Home Blog Page 1067

Dari Healing ke Horor: Drama Ban Kempes di Gunung Mas

0

Bogordaily.net – Siang hari dipertengahan bulan Desember tahun 2023 lalu, saya dan ketiga teman saya berkunjung ke Gunung Mas Puncak Bogor, demi pemenuhan tugas Mata Kuliah Reportase. Saat itu masih musim Ujian Akhir Semester (UAS), namun karena jadwalnya yang berakhir sekitar pukul 09.00 pagi kami pun yakin untuk berkunjung ke Gunung Mas.

Sejujurnya, tugas kelompok saya dan satu teman saya sudah selesai dan tujuan saya mengikuti kedua teman yang lain adalah untuk healing sejenak di tengah banyaknya tugas akhir dan ujian yang merajalela.

Awal perjalanan dimulai dari teman saya yang pergi mengisi angin ban nya terlebih dahulu, karena kami pergi berempat kendaraan yang digunakan ada dua motor. Setelah, teman saya selesai mengisi angin ban kami pun memulai perjalanan ke arah Puncak, Bogor.

Perjalanan menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit untuk mencapai pintu masuk Gunung Mas dengan diselingi beberapa titik kemacetan yang biasa dijumpai di Ciawi, Bogor akan tetapi, karena kami menggunakan sepeda motor kemacetan tersebut tidak terlalu mengganggu perjalanan.

Setibanya kami di pintu masuk, kedua motor langsung melenggang ke arah tempat parkir. Setelahnya, kedua teman saya yang memang ada urusan di Gunung Mas langsung mengerjakan tugasnya, yakni mewawancarai beberapa karyawan di Gunung Mas.

Selesai dengan tugas, kami pun langsung mengitari Gunung Mas untuk melihat keindahan alam di sana, ditambah pula dengan angin sejuk khas di Puncak membuat perjalanan kami seolah terbayarkan.

Mengambil beberapa foto dan video baik untuk kebutuhan tugas maupun pribadi kami lakukan selama satu setengah jam. Sudah puas melihat-lihat kami pun mantap untuk pulang, karena saya juga yang sebenarnya memiliki agenda lain dengan teman-teman Asistensi Kristen di siang hari.

Titik balik dari semua senyuman serta tawa kami akhirnya pun tiba. Panggil saja teman laki-laki saya sebagai ‘A’ lalu dua teman perempuan saya yang lainnya sebagai ‘B’ dan ‘C’. A adalah orang yang mengisi angin ban tepat sebelum berangkat dan ialah yang membawa motor sambil membonceng teman saya B.

Tepat setelah keluar dari pintu masuk Gunung Mas, belum ada 100 meter, tiba-tiba ban motor milik A kempes, sehingga kami langsung buru-buru mencari bengkel isi angin ban.

Sudah diisi ulang angin ban motor milik A, kami pun melanjutkan perjalanan tanpa adanya kecurigaan. Kami pikir hanya sedang tidak beruntung saja si A hari itu karena harus dua kali isi angin ban.

Saya yang dibonceng oleh teman saya, C dan melanjutkan perjalanan di depan motor A dan B. Tanpa rasa curiga kami jalan cukup lama, hingga tiba-tiba masuk telepon dari C ke gawai saya.

Awalnya, saya tidak sadar karena mematikan nada dering gawai selama perjalanan, akan tetapi ketika saya hendak melihat jam di layar gawai muncul beberapa notifikasi pesan dan telepon yang terlewat dari B. Rasa bingung muncul di benak saya, namun dengan pasti akhirnya C dan saya menghentikan laju motor dan mengangkat telepon tersebut.

Rasa curiga tersebut memang tidak meleset, karena benar saja lagi-lagi A harus menghentikan motornya karena ban nya yang kembali kempes.

Saya dan C pun memutar arah kembali ke tempat di mana A dan B berhenti, ternyata jarak yang ditempuh cukup jauh yang menunjukkan bahwa antara jarak A mengisi ulang angin ban tepat setelah keluar pintu masuk Gunung Mas dengan tempat ban nya kembali kempes tidak cukup jauh.

Setibanya saya dan C, kami sudah melihat A dan B yang tengah mendorong motor akhirnya dengan bantuan saya dan C kami dorong motor hingga menemukan bengkel.

Sesudah dicek oleh montir di sana, diketahui bahwa ban dalam motor A harus diganti, namun seolah-olah hari itu dipenuhi dengan kesialan bengkel tersebut tidak memiliki ban dalam.

Mau tidak mau akhirnya C dan satu montir di sana pergi mencari ban dalam. Saat itu, perjalanan yang kami kira hanya akan memakan waktu 30 menit menjadi dua jam lamanya.

Sedangkan, saya yang memang ada agenda lain harus menundanya dan mengirimkan pesan berupa permintaan maaf kepada teman saya yang lain.

Setelah cukup lama mengganti ban dalam, akhirnya saya pun mulai menyadari kejanggalan ini.

Karena bagaimana bisa dalam satu hari sudah ada dua kali teman saya A, mengisi angin ban dan satu kali mengganti ban dalam?

Mengingat-ingat beberapa nasehat orang tua dan berita di media massa, juga mencocokkan musim saya pun baru sadar mengenai berita rumor tentang pedagang licik yang menyebarkan benda tajam di jalanan, khususnya pada musim liburan untuk mendapatkan pelanggan.

Saat itu adalah bulan Desember pertengahan dan jumlah kendaraan yang lewat memang cukup padat, maka dari itu saya simpulkan bahwa kedua hal ini ada kaitannya, namun tidak pernah terlintas bahwa saya serta teman-teman akan menjadi korbannya.

Ban motor A yang sudah selesai diganti ban dalamnya membuat kami yakin bahwa tidak akan ada lagi kejadian yang sama, namun seolah saya serta teman-teman tengah ditertawai tidak ada jalan 50 meter kembali lagi kami ulang kisah lama.

Benar sekali, ban motor milik A lagi-lagi kempes dan untungnya jarak motor C dan saya dengan A dan B tidak jauh demi mewaspadai kejadian serupa kembali terjadi. Di siang hari itu, akhirnya kami dorong bersama motor A, untungnya tidak jauh dari sana kami temukan bengkel untuk mengisi angin ban motor A.

Sudah mulai muak akhirnya, saya sampaikan dugaan saya kepada teman-teman dan menyuruh A untuk lebih baik berjalan di tengah dan jangan ke pinggir untuk langkah preferentif. Selain itu, saya dan B bertukar jadi saya dibonceng oleh A dan B dibonceng oleh C.

Benar saja, sesudahnya tidak ada kejadian serupa lagi karena motor A yang selalu dijalankan di tengah, walaupun cukup beresiko namun kami tidak ingin mengulang terus menerus kejadian sama, yang awalnya kami kira akan sampai di kampus siang hari molor hingga sore hari ditambah pula dengan hujan karena akhir tahun di Bogor yang memang curah hujannya termasuk tinggi.

Mengucapkan salam perpisahan saya pun langsung berlari menuju tempat janji saya dengan teman Asistensi Kristen untuk meminta maaf dan mengikuti agenda.

Cerita ini saya beberkan kepada banyak orang karena kejadian yang sebenarnya cukup membuat kesal, namun jika diingat kembali agak konyol karena betapa absurd kejadian tersebut.

Teman saya, A yang juga akhirnya perlu merogoh kocek cukup dalam karena bolak-balik ke bengkel cukup membuat kami kasihan. Akhir kata, tetap waspada di mana pun kita membawa kendaraan khususnya di musim liburan.***

Happy Taranian Olifia
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Perjalanan Menuju Kota Pattani Perbatasan Malaysia – Thailand

0

Bogordaily.net – Jam menunjukkan angka 03:00 di pagi hari yang menandakan saya harus segera bersiap-siap untuk pergi keluar. Pada hari itu, tanggal 5 Juli 2024 tepatnya hari Jumat, saya dan keluarga saya berangkat menuju Kota Pattani, salah satu kota Islam yang ada di Thailand, yaitu Pattani. Kami berangkat dari kota Merchang yang terletak di distrik Marang, negara bagian Terengganu, Malaysia.

Kami memutuskan untuk berangkat menggunakan jalur darat dengan mobil. Sekitar pukul 04:00 pagi, setelah semua barang sudah siap, kami pun memulai perjalanan. Udara masih dingin dan langit masih gelap.

Di perjalanan, kami sempat menunaikan salat Subuh di salah satu tempat peristirahatan. Suasana Subuh di jalan terasa syahdu, dengan lampu jalan yang samar-samar menemani perjalanan kami.

Setelah salat Subuh, kami melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk berhenti sejenak di Kampung Raja, Malaysia, untuk sarapan. Kami menikmati suasana pagi di kampung tersebut sambil menyantap roti canai dengan kari ayam yang simple tapi lezat.

Melihat proses pembuatan roti canai itu sendiri adalah salah satu kebiasaan saya melihat dalam feeds Instagram, namun kini secara langsung. Setelah perut terisi, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju perbatasan.

Saat mendekati perbatasan, kami tiba di tempat imigrasi perahu. Proses imigrasi berjalan cukup lancar, dan tak lama kemudian kami menyeberang menggunakan kapal. Perjalanan menyeberang ini menjadi pengalaman yang seru dan tak terlupakan.

Setelah beberapa jam perjalanan, sekitar pukul 12:00 siang waktu setempat, kami baru tiba di daerah Mayo – La-Nga, Thailand. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di rest area dan sekalian menunaikan salat Jumat sebelum melanjutkan perjalanan ke Pattani.

Usai menunaikan salat Jumat, kami segera menuju hotel di Pattani. Begitu tiba, suasana nyaman hotel membuat kami merasa lega setelah perjalanan panjang. Setelah beristirahat sejenak dan membersihkan diri, semangat kami kembali pulih untuk melanjutkan petualangan.

Kami memulai dengan berziarah, lalu mengunjungi salah satu pesantren ternama di Pattani. Di sana, kami disambut dengan hangat oleh pemilik pesantren. Kami berbagi cerita dan pengalaman yang membuka wawasan baru tentang kehidupan dan pendidikan Islam di daerah tersebut.

Perjalanan kami semakin berkesan saat mengunjungi beberapa masjid bersejarah yang kaya akan sejarah Islam di Pattani. Kami menyusuri jejak masa lalu, mulai dari masjid tertua yang berdiri kokoh dengan nuansa klasiknya, hingga masjid peninggalan Kerajaan Pattani, yang awal mula sempet hilang tak terurus karena ketutupan semak-semak tumbuhan yang amat sangat lebat, namun kemudian mulai terurus kembali dan dijadikan tempat yang bisa dikunjungi.

Perjalanan kami di Pattani memang tidak berlangsung lama, hanya dua hari. Namun, dalam waktu singkat itu, kami berhasil mengisi hari-hari dengan pengalaman yang luar biasa.

Mengunjungi pasar makanan malam yang ramai dan penuh dengan aroma kuliner khas Thailand, hingga berkunjung ke Sokhla University yang menjadi salah satu pusat pendidikan ternama di kawasan ini, semakin memperkaya perjalanan kami. Kenangan-kenangan ini membuat perjalanan singkat kami terasa sangat berkesan dan tak terlupakan.***

Muhammad Sachio Alifya Rahman – Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

 

Robi Athallah, Saat Keputusan Kecil Membentuk Perjalanan Besar

0

Bogordaily.net – Kadang kegagalan itu kelihatan kayak akhir segalanya, tapi sebenarnya bisa jadi awal dari sesuatu yang lebih baik. Kisah Robi Athallah, mahasiswa Komunikasi Digital dan Media di Sekolah Vokasi IPB University, adalah bukti nyata kalau di balik setiap kegagalan, selalu ada pelajaran berharga dan jalan menuju impian yang lebih besar. Perjalanan Robi yang pernah gagal masuk SMA negeri sampai akhirnya bisa kuliah di IPB jadi bukti kalau usaha dan doa nggak pernah sia-sia.

Awal Perjalanan: Dari Kecewa Jadi Bangkit
Tahun 2020 jadi momen paling berat buat Robi. Meski dia aktif di berbagai organisasi dan sering ikut kegiatan sekolah, Robi nggak lolos masuk SMA negeri gara-gara sistem seleksi yang berubah karena pandemi COVID-19. Waktu lihat temen-temennya diterima di sekolah impian mereka, Robi ngerasa sedih dan kecewa banget.

Tapi hidup memang suka kasih kejutan. Di SMA swasta tempat dia akhirnya bersekolah, Robi ketemu orang-orang yang percaya sama dia, bahkan lebih dari dia percaya sama dirinya sendiri.

Berkat dukungan guru dan temen-temen, Robi mulai bangkit lagi. Dia berani nyalonin diri jadi Ketua OSIS — dan terpilih! Dari sini, Robi belajar banyak soal kepemimpinan, kerja sama, dan gimana caranya jadi pemimpin yang bisa bikin perubahan.

Nemu Peluang di Tengah Rintangan
Waktu kelas 12, ketakutan Robi muncul lagi. Persiapannya buat masuk perguruan tinggi belum mateng, sementara temen-temennya udah sibuk ikut bimbel di sana-sini. Bener aja, di jalur undangan pertama, Robi gagal lagi. Rasa kecewa dan sedih datang lagi, tapi kali ini dia nggak mau nyerah.

Sampai suatu hari, Robi lihat info soal jalur Ketua OSIS buat masuk IPB University. Dia nggak mikir panjang, langsung daftar dan siapin semua persyaratan. Nggak disangka, dia keterima! Jalan yang sebelumnya nggak pernah dia pikirkan justru jadi pintu menuju masa depan yang cerah.

Doa yang Jadi Nyata
Setahun sebelum jadi mahasiswa IPB, Robi pernah jalan-jalan ke Bogor sama keluarganya. Di sebuah masjid, dia berdoa supaya kalau memang Bogor adalah kota yang ditakdirkan buat dia, semoga dia bisa kuliah di sini.

Nggak lama, doanya terkabul. Waktu dia jadi mahasiswa IPB dan lagi praktikum di salah satu desa, dia balik lagi ke masjid itu — dan di momen itu, Robi sadar kalau jalan Tuhan emang selalu penuh kejutan.

Perjalanan yang Masih Panjang
Sekarang, sebagai mahasiswa Komunikasi Digital dan Media di Sekolah Vokasi IPB, tantangan baru terus berdatangan. Tugas kuliah yang numpuk, kegiatan organisasi, dan tanggung jawab pribadi bikin Robi harus pintar-pintar bagi waktu.

Kadang capek, kadang pengen nyerah, tapi dia selalu inget perjalanan panjang yang udah dia lalui.
Dari semua yang udah Robi lewati, satu hal yang dia pelajari: kegagalan bukan akhir, tapi batu loncatan buat jadi lebih baik.

Dengan usaha, doa, dan sedikit keberanian buat terus melangkah, siapa aja bisa nemuin jalan terbaik dalam hidupnya.

Kisah Robi ini semoga bisa jadi pengingat buat siapa pun yang lagi berjuang, kalau di balik setiap rintangan selalu ada kesempatan. Dan yang paling penting, percaya deh — jalan Tuhan itu selalu indah.***

Muhammad Sachio Alifya Rahman
Komunikasi Digital dan Media SV IPB

 

Teknologi, Cara Baru untuk Berkomunikasi

0

Bogordaily.net – Sejak dahulu, manusia sudah melakukan komunikasi dengan berbagai cara. Dari mulai berkomunikasi menggunakan simbol-simbol, gambar, kode, surat, serta alat dan cara berkomunikasi lainnya. Berkomunikasi pada era saat ini telah berevolusi dari berkembangnya teknologi yang sangat pesat. Manusia melakukan komunikasi mengikuti perkembangan zaman. Semakin maju teknologinya, semakin maju pula cara dan alat-alat untuk berkomunikasi yang dilakukan oleh manusia.

Dikutip dari jurnal artikel Mohammad Sudi pada tahun 2018, “Hampir semua tentang manusia dan kehidupannya, selalu berhubungan dengan komunikasi”.

Perkembangan Cara dan Alat Komunikasi
Perkembangan teknologi komunikasi tidak hanya mempermudah komunikasi, tetapi juga memperlancar interaksi manusia. Berikut adalah revolusi alat dan cara komunikasi manusia dari masa ke masa:

1. Zaman Praaksara
Pada zaman belum ditemukannya tulisan, manusia berkomunikasi menggunakan simbol-simbol, gambar, serta tanda-tanda did alam dinding gua mereka.

2. Zaman Kuno
Pada zaman ini, manusia melakukan komunikasi salah satunya menggunakan asap dan api yang diperuntukkan sebagai alat dan cara berkomunikasi jarak jauh.

3. Zaman Pertengahan
Cara berkomunikasi pada era ini sudah mulai berkembang. Salah satu cara berkomunikasi yang dilakukan adalah menggunakan burung merpati sebagai kurir untuk mengirim surat.

4. Zaman Revolusi Industri
Dari mulai revolusi industri 1.0, pada zaman ini sudah dikenal dengan namannya telegraf yang digunakan dengan cara kode morse sebagai media dalam melakukan komunikasi antara manusia.

5. Zaman Modern
Perkembangan cara berkomunikasi telah mencapai era teknologi yang canggih pada zaman modern ini. Dari mulai komputer yang digunakan untuk mengirim email, televisi sebagai media mendapatkan informasi, serta munculnya telepon genggam yang bisa melakukan panggilan untuk melakukan komunikasi.

6. Zaman Digital
Perkembangan cara serta alat komunikasi pada zaman ini dapat dikatakan sudah sangat canggih. Dengan banyak munculnya inovasi, manusia sangat mudah dalam melakukan komunikasi. Panggilan video, mengirim pesan, serta media lain yang sangat mempermudah manusia untuk berkomunikasi. Bahkan di era ini teknologi Artificial Intelligence atau yang disebut dengan AI sudah muncul dan sangat berguna dalam melakukan komunikasi di zaman ini.

Dampak Perkembangan Teknologi Komunikasi
Perkembangan alat dan cara komunikasi menjadi bukti bahwa manusia selalu berusaha menjalin hubungan dan bertukar informasi. Seiring kemajuan teknologi, metode komunikasi pun beradaptasi dengan kebutuhan zaman.

Salah satu contoh nyata yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari adalah aplikasi pengirim pesan instan seperti WhatsApp. Sebab itu, perubahan cara berkomunikasi semakin terlihat di era digital.

Jika dahulu manusia mengirim surat melalui kantor pos, kini dengan gadget atau smartphone, komunikasi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan mudah. Namun, kemajuan teknologi juga membawa dampak negatif.

Pertama, keamanan dan privasi data menjadi rentan disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, penting untuk berhati-hati dalam berkomunikasi dan menjaga data pribadi.

Kedua, berkurangnya interaksi sosial secara langsung karena komunikasi lebih banyak dilakukan melalui teks di layar gadget.

Ketiga, kecanduan teknologi yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental manusia.

Terlepas dari dampak negatif yang diakibatkan oleh teknologi dalam segi komunikasi, teknologi sangat berpengaruh pada gaya komunikasi manusia pada zaman sekarang.

Dari menggunakan simbol, surat, dan kode, hingga sekarang cara berkomunikasi berkembang pesat dengan dibantu oleh teknologi yang sangat canggih. Teknologi membuat komunikasi menjadi lebih mudah, hemat waktu, dan efisien, serta berkontribusi pada kemajuan kehidupan manusia.***

Muhammad Sachio Alifya Rahman

 

Dampak Pembangunan Pagar Laut di Perairan Tangerang

0

Oleh: Naila Rizani Karimah Ritonga, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Keberadaan pagar laut yang berada di perairan Kabupaten Tangerang sepanjang 30,16 kilometer menjadi pertanyaan bagi para nelayan dan masyarakat sekitar, proyek apa yang akan/sedang dibangun. Pembangunan proyek ini tidak diketahui kejelasannya oleh masyarakat dan nelayan, tidak adanya transparansi terkait izin pembangunan proyek dan tujuan dari pembangunan pagar laut.

Tidak adanya informasi yang jelas, sehingga masyarakat tidak mengetahui dari mana asalnya pagar laut. Pagar ini tidak hanya menghambut akses para nelayan tapi juga menjadi pertanyaan yang kerap dipertanyakan mengenai kepemilikan dan tata kelola wilayah pesisir.

Pemerintah dan masyarakat harus menyikapi hal ini dengan tegas, dengan adanya proyek ini dapat memberikan dampak yang besar kepada masyarakat, dampak yang dirasakan dapat mencakup pada aspek ekonomi, lingkungan, sosial, dan hukum dan tata kelola. Jika tidak ditanggapi secara serius pagar laut ini dapat merugikan para nelayan dan masyarakat.

Adanya keberadaan pagar laut yang tidak diketahui kepemilikannya ramai diperbincangkan oleh masyarakat baik di media sosial dan media massa, bahwasanya terdapat temuan ratusan Sertifikat Hak Guna Bangunan dan Hak Milik di area laut tersebut, yang menunujukkan indikasi bahwa proyek ini bertujuan untuk reklamasi atau kepentingan bisnis tertentu, maka akan sangat berbahaya jika benar adanya pembangunan reklamasi, dan tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Wilayah pesisir dan laut bukanlah area yang bisa dimiliki oleh pihak swasta.

Pembangunan pagar laut yang tidak diketahui izinnya ini tentu dapat merugikan para nelayan dan masyarakat pesisir. Adanya proyek ini memberikan dampak yang buruk bagi nelayan salah satunya menghambat para nelayan untuk mengambil tangkapan ikan dan hasil laut lainnya, sebab itu hasil tangkapan dapat menurun secara drastis sehingga menyebabkan kelangkaan pasokan ikan di pasar serta terjadi peningkatan harga penjualan ikan dan hasil laut lainnya.

Hasil penagkapan ikan yang menurun juga dapat menurunkan hasil pendapatan masyarakat dan nelayan. Tidak hanya nelayan dan masyarakat pesisir yang terkena dampaknya bahkan pedagang ikan, pekerja pengelola ikan hingga pemiliki tempat makan yang menjual hasil laut terkena dampaknya. Hal ini juga dapat mengganggu rantai ekonomi masyarakat pesisir.

Pagar laut juga memberikan dampak besar terhadap lingkungan dan ekosistem laut. Rusaknya terumbu karang dan habitat ikan yang disebabkan oleh penumpukan sedimen dan lumpur disekitar pagar karena adanya hambatan arus laut alami, pemukiman warga di sekitar pesisir pantai dapat terancam tenggelam dikarenakan struktur pagar yang dapat memicu abrasi pantai, dan sampah di laut semakin bertambah karena material yang digunakan untuk membangun pagar laut dapat mencemari perairan.

Dampak dari adanya pagar laut ini juga dapat menurunkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Proyek sepanjang 30,16 km dibangun tanpa ada pengawasan dari otoritas terkait, masyarakat akan menaruh kecurigaan kepada pemerintah, terkait adanya dugaan korupsi dan penyalahgunaan wewenang dalam memberikan izin pembagunan proyek.

Pemerintah juga dapat dipandang lemah dalam pengawasan wilayah laut, adanya celah pembangunan proyek ilegal dapat menunujukkan bahwa pemerintah lalai dalam mengawasi wilayah perairan negara.

Pembangunan pagar laut ini memberikan banyak dampak negatif dalam aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan hukum dan tata kelola. Pada segi ekonomi dan sosial jelas nelayan dan masyarakat pesisir sangat dirugikan dengan adanya pagar laut.

Pada segi lingkungan ekosistem laut dan garis pantai terancam rusak. Dari segi hukum dan tata kelola menunjukkan bahwa pemerintah lalai dalam pengawasan wilayah laut serta adanya potensi korupsi dan penyalahgunaan wewenang.

Langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya dampak yang lebih luas adalah memberikan tindakan kepada pihak yang bertanggung jawab terkait wilayah laut, serta mengusut pihak yang memberikan izin ilegal secara hukum. Pemerintah juga harus memastikan bahwa wilayah pesisir tetap menjadi milik publik, serta memperkuat pengawasan di wilayah laut dan pesisir.

Pemerintah harus segera memberikan kejelasan terkait keberadaan dan rencana dari adanya pagar laut, jika tidak segera terselesaikan akan adanya potensi pembangunan pagar laut lainnya yang dibangun secara ilegal, hal ini tentunya dapat mengancam hilangnya hak para nelayan dan masyarakat pesisir.

Nadya Fitri Agli: Menapaki Jejak di Dunia Ekowisata

0

Bogordaily.net – Di usia 22 tahun, Nadya Fitri Agli telah menempuh perjalanan panjang dalam dunia pendidikan dan profesionalisme. Lahir pada 27 Agustus 2002, perempuan asal Padang ini telah menetap di Bogor sejak tahun 2021 untuk menempuh pendidikan di Sekolah Vokasi IPB University, jurusan Ekowisata. Ia resmi menyelesaikan studi dan meraih gelarnya pada Agustus 2024.

Sejak kecil, Nadya telah menempuh pendidikan di Padang, dari SD hingga SMA. Ia merupakan lulusan SMPN 8 Padang dan SMAN 10 Padang, dua institusi yang membentuk semangatnya dalam mengejar pendidikan tinggi. Pada awalnya, IPB bukanlah pilihan utamanya. Ia sempat gagal dalam jalur undangan dan tes untuk masuk ke perguruan tingga yang ia inginkan sebelumnya.

Setelah mengalami kegagalan ia mencoba untuk masuk perguran tinggi yang lainnya dengan nilai yang dimilikinya. IPB menjadi salah satu pilihannya setelah ia gagal untuk masuk ke universitas pilihannya, yang ia ketahui saat itu IPB hanya memiliki jurusan yang berkaitan dengan pertanian.

Namun, setelah mencari informasi lebih dalam mengenai jurusan apa saja yang ada di IPB, ia akhirnya mencoba jalur USMI, yaitu program yang dikhususkan bagi yang ingin masuk ke program vokasi di IPB University.

Tiga pilihan jurusan yang ia ajukan adalah Komunikasi Digital dan Media, Teknik Lingkungan, dan Ekowisata. Pada awalnya, ia tidak terlalu tertarik dengan program studi Ekowisata, namun setelah mencari informasi lebih lanjut dan mendapatkan dukungan dari guru BK, akhirnya ia memutuskan Ekowisata menjadi salah satu pilihan jurusan yang ia daftarkan.

Setelah mendaftarkan diri untuk masuk IPB melalui jalur USMI, Nadya lulus masuk IPB jurusan Ekowisata. Jurusan ini memberikan Nadya banyak pelajaran dan penghalaman yang sangat banyak untuknya, melalui jurusan ini juga Nadya kembali menlatih kemampuannya berbicara di depan umum yang sebelumnya telah ia kuasai.

Selama kuliah, Nadya aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik. Salah satu pencapaian yang sangat berkesan baginya adalah ketika ia berhasil lolos dalam pendanaan nasional PKMPM serta mengikuti kompetisi tingkat nasional OLIVIA.

Pengalaman ini menjadi titik penting dalam perjalanan akademiknya karena mampu meningkatkan kepercayaan dirinya dalam berinteraksi dengan orang lain. Ia merasa bahwa keterampilan ini sangat berguna, terutama dalam dunia kerja yang menuntut keberanian dan kepercayaan diri. Ia tidak hanya berfokus pada studi, tetapi juga terlibat dalam berbagai organisasi.

Nadya menjalankan magang pertamanya di Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Bogor di bidang pemasaran, dari bidang inilah mampu membawa Nadya menjalankan berbagai acara besar, termasuk ajang Mojang Jajaka.

Dari pengalaman itu lah yang mempertemukannya dengan berbagai pengalaman lainnya. Dari tempat magang pertamnaya itulah Nadya ditawarkan untuk menjadi relawan korban bencana di Cianjur.

Kemudia Nadya menjalankan magang keduanya di sebuah kebun binatang, melalui tampat ini lah ia memperluas pemahamannya tentang pariwisata dan pelayanan publik. Ia merasa magang keduanya ini seperti “bekerja sambil berlibur” karena ia dapat bertemu dengan banyak orang serta terlibat langsung dalam pengelolaan wisata.

Melalui berbagai kegiatan yang pernah ia jalankan, Nadya belajar bagaimana mengatur waktu dan memilah mana yang menjadi prioritas dan mana yang bukan termasuk ke dalam prioritanya.

Setelah Nadya sudah mengalami magang dan masuk ke dalam dunia kerja yang sesungguhnya, Nadya merasakan adanya perbedaan ketika ia menjalani magang dan bekerja. Magang lebih berorientasi pada pembelajaran, sedangakn dunia kerja menuntutnya untuk profesional.

Adaptasi yang cepat menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan pekerjaan sesungguhnya. Ia memahami bahwa dalam dunia kerja, seseorang harus mampu menyelesaikan tugas dengan efisien dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, ia selalu berusaha untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan yang dimilikinya.

Saat ini ia tengah menjalankan berbagai kegiatan, mulai dari menjadi asisten dosen, pemandu wisata freelance di berbagai agensi, hingga terlibat dalam event production house. Namun, impiannya tak berhenti di situ, ia bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan S2 -nya di luar negeri, khususnya di bidang pariwisata.

Ia ingin mendalami ilmu yang lebih luas tentang pengelolaan destinasi wisata, keberlanjutan pariwisata, serta bagaimana industri ini dapat berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian dan lingkungan.

Bagi Nadya, kemampuan beradaptasi adalah kunci utama dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia selalu mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan serta terus belajar mengatur waktu dan prioritas.

Ia percaya bahwa dalam hidup, setiap pencapaian bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan menuju kesuksesan berikutnya. Oleh karena itu, ia terus berusaha untuk berkembang dan tidak cepat puas dengan apa yang telah dicapainya.

Nadya berpesan untuk tidak hanya fokus pada akademik tetapi juga mencari ilmu di luar perkuliahan. Ia menyadari bahwa pengalaman di luar kelas dapat memberikan banyak pelajaran berharga yang tidak selalu bisa didapatkan dari buku.

“Jangan takut mencoba hal baru. Selama ada doa dan usaha, pasti selalu ada jalan,” ujarnya penuh keyakinan.

Ia berharap agar mahasiswa lain juga bisa menemukan passion mereka dan terus berusaha untuk menggapai impian masing-masing.

Dengan semangat pantang menyerah dan tekad yang kuat, ia yakin bahwa setiap orang bisa mencapai apa yang mereka impikan.***

Naila Rizani Karimah Ritonga
Komunikasi Digital dan Media| Sekolah Vokasi IPB

Pentingnya Biskita Transpakuan Bogor sebagai Penunjang Hidup Keseharian

0

Oleh : Elisabeth Mellyana Dea Maharani
(Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB)

Badan Pengelolalaan Transportasi Jabodetabek (BPTJ) serta Dirjen Integrasi Transportasi dan Multimoda perlu melakukan tinjauan ulang terhadap keputusan yang mereka lakukan. Hal tersebut berdasarkan laporan masyarakat kota Bogor yang sudah menggantungkan kesehariannya dengan angkutan biskita.

Kota seribu angkot julukan untuk kota Bogor, akan tetapi mulai munculnya biskita membawa warna baru dan solusi untuk kota Bogor yang sekarang mengalami kepadatan dan kemacetan. Diharapkan dengan adanya biskita ini dapat mengurangi kemacetan yang terjadi di kota Bogor dan menjadi lebih aman serta nyaman dalam bertransportasi umum.

Penghentian sementara layanan Bisita Transpakuan di Kota Bogor tentu menjadi masalah bagi masyarakat yang mengandalkan transportasi ini untuk mobilitas sehari-hari. Evaluasi memang penting, tetapi penutupan selama 25 hari tanpa solusi yang jelas membuat masyarakat kebingungan.

Terlebih lagi, alasan penghentian karena peleburan lembaga di Kementerian Perhubungan menunjukkan kurangnya perencanaan yang matang dalam mengelola transportasi publik. Seharusnya, perubahan struktural di pemerintahan tidak sampai mengorbankan kepentingan masyarakat, terutama dalam hal transportasi yang sangat dibutuhkan untuk kegiatan ekonomi dan sosial.

Keputusan penghentian layanan ini akibat penyesuaian anggaran menunjukkan masih adanya ketergantungan pada subsidi pemerintah pusat, yang mencapai Rp50 miliar per tahun.

Meski ada upaya dari Pemerintah Kota Bogor untuk menyediakan alternatif sementara, tetap saja solusi ini tidak dapat sepenuhnya menggantikan kenyamanan dan efisiensi yang ditawarkan Biskita Transpakuan.

Maka, masyarakat perlu tahu tentang skema pendanaan yang lebih berkelanjutan agar layanan ini tidak terus-menerus tergantung pada kebijakan anggaran tahunan yang rentan berubah.

Kritik dari berbagai pihak, termasuk pakar transportasi, menunjukkan bahwa Kota Bogor sebenarnya memiliki anggaran yang cukup untuk tetap menjalankan Biskita tanpa terlalu bergantung pada pemerintah pusat.

Jika kota lain dengan APBD lebih kecil saja bisa mengelola transportasi umum mereka, seharusnya Bogor juga bisa. Namun, masalahnya bukan hanya soal uang, melainkan juga kemauan politik dan sinergi antara pemerintah daerah serta DPRD.

Jika tidak memiliki komitmen yang kuat, kejadian seperti ini akan terus terulang. Pemerintah perlu lebih serius dalam memastikan layanan transportasi umum tetap berjalan tanpa gangguan agar masyarakat tidak terus dirugikan.

Langkah yang telah dilakukan oleh Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya sampai turun tangan menyelesaikan permasalahan ini patut untuk diapresiasi, namun ini juga menjadi pengingat bahwa sistem transportasi umum tidak bisa berjalan dengan ketidakpastian anggaran.

Pemerintah daerah seharusnya mulai mencari solusi jangka panjang, seperti skema pembiayaan daerah yang lebih mandiri atau kerja sama dengan pihak swasta. Selain itu, koordinasi antar-kementerian dan pemerintah daerah harus lebih matang agar kasus seperti ini yang penting bagi masyarakat kota Bogor tidak terulang.

Masyarakat membutuhkan kepastian dalam layanan transportasi, bukan sekadar solusi sementara yang hanya meredam masalah dalam waktu singkat.

Terlebih lagi rencana Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor untuk membuka tujuh rute baru transportasi umum, termasuk di jalur wisata Puncak Bogor, merupakan salah satu langkah positif dalam meningkatkan aksesibilitas dan mengurangi kemacetan di kawasan tersebut.

Dengan adanya rute Ciawi–Rest Area Gunung Mas, wisatawan dan warga lokal akan memiliki alternatif transportasi yang lebih nyaman dibandingkan kendaraan pribadi. Selain itu, moda transportasi umum seperti BisKita Transpakuan diharapkan dapat menjadi solusi bagi pergerakan masyarakat di jalur utama tanpa harus bergantung pada jalur alternatif yang sering kali kurang optimal.

Dilihat dari masalah redupnya biskita di kota Bogor awal tahun ini menjadikan beberapa hal menjadi tumpang tindih. Terlebih lagi dishub kabupaten Bogor meluncurkan transportasi umum dengan rute Ciawi – Rest Area Gunung Mas membuat biskita seperti digantikan.

Para Dishub, BPTJ dan Dirjen Integrasi Transportasi dan Multimoda alangkah lebih baik menahan peluncuran rute Ciawi – Resr Area Gunung Mas hingga masa evaluasi biskita selesai, sehingga pengoperasian Biskita Kota Bogor dan tranportasi umum kabupaten Bogor dapat dilakukan secara bersamaan.

Namun, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pengadaan armada, tetapi juga pada respons dan partisipasi masyarakat dalam beralih ke transportasi umum.

Pemerintah perlu melakukan sosialisasi yang masih serta memastikan kenyamanan, keamanan, dan ketepatan waktu layanan agar masyarakat lebih tertarik menggunakan transportasi umum.

Jika rute baru ini sukses, pengembangannya ke wilayah lain di Kabupaten Bogor akan semakin mudah dan dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Keberlanjutan program ini juga perlu diperhatikan agar tidak mengalami nasib serupa seperti layanan transportasi lainnya yang kerap terhenti akibat keterbatasan anggaran atau kurangnya koordinasi antarinstansi.***

Rhapsody Senja Prambanan: Pertemuan Indah Musik, Hujan, dan Budaya di Akhir Tahun

0

Bogordaily.net – Liburan semester akhir tahun 2024 terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bukan sekadar beristirahat dari kesibukan akademik, tetapi juga menjadi momen untuk kembali ke akar, ke rumah nenek di Jawa. Ada kehangatan tersendiri saat kembali ke kampung halaman, bertemu dengan keluarga besar, menikmati makanan khas buatan nenek, dan merasakan kebahagiaan yang selalu membawa nostalgia. Namun, ada satu hal yang membuat liburan kali ini terasa lebih spesial: keluarga saya sepakat untuk merayakan malam pergantian tahun dengan cara yang lebih unik yaitu di Candi Prambanan, Rhapsody Senja Prambanan!

Awalnya, kami hanya ingin menikmati suasana candi di penghujung tahun, tetapi saat mencari informasi, kami menemukan bahwa di sana akan digelar konser musik Swara Prambanan yang bertepatan dengan malam tahun baru.

Konser ini menjadi daya tarik tersendiri karena menampilkan deretan musisi hebat dari berbagai genre, mulai dari legenda musik Indonesia seperti Vina Panduwinata, penyanyi pop berbakat Raisa, hingga musisi dengan lirik-lirik puitis seperti Nadin Amizah.

Bahkan, grup idola JKT48 yang terkenal dengan lagu-lagu energiknya juga turut meramaikan panggung. Saya dan orang tua memiliki selera musik yang beragam, sehingga ini menjadi kesempatan langka untuk menikmati pertunjukan yang bisa dinikmati bersama.

Setelah berdiskusi dan memastikan jadwalnya cocok, kami segera membeli tiket konser Swara Prambanan. Rasanya begitu antusias membayangkan bagaimana suasana akhir tahun di candi yang sarat sejarah ini, berpadu dengan alunan musik yang menggema di tengah keagungan arsitektur masa lampau.

Hujan Rintik yang Menambah Romansa
Sore hari tanggal 31 Desember 2024, kami berangkat menuju Candi Prambanan. Jalanan menuju lokasi cukup ramai, tanda banyaknya orang yang juga ingin merayakan tahun baru di sana. Sepanjang perjalanan, langit tampak mendung, memberi pertanda bahwa hujan bisa turun kapan saja.

Setibanya di Prambanan, suasana begitu semarak. Banyak pengunjung yang sudah memenuhi area candi, beberapa di antaranya tampak mengenakan pakaian berkain seperti kami. Kami sengaja memilih outfit yang lebih tradisional, saya mengenakan kain batik dengan kebaya modern, sementara orang tua saya juga mengenakan pakaian bercorak budaya.

Rasanya seperti kembali ke masa lalu, namun dengan sentuhan modern di tengah festival musik. Rintik hujan mulai turun saat matahari perlahan tenggelam. Tapi bukannya mengganggu, justru hujan menambah suasana magis di tempat ini.

Udara menjadi lebih sejuk, dan tetesan air yang jatuh membaur dengan cahaya lampu yang menerangi bangunan candi. Beberapa orang membuka payung, sementara yang lain memilih menikmati hujan dengan jas hujan tipis yang dibagikan di lokasi.

Panggung besar berdiri megah dengan latar belakang siluet candi yang terlihat mistis di balik pencahayaan yang dramatis. Konser dimulai dengan penampilan Vina Panduwinata, sang diva yang membawa suasana nostalgia bagi banyak penonton.

Lagu “Burung Camar” bergema di udara, membuat orang-orang bernyanyi bersama dalam irama yang lembut. Saya bisa melihat orang tua saya tersenyum, menikmati alunan lagu yang membawa mereka kembali ke masa muda.

Setelah itu, suasana berubah saat JKT48 tampil dengan lagu-lagu mereka yang ceria. Riuh penonton yang sebagian besar anak muda memenuhi area depan panggung, bernyanyi dan menari mengikuti irama. Meskipun saya bukan penggemar berat mereka, saya bisa merasakan energi yang luar biasa dari para anggota dan penggemarnya.

Lalu, giliran Nadin Amizah yang mengambil alih panggung. Hujan yang masih rintik-rintik semakin menambah kesyahduan saat ia menyanyikan “Bertaut” dan “Sorai”. Liriknya yang puitis, ditambah dengan suaranya yang lembut, membuat saya larut dalam perasaan. Bahkan, beberapa penonton terlihat terhanyut dan menitikkan air mata.

Dan akhirnya, Raisa muncul sebagai salah satu penampil utama malam itu. Lagu-lagunya seperti “Kali Kedua” dan “Serba Salah” membangkitkan suasana yang lebih intim. Saya dan banyak penonton lainnya ikut bernyanyi, menciptakan momen yang begitu hangat di tengah udara malam yang mulai dingin.

Momen Puncak: Pergantian Tahun di Prambanan
Saat jarum jam semakin mendekati tengah malam, suasana semakin memuncak. Semua artis yang tampil kembali ke panggung, menyanyikan lagu terakhir bersama, menciptakan harmoni yang begitu indah.

“10… 9… 8…” Hitungan mundur mulai terdengar di seluruh area konser. Semua orang menatap ke langit, menunggu detik-detik terakhir tahun 2024. “3… 2… 1… Selamat Tahun Baru!”. Langit Prambanan tiba-tiba dipenuhi dengan cahaya kembang api yang menyala terang. Sorak sorai penonton menggema, dan saya bisa merasakan kebahagiaan.

Saya melihat ke arah orang tua saya, yang tersenyum penuh kehangatan. Saat kami berjalan meninggalkan area konser, suasana masih terasa magis.

Cahaya-cahaya lampu yang masih menyala, suara orang-orang yang masih berdiskusi tentang pertunjukan malam itu, dan aroma tanah basah yang khas setelah hujan, semuanya menyatu dalam satu pengalaman yang tak terlupakan.

Tahun baru ini bukan hanya tentang perayaan dan musik, tetapi juga tentang bagaimana kami bisa merayakan budaya, sejarah, dan kebersamaan dalam satu momen yang indah.

Saya merasa beruntung bisa menutup tahun di tempat yang begitu bersejarah, ditemani suara merdu para musisi, rintik hujan yang romantis, dan tentunya, kebersamaan keluarga yang semakin erat.

Jika ada satu hal yang saya pelajari dari malam itu, adalah bahwa cara kita merayakan pergantian tahun bisa memberikan makna yang berbeda bagi setiap orang. Dan bagi saya, Swara Prambanan 2024 telah menjadi kenangan berharga yang akan selalu saya simpan.

Ratih Eka Noviyana, Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

Tekad Urip Pambudi: Sukses Berwirausaha dan Menebar Manfaat Melalui Mengajar

1

Bogordaily.net – Tekad Urip Pambudi, yang akrab disapa Pak Tekad, adalah seorang dosen di Sekolah Vokasi IPB University sekaligus Komisaris Utama PT Agro Apis Palacio, perusahaan yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan. Lahir di Magetan pada 3 November 1990, perjalanan hidupnya penuh dengan dedikasi dalam dunia akademik dan bisnis.

Masa Kecil dan Pendidikan Awal

Pak Tekad menempuh pendidikan dasarnya di beberapa sekolah akibat perpindahan dinas ayahnya yang merupakan seorang ASN. Ia mengawali sekolah di SDN Yosorati 2 Jember selama tiga tahun, kemudian pindah ke SDN Banjarejo 3, dan akhirnya menyelesaikan pendidikan dasarnya di SDN Sugihrejo pada 2002.

Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan di SMP 1 Kawedanan hingga lulus pada 2005. Sejak SMP, ia mulai tertarik dengan dunia peternakan karena tumbuh dalam keluarga yang berkecimpung dalam bisnis jual beli hewan ternak.

Perjalanan Akademik dan Awal Karier

Masa SMA di SMA 1 Magetan menjadi titik awal prestasinya di bidang akademik. Ia aktif dalam berbagai lomba, termasuk Olimpiade Biologi tingkat kabupaten dan menjadi semifinalis Olimpiade Farmasi Nasional.

Prestasi ini membawanya mendapat kesempatan kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Namun, karena minatnya yang lebih besar terhadap peternakan, ia memilih untuk berkuliah di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), mengambil jurusan Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan.

Pada 2008, ia memulai studi S1-nya. Dua tahun kemudian, terinspirasi oleh buku Rich Dad, Poor Dad, ia bersama dua rekannya mendirikan bisnis peternakan. Awalnya, bisnis ini hanya bergerak di jual beli hewan ternak, tetapi berkembang dengan berbagai inovasi seiring waktu.

Lulus S1 pada 2012, ia langsung melanjutkan studi magister di program yang sama. Keputusan ini bukan hanya untuk pengembangan diri, tetapi juga untuk memperkuat bisnisnya. Baginya, dengan melanjutkan studi, ia tidak hanya membangun bisnis tetapi juga meningkatkan kapasitas pribadinya sebagai pelaku industri.

Pada 2015, bisnisnya resmi berbadan hukum dengan nama PT Agro Apis Palacio, bersamaan dengan kelulusannya dari jenjang S2. Perusahaan ini kini berkembang tidak hanya di bidang peternakan tetapi juga dalam layanan waste treatment and management service, produksi pupuk dan pakan ternak, serta penyediaan layanan aqiqah dan katering.

Menjadi Akademisi dan Kontribusi di Dunia Pendidikan

Setahun setelah menyelesaikan S2, Pak Tekad kembali melanjutkan pendidikannya ke jenjang doktoral di bidang yang sama. Ia berhasil meraih gelar doktor pada 2020 di usia 30 tahun.

Pada 2021, Tekad Urip Pambudi, bergabung sebagai dosen di Program Studi Analisis Kimia Sekolah Vokasi IPB, mengajar mata kuliah seperti Bahan Alam dan Antioksidan, Metodologi Penelitian Kimia, serta Kewirausahaan Kimia.

Sebelumnya, ia sudah memiliki pengalaman mengajar sebagai tutor di Mafia Club (2009–2011), Salemba Group (2010–2016), dan asisten dosen praktikum di Fakultas Peternakan IPB (2010–2016).

Penghargaan dan Kontribusi dalam Dunia Penelitian

Selain aktif di dunia akademik dan bisnis, Pak Tekad memiliki banyak kontribusi dalam penelitian. Ia telah menerbitkan lebih dari 20 karya ilmiah dan menjadi Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian pada 2019. Sebelumnya, pada 2018, ia meraih juara 1 nasional dalam program Penumbuhan Wirausaha Muda Kementerian Pertanian.

Kini, bisnis yang dibangunnya telah berjalan secara autopilot, memberinya lebih banyak waktu untuk fokus pada penelitian, pengajaran, serta membimbing generasi muda. Dalam wawancara pada Februari 2025, ia menyatakan keinginannya untuk terus berbagi ilmu agar bermanfaat bagi orang lain dan meninggalkan warisan intelektual yang dapat dikenang.
Pak Tekad adalah bukti bahwa pendidikan, inovasi, dan ketekunan dapat berjalan beriringan dalam membangun masa depan yang lebih baik.***

 

Anatasya Disha

Pengaruh Komunikasi Digital dan Fenomena Echo Chamber Terhadap Pembentukan Opini Publik

0

Bogordaily.net – Dalam beberapa dekade terakhir, komunikasi digital telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini didorong oleh kemajuan teknologi dan semakin luasnya akses internet. Perubahan ini telah mengubah secara mendasar cara masyarakat berinteraksi, berbagi informasi, dan membentuk opini. Media sosial, yang mencakup platform seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan YouTube, kini menjadi alat utama bagi individu dan kelompok untuk menyebarkan opini, berita, dan informasi secara langsung kepada khalayak yang luas, tanpa batasan geografis dan waktu.

Sebelum era digital, media massa tradisional seperti televisi, radio, dan surat kabar memegang peran dalam penyebaran informasi dan pembentukan opini publik. Kini, platform digital memungkinkan komunikasi langsung tanpa perantara, memberikan kesempatan bagi pengguna untuk terhubung dan terlibat dalam diskusi yang lebih luas.

Namun, di balik kebebasan berbagi opini, berita, dan informasi, muncul tantangan serius yang disebut dengan “echo chamber”. Fenomena ini, yang mungkin sudah familiar bagi pengguna aktif media sosial, terjadi ketika seseorang hanya terpapar pada pandangan, ide, atau informasi yang sesuai dengan keyakinan dan prasangka mereka yang sudah ada dan algoritma media sosial seringkali memperkuat fenomena ini dengan menampilkan konten yang relevan dengan preferensi pengguna, sehingga menciptakan lingkaran informasi yang homogen.

Echo chamber tidak hanya terjadi di media sosial saja, tetapi juga terjadi dalam kehidupan nyata. Dalam komunikasi digital, fenomena ini memperburuk polarisasi, menyebarkan bias informasi, dan menurunkan kualitas diskusi publik.

Definisi Echo Chamber dalam Dunia Digital
Menurut Khairina J. H. W at al (2022). Echo chamber merupakan fenomena yang terjadi yang terjadi dilingkungan online di mana orang-orang dalam lingkungan tersebut hanya berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pemikiran serupa dengan dirinya, sehingga tidak ada interaksi yang cukup dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang berbeda. Echo chamber dapat menciptakan ketidaksesuaian terkait perspektif orang-orang sehingga mereka menjadi sulit melihat dan mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Orang-orang seperti ini biasanya sulit diajak diskusi tentang sesuatu yang rumit atau yang bertentangan dengan pandangan dan pendapatnya.

Mekanisme terjadinya echo chamber di dunia digital dipengaruhi oleh interaksi antara algoritma media sosial dan perilaku pengguna. Salah satu mekanisme utamanya adalah penggunaan algoritma ‘filter bubble’. Algoritma ini menyajikan konten serupa dan mengelompokkan pengguna dengan mereka yang memiliki kesukaan atau opini yang sama. Hal ini didasarkan pada preferensi dan aktivitas pengguna, seperti like, klik, pencarian, komentar, dan share, untuk menentukan topik yang diminati. Algoritma ini dapat membuat pikiran kita terbiasa dengan konten favorit yang nyaman, sehingga akhirnya membuat kita menutup mata terhadap dunia di luar topik tersebut.

Selanjutnya, mekanisme terjadinya echo chamber dapat dilihat melalui interaksi yang menciptakan lingkungan homogen. Rata-rata pengguna media sosial cenderung berinteraksi dengan individu yang memiliki pandangan serupa, sehingga lingkungan yang homogen ini memperkuat keyakinan mereka dan mengurangi keterbukaan terhadap pandangan yang berbeda. Selain itu polarisasi politik juga menjadi salah satu pemicu terjadinya. Dalam polarisasi politik, orang-orang hanya terpapar dengan pandangan atau informasi yang sesuai dengan apa yang sudah mereka percayai atau inginkan, sehingga dapat memperkuat pandangan yang sudah ada dan mengurangi kemampuan seseorang untuk mempertimbangkan pendapat atau informasi yang berbeda.

Pembentukan Opini Publik di Era Digital
Sifat media sosial sebagai ruang publik memiliki pengaruh besar dalam pembentukan opini publik. Pengguna dapat berbagi informasi, berdiskusi, dan bahkan membentuk persepsi masyarakat. Sebagaimana diungkapkan dalam jurnal Media Sosial Sebagai Ruang Publik karya Salman, media sosial memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk menyebarkan informasi dari perspektif mereka sendiri. Hal ini menjadikan media sosial sebagai ruang publik yang terbuka, di mana setiap orang dapat menyampaikan pendapat dan berkontribusi dalam pembentukan opini publik.

Peran Echo Chamber dalam Membentuk Opini Publik
Dalam era digital, echo chamber berperan penting dalam pembentukan opini publik. Algoritma media sosial, seperti yang digunakan pada fitur share dan retweet, mempercepat penyebaran informasi hingga menjangkau jutaan pengguna dalam waktu singkat. Akibatnya, informasi yang viral dalam echo chamber dapat dengan cepat mempengaruhi opini publik. Semakin tinggi interaksi di dalam echo chamber, semakin besar pula pengaruhnya terhadap pembentukan opini publik. Suhendra & Pratiwi, (2024).

Dampak Negatif Echo Chamber terhadap Opini Publik
Dilansir dari jurnal Peran Komunikasi Digital dalam Pembentukan Opini Publik: Studi Kasus Media Sosial Suhendra dan Pratiwi, (2024) menjelaskan bahwa algoritma media sosial dapat memperkuat bias konfirmasi. Hal ini serupa dengan peran echo chamber dalam membentuk opini publik melalui polarisasi. Echo chamber mengumpulkan orang-orang dengan pandangan serupa, yang dapat menyebabkan polarisasi opini. Akibatnya, terjadi masalah pada diskusi publik dan masyarakat terpecah-pecah karena memiliki pendapat yang sangat bertolak belakang.

Selain itu, echo chamber berkontribusi pada penyebaran disinformasi dan hoaks. Individu cenderung menerima informasi tanpa memverifikasi kebenarannya, sehingga informasi palsu menyebar dengan cepat dan diterima sebagai kebenaran di dalam kelompok. Hal ini memperburuk kebingungan publik dan merusak kepercayaan terhadap sumber informasi, serta menurunkan kualitas informasi yang beredar.

Solusi untuk Mengatasi Dampak Buruk Echo Chamber
Untuk mengatasi tantangan-tangangan yang sedang beredar di era digital ini, diperlukan solusi dari aspek komunikasi digital yang komprehensif. Salah satu solusi utama adalah peningkatan literasi digital, yang penting untuk membantu individu mengevaluasi informasi secara kritis dan menghindari terjebak dalam echo chamber. Literasi digital mengajarkan individu untuk memeriksa dan memverifikasi informasi yang diterima, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh informasi palsu atau bias. Selain itu, berinteraksi dengan individu yang memiliki pandangan berbeda juga sangat penting untuk memperluas pemahaman tentang suatu isu dan menghindari polarisasi. Keterbukaan terhadap berbagai perspektif dan kemampuan untuk mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda juga diperlukan untuk membangun diskusi publik yang sehat. Terakhir, penggunaan teknologi dan media sosial yang bijaksana sangat penting untuk mendapatkan informasi yang akurat dan menghindari penyebaran hoaks atau disinformasi yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.***

Ginandita Novi Andhini
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB