Home Blog Page 1087

Perjalanan Dr. Lili Dahliani: Dari Anak Pecinta Tanaman hingga Pakar Manajemen Perkebunan

0

Bogordaily.net – Dr. Ir. Lili Dahliani, MM., M.Si, adalah seorang akademisi dan praktisi di bidang Teknologi dan Manajemen Produksi Perkebunan. Saat ini, beliau menjabat sebagai dosen tetap di Program Studi Teknologi dan Manajemen Produksi Perkebunan Sekolah Vokasi IPB dengan jabatan fungsional sebagai Associate Professor. Perjalanan akademiknya mencakup pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1987, S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2004 dengan dua gelar Magister, yakni Magister Manajemen dan Magister Sains, serta S3 di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2013.

Masa Kecil dan Ketertarikan pada Perkebunan

Lahir di Padang pada 25 Juli 1963, Dr. Lili sebenarnya berasal dari Bogor. Meskipun awalnya tidak bercita-cita terjun ke dunia perkebunan, sejak kecil beliau memiliki ketertarikan terhadap tanaman. Saat tinggal di rumah neneknya, ia sering mengambil bibit cabai dan tomat yang tumbuh di sekitar rel kereta, lalu menanamnya di pekarangan rumah. Kebiasaannya menanam dan melihat hasil panennya semakin menguatkan minatnya terhadap pertanian.

Ketika SMA, Dr. Lili memiliki keinginan untuk menempuh pendidikan di bidang desain interior, namun sang ayah menekankan pentingnya pemerataan pendidikan bagi semua anaknya. Sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara, ia kemudian diarahkan untuk masuk ke bidang pertanian karena kecintaannya terhadap tanaman. Awalnya, beliau mengira pertanian hanya tentang bercocok tanam, tetapi kemudian menyadari bahwa cakupannya sangat luas.

Perjalanan Karier di Dunia Akademik

Dr. Lili memulai kariernya di Jakarta sebelum mendapatkan kesempatan bekerja di Yogyakarta, tepatnya di Lembaga Pendidikan Perkebunan. Keputusan untuk bekerja di Yogyakarta juga dipengaruhi oleh ayahnya, yang menginginkan agar beliau berada di dekat adik-adiknya yang sedang berkuliah di Universitas Gadjah Mada.

Di tempat kerja barunya, Dr. Lili menemukan passion dalam bidang perkebunan karena sering mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke berbagai perkebunan, baik di dalam maupun luar negeri, seperti kebun kopi, tebu, karet, kakao, kelapa sawit, serta pengalaman belajar tentang tebu di Cina dan teh di Jepang. Tanpa disadari, beliau telah menjalankan peran sebagai dosen, namun bukan untuk mahasiswa melainkan untuk karyawan perkebunan yang sedang menjalani pelatihan untuk kenaikan pangkat.

Setelah 14 tahun bekerja, Dr. Lili mendapatkan peluang untuk melanjutkan pendidikan S2 di IPB dengan beasiswa. Beliau menyelesaikan studinya pada tahun 2004 dan semakin mendalami bidang manajemen perkebunan serta pengelolaan sumber daya manusia di sektor ini.

Dalam dunia akademik, Dr. Lili lebih menekankan pada aspek manajemen perkebunan secara keseluruhan, tidak hanya dari segi teknis tetapi juga dalam pengelolaan sumber daya, baik itu aspek soft skill maupun hard skill. Baginya, filosofi mengajar adalah salah satu bentuk ibadah dan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Beliau percaya bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir bahkan setelah meninggal dunia.

Tantangan dan Masa Depan Perkebunan Indonesia

Menurut Dr. Lili, tantangan terbesar dalam industri perkebunan Indonesia saat ini adalah mindset dan karakter tenaga kerja. Profesionalisme yang memiliki kemampuan berpikir kritis sering kali tidak mendapatkan tempat yang seharusnya. Namun, beliau tetap berusaha menanamkan nilai-nilai ini kepada generasi penerus.

Untuk masa depan, beliau berharap perkebunan di Indonesia bisa berkembang secara berkelanjutan, tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan dan nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu visinya adalah menjadi Guru Besar di bidang manajemen perkebunan, mengingat masih sedikit akademisi yang fokus di bidang ini. Beliau juga ingin agar Sekolah Vokasi IPB memiliki profesor yang berfokus pada manajemen perkebunan.

Bagi Dr. Lili, kebanggaan terbesarnya bukanlah gelar atau jabatan, tetapi bagaimana ia bisa menjadi anak yang berbakti dan membanggakan orang tuanya. Prinsip keluarganya menekankan bahwa pendidikan adalah modal utama dalam kehidupan. Selain itu, keluarganya juga menerapkan kesetaraan gender dalam pembagian tugas rumah tangga, mencerminkan nilai-nilai yang ia pegang teguh hingga saat ini.

Sebagai akademisi, beliau ingin dikenal sebagai “Ibu Manajemen Perkebunan” yang memberikan kontribusi nyata dalam memecahkan masalah-masalah di industri perkebunan. Salah satu momen paling berkesan baginya adalah saat berhasil membimbing mahasiswa yang awalnya dianggap malas atau tidak berprestasi menjadi individu yang lebih baik dan sukses di bidangnya.

Dengan pengalaman lebih dari 35 tahun mengajar, Dr. Lili Dahliani terus berkomitmen untuk mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam keilmuan tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan profesionalisme yang tinggi. Baginya, ilmu yang bermanfaat adalah warisan terbaik yang bisa ia tinggalkan. Sesuai dengan value IPB, Inspiring Innovation with Integrity, Dr. Lili Dahliani terus berkomitmen untuk menghadirkan inovasi dengan menjunjung tinggi nilai integritas dalam setiap langkahnya.***

 

Asyri Abghi Rahmah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Lapangan Banteng: Lebih dari Sekadar Wisata

0

Bogordaily.net – Mentari pagi Jakarta bersembunyi di balik awan kelabu saat saya tiba di Lapangan Banteng. Meskipun langit kelabu, semangat beraktivitas tidak surut; banyak orang dari berbagai kalangan berkumpul di sini.

Saya awalnya mengira tempat ini akan sepi pengunjung, tetapi ternyata saya salah. Kedatangan saya hari itu adalah untuk menjalankan sebuah proyek kecil, mengajak anak-anak sekitar untuk menikmati kegiatan yang telah kami persiapkan.

Namun, tulisan ini bukanlah tentang mempromosikan Lapangan Banteng sebagai destinasi wisata; ini adalah kisah perjalanan dan pengalaman berharga saya di hari yang tenang itu.

Sebagai project planner di komunitas Book Buddies, sebuah komunitas yang berdedikasi untuk meningkatkan literasi di Indonesia, saya merasa terpanggil untuk berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih gemar membaca.

Salah satu proyek terbaru kami, “Taman Baca,” adalah wujud nyata dari impian tersebut. Kegiatan book club offline ini dirancang untuk menjangkau lebih banyak orang dan menumbuhkan minat baca, terutama di kalangan masyarakat urban.

Setelah melakukan survei ke berbagai lokasi, departemen kami sepakat memilih Lapangan Banteng di Pasar Baru, Jakarta Pusat, sebagai lokasi kegiatan yang akan diadakan pada tanggal 22 Februari 2025.

Lapangan Banteng terpilih karena suasananya yang terbuka dan aksesibilitasnya yang tinggi, yang kami yakini akan menarik perhatian publik dan menciptakan ruang yang nyaman untuk berinteraksi dengan buku.

Untuk persiapan pribadi, saya hanya membawa barang-barang penting seperti dompet, battery pack, dan air minum.

Kegiatan ini sangat saya nantikan, bukan hanya karena dapat bertemu langsung dengan anggota departemen dan komunitas lainnya dari berbagai daerah, tetapi juga karena saya berharap dapat melihat senyum dan semangat yang terpancar dari wajah anak-anak, yang merasakan kegembiraan dalam mengikuti aktivitas mewarnai yang kami sediakan sebelum akhirnya menuju ke aktivitas utama, yaitu book sharing session.

Komunitas yang menarik perhatian saya ini banyak mengadakan kegiatan yang dilakukan secara daring karena banyaknya anggota yang berdomisili di luar Jabodetabek. Namun dengan diadakannya kegiatan Taman Baca, saya tetap bisa bertemu dengan anggota komunitas lainnya yang berasal dari daerah Jabodetabek.

Di sana, saya tidak hanya bertemu dengan sesama mahasiswa, tetapi juga dengan adik-adik SMP, teman-teman SMA, bahkan orang-orang yang sudah memiliki pengalaman kerja.

Meskipun tidak banyak anggota yang hadir, saya tetap senang dapat bertemu dengan anggota-anggota tersebut, karena dengan berkenalan dengan mereka dapat memperluas wawasan dan pengetahuan saya, serta meningkatkan kemampuan saya dalam beradaptasi di sebuah lingkungan dengan latar belakang yang berbeda.

Setiap obrolan, setiap senyum, terasa seperti pelajaran berharga yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah.

Saat melangkah masuk ke Lapangan Banteng, keraguan perlahan menyelinap ke dalam pikiran saya. Rencana awal komunitas kami adalah menarik sebanyak mungkin pengunjung untuk bergabung dalam kegiatan yang telah kami siapkan dengan penuh semangat.

Namun, kenyataan di lapangan sedikit berbeda dari apa yang saya bayangkan. Langit yang menggelap dan rintik hujan yang turun perlahan seolah mengiringi kedatangan saya. Suasana di Lapangan Banteng saat itu terasa begitu tenang dan damai, jauh dari ekspektasi saya tentang kehidupan di tengah kota metropolitan Jakarta.

Meskipun atmosfernya sejuk dan menenangkan, awan kelabu yang menggantung di atas kepala menurunkan optimisme saya dan anggota komunitas lainnya untuk dapat melibatkan banyak khalayak di sekitar dalam kegiatan yang akan kami adakan.

Harapan untuk melihat Lapangan Banteng dipenuhi tawa dan semangat tampaknya harus sedikit bersabar menunggu mentari kembali bersinar.

Senyum merekah di wajah kami saat berhasil mengajak beberapa anak dari sekitar Lapangan Banteng untuk bergabung dalam kegiatan mewarnai yang kami adakan secara cuma-cuma.

Pendekatan kami sederhana: mengajak mereka mengobrol ringan, lalu menawarkan kesempatan untuk berkreasi dengan warna bersama-sama, tentu saja setelah mendapatkan izin dari orang tua mereka.

Proses ini, tanpa disadari, menjadi latihan keberanian yang berharga bagi kami dalam berinteraksi dengan orang baru. Usai sesi mewarnai yang riang, giliran para remaja dan dewasa muda yang hadir untuk berpartisipasi dalam book sharing session.

Pada aktivitas tersebut, kami berdikusi mengenai dunia literasi di Indonesia, mulai dari fenomena alternative universe (AU) yang populer di kalangan remaja dan kini banyak diadaptasi menjadi buku serta pro dan kontranya, hingga pentingnya peningkatan literasi digital di era modern, mengingat digitalisasi yang semakin merajalela.

Kegiatan ini menjadi inti dari acara kami, memberikan dampak yang jauh lebih besar dari sekadar kesenangan.

Lebih dari itu, book sharing session menjadi wadah pembelajaran untuk saling menghargai pendapat dan opini yang berbeda, serta memberikan kesempatan bagi setiap peserta untuk menyuarakan pandangan mereka dengan bebas.

Sebagai penutup dari perjalanan singkat saya di Lapangan Banteng, saya menyadari betapa berharganya sebuah inisiatif komunitas seperti Book Buddies.

Meski langit Jakarta saat itu tak sepenuhnya cerah, semangat untuk berbagi dan belajar tetap membara di hati setiap peserta “Taman Baca”.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa dampak positif tidak selalu harus diukur dari jumlah orang yang hadir, melainkan dari kualitas interaksi dan pembelajaran yang terjadi.

Oleh karena itu, saya mengajak Anda, para pembaca, untuk tidak ragu terlibat dalam kegiatan komunitas di sekitar Anda.

Entah itu komunitas literasi, seni, lingkungan, atau bidang lainnya, setiap langkah kecil yang Anda ambil akan memberikan kontribusi berarti bagi masyarakat.

Jangan takut untuk berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, karena dari sanalah kita bisa belajar dan tumbuh bersama.

Pada akhirnya, perjalanan ke Lapangan Banteng ini bukan hanya tentang mewarnai gambar atau bertukar buku, tetapi tentang mewarnai kehidupan dan membuka lembaran baru dalam diri saya.

Semoga kisah ini dapat menginspirasi Anda untuk menciptakan kisah Anda sendiri—kisah tentang bagaimana Anda berkontribusi dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.***

 

Luthfiyah Farida Balqis | Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Sejenak Pulang, Sejenak Bertualang: Menyusuri Rindu di Curug Goa Lumut Endah

0

Bogordaily.net – Pertengahan tahun selalu membawa rindu yang menggebu. Setelah berbulan-bulan berkutat dengan tugas, praktikum, dan hiruk-pikuk kehidupan rantau, akhirnya ada waktu untuk pulang. Bukan hanya kembali ke rumah, tapi juga kembali ke kehangatan keluarga dan tawa teman-teman lama yang semakin jarang bersua.

Liburan semester bukan sekadar jeda, melainkan kesempatan untuk melebur kembali dalam kebersamaan yang sempat tergerus kesibukan. Grup WhatsApp yang biasanya sepi tiba-tiba penuh notifikasi, berisi rencana-rencana spontan yang nyaris tak pernah benar-benar matang, hingga akhirnya satu keputusan diambil: kami akan menjelajahi salah satu surga tersembunyi di Gunung Salak, Curug Goa Lumut Endah.

Langit masih gelap ketika perjalanan kami dimulai. Pukul enam pagi, udara Bogor yang dingin menyentuh kulit, membawa serta aroma tanah basah sisa hujan semalam. Aku berdiri di depan kosan, mataku masih berat oleh kantuk, tetapi hatiku penuh semangat. Hari ini, akhirnya, kami akan bertualang bersama lagi.

Dua motor melaju pelan mendekat, lampunya menembus kabut tipis pagi itu. Tiga temanku datang menjemput, wajah mereka sedikit lelah setelah menerjang jalanan Cikarang-Bogor, tetapi tetap ceria. Sementara itu, rombongan lain yang berjumlah delapan orang, masih bersiap-siap untuk menyusul. Salah satu dari mereka baru saja selesai bekerja, tetapi rasa lelah seolah bukan penghalang bagi kami untuk menikmati liburan yang sudah direncanakan ini.

Bersama tiga temanku, aku memulai perjalanan ini dengan santai. Angin pagi yang sejuk menyapu wajah, membawa aroma embun dan dedaunan basah. Jalanan kota perlahan berganti menjadi pemandangan khas pedesaan, dengan sawah yang masih berselimut kabut tipis dan warung-warung yang baru saja membuka pintunya.

Awalnya, aku sempat khawatir akan terjebak kemacetan di Jalan Raya Dramaga. Namun, pagi ini semesta seperti merestui perjalanan kami: Dramaga lancar jaya! Tak ingin terburu-buru, kami menepi di pinggir jalan, berhenti sejenak untuk menikmati bubur ayam hangat dan teh tawar yang mengepul di udara pagi. Rasanya sederhana, tetapi momen seperti inilah yang membuat perjalanan terasa lebih berarti.

Semakin lama, motor yang kami tumpangi bergerak semakin menanjak. Jalanan mulai berliku, menandakan bahwa kami telah memasuki kawasan Gunung Salak. Udara yang tadi sejuk kini terasa semakin menusuk, membawa aroma khas pepohonan basah dan tanah yang lembap. Kabut tipis masih menggantung di beberapa sudut, tetapi sinar matahari pagi mulai menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pemandangan yang begitu menenangkan. Tak ingin melewatkan momen ini begitu saja, kami beberapa kali menepi, sekadar mengabadikan keindahan pagi di Gunung Salak.

Kami tiba di pintu masuk utama pukul 10 pagi, disambut oleh deretan pilihan curug yang menggoda untuk dijelajahi. Namun, tanpa ragu, kami tetap pada rencana awal: Curug Goa Lumut Endah. Aku dan ketiga temanku melangkah masuk ke area curug, menghirup udara segar yang dipenuhi aroma pepohonan basah, sementara sesekali mengecek ponsel, memastikan komunikasi tetap lancar dengan rombongan yang masih dalam perjalanan.

Kami menyempatkan diri berfoto sebelum berganti pakaian, mengabadikan momen dengan latar Curug Goa Lumut Endah yang begitu elok. Airnya hari ini luar biasa jernih, hingga bebatuan di dasar terlihat jelas dari permukaan. Setelah puas berfoto, kami berganti pakaian dan mencari tempat aman untuk menaruh tas. Tidak terburu-buru, kami duduk santai, menikmati suasana sambil bersenda gurau dan mengunyah camilan. Perlahan, kami mencoba mencelupkan kaki ke dalam air, seketika rasa dinginnya menyengat, seperti mencelupkan kaki ke dalam es!

Setelah dua jam menunggu sambil bermain air, akhirnya rombongan kedua tiba. Begitu melihat mereka, aku langsung bertanya kenapa butuh waktu selama itu. Ternyata, mereka sempat nyasar di jalan! Pantas saja terasa begitu lama, seharusnya mereka bisa menikmati keindahan curug ini lebih awal. Tapi tak apa, yang penting sekarang kami sudah berkumpul lengkap, siap melanjutkan petualangan bersama.

Begitu tiba, rombongan kedua langsung mengajak kami memasak mi rebus dengan kompor portabel—mungkin perut mereka sudah keroncongan setelah perjalanan panjang. Tanpa menunda lagi, beberapa orang mulai sibuk menyiapkan mi, sementara yang lain tak bisa menahan godaan untuk langsung bermain di dekat air terjun. Aroma kuah mi yang hangat bercampur dengan udara sejuk pegunungan, menambah kenyamanan di tengah kebersamaan ini.

Aku dan teman-teman bercengkerama, tertawa lepas, dan mengabadikan momen dengan berfoto, semua terasa lebih hangat dengan semangkuk mi panas di tangan. Pemandangan air terjun yang menakjubkan semakin menyempurnakan suasana, membuat segala lelah perjalanan terasa terbayar. Di atas pohon, monyet-monyet bergelayutan lincah, sesekali turun mendekat, seolah ingin ikut bergabung—atau mungkin hanya mengincar makanan kami.

Setelah puas bermain air hingga tubuh mulai kedinginan dan tangan mengerut, kami pun membersihkan diri dan berganti pakaian. Begitu pakaian telah berganti, kami kembali mengabadikan momen dengan berfoto di dekat curug, seolah enggan berpisah dari keindahan tempat ini. Namun, waktu terus berjalan, langit perlahan berubah jingga, pertanda hari mulai sore. Kami bersiap untuk pulang, meninggalkan curug dengan kenangan yang tak terlupakan. Kali ini, aku ikut bersama teman-temanku ke Cikarang, karena urusanku di Kota Hujan telah usai.

Langit sudah benar-benar gelap saat kami tiba di Cikarang, menandakan perjalanan panjang kami akhirnya hampir usai. Satu per satu teman-teman berpamitan, hingga yang tersisa hanya tiga orang yang sejak pagi menjemputku di kosan. Sebelum benar-benar pulang, kami menyempatkan diri mengisi perut di warung sate pinggir jalan, menikmati sate ayam hangat dengan nasi putih yang terasa semakin nikmat setelah seharian beraktivitas. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan ponselku mulai dipenuhi panggilan dari orang tuaku yang cemas menanyakan keberadaanku. Setelah kenyang dan sedikit beristirahat, akhirnya kami pun berpisah, kembali ke rumah masing-masing dengan kenangan perjalanan yang tak terlupakan.***

 

Asyri Abghi Rahmah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

 

Jelang Lebaran, Disperdagin Gelar Bazar Murah di Area Pemkab Bogor

Bogordaily.net – Jelang lebaran, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Bogor melaksanakan bazar murah di Lapangan Tegar Beriman, Kecamatan Cibinong, pada Kamis 20 Maret 2025.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) Kabupaten Bogor Arif Rahman menjelaskan bahwa,  kegiatan bazar murah ini dilakukan untuk memberikan kebutuhan kebutuhan dengan harga murah, ditengah kenaikan harga menjelang hari raya idul fitri.

Salah satunya, Minyakita dengan harga Rp.14.700 dari harga pasaran mencapai Rp.17.700 kemudian telur dengan harga Rp. 24.000, dari harga Rp. 27.000.

“Jadi menjelang idul fitri ternyata kan harga di pasaran juga kan naik. Kita coba memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk memperoleh harga pangan di bawah pasaran,” kata Arif kepada wartawan, Kamis 20 Maret 2025.

Ia menjelaskan, kegiatan itu akan berlangsung selama dua hari, tentunya untuk bisa memberikan kesempatan masyarakat di Kabupaten khususnya Cibinong untuk dapat  berbelanja.

“Iya besok kita masih, sama kok jual produk dan kebutuhan menjelang lebaran, jadi kita berikan kesempatan pada masyarakat lah, 2 hari cukup buat kita berikan kesempatan,” jelasnya.

Arif menambahkan, pihaknya turut bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM untuk menyediakan berbagai tenant tenant bagi kebutuhan harian masyarakat.

“UMKM kita hampir 19 tenda, kemudian ada bidang dari kadin, terus SKPD, dinas perikanan dan peternakan kemudian ada dari tenant modern indomaret alfamart dan sebagainya,” ujar Arif.

Lebih lanjut, pihaknya juga mengaku menjual berbagai kebutuhan pokok hari raya lainya, seperti parcel, pakaian, hingga kue lebaran.

“Produk yang kita jual ini kebutuhan pangan dan kebutuhan menjelang idul fitri, kat kue lebaran kemudian daging, telor, baju baju muslim,” ungkapnya.***

Albin Pandita

Algoritma dan Filter Bubble di Media Sosial

0

Bogordaily.net – Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube telah mengubah cara orang berinteraksi dengan konten, berbagi, dan berkomunikasi melalui penggunaan sistem berbasis algoritma yang mempersonalisasi pengalaman pengguna. Alih-alih menampilkan konten secara kronologis, algoritma menganalisis berbagai faktor untuk menentukan konten yang paling relevan dan menarik bagi setiap individu, sehingga memengaruhi jenis konten yang dilihat dan pola keterlibatan pengguna. Dampak algoritma ini tidak hanya terbatas pada perilaku pengguna, tetapi juga membentuk tren masyarakat, dinamika sosial, dan bahkan kesehatan mental.

Algoritma media sosial memainkan peran penting dalam menentukan pengalaman pengguna di berbagai platform digital. Algoritma ini dirancang untuk menyaring, mengurutkan, dan menyajikan konten kepada pengguna berdasarkan preferensi dan perilaku mereka (Tri Andini et al., 2024). Namun, personalisasi ini menciptakan filter bubble. Menurut Bradshaw & Howard (2019), filter bubble menyebabkan hasil informasi yang tampil di beranda media sosial bukanlah hasil dari pilihan yang disengaja oleh pengguna, melainkan apa yang muncul sebagai saran didasarkan pada pengumpulan informasi dari beragam platform media sosial yang kemudian dijadikan bahan oleh algoritma sebagai dasar pemrosesan data. Akibatnya, terbentuklah echo chamber yang memperkuat keyakinan dan menciptakan lingkungan informasi yang homogen.

Filter Bubble dan Echo Chamber dalam Pembentukan Opini

 Dengan menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, algoritma memperkuat filter bubble yang membatasi paparan terhadap perspektif berbeda dan mendorong echo chamber yang memperkuat opini homogen dalam kelompok tertentu. Kondisi ini memicu polarisasi sosial serta mempermudah penyebaran hoaks dan distorsi informasi karena pengguna cenderung lebih percaya pada konten yang sejalan dengan pandangan mereka. Akibatnya, dialog sosial yang sehat terhambat dan toleransi terhadap perbedaan opini dalam ruang publik digital semakin berkurang.

Algoritma media sosial telah dikaitkan dengan polarisasi politik di Amerika Serikat, terutama selama pemilihan presiden. Algoritma dapat menyebarkan disinformasi dan propaganda digital, yang memperburuk polarisasi dan mempengaruhi opini publik. Selain itu, Menurut Maisaroh, Novianty, dan Azalea (2024), algoritma Facebook berperan signifikan dalam memperkuat polarisasi politik di Medan selama Pemilu 2024. Algoritma Facebook mempersonalisasi konten berdasarkan interaksi dan preferensi pengguna, yang menciptakan echo chamber dan filter bubble, memperkuat keyakinan politik yang sudah ada, dan mengurangi keterbukaan terhadap pandangan yang berbeda. Konten yang cenderung sensasional atau kontroversial sering kali mendapatkan perhatian lebih besar, yang dapat mempercepat penyebaran disinformasi atau hoaks.

Strategi Mengatasi Dampak Algoritma

Untuk mengatasi dampak negatif algoritma dan filter bubble, diperlukan literasi digital yang lebih baik agar pengguna lebih kritis dalam mengonsumsi informasi dan menyadari bias algoritma. Edukasi mengenai cara kerja algoritma dan pentingnya mengeksplorasi sumber informasi yang beragam dapat membantu memperluas perspektif pengguna dan mengurangi efek echo chamber. Selain itu, transparansi algoritma oleh platform media sosial menjadi penting untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pengguna mengenai bagaimana konten dipersonalisasi. Pendekatan ini perlu didukung dengan regulasi yang mendorong platform digital agar lebih akuntabel dalam mengelola algoritma dan distribusi informasi.

Selain itu, representasi kelompok minoritas dalam konten yang disajikan oleh algoritma juga perlu diperhatikan. Menurut Maisaroh, Novianty, dan Azalea (2024), ketidakseimbangan representasi dapat memperkuat bias algoritma dan mempersempit perspektif pengguna. Dengan memastikan keberagaman konten, algoritma dapat membantu menciptakan ruang publik digital yang lebih inklusif dan mendorong dialog sosial yang lebih sehat.***

 

Asyri Abghi Rahmah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Asty Khairi Inayah: Perjalanan Akademisi dari Perbankan ke Dunia Pendidikan dan Riset

0

Bogordaily.net – Asty Khairi Inayah lahir pada 20 Agustus 1992 di London. Ia adalah seorang dosen dan akademisi yang mengkhususkan diri di bidang manajemen, keuangan, dan akuntansi.

Meskipun hanya menghabiskan empat tahun di luar negeri akibat pekerjaan ayahnya yang seorang banker, ia akhirnya kembali ke Indonesia dan menetap di Tangerang Selatan.

Keluarga besar Asty berasal dari keturunan Betawi, yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup serta identitasnya.

Pendidikan awal Asty dimulai di Madrasah Pembangunan Jakarta, diikuti oleh SMP 87 Pondok Pinang, lalu SMA 82 Kebayoran Baru di Jakarta Selatan.

Ia kemudian melanjutkan studi tinggi di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengambil jurusan Statistika melalui jalur PMDK, dan berhasil meraih gelar Sarjana pada tahun 2014.

Usai menyelesaikan pendidikan S1, Asty melanjutkan studi S2 di Program Magister Manajemen Konsentrasi Keuangan di PPM Manajemen.

Tak lama setelah itu, ia juga meneruskan pendidikan S2 di Universitas Indonesia (UI) dengan fokus pada Ilmu Manajemen dan konsentrasi dalam Strategi Manajemen, yang ia selesaikan pada tahun 2017.

Sambil menempuh pendidikan S2, Asty memulai karir profesionalnya di dunia perbankan. Ia memperoleh pekerjaan pertamanya di Permata Bank sebagai banker pada tahun yang sama.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia merasa kurang berkembang di sektor perbankan akibat terbatasnya peluang riset dan pengembangan diri.

Hal ini mendorongnya untuk beralih ke dunia akademik, yang dinilai lebih sesuai dengan keinginan untuk menjelajahi berbagai bidang keilmuan serta mengasah kemampuan komunikasi, terutama dalam public speaking.

Akhirnya, Asty bergabung sebagai dosen tetap di SV IPB program studi Akuntansi dan mulai mengajar di berbagai program.

Pada 2023, ia melanjutkan studi S3 di Universitas Indonesia, sebagai bentuk komitmennya untuk terus belajar dan berkarya di dunia akademik.

Dalam perjalanan mengajarnya, Asty menghadapi tantangan besar, yaitu kurangnya kesadaran mahasiswa untuk membaca dan menggali informasi dengan mendalam.

Ia berkeyakinan bahwa mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan mandiri, seperti mengalokasikan waktu untuk membaca dan mencari informasi.

Menurutnya, mahasiswa yang proaktif dalam berusaha akan lebih siap menghadapi tantangan di dunia kerja setelah lulus.

Selain sebagai pengajar, Asty juga aktif dalam penelitian. Salah satu fokus penelitiannya adalah keuangan mikro serta pemberdayaan UMKM.

Ia menyadari pentingnya literasi keuangan bagi para pelaku UMKM, mengingat banyak di antara mereka yang belum memisahkan uang pribadi dari uang usaha, yang dapat menjadi kendala dalam pengelolaan keuangan yang baik.

Asty berkomitmen untuk melakukan penelitian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan UMKM.

Melihat perkembangan akuntansi di era digital, Asty memperhatikan perubahan signifikan di mana teknologi terus berkembang pesat.

Pekerjaan yang dahulu dianggap aman dalam bidang akuntansi kini harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Ia menekankan pentingnya integrasi antara akuntansi dan teknologi, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan dinamika zaman yang terus berubah.

Dalam dunia pendidikan, Asty memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan vokasi di bidang akuntansi.

Ia meyakini bahwa pendidikan vokasi seharusnya berfokus pada pengajaran yang aplikatif dan dapat diimplementasikan secara langsung di dunia kerja.

Salah satu kontribusinya yang mencolok adalah pengembangan aplikasi yang membantu lembaga keuangan mikro dalam mengidentifikasi daerah-daerah potensial untuk dijadikan lokasi pendanaan.

Harapannya, perkembangan digital di sektor permodalan dapat berlangsung lebih cepat dan transparan, sehingga semakin banyak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang merasakan manfaatnya.

Asty juga menyampaikan pesan motivasi kepada mahasiswa yang bercita-cita berkarir di bidang akuntansi.

Ia menekankan pentingnya terus belajar dan mengintegrasikan ilmu yang diperoleh dengan disiplin ilmu lainnya demi mencapai kesuksesan.

“Dalam menekuni dunia akuntansi, mahasiswa harus juga menekuni bidang lain, karena akuntansi sangat memiliki keterikatan dengan profesi atau bidang lain,” ujar Asty, Kamis (20/3/2025).

Dengan berbagai pengalaman hidup dan karir yang kaya, Asty Khairi Inayah telah menjadi sosok inspiratif bagi banyak orang, terutama mahasiswa yang berminat berkarir di bidang akuntansi dan manajemen.

Dedikasinya dalam pendidikan dan penelitian senantiasa memberikan kontribusi bagi perkembangan dunia akademik dan praktik profesional di Indonesia. ***

Hip Dut: Sekadar Tren atau Akan Bertahan?

0

Oleh: Asyri Abghi Rahmah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Dalam dunia musik Indonesia, tren baru selalu muncul dan menarik perhatian. Salah satu fenomena yang sedang naik daun adalah Hip Dut, perpaduan unik antara hip hop dan dangdut, atau beberapa warga dunia maya menyebutnya dengan “Dangdut Gen Z”. Namun, pertanyaannya adalah, apakah Hip Dut hanya sekadar tren sesaat, ataukah ini menjadi pertanda evolusi musik Indonesia?

Istilah Hip Dut pertama kali mencuat ke publik setelah lagu Garam dan Madu (Sakit Dadaku) viral di media sosial. Lagu ini menggabungkan elemen hip hop yang modern dengan dangdut yang kental dengan budaya lokal. Keberhasilan lagu ini mengantarkan Hip Dut ke panggung utama industri musik dan menjadikannya trendsetter di kalangan anak muda. Namun, mengingat sifat tren musik yang cenderung cepat berubah, muncul pertanyaan apakah Hip Dut akan bertahan lama atau hanya menjadi fenomena sesaat.

Kesuksesan Garam dan Madu tidak hanya berhenti di situ, tetapi juga membuka jalan bagi lagu-lagu lain dengan konsep serupa, seperti Aku Dah Lupa, yang juga mendapatkan respons positif. Musik ini digemari oleh anak muda karena menghadirkan sesuatu yang fresh, memadukan dua genre yang berbeda dengan cara yang unik, serta memiliki lirik yang relatable dengan kehidupan sehari-hari.

Popularitas Hip Dut juga dapat dilihat dari jumlah streaming yang tinggi di platform digital seperti Spotify. Sebagai contoh, lagu Aku Dah Lupa menempati posisi tinggi di tangga lagu dan menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Selain itu, elemen catchy dalam lirik dan melodi lagu ini membuatnya mudah diingat dan disukai oleh pendengar, khususnya mereka yang mengalami proses move on dari hubungan masa lalu. Ini menunjukkan bahwa Hip Dut berhasil menarik perhatian audiens yang luas, khususnya generasi muda yang aktif di dunia digital.

Sejarah musik telah menunjukkan bahwa tren bisa datang dan pergi dengan cepat. Misalnya, tren musik boy band dan girl band yang diadaptasi dari Korea juga sempat muncul di Indonesia pada 2010-an, dan koplo remix yang pernah viral. Pergeseran tren ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perkembangan teknologi, perubahan selera pasar, serta munculnya genre baru yang lebih menarik bagi pendengar.

Anak muda sebagai konsumen utama industri musik cenderung cepat bosan dan selalu mencari sesuatu yang baru. Genre yang saat ini digemari mungkin akan tergeser oleh tren lain dalam beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, meskipun Hip Dut sedang berada di puncak popularitas, ada kemungkinan besar bahwa genre ini akan mengalami nasib serupa dengan tren-tren sebelumnya, kecuali jika ada inovasi yang menjaga relevansinya.

Agar tetap relevan, Hip Dut perlu berkembang dan beradaptasi. Salah satu cara yang mungkin dilakukan adalah dengan memadukan elemen lain dari genre berbeda, seperti EDM atau pop modern, untuk menciptakan variasi yang lebih luas. Selain itu, inovasi dalam produksi musik dan pengolahan lirik juga dapat membantu mempertahankan daya tariknya.

Selain dari segi musikalitas, strategi pemasaran juga berperan penting. Jika musisi Hip Dut mampu memanfaatkan media sosial dan platform digital dengan baik, mereka bisa memperpanjang umur tren ini. Kolaborasi dengan musisi dari genre lain juga dapat membuka peluang baru bagi Hip Dut untuk tetap bertahan di industri musik yang kompetitif.

Secara keseluruhan, Hip Dut adalah fenomena musik yang sedang populer di kalangan anak muda. Perpaduan hip hop dan dangdut berhasil menciptakan sesuatu yang unik dan menarik perhatian. Namun, mengingat sifat tren musik yang dinamis, ada kemungkinan besar bahwa popularitas Hip Dut akan meredup seiring berjalannya waktu.

Untuk bertahan, musisi Hip Dut perlu terus berinovasi, baik dalam segi musikalitas maupun strategi pemasaran. Hal ini dapat menjadi pelajaran bahwa tren musik selalu mencerminkan perubahan budaya dan selera masyarakat. Oleh karena itu, selagi Hip Dut masih populer, tidak ada salahnya untuk menikmatinya, sambil tetap membuka diri terhadap perkembangan musik lainnya di masa depan.

 

 

Pejabat Liburan, Rakyat Sengsara

0

Oleh: Aldy Satya Roosputranto Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Isu pengelolaan keuangan negara sering kali menjadi topik kontroversial serta dapat memicu perdebatan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia. Dalam rapat evaluasi 100 hari kinerja Presiden Prabowo Subianto, ia mengatakan bahwa perlunya rencana pemotongan anggaran untuk perjalanan dinas luar negeri bagi para pejabat negara. Hal ini merupakan langkah yang sangat baik untuk meningkatkan efisiensi anggaran serta memperioritaskan penggunaan dana publik untuk kepentingan rakyat Indonesia. Anggaran perjalanan pejabat keluar negeri memakan dana sebesar Rp.47 triliun. Angka tersebut merupakan angka yang fantatis menginggat masih banyak yang perlu diperbaiki didalam negeri kita. Banyak masyarakat yang masih kesusahan untuk menjalani hidup dikarenakan biaya yang tinggi.

Penderitaan Masyarakat

Melihat kondisi ekonomi saat ini, pemotongan anggaran perjalanan dinas luar negeri bagi pejabat negara merupakan langkah yang sangat diperlukan. Peristiwa COVID-19 menjadi salah satu penyebab ketidak stabilan ekonomi Indonesia akhir-akhir ini. COVID-19 merupakan tantangan yang sangat berat bagi negara kita. Mengingat sulitnya mencari biaya apabila ekonomi negara tidak berjalan. Dalam pemotongan biaya ini pemerintah harus cermat dalam mengelola keuangan yang terbatas. Pemotongan anggaran ini dapat dialokasikan untuk program-progam mendesak seperti Pendidikan, Kesehatan, dan infrastruktur.

Alasan saya mendukung program pemotongan anggaran pejabat adalah efisiensi pengguaan dana publik. Setiap rupiah yang dikeluarkan oleh pemerintah harus memberikan sebuat dampak terhadarp masyarakat. Pasalnya anggaran yang dikeluarkan untuk dinas luar negeri seringkali memakan biaya yang sangat tinggi mulai dari biaya tiket, akomodasi, hingga makan dan transportasi selama di negara orang. Banyak pejabat yang telah menggunakan anggaran tersebut namun tidak memberikan dampak positif yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Pemotongan anggaran ke luar negeri juga dapat meningkatkan transparansi dana dan akuntabilitas pemerintahan. Masyarakat Indonesia berhak mengetauhi bagaimana uang pajak yang mereka bayar untuk keperluan negara. Pada saat pejabat melakukan dinas ke luar negeri, masyarakat sering kali sulit untuk menilai apakah perjalanan tersebut memberikan sebuah dampak atau hanya sebagai formalitas saja. Transparansi dana dalam pemerintah juga sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kinerja para pejabat. Ketika masyarakat melihat bahwa pemerintah mengambil langkah-langkah konkret untuk mengurangi pemborosan dana, masyarakat akan merasa bahwa pejabat negara melakukan dinas dengan baik. Dengan memotong anggaran perjalanan dinas ke

 

luar negeri, pemerintah dapat menunjukan kepada masyarakat untuk memperlihatkan komitmenya terhadap pengelolaan keuangan yang baik dan bertanggung jawab.

Pemotongan anggaran perjalanan dinas luar negeri juga dapat mendorong inovasi dalam cara pemerintahan beroperasi. Pejabat negara perlu berpikir kreatif tentang bagaimana mereka dapat mencapai tujuan diplomatik dan kebijakan tanpa harus melakukan perjalanan fisik ke luar negeri. Ini bisa mencakup peningkatan penggunaan video conference atau forum online lainnya yang memungkinkan interaksi langsung dengan mitra internasional tanpa biaya tinggi.

Dari Rakyat Untuk Negara

Dari sudut pandang moral dan etika, pemotongan anggaran ini juga mencerminkan komitmen pemerintah terhadap prinsip kesederhanaan dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat. Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi oleh banyak warga negara Indonesia akibat pandemi dan krisis global lainnya, tidak etis jika pejabat negara terus melakukan perjalanan mewah sementara rakyat harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dengan mengambil langkah-langkah penghematan seperti ini, pemerintah menunjukkan bahwa mereka memahami kesulitan yang dialami oleh rakyat dan berusaha untuk berbagi beban tersebut.

Kebijakan pemotongan anggaran ini harus dilakukan dengan bijaksana. Ini bukan berarti bahwa semua perjalanan dinas luar negeri harus dihentikan sepenuhnya; ada kalanya perjalanan tersebut memang diperlukan untuk kepentingan nasional atau diplomasi internasional yang mendesak. Namun, dengan menetapkan batasan yang jelas dan memastikan bahwa setiap perjalanan memiliki tujuan yang jelas serta manfaat yang terukur bagi masyarakat, pemerintah dapat memastikan bahwa penggunaan dana publik tetap efisien.

Secara keseluruhan, pemotongan anggaran perjalanan dinas luar negeri bagi pejabat negara adalah langkah positif dalam upaya meningkatkan efisiensi penggunaan dana publik dan memperkuat transparansi serta akuntabilitas pemerintahan. Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini, penting bagi pemerintah untuk menunjukkan komitmen terhadap pengelolaan keuangan yang baik dan bertanggung jawab.Dengan memprioritaskan penggunaan dana publik untuk program-program yang lebih mendesak dan bermanfaat bagi masyarakat luas seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur pemerintah tidak hanya akan mendapatkan kepercayaan masyarakat tetapi juga akan memperkuat fondasi pembangunan bangsa di masa depan. Melalui langkah- langkah penghematan seperti ini, kita dapat berharap agar Indonesia menjadi lebih kuat dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan global di masa depan. Dengan demikian, kita semua dapat berkontribusi pada Pembangunan bangsa untuk menuju masa depan yang lebih baik.

Satu Hari, Seribu Cerita di TMII

0

Bogordaily.net – Sore itu, matahari mulai turun perlahan, mengubah langit Bogor menjadi gradasi jingga yang indah. Udara yang sebelumnya panas perlahan menjadi lebih sejuk, menciptakan suasana yang nyaman setelah seharian mengikuti kuliah. Aku dan teman-teman masih mengenakan pakaian kuliah saat kami berjalan keluar dari gedung kampus, membawa tas yang tidak hanya berisi buku dan laptop, tetapi juga kebutuhan lainnya seperti kain batik untuk digunakan saat foto di tempat yang akan kami tuju.

Hari itu, kami memutuskan untuk pergi ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Bukan untuk sekadar berwisata, melainkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Festival Budaya. Kami mendapat kesempatan untuk menggali lebih dalam tentang budaya Riau, dan tentu saja kami memutuskan untuk datang langsung ke Anjungan Riau di TMII.

Namun, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Kami harus menempuh perjalanan cukup panjang dari Bogor ke Jakarta, menggunakan transportasi umum yang sudah sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari yaitu KRL dan LRT. Meskipun jaraknya jauh, ada sesuatu yang membuat perjalanan ini terasa lebih menyenangkan karena pergi bersama teman-teman, berbagi cerita, tawa, dan tentu saja, pengalaman yang baru.

Perjalanan dimulai dari Stasiun Bogor, tempat kami bergegas menuju pintu masuk dan menempelkan kartu elektronik di mesin tap-in. Waktu sudah menunjukkan sore hari, dan suasana stasiun masih dipenuhi oleh orang-orang yang baru pulang kerja atau kuliah. Kami ikut berbaur dalam keramaian itu, menunggu kereta yang akan membawa kami menuju Stasiun Cawang.  Begitu KRL datang, kami segera masuk dan mencari tempat yang nyaman. Sayangnya, jam pulang kantor membuat gerbong penuh sesak. Untungnya, beberapa dari kami masih ada yang mendapatkan tempat duduk tetapi ada juga yang berdiri berdesakan dengan penumpang lainnya. Udara di dalam gerbong terasa lebih panas dibandingkan di luar, tetapi tidak mengurangi semangat kami untuk melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dari Bogor ke Cawang memakan waktu hampir satu jam. Selama itu, aku bisa melihat kegiatan yang dilakukan dalam setiap perjalanan menggunakan KRL. Ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang tertidur sambil berdiri, dan ada pula yang seperti kami, menikmati perjalanan dengan tawa dan cerita-cerita ringan.  Setibanya di Stasiun Cawang, kami turun dan berjalan menuju jalur LRT. Ini pertama kalinya bagi beberapa teman kami naik LRT, sehingga ada sedikit kebingungan saat mencari peron yang tepat. Namun, begitu kami naik dan duduk di dalam kereta yang modern dan bersih, suasana berubah menjadi penuh semangat. Dari atas rel yang membentang di ketinggian, kami bisa melihat Jakarta dari sudut yang berbeda. Gedung-gedung tinggi berdiri megah, kendaraan berlalu lalang di bawah sana, dan langit yang mulai berubah warna semakin menambah keindahan perjalanan ini.

Setelah beberapa saat, kami akhirnya sampai di TMII. Begitu turun dari LRT, kami berjalan menuju area utama taman budaya ini. Waktu sudah semakin sore, dan lampu-lampu mulai dinyalakan, memberikan suasana yang lebih hangat. Kami berjalan bersama-sama menuju Anjungan Riau, tempat utama dalam perjalanan ini. Meskipun lelah setelah menempuh perjalanan panjang, semangat kami tidak surut. Langkah kami semakin mantap ketika melihat bangunan rumah adat khas Riau yang berwarna kuning itu berdiri megah di depan mata.

Di sana, kami disambut oleh pengelola anjungan, yang dengan ramah menyapa kami dan mempersilakan kami masuk. Kami langsung diajak berbincang tentang budaya Riau antara lain tentang adat istiadat, sejarah, dan bagaimana budaya ini tetap dijaga hingga saat ini. Kami juga mengamati berbagai koleksi yang ada di dalam anjungan. Salah satu yang menarik adalah pakaian adat Riau dengan motif dan warna khas. Selain itu, ada juga senjata tradisional khas Riau, yang memiliki makna tersendiri dalam sejarah dan kehidupan masyarakatnya.

Salah satu momen yang paling kami nantikan adalah sesi foto. Kami mengenakan kain batik yang sengaja kami bawa dari rumah. Dengan latar belakang rumah adat Riau yang megah, kami berfoto bersama mengenakan kain batik tersebut. Hasilnya? Luar biasa! Foto-foto ini tidak hanya sekadar dokumentasi, tetapi juga kenangan yang tak terlupakan apalagi tentang kebersamaannya. Setelah puas berfoto, pengalaman paling berkesan lainnya adalah ketika kami mencicipi makanan khas Riau. Hidangan yang kaya akan rempah dan cita rasa khas Melayu, makanan ini benar-benar bagian dari identitas budaya yang menghubungkan masyarakat dengan tradisi mereka.  Waktu terasa berjalan begitu cepat. Setelah selesai berbincang dan menikmati hidangan khas Riau, kami menyadari bahwa malam sudah semakin larut. Kami harus segera pulang sebelum transportasi umum berhenti beroperasi.

Perjalanan pulang kami lakukan dengan rute yang sama dari TMII menuju stasiun LRT, lalu kembali ke Stasiun Cawang untuk naik KRL menuju Bogor. Namun, perjalanan pulang ini terasa berbeda. Ada rasa puas dan senang karena kami tidak hanya menyelesaikan tugas kuliah, tetapi juga mendapatkan pengalaman baru yang tak ternilai. Di dalam KRL, suasana lebih tenang dibandingkan saat berangkat. Sebagian dari kami mulai merasa mengantuk, sementara yang lain masih asyik membahas pengalaman yang baru saja kami lalui.

Kami tiba di Stasiun Bogor larut malam, lebih lelah dari biasanya, tetapi dengan hati yang penuh cerita. Festival budaya yang awalnya hanya kami anggap sebagai tugas, kini terasa lebih bermakna. Bukan hanya tentang kunjungan atau mencari informasi, tetapi tentang bagaimana perjalanan ini membuka mata kami terhadap keindahan budaya Indonesia dan kebersamaan bersama teman. Karena sesungguhnya, perjalanan bukan hanya tentang tiba di tujuan, tetapi juga tentang pengalaman dan sebuah cerita  yang kita dapatkan di sepanjang jalan.***

 

Adzra Nur Hidayat Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Toxic Atau Positif? Mencermati Pola Komunikasi di Game Online

0

Bogordaily.net – Diera digital seperti saat ini, popularitas video game terus meningkat setiap tahunnya. Seiring dengan perkembangan teknologi, industri game mengalami kemajuan pesat, baik dari segi grafis, mekanisme permainan, hingga fitur-fitur yang semakin interaktif. Salah satu fitur yang semakin banyak diadopsi oleh berbagai game modern adalah fitur Co-op atau multiplayer, yang memungkinkan pemain untuk bermain bersama dalam satu dunia virtual yang sama. Fitur ini tidak hanya memberikan pengalaman bermain yang lebih seru dan menantang, tetapi juga membuka ruang bagi komunikasi antar pemain, yang dikenal sebagai in-game communication

In-game communication sendiri hadir dalam berbagai bentuk, tergantung pada kebijakan dan inovasi dari masing-masing pengembang game. Beberapa game menyediakan text chat, di mana pemain dapat berkomunikasi menggunakan tulisan dalam kotak percakapan. Fitur ini sering digunakan dalam game berbasis strategi atau MMORPG (Massively Multiplayer Online Role-Playing Game), di mana pemain perlu menyusun rencana dan berbagi informasi secara tertulis. Selain itu, ada pula game yang menyediakan voice chat, yang memungkinkan pemain berbicara langsung dengan rekan satu tim menggunakan mikrofon, seperti saat melakukan panggilan telepon. Fitur ini sangat umum ditemukan dalam game-game kompetitif, seperti first-person shooter (FPS) di mana komunikasi cepat dan efektif sangat penting untuk dapat menjadi pemenangnya.

Namun, komunikasi dalam game tidak hanya terbatas pada kebutuhan strategi saat bermain. Banyak pemain yang menggunakan fitur ini sebagai sarana untuk bersosialisasi dan membangun hubungan dengan pemain lain. Sudah lumrah, pertemanan yang dimulai dari game bisa berkembang menjadi hubungan yang erat di dunia nyata. Banyak komunitas game yang terbentuk dari interaksi dalam game, mulai dari grup kecil hingga forum besar yang berisi ribuan anggota dari berbagai belahan dunia. Selain itu, game online juga memberikan peluang bagi individu yang pemalu untuk lebih mudah bersosialisasi. Bagi sebagian orang, berbicara dalam dunia virtual terasa lebih nyaman dibandingkan interaksi tatap muka, karena tidak ada tekanan sosial yang sering dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan game untuk menghubungkan orang-orang dari berbagai latar belakang ini menunjukkan bahwa in-game communication bukan sekadar alat bantu dalam bermain, tetapi juga berperan dalam membentuk pola komunikasi baru di era digital. Dengan semakin berkembangnya fitur komunikasi dalam game, batas antara dunia virtual dan dunia nyata semakin menipis, menjadikan game sebagai salah satu sarana utama bagi anak muda untuk berinteraksi dan membangun relasi sosial.

Perubahan Pola Komunikasi di Game Online

Seiring berkembangnya game online, pola komunikasi antar pemain pun ikut berubah. Salah satu yang paling mencolok adalah munculnya istilah-istilah khusus yang hanya dipahami oleh komunitas gamer. Misalnya, kata “GG” (Good Game) digunakan untuk menunjukkan rasa sportivitas setelah pertandingan, sementara istilah “noob” sering digunakan untuk menyebut pemain yang masih pemula atau kurang “jago”. Adapula istilah-istilah seperti “AFK” yaitu yang merupakan singkatan dari Away From Keyboard, yang berarti sang pemain sedang tidak aktif di dalam game. Penggunaan istilah-istilah ini tidak hanya mempercepat komunikasi, tetapi juga menciptakan budaya tersendiri di dalam komunitas game. Hal ini bermanfaat untuk mempercepat komunikasi di dalam game, khususnya pada game yang memiliki alur cepat seperti MMORPG.

Selain itu, komunikasi multikultural juga dapat terjadi di dalam game. Pasalnya, pemain dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan pemain lainnya yang memiliki perbedaan latar belakang budaya, maupun pemain-pemain yang berasal dari berbagai negara lain. Hal ini membuat pemain terbiasa mendengar berbagai bahasa dan gaya komunikasi yang berbeda. Dalam beberapa game, seperti MMORPG, pemain harus bekerja sama dengan orang-orang dari berbagai negara, sehingga mereka mulai mengadaptasi bahasa yang dapat dimengerti semua orang, seperti menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama mereka untuk berkomunikasi pada saat game dimulai, atau mengandalkan komunikasi non-verbal seperti emoji. Dengan adanya interaksi ini, banyak pemain yang secara tidak sadar meningkatkan kemampuan bahasa asing mereka dan belajar memahami perbedaan budaya antar pemain.

Mencermati Pola Komunikasi di Game online

Komunikasi dalam game online memiliki banyak manfaat, salah satunya melatih kerja sama tim. Banyak game yang mengharuskan pemain untuk berdiskusi dan berkoordinasi agar bisa memenangkan pertandingan, yang secara tidak langsung mengasah keterampilan komunikasi dan strategi.Selain itu, game juga membantu meningkatkan keterampilan sosial, terutama bagi individu yang pemalu atau sulit berinteraksi di dunia nyata. Banyak pemain yang lebih percaya diri berbicara dalam lingkungan virtual dan bahkan menjalin pertemanan yang berlanjut ke dunia nyata. Tidak hanya itu, game online juga dapat menjadi media pembelajaran bahasa, karena pemain terbiasa membaca instruksi dalam bahasa asing serta memahami istilah baru dalam konteks yang interaktif. Di sisi lain, komunikasi dalam game online juga memiliki dampak negatif. Salah satu yang paling umum adalah toxic behavior, di mana pemain menggunakan kata-kata kasar, menghina rekan satu tim, atau bahkan melakukan cyberbullying, terutama dalam game kompetitif. Masalah lain adalah diskriminasi dan pelecehan, terutama terhadap pemain perempuan yang sering menerima komentar tidak pantas. Selain itu, beberapa pemain juga mengalami diskriminasi berdasarkan aksen atau negara asal mereka, yang memperburuk pengalaman bermain game.

Pola-pola komunikasi ini dapat terjadi akibat dari faktor pengalaman masing-masing pemain. Sebuah penelitian di Bandung yang menggabungkan antara 10 pemain game online “Mobile Legends” telah membuktikan hal ini. Dalam penelitiannya, Irwanto (2023) menemukan bahwa setiap pemain game online memiliki pola komunikasi yang berbeda-beda. Faktor pengalaman mempengaruhi pola komunikasi yang terjadi antar pemain. Selain itu, ditemukan adanya kesenjangan komunikasi jika pengalaman antar individu memiliki perbedaan yang signifikan.

Untuk menciptakan lingkungan yang lebih positif dalam game online, pemain perlu menerapkan etika komunikasi yang baik. Salah satunya adalah menggunakan bahasa yang sopan dan menghargai pemain lain, baik saat menang maupun kalah. Selain itu, penting untuk menghindari toxic behavior, seperti berkata kasar atau menghina tema  satu tim. Pemain juga harus menggunakan komunikasi secara bijak, misalnya dengan tidak menyebarkan informasi pribadi serta menghormati perbedaan budaya dan bahasa dalam game. Dengan menerapkan etika yang baik, game online dapat menjadi sarana yang positif untuk bersosialisasi, belajar, dan bekerja sama, tanpa adanya perilaku negatif yang merusak pengalaman bermain.

 

Saskia Salsabila | Komunikasi Digital dan Media IPB University