel membuat kami merasa lega setelah perjalanan panjang. Setelah beristirahat sejenak dan membersihkan diri, semangat kami kembali pulih untuk melanjutkan petualangan.

Kami memulai dengan berziarah, lalu mengunjungi salah satu pesantren ternama di Pattani. Di sana, kami disambut dengan hangat oleh pemilik pesantren. Kami berbagi cerita dan pengalaman yang membuka wawasan baru tentang kehidupan dan pendidikan Islam di daerah tersebut.

Perjalanan kami semakin berkesan saat mengunjungi beberapa masjid bersejarah yang kaya akan sejarah Islam di Pattani. Kami menyusuri jejak masa lalu, mulai dari masjid tertua yang berdiri kokoh dengan nuansa klasiknya, hingga masjid peninggalan Kerajaan Pattani, yang awal mula sempet hilang tak terurus karena ketutupan semak-semak tumbuhan yang amat sangat lebat, namun kemudian mulai terurus kembali dan dijadikan tempat yang bisa dikunjungi.

Perjalanan kami di Pattani memang tidak berlangsung lama, hanya dua hari. Namun, dalam waktu singkat itu, kami berhasil mengisi hari-hari dengan pengalaman yang luar biasa.

Mengunjungi pasar makanan malam yang ramai dan penuh dengan aroma kuliner khas Thailand, hingga berkunjung ke Sokhla University yang menjadi salah satu pusat pendidikan ternama di kawasan ini, semakin memperkaya perjalanan kami. Kenangan-kenangan ini membuat perjalanan singkat kami terasa sangat berkesan dan tak terlupakan.***

Muhammad Sachio Alifya Rahman – Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

 

Robi Athallah, Saat Keputusan Kecil Membentuk Perjalanan Besar

0

Bogordaily.net – Kadang kegagalan itu kelihatan kayak akhir segalanya, tapi sebenarnya bisa jadi awal dari sesuatu yang lebih baik. Kisah Robi Athallah, mahasiswa Komunikasi Digital dan Media di Sekolah Vokasi IPB University, adalah bukti nyata kalau di balik setiap kegagalan, selalu ada pelajaran berharga dan jalan menuju impian yang lebih besar. Perjalanan Robi yang pernah gagal masuk SMA negeri sampai akhirnya bisa kuliah di IPB jadi bukti kalau usaha dan doa nggak pernah sia-sia.

Awal Perjalanan: Dari Kecewa Jadi Bangkit
Tahun 2020 jadi momen paling berat buat Robi. Meski dia aktif di berbagai organisasi dan sering ikut kegiatan sekolah, Robi nggak lolos masuk SMA negeri gara-gara sistem seleksi yang berubah karena pandemi COVID-19. Waktu lihat temen-temennya diterima di sekolah impian mereka, Robi ngerasa sedih dan kecewa banget.

Tapi hidup memang suka kasih kejutan. Di SMA swasta tempat dia akhirnya bersekolah, Robi ketemu orang-orang yang percaya sama dia, bahkan lebih dari dia percaya sama dirinya sendiri.

Berkat dukungan guru dan temen-temen, Robi mulai bangkit lagi. Dia berani nyalonin diri jadi Ketua OSIS — dan terpilih! Dari sini, Robi belajar banyak soal kepemimpinan, kerja sama, dan gimana caranya jadi pemimpin yang bisa bikin perubahan.

Nemu Peluang di Tengah Rintangan
Waktu kelas 12, ketakutan Robi muncul lagi. Persiapannya buat masuk perguruan tinggi belum mateng, sementara temen-temennya udah sibuk ikut bimbel di sana-sini. Bener aja, di jalur undangan pertama, Robi gagal lagi. Rasa kecewa dan sedih datang lagi, tapi kali ini dia nggak mau nyerah.

Sampai suatu hari, Robi lihat info soal jalur Ketua OSIS buat masuk IPB University. Dia nggak mikir panjang, langsung daftar dan siapin semua persyaratan. Nggak disangka, dia keterima! Jalan yang sebelumnya nggak pernah dia pikirkan justru jadi pintu menuju masa depan yang cerah.

Doa yang Jadi Nyata
Setahun sebelum jadi mahasiswa IPB, Robi pernah jalan-jalan ke Bogor sama keluarganya. Di sebuah masjid, dia berdoa supaya kalau memang Bogor adalah kota yang ditakdirkan buat dia, semoga dia bisa kuliah di sini.

Nggak lama, doanya terkabul. Waktu dia jadi mahasiswa IPB dan lagi praktikum di salah satu desa, dia balik lagi ke masjid itu — dan di momen itu, Robi sadar kalau jalan Tuhan emang selalu penuh kejutan.

Perjalanan yang Masih Panjang
Sekarang, sebagai mahasiswa Komunikasi Digital dan Media di Sekolah Vokasi IPB, tantangan baru terus berdatangan. Tugas kuliah yang numpuk, kegiatan organisasi, dan tanggung jawab pribadi bikin Robi harus pintar-pintar bagi waktu.

Kadang capek, kadang pengen nyerah, tapi dia selalu inget perjalanan panjang yang udah dia lalui.
Dari semua yang udah Robi lewati, satu hal yang dia pelajari: kegagalan bukan akhir, tapi batu loncatan buat jadi lebih baik.

Dengan usaha, doa, dan sedikit keberanian buat terus melangkah, siapa aja bisa nemuin jalan terbaik dalam hidupnya.

Kisah Robi ini semoga bisa jadi pengingat buat siapa pun yang lagi berjuang, kalau di balik setiap rintangan selalu ada kesempatan. Dan yang paling penting, percaya deh — jalan Tuhan itu selalu indah.***

Muhammad Sachio Alifya Rahman
Komunikasi Digital dan Media SV IPB

 

Teknologi, Cara Baru untuk Berkomunikasi

0

Bogordaily.net – Sejak dahulu, manusia sudah melakukan komunikasi dengan berbagai cara. Dari mulai berkomunikasi menggunakan simbol-simbol, gambar, kode, surat, serta alat dan cara berkomunikasi lainnya. Berkomunikasi pada era saat ini telah berevolusi dari berkembangnya teknologi yang sangat pesat. Manusia melakukan komunikasi mengikuti perkembangan zaman. Semakin maju teknologinya, semakin maju pula cara dan alat-alat untuk berkomunikasi yang dilakukan oleh manusia.

Dikutip dari jurnal artikel Mohammad Sudi pada tahun 2018, “Hampir semua tentang manusia dan kehidupannya, selalu berhubungan dengan komunikasi”.

Perkembangan Cara dan Alat Komunikasi
Perkembangan teknologi komunikasi tidak hanya mempermudah komunikasi, tetapi juga memperlancar interaksi manusia. Berikut adalah revolusi alat dan cara komunikasi manusia dari masa ke masa:

1. Zaman Praaksara
Pada zaman belum ditemukannya tulisan, manusia berkomunikasi menggunakan simbol-simbol, gambar, serta tanda-tanda did alam dinding gua mereka.

2. Zaman Kuno
Pada zaman ini, manusia melakukan komunikasi salah satunya menggunakan asap dan api yang diperuntukkan sebagai alat dan cara berkomunikasi jarak jauh.

3. Zaman Pertengahan
Cara berkomunikasi pada era ini sudah mulai berkembang. Salah satu cara berkomunikasi yang dilakukan adalah menggunakan burung merpati sebagai kurir untuk mengirim surat.

4. Zaman Revolusi Industri
Dari mulai revolusi industri 1.0, pada zaman ini sudah dikenal dengan namannya telegraf yang digunakan dengan cara kode morse sebagai media dalam melakukan komunikasi antara manusia.

5. Zaman Modern
Perkembangan cara berkomunikasi telah mencapai era teknologi yang canggih pada zaman modern ini. Dari mulai komputer yang digunakan untuk mengirim email, televisi sebagai media mendapatkan informasi, serta munculnya telepon genggam yang bisa melakukan panggilan untuk melakukan komunikasi.

6. Zaman Digital
Perkembangan cara serta alat komunikasi pada zaman ini dapat dikatakan sudah sangat canggih. Dengan banyak munculnya inovasi, manusia sangat mudah dalam melakukan komunikasi. Panggilan video, mengirim pesan, serta media lain yang sangat mempermudah manusia untuk berkomunikasi. Bahkan di era ini teknologi Artificial Intelligence atau yang disebut dengan AI sudah muncul dan sangat berguna dalam melakukan komunikasi di zaman ini.

Dampak Perkembangan Teknologi Komunikasi
Perkembangan alat dan cara komunikasi menjadi bukti bahwa manusia selalu berusaha menjalin hubungan dan bertukar informasi. Seiring kemajuan teknologi, metode komunikasi pun beradaptasi dengan kebutuhan zaman.

Salah satu contoh nyata yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari adalah aplikasi pengirim pesan instan seperti WhatsApp. Sebab itu, perubahan cara berkomunikasi semakin terlihat di era digital.

Jika dahulu manusia mengirim surat melalui kantor pos, kini dengan gadget atau smartphone, komunikasi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan mudah. Namun, kemajuan teknologi juga membawa dampak negatif.

Pertama, keamanan dan privasi data menjadi rentan disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, penting untuk berhati-hati dalam berkomunikasi dan menjaga data pribadi.

Kedua, berkurangnya interaksi sosial secara langsung karena komunikasi lebih banyak dilakukan melalui teks di layar gadget.

Ketiga, kecanduan teknologi yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental manusia.

Terlepas dari dampak negatif yang diakibatkan oleh teknologi dalam segi komunikasi, teknologi sangat berpengaruh pada gaya komunikasi manusia pada zaman sekarang.

Dari menggunakan simbol, surat, dan kode, hingga sekarang cara berkomunikasi berkembang pesat dengan dibantu oleh teknologi yang sangat canggih. Teknologi membuat komunikasi menjadi lebih mudah, hemat waktu, dan efisien, serta berkontribusi pada kemajuan kehidupan manusia.***

Muhammad Sachio Alifya Rahman

 

Dampak Pembangunan Pagar Laut di Perairan Tangerang

0

Oleh: Naila Rizani Karimah Ritonga, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Keberadaan pagar laut yang berada di perairan Kabupaten Tangerang sepanjang 30,16 kilometer menjadi pertanyaan bagi para nelayan dan masyarakat sekitar, proyek apa yang akan/sedang dibangun. Pembangunan proyek ini tidak diketahui kejelasannya oleh masyarakat dan nelayan, tidak adanya transparansi terkait izin pembangunan proyek dan tujuan dari pembangunan pagar laut.

Tidak adanya informasi yang jelas, sehingga masyarakat tidak mengetahui dari mana asalnya pagar laut. Pagar ini tidak hanya menghambut akses para nelayan tapi juga menjadi pertanyaan yang kerap dipertanyakan mengenai kepemilikan dan tata kelola wilayah pesisir.

Pemerintah dan masyarakat harus menyikapi hal ini dengan tegas, dengan adanya proyek ini dapat memberikan dampak yang besar kepada masyarakat, dampak yang dirasakan dapat mencakup pada aspek ekonomi, lingkungan, sosial, dan hukum dan tata kelola. Jika tidak ditanggapi secara serius pagar laut ini dapat merugikan para nelayan dan masyarakat.

Adanya keberadaan pagar laut yang tidak diketahui kepemilikannya ramai diperbincangkan oleh masyarakat baik di media sosial dan media massa, bahwasanya terdapat temuan ratusan Sertifikat Hak Guna Bangunan dan Hak Milik di area laut tersebut, yang menunujukkan indikasi bahwa proyek ini bertujuan untuk reklamasi atau kepentingan bisnis tertentu, maka akan sangat berbahaya jika benar adanya pembangunan reklamasi, dan tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Wilayah pesisir dan laut bukanlah area yang bisa dimiliki oleh pihak swasta.

Pembangunan pagar laut yang tidak diketahui izinnya ini tentu dapat merugikan para nelayan dan masyarakat pesisir. Adanya proyek ini memberikan dampak yang buruk bagi nelayan salah satunya menghambat para nelayan untuk mengambil tangkapan ikan dan hasil laut lainnya, sebab itu hasil tangkapan dapat menurun secara drastis sehingga menyebabkan kelangkaan pasokan ikan di pasar serta terjadi peningkatan harga penjualan ikan dan hasil laut lainnya.

Hasil penagkapan ikan yang menurun juga dapat menurunkan hasil pendapatan masyarakat dan nelayan. Tidak hanya nelayan dan masyarakat pesisir yang terkena dampaknya bahkan pedagang ikan, pekerja pengelola ikan hingga pemiliki tempat makan yang menjual hasil laut terkena dampaknya. Hal ini juga dapat mengganggu rantai ekonomi masyarakat pesisir.

Pagar laut juga memberikan dampak besar terhadap lingkungan dan ekosistem laut. Rusaknya terumbu karang dan habitat ikan yang disebabkan oleh penumpukan sedimen dan lumpur disekitar pagar karena adanya hambatan arus laut alami, pemukiman warga di sekitar pesisir pantai dapat terancam tenggelam dikarenakan struktur pagar yang dapat memicu abrasi pantai, dan sampah di laut semakin bertambah karena material yang digunakan untuk membangun pagar laut dapat mencemari perairan.

Dampak dari adanya pagar laut ini juga dapat menurunkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Proyek sepanjang 30,16 km dibangun tanpa ada pengawasan dari otoritas terkait, masyarakat akan menaruh kecurigaan kepada pemerintah, terkait adanya dugaan korupsi dan penyalahgunaan wewenang dalam memberikan izin pembagunan proyek.

Pemerintah juga dapat dipandang lemah dalam pengawasan wilayah laut, adanya celah pembangunan proyek ilegal dapat menunujukkan bahwa pemerintah lalai dalam mengawasi wilayah perairan negara.

Pembangunan pagar laut ini memberikan banyak dampak negatif dalam aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan hukum dan tata kelola. Pada segi ekonomi dan sosial jelas nelayan dan masyarakat pesisir sangat dirugikan dengan adanya pagar laut.

Pada segi lingkungan ekosistem laut dan garis pantai terancam rusak. Dari segi hukum dan tata kelola menunjukkan bahwa pemerintah lalai dalam pengawasan wilayah laut serta adanya potensi korupsi dan penyalahgunaan wewenang.

Langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya dampak yang lebih luas adalah memberikan tindakan kepada pihak yang bertanggung jawab terkait wilayah laut, serta mengusut pihak yang memberikan izin ilegal secara hukum. Pemerintah juga harus memastikan bahwa wilayah pesisir tetap menjadi milik publik, serta memperkuat pengawasan di wilayah laut dan pesisir.

Pemerintah harus segera memberikan kejelasan terkait keberadaan dan rencana dari adanya pagar laut, jika tidak segera terselesaikan akan adanya potensi pembangunan pagar laut lainnya yang dibangun secara ilegal, hal ini tentunya dapat mengancam hilangnya hak para nelayan dan masyarakat pesisir.